Performances
kampana
zip.conversations

Pembahasan Kampana Trajectory
“Pulang” dan Re-reading Impact

Rheza Oktavia
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Pembahasan Kampana Trajectory
“Pulang” dan Re-reading Impact

Rheza Oktavia
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Pembahasan Kampana Trajectory “Pulang”
dan Re-reading Impact

Rheza Oktavia
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Irfan Setiawan merupakan pemuda kelahiran 26 Februari, 1996 asal Belinyu, Bangka Belitung. Irfan adalah seorang penari dan koreografer yang mengejar impian di IKJ dari tahun 2014 dan lulus pada Tahun 2019 dengan tugas akhirnya yang berjudul “IMPACT”. Sewaktu masih di Bangka Irfan mengikuti Sanggar Seni dan Budaya Kemuning.

Irfan sendiri menjadi Seniman Muda Indonesia yang aktif dan terus memotivasi dirinya untuk selalu berkarya. Beberapa karya yang Irfan buat sebagai berikut :

Karya Cipta Pertunjukan :

  • 1 dari 10
  • Dystopia
  • Encang encot
  • Bala’: Restoration of Behaviour
  • Melo Sang
  • Bunga Kenanga
  • Sun Ali : Rightful
  • Impact
  • Re-reading Impact

Dance Film :

  • Unknown
  • Fokus Ga Fokus
  • Diantara Abu-Abu
  • Paradox
  • Utopia

Dimasa mudanya, Irfan Setiawan sudah mendirikan dan menjadi Founder dari ALI Dance Company. ALI Dance Company merupakan ruang berproses kreatif yang didirikannya sejak 2016. Nama ‘ALI’ sendiri diambil dari nama Ayahnya yang bermakna pemimpin, kedudukan yang tinggi dan jiwa yang mendidik.

“Rasa keingintahuan yang terus dikembangkan bersama pertanyaan atau kegelisahan yang sulit dijawab di kehidupan sehari-hari biasanya jadi pemantik gagasan untuk terus ingin berkarya.”

Berikut jawab Irfan di sesi wawancara.


Trajectory ‘Pulang’

Dalam acara Indonesia Dance Festival (IDF), Irfan Setiawan hadir dengan 3 video yang dapat ditemui dalam kanal Youtube IDF yaitu: Intro, Trajectory “Pulang” dan Re-reading Impact.

“Hal spiritualitas atau kedekatan dengan sebuah budaya juga dipengaruhi atas rekam jejak atau pengalaman kita dengan suatu budaya. Karena mungkin juga saya tumbuh besar di Bangka, secara itu sudah sangat terbentuk dan melekat.”

Trajectory “Pulang” merupakan dokumentari tentang bagaimana Irfan Setiawan berproses dalam berkarya. Dalam video tersebut dia selalu berkata, “Saya kembali pulang.” Untuk kembali bertempur dan mengolah rumus unik cara kerjanya sebagai seniman dalam berkarya, yakni paradox.

Irfan menggunakan proses kerja “Benturan dan Pertanyaan” yang selalu mengusiknya dan demikian dia akan menemukan paradox-paradox yang terjadi dalam mitos dan falsafah di masyarakat Bangka, sekaligus melihat antara norma dan realita yang berlangsung di dalamnya.

Karya “Encang-Encot” juga dipicu dengan keadaan dimana seorang Ibu menidurkan anaknya dengan lagu dangdut yang berisikan lirik tidak pantas untuk anak kecil di dekat lokasi kosnya di Kali Pasir. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan “Bagaimana kelak anak yang ditidurkan dengan lagu dangdut?”. Rasa penasaran, kebutuhan spiritual, dan benturan yang terjadi di dalam pikirannya, membawa Irfan kembali pulang, dan menerapkan rumus kerja paradox, serta melihat apa yang tengah terjadi di masyarakat.

Begitu juga karya ‘Bala’ yang memunculkan pertanyaan “Kenapa aktivitas tambang berlangsung sementara upacara yang saya ikuti sedang merapal mantra?” dan karya ‘Sun Ali : Rightful’ yang menimbulkan benturan dan pertanyaan tentang “Refleksi Nilai Patriarki” di masyarakat Bangka Melayu masa itu.

Seperti ucapan Jawaharlal Nehru: “Krisis paling tidak memaksa kita berpikir.” Renungan-renungan selama pandemic Covid-19 membuat Irfan menemukan energy baru. “Energy baru yang dimaksud adalah ruang kontemplatif dari personal aku (Irfan) sendiri. Merenung, membaca ulang apa yang telah dilakukan, hingga melakukan auto kritik kepada diri sendiri. Hal ini membuka pemikiran baru untuk bertindak di masa yang akan datang.”

Pada akhirnya hal ini berkesinambungan kepada karya Re-reading Impact.


Sinopsis Karya :

“Re-reading Impact by Irfan Setiawan explores the contrasts of various types of impacts caused by individual choices, crowds, and the COVID-19 pandemic, while also tracing its origins, exposing the consequences, and stirring up our feelings while waiting for another impact to come with a louder sound.”

“Re-reading Impact oleh Irfan Setiawan mengeksplorasi kontras dari berbagai jenis dampak yang disebabkan oleh pilihan individu, keramaian, dan pandemi COVID-19, sembari menelusuri asal-usulnya, mengungkap akibatnya, dan menggugah perasaan kita sambil menunggu dampak lain untuk datang dengan suara yang lebih keras.”

Dalam karya tersebut Irfan menceritakan lebih mendalam tentang peristiwa tarik menarik antar individu dan kulturnya, fisik dengan unsur konstruksi sosial, politik dan ruang eksistensinya.

Pada karya Impact and Re-reading Impact ada beberapa hal yang berbeda dalam pembahasannya, namun tetap ada beberapa kesamaan. Kira-kira apa benang merah dalam kedua karya tersebut?

“Pada karya Impact yang pertama pemantiknya dari kejadian atau benturan-benturan yang aku temukan di Jakarta seperti kerumunan 212, kerumunan suporter Jakmania, hingga konser band metal dan aku masih melihatnya sebagai material yang dimaksud apa yang aku lihat kemudian aku konversikan ke koreografi.”

“Sedangkan di Re-reading Impact adanya pembacaan ulang kembali mengenai benturan yang lebih luas, hingga membaca asal muasal benturan yang terjadi dimuka bumi, secara dramaturgi ini hanya untuk memantik untuk mendapatkan refleksi yang lebih beragam yang kemudian akan berpengaruh untuk melihat benturan yang lebih dalam terutama dalam personal aku sendiri.”

Pada karya ini pun saya, dapat mengerti hal yang disampaikan walau harus menontonnya berulang kali. Banyak sekali hal yang Irfan jelaskan selama Pandemi berlangsung seperti berhentinya waktu, keputusasaan, terjebak, tarik-ulur, negosiasi, berada di garis rutinitas yang sama dan sempit juga adanya sebab-akibat yang terpecahkan maupun yang tidak akan tetapi tetap dijalankan dan pada akhirnya diri ini siap untuk menerima hal-hal yang akan datang kemudian.

Menurut saya Irfan sangat menarik karena proses Ia berkarya mengingatkan saya dengan perkataan seorang filsuf Jerman, “You need chaos in your soul to give birth to a dancing star” oleh Friedrich Nietzsche. Hal ini berkesinambungan dengan diri saya, karena sejak lahir tinggal di lingkungan masyarakat urban, yang membuat saya berbudaya di dalam budaya urban kota metropolitan. Berjalan menelusuri waktu kedepan dan berusaha tinggal di antara norma yang berlaku dan realitas yang berjalan berdampingan, yang masih harus saya dalami lebih lanjut.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Irfan Setiawan merupakan pemuda kelahiran 26 Februari, 1996 asal Belinyu, Bangka Belitung. Irfan adalah seorang penari dan koreografer yang mengejar impian di IKJ dari tahun 2014 dan lulus pada Tahun 2019 dengan tugas akhirnya yang berjudul “IMPACT”. Sewaktu masih di Bangka Irfan mengikuti Sanggar Seni dan Budaya Kemuning.

Irfan sendiri menjadi Seniman Muda Indonesia yang aktif dan terus memotivasi dirinya untuk selalu berkarya. Beberapa karya yang Irfan buat sebagai berikut :

Karya Cipta Pertunjukan :

  • 1 dari 10
  • Dystopia
  • Encang encot
  • Bala’: Restoration of Behaviour
  • Melo Sang
  • Bunga Kenanga
  • Sun Ali : Rightful
  • Impact
  • Re-reading Impact

Dance Film :

  • Unknown
  • Fokus Ga Fokus
  • Diantara Abu-Abu
  • Paradox
  • Utopia

Dimasa mudanya, Irfan Setiawan sudah mendirikan dan menjadi Founder dari ALI Dance Company. ALI Dance Company merupakan ruang berproses kreatif yang didirikannya sejak 2016. Nama ‘ALI’ sendiri diambil dari nama Ayahnya yang bermakna pemimpin, kedudukan yang tinggi dan jiwa yang mendidik.

“Rasa keingintahuan yang terus dikembangkan bersama pertanyaan atau kegelisahan yang sulit dijawab di kehidupan sehari-hari biasanya jadi pemantik gagasan untuk terus ingin berkarya.”

Berikut jawab Irfan di sesi wawancara.


Trajectory ‘Pulang’

Dalam acara Indonesia Dance Festival (IDF), Irfan Setiawan hadir dengan 3 video yang dapat ditemui dalam kanal Youtube IDF yaitu: Intro, Trajectory “Pulang” dan Re-reading Impact.

“Hal spiritualitas atau kedekatan dengan sebuah budaya juga dipengaruhi atas rekam jejak atau pengalaman kita dengan suatu budaya. Karena mungkin juga saya tumbuh besar di Bangka, secara itu sudah sangat terbentuk dan melekat.”

Trajectory “Pulang” merupakan dokumentari tentang bagaimana Irfan Setiawan berproses dalam berkarya. Dalam video tersebut dia selalu berkata, “Saya kembali pulang.” Untuk kembali bertempur dan mengolah rumus unik cara kerjanya sebagai seniman dalam berkarya, yakni paradox.

Irfan menggunakan proses kerja “Benturan dan Pertanyaan” yang selalu mengusiknya dan demikian dia akan menemukan paradox-paradox yang terjadi dalam mitos dan falsafah di masyarakat Bangka, sekaligus melihat antara norma dan realita yang berlangsung di dalamnya.

Karya “Encang-Encot” juga dipicu dengan keadaan dimana seorang Ibu menidurkan anaknya dengan lagu dangdut yang berisikan lirik tidak pantas untuk anak kecil di dekat lokasi kosnya di Kali Pasir. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan “Bagaimana kelak anak yang ditidurkan dengan lagu dangdut?”. Rasa penasaran, kebutuhan spiritual, dan benturan yang terjadi di dalam pikirannya, membawa Irfan kembali pulang, dan menerapkan rumus kerja paradox, serta melihat apa yang tengah terjadi di masyarakat.

Begitu juga karya ‘Bala’ yang memunculkan pertanyaan “Kenapa aktivitas tambang berlangsung sementara upacara yang saya ikuti sedang merapal mantra?” dan karya ‘Sun Ali : Rightful’ yang menimbulkan benturan dan pertanyaan tentang “Refleksi Nilai Patriarki” di masyarakat Bangka Melayu masa itu.

Seperti ucapan Jawaharlal Nehru: “Krisis paling tidak memaksa kita berpikir.” Renungan-renungan selama pandemic Covid-19 membuat Irfan menemukan energy baru. “Energy baru yang dimaksud adalah ruang kontemplatif dari personal aku (Irfan) sendiri. Merenung, membaca ulang apa yang telah dilakukan, hingga melakukan auto kritik kepada diri sendiri. Hal ini membuka pemikiran baru untuk bertindak di masa yang akan datang.”

Pada akhirnya hal ini berkesinambungan kepada karya Re-reading Impact.


Sinopsis Karya :

“Re-reading Impact by Irfan Setiawan explores the contrasts of various types of impacts caused by individual choices, crowds, and the COVID-19 pandemic, while also tracing its origins, exposing the consequences, and stirring up our feelings while waiting for another impact to come with a louder sound.”

“Re-reading Impact oleh Irfan Setiawan mengeksplorasi kontras dari berbagai jenis dampak yang disebabkan oleh pilihan individu, keramaian, dan pandemi COVID-19, sembari menelusuri asal-usulnya, mengungkap akibatnya, dan menggugah perasaan kita sambil menunggu dampak lain untuk datang dengan suara yang lebih keras.”

Dalam karya tersebut Irfan menceritakan lebih mendalam tentang peristiwa tarik menarik antar individu dan kulturnya, fisik dengan unsur konstruksi sosial, politik dan ruang eksistensinya.

Pada karya Impact and Re-reading Impact ada beberapa hal yang berbeda dalam pembahasannya, namun tetap ada beberapa kesamaan. Kira-kira apa benang merah dalam kedua karya tersebut?

“Pada karya Impact yang pertama pemantiknya dari kejadian atau benturan-benturan yang aku temukan di Jakarta seperti kerumunan 212, kerumunan suporter Jakmania, hingga konser band metal dan aku masih melihatnya sebagai material yang dimaksud apa yang aku lihat kemudian aku konversikan ke koreografi.”

“Sedangkan di Re-reading Impact adanya pembacaan ulang kembali mengenai benturan yang lebih luas, hingga membaca asal muasal benturan yang terjadi dimuka bumi, secara dramaturgi ini hanya untuk memantik untuk mendapatkan refleksi yang lebih beragam yang kemudian akan berpengaruh untuk melihat benturan yang lebih dalam terutama dalam personal aku sendiri.”

Pada karya ini pun saya, dapat mengerti hal yang disampaikan walau harus menontonnya berulang kali. Banyak sekali hal yang Irfan jelaskan selama Pandemi berlangsung seperti berhentinya waktu, keputusasaan, terjebak, tarik-ulur, negosiasi, berada di garis rutinitas yang sama dan sempit juga adanya sebab-akibat yang terpecahkan maupun yang tidak akan tetapi tetap dijalankan dan pada akhirnya diri ini siap untuk menerima hal-hal yang akan datang kemudian.

Menurut saya Irfan sangat menarik karena proses Ia berkarya mengingatkan saya dengan perkataan seorang filsuf Jerman, “You need chaos in your soul to give birth to a dancing star” oleh Friedrich Nietzsche. Hal ini berkesinambungan dengan diri saya, karena sejak lahir tinggal di lingkungan masyarakat urban, yang membuat saya berbudaya di dalam budaya urban kota metropolitan. Berjalan menelusuri waktu kedepan dan berusaha tinggal di antara norma yang berlaku dan realitas yang berjalan berdampingan, yang masih harus saya dalami lebih lanjut.

Terbitan Terkait

Irfan Setiawan merupakan pemuda kelahiran 26 Februari, 1996 asal Belinyu, Bangka Belitung. Irfan adalah seorang penari dan koreografer yang mengejar impian di IKJ dari tahun 2014 dan lulus pada Tahun 2019 dengan tugas akhirnya yang berjudul “IMPACT”. Sewaktu masih di Bangka Irfan mengikuti Sanggar Seni dan Budaya Kemuning.

Irfan sendiri menjadi Seniman Muda Indonesia yang aktif dan terus memotivasi dirinya untuk selalu berkarya. Beberapa karya yang Irfan buat sebagai berikut :

Karya Cipta Pertunjukan :

  • 1 dari 10
  • Dystopia
  • Encang encot
  • Bala’: Restoration of Behaviour
  • Melo Sang
  • Bunga Kenanga
  • Sun Ali : Rightful
  • Impact
  • Re-reading Impact

Dance Film :

  • Unknown
  • Fokus Ga Fokus
  • Diantara Abu-Abu
  • Paradox
  • Utopia

Dimasa mudanya, Irfan Setiawan sudah mendirikan dan menjadi Founder dari ALI Dance Company. ALI Dance Company merupakan ruang berproses kreatif yang didirikannya sejak 2016. Nama ‘ALI’ sendiri diambil dari nama Ayahnya yang bermakna pemimpin, kedudukan yang tinggi dan jiwa yang mendidik.

“Rasa keingintahuan yang terus dikembangkan bersama pertanyaan atau kegelisahan yang sulit dijawab di kehidupan sehari-hari biasanya jadi pemantik gagasan untuk terus ingin berkarya.”

Berikut jawab Irfan di sesi wawancara.


Trajectory ‘Pulang’

Dalam acara Indonesia Dance Festival (IDF), Irfan Setiawan hadir dengan 3 video yang dapat ditemui dalam kanal Youtube IDF yaitu: Intro, Trajectory “Pulang” dan Re-reading Impact.

“Hal spiritualitas atau kedekatan dengan sebuah budaya juga dipengaruhi atas rekam jejak atau pengalaman kita dengan suatu budaya. Karena mungkin juga saya tumbuh besar di Bangka, secara itu sudah sangat terbentuk dan melekat.”

Trajectory “Pulang” merupakan dokumentari tentang bagaimana Irfan Setiawan berproses dalam berkarya. Dalam video tersebut dia selalu berkata, “Saya kembali pulang.” Untuk kembali bertempur dan mengolah rumus unik cara kerjanya sebagai seniman dalam berkarya, yakni paradox.

Irfan menggunakan proses kerja “Benturan dan Pertanyaan” yang selalu mengusiknya dan demikian dia akan menemukan paradox-paradox yang terjadi dalam mitos dan falsafah di masyarakat Bangka, sekaligus melihat antara norma dan realita yang berlangsung di dalamnya.

Karya “Encang-Encot” juga dipicu dengan keadaan dimana seorang Ibu menidurkan anaknya dengan lagu dangdut yang berisikan lirik tidak pantas untuk anak kecil di dekat lokasi kosnya di Kali Pasir. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan “Bagaimana kelak anak yang ditidurkan dengan lagu dangdut?”. Rasa penasaran, kebutuhan spiritual, dan benturan yang terjadi di dalam pikirannya, membawa Irfan kembali pulang, dan menerapkan rumus kerja paradox, serta melihat apa yang tengah terjadi di masyarakat.

Begitu juga karya ‘Bala’ yang memunculkan pertanyaan “Kenapa aktivitas tambang berlangsung sementara upacara yang saya ikuti sedang merapal mantra?” dan karya ‘Sun Ali : Rightful’ yang menimbulkan benturan dan pertanyaan tentang “Refleksi Nilai Patriarki” di masyarakat Bangka Melayu masa itu.

Seperti ucapan Jawaharlal Nehru: “Krisis paling tidak memaksa kita berpikir.” Renungan-renungan selama pandemic Covid-19 membuat Irfan menemukan energy baru. “Energy baru yang dimaksud adalah ruang kontemplatif dari personal aku (Irfan) sendiri. Merenung, membaca ulang apa yang telah dilakukan, hingga melakukan auto kritik kepada diri sendiri. Hal ini membuka pemikiran baru untuk bertindak di masa yang akan datang.”

Pada akhirnya hal ini berkesinambungan kepada karya Re-reading Impact.


Sinopsis Karya :

“Re-reading Impact by Irfan Setiawan explores the contrasts of various types of impacts caused by individual choices, crowds, and the COVID-19 pandemic, while also tracing its origins, exposing the consequences, and stirring up our feelings while waiting for another impact to come with a louder sound.”

“Re-reading Impact oleh Irfan Setiawan mengeksplorasi kontras dari berbagai jenis dampak yang disebabkan oleh pilihan individu, keramaian, dan pandemi COVID-19, sembari menelusuri asal-usulnya, mengungkap akibatnya, dan menggugah perasaan kita sambil menunggu dampak lain untuk datang dengan suara yang lebih keras.”

Dalam karya tersebut Irfan menceritakan lebih mendalam tentang peristiwa tarik menarik antar individu dan kulturnya, fisik dengan unsur konstruksi sosial, politik dan ruang eksistensinya.

Pada karya Impact and Re-reading Impact ada beberapa hal yang berbeda dalam pembahasannya, namun tetap ada beberapa kesamaan. Kira-kira apa benang merah dalam kedua karya tersebut?

“Pada karya Impact yang pertama pemantiknya dari kejadian atau benturan-benturan yang aku temukan di Jakarta seperti kerumunan 212, kerumunan suporter Jakmania, hingga konser band metal dan aku masih melihatnya sebagai material yang dimaksud apa yang aku lihat kemudian aku konversikan ke koreografi.”

“Sedangkan di Re-reading Impact adanya pembacaan ulang kembali mengenai benturan yang lebih luas, hingga membaca asal muasal benturan yang terjadi dimuka bumi, secara dramaturgi ini hanya untuk memantik untuk mendapatkan refleksi yang lebih beragam yang kemudian akan berpengaruh untuk melihat benturan yang lebih dalam terutama dalam personal aku sendiri.”

Pada karya ini pun saya, dapat mengerti hal yang disampaikan walau harus menontonnya berulang kali. Banyak sekali hal yang Irfan jelaskan selama Pandemi berlangsung seperti berhentinya waktu, keputusasaan, terjebak, tarik-ulur, negosiasi, berada di garis rutinitas yang sama dan sempit juga adanya sebab-akibat yang terpecahkan maupun yang tidak akan tetapi tetap dijalankan dan pada akhirnya diri ini siap untuk menerima hal-hal yang akan datang kemudian.

Menurut saya Irfan sangat menarik karena proses Ia berkarya mengingatkan saya dengan perkataan seorang filsuf Jerman, “You need chaos in your soul to give birth to a dancing star” oleh Friedrich Nietzsche. Hal ini berkesinambungan dengan diri saya, karena sejak lahir tinggal di lingkungan masyarakat urban, yang membuat saya berbudaya di dalam budaya urban kota metropolitan. Berjalan menelusuri waktu kedepan dan berusaha tinggal di antara norma yang berlaku dan realitas yang berjalan berdampingan, yang masih harus saya dalami lebih lanjut.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-06-25T14:32:24+07:00Juni 25th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top