Waktu bak selembar kertas yang dilipat menjadi perahu. Natkala, sekejap tubuh dibawa berlayar mengarungi samudra ingatan. Natkala berlabuh di dermaga kenangan, tubuh kembali berjumpa dengan aroma cat Wayang Purwa, liat tanah sawah yang basah, rantang makan siang, dingin karat jeruji besi, karung-karung beras, rancak suara gamelan. Di dermaga-dermaga kenangan itu pula tubuh kembali berjumpa dengan diri yang lampau, orang lain yang lampau beserta dengan peristiwa-peristiwanya yang juga lampau. Entah bagaimana semua itu bisa terjangkar di waktu-waktu setelahnya tak sekadar sebagai ingatan, tetapi mewujud menjadi kejadian yang berulang meskipun lakonnya berbeda.
This event has passed.


