Performances
kampana
zip.conversations

Konsep Virtual Kamera 360° pada Kampana Performance : Re-Reading Impact karya Irfan Setiawan

Kadek Putra Dharma Gunawan
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Denpasar

Konsep Virtual Kamera 360° pada
Kampana Performance : Re-Reading Impact karya Irfan Setiawan

Kadek Putra Dharma Gunawan
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Denpasar

Konsep Virtual Kamera 360° pada Kampana Performance : Re-Reading Impact karya Irfan Setiawan

Kadek Putra Dharma Gunawan
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Denpasar

Benturan, sebuah rasa ungkapan dari seorang koreografer terhadap dampak yang diakibatkan dari adanya pandemi Covid-19. Dampak ini menyebabkan banyaknya aktivitas individu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas menjadi terbatas, tak terkecuali dalam berkreativitas. Fenomena yang terjadi membuat Irfan Setiawan dalam karyanya yang berjudul Re-reading Impact menggambarkan bagaimana benturan tersebut dialami oleh individu. Tidak ada salahnya ia menggunakan konsep benturan dalam karyanya, karena memang fakta di lapangan terdapat dua cara untuk menangani Covid-19, yaitu dengan kepercayaan dan ilmu pengetahuan.

Melalui benturan, sang koreografer melakukan eksplorasi gerak kontras. Proses eksplorasi menjadi hal utama dalam penggarapan karya ini, karena gerak yang dihasilkan merupakan hasil eksplorasi atau penjelajahan gerak dari pengolahan tubuh. Pada masa pandemi ini, kita memiliki keterbatasan dalam hal menyajikan suatu pementasan seni. Terkait dengan pementasan, Re-reading Impact disajikan dengan cara virtual atau daring. Konsep virtual yang digunakan cukup unik dengan menggunakan konsep kamera 360 derajat.

Kata kunci : konsep, virtual, 360 derajat, eksplorasi, dampak.


Gambar 1.1 Pose penari dalam karya Re-Reading Impact Sumber : Way Gaw (Photografer)

Fenomena yang terjadi membuat Irfan Setiawan dalam karyanya yang berjudul Re-reading Impact menggambarkan bagaimana benturan tersebut dialami oleh individu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, benturan berarti perbuatan hasil membentur yang begitu keras sehingga menimbulkan kerusakan hebat (2008: 180). Dimana benturan dalam karya Re-reading Impact divisualkan dengan adanya dua penari yang saling berbenturan, menghasilkan pose-pose tertentu. Tidak ada salahnya ia menggunakan konsep benturan dalam karyanya, karena memang fakta di lapangan terdapat dua cara untuk menangani Covid-19, yaitu dengan ilmu pengetahuan dan kepercayaan. Sayangnya ilmu pengetahuan yang ada selalu bertentangan dengan kepercayaan yang ada pada individu itu sendiri. Berangkat dari itu sang koreografer melakukan eksplorasi gerak kontras dari berbagai jenis benturan tersebut.

Menurut Jazuli dalam bukunya yang berjudul Telaah Teoritis Seni Tari mengatakan bahwa eksplorasi adalah suatu proses dan berimajinasi dengan mengeluarkan ide-ide berupa gerak, tema, dan irama (1994: 43). Eksplorasi dalam hal ini adalah mencari gerak dalam sebuah tarian. Proses eksplorasi menjadi hal yang utama dalam penggarapan karya ini, karena gerak yang dihasilkan merupakan hasil dari eksplorasi atau penjelajahan gerak dari pengolahan tubuh. Murgiyanto dalam bukunya yang berjudul Koreografi mengatakan bahwa apapun yang menjadi sumber inspirasi pada tari begitu diserap oleh penata tari akan menjadi pribadi sifatnya (1996: 144). Dalam hal ini karya Irfan Setiawan terinspirasi dari benturan-benturan yang terjadi di masa pandemi, dengan menggunakan pandemi ini sebagai media yang bisa membuat benturannya sendiri.


Gambar 1.2 Pertunjukan Re-reading Impact yang merupakan hasil eksplorasi koreografer Sumber : Youtube.


Di era globalisasi, seniman memiliki kebebasan untuk menampilkan gaya yang mereka inginkan dengan cara bereksplorasi termasuk cara menyajikan pementasannya. Pementasan adalah suatu kegiatan apresiasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bertujuan untuk menampilkan suatu karya seni dengan menyampaikan isi dan tujuan kepada
audience. Pada masa pandemi ini, tentu kita memiliki keterbatasan menyajikan suatu pementasan seni. Jalan satu-satunya yang bisa ditempuh dengan menyajikan pementasan secara virtual atau daring. Pementasan secara virtual atau daring ialah suatu pementasan yang dilakukan secara digital, tidak melibatkan penonton secara langsung melainkan melalui online. Pementasan ini merupakan salah satu jalan keluar bagi seniman untuk tetap kreatif di masa pandemi global ini.


Gambar 1.3 Konsep Kamera 360 Derajat pada karya Re-reading Impact Sumber : Youtube.


Menggunakan konsep kamera 360 derajat tentu memunculkan beberapa permasalahan yang ada di dalamnya. Seperti halnya penonton harus mencari sisi yang tepat untuk menemukan posisi penari. Ini mengakibatkan penonton sulit untuk membaca gerak tubuh penari dengan baik karena harus mencari fokus kemana arah penari tersebut menari. Demi mendapatkan sisi penari yang baik, penonton harus bisa menyesuaikan tempatnya agar dapat memutar kamera yang dimilikinya serta mengatur tinggi rendahnya posisi penari. Berbeda dengan konsep
virtual pada umumnya, yang menyajikan pertunjukan dalam 1 (satu) bingkai video yang telah diedit sebelumnya. Dalam hal ini penonton lebih bisa menikmati bentuk gerak serta koreografi yang disajikan oleh penari. Tekniknya pun hanya menggunakan teknik zoom out, dimana kita dapat mengetahui detail dari bentuk gerak yang disajikan.

Penyajian video pementasan secara virtual suatu karya tari sebaiknya memanfaatkan visual dengan maksimal. Ini dikarenakan adanya keterbatasan ruang dimana penonton tidak dapat menonton secara langsung dan tidak mengetahui bagaimana karya tersebut secara utuh. Penonton juga kurang merasakan suatu getaran jiwa yang ingin disampaikan sang koreografer dalam karyanya. Akan tetapi ternyata dengan adanya konsep kamera 360 derajat, setidaknya dapat mengajak penonton untuk mendapatkan getaran yang dimaksud walaupun harus mengatur posisi yang tepat. Dalam artian, pada saat penonton menyesuaikan tempatnya dengan posisi penari, penonton harus aktif ikut bergerak mengikuti arah penari tersebut. Secara tidak langsung dengan konsep kamera 360 derajat ini mengajak penonton untuk ikut menari. Seperti yang dikatakan RM. Soedarsono, menari adalah sebuah ungkapan dari dalam jiwa manusia yang diekspresikan melalui gerak ritmis. Pada saat penonton menyesuaikan posisinya, ia akan ikut bergerak serta mengikuti alur dari penyajian karya tersebut, sehingga dapat dikatakan ia juga menari.(1972: 4).

Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan jika ingin melihat karya virtual yang menggunakan konsep kamera 360 derajat. Terdapat beberapa media yang mempermudah penonton seperti penggunaan mobile phone yang berbasis touch screen, agar kita sebagai penonton dapat dengan jelas mengatur posisi kita. Lalu penonton membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak dikarenakan penonton harus menyesuaikan posisinya dengan penari. Selanjutnya penggunaan earphone, untuk memperjelas musik atau irama yang digunakan dalam karya tersebut.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat kita artikan bahwa keterbatasan yang diakibatkan oleh pandemi global tidak menyurutkan semangat seniman dalam hal berkarya. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh seniman, yakni melakukan pementasan secara virtual atau daring. Pementasan virtual dengan menggunakan konsep kamera 360 derajat harus memanfaatkan visual dengan maksimal. Walaupun penonton mengalami kesulitan dalam hal melihat bentuk koreografi, namun disisi lain penggunaan konsep ini justru memberikan dampak lainnya, penonton secara tidak sadar diajak menari dan bergerak bersama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan konsep kamera 360 derajat ini, yakni mobile phone berbasis touch screen, membutuhkan ruang gerak yang cukup serta penggunaan earphone untuk memperjelas musik atau irama yang digunakan.

Dengan adanya pementasan virtual berkonsep kamera 360 derajat ini semoga para seniman dapat tetap berkarya walaupun masih dalam keterbatasan. Adanya inovasi ini dapat memberikan warna baru ke dalam penyajian seni yang ada selama ini. Oleh karena itu, kita sebagai seniman-seniman muda harus giat berkreativitas dengan memanfaatkan teknologi yang ada dan terus menjaga seni budaya kita agar tetap berkembang.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Benturan, sebuah rasa ungkapan dari seorang koreografer terhadap dampak yang diakibatkan dari adanya pandemi Covid-19. Dampak ini menyebabkan banyaknya aktivitas individu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas menjadi terbatas, tak terkecuali dalam berkreativitas. Fenomena yang terjadi membuat Irfan Setiawan dalam karyanya yang berjudul Re-reading Impact menggambarkan bagaimana benturan tersebut dialami oleh individu. Tidak ada salahnya ia menggunakan konsep benturan dalam karyanya, karena memang fakta di lapangan terdapat dua cara untuk menangani Covid-19, yaitu dengan kepercayaan dan ilmu pengetahuan.

Melalui benturan, sang koreografer melakukan eksplorasi gerak kontras. Proses eksplorasi menjadi hal utama dalam penggarapan karya ini, karena gerak yang dihasilkan merupakan hasil eksplorasi atau penjelajahan gerak dari pengolahan tubuh. Pada masa pandemi ini, kita memiliki keterbatasan dalam hal menyajikan suatu pementasan seni. Terkait dengan pementasan, Re-reading Impact disajikan dengan cara virtual atau daring. Konsep virtual yang digunakan cukup unik dengan menggunakan konsep kamera 360 derajat.

Kata kunci : konsep, virtual, 360 derajat, eksplorasi, dampak.


Gambar 1.1 Pose penari dalam karya Re-Reading Impact Sumber : Way Gaw (Photografer)


Fenomena yang terjadi membuat Irfan Setiawan dalam karyanya yang berjudul Re-reading Impact menggambarkan bagaimana benturan tersebut dialami oleh individu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, benturan berarti perbuatan hasil membentur yang begitu keras sehingga menimbulkan kerusakan hebat (2008: 180). Dimana benturan dalam karya Re-reading Impact divisualkan dengan adanya dua penari yang saling berbenturan, menghasilkan pose-pose tertentu. Tidak ada salahnya ia menggunakan konsep benturan dalam karyanya, karena memang fakta di lapangan terdapat dua cara untuk menangani Covid-19, yaitu dengan ilmu pengetahuan dan kepercayaan. Sayangnya ilmu pengetahuan yang ada selalu bertentangan dengan kepercayaan yang ada pada individu itu sendiri. Berangkat dari itu sang koreografer melakukan eksplorasi gerak kontras dari berbagai jenis benturan tersebut.

Menurut Jazuli dalam bukunya yang berjudul Telaah Teoritis Seni Tari mengatakan bahwa eksplorasi adalah suatu proses dan berimajinasi dengan mengeluarkan ide-ide berupa gerak, tema, dan irama (1994: 43). Eksplorasi dalam hal ini adalah mencari gerak dalam sebuah tarian. Proses eksplorasi menjadi hal yang utama dalam penggarapan karya ini, karena gerak yang dihasilkan merupakan hasil dari eksplorasi atau penjelajahan gerak dari pengolahan tubuh. Murgiyanto dalam bukunya yang berjudul Koreografi mengatakan bahwa apapun yang menjadi sumber inspirasi pada tari begitu diserap oleh penata tari akan menjadi pribadi sifatnya (1996: 144). Dalam hal ini karya Irfan Setiawan terinspirasi dari benturan-benturan yang terjadi di masa pandemi, dengan menggunakan pandemi ini sebagai media yang bisa membuat benturannya sendiri.


Gambar 1.2 Pertunjukan Re-reading Impact yang merupakan hasil eksplorasi koreografer Sumber : Youtube.


Di era globalisasi, seniman memiliki kebebasan untuk menampilkan gaya yang mereka inginkan dengan cara bereksplorasi termasuk cara menyajikan pementasannya. Pementasan adalah suatu kegiatan apresiasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bertujuan untuk menampilkan suatu karya seni dengan menyampaikan isi dan tujuan kepada
audience. Pada masa pandemi ini, tentu kita memiliki keterbatasan menyajikan suatu pementasan seni. Jalan satu-satunya yang bisa ditempuh dengan menyajikan pementasan secara virtual atau daring. Pementasan secara virtual atau daring ialah suatu pementasan yang dilakukan secara digital, tidak melibatkan penonton secara langsung melainkan melalui online. Pementasan ini merupakan salah satu jalan keluar bagi seniman untuk tetap kreatif di masa pandemi global ini.


Gambar 1.3 Konsep Kamera 360 Derajat pada karya Re-reading Impact Sumber : Youtube.


Menggunakan konsep kamera 360 derajat tentu memunculkan beberapa permasalahan yang ada di dalamnya. Seperti halnya penonton harus mencari sisi yang tepat untuk menemukan posisi penari. Ini mengakibatkan penonton sulit untuk membaca gerak tubuh penari dengan baik karena harus mencari fokus kemana arah penari tersebut menari. Demi mendapatkan sisi penari yang baik, penonton harus bisa menyesuaikan tempatnya agar dapat memutar kamera yang dimilikinya serta mengatur tinggi rendahnya posisi penari. Berbeda dengan konsep
virtual pada umumnya, yang menyajikan pertunjukan dalam 1 (satu) bingkai video yang telah diedit sebelumnya. Dalam hal ini penonton lebih bisa menikmati bentuk gerak serta koreografi yang disajikan oleh penari. Tekniknya pun hanya menggunakan teknik zoom out, dimana kita dapat mengetahui detail dari bentuk gerak yang disajikan.

Penyajian video pementasan secara virtual suatu karya tari sebaiknya memanfaatkan visual dengan maksimal. Ini dikarenakan adanya keterbatasan ruang dimana penonton tidak dapat menonton secara langsung dan tidak mengetahui bagaimana karya tersebut secara utuh. Penonton juga kurang merasakan suatu getaran jiwa yang ingin disampaikan sang koreografer dalam karyanya. Akan tetapi ternyata dengan adanya konsep kamera 360 derajat, setidaknya dapat mengajak penonton untuk mendapatkan getaran yang dimaksud walaupun harus mengatur posisi yang tepat. Dalam artian, pada saat penonton menyesuaikan tempatnya dengan posisi penari, penonton harus aktif ikut bergerak mengikuti arah penari tersebut. Secara tidak langsung dengan konsep kamera 360 derajat ini mengajak penonton untuk ikut menari. Seperti yang dikatakan RM. Soedarsono, menari adalah sebuah ungkapan dari dalam jiwa manusia yang diekspresikan melalui gerak ritmis. Pada saat penonton menyesuaikan posisinya, ia akan ikut bergerak serta mengikuti alur dari penyajian karya tersebut, sehingga dapat dikatakan ia juga menari.(1972: 4).

Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan jika ingin melihat karya virtual yang menggunakan konsep kamera 360 derajat. Terdapat beberapa media yang mempermudah penonton seperti penggunaan mobile phone yang berbasis touch screen, agar kita sebagai penonton dapat dengan jelas mengatur posisi kita. Lalu penonton membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak dikarenakan penonton harus menyesuaikan posisinya dengan penari. Selanjutnya penggunaan earphone, untuk memperjelas musik atau irama yang digunakan dalam karya tersebut.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat kita artikan bahwa keterbatasan yang diakibatkan oleh pandemi global tidak menyurutkan semangat seniman dalam hal berkarya. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh seniman, yakni melakukan pementasan secara virtual atau daring. Pementasan virtual dengan menggunakan konsep kamera 360 derajat harus memanfaatkan visual dengan maksimal. Walaupun penonton mengalami kesulitan dalam hal melihat bentuk koreografi, namun disisi lain penggunaan konsep ini justru memberikan dampak lainnya, penonton secara tidak sadar diajak menari dan bergerak bersama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan konsep kamera 360 derajat ini, yakni mobile phone berbasis touch screen, membutuhkan ruang gerak yang cukup serta penggunaan earphone untuk memperjelas musik atau irama yang digunakan.

Dengan adanya pementasan virtual berkonsep kamera 360 derajat ini semoga para seniman dapat tetap berkarya walaupun masih dalam keterbatasan. Adanya inovasi ini dapat memberikan warna baru ke dalam penyajian seni yang ada selama ini. Oleh karena itu, kita sebagai seniman-seniman muda harus giat berkreativitas dengan memanfaatkan teknologi yang ada dan terus menjaga seni budaya kita agar tetap berkembang.

Terbitan Terkait

Benturan, sebuah rasa ungkapan dari seorang koreografer terhadap dampak yang diakibatkan dari adanya pandemi Covid-19. Dampak ini menyebabkan banyaknya aktivitas individu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas menjadi terbatas, tak terkecuali dalam berkreativitas. Fenomena yang terjadi membuat Irfan Setiawan dalam karyanya yang berjudul Re-reading Impact menggambarkan bagaimana benturan tersebut dialami oleh individu. Tidak ada salahnya ia menggunakan konsep benturan dalam karyanya, karena memang fakta di lapangan terdapat dua cara untuk menangani Covid-19, yaitu dengan kepercayaan dan ilmu pengetahuan.

Melalui benturan, sang koreografer melakukan eksplorasi gerak kontras. Proses eksplorasi menjadi hal utama dalam penggarapan karya ini, karena gerak yang dihasilkan merupakan hasil eksplorasi atau penjelajahan gerak dari pengolahan tubuh. Pada masa pandemi ini, kita memiliki keterbatasan dalam hal menyajikan suatu pementasan seni. Terkait dengan pementasan, Re-reading Impact disajikan dengan cara virtual atau daring. Konsep virtual yang digunakan cukup unik dengan menggunakan konsep kamera 360 derajat.

Kata kunci : konsep, virtual, 360 derajat, eksplorasi, dampak.


Gambar 1.1 Pose penari dalam karya Re-Reading Impact Sumber : Way Gaw (Photografer)


Fenomena yang terjadi membuat Irfan Setiawan dalam karyanya yang berjudul Re-reading Impact menggambarkan bagaimana benturan tersebut dialami oleh individu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, benturan berarti perbuatan hasil membentur yang begitu keras sehingga menimbulkan kerusakan hebat (2008: 180). Dimana benturan dalam karya Re-reading Impact divisualkan dengan adanya dua penari yang saling berbenturan, menghasilkan pose-pose tertentu. Tidak ada salahnya ia menggunakan konsep benturan dalam karyanya, karena memang fakta di lapangan terdapat dua cara untuk menangani Covid-19, yaitu dengan ilmu pengetahuan dan kepercayaan. Sayangnya ilmu pengetahuan yang ada selalu bertentangan dengan kepercayaan yang ada pada individu itu sendiri. Berangkat dari itu sang koreografer melakukan eksplorasi gerak kontras dari berbagai jenis benturan tersebut.

Menurut Jazuli dalam bukunya yang berjudul Telaah Teoritis Seni Tari mengatakan bahwa eksplorasi adalah suatu proses dan berimajinasi dengan mengeluarkan ide-ide berupa gerak, tema, dan irama (1994: 43). Eksplorasi dalam hal ini adalah mencari gerak dalam sebuah tarian. Proses eksplorasi menjadi hal yang utama dalam penggarapan karya ini, karena gerak yang dihasilkan merupakan hasil dari eksplorasi atau penjelajahan gerak dari pengolahan tubuh. Murgiyanto dalam bukunya yang berjudul Koreografi mengatakan bahwa apapun yang menjadi sumber inspirasi pada tari begitu diserap oleh penata tari akan menjadi pribadi sifatnya (1996: 144). Dalam hal ini karya Irfan Setiawan terinspirasi dari benturan-benturan yang terjadi di masa pandemi, dengan menggunakan pandemi ini sebagai media yang bisa membuat benturannya sendiri.


Gambar 1.2 Pertunjukan Re-reading Impact yang merupakan hasil eksplorasi koreografer Sumber : Youtube.


Di era globalisasi, seniman memiliki kebebasan untuk menampilkan gaya yang mereka inginkan dengan cara bereksplorasi termasuk cara menyajikan pementasannya. Pementasan adalah suatu kegiatan apresiasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bertujuan untuk menampilkan suatu karya seni dengan menyampaikan isi dan tujuan kepada
audience. Pada masa pandemi ini, tentu kita memiliki keterbatasan menyajikan suatu pementasan seni. Jalan satu-satunya yang bisa ditempuh dengan menyajikan pementasan secara virtual atau daring. Pementasan secara virtual atau daring ialah suatu pementasan yang dilakukan secara digital, tidak melibatkan penonton secara langsung melainkan melalui online. Pementasan ini merupakan salah satu jalan keluar bagi seniman untuk tetap kreatif di masa pandemi global ini.


Gambar 1.3 Konsep Kamera 360 Derajat pada karya Re-reading Impact Sumber : Youtube.


Menggunakan konsep kamera 360 derajat tentu memunculkan beberapa permasalahan yang ada di dalamnya. Seperti halnya penonton harus mencari sisi yang tepat untuk menemukan posisi penari. Ini mengakibatkan penonton sulit untuk membaca gerak tubuh penari dengan baik karena harus mencari fokus kemana arah penari tersebut menari. Demi mendapatkan sisi penari yang baik, penonton harus bisa menyesuaikan tempatnya agar dapat memutar kamera yang dimilikinya serta mengatur tinggi rendahnya posisi penari. Berbeda dengan konsep
virtual pada umumnya, yang menyajikan pertunjukan dalam 1 (satu) bingkai video yang telah diedit sebelumnya. Dalam hal ini penonton lebih bisa menikmati bentuk gerak serta koreografi yang disajikan oleh penari. Tekniknya pun hanya menggunakan teknik zoom out, dimana kita dapat mengetahui detail dari bentuk gerak yang disajikan.

Penyajian video pementasan secara virtual suatu karya tari sebaiknya memanfaatkan visual dengan maksimal. Ini dikarenakan adanya keterbatasan ruang dimana penonton tidak dapat menonton secara langsung dan tidak mengetahui bagaimana karya tersebut secara utuh. Penonton juga kurang merasakan suatu getaran jiwa yang ingin disampaikan sang koreografer dalam karyanya. Akan tetapi ternyata dengan adanya konsep kamera 360 derajat, setidaknya dapat mengajak penonton untuk mendapatkan getaran yang dimaksud walaupun harus mengatur posisi yang tepat. Dalam artian, pada saat penonton menyesuaikan tempatnya dengan posisi penari, penonton harus aktif ikut bergerak mengikuti arah penari tersebut. Secara tidak langsung dengan konsep kamera 360 derajat ini mengajak penonton untuk ikut menari. Seperti yang dikatakan RM. Soedarsono, menari adalah sebuah ungkapan dari dalam jiwa manusia yang diekspresikan melalui gerak ritmis. Pada saat penonton menyesuaikan posisinya, ia akan ikut bergerak serta mengikuti alur dari penyajian karya tersebut, sehingga dapat dikatakan ia juga menari.(1972: 4).

Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan jika ingin melihat karya virtual yang menggunakan konsep kamera 360 derajat. Terdapat beberapa media yang mempermudah penonton seperti penggunaan mobile phone yang berbasis touch screen, agar kita sebagai penonton dapat dengan jelas mengatur posisi kita. Lalu penonton membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak dikarenakan penonton harus menyesuaikan posisinya dengan penari. Selanjutnya penggunaan earphone, untuk memperjelas musik atau irama yang digunakan dalam karya tersebut.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat kita artikan bahwa keterbatasan yang diakibatkan oleh pandemi global tidak menyurutkan semangat seniman dalam hal berkarya. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh seniman, yakni melakukan pementasan secara virtual atau daring. Pementasan virtual dengan menggunakan konsep kamera 360 derajat harus memanfaatkan visual dengan maksimal. Walaupun penonton mengalami kesulitan dalam hal melihat bentuk koreografi, namun disisi lain penggunaan konsep ini justru memberikan dampak lainnya, penonton secara tidak sadar diajak menari dan bergerak bersama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan konsep kamera 360 derajat ini, yakni mobile phone berbasis touch screen, membutuhkan ruang gerak yang cukup serta penggunaan earphone untuk memperjelas musik atau irama yang digunakan.

Dengan adanya pementasan virtual berkonsep kamera 360 derajat ini semoga para seniman dapat tetap berkarya walaupun masih dalam keterbatasan. Adanya inovasi ini dapat memberikan warna baru ke dalam penyajian seni yang ada selama ini. Oleh karena itu, kita sebagai seniman-seniman muda harus giat berkreativitas dengan memanfaatkan teknologi yang ada dan terus menjaga seni budaya kita agar tetap berkembang.

 

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-06-25T14:34:08+07:00Juni 25th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top