UNDERLYING DRIFT – YANG BERGESER DI KEDALAMAN

Tim Kurator:
Linda Mayasari (Kurator In-house) | River Lin (Ko-Kurator)

Kita hidup di tengah masa yang serba tak menentu. Tekanan ekonomi semakin terasa dalam keseharian. Krisis lingkungan mengubah bentang alam sekaligus cara kita hidup. Konflik dan keterpaksaan untuk berpindah membuat banyak orang tercerabut dari ruang hidupnya. Ketegangan sosial dan politik menguji cara kita hidup bersama. Di berbagai tempat dan keadaan, ketidakpastian telah menjadi bagian dari bagaimana kita menjalani masa kini.

Dalam keadaan semacam ini, kebudayaan kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat ditunda sampai kebutuhan yang dianggap lebih mendasar terpenuhi. Namun kehidupan bersama juga dibentuk oleh cara kita memahami nilai, perbedaan, ingatan, kehadiran yang lain, serta masa depan yang masih mampu kita bayangkan. Praktik kebudayaan tidak berdiri di luar kondisi yang membentuk kehidupan kita.

Yang tampak mapan tak berarti sepenuhnya diam. Di balik yang seolah tak berubah, gerak terus berlangsung.

Kita memang hadir ke dunia yang telah ditata. Nama telah diberikan, batas telah digaris, sejarah telah dituturkan, jalan telah ditempuh, dan pengetahuan telah diwariskan. Semua itu membentuk cara kita memahami diri sendiri dan satu sama lain, tetapi tatanan yang kita warisi tak pernah sepenuhnya mapan.

Tak ada warisan yang sampai kepada kita dalam keadaan utuh. Ingatan bergeser ketika berpindah dari tubuh ke tubuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi berubah bersama mereka yang menjaganya tetap hidup. Sejarah meninggalkan jejak sekaligus celah. Apa yang pernah hilang barangkali kembali, tetapi yang kembali tak pernah sepenuhnya sama.

Di antara yang mengendap dan yang terus bergerak, tari membentangkan berbagai lapisan ingatan, pengetahuan, dan pengalaman yang dibawa tubuh dan berubah bersamanya. Melalui tubuh, masa kini mendekat pada pengetahuan leluhur; yang personal bertemu dengan yang komunal; kehidupan manusia berkelindan dengan bentuk kehidupan lainnya; ingatan bertaut dengan lanskap; dan teknologi bersentuhan dengan pengalaman ketubuhan. 

Dalam karya-karya yang hadir di IDF 2026, perjumpaan-perjumpaan ini menempuh lintasannya masing-masing. Yang akrab pun dapat dialami secara berbeda. Yang dahulu terasa jauh dapat mendekat; yang selama ini bergerak tanpa disadari dapat mulai terasa; hubungan yang tampaknya telah mapan dapat kembali dipertanyakan.

Pertaruhannya adalah bagaimana kita bergerak bersama di tengah ketidakpastian. Bergerak bersama tidak berarti menyeragamkan cara bergerak ataupun lintasan yang ditempuh. 

Laiknya koreografi, mengada bersama tak harus selalu rampak di sepanjang rentang ruang dan waktu. Perbedaan justru membuka spektrum kemungkinan gerak: beriringan atau bersilangan, mendekat atau menjauh, sejenak bertemu lalu kembali menempuh lintasannya masing-masing. Koreografi hidup bersama membutuhkan kepekaan terhadap cara kita berbagi ruang, siapa yang hadir dan siapa yang silam, apa yang mendapat tempat dan apa yang luput dari perhatian, serta bagaimana perbedaan dapat tetap hadir, sembari kita terus mencari cara untuk terhubung tanpa saling meniadakan.

Koreografi bekerja dengan sesuatu yang tak pernah sepenuhnya menetap. Di dalam tari, gerak diramu dengan keluwesan untuk berada di dalam ketidakpastian. Jarak, arah, perhatian, ritme, dan hubungan dapat diubah. Tubuh dapat berada dalam suatu posisi sembari beranjak darinya; mengikuti lintasan yang diwarisi sembari membelokkannya ke arah lain. Gerak dapat bermula perlahan, nyaris tak terasa, lalu berbelok ke arah yang tak selalu dapat diduga. Bahkan penyimpangan kecil dapat mengubah kemungkinan yang muncul setelahnya. 

Bentuk bukanlah akhir dari gerak, melainkan keadaan sementara yang dapat dibuka kembali.

Perubahan tidak selalu datang sebagai patahan. Kadang perubahan bermula dari sebuah gestur yang perlahan keluar dari jalurnya, ritme yang menyimpang, kisah lama yang dituturkan kembali melalui tubuh masa kini, jalan yang ditelusuri kembali dari arah berbeda, atau pilihan untuk memberi lebih banyak waktu kepada sesuatu yang belum menemukan bentuknya. Ada proses yang membutuhkan waktu untuk bergerak tanpa harus segera sampai. 

Di dunia yang semakin mengukur kehidupan melalui kecepatan, hasil, produktivitas, dan kegunaan, memberi ruang bagi sesuatu yang belum selesai menjadi keputusan yang berarti. Praktik artistik mengingatkan kita bahwa pertumbuhan tak selalu membutuhkan percepatan. Ada pengetahuan yang membutuhkan pengulangan. Ada hubungan yang tumbuh ketika perhatian terus dirawat. Ada proses yang baru menemukan jalannya ketika diberi waktu untuk ragu, berubah, gagal, kembali, lalu mencoba lagi.

Yang belum selesai pun memiliki nilai dalam ruang, waktu, dan keadaan yang membentuk kehadirannya. Latihan, percobaan, percakapan, atau karya yang masih bergerak membuka ruang bagi kemungkinan lain untuk dijelajahi. 

Di medan inilah IDF 2026 menempatkan daya tari: menjaga kemungkinan tetap hidup, menolak menerima tatanan dunia yang ada sebagai satu-satunya yang mungkin. 

Perubahan barangkali telah berlangsung sebelum terlihat, mencari berbagai jalan di tengah apa yang tampak ajeg.

Yang bergeser di kedalaman telah bergerak—dan kita adalah bagian dari gerak itu, turut memberi arah pada perjalanannya.

BENTANG

BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.

Dibentangkan berdampingan, karya-karya ini tidak dimaksudkan untuk membentuk satu gambaran yang utuh. Kedekatan tidak menghapus jarak; kesamaan tidak menjadi syarat agar mereka dapat saling berbicara, sebagaimana keterbacaan tidak harus bergantung pada satu bahasa yang sama. Satu karya dapat menggema pada karya lainnya, bersilangan dengannya, atau menghadirkan tegangan yang tetap terbuka. Di antara hubungan-hubungan yang mungkin terbentuk itu, setiap karya tetap membawa pijakan dan pertanyaannya sendiri.

BENTANG berangkat dari keluasan ini: bahwa koreografi hari ini tumbuh melalui banyak rute dan lintasan, membawa sejarah dan pengetahuan yang tidak selalu bertemu, serta mengambil bentuk melalui keadaan yang berbeda-beda. Menghadirkan semuanya dalam satu bentangan bukan untuk merangkum keragaman tersebut ataupun menempatkannya dalam satu peta yang telah tersedia, melainkan untuk membuat keluasan medannya dapat dialami. Sebuah medan yang tidak berakhir pada apa yang telah hadir, tetapi terus meluas melalui apa yang dapat dipertemukan, dipertanyakan, dan dibayangkan dari sana.

KAMPANA

KAMPANA adalah ruang pengembangan artistik Indonesian Dance Festival yang memberi waktu bagi karya untuk tumbuh melalui riset, percobaan, percakapan, dan perjumpaan.

Pada 2026, KAMPANA mencoba cara kerja yang berbeda dengan mempertemukan proses pengembangan artistik dari sejumlah platform di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik: JICON bersama Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta; Lab Inkubasi Keproduseran 2026 bersama Yayasan Kelola; Latitude—inisiatif antara Indonesian Dance Festival, Performance Space Sydney, dan Dance Nucleus Singapore; New Creation Fellowship bersama Cambodian Living Arts; serta Shifting Points, platform kolaborasi Kyoto Experiment dan Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM).

Para seniman datang ke KAMPANA dengan perjalanan yang berbeda. Masing-masing telah melalui proses pengembangan dalam konteks, metode, dan ritme platform mitranya; karena itu mereka juga tiba dengan karya yang berada pada tahap perkembangan yang berbeda-beda. KAMPANA tidak berusaha menyeragamkan perjalanan tersebut atau menggantikan proses yang telah berlangsung. Sebaliknya, KAMPANA menghadirkan lapisan perjumpaan lain: kesempatan bagi para seniman untuk melihat kembali posisi karyanya, membuka pertanyaan, dan menguji kemungkinan yang masih dapat bergerak.

Proses KAMPANA 2026 berlangsung melalui rangkaian Situating, Provoking, Toward the Festival, dan In Situ. Rangkaian ini membuka ruang untuk melihat perjalanan dan posisi masing-masing karya, menghadirkan percakapan dan pertanyaan dari berbagai perspektif, serta melihat kembali apa yang masih mungkin dicoba atau dikembangkan sebelum karya bertumbuh dihadirkan dan bertemu dengan publik IDF 2026.

LOKAKARYA

Selama pekan festival, beberapa seniman yang terlibat diundang untuk untuk berbagi mengenai praktik mereka. Program ini dirancang sebagai bentuk pertukaran dan distribusi praktik, juga wadah untuk praktisi dan publik tari untuk mengalami karya tari secara mendalam.

BINCANG TARI

Serangkaian diskusi untuk membaca dan mengkontekstualisasikan isu-isu terkini dari perkembangan praktik tari dan koreografi, pengalaman kepenontonan, dan wacana tari dalam dinamika medan tari dan konteks sosial-budaya yang lebih luas baik di ranah Indonesia maupun global. Bincang Tari 2026 disusun untuk membedah lebih jauh kerangka kuratorial Underlying Drift dengan melibatkan pembicara lintas seni, disiplin, dan negara. Diskusi ini terbuka untuk publik dan dapat diikuti selama periode festival.

SIMPUL GERAK

Simpul Gerak merupakan program jejaring internasional IDF yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan dari Indonesia dengan kolega internasional yang memiliki pengalaman, jaringan, dan keterhubungan dengan berbagai ekosistem seni pertunjukan. Melalui keterlibatan mereka dalam rangkaian festival serta pertemuan yang dirancang secara khusus, program ini membuka ruang untuk mengenali praktik dan konteks kerja satu sama lain, membangun koneksi strategis, serta mengidentifikasi kemungkinan kerja sama yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

LIFETIME ACHIEVEMENT AWARD

  • IDF 2026

    Retno Maruti: Membudayakan Kebebasan Berpikir lewat Karya Tari Klasik

    Sepanjang lima dekade berkarya, Retno Maruti menyalurkan buah pikirnya sebagai perempuan merdeka. Ia juga menghidupi budaya kerja guyub di sanggarnya, Padnecwara.

UNDERLYING DRIFT – YANG BERGESER DI KEDALAMAN

Tim Kurator:
Linda Mayasari (Kurator In-house)
River Lin (Ko-Kurator)

Kita hidup di tengah masa yang serba tak menentu. Tekanan ekonomi semakin terasa dalam keseharian. Krisis lingkungan mengubah bentang alam sekaligus cara kita hidup. Konflik dan keterpaksaan untuk berpindah membuat banyak orang tercerabut dari ruang hidupnya. Ketegangan sosial dan politik menguji cara kita hidup bersama. Di berbagai tempat dan keadaan, ketidakpastian telah menjadi bagian dari bagaimana kita menjalani masa kini.

Dalam keadaan semacam ini, kebudayaan kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat ditunda sampai kebutuhan yang dianggap lebih mendasar terpenuhi. Namun kehidupan bersama juga dibentuk oleh cara kita memahami nilai, perbedaan, ingatan, kehadiran yang lain, serta masa depan yang masih mampu kita bayangkan. Praktik kebudayaan tidak berdiri di luar kondisi yang membentuk kehidupan kita.

Yang tampak mapan tak berarti sepenuhnya diam. Di balik yang seolah tak berubah, gerak terus berlangsung.

Kita memang hadir ke dunia yang telah ditata. Nama telah diberikan, batas telah digaris, sejarah telah dituturkan, jalan telah ditempuh, dan pengetahuan telah diwariskan. Semua itu membentuk cara kita memahami diri sendiri dan satu sama lain, tetapi tatanan yang kita warisi tak pernah sepenuhnya mapan.

Tak ada warisan yang sampai kepada kita dalam keadaan utuh. Ingatan bergeser ketika berpindah dari tubuh ke tubuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi berubah bersama mereka yang menjaganya tetap hidup. Sejarah meninggalkan jejak sekaligus celah. Apa yang pernah hilang barangkali kembali, tetapi yang kembali tak pernah sepenuhnya sama.

Di antara yang mengendap dan yang terus bergerak, tari membentangkan berbagai lapisan ingatan, pengetahuan, dan pengalaman yang dibawa tubuh dan berubah bersamanya. Melalui tubuh, masa kini mendekat pada pengetahuan leluhur; yang personal bertemu dengan yang komunal; kehidupan manusia berkelindan dengan bentuk kehidupan lainnya; ingatan bertaut dengan lanskap; dan teknologi bersentuhan dengan pengalaman ketubuhan. 

Dalam karya-karya yang hadir di IDF 2026, perjumpaan-perjumpaan ini menempuh lintasannya masing-masing. Yang akrab pun dapat dialami secara berbeda. Yang dahulu terasa jauh dapat mendekat; yang selama ini bergerak tanpa disadari dapat mulai terasa; hubungan yang tampaknya telah mapan dapat kembali dipertanyakan.

Pertaruhannya adalah bagaimana kita bergerak bersama di tengah ketidakpastian. Bergerak bersama tidak berarti menyeragamkan cara bergerak ataupun lintasan yang ditempuh. 

Laiknya koreografi, mengada bersama tak harus selalu rampak di sepanjang rentang ruang dan waktu. Perbedaan justru membuka spektrum kemungkinan gerak: beriringan atau bersilangan, mendekat atau menjauh, sejenak bertemu lalu kembali menempuh lintasannya masing-masing. Koreografi hidup bersama membutuhkan kepekaan terhadap cara kita berbagi ruang, siapa yang hadir dan siapa yang silam, apa yang mendapat tempat dan apa yang luput dari perhatian, serta bagaimana perbedaan dapat tetap hadir, sembari kita terus mencari cara untuk terhubung tanpa saling meniadakan.

Koreografi bekerja dengan sesuatu yang tak pernah sepenuhnya menetap. Di dalam tari, gerak diramu dengan keluwesan untuk berada di dalam ketidakpastian. Jarak, arah, perhatian, ritme, dan hubungan dapat diubah. Tubuh dapat berada dalam suatu posisi sembari beranjak darinya; mengikuti lintasan yang diwarisi sembari membelokkannya ke arah lain. Gerak dapat bermula perlahan, nyaris tak terasa, lalu berbelok ke arah yang tak selalu dapat diduga. Bahkan penyimpangan kecil dapat mengubah kemungkinan yang muncul setelahnya. 

Bentuk bukanlah akhir dari gerak, melainkan keadaan sementara yang dapat dibuka kembali.

Perubahan tidak selalu datang sebagai patahan. Kadang perubahan bermula dari sebuah gestur yang perlahan keluar dari jalurnya, ritme yang menyimpang, kisah lama yang dituturkan kembali melalui tubuh masa kini, jalan yang ditelusuri kembali dari arah berbeda, atau pilihan untuk memberi lebih banyak waktu kepada sesuatu yang belum menemukan bentuknya. Ada proses yang membutuhkan waktu untuk bergerak tanpa harus segera sampai. 

Di dunia yang semakin mengukur kehidupan melalui kecepatan, hasil, produktivitas, dan kegunaan, memberi ruang bagi sesuatu yang belum selesai menjadi keputusan yang berarti. Praktik artistik mengingatkan kita bahwa pertumbuhan tak selalu membutuhkan percepatan. Ada pengetahuan yang membutuhkan pengulangan. Ada hubungan yang tumbuh ketika perhatian terus dirawat. Ada proses yang baru menemukan jalannya ketika diberi waktu untuk ragu, berubah, gagal, kembali, lalu mencoba lagi.

Yang belum selesai pun memiliki nilai dalam ruang, waktu, dan keadaan yang membentuk kehadirannya. Latihan, percobaan, percakapan, atau karya yang masih bergerak membuka ruang bagi kemungkinan lain untuk dijelajahi. 

Di medan inilah IDF 2026 menempatkan daya tari: menjaga kemungkinan tetap hidup, menolak menerima tatanan dunia yang ada sebagai satu-satunya yang mungkin. 

Perubahan barangkali telah berlangsung sebelum terlihat, mencari berbagai jalan di tengah apa yang tampak ajeg.

Yang bergeser di kedalaman telah bergerak—dan kita adalah bagian dari gerak itu, turut memberi arah pada perjalanannya.

BENTANG

BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.

Dibentangkan berdampingan, karya-karya ini tidak dimaksudkan untuk membentuk satu gambaran yang utuh. Kedekatan tidak menghapus jarak; kesamaan tidak menjadi syarat agar mereka dapat saling berbicara, sebagaimana keterbacaan tidak harus bergantung pada satu bahasa yang sama. Satu karya dapat menggema pada karya lainnya, bersilangan dengannya, atau menghadirkan tegangan yang tetap terbuka. Di antara hubungan-hubungan yang mungkin terbentuk itu, setiap karya tetap membawa pijakan dan pertanyaannya sendiri.

BENTANG berangkat dari keluasan ini: bahwa koreografi hari ini tumbuh melalui banyak rute dan lintasan, membawa sejarah dan pengetahuan yang tidak selalu bertemu, serta mengambil bentuk melalui keadaan yang berbeda-beda. Menghadirkan semuanya dalam satu bentangan bukan untuk merangkum keragaman tersebut ataupun menempatkannya dalam satu peta yang telah tersedia, melainkan untuk membuat keluasan medannya dapat dialami. Sebuah medan yang tidak berakhir pada apa yang telah hadir, tetapi terus meluas melalui apa yang dapat dipertemukan, dipertanyakan, dan dibayangkan dari sana.

KAMPANA

KAMPANA adalah ruang pengembangan artistik Indonesian Dance Festival yang memberi waktu bagi karya untuk tumbuh melalui riset, percobaan, percakapan, dan perjumpaan.

Pada 2026, KAMPANA mencoba cara kerja yang berbeda dengan mempertemukan proses pengembangan artistik dari sejumlah platform di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik: JICON bersama Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta; Lab Inkubasi Keproduseran 2026 bersama Yayasan Kelola; Latitude—inisiatif antara Indonesian Dance Festival, Performance Space Sydney, dan Dance Nucleus Singapore; New Creation Fellowship bersama Cambodian Living Arts; serta Shifting Points, platform kolaborasi Kyoto Experiment dan Bangkok International Performing Arts Meeting (BIPAM).

Para seniman datang ke KAMPANA dengan perjalanan yang berbeda. Masing-masing telah melalui proses pengembangan dalam konteks, metode, dan ritme platform mitranya; karena itu mereka juga tiba dengan karya yang berada pada tahap perkembangan yang berbeda-beda. KAMPANA tidak berusaha menyeragamkan perjalanan tersebut atau menggantikan proses yang telah berlangsung. Sebaliknya, KAMPANA menghadirkan lapisan perjumpaan lain: kesempatan bagi para seniman untuk melihat kembali posisi karyanya, membuka pertanyaan, dan menguji kemungkinan yang masih dapat bergerak.

Proses KAMPANA 2026 berlangsung melalui rangkaian Situating, Provoking, Toward the Festival, dan In Situ. Rangkaian ini membuka ruang untuk melihat perjalanan dan posisi masing-masing karya, menghadirkan percakapan dan pertanyaan dari berbagai perspektif, serta melihat kembali apa yang masih mungkin dicoba atau dikembangkan sebelum karya bertumbuh dihadirkan dan bertemu dengan publik IDF 2026.

LOKAKARYA

Selama pekan festival, beberapa seniman yang terlibat diundang untuk untuk berbagi mengenai praktik mereka. Program ini dirancang sebagai bentuk pertukaran dan distribusi praktik, juga wadah untuk praktisi dan publik tari untuk mengalami karya tari secara mendalam.

BINCANG TARI

Serangkaian diskusi untuk membaca dan mengkontekstualisasikan isu-isu terkini dari perkembangan praktik tari dan koreografi, pengalaman kepenontonan, dan wacana tari dalam dinamika medan tari dan konteks sosial-budaya yang lebih luas baik di ranah Indonesia maupun global. 

Bincang Tari 2026 disusun untuk membedah lebih jauh kerangka kuratorial Yang Bergeser di Kedalaman dengan melibatkan pembicara lintas seni, disiplin, dan negara. Diskusi ini terbuka untuk publik dan dapat diikuti selama periode festival.

SIMPUL GERAK

Simpul Gerak merupakan program jejaring internasional IDF yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan dari Indonesia dengan kolega internasional yang memiliki pengalaman, jaringan, dan keterhubungan dengan berbagai ekosistem seni pertunjukan. Melalui keterlibatan mereka dalam rangkaian festival serta pertemuan yang dirancang secara khusus, program ini membuka ruang untuk mengenali praktik dan konteks kerja satu sama lain, membangun koneksi strategis, serta mengidentifikasi kemungkinan kerja sama yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

LIFETIME
ACHIEVEMENT
AWARD

  • IDF 2026

    Retno Maruti: Membudayakan Kebebasan Berpikir lewat Karya Tari Klasik

    Sepanjang lima dekade berkarya, Retno Maruti menyalurkan buah pikirnya sebagai perempuan merdeka. Ia juga menghidupi budaya kerja guyub di sanggarnya, Padnecwara.