Tahun 2020 ini, tari kontemporer di Indonesia dan seluruh dunia tidak berhelat seperti biasanya. Kita tengah menghadapi krisis. Sepertinya kita tahu apa sebabnya. Atau benarkah kita sungguh mengerti?

Suka atau tidak, keberadaan kita sebagai manusia terwujud melalui tubuh kita. Cara bertahan hidup yang dipraktikkan oleh hampir semua populasi dunia akibat COVID-19 mengingatkan kita pada fakta ini. Pencipta tari kontemporer bergiat di atas tanah subur dari realitas fisik ini; tetapi karya mereka melampaui penggunaan tubuh anatomis untuk mengintegrasikan banyak tubuh, material maupun non-material: tubuh sebagai wadah keberadaan, manifestasi dari “Daya”, tubuh yang dibayangkan, tubuh yang diatur oleh berbagai jenis kuasa, tubuh yang energik, tubuh emosional, atau tubuh yang dicurigai terinfeksi hanyalah beberapa di antaranya. 

Kita terlibat dalam koreografi masif, diatur oleh kebijakan, norma, nilai, dan wacana. Namun, tubuh juga memiliki kekuatan untuk bernegosiasi dengan kerangka yang dipaksakan ini, membangkitkan ketegangan antara kedaulatan dan kungkungannya. Pencipta tari kontemporer, selama masa pandemi menegosiasikan ketegangan ini dengan lebih intens. 

Teknologi komunikasi digital memungkinkan seniman terus berkarya di tengah pandemi global ini. Ruang-ruang baru dengan bingkai terbatas dan jarak fisik menggerakkan para pencipta tari kontemporer mencari strategi baru dalam berkreasi. Di satu sisi, teknologi digital memberikan kemungkinan bahasa baru untuk mengartikulasikan gagasan, tubuh, dan koreografi. Namun di sisi lain, pengalaman keintiman fisik serta kesinambungan ruang-waktu antara pertunjukan dan penonton hilang atau digantikan oleh getaran-getaran lain. Cara penonton mengakses, mengalami, mengapresiasi, dan memandang tari jelas tidak sama dengan saat tari dihadirkan langsung di atas panggung. Tubuh pertunjukan semakin “termediasi” dan pengalaman (menonton) tari menjadi ambigu dalam proses digitalisasi.

Menghadapi situasi yang kompleks ini, Indonesian Dance Festival (IDF) beralih nama menjadi IDF2020.zip dan mengusung tema Daya: Cari Cara. Mengadopsi ciri khas file .zip, rangkaian acara IDF tahun ini akan disajikan dalam bentuk yang lebih lantam, tetapi menawarkan penjelajahan yang lebih hidup melalui tari kontemporer Indonesia dan beberapa sajian internasional untuk dinikmati, direfleksikan, dan didiskusikan bersama. 

‘Daya’ dalam bahasa Indonesia adalah kata berlapis yang digunakan dalam konteks yang berbeda. Ini mengekspresikan kekuatan hidup, dorongan primordial, transformasi, potensi atau pemberdayaan. Sedangkan ‘Cari Cara’ mengacu pada moda bertahan hidup, menemukan cara untuk tetap hidup pada masa-masa sulit seperti pandemi yang saat ini kita hadapi.

Dalam semangat ini, Eun-Me Ahn Company dari Korea memfasilitasi pertunjukan dance-on-film daring yang menampilkan 50 pecinta tari Indonesia dari berbagai latar belakang dan usia. Diciptakan melalui kolaborasi jarak jauh dengan semua peserta, 1’59 ” merupakan durasi yang tepat dari setiap koreografi mini dinamis yang mencerminkan kompleksitas dan keragaman sosial-budaya di Indonesia.

Dua “karya di dalam pandemi” yang diciptakan oleh Gymnastik Emporium dan Hari Ghulur, menunjukkan contoh kewaspadaan kreatif dan kehadiran di masa penjarakan sosial. Kolektif Gymnastik Emporium bekerja sama dengan 5 guru olahraga di Yogyakarta menciptakan karya baru bertajuk # SKJ2020 sebagai refleksi ironis atas citra tubuh optimis yang digulirkan melalui program wajib Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) pada tahun 1970-an hingga 1990-an. SKJ merupakan program senam yang pada saat itu digunakan untuk mengkonstruksikan visi nasional pemerintah Orde Baru melalui tubuh pelajar di Indonesia. Hari Ghulur menampilkan pratinjau daring dari kreasi barunya Sila, di mana ia mengubah posisi duduk bersila dalam ritual orang Madura menjadi pelantar koreografi atas kekhusukan spiritual dan ekspresi sosial. 

Program Kampana menghadirkan enam koreografer muda Indonesia yang telah mengikuti serangkaian lokakarya dan diskusi virtual yang intens selama tujuh bulan. Di dalam program Mengintip Kampana 2020, masing-masing koreografer muda ini akan berbagi tentang proyek pertunjukan, penjabaran visi dan konsep, serta cerita proses kreatif mereka. Program Pertunjukan Kampana menghadirkan tiga ‘karya dalam proses’ dari tiga koreografer muda, di mana masing-masing menawarkan pengalaman tari yang sangat pribadi di dalam dan melalui teknologi digital: Irfan Setiawan dengan karyanya Re-reading Impact, Puri Senja dengan The Other Half, dan Eyi Lesar dengan Virtual WAY (WhoAreYou).

Setelah melakukan refleksi atas tari, pandemi, dan keberadaan manusia melalui dua zip.conversations Resilience as part of Our Blueprint dan Presence: Where are we now? , IDF2020.zip akan ditutup dengan penampilan Li Tu Tu oleh Ayu Permata Sari. Karya ini merefleksikan kegigihan di tengah jarak fisik, mempertanyakan cara kita berinteraksi dan menjalin hubungan.

Daya: Cari Cara merupakan kualitas yang dibagikan melalui semua karya dan aktivitas. Dengan ketahanan dan kehadiran, para seniman “mencari cara” dan menemukan kembali bahasa koreografi di masa “Normal Baru”. Mereka dengan semangat menegaskan bahwa “Normal” adalah sebuah pertanyaan, dan bahwa dengan setiap hari baru, dengan setiap gerakan baru, kita dapat menciptakan kemungkinan yang berlipat ganda.

Arco Renz

Linda Mayasari

Nia Agustina

Rebecca Kezia