Performances
kampana
zip.conversations

Report dan Review

Ni Made Oliftyansi Santi Dewi
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Report dan Review

Ni Made Oliftyansi Santi Dewi
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Report dan Review

Ni Made Oliftyansi Santi Dewi
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Karya tari yang berjudul “Buron Peken” diciptakan oleh I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra yang merupakan alumni Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama penciptaan seni tari. Gus Bang panggilan akrabnya berasal dari Br. Mukti, Kelurahan/Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Karyanya yang berjudul “Buron Peken” ini ditayangkan di YouTube Indonesia Dance Festival, pada Sabtu, 7 November 2020 (Layar Terkembang) dengan komposer bernama Putu Sandra dan Aditya Darma. Karya tari ini ditampilkan secara virtual dan memiliki 2 pemaknaan yang berbeda, sehingga memunculkan berbagai persepsi dan interpretasi penonton yang mengapresiasinya.

Melihat dari judulnya, kata ‘buron’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang sedang diburu polisi atau orang yang sedang melarikan diri. Namun menelisik kata ‘buron’ dalam pengertian bahasa Bali, kata tersebut merupakan istilah untuk penyebutan hewan-hewan buruan. Mulanya berasal dari kata buruan, akan tetapi lidah biasanya memaksa untuk mempercepat kata yang keluar hingga kemudian konon kata buruan tersebut berubah lebih singkat menjadi buron. Sedangkan istilah ‘peken’ dalam bahasa Bali berarti pasar. Memaknai dua pemaknaan atau pengertian dari kata tersebut juga turut hadir dalam isian karya tersebut. Sebelum merujuk pada isian karya dari interpretasi setelah menonton atas dua pengertian judul tersebut, perlu diketahui juga bahwa jika yang dapat dihubungkan pemaknaanya tersebut adalah yang merupakan pengertian yang berasal dari artian KBBI tadi juga tidak menutup kemungkinan dari pemaknaan artian Bali. Akan tetapi, dapat dimaknai dalam pandangan umum dari hasil pengolahan gerak, sesuatu yang dihadirkan memang lebih dominan merujuk ‘buron’ sebagai buruan. Dalam penghadiran geraknya, beberapa masih mengandung dasar gerak Bali yang memang sangat jarang seorang penari Bali mampu melepaskan ciri khas atau dinamis tubuh gerak-gerak Bali yang dari kecil tengah tertanam dalam dirinya. Terlihat menggunakan pijakan tari bali tersebut dalam beberapa gerakannya justru memperkuat nuansa tradisi apalagi dipadukan dengan pemilihan tempat seperti pasar tradisional tersebut.

Sesuatu yang hadir sebagai buruan sebagai pengertian bahasa Bali turut hadir dengan pengenalan gerak yang lebih mencekung dengan menghadirkan beberapa pose-pose seolah-olah yang dimaksud ‘buron’ tadi sebagai makhluk yang sedang memburu sesuatu. Hal tersebut sangat nampak dari penggunaan level yang cenderung lebih sering merendah, pemilihan pose, bahkan gerakan-gerakan merangkak sekalipun turut hadir dalam tarian tersebut. Gerakan yang semakin nampak jelas ketika penari melakukan tolehan-tolehan yang seolah-olah mengamati keadaan sekitar menandakan sebuah pencarian atas sesuatu tersebut dihadirkan dalam tarian tersebut.

Pencarian tersebut bisa jadi sebagai sebuah strategi yang mendapatkan penangkapan oleh penontonnya hingga kemudian memunculkan interpretasi bahwa terdapat pembelajaran dari hasil karya tersebut yakni bagaimana mampu menangkap peluang dari keadaan sekitar. Penghadiran materi tari baik konsep atau gerakan tertangkap sebagai suatu sindiran yang hadir dan dilemparkan kepada orang banyak untuk dapat direfleksikan sebagai adaptasi sosial. Hal ini diinterpretasikan sebagai sindiran oleh kacamata penonton karena dianggap dalam kehidupan ini selain kita hidup terkadang tidak terlepas dari beberapa sifat binatang, namun suatu hal kecerdikan sebagai yang dimaksud ‘buron’ dalam pengertian Bali dimiliki tiap orang yakni ‘menangkap peluang’. Pemaknaan tersebut hadir ketika penari dalam memaknai gerakannya terlihat begitu dalam atas capaian sesuatu. Sering nampak kehadiran locomotor movement sebagai suatu yang sangat mungkin mewakilkan sebuah kata ‘buron’ sebagai buruan dalam proses mencari. Oleh karena itu, dua pemaknaan tersebut hadir bersamaan dalam satu karya yang terkonsep apik dan sangat menyentuh kental suasana tradisional Bali, ditambah turut menghadirkan suara-suara orang melakukan transaksi atau sekedar lewat saja dalam lingkup pasar.

Dalam akhir video karya tarinya, terkait dengan beberapa gerak sebagai pencarian itu tadi sangat berkaitan, yang mana penari melakukan pose terakhir yang menempati suatu tempat dan duduk sambil menatap fokus ke arah depan. Dari hal inilah kemudian tertangkap interpretasi bahwa jawaban dari hasil pencarian tersebut adalah sebagai goal yaitu kedudukan itu sendiri. Sebagaimana upaya melihat, mencari, dan menggapai peluang atas sesuatu kedudukan dalam prosesnya sering mengalami dan terkadang bermunculan sifat-sifat ‘buron’ sebagai hewan buruan yang kadang memerangi batin, pikiran seseorang ketika mengalami atau ingin bersaing atas sesuatu yang ingin dimilikinya.

Konsep-konsep yang hadir dalam tarian ini memunculkan interpretasi yang sangat kuat dalam penyampaian maknanya yang terlihat seperti suatu sindiran atau cerminan masyarakat. Sindiran terkait dengan kepemilikan kedudukan, bahwasanya setiap orang akan mengalami proses tersebut dan juga sangat besar kemungkinan ego dan sifat-sifat ‘buron’ sebagai buruan demi ingin memenangkan sesuatu pasti pernah menghampiri pikiran tiap manusia. Karya tari ini tertangkap memiliki harapan yang merujuk langsung pada orang yang mengalami sebagai proses penyadaran bahwa begitulah suatu proses yang sejatinya tidak sedikit orang pernah mengalaminya, akan tetapi semua orang dapat mengalami dan pasti akan mengalami.

Terbitan Terkait

Karya Kezia Alyssa

Kampana Trajectory Irfan Setiawan

Karya tari yang berjudul “Buron Peken” diciptakan oleh I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra yang merupakan alumni Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama penciptaan seni tari. Gus Bang panggilan akrabnya berasal dari Br. Mukti, Kelurahan/Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Karyanya yang berjudul “Buron Peken” ini ditayangkan di YouTube Indonesia Dance Festival, pada Sabtu, 7 November 2020 (Layar Terkembang) dengan komposer bernama Putu Sandra dan Aditya Darma. Karya tari ini ditampilkan secara virtual dan memiliki 2 pemaknaan yang berbeda, sehingga memunculkan berbagai persepsi dan interpretasi penonton yang mengapresiasinya.

Melihat dari judulnya, kata ‘buron’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang sedang diburu polisi atau orang yang sedang melarikan diri. Namun menelisik kata ‘buron’ dalam pengertian bahasa Bali, kata tersebut merupakan istilah untuk penyebutan hewan-hewan buruan. Mulanya berasal dari kata buruan, akan tetapi lidah biasanya memaksa untuk mempercepat kata yang keluar hingga kemudian konon kata buruan tersebut berubah lebih singkat menjadi buron. Sedangkan istilah ‘peken’ dalam bahasa Bali berarti pasar. Memaknai dua pemaknaan atau pengertian dari kata tersebut juga turut hadir dalam isian karya tersebut. Sebelum merujuk pada isian karya dari interpretasi setelah menonton atas dua pengertian judul tersebut, perlu diketahui juga bahwa jika yang dapat dihubungkan pemaknaanya tersebut adalah yang merupakan pengertian yang berasal dari artian KBBI tadi juga tidak menutup kemungkinan dari pemaknaan artian Bali. Akan tetapi, dapat dimaknai dalam pandangan umum dari hasil pengolahan gerak, sesuatu yang dihadirkan memang lebih dominan merujuk ‘buron’ sebagai buruan. Dalam penghadiran geraknya, beberapa masih mengandung dasar gerak Bali yang memang sangat jarang seorang penari Bali mampu melepaskan ciri khas atau dinamis tubuh gerak-gerak Bali yang dari kecil tengah tertanam dalam dirinya. Terlihat menggunakan pijakan tari bali tersebut dalam beberapa gerakannya justru memperkuat nuansa tradisi apalagi dipadukan dengan pemilihan tempat seperti pasar tradisional tersebut.

Sesuatu yang hadir sebagai buruan sebagai pengertian bahasa Bali turut hadir dengan pengenalan gerak yang lebih mencekung dengan menghadirkan beberapa pose-pose seolah-olah yang dimaksud ‘buron’ tadi sebagai makhluk yang sedang memburu sesuatu. Hal tersebut sangat nampak dari penggunaan level yang cenderung lebih sering merendah, pemilihan pose, bahkan gerakan-gerakan merangkak sekalipun turut hadir dalam tarian tersebut. Gerakan yang semakin nampak jelas ketika penari melakukan tolehan-tolehan yang seolah-olah mengamati keadaan sekitar menandakan sebuah pencarian atas sesuatu tersebut dihadirkan dalam tarian tersebut.

Pencarian tersebut bisa jadi sebagai sebuah strategi yang mendapatkan penangkapan oleh penontonnya hingga kemudian memunculkan interpretasi bahwa terdapat pembelajaran dari hasil karya tersebut yakni bagaimana mampu menangkap peluang dari keadaan sekitar. Penghadiran materi tari baik konsep atau gerakan tertangkap sebagai suatu sindiran yang hadir dan dilemparkan kepada orang banyak untuk dapat direfleksikan sebagai adaptasi sosial. Hal ini diinterpretasikan sebagai sindiran oleh kacamata penonton karena dianggap dalam kehidupan ini selain kita hidup terkadang tidak terlepas dari beberapa sifat binatang, namun suatu hal kecerdikan sebagai yang dimaksud ‘buron’ dalam pengertian Bali dimiliki tiap orang yakni ‘menangkap peluang’. Pemaknaan tersebut hadir ketika penari dalam memaknai gerakannya terlihat begitu dalam atas capaian sesuatu. Sering nampak kehadiran locomotor movement sebagai suatu yang sangat mungkin mewakilkan sebuah kata ‘buron’ sebagai buruan dalam proses mencari. Oleh karena itu, dua pemaknaan tersebut hadir bersamaan dalam satu karya yang terkonsep apik dan sangat menyentuh kental suasana tradisional Bali, ditambah turut menghadirkan suara-suara orang melakukan transaksi atau sekedar lewat saja dalam lingkup pasar.

Dalam akhir video karya tarinya, terkait dengan beberapa gerak sebagai pencarian itu tadi sangat berkaitan, yang mana penari melakukan pose terakhir yang menempati suatu tempat dan duduk sambil menatap fokus ke arah depan. Dari hal inilah kemudian tertangkap interpretasi bahwa jawaban dari hasil pencarian tersebut adalah sebagai goal yaitu kedudukan itu sendiri. Sebagaimana upaya melihat, mencari, dan menggapai peluang atas sesuatu kedudukan dalam prosesnya sering mengalami dan terkadang bermunculan sifat-sifat ‘buron’ sebagai hewan buruan yang kadang memerangi batin, pikiran seseorang ketika mengalami atau ingin bersaing atas sesuatu yang ingin dimilikinya.

Konsep-konsep yang hadir dalam tarian ini memunculkan interpretasi yang sangat kuat dalam penyampaian maknanya yang terlihat seperti suatu sindiran atau cerminan masyarakat. Sindiran terkait dengan kepemilikan kedudukan, bahwasanya setiap orang akan mengalami proses tersebut dan juga sangat besar kemungkinan ego dan sifat-sifat ‘buron’ sebagai buruan demi ingin memenangkan sesuatu pasti pernah menghampiri pikiran tiap manusia. Karya tari ini tertangkap memiliki harapan yang merujuk langsung pada orang yang mengalami sebagai proses penyadaran bahwa begitulah suatu proses yang sejatinya tidak sedikit orang pernah mengalaminya, akan tetapi semua orang dapat mengalami dan pasti akan mengalami.

Terbitan Terkait

Karya tari yang berjudul “Buron Peken” diciptakan oleh I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra yang merupakan alumni Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama penciptaan seni tari. Gus Bang panggilan akrabnya berasal dari Br. Mukti, Kelurahan/Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Karyanya yang berjudul “Buron Peken” ini ditayangkan di YouTube Indonesia Dance Festival, pada Sabtu, 7 November 2020 (Layar Terkembang) dengan komposer bernama Putu Sandra dan Aditya Darma. Karya tari ini ditampilkan secara virtual dan memiliki 2 pemaknaan yang berbeda, sehingga memunculkan berbagai persepsi dan interpretasi penonton yang mengapresiasinya.

Melihat dari judulnya, kata ‘buron’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang sedang diburu polisi atau orang yang sedang melarikan diri. Namun menelisik kata ‘buron’ dalam pengertian bahasa Bali, kata tersebut merupakan istilah untuk penyebutan hewan-hewan buruan. Mulanya berasal dari kata buruan, akan tetapi lidah biasanya memaksa untuk mempercepat kata yang keluar hingga kemudian konon kata buruan tersebut berubah lebih singkat menjadi buron. Sedangkan istilah ‘peken’ dalam bahasa Bali berarti pasar. Memaknai dua pemaknaan atau pengertian dari kata tersebut juga turut hadir dalam isian karya tersebut. Sebelum merujuk pada isian karya dari interpretasi setelah menonton atas dua pengertian judul tersebut, perlu diketahui juga bahwa jika yang dapat dihubungkan pemaknaanya tersebut adalah yang merupakan pengertian yang berasal dari artian KBBI tadi juga tidak menutup kemungkinan dari pemaknaan artian Bali. Akan tetapi, dapat dimaknai dalam pandangan umum dari hasil pengolahan gerak, sesuatu yang dihadirkan memang lebih dominan merujuk ‘buron’ sebagai buruan. Dalam penghadiran geraknya, beberapa masih mengandung dasar gerak Bali yang memang sangat jarang seorang penari Bali mampu melepaskan ciri khas atau dinamis tubuh gerak-gerak Bali yang dari kecil tengah tertanam dalam dirinya. Terlihat menggunakan pijakan tari bali tersebut dalam beberapa gerakannya justru memperkuat nuansa tradisi apalagi dipadukan dengan pemilihan tempat seperti pasar tradisional tersebut.

Sesuatu yang hadir sebagai buruan sebagai pengertian bahasa Bali turut hadir dengan pengenalan gerak yang lebih mencekung dengan menghadirkan beberapa pose-pose seolah-olah yang dimaksud ‘buron’ tadi sebagai makhluk yang sedang memburu sesuatu. Hal tersebut sangat nampak dari penggunaan level yang cenderung lebih sering merendah, pemilihan pose, bahkan gerakan-gerakan merangkak sekalipun turut hadir dalam tarian tersebut. Gerakan yang semakin nampak jelas ketika penari melakukan tolehan-tolehan yang seolah-olah mengamati keadaan sekitar menandakan sebuah pencarian atas sesuatu tersebut dihadirkan dalam tarian tersebut.

Pencarian tersebut bisa jadi sebagai sebuah strategi yang mendapatkan penangkapan oleh penontonnya hingga kemudian memunculkan interpretasi bahwa terdapat pembelajaran dari hasil karya tersebut yakni bagaimana mampu menangkap peluang dari keadaan sekitar. Penghadiran materi tari baik konsep atau gerakan tertangkap sebagai suatu sindiran yang hadir dan dilemparkan kepada orang banyak untuk dapat direfleksikan sebagai adaptasi sosial. Hal ini diinterpretasikan sebagai sindiran oleh kacamata penonton karena dianggap dalam kehidupan ini selain kita hidup terkadang tidak terlepas dari beberapa sifat binatang, namun suatu hal kecerdikan sebagai yang dimaksud ‘buron’ dalam pengertian Bali dimiliki tiap orang yakni ‘menangkap peluang’. Pemaknaan tersebut hadir ketika penari dalam memaknai gerakannya terlihat begitu dalam atas capaian sesuatu. Sering nampak kehadiran locomotor movement sebagai suatu yang sangat mungkin mewakilkan sebuah kata ‘buron’ sebagai buruan dalam proses mencari. Oleh karena itu, dua pemaknaan tersebut hadir bersamaan dalam satu karya yang terkonsep apik dan sangat menyentuh kental suasana tradisional Bali, ditambah turut menghadirkan suara-suara orang melakukan transaksi atau sekedar lewat saja dalam lingkup pasar.

Dalam akhir video karya tarinya, terkait dengan beberapa gerak sebagai pencarian itu tadi sangat berkaitan, yang mana penari melakukan pose terakhir yang menempati suatu tempat dan duduk sambil menatap fokus ke arah depan. Dari hal inilah kemudian tertangkap interpretasi bahwa jawaban dari hasil pencarian tersebut adalah sebagai goal yaitu kedudukan itu sendiri. Sebagaimana upaya melihat, mencari, dan menggapai peluang atas sesuatu kedudukan dalam prosesnya sering mengalami dan terkadang bermunculan sifat-sifat ‘buron’ sebagai hewan buruan yang kadang memerangi batin, pikiran seseorang ketika mengalami atau ingin bersaing atas sesuatu yang ingin dimilikinya.

Konsep-konsep yang hadir dalam tarian ini memunculkan interpretasi yang sangat kuat dalam penyampaian maknanya yang terlihat seperti suatu sindiran atau cerminan masyarakat. Sindiran terkait dengan kepemilikan kedudukan, bahwasanya setiap orang akan mengalami proses tersebut dan juga sangat besar kemungkinan ego dan sifat-sifat ‘buron’ sebagai buruan demi ingin memenangkan sesuatu pasti pernah menghampiri pikiran tiap manusia. Karya tari ini tertangkap memiliki harapan yang merujuk langsung pada orang yang mengalami sebagai proses penyadaran bahwa begitulah suatu proses yang sejatinya tidak sedikit orang pernah mengalaminya, akan tetapi semua orang dapat mengalami dan pasti akan mengalami.

Terbitan Terkait

Karya Kezia Alyssa

Kampana Trajectory Irfan Setiawan

2021-07-07T22:58:21+07:00Juli 9th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top