a place we could not name adalah sebuah proyek kolaboratif yang bermula dari ketertarikan bersama untuk menelusuri tempat, bukan hanya sebagai sebuah gagasan, tetapi sebagai sesuatu yang dialami oleh indera.
Versi ini berangkat dari ingatan-ingatan intim setiap individu dan pengalaman yang membentuk hubungan mereka dengan sebuah tempat, sebagai sesuatu yang pernah melekat, menghilang, diingat, maupun dilupakan. Ingatan-ingatan tersebut memunculkan momen-momen krisis, ketika hubungan seseorang dengan tempat menjadi terlepas, terbelah, dan retak.
Karya ini mencoba mewujudkan pengalaman tersebut sebagai sebuah suasana yang dialami bersama oleh publik. Publik dibawa ke dalam sebuah kondisi pasca-kejadian, ketika batas-batas tempat telah runtuh dan tempat tidak lagi dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Karya ini melihat tubuh sebagai wadah yang menyimpan dan merawat tempat—sebagai ingatan, perasaan, dan pengalaman yang tetap tinggal.
Bermula dari *SCAPE Experimentation Ground (2024), karya ini terus berkembang melalui residensi bersama Dance Nucleus (ARTEFACT), Asia Pacific Performance Lab, dan Esplanade Contemporary Performing Arts Research Residency (2026), sebagai sebuah penelusuran lintas wilayah yang berkelanjutan, mencakup Singapura, Indonesia, Australia, dan wilayah lainnya di masa mendatang.
Karya ini terwujud, salah satunya, melalui dukungan Latitude, sebuah program residensi dan pertukaran yang dikembangkan oleh Indonesian Dance Festival, Dance Nucleus (Singapura), dan Performance Space (Australia).
Credit:
Choreographer : Razan Wirjosandjojo, XUE
Scenographer : Razan Wirjosandjojo, Mervin Wong, XUE
Music : Mervin Wong
Mentorship : Melati Suryodarmo
Venue: Blackbox, Komunitas Salihara Arts Center







