Indonesian Dance Festival (IDF) didirikan dan diselenggarakan pertama kali tahun 1992 oleh beberapa figur yang terafiliasi dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan kini dinaungi oleh Yayasan Loka Tari Nusantara (YLTN).

Berkomitmen untuk menjadi acara dua tahunan, festival ini mengambil peran sebagai laboratorium sekaligus ruang presentasi karya-karya tari dari koreografer Indonesia dan mancanegara, jejaring interaksi, produksi dan pertukaran pengetahuan dalam ekosistem tari kontemporer di Indonesia dan dunia.

Memasuki dekade keempatnya, IDF telah menjadi salah satu festival tari kontemporer yang tertua di dunia. IDF telah menyelenggarakan 17 edisi festival, menampilkan sekitar 300 pertunjukan, merangkul hampir 200 koreografer Indonesia, dan melibatkan lebih dari 500 seniman tari dan lintas disiplin.

Sepanjang tahun, IDF terus membangun dan merawat jejaring lokal maupun internasional untuk membuka peluang kolaborasi, pemrograman bersama, dan pertukaran artistik. Upaya ini juga mencakup pengembangan peluang tur internasional bagi karya-karya Indonesia, serta memperkuat hubungan antara seniman, kurator, produser, dan berbagai institusi seni untuk mendukung keberlangsungan praktik artistik dan memperluas jangkauan tari Indonesia.

Sejak 2022, IDF telah mengupayakan regenerasi dalam tim kerja yang mendorong terciptanya banyak inovasi penyelenggaraan festival. salah satunya program pertunjukan digital yang memperluas jangkauan audiens. Inisiatif seperti ini juga membuat IDF terlibat dalam percakapan kritis tentang dinamika budaya digital. Melalui gagasan ini, IDF ingin menjadi festival yang berkelanjutan dan membawa perspektif tari kontemporer yang lebih kontekstual untuk Indonesia.

Tahun ini, IDF diselenggarakan pada 29 Oktober-1 November 2026 dan mengambil tajuk Yang Bergeser di Kedalaman. Tajuk ini berperan sebagai ajakan untuk menavigasi ketidakpastian secara kolektif melalui seni tari kontemporer

Rangkaian program festival disusun untuk memetakan, mendiskusikan, dan memahami dinamika perkembangan praktik tari dan wacana koreografi, memperkuat jaringan seni tari di berbagai wilayah di Indonesia sekaligus menghubungkannya dengan jaringan dan dinamika praktik tari global yang telah terhubung dengan IDF. Program-program yang akan diadakan termasuk: Bentang, Kampana, Lokakarya, Lifetime Achievement Award, dan Bincang Tari.

Yayasan Loka Tari Nusantara (YLTN) adalah organisasi yang didirikan pada 2019 untuk menaungi seluruh kegiatan Indonesian Dance Festival (IDF). Yayasan ini didirikan untuk memastikan keberlangsungan IDF— baik gelaran festival dua tahunannya, maupun berbagai inisiatif pendidikan dan pelatihan rutin yang diadakan untuk membuka akses bagi pelaku tari dari seluruh wilayah di Indonesia.

YLTN juga aktif mengembangkan riset dan praktik pengarsipan tari kontemporer di Indonesia. Tiga dari pendiri IDF— Maria Darmaningsih, Melina Suryadewi, dan Nungki Kusumastuti, terlibat di yayasan sebagai dewan pengawas, pembina, dan pengurus, bersama dengan beberapa tokoh pemerhati seni budaya Indonesia lainnya.