TELUSUR TARI-Wiwiek Sipala
Kipas dan sarung menjadi sebuah simbol yang kental dalam biografi penciptaan Wiwiek Sipala. Walau besar di Sulawesi Selatan, pertemuannya dengan tari tidak langsung dari lingkungan sekitar, tetapi setelah menonton tari di film India; Bharatanatyam dan Kathakali. Ia kemudian mengenal tari Pakarena dari Makassar sejak SD, dari sana ia mulai membuat koreografi di usia yang sangat dini. Ia kemudian berkesempatan menari di Istana Negara dan Taman Ismail Marzuki. Wiwiek memberanikan diri menyuguhkan tari Pakarena yang belum populer di Jakarta pada tahun 1970-an. Karya kontemporer yang kemudian ia kembangkan hampir selalu berangkat pada Pakarena dan ia menyadari betul akar tradisi di penciptaan gerak barunya, bahkan ketika ia berkarya di luar Sulawesi Selatan. Wiwiek juga tidak berhenti menginovasi tari dan tidak ingin berdiam pada tradisi yang ajeg, walau mempertahankan beberapa bentuk pakem yang pernah ia ketahui. Tak hanya tari, ia juga memperhatikan keselarasan musik yan, bagi Wiwiek, tidak hanya menjadi pengiring tetapi juga menjadi satu dengan karyanya. Ia percaya bagaimana gerakan minimalis dapat memberikan efek yang maksimal pada pertunjukan.
TELUSUR TARI-Wiwiek Sipala
Kipas dan sarung menjadi sebuah simbol yang kental dalam biografi penciptaan Wiwiek Sipala. Walau besar di Sulawesi Selatan, pertemuannya dengan tari tidak langsung dari lingkungan sekitar, tetapi setelah menonton tari di film India; Bharatanatyam dan Kathakali. Ia kemudian mengenal tari Pakarena dari Makassar sejak SD, dari sana ia mulai membuat koreografi di usia yang sangat dini. Ia kemudian berkesempatan menari di Istana Negara dan Taman Ismail Marzuki. Wiwiek memberanikan diri menyuguhkan tari Pakarena yang belum populer di Jakarta pada tahun 1970-an. Karya kontemporer yang kemudian ia kembangkan hampir selalu berangkat pada Pakarena dan ia menyadari betul akar tradisi di penciptaan gerak barunya, bahkan ketika ia berkarya di luar Sulawesi Selatan. Wiwiek juga tidak berhenti menginovasi tari dan tidak ingin berdiam pada tradisi yang ajeg, walau mempertahankan beberapa bentuk pakem yang pernah ia ketahui. Tak hanya tari, ia juga memperhatikan keselarasan musik yan, bagi Wiwiek, tidak hanya menjadi pengiring tetapi juga menjadi satu dengan karyanya. Ia percaya bagaimana gerakan minimalis dapat memberikan efek yang maksimal pada pertunjukan.
TELUSUR TARI-Wiwiek Sipala
Kipas dan sarung menjadi sebuah simbol yang kental dalam biografi penciptaan Wiwiek Sipala. Walau besar di Sulawesi Selatan, pertemuannya dengan tari tidak langsung dari lingkungan sekitar, tetapi setelah menonton tari di film India; Bharatanatyam dan Kathakali. Ia kemudian mengenal tari Pakarena dari Makassar sejak SD, dari sana ia mulai membuat koreografi di usia yang sangat dini. Ia kemudian berkesempatan menari di Istana Negara dan Taman Ismail Marzuki. Wiwiek memberanikan diri menyuguhkan tari Pakarena yang belum populer di Jakarta pada tahun 1970-an. Karya kontemporer yang kemudian ia kembangkan hampir selalu berangkat pada Pakarena dan ia menyadari betul akar tradisi di penciptaan gerak barunya, bahkan ketika ia berkarya di luar Sulawesi Selatan. Wiwiek juga tidak berhenti menginovasi tari dan tidak ingin berdiam pada tradisi yang ajeg, walau mempertahankan beberapa bentuk pakem yang pernah ia ketahui. Tak hanya tari, ia juga memperhatikan keselarasan musik yan, bagi Wiwiek, tidak hanya menjadi pengiring tetapi juga menjadi satu dengan karyanya. Ia percaya bagaimana gerakan minimalis dapat memberikan efek yang maksimal pada pertunjukan.






