Performances
kampana
zip.conversations

Review Seni Pertunjukan –
Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
“Sila by Hari Ghulur”

Yasin Surya Wijaya
Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada

Review Seni Pertunjukan –
Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
“Sila by Hari Ghulur”

Yasin Surya Wijaya
Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada

Review Seni Pertunjukan –
Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
“Sila by Hari Ghulur”

Yasin Surya Wijaya
Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada

Sila merupakan seni tari karya Hari Ghulur yang dipertunjukan pada acara Indonesian Dance Festival  pada hari Minggu, 8 November 2020, pukul 20.00 WIB di platform Youtube. Sesuai dengan namanya, tarian ini dari awal hingga akhir dilakukan dengan bersila.  Tarian ini terinspirasi dari bentuk sikap tubuh masyarakat Madura – baik kali-laki maupun perempuan – dalam melaksanakan ritual tahlil. Dalam ritual ini, umumnya masyarakat menggunakan tubuh untuk berdialog dengan Tuhan. 

Sila (bersila) sendiri sebenarnya tidak pantas dikatakan sebagai pergelaran apabila belum dilakukan modifikasi.  Menurut Schechner (2013: 29) performance disebut sebagai “restored behaviour : physical, verbal, or virtual actions that are not-for-the-first time; that are prepared or rehearsed.  A person may not be aware that she is performing a strip of restored behavior. Also referred to as twice-behaved behaviour.” Teori pergelaran yang dikemukakan oleh Schechner menunjukan bahwa pergelaran merupakan “perilaku terbarukan.” “Perilaku terbarukan”  merupakan perilaku yang ditampilkan bukan untuk yang pertama kalinya, karena telah mengalami proses persiapan atau latihan.  Tari Sila karya Hari Ghulur adalah perilaku yang bersumber dari posisi sila dalam ritual yang kemudian dimodifikasi, dilakukan berulang-ulang, dipersiapkan, dan dipertunjukan.

Tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, serta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir disertai doa-doa dengan tujuan untuk memperingati hari kematian atau mengirim doa kepada yang telah meninggal (Rodin, 2013: 84). Ritual tahlil umumnya dilakukan secara duduk bersila yang tersusun secara melingkar. Di tengah-tengah mereka disajikan  beberapa menu sesaji juga  santapan bagi peserta ritual. Hal ini sejalan dengan pernyataan Khalil (2008: 278) bahwa secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng beserta lauk pauk. 

Ketika mereka berdzikir (tahlil) mereka melakukan gerakan-gerakan tertentu mengikuti irama dzikir yang disebut ratusan kali. Gerakan itu misalnya menggelengkan kepala bahkan ada yang sampai menggerakan badan. Gerakan itu merupakan ekspresi kekhusyukan mereka ketika sedang berdzikir (tahlil). Keunikan gerakan ketika tahlil inilah yang oleh Hari Ghulur direkonstruksi menjadi seni pertunjukan tari yang berjudul Sila.

Tarian Sila karya Hari Ghulur ini dipertunjukan secara bersila dari awal hingga akhir. Memang ada sesekali kaki diluruskan namun sikap bersila menjadi posisi yang sangat dominan. Tari diawali dengan masuknya penari tunggal pria menuju bagian tengah dimana di tempat itu tergeletak sebuah songkok atau peci, penutup kepala umat Islam khas Nusantara. Penari tunggal itu berjalan mengelilingi songkok itu beberapa putaran kemudian duduk bersila. Kedua tangan penari tunggal itu diangkat ke atas layaknya seorang yang sedang berdoa. Penari melanjutkan gerakan mengelilingi songkok tadi secara berguling-guling karena kedua kaki saling melipat (bersila). Sesekali penari membalikan badannya sehingga posisi kaki bersila di atas dan kepala di bawah. Beberapa saat kemudian songkok yang diletakan di lantai tadi dipakai penari sembari memunculkan gerakan seolah kejang-kejang dengan kedua tangan berposisi seperti orang berdoa. Suara raungan penari menambah daya dramatis pada adegan ini.

Sesaat kemudian muncul 3 (tiga) penari baru dengan kostum baju berwarna merah, ungu, dan putih, sehingga jumlah penari menjadi 4 (empat) orang. Pada adegan ini, komposisi penari terdiri atas 2 (dua) penari laki-laki dan 2 (dua) penari perempuan.  Video itu lebih menyorot 3 (tiga) penari baru itu yang melakukan gerakan-gerakan menari dengan kaki bersila. Terkadang posisi kaki berada di atas dan kepala di bawah dengan posisi bersila dan terkadang juga diluruskan ke atas. Gerakan menggulingkan badan kesana kemari, berputar-putar, dan sesekali seperti jungkir balik. Formasi tari kembali berjumlah 4 (empat) hanya saja jika dilihat dari gerakannya, 3 (tiga) penari cenderung diam bersila dengan kepala sedikit digerakan naik turun, sedangkan 1 (satu) penari cenderung bergerak sangat dinamis.   

Gerakan selanjutnya hanya dilakukan oleh 2 (dua) formasi penari yaitu satu laki-laki dengan kostum coklat dan satu perempuan dengan berkostum merah. Penari laki-laki melakukan gerakan-gerakan yang banyak, bebas, dan abstrak, sedangkan perempuan lebih melakukan gerakan memutar badan secara pelan dan berulang. Beberapa saat kemudian, penari perempuan juga melakukan gerakan yang abstrak dan dinamis seperti halnya penari laki-laki. Kedua penari melakukan gerakan-gerakan berguling, berputar, melompat dengan kaki di atas, dan ke semua gerakan itu sekali lagi dilakukan sambil bersila. Sesekali penari juga melakukan gerakan jongkok dan meluruskan kakinya dalam waktu singkat.  Ada saat dimana penari perempuan duduk bersila sambil menggelengkan kepala, sedangkan penari laki-laki merangkak mengelilingi si penari perempuan. 

Formasi penari kembali menjadi 3 (tiga) dengan gerakan yang cenderung abstrak namun berpola. Pada gerakan ini, penari masih melakukan gerakan-gerakan yang dikombinasi dengan posisi bersila, namun ada saat dimana penari melakukan gerak melangkah, berputar, dan jungkir balik. Ada saat juga, para penari melakukan gerakan-gerakan yang seirama dan bersamaan antara penari satu dengan penari lain. Penari juga melakukan gerakan-gerakan seperti penyembahan dimana posisi kaki bersila dan kedua tangan digerakan ke atas dan juga sesekali mereka bersujud. Pada penghujung tarian, keempat penari berkumpul, berdempetan dalam satu tempat, dimana penari saling membelakangi. Selama gerakan ini, kaki penari berposisi sila, tangan penari dinaikan ke atas secara berirama, dan posisi keempat penari berputar searah jarum jam.

Setting pertunjukan tarian Sila ini dilakukan di tempat seperti aula dengan iringan musik dramatis menyerupai detakan jarum jam. Musik pengiring hanya berupa musik instrumen tanpa ada lirik lagu yang dinyanyikan. Pertunjukan ditutup dengan layar yang semakin buram dan memutih. Pada layar putih itu muncul tulisan; “Sila : Tarian ini terinspirasi dari bentuk sikap tubuh masyarakat Madura baik kali-laki maupun perempuan dalam melaksanakan ritual tahlil, yang mana masyarakat menggunakan tubuh untuk berdialog dengan Tuhan”.

Kesan atau pengalaman estetis yang saya peroleh dari pertunjukan tari berjudul sila ini adalah mistis, dramatis, menggetarkan hati, penuh misteri, dan sebagai orang awam dalam bidang seni pertunjukan, saya merasa pertunjukan ini cenderung abstrak namun unik dan apik. Penari melakukanya dengan totalitas didukung dengan koreografi, kualitas editing video, dan pengolahan musik yang bagus menjadikan karya tari ini terlihat sempurna. Sayangnya pertunjukan ini hanya dipertontonkan dalam layar, sehingga daya pesona yang saya peroleh mungkin berbeda dengan ketika menonton secara langsung. Saya penasaran bila tari sila dipertontonkan secara langsung apakah sebagus ini, kurang bagus, atau justru sangat bagus.

Tari sila di atas merupakan perilaku yang telah diolah dengan koreografi sedemikian rupa dan estetis. Tanpa pengolahan sedemikian rupa, sila hanyalah perilaku biasa dalam sebuah ritual tahlil. Teori tentang pergelaran tidak hanya tunggal, masih banyak teori lain selain yang dikemukakan oleh Schechner di atas. Pandangan berbeda terkait teori pergelaran dikemukakan oleh Goffman dalam Carlson (2018: 36), bahwa pertunjukan (performance) yaitu semua aktivitas individu yang terjadi selama periode tertentu yang ditandai dengan kehadirannya yang terus menerus di hadapan sekelompok pengamat tertentu dan yang memiliki pengaruh pada pengamat. Perilaku dan tingkah laku kehidupan sehari-hari itu adalah pertunjukan karena masing-masing individu melakukan peranan layaknya aktor dalam seni pertunjukan. 

Hal ini sejalan dengan pandangan Burke (Macionis, 2006: 95-96); “Hidup ini bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama”. Banyak teori tentang pergelaran, tergantung kita mau memakai teori yang mana. Pada cuplikan pembukaan acara Indonesian Dance Festival (IDF) dipertunjukan seseorang yang sedang berjalan layaknya berjalan pada umumnya, tetapi itu dianggap sebagai pertunjukan.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Sila merupakan seni tari karya Hari Ghulur yang dipertunjukan pada acara Indonesian Dance Festival  pada hari Minggu, 8 November 2020, pukul 20.00 WIB di platform Youtube. Sesuai dengan namanya, tarian ini dari awal hingga akhir dilakukan dengan bersila.  Tarian ini terinspirasi dari bentuk sikap tubuh masyarakat Madura – baik kali-laki maupun perempuan – dalam melaksanakan ritual tahlil. Dalam ritual ini, umumnya masyarakat menggunakan tubuh untuk berdialog dengan Tuhan. 

Sila (bersila) sendiri sebenarnya tidak pantas dikatakan sebagai pergelaran apabila belum dilakukan modifikasi.  Menurut Schechner (2013: 29) performance disebut sebagai “restored behaviour : physical, verbal, or virtual actions that are not-for-the-first time; that are prepared or rehearsed.  A person may not be aware that she is performing a strip of restored behavior. Also referred to as twice-behaved behaviour.” Teori pergelaran yang dikemukakan oleh Schechner menunjukan bahwa pergelaran merupakan “perilaku terbarukan.” “Perilaku terbarukan”  merupakan perilaku yang ditampilkan bukan untuk yang pertama kalinya, karena telah mengalami proses persiapan atau latihan.  Tari Sila karya Hari Ghulur adalah perilaku yang bersumber dari posisi sila dalam ritual yang kemudian dimodifikasi, dilakukan berulang-ulang, dipersiapkan, dan dipertunjukan.

Tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, serta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir disertai doa-doa dengan tujuan untuk memperingati hari kematian atau mengirim doa kepada yang telah meninggal (Rodin, 2013: 84). Ritual tahlil umumnya dilakukan secara duduk bersila yang tersusun secara melingkar. Di tengah-tengah mereka disajikan  beberapa menu sesaji juga  santapan bagi peserta ritual. Hal ini sejalan dengan pernyataan Khalil (2008: 278) bahwa secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng beserta lauk pauk. 

Ketika mereka berdzikir (tahlil) mereka melakukan gerakan-gerakan tertentu mengikuti irama dzikir yang disebut ratusan kali. Gerakan itu misalnya menggelengkan kepala bahkan ada yang sampai menggerakan badan. Gerakan itu merupakan ekspresi kekhusyukan mereka ketika sedang berdzikir (tahlil). Keunikan gerakan ketika tahlil inilah yang oleh Hari Ghulur direkonstruksi menjadi seni pertunjukan tari yang berjudul Sila.

Tarian Sila karya Hari Ghulur ini dipertunjukan secara bersila dari awal hingga akhir. Memang ada sesekali kaki diluruskan namun sikap bersila menjadi posisi yang sangat dominan. Tari diawali dengan masuknya penari tunggal pria menuju bagian tengah dimana di tempat itu tergeletak sebuah songkok atau peci, penutup kepala umat Islam khas Nusantara. Penari tunggal itu berjalan mengelilingi songkok itu beberapa putaran kemudian duduk bersila. Kedua tangan penari tunggal itu diangkat ke atas layaknya seorang yang sedang berdoa. Penari melanjutkan gerakan mengelilingi songkok tadi secara berguling-guling karena kedua kaki saling melipat (bersila). Sesekali penari membalikan badannya sehingga posisi kaki bersila di atas dan kepala di bawah. Beberapa saat kemudian songkok yang diletakan di lantai tadi dipakai penari sembari memunculkan gerakan seolah kejang-kejang dengan kedua tangan berposisi seperti orang berdoa. Suara raungan penari menambah daya dramatis pada adegan ini.

Sesaat kemudian muncul 3 (tiga) penari baru dengan kostum baju berwarna merah, ungu, dan putih, sehingga jumlah penari menjadi 4 (empat) orang. Pada adegan ini, komposisi penari terdiri atas 2 (dua) penari laki-laki dan 2 (dua) penari perempuan.  Video itu lebih menyorot 3 (tiga) penari baru itu yang melakukan gerakan-gerakan menari dengan kaki bersila. Terkadang posisi kaki berada di atas dan kepala di bawah dengan posisi bersila dan terkadang juga diluruskan ke atas. Gerakan menggulingkan badan kesana kemari, berputar-putar, dan sesekali seperti jungkir balik. Formasi tari kembali berjumlah 4 (empat) hanya saja jika dilihat dari gerakannya, 3 (tiga) penari cenderung diam bersila dengan kepala sedikit digerakan naik turun, sedangkan 1 (satu) penari cenderung bergerak sangat dinamis.   

Gerakan selanjutnya hanya dilakukan oleh 2 (dua) formasi penari yaitu satu laki-laki dengan kostum coklat dan satu perempuan dengan berkostum merah. Penari laki-laki melakukan gerakan-gerakan yang banyak, bebas, dan abstrak, sedangkan perempuan lebih melakukan gerakan memutar badan secara pelan dan berulang. Beberapa saat kemudian, penari perempuan juga melakukan gerakan yang abstrak dan dinamis seperti halnya penari laki-laki. Kedua penari melakukan gerakan-gerakan berguling, berputar, melompat dengan kaki di atas, dan ke semua gerakan itu sekali lagi dilakukan sambil bersila. Sesekali penari juga melakukan gerakan jongkok dan meluruskan kakinya dalam waktu singkat.  Ada saat dimana penari perempuan duduk bersila sambil menggelengkan kepala, sedangkan penari laki-laki merangkak mengelilingi si penari perempuan. 

Formasi penari kembali menjadi 3 (tiga) dengan gerakan yang cenderung abstrak namun berpola. Pada gerakan ini, penari masih melakukan gerakan-gerakan yang dikombinasi dengan posisi bersila, namun ada saat dimana penari melakukan gerak melangkah, berputar, dan jungkir balik. Ada saat juga, para penari melakukan gerakan-gerakan yang seirama dan bersamaan antara penari satu dengan penari lain. Penari juga melakukan gerakan-gerakan seperti penyembahan dimana posisi kaki bersila dan kedua tangan digerakan ke atas dan juga sesekali mereka bersujud. Pada penghujung tarian, keempat penari berkumpul, berdempetan dalam satu tempat, dimana penari saling membelakangi. Selama gerakan ini, kaki penari berposisi sila, tangan penari dinaikan ke atas secara berirama, dan posisi keempat penari berputar searah jarum jam.

Setting pertunjukan tarian Sila ini dilakukan di tempat seperti aula dengan iringan musik dramatis menyerupai detakan jarum jam. Musik pengiring hanya berupa musik instrumen tanpa ada lirik lagu yang dinyanyikan. Pertunjukan ditutup dengan layar yang semakin buram dan memutih. Pada layar putih itu muncul tulisan; “Sila : Tarian ini terinspirasi dari bentuk sikap tubuh masyarakat Madura baik kali-laki maupun perempuan dalam melaksanakan ritual tahlil, yang mana masyarakat menggunakan tubuh untuk berdialog dengan Tuhan”.

Kesan atau pengalaman estetis yang saya peroleh dari pertunjukan tari berjudul sila ini adalah mistis, dramatis, menggetarkan hati, penuh misteri, dan sebagai orang awam dalam bidang seni pertunjukan, saya merasa pertunjukan ini cenderung abstrak namun unik dan apik. Penari melakukanya dengan totalitas didukung dengan koreografi, kualitas editing video, dan pengolahan musik yang bagus menjadikan karya tari ini terlihat sempurna. Sayangnya pertunjukan ini hanya dipertontonkan dalam layar, sehingga daya pesona yang saya peroleh mungkin berbeda dengan ketika menonton secara langsung. Saya penasaran bila tari sila dipertontonkan secara langsung apakah sebagus ini, kurang bagus, atau justru sangat bagus.

Tari sila di atas merupakan perilaku yang telah diolah dengan koreografi sedemikian rupa dan estetis. Tanpa pengolahan sedemikian rupa, sila hanyalah perilaku biasa dalam sebuah ritual tahlil. Teori tentang pergelaran tidak hanya tunggal, masih banyak teori lain selain yang dikemukakan oleh Schechner di atas. Pandangan berbeda terkait teori pergelaran dikemukakan oleh Goffman dalam Carlson (2018: 36), bahwa pertunjukan (performance) yaitu semua aktivitas individu yang terjadi selama periode tertentu yang ditandai dengan kehadirannya yang terus menerus di hadapan sekelompok pengamat tertentu dan yang memiliki pengaruh pada pengamat. Perilaku dan tingkah laku kehidupan sehari-hari itu adalah pertunjukan karena masing-masing individu melakukan peranan layaknya aktor dalam seni pertunjukan. 

Hal ini sejalan dengan pandangan Burke (Macionis, 2006: 95-96); “Hidup ini bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama”. Banyak teori tentang pergelaran, tergantung kita mau memakai teori yang mana. Pada cuplikan pembukaan acara Indonesian Dance Festival (IDF) dipertunjukan seseorang yang sedang berjalan layaknya berjalan pada umumnya, tetapi itu dianggap sebagai pertunjukan.

Terbitan Terkait

Sila merupakan seni tari karya Hari Ghulur yang dipertunjukan pada acara Indonesian Dance Festival  pada hari Minggu, 8 November 2020, pukul 20.00 WIB di platform Youtube. Sesuai dengan namanya, tarian ini dari awal hingga akhir dilakukan dengan bersila.  Tarian ini terinspirasi dari bentuk sikap tubuh masyarakat Madura – baik kali-laki maupun perempuan – dalam melaksanakan ritual tahlil. Dalam ritual ini, umumnya masyarakat menggunakan tubuh untuk berdialog dengan Tuhan. 

Sila (bersila) sendiri sebenarnya tidak pantas dikatakan sebagai pergelaran apabila belum dilakukan modifikasi.  Menurut Schechner (2013: 29) performance disebut sebagai “restored behaviour : physical, verbal, or virtual actions that are not-for-the-first time; that are prepared or rehearsed.  A person may not be aware that she is performing a strip of restored behavior. Also referred to as twice-behaved behaviour.” Teori pergelaran yang dikemukakan oleh Schechner menunjukan bahwa pergelaran merupakan “perilaku terbarukan.” “Perilaku terbarukan”  merupakan perilaku yang ditampilkan bukan untuk yang pertama kalinya, karena telah mengalami proses persiapan atau latihan.  Tari Sila karya Hari Ghulur adalah perilaku yang bersumber dari posisi sila dalam ritual yang kemudian dimodifikasi, dilakukan berulang-ulang, dipersiapkan, dan dipertunjukan.

Tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, serta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir disertai doa-doa dengan tujuan untuk memperingati hari kematian atau mengirim doa kepada yang telah meninggal (Rodin, 2013: 84). Ritual tahlil umumnya dilakukan secara duduk bersila yang tersusun secara melingkar. Di tengah-tengah mereka disajikan  beberapa menu sesaji juga  santapan bagi peserta ritual. Hal ini sejalan dengan pernyataan Khalil (2008: 278) bahwa secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng beserta lauk pauk. 

Ketika mereka berdzikir (tahlil) mereka melakukan gerakan-gerakan tertentu mengikuti irama dzikir yang disebut ratusan kali. Gerakan itu misalnya menggelengkan kepala bahkan ada yang sampai menggerakan badan. Gerakan itu merupakan ekspresi kekhusyukan mereka ketika sedang berdzikir (tahlil). Keunikan gerakan ketika tahlil inilah yang oleh Hari Ghulur direkonstruksi menjadi seni pertunjukan tari yang berjudul Sila.

Tarian Sila karya Hari Ghulur ini dipertunjukan secara bersila dari awal hingga akhir. Memang ada sesekali kaki diluruskan namun sikap bersila menjadi posisi yang sangat dominan. Tari diawali dengan masuknya penari tunggal pria menuju bagian tengah dimana di tempat itu tergeletak sebuah songkok atau peci, penutup kepala umat Islam khas Nusantara. Penari tunggal itu berjalan mengelilingi songkok itu beberapa putaran kemudian duduk bersila. Kedua tangan penari tunggal itu diangkat ke atas layaknya seorang yang sedang berdoa. Penari melanjutkan gerakan mengelilingi songkok tadi secara berguling-guling karena kedua kaki saling melipat (bersila). Sesekali penari membalikan badannya sehingga posisi kaki bersila di atas dan kepala di bawah. Beberapa saat kemudian songkok yang diletakan di lantai tadi dipakai penari sembari memunculkan gerakan seolah kejang-kejang dengan kedua tangan berposisi seperti orang berdoa. Suara raungan penari menambah daya dramatis pada adegan ini.

Sesaat kemudian muncul 3 (tiga) penari baru dengan kostum baju berwarna merah, ungu, dan putih, sehingga jumlah penari menjadi 4 (empat) orang. Pada adegan ini, komposisi penari terdiri atas 2 (dua) penari laki-laki dan 2 (dua) penari perempuan.  Video itu lebih menyorot 3 (tiga) penari baru itu yang melakukan gerakan-gerakan menari dengan kaki bersila. Terkadang posisi kaki berada di atas dan kepala di bawah dengan posisi bersila dan terkadang juga diluruskan ke atas. Gerakan menggulingkan badan kesana kemari, berputar-putar, dan sesekali seperti jungkir balik. Formasi tari kembali berjumlah 4 (empat) hanya saja jika dilihat dari gerakannya, 3 (tiga) penari cenderung diam bersila dengan kepala sedikit digerakan naik turun, sedangkan 1 (satu) penari cenderung bergerak sangat dinamis.   

Gerakan selanjutnya hanya dilakukan oleh 2 (dua) formasi penari yaitu satu laki-laki dengan kostum coklat dan satu perempuan dengan berkostum merah. Penari laki-laki melakukan gerakan-gerakan yang banyak, bebas, dan abstrak, sedangkan perempuan lebih melakukan gerakan memutar badan secara pelan dan berulang. Beberapa saat kemudian, penari perempuan juga melakukan gerakan yang abstrak dan dinamis seperti halnya penari laki-laki. Kedua penari melakukan gerakan-gerakan berguling, berputar, melompat dengan kaki di atas, dan ke semua gerakan itu sekali lagi dilakukan sambil bersila. Sesekali penari juga melakukan gerakan jongkok dan meluruskan kakinya dalam waktu singkat.  Ada saat dimana penari perempuan duduk bersila sambil menggelengkan kepala, sedangkan penari laki-laki merangkak mengelilingi si penari perempuan. 

Formasi penari kembali menjadi 3 (tiga) dengan gerakan yang cenderung abstrak namun berpola. Pada gerakan ini, penari masih melakukan gerakan-gerakan yang dikombinasi dengan posisi bersila, namun ada saat dimana penari melakukan gerak melangkah, berputar, dan jungkir balik. Ada saat juga, para penari melakukan gerakan-gerakan yang seirama dan bersamaan antara penari satu dengan penari lain. Penari juga melakukan gerakan-gerakan seperti penyembahan dimana posisi kaki bersila dan kedua tangan digerakan ke atas dan juga sesekali mereka bersujud. Pada penghujung tarian, keempat penari berkumpul, berdempetan dalam satu tempat, dimana penari saling membelakangi. Selama gerakan ini, kaki penari berposisi sila, tangan penari dinaikan ke atas secara berirama, dan posisi keempat penari berputar searah jarum jam.

Setting pertunjukan tarian Sila ini dilakukan di tempat seperti aula dengan iringan musik dramatis menyerupai detakan jarum jam. Musik pengiring hanya berupa musik instrumen tanpa ada lirik lagu yang dinyanyikan. Pertunjukan ditutup dengan layar yang semakin buram dan memutih. Pada layar putih itu muncul tulisan; “Sila : Tarian ini terinspirasi dari bentuk sikap tubuh masyarakat Madura baik kali-laki maupun perempuan dalam melaksanakan ritual tahlil, yang mana masyarakat menggunakan tubuh untuk berdialog dengan Tuhan”.

Kesan atau pengalaman estetis yang saya peroleh dari pertunjukan tari berjudul sila ini adalah mistis, dramatis, menggetarkan hati, penuh misteri, dan sebagai orang awam dalam bidang seni pertunjukan, saya merasa pertunjukan ini cenderung abstrak namun unik dan apik. Penari melakukanya dengan totalitas didukung dengan koreografi, kualitas editing video, dan pengolahan musik yang bagus menjadikan karya tari ini terlihat sempurna. Sayangnya pertunjukan ini hanya dipertontonkan dalam layar, sehingga daya pesona yang saya peroleh mungkin berbeda dengan ketika menonton secara langsung. Saya penasaran bila tari sila dipertontonkan secara langsung apakah sebagus ini, kurang bagus, atau justru sangat bagus.

Tari sila di atas merupakan perilaku yang telah diolah dengan koreografi sedemikian rupa dan estetis. Tanpa pengolahan sedemikian rupa, sila hanyalah perilaku biasa dalam sebuah ritual tahlil. Teori tentang pergelaran tidak hanya tunggal, masih banyak teori lain selain yang dikemukakan oleh Schechner di atas. Pandangan berbeda terkait teori pergelaran dikemukakan oleh Goffman dalam Carlson (2018: 36), bahwa pertunjukan (performance) yaitu semua aktivitas individu yang terjadi selama periode tertentu yang ditandai dengan kehadirannya yang terus menerus di hadapan sekelompok pengamat tertentu dan yang memiliki pengaruh pada pengamat. Perilaku dan tingkah laku kehidupan sehari-hari itu adalah pertunjukan karena masing-masing individu melakukan peranan layaknya aktor dalam seni pertunjukan. 

Hal ini sejalan dengan pandangan Burke (Macionis, 2006: 95-96); “Hidup ini bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama”. Banyak teori tentang pergelaran, tergantung kita mau memakai teori yang mana. Pada cuplikan pembukaan acara Indonesian Dance Festival (IDF) dipertunjukan seseorang yang sedang berjalan layaknya berjalan pada umumnya, tetapi itu dianggap sebagai pertunjukan.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-06-25T14:34:43+07:00Juni 25th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top