Loading Events

Sebuah seruan pembakar semangat berkata demikian: “Sekali layar terkembang, surut kita berpantang!” . Seruan tersebut melatari pembentukan Layar Terkembang, sebuah program yang lahir dari keterbatasan di masa pandemi global.

Pada 2020, IDF telah merencanakan pengadaan festival bienialnya. Namun, rencana tersebut mesti dimodifikasi akibat pandemi global. Menolak menyerah pada keadaan, IDF untuk pertama kalinya mengadakan festival daring dalam tema IDF.2020.zip – DAYA: CARI CARA. Program Layar Terkembang menjadi salah satu agenda utama, melibatkan 20 koreografer tari dari berbagai negara di dunia untuk menuangkan refleksi masa pandemi mereka dalam format film tari berdurasi singkat. Kreasi mereka kemudian menjadi medium untuk membuka dialog mengenai isu-isu lokal yang dibahas dalam setiap karya.

Layar Terkembang menjadi ekspresi solidaritas yang menularkan semangat melalui medium virtual. Eksperimen ini membuka mata tim festival bahwa rasa bisa dihantarkan lewat layar, menembus batasan waktu dan geografis. Layar dalam konteks ini juga melambangkan alat yang mengajak kita untuk menjelajahi berbagai kemungkinan baru dalam tari dan praktik sosio-kultural.

  • Vincent Mansoe

    Vincent Sekwati Koko Mantsoe’s recognition as a choreographer demonstrates that to be successfully integrated into the performance arena as a contemporary artist, one does not have to disavow one’s cultural heritage. Growing up in Diepkloof, one of the South Western Townships outside Johannesburg known as Soweto, Mantsoe’s innately musical understanding of movement and its transformational potential was founded in the early years. When still a boy he would assist in the dancing and drumming that his grandmother, his mother, and two of his aunts performed in their capacity as ‘Sangomas’, which is the Zulu term for traditional healers.

Go to Top