Lima koreografer muda menampilkan karya, praktisi tari saling bertukar wawasan, sedangkan manajer seni pertunjukan berkolaborasi dengan hangat dalam Lawatari: Yogyakarta.

"Ganda" karya Valentina Ambarwati.
“Yang sulit bukan menemukan koreografer muda untuk menampilkan karya. Sebaliknya, menjatuhkan pilihan dari banyaknya bakat dan karya yang ada di Yogyakarta,” kata Nia Agustina, kolaborator IDF dalam produksi dan artistik Lawatari: Yogyakarta dan pendiri Paradance. Sebagai praktisi tari yang membantu tumbuh kembang koreografer muda, Nia memiliki banyak pertimbangan saat memilih karya yang akan ditampilkan di Lawatari, gelaran yang menghubungkan IDF dengan kantong-kantong seni pertunjukan di beberapa kota di Indonesia.
Nia Agustina dan Mila Rosinta Totoatmojo, koreografer dan penggagas MAD Laboratory, bersepakat dengan IDF untuk menampilkan beberapa koreografer yang telah berproses dalam program laboratorium karya. Megatruh Banyu Mili dan Ni Putu Arista Dewi telah bekerja bersama Paradance, sedangkan Sri Cicik Handayani dan Valentina Ambarwati menggodok karyanya bersama Mila. Seniman kelima adalah Siti Alisa, alumni Kampana yang merupakan program laboratorium karya bentukan IDF.
Dari perspektif manajemen seni, Lawatari juga merupakan laboratorium kerja bersama, yang digagas untuk bertukar wawasan mengenai praktik-praktik produserial yang unik di tiap kota yang disambangi. Tim IDF yang mayoritas berdomisili di Jakarta berkoordinasi daring dengan tim kolaborator di Makassar, Padang Panjang, dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, IDF bertemu tim kerja yang didominasi perempuan, senada dengan kondisi IDF. Bersama Mila dan Nia, tim IDF bergerilya merancang program, mengatur anggaran, mencari solusi teknis untuk mengakomodasi kebutuhan tiap presentasi karya, bersinergi untuk publikasi acara, hingga mengurus kebutuhan balik panggung yang dinamis. Sebelum memulai akhir pekan Lawatari: Yogyakarta, anggota kedua tim menyatukan tangan dan hati dalam doa untuk kelancaran seluruh rangkaian acara.

Jumat (19 Januari 2024) dibuka dengan Bincang Tari mengenai strategi berkesenian yang berkelanjutan di Eighteen Coffee, JNM Bloc. Siti Alisa (koreografer), Mila Rosinta, dan Scholastica W. Pribadi (Loka Art Studio) berdiskusi bersama Nia Agustina mengenai hal-hal yang mereka lakukan untuk mengembangkan karier kesenian di tengah tantangan finansial, sosial, juga personal.
“Apakah ketika sebuah karya dibuat untuk peye (proyek komersial), nilainya menjadi lebih rendah daripada karya yang dikatakan lahir dari “idealisme”? Pertanyaan ini dilontarkan Linda Mayasari, kurator IDF, pada audiens dan sukses membuat semua terdiam sejenak. Wawasan dan kiat yang dibagi dalam diskusi memantik sesi tanya jawab yang seru dengan audiens yang hadir, kebanyakan praktisi dan sebagian pelajar seni pertunjukan.
Pengaturan ruangan untuk diskusi segera bersalin rupa untuk menyambut kawan-kawan media Yogyakarta dan sekitarnya. Diawali makan makan, acara temu media dan komunitas berjalan hangat. Sekitar 20 jurnalis dan pegiat komunitas yang hadir mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan tim Lawatari: Yogyakarta juga kelima seniman yang akan menampilkan karya mereka dalam dua hari ke depan.
Akhir pekan dibuka di Studio Banjarmili, sasana seni pertunjukan yang didirikan almarhum Martinus Miroto, salah satu maestro tari Indonesia. Salah satu warisan Pak Miroto adalah Miroto Dance Company, dan Lawatari menjadi momen yang pas untuk berbagi wawasan beliau dengan praktisi tari muda melalui masterclass yang diampu dua murid beliau: Agung Gunawan dan Anter Asmorotedjo. Program ini disambut hangat. Slot pendaftaran yang ditawarkan melalui panggilan terbuka segera terisi penuh. “Program ini penting karena sejalan dengan cita-cita Pak Miroto semasa hidup, yaitu transfer ilmu dari satu generasi praktisi tari ke generasi lainnya,” kata Nia.

"Budi Bermain Boal" karya Megatruh Banyu Mili.
Pertunjukan malam di hari pertama Lawatari (Sabtu, 20 Januari) menampilkan karya Atandang oleh Sri Cicik Handayani, Budi Bermain Boal oleh Megatruh Banyu Mili, dan Ganda oleh Valentina Ambarwati. Melalui Atandang, Cicik mengajak audiens mengenal tradisi tayub dari Madura, tanah kelahirannya. Ia menyoroti relasi antar gender dalam tradisi tersebut. Sedangkan Budi Bermain Boal adalah kritik soal keseragaman perilaku yang diterapkan di sekolah dalam masa Orde Baru. Nama “Budi” adalah nama standar yang dipakai di buku pelajaran membaca, sedangkan “Boal” bermakna ganda - merujuk pada bola dan Augusto Boal, seorang tokoh teater asal Brazil yang dikenal dengan gerakan Theater of the Oppressed. Sedangkan Valentina terinspirasi oleh sosok-sosok perempuan yang membawa barang di kepala mereka di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Ia mencoba memvisualisasikan berbagai peran mereka dalam kehidupan sehari-hari. Di akhir pertunjukan, audiens dapat berbincang dengan ketiga seniman yang menampilkan karya.
Waktu bincang ini mencairkan pembatas antara pegiat dan penonton tari, yang sebelumnya dihangatkan melalui aksi flashmob di antara pertunjukan karya. Tokoh tari Didik Nini Thowok yang hadir di tengah audiens juga turut serta dalam momen kebersamaan ini.

Lawatari: Yogyakarta terwujud atas kerja tim yang solid. Di sinilah manajemen seni pertunjukan memegang peranan penting, terutama dalam kolaborasi lintas organisasi dan provinsi. “Di awal karier tari, saya mengerjakan berbagai hal sendiri - dari membuat konten, mencari sponsor, hingga tampil di panggung. Saya menanamkan nilai yang sama untuk anggota tim di Mila Art Dance School dan MAD Laboratory,” kata Mila.
Untuk bertukar wawasan, kurator IDF Linda Mayasari dan manajer festival Renata Rosari berbagi wawasan dan pengalaman mengenai sesi tata kelola melalui program Lokakarya “Seni Tata Kelola: Merakit Ruang untuk Tumbuh Bersama”. Pendaftaran dibuka secara publik melalui form daring. Peserta yang mendaftar memiliki ketertarikan, atau sudah bekerja di bidang manajerial seni pertunjukan. Mereka hadir untuk menambah ilmu dari lapangan.
Agenda terakhir pada Minggu (21 Januari) adalah pertunjukan dua karya tari oleh Putu Arista Dewi dan Siti Alisa. Arista dengan karyanya yang berjudul Suun, terinspirasi dari laku perempuan Bali saat menyunggi barang-barang di kepala. Karya ini mempertanyakan peran perempuan Bali dalam masyarakat. Alisa menyoroti realita perempuan dalam siklus-siklus fisik dan mental yang mereka alami.
Akhir dari Lawatari: Yogyakarta adalah akhir dari tiga edisi Lawatari yang menjadi bagian dalam Road to IDF 2024, menjelang festival dua tahunan yang akan diadakan pada November 2024. Setelah tirai panggung ditutup, yang tersisa adalah refleksi pertunjukan yang baru saja disaksikan. Bagi mereka yang terlibat di balik layar, momen seperti Lawatari adalah buah dari kolaborasi antar tim yang luar biasa!
Semua foto dalam artikel ini adalah dokumentasi Lawatari Yogyakarta
