Loading Events

Waktu Paruh merupakan metafora atas tatanan sosial, etika, dan nilai kemanusiaan yang perlahan meluruh. Karya ini mempertanyakan: ketika nilai-nilai yang menopang kehidupan terus tergerus, apa yang masih tersisa? Bagaimana manusia terus melangkah ketika pijakan yang selama ini menyangga hidupnya tak lagi utuh?

Peluruhan itu bermula dari ruang paling intim, yakni keluarga. Tubuh-tubuh yang semula saling menopang perlahan kehilangan kehangatan. Relasi berubah menjadi repetisi dan tumpuan dapat lenyap tanpa peringatan. Separuh memori tertinggal, melangkah lembut di lantai Rumah Gadang; Separuh lainnya bergerak menuju realitas sosial yang menawarkan keluasan, namun sekaligus menyimpan hasrat untuk menguasai dan merebut ruang. Kebebasan individu berhadapan dengan aturan kolektif, melahirkan gesekan, negosiasi, dan pertarungan untuk dapat terus bergerak.

Pada akhirnya, ruang langkah menyempit menjadi sebuah titian. Setiap langkah menuntut kewaspadaan ketika pijakan semakin rapuh. Di ambang jatuh, tubuh terus mencari keseimbangan, dan peluang untuk bertahan.

Venue: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki

Credits:
Choreographer : Hartati
Dramaturg : Adinda Luthvianti
Researcher : Heru Joni Putra
Scenographer : Hanafi
Performer : Davit Fitrik, M Fazri Arif Sahputra, Dendi Wardiman, Xena Israely Loppies, Try Anggara, Savika Refa Zahira, Farhan Krisna Ramadhan
Music : Taufik Adam
Lighting designer : Azis Dynk
Lighting programmer : Mamedz
Master electrician : Satria Putra
Production Manager : Tiara Sasmita
Stage Manager : Novan Seri, Richard Van Hamdan
Producer : Keni Soeriaatmadja
Producer Assistant : Zulfikar

Supported by:

  • Hartati

    Hartati lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecilnya di Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat. Ia menyelesaikan studi Seni Tari di Institut Kesenian Jakarta dan berkiprah selama 20 tahun bersama Gumarang Sakti Dance Company, di bawah pimpinan almh. Gusmiati Suid.

Go to Top