Rayakan Tari Kontemporer, Rancak Bana Padang Panjang!

13 Maret 2024

Oleh: Titah AW
Editing oleh Nina Hidayat

Diadakan selama dua hari, gelaran Lawatari yang digagas IDF bersama Ruang Tumbuh Institute merajut kembali jejaring tari di Padang Panjang.

Hujan gerimis mengguyur langit malam di atas kawasan kampus ISI Padangpanjang, 6 Desember 2023 lalu. Puluhan orang yang terdiri dari mahasiswa dan warlok nampak sedikit basah sembari bergegas menuju gedung pertunjukan Hoerijah Adam. Beberapa memasang wajah terkesima melihat banyak bambu disusun melintangi panggung hingga ke tengah area kursi penonton. Malam itu, hampir separuh kursi di gedung berkapasitas 300 orang itu penuh.

Set bambu tersebut merupakan bagian dari pertunjukan “Tanangan” karya Kurniadi Ilham yang membuka malam pertama gelaran Lawatari: Padang Panjang di ISI Padangpanjang, Sumatera Barat.

Lawatari Padang Panjang yang diselenggarakan pada 6-7 Desember 2023 ini merupakan program kedua dalam rangkaian Lawatari menuju Indonesian Dance Festival yang akan digelar pada akhir 2024. Sebelumnya, IDF telah melawat ke Makassar dan menggelar pertunjukan khas-tapak berjudul “Songkabala Lae-Lae” bersama kolektif Gymnastik Emporium dalam kolaborasi dengan Makassar Biennale.

Tanangan - Kurniadi Ilham membuka Lawatari: Padang Panjang. Foto oleh Jhoghy Nabhasa Siahaan - Prodi Tari ISI Padangpanjang

Terinspirasi dari pengalaman empiris di kampung halamannya Paninggahan di tepi Danau Singkarak, Sumatera Barat, karya Tanangan yang dipentaskan di Lawatari ini menjadi seperti homecoming performance bagi Kurniadi Ilham. Dalam karya ini ia mengeksplorasi hasil risetnya soal silat dan pengalaman pribadi ketika berkegiatan di pematang sawah -  keduanya mengandung prinsip pengendalian diri dan tubuh. Prinsip ini ia lihat sebagai cerminan falsafah kehidupan orang Minang.

“Saya sebenarnya sangat excited! Ini pertama kali menampilkan Tanangan di Padang Panjang, terakhir tampil di sini tahun 2015 lalu dan itupun tugas akhir kuliah,” ia tertawa lalu melanjutkan, “Setelah merantau (menari di luar daerah), bahagia sekali bisa kembali ke kampung halaman,” begitu kata Uda Ilham.

SILO - Hari Ghulur, dipentaskan di Lawatari: Padang Panjang. Foto oleh M. Ihsandro Giffary, Prodi Tari ISI Padangpanjang

Selama dua hari berjalan, Lawatari tak hanya menghadirkan pertunjukan tari kontemporer, namun juga beberapa program lain seperti lokakarya, masterclass, dan gelar arsip.

Di pagi pertama, Hari Ghulur mengampu masterclass “Organic Movement” yang menggali keterbatasan dan keunikan yang dimiliki setiap tubuh peserta. Konsep limitation ini juga yang ia eksplorasi dalam karyanya SILO. Hujan sempat membuat kelas molor, namun peserta yang datang intens mengikuti sesi. Sementara Kurniadi Ilham yang mengampu masterclass di hari kedua mengeksplorasi metode pengendalian diri dan emosi yang merupakan bagian dari metode silat dalam kelas bertajuk “Focus and Control”.

Penyelenggaraan Lawatari di Padang Panjang oleh IDF memang baru pertama kali, namun pertalian sejarah Indonesian Dance Festival dengan ekosistem tari Sumatera Barat telah berlangsung lama. Bahkan sejak edisi perdana IDF pada 1992, koreografer-koreografer Minang sudah turut terlibat. Karya-karya mereka tak hanya mengandung kekayaan artistik, namun juga perspektif kritis soal refleksi diri, tradisi, hingga respons terhadap situasi sosial-politik.

SILO - Hari Ghulur, dipentaskan di Lawatari: Padang Panjang. Foto oleh Salsabilla Yunanda Sekar Sari, Prodi Tari ISI Padangpanjang

Jaringan ini yang coba dirawat IDF, salah satunya lewat program Lokakarya Seni Tata Kelola yang juga selama Lawatari Padang Panjang. Diisi oleh Linda Mayasari (kurator IDF 2022) dan Renata Rosari, lokakarya ini fokus membagi gagasan dan pengalaman, serta memantik ekosistem tari kontemporer yang subur di Padang dan Sumatera Barat.

“Di lokakarya ini kami juga memantik peserta untuk membangun jejaring. Sebab selama ini, jejaring sosial itu jadi salah satu modal utama menumbuhkan ekosistem. Modal itu nggak melulu kapital (uang), dan pemahaman ini sangat penting,” cerita Renata. Selain mahasiswa ISI, peserta lokakarya juga salah satunya berasal dari komunitas lintas disiplin Gubuak Kopi di Padang.

“Materi dan konten Lawatari itu banyak yang tidak akan ditemukan mahasiswa ISI Padangpanjang di ruang kelas, saya yakin itu,” tambah Kurniadi Ilham. Ia juga sempat menyayangkan ekosistem tari kontemporer di Padang yang menurutnya sempat mengalami kemunduran, “Dulu koreografer kontemporer Sumatera Barat produktif sekali, paling tidak selama saya kuliah banyak dosen aktif berkarya dan banyak acara. Tapi sempat juga tari kontemporer cuma dikembangkan untuk event-event tertentu. Untungnya 2-3 tahun terakhir saya amati mulai muncul lagi. Salah satunya Festival Mentari yang digagas Uni Tati,”

Pernyataan Uda Ilham terbukti, salah satunya ketika melihat gelar arsip Vasana Tari IDF yang bertajuk “Melipat Jarak, Merajut Keterhubungan”. Pada pameran ini, ditampilkan arsip-arsip yang menandai semaraknya geliat tari kontemporer Sumatera Barat sejak tahun 90-an hingga kini. Beberapa koreografer pernah tampil di berbagai festival, termasuk Indonesian Dance Festival hingga American Dance Festival. Pameran ini juga jadi bukti nyata jejak jalinan hubungan panjang antara IDF dan perkembangan seni tari Sumatera Barat.

Pertunjukan karya Hari Ghulur, “SILO”, berlangsung khidmat meski sempat mengalami kendala cuaca. Karya “SILO” sendiri perdana ditampilkan di malam pembukaan IDF 2022.

"SILO” berangkat latar budaya Hari Ghulur berupa tradisi tahlilan dalam islam. Ia mengobservasi bagaimana intensitas gerak torso tubuh menjadi pusat motorik. Prinsip keterbatasan gerak tubuh yang dieksplorasi Hari di karya ini juga beririsan dengan laku spiritual yang lebih universal. Dengan tradisi islam yang kuat di Sumatera Barat, karya ini seperti menemukan rumah baru.

Tanangan - Kurniadi Ilham membuka Lawatari: Padang Panjang. Foto oleh Muhammad Zabirullah - Prodi Tari ISI Padangpanjang

Jika “Tanangan” karya Kurniadi Ilham berlangsung dalam ritme pelan dan suasana kalem, sebaliknya, SILO yang ditampilkan Hari Ghulur membawa semangat rancak dan bertenaga. Penonton yang hadir berturut-turut pasti dapat mengalami bagaimana dua karya yang sama-sama berangkat dari tradisi dan pengalaman empiris senimannya ini bisa terwujud menjadi dua karya dengan suasana yang kontras, namun sama-sama patut dirayakan.