Performances
kampana
zip.conversations

Performance Hari Gulur (IND)
“Sila”

Irene Dwi Laras Hati
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Performance Hari Gulur (IND)
“Sila”

Irene Dwi Laras Hati
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Performance Hari Gulur (IND)
“Sila”

Irene Dwi Laras Hati
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta


“SILA” merupakan karya
work-in-progress yang digubah Hari Gulur dari posisi duduk bersila sembari melantunkan pujian pada Tuhan. Ritual tradisi dan keagamaan terutama yang ia ambil dari Madura, menjadi sebuah platform koreografi. “SILA” adalah ikhtiar mencapai puncak emosi dan spiritual namun dengan posisi tubuh menempel pada tanah dan membumi. Terinspirasi dari sikap tubuh masyarakat Madura baik laki-laki maupun perempuan, dalam pelaksanaan ritual tahlil, dengan menggunakan tubuhnya berdialog dengan Tuhan.

Menurut saya posisi duduk yang baik dan dapat semua orang lakukan adalah bersila, karena ini yang sudah dianjurkan di dalam ajaran nabi Muhammad SAW. Ketika kita mau makan di lantai, saat habis sholat dan untuk berdoa, saat untuk bermeditasi posisi duduk yang selalu digunakan adalah posisi bersila. Hal yang menarik dalam karya ini adalah sang koreografer bisa memikirkan dari posisi duduk sila ini bisa diperluas gaya geraknya sehingga mendapatkan satu rangkaian yang indah.

Dalam posisi duduk bersila seperti pada koreografi, merupakan suatu perkembangan dari duduk bersila, Saat menggerakan tubuh sedikit akan merasa tidak nyaman dan tidak bisa berlama-lama dalam posisi tersebut, sehingga dibutuhkan sebuah teknik pada gerak. Penari berlatih membiasakan diri untuk melakukan rangkaian gerak ini, supaya penari bisa menari dengan nyaman, aman dan dapat menjaga keseimbangan saat bergerak.

Gerak-gerak yang ada di dalam koreografi ini merupakan sebuah perkembangan dari gerakan keseharian seseorang selesai sholat atau sembahyang kemudian berdoa kepada ALLAH SWT. Gerakan duduk bersila adalah gerakan umum yang sering dilakukan oleh kaum muslim untuk berdoa kepada Allah SWT, dengan nuansa tempat seperti di masjid sehingga terlihat seperti seorang berikhtiar.

Tapi menurut saya, koreografer ini sedikit kurang konsisten pada musik yang digunakan untuk koreografinya, karena untuk di awal tarian musik yang abstrak sudah mendukung kemudian berganti nuansa musik seperti jazz yang kurang cocok menggambarkan untuk melantunkan pujian pada Allah SWT. Agar konsisten musik di semua adegan harus diperhatikan kesinambungan antara musik dengan ide garapan sehingga menjadi kesatuan dan memunculkan makna-makna pada karya ini. Mungkin bisa diberikan nuansa Islam atau Arab pada musik atau kemungkinan lain bisa digabungkan dengan alat musik tradisi Madura yang dibuat dengan nuansa Islam untuk membangun suasana melantunkan pujian kepada Allah SWT .

Dalam koreografi dibutuhkan sebuah kesinambungan antara gerak penari, musik, kostum hingga tempat untuk mendukung karya koreografi ini menjadi sebuah satu kesatuan dari ide garapan sang koreografer. Sekian ulasan saya pada karya koreografi berjudul “SILA,” saya harap ulasan ini dapat membantu sang koreografer Hari Gulur.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa


“SILA” merupakan karya
work-in-progress yang digubah Hari Gulur dari posisi duduk bersila sembari melantunkan pujian pada Tuhan. Ritual tradisi dan keagamaan terutama yang ia ambil dari Madura, menjadi sebuah platform koreografi. “SILA” adalah ikhtiar mencapai puncak emosi dan spiritual namun dengan posisi tubuh menempel pada tanah dan membumi. Terinspirasi dari sikap tubuh masyarakat Madura baik laki-laki maupun perempuan, dalam pelaksanaan ritual tahlil, dengan menggunakan tubuhnya berdialog dengan Tuhan.

Menurut saya posisi duduk yang baik dan dapat semua orang lakukan adalah bersila, karena ini yang sudah dianjurkan di dalam ajaran nabi Muhammad SAW. Ketika kita mau makan di lantai, saat habis sholat dan untuk berdoa, saat untuk bermeditasi posisi duduk yang selalu digunakan adalah posisi bersila. Hal yang menarik dalam karya ini adalah sang koreografer bisa memikirkan dari posisi duduk sila ini bisa diperluas gaya geraknya sehingga mendapatkan satu rangkaian yang indah.

Dalam posisi duduk bersila seperti pada koreografi, merupakan suatu perkembangan dari duduk bersila, Saat menggerakan tubuh sedikit akan merasa tidak nyaman dan tidak bisa berlama-lama dalam posisi tersebut, sehingga dibutuhkan sebuah teknik pada gerak. Penari berlatih membiasakan diri untuk melakukan rangkaian gerak ini, supaya penari bisa menari dengan nyaman, aman dan dapat menjaga keseimbangan saat bergerak.

Gerak-gerak yang ada di dalam koreografi ini merupakan sebuah perkembangan dari gerakan keseharian seseorang selesai sholat atau sembahyang kemudian berdoa kepada ALLAH SWT. Gerakan duduk bersila adalah gerakan umum yang sering dilakukan oleh kaum muslim untuk berdoa kepada Allah SWT, dengan nuansa tempat seperti di masjid sehingga terlihat seperti seorang berikhtiar.

Tapi menurut saya, koreografer ini sedikit kurang konsisten pada musik yang digunakan untuk koreografinya, karena untuk di awal tarian musik yang abstrak sudah mendukung kemudian berganti nuansa musik seperti jazz yang kurang cocok menggambarkan untuk melantunkan pujian pada Allah SWT. Agar konsisten musik di semua adegan harus diperhatikan kesinambungan antara musik dengan ide garapan sehingga menjadi kesatuan dan memunculkan makna-makna pada karya ini. Mungkin bisa diberikan nuansa Islam atau Arab pada musik atau kemungkinan lain bisa digabungkan dengan alat musik tradisi Madura yang dibuat dengan nuansa Islam untuk membangun suasana melantunkan pujian kepada Allah SWT .

Dalam koreografi dibutuhkan sebuah kesinambungan antara gerak penari, musik, kostum hingga tempat untuk mendukung karya koreografi ini menjadi sebuah satu kesatuan dari ide garapan sang koreografer. Sekian ulasan saya pada karya koreografi berjudul “SILA,” saya harap ulasan ini dapat membantu sang koreografer Hari Gulur.

Terbitan Terkait


“SILA” merupakan karya
work-in-progress yang digubah Hari Gulur dari posisi duduk bersila sembari melantunkan pujian pada Tuhan. Ritual tradisi dan keagamaan terutama yang ia ambil dari Madura, menjadi sebuah platform koreografi. “SILA” adalah ikhtiar mencapai puncak emosi dan spiritual namun dengan posisi tubuh menempel pada tanah dan membumi. Terinspirasi dari sikap tubuh masyarakat Madura baik laki-laki maupun perempuan, dalam pelaksanaan ritual tahlil, dengan menggunakan tubuhnya berdialog dengan Tuhan.

Menurut saya posisi duduk yang baik dan dapat semua orang lakukan adalah bersila, karena ini yang sudah dianjurkan di dalam ajaran nabi Muhammad SAW. Ketika kita mau makan di lantai, saat habis sholat dan untuk berdoa, saat untuk bermeditasi posisi duduk yang selalu digunakan adalah posisi bersila. Hal yang menarik dalam karya ini adalah sang koreografer bisa memikirkan dari posisi duduk sila ini bisa diperluas gaya geraknya sehingga mendapatkan satu rangkaian yang indah.

Dalam posisi duduk bersila seperti pada koreografi, merupakan suatu perkembangan dari duduk bersila, Saat menggerakan tubuh sedikit akan merasa tidak nyaman dan tidak bisa berlama-lama dalam posisi tersebut, sehingga dibutuhkan sebuah teknik pada gerak. Penari berlatih membiasakan diri untuk melakukan rangkaian gerak ini, supaya penari bisa menari dengan nyaman, aman dan dapat menjaga keseimbangan saat bergerak.

Gerak-gerak yang ada di dalam koreografi ini merupakan sebuah perkembangan dari gerakan keseharian seseorang selesai sholat atau sembahyang kemudian berdoa kepada ALLAH SWT. Gerakan duduk bersila adalah gerakan umum yang sering dilakukan oleh kaum muslim untuk berdoa kepada Allah SWT, dengan nuansa tempat seperti di masjid sehingga terlihat seperti seorang berikhtiar.

Tapi menurut saya, koreografer ini sedikit kurang konsisten pada musik yang digunakan untuk koreografinya, karena untuk di awal tarian musik yang abstrak sudah mendukung kemudian berganti nuansa musik seperti jazz yang kurang cocok menggambarkan untuk melantunkan pujian pada Allah SWT. Agar konsisten musik di semua adegan harus diperhatikan kesinambungan antara musik dengan ide garapan sehingga menjadi kesatuan dan memunculkan makna-makna pada karya ini. Mungkin bisa diberikan nuansa Islam atau Arab pada musik atau kemungkinan lain bisa digabungkan dengan alat musik tradisi Madura yang dibuat dengan nuansa Islam untuk membangun suasana melantunkan pujian kepada Allah SWT .

Dalam koreografi dibutuhkan sebuah kesinambungan antara gerak penari, musik, kostum hingga tempat untuk mendukung karya koreografi ini menjadi sebuah satu kesatuan dari ide garapan sang koreografer. Sekian ulasan saya pada karya koreografi berjudul “SILA,” saya harap ulasan ini dapat membantu sang koreografer Hari Gulur.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-15T23:25:10+07:00Juli 16th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top