*Untuk pengalaman yang menyeluruh dalam mengakses peta LAYAR TERKEMBANG, silahkan menggunakan perangkat desktop/tablet.

Layar Terkembang

Sekali Layar Terkembang,
Surut Kita Berpantang!

Sebuah seruan pembakar semangat berkata demikian: “Sekali layar terkembang, surut kita berpantang!” . Seruan tersebut melatari pembentukan Layar Terkembang, sebuah program yang lahir dari keterbatasan di masa pandemi global.

Pada 2020, IDF telah merencanakan pengadaan festival bienialnya. Namun, rencana tersebut mesti dimodifikasi akibat pandemi global. Menolak menyerah pada keadaan, IDF untuk pertama kalinya mengadakan festival daring dalam tema IDF.2020.zip – DAYA: CARI CARA. Program Layar Terkembang menjadi salah satu agenda utama, melibatkan 20 koreografer tari dari berbagai negara di dunia untuk menuangkan refleksi masa pandemi mereka dalam format film tari berdurasi singkat. Kreasi mereka kemudian menjadi medium untuk membuka dialog mengenai isu-isu lokal yang dibahas dalam setiap karya.

Layar Terkembang menjadi ekspresi solidaritas yang menularkan semangat melalui medium virtual. Eksperimen ini membuka mata tim festival bahwa rasa bisa dihantarkan lewat layar, menembus batasan waktu dan geografis. Layar dalam konteks ini juga melambangkan alat yang mengajak kita untuk menjelajahi berbagai kemungkinan baru dalam tari dan praktik sosio-kultural.

Seri Layar Terkembang :

Tubuh dan Rasa di Terra Incognita
Tubuh Virtual
Tubuh Mandala
Layar Terkembang 2022

Seri Tubuh dan Rasa di Terra Incognita

Layar Terkembang merupakan salah satu pelantar program IDF yang diluncurkan pertama kali pada tahun 2020 beriringan dengan pelaksanaan IDF 2020 yang bertajuk IDF 2020.zip – DAYA: CARI CARA. Inisiasi program ini diberangkatkan dari refleksi pengalaman termediasi kita yang semakin menguat disebabkan oleh tingginya penggunaan teknologi komunikasi di masa pandemi Covid-19. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala besar), lockdown dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) memang membatasi gerak dan keterhubungan secara fisik, tetapi teknologi komunikasi menawarkan kemungkinan bagi kita –yang memiliki akses- untuk melakukan arung virtual. Melalui arung virtual “Layar Terkembang”, selain jarak yang terbentang dan gerak yang dipersempit dapat diatasi, arung ini diharapkan dapat membawa kita menjelajahi berbagai kemungkinan baru bagi praktik tari dan sosial-budaya. Sejak pertama kali diluncurkan, IDF telah melaksanakan dua seri Layar Terkembang di tahun 2021; seri Tubuh Mandala dan seri Tubuh Virtual, menampilkan karya-karya tari pendek dari koreografer Indonesia dan internasional. Program ini kemudian kami anggap sebagai Mini Dance Film Festival.

Sebagai bagian dari seri program Road to IDF 2022, Layar Terkembang seri Tubuh dan Rasa di Terra Incognita dikurasi oleh Linda Mayasari (Lead Curator IDF 2022) dan Dian Anggraini (kurator tamu Layar Terkembang). Layar Terkembang seri Tubuh dan Rasa di Terra Incognita menampilkan karya dari 13 koreografer dari 10 wilayah di Indonesia dan 3 koreografer dari negara Asia lainnya. Koreografer akan menciptakan film tari pendek berdurasi 3-5 menit yang akan ditampilkan selama tiga hari pada 25, 26, 27 Agustus 2022. Pembacaan kritis dan reflektif terhadap karya dan tema akan dilakukan melalui diskusi online pada tanggal 28 Agustus.

Layar Terkembang seri Tubuh dan Rasa di Terra Incognita

oleh
Dian Anggraini (House Curator IDF 2022)
Linda Mayasari (Guest Curator Layar Terkembang 2022)

Tempat (place) dengan mudah kita rujuk dengan menyebutkan namanya, mendeskripsikan lanskap atau denah, dan menunjuk koordinat di peta. Perkembangan teknologi mutakhir pun telah menyediakan Google Maps yang tidak hanya memberikan kemudahan bagi kita mengetahui letak tempat tertentu. Namun, Google Maps juga menyediakan beragam features, misalnya panduan rute, citra satelit dan lain sebagainya untuk penjelajahan virtual ke berbagai belahan dunia. Tampaknya sudah tidak ada lagi sudut di muka bumi ini yang belum tersentuh penjelajahan manusia. Seolah misteri geografis terra incognita (wilayah yang belum dijelajahi) lenyap lantaran telah paripurna dijelajahi.

Terra (wilayah) menjadi incognita (belum dijelajahi) oleh karena orang tak pernah mendatangi atau tak tahu keberadaannya, tetapi tidak bagi orang-orang yang memang telah mengunjungi atau tinggal di sana. Terra incognita (wilayah yang belum dijelajahi) selalu tergantung siapa yang menatapnya dan bagaimana situasi tubuh yang mengalami keruangannya. Tubuh adalah bagian dari eksistensi manusia karena tubuhlah yang menjadikan manusia berada di dunia ini. Dengan tubuh, manusia menjadi makhluk spatio temporal dan menempati ruang dan waktu. Tubuh terikat dengan seluruh benda yang ada di dunia sebab benda ini tidak dapat bersifat mandiri pada dirinya sendiri, karena benda itu hanya dapat dikenali melalui pencerapan dan eksistensi manusia, dan eksistensi itu terwujud secara konkret di dalam konsep tubuh manusia. Di dalam karya magnum opusnya yang berjudul Phenomenology of Perception (1945), filsuf Merleau-Ponty mengajukan pendapat secara konsisten, bahwa kesatuan tubuh manusia yang mempersepsi mendapatkan kepenuhannya dengan menyentuh dan mempersepsi dunia sehingga tubuh dan dunia adalah dua entitas yang tak terpisahkan.

Apakah tempat (place) hanyalah sebuah bidang di atas bumi yang dapat kita pijak semata? Apakah terra incognita benar-benar telah paripurna dijelajahi? Jangan-jangan ada jenis terra incognita yang terbentang di dalam pengalaman ketubuhan kita atas tempat (place). Pertanyaan-pertanyaan tersebut hadir dari refleksi tentang bagaimana tubuh berhubungan dengan tempat (place), mengingat ada makna tertentu yang kerap kita sematkan pada suatu tempat lantaran ada pengalaman, rasa, peristiwa penting yang tergambar di dalam ingatan kita baik yang romantis, dilematis, atau bahkan traumatis. Misalnya, seberapa jauh pun kita merantau, kampung halaman tetap menjadi tujuan mudik meskipun rumah orang tua sudah berpindah kepemilikan. Barangkali sudut-sudut tertentu di kota tempat kita merantau untuk belajar memiliki kenangan tertentu yang ingin kita kunjungi kembali atau justru kita hindari. Dengan kata lain, satu tempat yang sama tapi banyak orang memaknainya secara berbeda. Di dalam pengalaman kita di Indonesia, beberapa peristiwa keruangan yang cukup pelik muncul di wilayah transmigrasi. Di Desa Bali Agung ada perbedaan yang signifikan antara penandaan geografis administratif dan nuansa kehidupan di dalamnya. Sebagian besar warga Desa Bali Agung yang bertransmigrasi dari wilayah terdampak letusan gunung Agung yang ada di Kabupaten Karangasem, Bali. Mereka membangun kehidupan dan ruang hidup layaknya di tempat sebelumnya, lantaran memiliki keterikatan yang kuat dengan “tempat asal” atau tanah kelahirannya.

Berdasar refleksi di atas, Layar Terkembang edisi Road to IDF edisi ulang tahun ke-30 mengangkat tema “Tubuh dan Rasa di Terra Incognita” sebagai ruang jelajah bersama bagi tim IDF dan para koreografer untuk menguak dan berbagi beragam terra incognita. Dibayangkan, para koreografer Layar Terkembang: Tubuh dan Rasa di Terra Incognita akan menggambar dan mempertukarkan peta alternatif yang digambar melalui beragam perspektif, pengalaman rasa, dan tubuh. Jahitan beragam peta terra incognita ini diharapkan menjadi peta baru bagi ruang hidup bersama yang optimis dan penuh rasa penghormatan terhadap keberagaman pengalaman tubuh atas ruang.

  • 28 Agustus 2022 | 15:00 - 17:00

    Diskusi publik online untuk koreografer-koreografer yang terlibat dalam program Indonesian Dance Festival, Layar Terkembang seri Tubuh dan Rasa di Terra Incognita. Tiga belas koreografer dan dua kurator akan berbagi tentang proses artistik mereka terkait dengan tema kuratorial.

  • 28 Agustus 2022 | 20:00 - 22:00

    Dermaga Bincang Tari adalah platform dialog koreografi kritis yang mengundang seniman dan peneliti multidisiplin yang fokus pada bahasa tubuh, teknologi, dan platform digital, baik lokal maupun internasional.