Loading Events

Bagaimana jika seekor harimau yang memasuki pemukiman bukan semata satwa yang kehilangan habitatnya, tetapi leluhur yang datang mengajak kita bicara?

Tetuha Halimawong tumbuh dari mitos yang diwarisi Ahmad Susantri di Lampung tentang roh leluhur berwujud harimau yang dipercaya menjaga hutan. Keberadaannya menghubungkan manusia dengan satwa, leluhur, wilayah keramat, dan hutan, sekaligus membentuk etika hidup bersama lingkungan.

Hari ini, relasi tersebut berubah. Pembukaan hutan, perluasan perkebunan kopi ilegal, dan permukiman mempersempit habitat harimau Sumatera di Lampung Barat. Bersamaan dengan terkikisnya pengetahuan dan kepercayaan lokal, perjumpaan manusia dan harimau semakin kerap berubah menjadi konflik.

Susan memanggil kembali sang leluhur ke dalam tubuh dan imajinasi masa kini. Namun Tetuha hadir bukan sebagai figur mitologis yang agung dan beku, melainkan sebagai harimau pink, centil, menggemaskan, humoris, dan cerewet.

Melalui gerak, percakapan, humor, dan pendekatan “PARTYsipatoris”—permainan kata party dan partisipasi—Susan membuka perjumpaan cair antara performer, penonton, dan dunia Tetuha. Sebagai dongeng klenik kontemporer, Tetuha Halimawong membiarkan mitos bergerak kembali untuk mengajak kita membayangkan ulang hubungan manusia dengan hutan dan kehidupan lain, serta kemungkinan untuk kembali hidup berdampingan.

Pengembangan karya Tetuha Halimawong dan praktik produksinya terwujud melalui kolaborasi antara Reka Kelola: Creative Producing Lab 2026 dan Indonesian Dance Festival: KAMPANA 2026.

Choreographer : Ahmad Susantri
Performers : Ahmad Susantri, Silvia Dewi Marthaningrum
Composer : Edithya Rio Wirawan
Lighting Designer : Sulhan Jamil
Producer : Nabilla Kurnia Adzan

  • Ahmad Susantri

    Ahmad Susantri (Susan) adalah koreografer, penari, dan pendidik tari berbasis di Liwa, Lampung Barat. Praktik artistiknya tumbuh dari pengalaman personal, kebudayaan Lampung, serta persoalan sosial dan ekologis di sekitarnya.

Go to Top