Credit: 

RETNO MARUTI
Membudayakan Kebebasan Berpikir lewat Karya Tari Klasik

IDF 2026

Sepanjang lima dekade berkarya, Retno Maruti menyalurkan buah pikirnya sebagai perempuan merdeka. Ia juga menghidupi budaya kerja guyub di sanggarnya, Padnecwara.

Sepanjang lima dekade berkarya, Retno Maruti menyalurkan buah pikirnya sebagai perempuan merdeka. Ia juga menghidupi budaya kerja guyub di sanggarnya, Padnecwara.

Salah satu tradisi paling langgeng dalam seni tari adalah mewariskan ilmu dari generasi ke generasi. Setiap tokoh tari selalu bergandengan tangan bersama guru-guru yang mengajarkan gerak, rasa, dan sikap hidup. Pada waktunya, ia akan meneruskan nilai-nilai yang ditempa sebagai pegiat tari pada generasi berikutnya.

Credit:  “Roro Mendut” karya Retno Maruti. Indonesian Dance Festival 2014/Nindityo Adipurnomo

Pasangan seniman Retno Maruti dan Arcadius Sentot Sudiharto membaktikan hidup untuk mengusahakan tempat belajar generasi baru pegiat tari. Lima puluh tahun lalu, keduanya melahirkan Padnecwara. Sanggar yang kini berumah di Kramat Jati, Jakarta Timur ini adalah sebuah keluarga besar yang disatukan semangat progresif dalam seni tari. Setiap produksi karya digarap bersama dan setiap sesi latihan adalah kesempatan duduk bersama sambil menyantap masakan Maruti.

“Maruti adalah ibu dan kakak dari semua anggota Padnecwara. Kalau sedang libur latihan, kami semua merindukan masakan rumahan gaya Solo buatan Maruti. Momen makan bersama seluruh anggota sanggar setelah latihan adalah salah satu yang paling kami tunggu,” kata Nungki Kusumastuti, salah satu pendiri IDF sekaligus anggota Padnecwara di era 90an. Sebelumnya, ia pernah jadi mahasiswa Maruti di IKJ. 

Maruti yang lahir di Solo pada 1947 menekuni kesenian di lingkungan keraton Surakarta. Saat SMP, ia mendapat peran penting pertamanya dalam seni tari, yaitu penari kijang kencana dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Peran ini ia lakoni selama delapan tahun (1961-68), dan bersifat monumental karena 1961 menandakan pentas perdana Sendratari Ramayana. Era 1960an juga merupakan masa di mana Maruti giat mengikuti berbagai misi kesenian Indonesia di taraf internasional.

Credit: Arsip Padnecwara/Laks

Maruti kemudian memperdalam ilmunya dengan berguru pada beberapa tokoh tari dan tembang. Maestro seni tari tradisi keraton gaya Surakarta R.T. Koesoemokesawa (alm.), R. Ay. Lakmintorukmi (alm.), R. Ay. Sukorini (alm.), dan Nyi Bei Mardusari adalah beberapa pendidik Maruti dalam tari dan tembang. Maruti yang bercita-cita menelurkan karyanya sendiri memperlengkapi diri dengan belajar dramaturgi, tata rias, tata busana, serta tata kelola produksi. 

Tahun 1976, bertepatan dengan kelahiran Padnecwara, karya pertama Maruti lahir. Damarwulan diproduksi sebagai karya langendriyan (seni pertunjukan khas Jawa  yang memadukan tari, musik, tembang dan narasi), namun diperuntukkan bagi audiens urban di Jakarta. Latar belakang tari tradisi Surakarta Maruti justru membuatnya menyadari bahwa meski mayoritas berdarah Jawa, penonton yang telah lama tinggal di Jakarta tidak semuanya bisa berbahasa Jawa, serta memiliki ritme kehidupan yang lebih cepat. Kesadaran ini melatarbelakangi keputusan artistik Maruti untuk menyampaikan narasi dalam karya-karyanya melalui tembang. Tembang dianggap sebagai jembatan untuk memudahkan penonton yang tidak berbahasa Jawa menikmati pertunjukan. 

Dalam peran sebagai dramaturg, Maruti juga dikenal akan kebebasan pikirannya dalam memaknai peran gender dalam karya-karya tari yang diambil dari cerita wayang klasik Ramayana dan Mahabharata. Salah satu contohnya adalah perenungan Maruti terhadap kisah Rama, Sinta, dan Rahwana dalam karya Kidung Dandaka (2016). Ia memaknai kembali sikap Sinta yang kesetiaannya diragukan. Lewat pembacaan kontemporer terhadap legenda klasik, Maruti menyampaikan nilai-nilai kesetaraan gender. Penyampaian melalui karya ini bisa dibaca sebagai aktivisme yang halus namun berumur panjang karena sebuah karya yang mendobrak pakem bisa dipentaskan ulang dan diarsipkan sebagai bagian dari sejarah tari kontemporer Indonesia.

Credit:

“Salah satu memoriku yang paling kuat tentang Mbak Maruti adalah saat beliau memenangkan sayembara penulisan naskah tari yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1978,” kenang Maria Darmaningsih, salah satu pendiri IDF. “Aku menonton saat Savitri, karya yang menang sayembara itu, ditampilkan di Teater Arena. Pengalaman ini buatku sangat berkesan, karena sepintas terlihat klasik, tapi kalau dilihat baik-baik, banyak pendobrakan di dalamnya.”

“Dalam setiap aspek karya yang ditampilkan Padnecwara, ada jejak Maruti di dalamnya. Kita bisa mengintip pemikirannya tentang peran gender lewat narasi, menikmati tembang yang ditulisnya, juga mengagumi kostum, tata rias, dan berbagai detail yang membuat sebuah karya tari berdampak pada audiensnya,” sambung Maria.

Gebrakan Maruti lainnya adalah keputusannya untuk mereka ulang formasi tari Bedhaya. Dalam karya Abimanyu Gugur (1978), ia menampilkan dua rakit penari (berjumlah 18 orang, alih-alih sembilan sesuai pakem) untuk menggambarkan pertempuran antara Pandawa dan Kurawa. Langkah ini merupakan pembaruan yang berani dan dilakukan oleh seorang koreografer muda. Saat itu usia Maruti 31 tahun. Selain formasinya yang berbeda, karya ini juga banyak menuai perhatian karena dramaturginya yang populer, hasil tulisan Maruti yang ia dapat dari belajar pada tokoh-tokoh teater.

Di luar kekaryaannya, Maruti dikenal sebagai sosok yang tidak segan bertanya, juga tidak pelit berbagi ilmu. Di masa awal Padnecwara, anggotanya berasal dari berbagai latar belakang pendidikan - termasuk sekretariat, akuntansi, dan manajemen. Dalam proses produksi karya, Maruti melibatkan mereka, bahkan belajar dari disiplin ilmu para anggota sanggar untuk memastikan pementasan dapat berlangsung dengan kualitas sebaik mungkin - baik secara artistik maupun tata kelola.

Bagi Nungki, Maria, dan banyak pekerja seni yang pernah berkarya bersamanya, Maruti lebih dari sekadar kolega. Dia adalah kawan seperjuangan. Tak heran, saat Maruti sedang berada di titik jenuh, banyak kawan sepenuh hati membantu. Ada masanya kawan-kawan alumni Padnecwara urun energi untuk mewujudkan produksi karya yang telah Maruti tulis, namun belum sempat diproduksi karena keterbatasan logistik. Para anggota berbagi peran balik layar - dari penjualan tiket hingga pencarian sponsor - untuk mewujudkan karya Maruti. 

Bertepatan dengan perayaan 50 tahun Padnecwara pada 2026, IDF merayakan Retno Maruti sebagai seniman multitalenta dengan semangat progresif yang terus memberi warna pada lanskap tari. Melalui perjalanan artistiknya, kita juga melihat sosok “ibu” yang tidak hanya membuka jalan bagi generasi baru pekerja tari, tetapi juga merawat pertumbuhan mereka dan menciptakan ruang bagi lahirnya berbagai kemungkinan baru.