IDF 2024
Liquid Ranah

oleh :
Linda Mayasari
Arco Renz
Nia Agustina
River Lin

Pernyataan Kuratorial

IDF 2024 Liquid Ranah mengajak para seniman dan penonton untuk menyelami kemungkinan-kemungkinan gerak yang cair. Dengan bentuk-bentuk, identitas, kenangan, suara, gestur, tindakan, dan pikiran yang cair, kita merayakan bagaimana tari kontemporer memperkaya interaksi sehari-hari kita dengan tempat, komunitas, dan media.

Liquid Ranah menggabungkan terjemahan bahasa Inggris untuk kata “cair” dalam bahasa Indonesia, dan terjemahan bahasa Indonesia untuk kata “realms” dari bahasa Inggris, dan merupakan gerakan antara dua bahasa, bidang yang dinamis dalam spektrum ranah linguistik. Liquid Ranah bukanlah lokasi fisik, melainkan situs metaforis yang mewakili kekuatan transformatif tari kontemporer. Kerangka metaforis ini menunjukkan bahwa tubuh, koreografi, dan panggung tidak bersifat padat, tetapi cair, terus-menerus berkorespondensi dan bernegosiasi dengan makna, ditandai oleh sejarah, dan signifikan baik secara psikologis maupun komunal, sehingga menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang masyarakat dan diri kita sendiri.

Liquid Ranah mewujudkan gagasan tentang fluiditas dan keberagaman, serta membentuk kembali kemampuan beradaptasi dan ketahanan kita sendiri di dalam dunia yang terus berubah, termasuk cara-cara mengkoreografi visi dan tubuh kita. Lantaran kerangka biner lama dalam mendekati tradisi, bahasa, budaya, dan gender tidak lagi berkelanjutan, menjadi cair adalah taktik untuk maju –secara sosial, fisik, dan afektif.

Bergabunglah dengan IDF 2024 dan jelajahi dunia cair ini, di mana panggung menjadi ruang untuk mengalami kegembiraan, dialog, dan pemberdayaan.

Program IDF 2024

Pertunjukan Malam

Pertunjukan Kampana

Pertunjukan Situs Spesifik

Lokakarya & Masterclass

3 November 2024 | 09:00 - 10:30

Dashing Theater akan menggunakan gaya tango Argentina sebagai fokus utama pertukaran pengetahuan. Dalam gaya tari ini, lazimnya penari perempuan harus memusatkan beban mereka pada penari laki-laki atau pasangannya, yang memimpin arah spasial tarian.

3 November 2024 | 11:00 - 12:30

Didik Nini Thowok akan memberikan dasar-dasar gerak tubuh dalam tari truno, sejenis tari tayub Jawa Tengah yang diciptakan pada tahun 1983. Koreografi tari truno diciptakan oleh Didik Nini Thowok untuk sebuah film berjudul “Banteng Mataram: Ki Ageng Mangir” (1983).

4 November 2024 | 09:30 - 11:00

Lokakarya ini akan memperkenalkan pendekatan improvisasi Marrugeku untuk mewujudkan ekspresi sosial, budaya, pribadi, dan antarspesies demi mengembangkan gestur tari dan teater yang baru.

4 November 2024 | 11:30 - 13:00

Dalam kelas ini, koreografer dan penari Leu Wijee, akan berbagi penemuan/penelitian gerakan terbarunya yang ia sebut Powerstation/Arus. Peserta akan diajak memahami bagaimana Leu Wijee mengorganisir gerakan-kata-energi berkesinambungan, bekerja dengan skor, serta waktu-ruang dalam pikiran-tubuh.

5 November 2024 | 09:30 - 11:00

Lokakarya ini mengajak peserta mempelajari satu prinsip penting menjadi seorang penari: mengenali tubuh sendiri. Penguasaan terhadap tubuh akan membuat anatomi koreografi lebih matang dan menjamin kesiapan tubuh menerima beragam gagasan, data, juga intensi dalam tahap penciptaan karya apapun selanjutnya.

5 November 2024 | 11:30 - 13:00

Di kelas ini, Olé akan membagi teknik, kosagerak, metode kerja, dan proses kreatif koreografer untuk mengeksplorasi penelitian artistik milik peserta sendiri. Olé akan mentransmisikan gerakan dari berbagai teknik yang menempa tariannya dan titik temu yang menonjolkan kosageraknya.

6 November 2024 | 09:30 - 11:00

Diciptakan oleh Arco Renz, Spiral Gong adalah latihan gerak yang membangkitkan energi dan menghubungkan pikiran dan tubuh, memungkinkan keduanya beresonansi dan bergerak sebagai kesatuan.

6 November 2024 | 10:30 - 13:00

Lokakarya ini berupa provokasi singkat oleh Fitri Setyaningsih lewat tema-tema sederhana, menghadirkan atau menghidupkan materi-materi sesuai sifatnya pada saat ini atau saat terjadi. Fitri mengajak peserta mendialogkan kegelisahan diri terhadap satu hal yang tak terbatas oleh tubuh, lalu memantik pendekatan mencipta secara lintas media atau disiplin.

Bincang Tari

4 November 2024 | 13:30 - 15:30

Karya tari yang menampilkan ekspresi gender di luar batasan biner sering kali dibingkai sebagai bentuk ekspresi artistik yang terkait dengan isu-isu kesetaraan dan hak asasi manusia.

5 November 2024 | 13:30 - 15:30

Dalam dunia seni tari, pengembangan kreativitas membutuhkan lahan subur yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan seni yang berkelanjutan.

6 November 2024 | 13:30 - 15:30

Diskusi publik ini akan mengeksplorasi secara mendalam bagaimana festival seni pertunjukan memainkan peran penting dalam mempromosikan vitalitas budaya, ekonomi, dan sosial.

Road to IDF 2024

oleh:
Linda Mayasari

Penyusunan program IDF 2024 ini melalui proses yang cukup panjang melibatkan stakeholder IDF dalam merumuskan apa saja yang urgen untuk di kerjakan IDF baik sebagai program publik maupun internal kelembagaan. Hal ini bahkan telah dilakukan secara bertahap sejak 2021 ketika kami menyiapkan rangkaian kegiatan yang beriringan dengan momen reflektif ulang tahun IDF ke-30. Proses ulak alik meninjau masa lampau, masa kini, serta membayangkan proyeksi masa depan kami lakukan secara simultan sejak akhir tahun 2020 beriringan dengan proses regenerasi IDF. Melalui arsip IDF kami belajar tentang apa saja dan dalam konteks apa program-program IDF dilakukan di setiap periodenya sejak 1992 hingga 2020, dan bagaimana program-program itu kemudian menciptakan bertautan dinamika medan seni tari pada khususnya dan seni-budaya secara lebih umum di Indonesia. Langkah tersebut penting agar tim kerja IDF terutama bagi generasi muda yang dilibatkan dalam regenerasi tidak mengalami keterputusan sejarah dan paham benar di dalam konstelasi kerja seni dan budaya macam apa kami terlibat dan bergiat. 

Selain itu, menyisir arsip IDF memberikan kami bekal penting untuk melangkah dan memilah apa saja yang harus disimpan dalam “kotak arsip sejarah” dan hal-hal yang mungkin masih relevan untuk diteruskan dan dikontekstualisasikan. Seperti misalnya, cara kerja kuratorial IDF yang bersifat kolaboratif sejak awal IDF dimulai hingga saat ini masih sangat relevan untuk dipertahankan, karena dengan demikian keputusan-keputusan artistic dan etik tidak bertumpu pada satu individu dan jangkauan tatapannya jauh lebih luas dan elaboratif. Program-program edukatif berupa laboratorium penciptaan dan upaya-upaya produksi pengetahuan yang menjadi komponen penting IDF sejak awal juga masih dipegang hingga saat ini dan dikembangkan ke dalam berbagai macam program seperti misalnya KAMPANA, Dance Talk, lokakarya tari, dll.

Tim kerja IDF tidak hanya meneruskan dan mengkontekstualisasikan warisan program dari periode terdahulu, tetapi inovasi dalam bentuk berbagai kegiatan juga dikerjakan sebagai upaya IDF untuk mengambil peran strategis tidak hanya di dalam dinamika geliat medan seni tari tapi medan budaya secara lebih luas. Pengalaman merancang dan menjalankan program di masa pandemi Covid-19 pada akhirnya membawa kami pada pertanyaan yang sangat mendasar: “apa yang bisa dilakukan tari?”, “selama ini kita bergiat di dalam tari untuk apa dan siapa?”, “apakah segala kekayaan pengalaman, pengetahuan, dan praktik tari kita bisa berguna untuk kehidupan yang serba fluktuatif dan tak menentu ini?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih terbawa hingga saat ini meskipun kita sudah tidak lagi berada di dalam masa pandemic, terus-menerus membuat kami memikirkan batas sekaligus kemungkinan untuk menembus batas-batas tersebut. Oleh karena itu saya, Ratri, Rere, Dhita, Nina, bersama dewan pendiri dan Pembina IDF terus-terusan ngobrol dan badai otak untuk menandai hal-hal penting yang harus kami lakukan dan barang kali akan jauh lebih berguna dan bermakna tidak hanya bagi pemangku kepentingan tari tapi khalayak dan kehidupan yang jauh lebih luas. Bila tari ingin memperluas jangkauan dan menjadi bagian dari kehidupan warga, maka warga pun seyogyanya diturutsertakan dengan berbagai macam bentuk keterlibatan.

Oleh karena Kami percaya bahwa tari adalah untuk semua orang karena kita semua mengalami dan melakoni gerak koreografi! Dalam hal ini kami sadar bahwa IDF tidak bisa bekerja sendiri, tidak bisa terus bergerak di dalam koordinat lingkar jaringan kerja yang sama, tidak bisa melakukan gerak yang sama dan repetitif. IDF butuh koreografi baru untuk geliat tarinya! Koreografi baru yang dirancang dan digerakkan secara kolektif, menembus sekat batas disiplin, seni & non-seni, identitas, wilayah, dsb.

Selangkah demi selangkah kami mencoba bergerak dari apa yang kami punya, dari apa yang dapat kami jangkau. Rangkaian program Road to IDF 2024 menjadi semacam rute langkah kami di sepanjang tahun ini. Melalui program LAWATARI, IDF bergandengan dengan para penggerak seni di tiga kota yakni Institut Ruang Tumbuh dan ISI Padang Panjang di Padang Panjang, MAD Laboratory: RIKMA dan Paradance di Yogyakarta dan Makasar Biennale di Makassar untuk merancang dan menggelar aktivitas bersama. Aktivitas yang diselenggarakan di tiap kota dirakit sebagai jembatan hubung pertukaran praktik IDF dan para kolaborator di tiga kota. Format kegiatan residensi dan kolaborasi dengan Masyarakat setempat yang dijalankan oleh Gymnastic Emporium di Makasar menjadi penghubung praktik Makasar Biennale dan IDF dalam menyelami khasanah koreografi dan ruang warga. “Silo” karya Hari Ghulur yang dipentaskan di malam pembukaan IDF 2022 yang akan dipentaskan berdampingan dengan karya koreografer Padang Panjang diproyeksikan menjadi ruang dialog antara IDF, Institut Ruang Tumbuh dan ISI Padang Panjang dalam membaca kembali pemaknaan ragam bentuk dan konteks tradisi di dalam praktik seni tari kontemporer. Di LAWATARI Yogyakarta, akan menjadi ruang bersama bagi KAMPANA program laboratorium koreografer IDF, MAD Laboratory: RIKMA dan Paradance. Tiga platform laboratorium tari ini akan menjadi kumpar percakapan tentang beragam pendekatan laboratorium tari, ragam bahasa ungkap artistik yang muncul darinya dan bagaimana solidaritas dan sistem saling dukung dirajut di dalamnya. DANCE TALK POP, program bincang tari terbaru IDF diluncurkan untuk menyibak dan mengapresiasi beragam jenis kerja tak tampak yang penuh suka cita dan tantangan di balik panggung, serta bagaimana tari dan koreografi menyimpan pengetahuan kolektif, menyajikan pengalaman artistik, menggambar imaji tubuh, membentuk tren selera kelas, dan menggerakkan geliat ruang publik. Meskipun masih ada beberapa program yang akan segera kami luncurkan sebagai bagian dari ROAD to IDF 2024, kiranya dua program yang saya ceritakan secara ringkas tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana IDF mencoba menyusun preposisi untuk memperluas cakrawala praktik dengan cara bekerja sekaligus belajar bersama pada kolaborator penggerak seni dari berbagai lini disiplin dan wilayah.

Rangkaian Kegiatan
Road to IDF 2024