RIDDEN
Diterjemahkan menjadi “ditunggangi” dalam bahasa Indonesia dan '憑依 /Hyoui' dalam bahasa Jepang, “Ridden” diasosiasikan dengan roh atau hantu–kehadiran tak kasat mata yang dirasakan.
Kolaborasinya di Museum II: Ridden bersama Mio Ishida, koreografer asal Jepang meninggalkan kesan mendalam bagi Leu. Leu melihat ia dan Mio berbagi pengalaman yang sama soal tinggal di daerah yang rawan gempa dan bencana alam. Salah satu temuan dari proses kreatif mereka di Jepang adalah soal konsep tubuh yang bersiap-siaga.
“Museum II: Ridden” adalah sebuah refleksi/pertunjukan yang menghadirkan kosa gerak yang berpusat pada eksplorasi tubuh yang bermutasi dan bersiap siaga. Eksplorasi kosa gerak ini berkaitan dengan tubuh-tubuh yang mengalami bencana. Tubuh tiga penari yang terlibat ditunggangi oleh gerakan ritmis yang penuh dengan aroma dan mantra.
Aktor dan penari yang tinggal di Tokyo dan Chigasaki, Jepang. Lulus dari program teater dan tari di JF Oberlin University College dan mempelajari contemporary colloquial theater. Mio menciptakan karya-karya yang berfokus pada hubungan antara tubuh manusia dan benda-benda. Ia terpilih di Program for Future Dancers (2021-2022) oleh Tokyo Arts Festival, tampil di Indonesian Dance Festival (2022), ADAM (Kitchen, 2023) dan Taitung Fringe Festival (2023) di Taiwan.
Wisma Nugraha, Jl. Raden Saleh No. 6 10 1, Kenari, Kec. Senen,
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10430

Indonesian Dance Festival © 2022. All Right Reserved.