• Waktu Paruh

    Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Waktu Paruh merupakan metafora atas tatanan sosial, etika, dan nilai kemanusiaan yang perlahan meluruh. Karya ini mempertanyakan: ketika nilai-nilai yang menopang kehidupan terus tergerus, apa yang masih tersisa? Bagaimana manusia terus melangkah ketika pijakan yang selama ini menyangga hidupnya tak lagi utuh?

  • Squatting, Power from Below

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Seniman tari Kim-Sanh Châu mengajak peserta mengeksplorasi posisi jongkok dengan mempertemukan referensi dari Asia dan Amerika Utara. Lebih dari sekadar posisi tubuh, jongkok menjadi cara untuk merasakan ketangguhan, keterhubungan dengan tanah, dan pemberdayaan.

  • Don’t Stop

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Lokakarya ini mengajak peserta mengeksplorasi bagaimana gerak dapat tumbuh dari perpindahan berat tubuh. Alih-alih mencari bentuk gerak sejak awal, peserta akan mengikuti respons tubuh ketika berat berpindah dari satu tumpuan ke tumpuan lain, sambil merasakan perubahan keseimbangan, arah, tenaga, dan dorongan untuk bergerak.

  • Counting

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Dalam lokakarya ini, peserta akan memanfaatkan dasar-dasar pola gerak berbasis lantai yang dipengaruhi oleh gaya breaking, mengeksplorasi gagasan seputar "metodologi komposisi langsung" (live composition methodology), serta mempelajari cara menciptakan komposisi gerak yang tak terduga menggunakan sistem hitungan khas Hamilton—sebuah metode yang diterapkan dalam berbagai karya kreatifnya.

  • Tubuh Tari sebagai Arsip Hidup: Pertemuan, Ingatan, dan Pewarisan

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Sesi ini mengupas konsep tari sebagai arsip yang hidup, serta mengeksplorasi bagaimana tubuh, praktik gerak, ingatan, dan relasi berfungsi sebagai wadah pengetahuan dinamis yang melampaui dokumentasi konvensional.

  • La XXX Punk II: Betel Nut Green

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    La XXX Punk adalah sebuah seri karya dimana Fangas Nayaw mengeksplorasi kemungkinan bagaimana tarian masyarakat adat dapat hadir di masa depan. Bentuknya akan berbeda—dan memang harus berbeda—karena kita sudah jenuh dengan bagaimana imajinasi populer tentang tarian masyarakat adat terbatas pada cuplikan dan citra-citra pilihan tertentu.

  • a place we could not name

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    a place we could not name adalah sebuah proyek kolaboratif yang bermula dari ketertarikan bersama untuk menelusuri tempat, bukan hanya sebagai sebuah gagasan, tetapi sebagai sesuatu yang dialami oleh indera.

  • KALENG ROMBENG!

    Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Ringkih, penyok, tetapi tetap berisik—KALENG ROMBENG! merayakan kerentanan, memori, dan pengalaman hidup dari posisi marjinal. Karya ini berangkat dari ingatan personal Adrian tentang ketakutan, stereotip, dan pengalaman yang meninggalkan bekas.

  • Punk! Indigenous Futurism With/out Ancestors

    Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Lokakarya ini mengolah "Basic Punk Law II" Masyarakat Adat bersama Fangas Nayaw. Inti dari karya koreografer Amis, Fangas Nayaw, adalah dilema mengenai cara beradaptasi dengan realitas kehidupan sosial kontemporer dan arus globalisasi, sembari tetap melestarikan tradisi.

  • KRUMP: Giving & Receiving

    Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Lokakarya ini mengajak peserta mengeksplorasi Krump sebagai praktik memberi, menerima, dan membangun koneksi. Berangkat dari gerak, emosi, dan kehadiran, kita akan mengeksplorasi bagaimana energi hadir, dibagikan, dan diterima melalui tubuh.

  • A Workshop in movement, memory, and transmission

    Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Lokakarya ini mengajak peserta terlibat dalam proses pencarian yang terus berkembang, dengan menelusuri pengetahuan yang tersimpan dalam tubuh, ingatan, dan pewarisan. Melalui gerak dan eksperimen, peserta diajak menemukan keterhubungan antara praktik mereka sendiri dan praktik orang lain, sekaligus membuka diri terhadap pertemuan tak terduga dan berbagai kemungkinan baru.

  • Merawat Pertumbuhan: Infrastruktur, Kepedulian, dan Kerja Inkubasi Artistik

    Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

    Apa yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan praktik artistik tumbuh tanpa menentukan terlebih dahulu akan menjadi seperti apa? Merawat Pertumbuhan mempertemukan para praktisi dari berbagai platform pengembangan artistik untuk menelaah inkubasi, baik sebagai praktik merawat maupun sebagai bentuk infrastruktur.