Doa ucapan syukur dan pengharapan yang tidak pernah berakhir. Getaran doa yang merasuk ke dalam tubuh adalah sebuah misteri yang tidak akan pernah terjawab. Di mana pun titik awal dan akhir, doa senantiasa mengikuti perjalanan kita. Doa yang sederhana dan tubuh yang sederhana, keduanya akan bergetar selamanya.
Selapan sebuah karya hasil eksperimentasi lintas disiplin yang mendialogkan tari dan etnomatematika, yang merespon candi Borobudur.
Tim Produksi:
Koreografer : Retno Sulistyorini
Penari : Tumuruning Nur Rahayu Lestari, Kristiyanto
Pengarah Gambar : Sigit Prasetyo
Kameraman : Noves Hendiansa
Musik : ‘Amarta’ (Komposer: Ikbal S. Lubys)
Tim Artistik : Agus Margiyanto, Yunianto Nugroho, Deri Sukaik
Lokasi : Studio Naya Patma Runa
Musik Intro dan Outro oleh: Cahwatie Sugiarto

Retno Sulistyorini
Retno Sulistyorini mulai belajar menari sejak umur 15 tahun di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, dan melanjutkan ke Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sebagai seniman tari, Retno dianugerahi Empowering Women Artist olah Yayasan Kelola (2010-2011). Selain menciptakan karya sendiri, ia pun aktif berkolaborasi dengan berbagai koreografer, sutradara dan perupa.


