
Foto: Batas Budi Kaki Langit Biru – Tom Ibnur. IDF 2012
Tom Ibnur: Sepanjang Hayat untuk Zapin
IDF 2024
Jika ada satu kisah tentang bagaimana sebuah tarian bisa turut terbentuk dan membentuk hidup seseorang, maka itu adalah kisah Tom Ibnur dengan tari zapin.
Arison Ibnur Ibrahim atau lebih dikenal sebagai Tom Ibnur adalah maestro tari zapin Indonesia. Tak sekedar berkarya sebagai koreografer, ia telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk melestarikan tari ini. Ada jejak Tom Ibnur pada pentas-pentas tari zapin yang kini tak hanya populer di sepanjang pesisir pulau Sumatra, tapi juga telah sampai ke seluruh Indonesia dan dunia. Dan kini, di usianya yang sudah mencapai 72 tahun, orang-orang menyebut ia “Raja Zapin Nusantara”.
Keterikatan Tom Ibnur dengan tari zapin telah dimulai sejak kecil. Lahir tahun 1952 di kota Padang, bisa dibayangkan, tarikan nafas pertamanya pun telah disusupi budaya Minangkabau dan Melayu yang kental. Tom Ibnur kecil kerap menyaksikan pentas-pentas tari zapin di acara-acara pernikahan yang dihelat oleh saudara dan tetangganya. Dalam tradisi Minangkabau, tari adalah bagian dari silat. Maka, meski tak didukung berlatih menari, Tom Ibnur kecil mendapat pengalaman olah tubuh pertamanya dari berlatih silat.
Namun dunia tari dan definisi umum soal “sukses” terlalu abstrak dan susah dibayangkan korelasinya. Maka Tom Ibnur, seperti pemuda Minangkabau lain di masa orde baru, memilih menjadi insinyur. Ia pun bekerja di perusahaan semen, berprestasi, hingga dikirim ke Sydney. Di sanalah cinta lama Tom terhadap tari bersemi kembali, di momen lalu lalang dan menyaksikan Sydney Opera House yang tak pernah sepi. Mengikuti hati dan gairah tubuhnya, pada 1979, ia membuat keputusan penting yang mengubah arah hidupnya dengan nekat mendaftar kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) –yang saat itu masih bernama Akademi Seni Tari-LPKJ. Sejak itu ia menaruh perhatian pada kesenian tradisi Minangkabau dan Melayu, khususnya tari zapin. Dalam benaknya, ia ingin membawa tari zapin ke dunia baru, dunia yang tak lagi dikungkung oleh pasal-pasal tari zapin tradisi yang telah ada sejak tarian ini dibawa oleh pedagang Arab dan Gujarat ke nusantara di abad 13 tersebut. Tom Ibnur ingin menantang keluwesan tari zapin, termasuk mengonsepnya ke dalam tarian kontemporer.

Foto: Batas Budi Kaki Langit Biru – Tom Ibnur. IDF 2012
Salah satu jasa penting Tom Ibnur adalah penelitian yang ia lakukan untuk melacak, mencatat, membandingkan, dan mengeksplorasi akar tari zapin di sekitar Riau, Jambi, Medan, Bengkulu, bahkan hingga ke Jakarta, Semarang, Tuban, Gresik, Sumenep, Jember, Singkawang, Sambas, dan kota-kota yang memiliki singgungan historis dengan Arab-Melayu. Penelusurannya terhadap tari zapin ini juga membawanya ke negara tetangga yang memiliki irisan sejarah, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Salah satu metode menarik yang ia lakukan untuk melacak akar tari zapin di nusantara adalah dengan terlibat di acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di berbagai tingkat daerah.
Di tangan Tom Ibnur, tradisi tari zapin lama yang terancam gerus zaman ia dobrak. Dengan pengembangan konsep dan referensinya, tari zapin menemukan kejayaan kembali di tangan Tom Ibnur.
Pada 1990-2000an, karya-karyanya semakin tajam. Basis tradisi yang semakin matang, dibarengi dengan data hasil riset mendalam, dan olah pikirnya menghasilkan karya-karya tari zapin yang sesuai dengan tuntutan “dunia baru”. Salah satu karya pentingnya Di Bawah Kubah Langit (1992) dipentaskan pada gelaran pertama Indonesian Dance Festival di Gedung Kesenian Jakarta. Hingga kini, Tom Ibnur telah menghasilkan lebih dari 300 karya yang dipentaskan di banyak negara. Dari semuanya, ada satu karya yang disebut-sebut menjadi magnum opus Tom Ibnur yaitu Zapineozapin (2001). Karya ini dinilai merangkum proses dan usaha pemberontakan Tom Ibnur terhadap tari zapin lama. Selain tuntutan teknik koreografi yang pasti dan tepat, Zapineozapin menumbuhkan ruang improvisasi. Referensi gerak, properti, dan musik diperluas, membuat zapin seolah keluar dari tema-tema keagamaan yang saklek menuju ruang universal. Karya ini membawa tari zapin ke level abstrak maupun imajinatif, membuatnya sah kontemporer.
Selain menciptakan karya, upaya membangun dunia baru untuk tari zapin diwujudkan Tom Ibnur dengan terlibat di penyelenggaraan Festival Zapin di beberapa daerah dan negara. Di festival-festival ini, ia berperan sebagai penggerak, konsultan artistik, hingga manajerial. Pada acara seperti Festival Zapin Nusantara di Johor Bahru Malaysia (1998), Bintan Zapin Festival di Tanjung Pinang (2000), dan Festival Kesenian Melayu Sedunia di Johor Bahru Malaysia (2001), jejak Tom Ibnur tertera.

Foto: Batas Budi Kaki Langit Biru – Tom Ibnur. IDF 2012
Setelah 15 tahun berkarir di Jakarta, Tom pulang merantau dan kembali ke Jambi mendirikan Langkan Budaya Taratak, sebuah lembaga yang fokus mengajarkan seni tari kepada anak-anak sebagai pelestari tradisi. Sebuah studio tari ia bangun di belakang rumahnya tahun 2006. Studio ini ramai oleh anak-anak yang belajar tari zapin saban minggu siang.
Segala usahanya untuk membangkitkan tari zapin ini membuat Tom Ibnur mendapat penghargaan Bakti Seumur Hidup dari Universitas Indonesia dan Sangrina Bunda, serta penghargaan Presiden Republik Indonesia tahun 2001 sebagai Tokoh Pelestari Seni Budaya Tradisi.
Sebelum kini pensiun, Tom Ibnur pernah menjadi pengajar di beberapa institusi, seperti Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Pascasarjana ISI Padangpanjang, Akademi Kesenian Melayu Riau di Pekanbaru, dan menjabat sebagai Direktur Produksi Taman Ismail Marzuki. Beliau dikenal sebagai seseorang yang mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, bisa menjadi kakak, orang tua, teman dan sosok yang memberi inspirasi kepada anak didiknya.
Penghargaan dari Indonesian Dance Festival 2024 ini adalah perayaan dan apresiasi untuk seniman yang telah melakukan tugas paling pentingnya: jatuh cinta. Tom Ibnur jatuh cinta pada tari zapin dan pada akhirnya membuat seluruh dunia ikut jatuh cinta terhadapnya.
