Loading Events

Tiga penari menunggangi gerakan berirama, mereka dalam keadaan yang sedang ditunggangi, oleh wewangian atau mantra, ingatan-ingatan bencana meliputi itu. “Museum II: Ridden” adalah sebuah pertunjukan yang berpusat pada eksplorasi tubuh yang bermutasi dan bersiap siaga.

Karya ini merupakan bagian dari rangkaian “The Museum” yang digarap Leu Wijee sejak tahun 2018, yang mana dia merefleksikan potensi hubungan antara bencana dan tari. Bersama Mio Ishida, “Museum II: Ridden” mengajak kita menengok pengalaman paling purba yang turut membentuk peradaban manusia: tubuh-tubuh pasca bencana.

Choreography and Scenography : Leu Wijee | Collaborator & Co-research: Mio Ishida | Dancer: Leu Wijee, Mio Ishida, Syanindita Prameswari | Lighting Designer: Mamedz Slasov | Artistic Crew: Unknown | Organized: WijeesWorks

  • Leu Wijee

    Seniman otodidak, penari, dan koreografer yang tinggal di Palu dan Jakarta. Ia mendeskripsikan pendekatan yang ia sebut “antara bencana dan tari” sebagai cara menciptakan ide. Riset dan praktik artistiknya bertumpu pada eksplorasi pada jejak personal dan kolektif. Bahasa geraknya cenderung minimalis dan tanpa henti. Ia menggunakan koreografi sebagai eksperimen untuk menghidupkan banyak hal (indera, ruang, suara, dan lainnya), serta melihat segala yang bergerak beresonansi dengan praktiknya.

  • Mio Ishida

    Aktor dan penari yang tinggal di Tokyo dan Chigasaki, Jepang. Lulus dari program teater dan tari di JF Oberlin University College dan mempelajari contemporary colloquial theater. Mio menciptakan karya-karya yang berfokus pada hubungan antara tubuh manusia dan benda-benda. Ia terpilih di Program for Future Dancers (2021-2022) oleh Tokyo Arts Festival, tampil di Indonesian Dance Festival (2022), ADAM (Kitchen, 2023) dan Taitung Fringe Festival (2023) di Taiwan.

Go to Top