Tata Kelola Produksi merupakan divisi kerja yang berperan sebagai salah satu motor penggerak dinamika perkembangan seni pertunjukan. Praktik produser di Indonesia sangat beragam terbentang dari praktik produser festival, produser institusi/ organisasi seni, produser independen, produser ruang alternatif, dan sebagainya. Mayoritas produser muda Indonesia menempa kemampuan tata kelola di lapangan karena pendidikan formal tata kelola seni di beberapa institusi pendidikan tinggi Indonesia baru dibuka beberapa tahun terakhir. Nyaris tidak ada ruang dan wadah yang memfasilitasi pengembangan kemampuan tata kelola, dan dialog pertukaran pengalaman praktik bagi produser-produser muda Indonesia.
Program Diskusi Keproduksian dirancang sebagai ruang pertukaran dan berbagi pengalaman, pengetahuan, metode dan praktik produksi yang difasilitasi oleh IDF bersama mitra produser lokal, Makassar Biennale, dengan personil Gymnastik Emporium, yang telah melalui kolaborasi intim dengan warga lokal di Lae-Lae. Selain itu, diskusi ini bertujuan untuk membentuk jaringan kerja produser seni pertunjukan lintas wilayah yang akan dapat membangun strategi kebertahanan dan keberlanjutan yang kontekstual bagi praktik dan wilayah geokultural masing-masing.
Lawatari
Lawatari dibentuk dari gabungan dua kata – lawat dan tari. Gabungan ini mewakili gagasan Indonesian Dance Festival (IDF) untuk terhubung dengan pegiat seni pertunjukan di luar Jakarta melalui pementasan karya. Diadakan dalam kolaborasi dengan mitra lokal, program ini membawa semangat berkunjung dan mengenal konteks di area-area yang disambangi. Lawatari diadakan di Makassar, Padang Panjang, dan Yogyakarta sebagai bagian dari seri program Road to IDF 2024.




