Karya “SILO” mengeksplorasi tradisi tahlil dalam Islam, yang dalam konteks ini dibaca sebagai pusat motorik gerak torso. Sebuah metode dialog vertikal antara Hari Ghulur dengan Yang Maha melalui gerakan berulang (repetitif) dan personal. Karya ini merupakan perkembangan karya “SILA” yang diciptakan saat ia mengikuti residensi di American Dance Festival tahun 2018. Hari melihat “SILO” sebagai ruang eksplorasi tubuh organik dengan konstruksi batas ruang budaya tubuh. “SILO” sebagai sebuah koreografi dan laku ritual, merupakan ikhtiar mencapai puncak emosi dan spiritual yang dilakukan justru dengan posisi tubuh yang terbatas dan menempel pada tanah atau membumi.
Bincang karya setelah pertunjukan berlangsung akan membedah proses perkembangan dua karya yang disajikan di Lawatari Padangpanjang. “SILO” karya Hari Ghulur dan “Tanangan” karya Kurniadi Ilham yang dihadirkan di Lawatari Padang Panjang merupakan karya-karya yang dikembangkan melalui beberapa proses transformasi bentuk artistik dan pemanggungan. Kedua karya ini sangat lekat dengan latar budaya dari seniman penciptanya. Hari Ghulur memberangkatkan eksplorasi “SILO” dari tradisi tahlil dalam Islam dan intensitas gerak torso sebagai pusat motorik. Selain menelusuri proses transformasi pengembangan karya ini, Hari akan berbagi tentang bagaimana ia menggali inspirasi dari ritus sehari-hari yang ia alami di ruang hidupnya dan bagaimana gerak tubuh di dalam keseharian ia olah sebagai moda kinestetik karya koreografi.
Pembicara: Hari Ghulur
Penanggap: Ali Sukri
Moderator: Ahmad Oscar Ridho
Seniman/Koreografer: Hari Ghulur | Dramaturgi: Arco Renz | Komponis: Rosemainy Buang | Penata Lampu: Riski Ade Pradista | Produser & Manajer: Sekar Alit | Perancang Busana: Retno Damayanti | Penari: Hari Ghulur, Patry Eka, Puri Senja, Errina Aprilyani, Angga I Tirta, Aditya Putra, Sefira Sukmaningtyas.

Hari Ghulur
Moh. Hariyanto (lahir 1986), juga dikenal sebagai Hari Ghulur, adalah koreografer dan penari yang saat ini tinggal di Surabaya. Karyanya “Ghulur”, “Ghabal”, “White Stone”, “Sila”, dan “Jap_Vanese” telah ditampilkan di T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Art Festival, Universitas Malaya, American Dance Festival, dan Indonesian Dance Festival.
Lawatari
Lawatari dibentuk dari gabungan dua kata – lawat dan tari. Gabungan ini mewakili gagasan Indonesian Dance Festival (IDF) untuk terhubung dengan pegiat seni pertunjukan di luar Jakarta melalui pementasan karya. Diadakan dalam kolaborasi dengan mitra lokal, program ini membawa semangat berkunjung dan mengenal konteks di area-area yang disambangi. Lawatari diadakan di Makassar, Padang Panjang, dan Yogyakarta sebagai bagian dari seri program Road to IDF 2024.


