UNDERLYING DRIFT – YANG BERGESER DI KEDALAMAN
Tim Kurator:
Linda Mayasari (Kurator In-house) | River Lin (Ko-Kurator)
Kita hidup di tengah masa yang serba tak menentu. Tekanan ekonomi semakin terasa dalam keseharian. Krisis lingkungan mengubah bentang alam sekaligus cara kita hidup. Konflik dan keterpaksaan untuk berpindah membuat banyak orang tercerabut dari ruang hidupnya. Ketegangan sosial dan politik menguji cara kita hidup bersama. Di berbagai tempat dan keadaan, ketidakpastian telah menjadi bagian dari bagaimana kita menjalani masa kini.
Dalam keadaan semacam ini, kebudayaan kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat ditunda sampai kebutuhan yang dianggap lebih mendasar terpenuhi. Namun kehidupan bersama juga dibentuk oleh cara kita memahami nilai, perbedaan, ingatan, kehadiran yang lain, serta masa depan yang masih mampu kita bayangkan. Praktik kebudayaan tidak berdiri di luar kondisi yang membentuk kehidupan kita.
Yang tampak mapan tak berarti sepenuhnya diam. Di balik yang seolah tak berubah, gerak terus berlangsung.
Kita memang hadir ke dunia yang telah ditata. Nama telah diberikan, batas telah digaris, sejarah telah dituturkan, jalan telah ditempuh, dan pengetahuan telah diwariskan. Semua itu membentuk cara kita memahami diri sendiri dan satu sama lain, tetapi tatanan yang kita warisi tak pernah sepenuhnya mapan.
Tak ada warisan yang sampai kepada kita dalam keadaan utuh. Ingatan bergeser ketika berpindah dari tubuh ke tubuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi berubah bersama mereka yang menjaganya tetap hidup. Sejarah meninggalkan jejak sekaligus celah. Apa yang pernah hilang barangkali kembali, tetapi yang kembali tak pernah sepenuhnya sama.
BENTANG
BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.
KAMPANA
KAMPANA adalah ruang pengembangan artistik Indonesian Dance Festival yang memberi waktu bagi karya untuk tumbuh melalui riset, percobaan, percakapan, dan perjumpaan.
Pada 2026, KAMPANA mencoba cara kerja yang berbeda dengan mempertemukan proses pengembangan artistik dari sejumlah platform di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik: JICON bersama Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta; Lab Inkubasi Keproduseran 2026 bersama Yayasan Kelola; Latitude—inisiatif antara Indonesian Dance Festival, Performance Space Sydney, dan Dance Nucleus Singapore; New Creation Fellowship bersama Cambodian Living Arts; serta Shifting Points, platform kolaborasi Kyoto Experiment dan Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM).
LOKAKARYA
Selama pekan festival, beberapa seniman yang terlibat diundang untuk untuk berbagi mengenai praktik mereka. Program ini dirancang sebagai bentuk pertukaran dan distribusi praktik, juga wadah untuk praktisi dan publik tari untuk mengalami karya tari secara mendalam.
BINCANG TARI
Serangkaian diskusi untuk membaca dan mengkontekstualisasikan isu-isu terkini dari perkembangan praktik tari dan koreografi, pengalaman kepenontonan, dan wacana tari dalam dinamika medan tari dan konteks sosial-budaya yang lebih luas baik di ranah Indonesia maupun global. Bincang Tari 2026 disusun untuk membedah lebih jauh kerangka kuratorial Underlying Drift dengan melibatkan pembicara lintas seni, disiplin, dan negara. Diskusi ini terbuka untuk publik dan dapat diikuti selama periode festival.
SIMPUL GERAK
Simpul Gerak merupakan program jejaring internasional IDF yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan dari Indonesia dengan kolega internasional yang memiliki pengalaman, jaringan, dan keterhubungan dengan berbagai ekosistem seni pertunjukan. Melalui keterlibatan mereka dalam rangkaian festival serta pertemuan yang dirancang secara khusus, program ini membuka ruang untuk mengenali praktik dan konteks kerja satu sama lain, membangun koneksi strategis, serta mengidentifikasi kemungkinan kerja sama yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
UNDERLYING DRIFT – YANG BERGESER DI KEDALAMAN
Tim Kurator:
Linda Mayasari (Kurator In-house)
River Lin (Ko-Kurator)
Kita hidup di tengah masa yang serba tak menentu. Tekanan ekonomi semakin terasa dalam keseharian. Krisis lingkungan mengubah bentang alam sekaligus cara kita hidup. Konflik dan keterpaksaan untuk berpindah membuat banyak orang tercerabut dari ruang hidupnya. Ketegangan sosial dan politik menguji cara kita hidup bersama. Di berbagai tempat dan keadaan, ketidakpastian telah menjadi bagian dari bagaimana kita menjalani masa kini.
Dalam keadaan semacam ini, kebudayaan kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat ditunda sampai kebutuhan yang dianggap lebih mendasar terpenuhi. Namun kehidupan bersama juga dibentuk oleh cara kita memahami nilai, perbedaan, ingatan, kehadiran yang lain, serta masa depan yang masih mampu kita bayangkan. Praktik kebudayaan tidak berdiri di luar kondisi yang membentuk kehidupan kita.
Yang tampak mapan tak berarti sepenuhnya diam. Di balik yang seolah tak berubah, gerak terus berlangsung.
Kita memang hadir ke dunia yang telah ditata. Nama telah diberikan, batas telah digaris, sejarah telah dituturkan, jalan telah ditempuh, dan pengetahuan telah diwariskan. Semua itu membentuk cara kita memahami diri sendiri dan satu sama lain, tetapi tatanan yang kita warisi tak pernah sepenuhnya mapan.
Tak ada warisan yang sampai kepada kita dalam keadaan utuh. Ingatan bergeser ketika berpindah dari tubuh ke tubuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi berubah bersama mereka yang menjaganya tetap hidup. Sejarah meninggalkan jejak sekaligus celah. Apa yang pernah hilang barangkali kembali, tetapi yang kembali tak pernah sepenuhnya sama.
BENTANG
BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.
KAMPANA
KAMPANA adalah ruang pengembangan artistik Indonesian Dance Festival yang memberi waktu bagi karya untuk tumbuh melalui riset, percobaan, percakapan, dan perjumpaan.
Pada 2026, KAMPANA mencoba cara kerja yang berbeda dengan mempertemukan proses pengembangan artistik dari sejumlah platform di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik: JICON bersama Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta; Lab Inkubasi Keproduseran 2026 bersama Yayasan Kelola; Latitude—inisiatif antara Indonesian Dance Festival, Performance Space Sydney, dan Dance Nucleus Singapore; New Creation Fellowship bersama Cambodian Living Arts; serta Shifting Points, platform kolaborasi Kyoto Experiment dan Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM).
LOKAKARYA
Selama pekan festival, beberapa seniman yang terlibat diundang untuk untuk berbagi mengenai praktik mereka. Program ini dirancang sebagai bentuk pertukaran dan distribusi praktik, juga wadah untuk praktisi dan publik tari untuk mengalami karya tari secara mendalam.
BINCANG TARI
Serangkaian diskusi untuk membaca dan mengkontekstualisasikan isu-isu terkini dari perkembangan praktik tari dan koreografi, pengalaman kepenontonan, dan wacana tari dalam dinamika medan tari dan konteks sosial-budaya yang lebih luas baik di ranah Indonesia maupun global.
Bincang Tari 2026 disusun untuk membedah lebih jauh kerangka kuratorial Yang Bergeser di Kedalaman dengan melibatkan pembicara lintas seni, disiplin, dan negara. Diskusi ini terbuka untuk publik dan dapat diikuti selama periode festival.
SIMPUL GERAK
Simpul Gerak merupakan program jejaring internasional IDF yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan dari Indonesia dengan kolega internasional yang memiliki pengalaman, jaringan, dan keterhubungan dengan berbagai ekosistem seni pertunjukan. Melalui keterlibatan mereka dalam rangkaian festival serta pertemuan yang dirancang secara khusus, program ini membuka ruang untuk mengenali praktik dan konteks kerja satu sama lain, membangun koneksi strategis, serta mengidentifikasi kemungkinan kerja sama yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
























