Sejarah IDF

Menjadi satu-satunya festival tari di Indonesia yang bertahan selama hampir tiga puluh tahun, adalah capaian yang membanggakan bagi kami, para pendiri dan seluruh pihak yang pernah menjadi bagian Indonesian Dance Festival.

Tidak hanya karena konsistensi masing-masing, namun juga karena upaya kami untuk terus berbenah, memperbaharui ide, dan berdialog dengan pelbagai perubahan dalam dunia tari maupun pada masyarakat luas, dari masa ke masa.

“Selama kurun waktu tersebut, 150 koreografer Indonesia, 90 lebih koreografer dari 23 negara, dan lebih banyak lagi seniman, aktivis, akademisi, produser, atau promotor dari berbagai bidang, telah ikut serta memberi corak pada 14 kali perhelatan festival ini.” Dalam rentang waktu itu pula tonggak-tonggak penting telah terpancang, menandai perubahan demi perubahan dalam perjalanan Indonesian Dance Festival.

Bermula dari diskusi intens sejumlah pegiat dan akademisi tari di kampus Cikini, ide untuk menyelenggarakan sebuah festival yang mampu menampung gagasan dan menampilkan karya para koreografer Indonesia, khususnya generasi muda, tercetus.

Indonesian Dance Festival pertama kali dibayangkan oleh para pendirinya, Sal Murgiyanto, Maria Darmaningsih, Nungki Kusumastuti, Ina M Suryadewi, Tom Ibnur, Deddy Lutan, serta melibatkan juga Sardono W. Kusumo, Julianti Parani dan Farida Oetoyo, sebagai agenda pengganti Pekan Penata Tari Muda, sebuah ajang dari Dewan Kesenian Jakarta yang sukses melahirkan banyak koreografer muda selama rentang 1978 – 1985. Namun, baru satu tahun kemudian Indonesian Dance Festival pertama bisa terwujud, tepatnya pada 19 – 22 Februari 1992.

Dari penyelenggaraan yang pertama tersebut, Indonesian Dance Festival bergulir masa ke masa. Pengurus berganti, koreografer dan seniman tari bermunculan dari berbagai generasi, program-program inovatif terus digagas, format dan tema senantiasa menyesuaikan kondisi zaman.

Indonesian Dance Festival yang pada awalnya adalah agenda tahunan, sejak 1996 berganti menjadi agenda dua tahunan, konsekuensi dari semakin banyak seniman tari dari berbagai negara yang tampil, semakin tinggi tuntutan untuk mengorganisir sebuah festival dengan lebih matang. Indonesian Dance Festival yang pada mulanya berada di bawah naungan Institut Kesenian Jakarta sampai 2018, saat ini telah berdiri sebagai sebuah yayasan yang mandiri.

Dalam setiap penyelenggaraan Indonesian Dance Festival, berbagai fenomena dan wacana tari masing-masing dikerangkai dalam tema yang spesifik, mulai dari perkara ketubuhan seperti yang muncul pada tema “Sonic Body” (IDF 2016) dan “Democratic Body” (IDF 2018); hubungan antara tari dengan khalayak yang menjadi fokus pada tema “Let’s Move, Outreaching the Possibility” (IDF 2012); dan lebih sering lagi tema yang memperlihatkan komitmen IDF untuk regenerasi seniman tari seperti pada “Envisioning the Future” (IDF 2004), “The Next Generation: Freedom; Rules; Dance” (IDF 2006), atau “Powering The Future” (IDF 2010).

Komitmen Indonesian Dance Festival untuk memberi ruang pada seniman tari muda tidak hanya muncul sebagai tema, namun juga dalam program pemberdayaan yang formatnya terus dirombak, disempurnakan, dan semakin sistematik dari waktu ke waktu: dari Workshop Triangle Art Program ke Residensi Lintas Budaya, dari Showcase menjadi Emerging Choreographer, dari Akademi IDF ke Kampana.

Program pelatihan yang terus mengalami perbaikan tersebut mempertebal misi IDF sebagai inkubator bagi seniman tari muda untuk berproses dan kelak memberi sumbangan pada khazanah tari dunia.