Mengelola Lahan Subur bagi Pertumbuhan Talenta Seni Tari
Dalam dunia seni tari, pengembangan kreativitas membutuhkan lahan subur yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan seni yang berkelanjutan.
Dalam dunia seni tari, pengembangan kreativitas membutuhkan lahan subur yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan seni yang berkelanjutan.
Go In to Go Out merupakan pengembangan pertunjukan berdasarkan platform riset artistik “Membaca Sanghyang”, yang sempat dilakukan Wayan Sumahardika melalui kolaborasi Mulawali Institute bersama Desa Adat Geriana Kauh-Karangasem dan Desa Adat Kepaon-Denpasar di Bali.
Karya ini berawal dari ingatan atas pengalaman masa kecil Ela sebagai penonton Bajidoran. Salah satu seni pertunjukan rakyat Sunda, Jawa Barat ini menjadi pintu masuk Ela untuk melihat pergeseran kedudukan pinggul dan perempuan yang secara umum dianggap sebagai simbol kesuburan.
Pemantiknya adalah satu fakta tak terbantahkan, bahwa cuaca berubah lebih cepat dari yang bisa Nout bayangkan. Kesadaran ini hadir melalui diskusi dengan teman, keluarga, dan seniman lintas disiplin di sekitarnya.
Berangkat dari pengalaman ketubuhan Fitri di Gunung Bromo (Jawa Timur) dan Gunung Padang (Jawa Barat), Garis Tegak Lurus adalah karya tubuh tari yang melintasi laku spiritual pada sudut siku-siku terhadap garis dasar.
Diciptakan oleh Arco Renz, Spiral Gong adalah latihan gerak yang membangkitkan energi dan menghubungkan pikiran dan tubuh, memungkinkan keduanya beresonansi dan bergerak sebagai kesatuan.
Lokakarya ini berupa provokasi singkat oleh Fitri Setyaningsih lewat tema-tema sederhana, menghadirkan atau menghidupkan materi-materi sesuai sifatnya pada saat ini atau saat terjadi. Fitri mengajak peserta mendialogkan kegelisahan diri terhadap satu hal yang tak terbatas oleh tubuh, lalu memantik pendekatan mencipta secara lintas media atau disiplin.
Diskusi publik ini akan mengeksplorasi secara mendalam bagaimana festival seni pertunjukan memainkan peran penting dalam mempromosikan vitalitas budaya, ekonomi, dan sosial.
Bagi Angga yang tumbuh di Jakarta, aktivitas membungkus nasi di warung makan telah menjadi satu core memory dan simpul untuk membicarakan banyak hal. Menurutnya, nasi bungkus sangat dekat untuk menjadi metafora ruang hidup perkotaan dan masyarakat kelas menengah ke bawah yang sesak dan harus berhimpitan melakukan apa saja demi bertahan hidup di dalamnya.
Karya bertumbuh ini mengeksplorasi transformasi tubuh trans melalui proses Hormonal Replacement Therapy (HRT). Seperti fusi nuklir yang menggabungkan inti atom menjadi entitas yang lebih kuat dan kompleks, HRT menyatukan biologi organik dan teknologi medis untuk menciptakan identitas hibrid baru.
Karya Pan Xian merenungkan kebutuhan laten akan kepercayaan dan dewa-dewi dalam budaya kerakyatan, sekaligus menyoroti dampak gerakan sosial terkini di Taiwan. Karya ini memadukan memori sejarah, isu identitas gender, seni tradisional, dan kerangka seremonialnya.
Wisma Nugraha, Jl. Raden Saleh No. 6 10 1, Kenari, Kec. Senen,
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10430

Indonesian Dance Festival © 2022. All Right Reserved.