Setiap penyelenggaraan Indonesian Dance Festival, tim kurator akan memilih sejumlah karya dari koreografer atau kelompok tari dari dalam dan luar negeri, dengan pertimbangan yang ketat: apakah itu berdasarkan kebaharuan genre, penggarapan tema, penyampaian isu dan wacana, atau pertimbangan lain seperti kesetaraan geografis, usia, gender, maupun kelas sosial pengkarya. Dari tahun ke tahun penyelenggaraan Indonesian Dance Festival, karya-karya yang mengisi program ini kemudian menjadi salah satu titik tolak untuk melihat perkembangan tari kontemporer di Indonesia dan internasional.

Kampana

Kampana, dalam bahasa Sansekerta berarti “yang bergetar”, adalah laboratorium (wadah) IDF yang menawarkan waktu dan ruang berkualitas bagi seniman untuk mengembangkan penelitian artistik mereka. Para seniman dipilih untuk menjalani proses kreatif serta menjangkau berbagai praktik koreografi, gagasan, dan konteks sosial budaya.

Kampana berujung dalam bentuk presentasi perkembangan karya, atau pertunjukan pada pekan festival IDF. Dalam suasana yang akrab, Kampana mendukung para seniman dalam pengembangan ide dan proses penciptaan berdasarkan penelitian, dialog, wacana, eksperimentasi, dan pengetahuan yang dibagikan antar peserta dalam proses kolektif yang dipandu oleh kurator dan mentor.

Para peserta Kampana adalah mereka yang masih dalam tahap awal praktik tari kontemporer. Peserta dapat berasal dari berbagai latar belakang seni dan tidak ada batasan usia.

Lokakarya & Masterclass

IDF secara rutin mengundang praktisi tari untuk mengampu pelatihan yang relevan bagi penikmat dan pelaku tari. Program ini dirancang sebagai bentuk pertukaran dan distribusi praktik serta pengetahuan yang berkaitan dengan tari kontemporer. Kelas Workshop terbuka untuk pencinta dan praktisi tari, sedangkan Masterclass ditujukan bagi peserta dengan latar belakang koreografi atau olah tubuh.

3 November 2024 | 11:00 - 12:30

Didik Nini Thowok akan memberikan dasar-dasar gerak tubuh dalam tari truno, sejenis tari tayub Jawa Tengah yang diciptakan pada tahun 1983. Koreografi tari truno diciptakan oleh Didik Nini Thowok untuk sebuah film berjudul “Banteng Mataram: Ki Ageng Mangir” (1983).

3 November 2024 | 09:00 - 10:30

Dashing Theater akan menggunakan gaya tango Argentina sebagai fokus utama pertukaran pengetahuan. Dalam gaya tari ini, lazimnya penari perempuan harus memusatkan beban mereka pada penari laki-laki atau pasangannya, yang memimpin arah spasial tarian.

4 November 2024 | 11:30 - 13:00

Dalam kelas ini, koreografer dan penari Leu Wijee, akan berbagi penemuan/penelitian gerakan terbarunya yang ia sebut Powerstation/Arus. Peserta akan diajak memahami bagaimana Leu Wijee mengorganisir gerakan-kata-energi berkesinambungan, bekerja dengan skor, serta waktu-ruang dalam pikiran-tubuh.

4 November 2024 | 09:30 - 11:00

Lokakarya ini akan memperkenalkan pendekatan improvisasi Marrugeku untuk mewujudkan ekspresi sosial, budaya, pribadi, dan antarspesies demi mengembangkan gestur tari dan teater yang baru.

6 November 2024 | 10:30 - 13:00

Lokakarya ini berupa provokasi singkat oleh Fitri Setyaningsih lewat tema-tema sederhana, menghadirkan atau menghidupkan materi-materi sesuai sifatnya pada saat ini atau saat terjadi. Fitri mengajak peserta mendialogkan kegelisahan diri terhadap satu hal yang tak terbatas oleh tubuh, lalu memantik pendekatan mencipta secara lintas media atau disiplin.

6 November 2024 | 09:30 - 11:00

Diciptakan oleh Arco Renz, Spiral Gong adalah latihan gerak yang membangkitkan energi dan menghubungkan pikiran dan tubuh, memungkinkan keduanya beresonansi dan bergerak sebagai kesatuan.

5 November 2024 | 11:30 - 13:00

Di kelas ini, Olé akan membagi teknik, kosagerak, metode kerja, dan proses kreatif koreografer untuk mengeksplorasi penelitian artistik milik peserta sendiri. Olé akan mentransmisikan gerakan dari berbagai teknik yang menempa tariannya dan titik temu yang menonjolkan kosageraknya.

5 November 2024 | 09:30 - 11:00

Lokakarya ini mengajak peserta mempelajari satu prinsip penting menjadi seorang penari: mengenali tubuh sendiri. Penguasaan terhadap tubuh akan membuat anatomi koreografi lebih matang dan menjamin kesiapan tubuh menerima beragam gagasan, data, juga intensi dalam tahap penciptaan karya apapun selanjutnya.

Matatari

Melibatkan peserta koreografer dan pelaku tari lintas latar belakang, program ini ditujukan untuk merawat dialog dan pertukaran melalui kegiatan mengobservasi seluruh program festival termasuk pertunjukan, serta mengikuti rangkaian lokakarya dan diskusi. Program ini menjadi jembatan penghubung bagi pertukaran wawasan praktik tari dan pengalaman budaya, sehingga kita dapat saling menatap lebih jernih dan belajar dalam keberagaman Indonesia. Melalui Matatari, peserta dari berbagai wilayah dapat memetakan, membangun dialog, dan jejaring untuk menyuburkan ekosistem tari Indonesia yang sehat, kontekstual, inklusif, progresif, dan adil gender.