IDF 2026
YANG BERGESER DI KEDALAMAN
Tim Kurator:
Linda Mayasari | Arco Renz | Nia Agustina | River Lin
IDF 2024 Liquid Ranah, invites artists and audiences to immerse themselves in open-ended possibilities of fluid motion. With liquid forms, identities, memories, voices, gestures, actions and minds, we celebrate how contemporary dance is enriching our everyday interactions with places, communities and media.
Liquid Ranah combines the English word for Indonesian “cair”, and the Indonesian word for English “realms” and is in itself a movement between two languages, a dynamic field within the spectrum of linguistic realms. Liquid Ranah is not a physical location but a metaphorical site representing the transformative power of contemporary dance. This metaphorical framework indicates that the body, choreography, and stage are not solid in nature but fluid, constantly corresponding and negotiating with meaning, marked by history, and significant both psychologically and communally, thus conveying profound messages about our society and ourselves.
Liquid Ranah combines the English word for Indonesian “cair”, and the Indonesian word for English “realms” and is in itself a movement between two languages, a dynamic field within the spectrum of linguistic realms. Liquid Ranah is not a physical location but a metaphorical site representing the transformative power of contemporary dance. This metaphorical framework indicates that the body, choreography, and stage are not solid in nature but fluid, constantly corresponding and negotiating with meaning, marked by history, and significant both psychologically and communally, thus conveying profound messages about our society and ourselves.
BENTANG
BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.
BENTANG
BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.
KAMPANA
SITE SPECIFIC PERFORMANCE

Kita Semua adalah Tamu di Semesta
6 November 2024 | 10:30 - 13:00
LOKAKARYA & MASTERCLASS
BINCANG TARI
IDF 2026
YANG BERGESER DI KEDALAMAN
Tim Kurator:
Linda Mayasari
Arco Renz
Nia Agustina
River Lin
IDF 2024 Liquid Ranah, invites artists and audiences to immerse themselves in open-ended possibilities of fluid motion. With liquid forms, identities, memories, voices, gestures, actions and minds, we celebrate how contemporary dance is enriching our everyday interactions with places, communities and media.
Liquid Ranah combines the English word for Indonesian “cair”, and the Indonesian word for English “realms” and is in itself a movement between two languages, a dynamic field within the spectrum of linguistic realms. Liquid Ranah is not a physical location but a metaphorical site representing the transformative power of contemporary dance. This metaphorical framework indicates that the body, choreography, and stage are not solid in nature but fluid, constantly corresponding and negotiating with meaning, marked by history, and significant both psychologically and communally, thus conveying profound messages about our society and ourselves.
Liquid Ranah combines the English word for Indonesian “cair”, and the Indonesian word for English “realms” and is in itself a movement between two languages, a dynamic field within the spectrum of linguistic realms. Liquid Ranah is not a physical location but a metaphorical site representing the transformative power of contemporary dance. This metaphorical framework indicates that the body, choreography, and stage are not solid in nature but fluid, constantly corresponding and negotiating with meaning, marked by history, and significant both psychologically and communally, thus conveying profound messages about our society and ourselves.
BENTANG
BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.
BENTANG
BENTANG menghadirkan karya-karya koreografi yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan. Masing-masing membawa cara tersendiri dalam mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pertanyaan melalui koreografi. Di dalamnya, tubuh dapat membawa ingatan, tradisi dapat terus dihidupi dengan cara yang berbeda, pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk membaca hubungan dan keadaan yang lebih luas yang turut membentuknya, dan pengetahuan dapat mengambil bentuk yang tak selalu dapat dipisahkan dari tempat serta kehidupan yang melahirkannya. Tari dan koreografi, dengan demikian, tidak tumbuh dari sejarah ataupun sistem pengetahuan yang tunggal, juga tidak bergerak menuju arah yang sama. Berbagai cara mengetahui, mewarisi, mencipta, dan mengalami tubuh membuka lintasan koreografinya masing-masing.





















