E-PAL (GAME, DANCE, OR SPORT?)
Permainan Gobak Sodor dan Bentengan merupakan sebuah pengalaman kolektif masa kecil. Tak sekadar menyimpan memori menyenangkan, permainan ini juga menyimpan proses ketubuhan yang penting untuk ditilik.
Permainan Gobak Sodor dan Bentengan merupakan sebuah pengalaman kolektif masa kecil. Tak sekadar menyimpan memori menyenangkan, permainan ini juga menyimpan proses ketubuhan yang penting untuk ditilik.
Kelas ini akan memperkenalkan prinsip dasar dari Taiji Quan dan aplikasi kreatifnya pada seni pertunjukan. Kita akan berlatih serangkaian prinsip fisik yang berhubungan dengan pola nafas dan penyatuan kutub-kutub yang berlawanan, seperti dalam-luar, buka-tutup, mengumpul-menyebar.
Dalam tubuh, otot adalah jaringan konektif utama yang mengatur segala gerak kegiatan kita. Dalam kelas ini, peserta diajak meningkatkan kembali kesadaran akan otot yang krusial dalam menjalankan fungsi tubuh.
Di dalam percakapan ini, pembicara akan bertukar tentang ragam pengalaman praktik laboratorium seni yang dijalankan, sebelum berusaha memantulkannya dengan dinamika medan seni dan sosial yang ditemui di lingkup Indonesia, regional, dan Internasional.
“Senam Kota Kita” adalah pertunjukan senam tari yang didesain khusus untuk warga ibukota di Indonesian Dance Festival 2022. Gymnastik Emporium ingin memberi tawaran untuk melihat senam bukan hanya sebagai suatu cabang olahraga jasmani, tapi juga sebagai bentuk olah rasa yang estetik.
“No. 60” bukanlah sebuah bentuk koreografi atau gerak, melainkan sebuah “prinsip praktik tari” yang terdiri dari kombinasi enam elemen. Peserta akan belajar tentang enam elemen tersebut dan bagaimana mengadaptasikannya untuk menemukan identitas tari mereka.
“Museum II: Ridden” adalah sebuah refleksi/pertunjukan yang menghadirkan kosa gerak yang berpusat pada eksplorasi tubuh yang bermutasi dan bersiap siaga. Eksplorasi kosa gerak ini berkaitan dengan tubuh-tubuh yang mengalami bencana. Tubuh tiga penari yang terlibat ditunggangi oleh gerakan ritmis yang penuh dengan aroma dan mantra.
Penciptaan “Dance Offering” terinspirasi dari pertunjukan tradisional Thailand bernama Rum-Kea-Bon, sebuah tarian semi-ritual yang dilakukan sebagai metode negosiasi. Lewat tarian ini, Kornkarn melihat diri manusia bukan hanya sebagai subjek yang memohon kepada dewa, tetapi sebagai makhluk yang mampu memberi timbal balik (imbalan) ketika doa/keinginan mereka dikabulkan.
Dengan memperlakukan tubuh seperti arsip yang aktif, Sherli ingin menarasikan ulang tradisi tale yang telah jadi bagian dari identitasnya. Tubuhnya kini adalah pintu masuk untuk melihat dan membaca Kerinci, tak hanya sebagai situs spasial namun juga sebagai ruang budaya yang sangat hidup dan membentuk identitas manusia-manusia di dalamnya.
Olah tubuh untuk dasar pengolahan potensi tubuh sangat penting dalam fungsinya sebagai kelas pra tari. Latihan ini disinergikan dengan eksplorasi gerak, untuk menghasilkan kemampuan sinkronisasi imajinasi dan kapasitas capaian tubuh yang dapat mengilustrasikan sebuah atau bahkan beragam ide.
Dalam lokakarya ini, Eyi Lesar akan mengajak peserta melakukan permainan seperti Gobak Sodor. Peserta akan bermain dalam ruang yang mempertemukan koreografi, permainan, dan olahraga. Belajar tentang intensi dan dampaknya pada motorik tubuh seseorang dalam merespon ruang.
Berangkat dari proses regenerasi yang tengah dilakukan oleh IDF dan beberapa organisasi seni lainnya di Indonesia pada kurun beberapa tahun terakhir ini, empat narasumber yang dihadirkan akan memberikan beragam pembacaan dan pemaknaan regenerasi dari pengalaman latar praktiknya.
Wisma Nugraha, Jl. Raden Saleh No. 6 10 1, Kenari, Kec. Senen,
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10430

Indonesian Dance Festival © 2022. All Right Reserved.