Loading Events

La XXX Punk adalah sebuah seri karya dimana Fangas Nayaw mengeksplorasi kemungkinan bagaimana tarian masyarakat adat dapat hadir di masa depan. Bentuknya akan berbeda—dan memang harus berbeda—karena kita sudah jenuh dengan bagaimana imajinasi populer tentang tarian masyarakat adat terbatas pada cuplikan dan citra-citra pilihan tertentu.

Setiap bagian dari seri La XXX Punk diawali dengan sebuah manifesto. Betel Nut Green merupakan bagian kedua dari seri ini.

Sesuatu yang hidup dan nyata di baliknya perlahan menghilang tanpa suara. Tanah itu berwarna hijau bukit, hijau pepohonan.

Hijau seperti di taman. Hijau layaknya layar green screen.

Yang semarak di bawah permukaan perlahan menghilang.
Tanah hijau bukit, hijau pepohonan.
Hijau seperti di taman. Hijau layar hijau.

MANIFESTO

  1. Non-alam adalah bagian dari kehidupan.
  2. Klimaks adalah ilusi.
  3. Tradisi bersifat individual.
  4. Tanpa usaha adalah menyesatkan.
  5. Gerakan dengan aliran yang tertahan membebaskan tubuh.
  6. Tubuh yang menua menyimpan pengalaman.
  7. Homogenitas adalah mitos.
  8. Budaya senantiasa berdusta setiap hari.
  9. Menghilang terjadi secara diam-diam.
  10. Glitch adalah sebuah anugerah.

Credits:
Choreographer : Fangas Nayaw
Scenographer : Liao Yin-Chiao
Performers : Naceku, maya’ a taboeh hayawan

Music : Yude Lin
Costume Designer : Yulin Fann
Dramaturg : Betty Yi-Chun Chen
Key Visual Designer : Hsiao Yang-Hsi
Key Visual Photographer : Etang Chen

Producer : River Lin
Production Manager : Ann Wu
Production : Fist & Cake Production

Supporters : The National Culture and Arts Foundation’s Performing Arts Abroad Program
Development : The National Culture and Arts Foundation’s Performing Arts Abroad program, 2025 Lyon Dance Biennale, RawGround 25/26, Dance Forum Taipei

  • Fangas Nayaw

    Lahir di Taitung, Taiwan, Fangas adalah seorang seniman, sutradara, koreografer, dan penampil. Praktik artistiknya yang beragam mengeksplorasi dinamika partisipasi penonton serta potensi teknologi baru dalam seni pertunjukan, sembari terus merefleksikan identitas adat dan tradisi budayanya sebagai bagian dari suku Amis.

Go to Top