Sal Murgiyanto
Ko-kurator IDF 2022
Ko-kurator IDF 2022
Berkarya di bidang seni rupa, tari, dan budaya queer, seniman Taiwan yang berdomisili di Paris, River Lin, adalah kurator Taipei Arts Festival, ADAM, Camping Asia, dan Curatoké: Performance Curator Academy di Taipei Performing Arts Center. Ia juga salah satu kurator Indonesian Dance Festival, kurator tamu Biennale de la Danse de Lyon 2025, dan editor tamu untuk edisi khusus OnCurating.
Nia Agustina telah terlibat dalam pembinaan bakat-bakat tari muda Indonesia melalui praktik menulis, kurasi, dan dramaturgi sejak mendirikan platform Paradance pada tahun 2014. Sejak 2017, ia mengelola situs kritik dan ulasan tari dan seni pertunjukan gelaran.id bersama suaminya, Ahmad Jalidu. Nia juga aktif dalam diskusi dan studi seputar kesetaraan gender dan inklusivitas melalui aktivitasnya di beberapa institusi yang memengaruhi pendekatannya dalam seni pertunjukan.
Hantu koreografi di konteks pameran arsip ini tidak berhubungan dengan konsep astral sebagai ruang berbagai fenomena psikis dan paranormal berasal. Hantu koreografi di sini justru lekat dengan konsep sejarah materialisme sebagai ruang berbagai fenomena budaya dan praktik artistik tari dibentuk. Pameran arsip ini disusun untuk menandai dan mengenali hantu koreografi yang membayang-bayangi laku tari kita di masa lampau dan diwariskan kepada kita hari ini.
Arco Renz bekerja sebagai koreografer, sutradara, penari, dramaturg, kurator, pengajar. Sebagai direktur artistik kelompok tari Kobalt Works yang berbasis di Brussel, Arco Renz menciptakan karya koreografi yang berlimpah di Eropa dan Asia selama 25 tahun terakhir, dan secara paralel mengembangkan praktik dramaturgi untuk tari kontemporer dalam konteks lintas budaya. Karyanya berfokus pada pengembangan hubungan antara penelitian, pertukaran, dan pengetahuan melalui praktik pertunjukan.
Wisma Nugraha, Jl. Raden Saleh No. 6 10 1, Kenari, Kec. Senen,
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10430

Indonesian Dance Festival © 2022. All Right Reserved.