Loading Events

Diterjemahkan menjadi “ditunggangi” dalam bahasa Indonesia dan ‘憑依 /Hyoui’ dalam bahasa Jepang, “Ridden” diasosiasikan dengan roh atau hantu–kehadiran tak kasat mata yang dirasakan. Seperti seseorang yang ditunggangi energi asing setelah pergi ke wilayah tak dikenal. Dalam Ridden (2024), Leu Wijee merefleksikan proyek penelitian jangka panjangnya sejak tahun 2018 tentang manusia dengan lingkungan dalam kaitannya dengan pasca bencana alam. Menggunakan jejak personal dan kolektif sebagai titik tolak, Ridden merupakan pertunjukan indrawi yang menampilkan dan membicarakan “kondisi” antara kehancuran dan pembaharuan; kekangan dan kemampuan; ketahanan dan pemulihan; pemberontakan dan bisikan; kesiapan dan paksaan; pembersihan dan pemendaman; serta kesiapan dan harapan; atau secara sederhana apa yang Leu sebut “antara bencana dan tari”.

Credits:
Concept, Choreography, Scenography: Leu Wijee
Co-research and collaborator: Mio Ishida
Performers: Bade Kurniawan, Dani Budiman, Leu Wijee, Mio Ishida, Rheza Oktavia
Producer: wijeesworks
Co-produced: Indonesian Dance Festival and Japan Foundation Jakarta
Organized by: Indonesian Dance Festival and wijeesworks
Super Supporters: Jakarta Arts Council, Jakpro, Jakarta International Contemporary Dance Festival, Japan Foundation Jakarta, Kobalt Works and Toko Seniman

*The development of artistic research for this performance has been supported by Jakarta Arts Council, Jakpro, Jakarta International Contemporary Dance Festival, Japan Foundation Jakarta, Kobalt Works, Toko Seniman and Indonesian Dance Festival as part of evening performance of Indonesian Dance Festival (2024), Toko Seniman as part of Dalam Seniman artist in residence (2024), the Taipei Performing Arts Center as part of the ADAM – Asia Discovers Asia Meeting for Contemporary Performance / Kitchen in (2023), Taitung County Government as part of the Taitung Fringe Festival (2023), Ministry of Education, Culture, Research and Technology of Indonesia as part of Ngetest (2023), Indonesian Dance Festival in collaboration with Japan Foundation Jakarta as part of the Kampana of Indonesian Dance Festival (2022), Asia Performing Arts Farm as part of workshop Farm-Lab Exhibition Tokyo 2021, Salihara Arts Center as part of Helatari (2021), and Jakarta Arts Council as part of Upcoming Choreographer VS Koreografi Tari (2020).

Acknowledgement: Alice Hui-Sheng Chang, Baden Hitchcock, Chun Lao and Family, Dennis Lin, Dino Kaleb, Helly Minarti, Iksam Djorimi, Jecko Siompo, Joned Suryatmoko, Josh Marcy, Kevin Julianto, Kifkifu, Osamu Shikichi, Pasifik, Sikola Mombine, Syanindita Prameswari, Viktor Schramek and WeiLing Hung.

  • Leu Wijee

    Seniman otodidak, penari, dan koreografer yang tinggal di Palu dan Jakarta. Ia mendeskripsikan pendekatan yang ia sebut “antara bencana dan tari” sebagai cara menciptakan ide. Riset dan praktik artistiknya bertumpu pada eksplorasi pada jejak personal dan kolektif. Bahasa geraknya cenderung minimalis dan tanpa henti. Ia menggunakan koreografi sebagai eksperimen untuk menghidupkan banyak hal (indera, ruang, suara, dan lainnya), serta melihat segala yang bergerak beresonansi dengan praktiknya.

  • Mio Ishida

    Aktor dan penari yang tinggal di Tokyo dan Chigasaki, Jepang. Lulus dari program teater dan tari di JF Oberlin University College dan mempelajari contemporary colloquial theater. Mio menciptakan karya-karya yang berfokus pada hubungan antara tubuh manusia dan benda-benda. Ia terpilih di Program for Future Dancers (2021-2022) oleh Tokyo Arts Festival, tampil di Indonesian Dance Festival (2022), ADAM (Kitchen, 2023) dan Taitung Fringe Festival (2023) di Taiwan.

Go to Top