Focus and Control – Kurniadi Ilham
Di dalam masterclass ini Ilham ingin berbagi tentang metode yang didapatkan ketika belajar silat yaitu tentang fokus dan pengendalian emosi.
Di dalam masterclass ini Ilham ingin berbagi tentang metode yang didapatkan ketika belajar silat yaitu tentang fokus dan pengendalian emosi.
Hari melihat “SILO” sebagai ruang eksplorasi tubuh organik dengan konstruksi batas ruang budaya tubuh. “SILO” sebagai sebuah koreografi dan laku ritual, merupakan ikhtiar mencapai puncak emosi dan spiritual yang dilakukan justru dengan posisi tubuh yang terbatas dan menempel pada tanah atau membumi.
Cindek dalam istilah tari Sunda dipahami sebagai sebuah jeda, titik, atau fase berhenti. Cindek biasanya muncul dalam setiap satu frase gerak, sebagai penanda satu rangkaian motif selesai. Ketika penari Sunda melakukan cindek, ia mendapatkan kesempatan untuk menarik dan membuang napas. Tubuh bagian dalam penari seperti tengah mengelola energi. Melihat penari melakukan cindek seperti melihat karakter dirinya.
Waktu bak selembar kertas yang dilipat menjadi perahu. Natkala, sekejap tubuh dibawa berlayar mengarungi samudra ingatan. Natkala berlabuh di dermaga kenangan, tubuh kembali berjumpa dengan aroma cat Wayang Purwa, liat tanah sawah yang basah, rantang makan siang, dingin karat jeruji besi, karung-karung beras, rancak suara gamelan.
Melihat konteks diri menjadi penting untuk menemukan strategi dalam berkarya di dunia tari dengan pilihan yang beragam. Tiga praktisi yang akan menjadi pemantik diskusi dalam talk session kali ini berada dalam tiga konteks yang berbeda, bisa jadi saling beririsan, namun kemudian mereka berproses menemukan strategi terbaik ketika berhadapan dengan tantangan yang beragam.
Lokakarya ini menawarkan wawasan desain dan tata kelola pelantar seni tari -baik secara praktikal dan konseptual- yang dikembangkan IDF selama 31 tahun sebagai titik tolaknya.
Atandâng merupakan pertunjukan tari yang bertolak dari penjelajahan Sri Cicik Handayani atas relasi penayub dengan perempuan tandâ. Penayub ialah penari laki-laki dan tandâ ialah penari perempuan dalam kesenian tayub Madura.
Karya ini memantulkan berbagai pengalaman yang dialami oleh Megatruh dan siswa Sekolah Dasar di era 1980-2000an di berbagai wilayah Indonesia. Nama “Budi” amat melekat dalam ingatan para siswa di era tersebut karena tercantum dalam buku peraga pelajaran Bahasa Indonesia “Ini Budi” yang didistribusikan dan digunakan di sekolah-sekolah di pelosok negeri, sehingga nama tersebut menjadi istilah yang diciptakan dan diseragamkan untuk menggambarkan sosok siswa yang ‘baik’ di mata guru.
Ganda adalah sebuah karya tari yang menggambarkan perjalanan emosional dan fisik perempuan buruh gendong yang bekerja di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Tarian ini mengisahkan peran ganda mereka dalam sebuah koreografi yang memukau, menciptakan harmoni antara gerakan yang anggun dan beban fisik yang mereka pikul setiap hari.
Melihat sekilas sejarah panjang perjalanan Miroto di dunia tari, tentu kita dapat membayangkan bahwa ini tidak terlepas dari dua hal, disiplin latihan dan proses berpikir. Maka untuk memahami bagaimana proses berpikir Miroto kita perlu merasakan disiplin latihan beliau, begitupun sebaliknya, memahami pemikiran Miroto akan membuat kita terhubung lebih mudah dengan disiplin latihan beliau.
Suun berangkat dari temuan-temuan yang didapat saat mengamati kegiatan suun sebagai laku tubuh sehari-hari. Suun adalah cara membawa barang dengan meletakkannya di atas kepala. Saat melakukan suun, terdapat koneksi antara tubuh, benda dan ruang - bagaimana benda yang ditaruh di atas kepala mempengaruhi ruang gerak tubuh.
Karya ini berbicara tentang siklus perempuan, tentang fase-fase hidup yang harus dilalui pada era kontemporer dalam bayang-bayang nilai moral yang diwariskan secara turun-temurun.
Wisma Nugraha, Jl. Raden Saleh No. 6 10 1, Kenari, Kec. Senen,
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10430

Indonesian Dance Festival © 2022. All Right Reserved.