Cara pandang itu semacam menggiring kita berfikir bahwa perkembangan tari Indonesia mengelinding begitu saja di atas jalan mulus melintasi periode masa secara linier, dari tradisi menuju modern lalu kontemporer. Ada pula yang berpendapat bahwa tari tradisi pada masanya adalah modern atau bahkan kontemporer. Sejarah yang digambarkan sebagai jalan mulus linier itu seakan menegaskan bahwa meski praktik tari berubah sering laju zaman, di sana masih selalu ada kesinambungan dengan tradisi yang dianggap sebagai lokus awal. Namun, pernahkah kita bertanya, akar tradisi mana yang kita rujuk? Apakah kita lupa bahwa di dalam kondisi pasca kolonial Indonesia, tradisi yang kita yakini sebagai akar identitas telah berkorespondensi dengan beragam kepentingan kuasa?
Kita butuh sejenak jeda, melipat waktu, menilik jejak langkah, menggeser sudut pandang untuk menyadari bahwa kita sebenarnya menari di atas jalan sejarah yang terjal dan penuh dengan tarik ulur negosiasi. Berangkat dari pembacaan tersebut LAYAR TERKEMBANG seri TUBUH DI DALAM JEDA LIPATAN WAKTU mengundang dua koreografer lintas generasi dari Jawa Barat, Wangi Indriya dan Ela Mutiara untuk memberikan tawaran perspektif dan pendekatan dalam merespons tradisi dan bagaimana mereka menautkan kesadaran ketubuhan tarinya dengan tradisi di lokus pengalaman budayanya.
Melalui karya Yang Beringsut di Dalam Jeda, Ela Mutiara menempatkan diri sebagai penari Sunda untuk melihat ulang cindek bagian terkecil dalam struktur tari Sunda. Alih-alih menggunakan cindek yang berpusat pada gerak pinggul sebagai inspirasi pencarian gerak, Ela mempertanyakan mengapa pinggul dominan dalam tari tradisi kerakyatan Sunda dan memeriksa kembali pengalaman tubuh dan batinnya ketika melakukan cindek. Menyadari adanya kuasa tatapan penonton terhadap tubuh penari perempuan Sunda, Ela merebut kembali kuasa dengan membangkitkan kesadarannya terhadap kekuatan cindek sebagai jeda di mana penari dapat pengolahan energi untuk menentukan posisi dan penanda. Di dalam kesadaran ini, Ela membuat cindek menjadi sangat visioner karena itu membentangkan pandangan ke depan dengan tujuan sampai pada titik penyelesaian satu rangkaian koreografi.
Wangi Indriya menyusun rangkaian fragmen ingatan di dalam Natkala. Ingatan-ingatan itu datang dan pergi silih berganti, saling bertumpang tindih menunjukkan nyaris tidak ada batas antara kesenian dan kehidupannya. Kesenian baginya bukan profesi, tetapi kehidupan itu sendiri. Ia tidak hanya melakoni dan mengalami kesenian tradisi di atas panggung pertunjukan tetapi juga kesenian tradisi yang disituasikan di dalam gejolak politik di ruang kewargaannya. Fragmen penari topeng di balik jendela berjeruji besi ia hadirkan sekelebat sebagai metafora goresan luka lampau ketika kesenian tradisinya “diantagoniskan” oleh kuasa ideologi. Di dalam konteks praktik dan pengalaman Wangi, seni tradisi kemudian menemukan fungsinya sebagai penjaga ingatan, medium untuk menuturkan ingatan yang terlarang, sekaligus penyembuh luka tubuh dan batin bukan hanya bagi Wangi dan keluarganya, tetapi juga untuk warga Indramayu dan kita yang terhubung dengan sejarah kelam di masa lalu.