Performances
kampana
zip.conversations

Laporan Hasil Pengamatan Pertunjukan
Indonesia Dance Festival 2020

I Made Agus Tresna Tanaya
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Laporan Hasil Pengamatan Pertunjukan
Indonesia Dance Festival 2020

I Made Agus Tresna Tanaya
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Laporan Hasil Pengamatan Pertunjukan
Indonesia Dance Festival 2020

I Made Agus Tresna Tanaya
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Acara pada 14 November 2020 adalah Indonesia Dance Festival, dimulai pukul. 08.00 WIB. Pada kesempatan ini ada beberapa tokoh yang menyatakan pendapatnya, seperti,

  1. Ayu Utami
  2. Melanie Lane
  3. Eko Supriyanto
  4. Linda Mayasari (Moderator)
  5. Rebecca Kezia (Moderator)


Ayu Utami berpendapat bahwa pada masa pandemi ini semua orang mendapat kesulitan dalam merealisasikan suatu kegiatan, khususnya di bidang seni tari. Dengan adanya festival ini pastinya sangat membantu para seniman khususnya seniman tari untuk terus berkarya dan memperdalam arti seni itu sendiri. Menurut beliau, tari adalah suatu puisi dari bahasa tubuh. Bukan karena dia harus indah tetapi karena dia harus ada di ruang yang memungkinkan pembebasan. Pembebasan tubuh dari bentuk-bentuk bahasa yang telah menjadi baku dan beku. Tari adalah puisi dalam arti ia memelihara ruang untuk terbebas dari konvensi-konvensi tersebut yang bisa diolah menjadi kebebasan.

Di sini Ayu Utami menggarisbawahi gerak pembebasan yang menurut beliau seni adalah ruang yang memungkinkan gerak pembebasan itu. Ada dua frase kunci yang ingin beliau tekankan, pertama, adalah seni sebagai ruang yang memungkinkan suatu kebebasan. Kedua; festival sebagai ruang konkrit yang memelihara kemungkinan itu. Menurut pendapat Ayu Utami, segala persoalan atau solusi atau eksperimen harus bisa diukurkan ke arah pembebasan dan emansipasi. Sayangnya situasi pandemi ini memaksa festival tari ini harus berjalan virtual. Konsekuensinya, kita harus lebih bergantung lagi pada teknologi digital.

Tentunya ada masalah yang timbul dari hal ini yaitu yang pertama dalam festival virtual terjadi penyusutan tubuh nyata menjadi tubuh virtual atau tubuh citra. Dengan demikian ada risiko bahwa tubuh subjek menjadi tubuh objek dan presentasi berubah menjadi representasi. Lalu kedua; ketergantungan teknologi tentunya berbahaya, karena kita tahu distribusi teknologi tidak pernah sama rata bagi semua orang, ada kesenjangan elit yang terakses oleh teknologi dan yang tidak terakses oleh teknologi. Keadaan ini bisa menyebabkan eksklusi dan alienasi baru bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi.

Selain itu Ayu Utami juga mengajak kita semua untuk tidak terlalu antusias secara berlebihan tentang perpindahan festival dari nyata ke virtual atau daring tetapi kita juga tidak perlu terlalu pesimistis. Sisi baik dari festival virtual ini adalah mengatasi masalah geografis dan batasan waktu yang tentunya festival online memiliki potensi energi demokratisasi terutama dalam menyebarkan wacana. Tetapi secara paradox ketergantungan terhadap teknologi juga membawa risiko anti demokratisasi dan yang pasti kita harus mengambil sisi positif dari situasi ini.

Eko Supriyanto menyatakan bahwa festival virtual ini adalah ruang pengganti untuk melihat sesuatu proses kesenian yang tentunya sangat susah ditemukan dalam kondisi pandemi ini. Dalam hal ini pun beliau juga merasa sedang berproses yaitu dengan teknologi karena beliau mengatakan kalau beliau sangat gagap dengan teknologi dan tidak mengerti banyak tentang online, virtual, typing dan lain sebagainya yang harus dimasukkan ke dalam virtual dan ini menurutnya menjadi suatu proses yang berbeda. Hal yang sangat menarik bagi beliau yaitu pemerintah banyak memberikan kesempatan khususnya pada para seniman untuk berproses dan mengekspresikan diri lagi, namun dalam ranah virtual dan ini tentunya memberi dampak yang baik bagi para seniman.

Ketika melihat IDF, ini juga merupakan suatu tantangan tersendiri, membuat festival virtual yang tentunya memberikan kesempatan bagi banyak seniman untuk berkarya. Menurut Eko Supriyanto, masa ini adalah masa pengganti yang memungkinkan kita harus beradaptasi, dan bagi Eko memungkinkan ada banyak ruang baru untuk berdiskusi lagi dengan teman-teman, ngobrol di instagram dengan beberapa tokoh seniman yang dilakukan secara rutin, dan ini menjadi suatu tantangan dan pemikiran baru untuk selalu diupayakan keberlanjutannya.

Eko merasa sangat beruntung banyak diberikan ruang-ruang berekspresi dan terus mencari-cari, dan beliau juga menyadari ada banyak seniman yang tidak bisa mendapatkan kesempatan seperti dirinya. Dengan adanya IDF, ini kita semua semakin disadarkan bahwa ada cara-cara baru dan ruang-ruang baru yang dapat dikerjakan dengan cara yang berbeda, dan tentunya tidak akan sama lagi dengan tahun sebelumnya.

Melanie Lane adalah seorang koreografer dari Australia dan penari yang mementaskan kebudayaan Eropa dan Jawa. Beliau juga sudah banyak berkolaborasi dengan seniman film, seni rupa, dan musik dalam menciptakan suatu karya. Melanie mengatakan sangat tertarik dengan pengalaman Eko Supriyanto, karena sebagai seniman ia juga mengalami hal serupa, dan Melanie juga tertarik pada paparan Eko tentang keberadaan tubuh. Dalam situasi saat ini tidak hanya terkait dengan perpindahan ke dunia virtual dan mempertahankan proses kreatif, ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kerjasama kolektif yang dijalani oleh kita semua. Penggunaan masker, jarak sosial, semuanya berkaitan dengan tubuh.

Melanie menyatakan penting untuk menyadari keadaan kolektif saat ini karena Ia mengalami amplifikasi tentang gagasan keberadaan tubuh. Kehadiran dan tubuh tidak hanya berkaitan dengan dunia tari tetapi juga kehidupan sehari-hari. Sekarang mungkin menjadi semakin sensitif dengan isu tubuh, kontak antar tubuh yang terbatasi, keberadaan tubuh di dalam dan di luar ruangan benar benar teramplifikasi saat ini. Melanie Lane juga mengatakan bahwa media sosial juga merupakan hal yang menarik untuk mengkaji keberadaan tubuh. Sebuah ironi bagi beliau bahwa teknologi juga sangat mendukung kehidupan kita khususnya seniman. Sebagai contoh adalah IDF ini, yang memberikan seniman khususnya dirinya untuk bisa kreatif dan lebih berinovasi dengan kesenian di masa pandemi ini. Dunia virtual banyak memberikan kesempatan untuk berbagi dan bertukar pikiran tentang kesenian khususnya seni tari saat ini.

Indonesian Dance Festival pada tahun ini menurut saya sangat banyak memberi pembelajaran bagi saya dan seniman khususnya di bidang seni tari, yaitu bagaimana kita tetap berproses dan berkegiatan di masa pandemi ini. Bagaimana kita harus tetap berpikir positif dan selalu mencari cara menyesuaikan diri dengan teknologi yang tentunya tidak harus tergantung juga pada teknologi itu sendiri. Bagaimana kita bisa lebih teliti memilah dampak pandemi saat ini yang baik untuk kita dan seniman lainnya untuk terus berproses dan tidak pernah berhenti.

Terakhir bagaimana kita belajar dari pengalaman para tokoh yang sudah berbicara pada acara IDF ini yang tentunya juga memiliki pengalaman dan ‘jam terbang’ yang sangat luas. Selain itu diperlukan juga dari dukungan masyarakat dan pemerintah untuk selalu memberi ruang untuk berkarya seperti, mengadakan lomba atau festival virtual yang memotivasi banyak orang agar tidak berhenti untuk selalu berkesenian walaupun dalam kendala pandemi saat ini.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Acara pada 14 November 2020 adalah Indonesia Dance Festival, dimulai pukul. 08.00 WIB. Pada kesempatan ini ada beberapa tokoh yang menyatakan pendapatnya, seperti,

  1. Ayu Utami
  2. Melanie Lane
  3. Eko Supriyanto
  4. Linda Mayasari (Moderator)
  5. Rebecca Kezia (Moderator)


Ayu Utami berpendapat bahwa pada masa pandemi ini semua orang mendapat kesulitan dalam merealisasikan suatu kegiatan, khususnya di bidang seni tari. Dengan adanya festival ini pastinya sangat membantu para seniman khususnya seniman tari untuk terus berkarya dan memperdalam arti seni itu sendiri. Menurut beliau, tari adalah suatu puisi dari bahasa tubuh. Bukan karena dia harus indah tetapi karena dia harus ada di ruang yang memungkinkan pembebasan. Pembebasan tubuh dari bentuk-bentuk bahasa yang telah menjadi baku dan beku. Tari adalah puisi dalam arti ia memelihara ruang untuk terbebas dari konvensi-konvensi tersebut yang bisa diolah menjadi kebebasan.

Di sini Ayu Utami menggarisbawahi gerak pembebasan yang menurut beliau seni adalah ruang yang memungkinkan gerak pembebasan itu. Ada dua frase kunci yang ingin beliau tekankan, pertama, adalah seni sebagai ruang yang memungkinkan suatu kebebasan. Kedua; festival sebagai ruang konkrit yang memelihara kemungkinan itu. Menurut pendapat Ayu Utami, segala persoalan atau solusi atau eksperimen harus bisa diukurkan ke arah pembebasan dan emansipasi. Sayangnya situasi pandemi ini memaksa festival tari ini harus berjalan virtual. Konsekuensinya, kita harus lebih bergantung lagi pada teknologi digital.

Tentunya ada masalah yang timbul dari hal ini yaitu yang pertama dalam festival virtual terjadi penyusutan tubuh nyata menjadi tubuh virtual atau tubuh citra. Dengan demikian ada risiko bahwa tubuh subjek menjadi tubuh objek dan presentasi berubah menjadi representasi. Lalu kedua; ketergantungan teknologi tentunya berbahaya, karena kita tahu distribusi teknologi tidak pernah sama rata bagi semua orang, ada kesenjangan elit yang terakses oleh teknologi dan yang tidak terakses oleh teknologi. Keadaan ini bisa menyebabkan eksklusi dan alienasi baru bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi.

Selain itu Ayu Utami juga mengajak kita semua untuk tidak terlalu antusias secara berlebihan tentang perpindahan festival dari nyata ke virtual atau daring tetapi kita juga tidak perlu terlalu pesimistis. Sisi baik dari festival virtual ini adalah mengatasi masalah geografis dan batasan waktu yang tentunya festival online memiliki potensi energi demokratisasi terutama dalam menyebarkan wacana. Tetapi secara paradox ketergantungan terhadap teknologi juga membawa risiko anti demokratisasi dan yang pasti kita harus mengambil sisi positif dari situasi ini.

Eko Supriyanto menyatakan bahwa festival virtual ini adalah ruang pengganti untuk melihat sesuatu proses kesenian yang tentunya sangat susah ditemukan dalam kondisi pandemi ini. Dalam hal ini pun beliau juga merasa sedang berproses yaitu dengan teknologi karena beliau mengatakan kalau beliau sangat gagap dengan teknologi dan tidak mengerti banyak tentang online, virtual, typing dan lain sebagainya yang harus dimasukkan ke dalam virtual dan ini menurutnya menjadi suatu proses yang berbeda. Hal yang sangat menarik bagi beliau yaitu pemerintah banyak memberikan kesempatan khususnya pada para seniman untuk berproses dan mengekspresikan diri lagi, namun dalam ranah virtual dan ini tentunya memberi dampak yang baik bagi para seniman.

Ketika melihat IDF, ini juga merupakan suatu tantangan tersendiri, membuat festival virtual yang tentunya memberikan kesempatan bagi banyak seniman untuk berkarya. Menurut Eko Supriyanto, masa ini adalah masa pengganti yang memungkinkan kita harus beradaptasi, dan bagi Eko memungkinkan ada banyak ruang baru untuk berdiskusi lagi dengan teman-teman, ngobrol di instagram dengan beberapa tokoh seniman yang dilakukan secara rutin, dan ini menjadi suatu tantangan dan pemikiran baru untuk selalu diupayakan keberlanjutannya.

Eko merasa sangat beruntung banyak diberikan ruang-ruang berekspresi dan terus mencari-cari, dan beliau juga menyadari ada banyak seniman yang tidak bisa mendapatkan kesempatan seperti dirinya. Dengan adanya IDF, ini kita semua semakin disadarkan bahwa ada cara-cara baru dan ruang-ruang baru yang dapat dikerjakan dengan cara yang berbeda, dan tentunya tidak akan sama lagi dengan tahun sebelumnya.

Melanie Lane adalah seorang koreografer dari Australia dan penari yang mementaskan kebudayaan Eropa dan Jawa. Beliau juga sudah banyak berkolaborasi dengan seniman film, seni rupa, dan musik dalam menciptakan suatu karya. Melanie mengatakan sangat tertarik dengan pengalaman Eko Supriyanto, karena sebagai seniman ia juga mengalami hal serupa, dan Melanie juga tertarik pada paparan Eko tentang keberadaan tubuh. Dalam situasi saat ini tidak hanya terkait dengan perpindahan ke dunia virtual dan mempertahankan proses kreatif, ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kerjasama kolektif yang dijalani oleh kita semua. Penggunaan masker, jarak sosial, semuanya berkaitan dengan tubuh.

Melanie menyatakan penting untuk menyadari keadaan kolektif saat ini karena Ia mengalami amplifikasi tentang gagasan keberadaan tubuh. Kehadiran dan tubuh tidak hanya berkaitan dengan dunia tari tetapi juga kehidupan sehari-hari. Sekarang mungkin menjadi semakin sensitif dengan isu tubuh, kontak antar tubuh yang terbatasi, keberadaan tubuh di dalam dan di luar ruangan benar benar teramplifikasi saat ini. Melanie Lane juga mengatakan bahwa media sosial juga merupakan hal yang menarik untuk mengkaji keberadaan tubuh. Sebuah ironi bagi beliau bahwa teknologi juga sangat mendukung kehidupan kita khususnya seniman. Sebagai contoh adalah IDF ini, yang memberikan seniman khususnya dirinya untuk bisa kreatif dan lebih berinovasi dengan kesenian di masa pandemi ini. Dunia virtual banyak memberikan kesempatan untuk berbagi dan bertukar pikiran tentang kesenian khususnya seni tari saat ini.

Indonesian Dance Festival pada tahun ini menurut saya sangat banyak memberi pembelajaran bagi saya dan seniman khususnya di bidang seni tari, yaitu bagaimana kita tetap berproses dan berkegiatan di masa pandemi ini. Bagaimana kita harus tetap berpikir positif dan selalu mencari cara menyesuaikan diri dengan teknologi yang tentunya tidak harus tergantung juga pada teknologi itu sendiri. Bagaimana kita bisa lebih teliti memilah dampak pandemi saat ini yang baik untuk kita dan seniman lainnya untuk terus berproses dan tidak pernah berhenti.

Terakhir bagaimana kita belajar dari pengalaman para tokoh yang sudah berbicara pada acara IDF ini yang tentunya juga memiliki pengalaman dan ‘jam terbang’ yang sangat luas. Selain itu diperlukan juga dari dukungan masyarakat dan pemerintah untuk selalu memberi ruang untuk berkarya seperti, mengadakan lomba atau festival virtual yang memotivasi banyak orang agar tidak berhenti untuk selalu berkesenian walaupun dalam kendala pandemi saat ini.

Terbitan Terkait

Acara pada 14 November 2020 adalah Indonesia Dance Festival, dimulai pukul. 08.00 WIB. Pada kesempatan ini ada beberapa tokoh yang menyatakan pendapatnya, seperti,

  1. Ayu Utami
  2. Melanie Lane
  3. Eko Supriyanto
  4. Linda Mayasari (Moderator)
  5. Rebecca Kezia (Moderator)


Ayu Utami berpendapat bahwa pada masa pandemi ini semua orang mendapat kesulitan dalam merealisasikan suatu kegiatan, khususnya di bidang seni tari. Dengan adanya festival ini pastinya sangat membantu para seniman khususnya seniman tari untuk terus berkarya dan memperdalam arti seni itu sendiri. Menurut beliau, tari adalah suatu puisi dari bahasa tubuh. Bukan karena dia harus indah tetapi karena dia harus ada di ruang yang memungkinkan pembebasan. Pembebasan tubuh dari bentuk-bentuk bahasa yang telah menjadi baku dan beku. Tari adalah puisi dalam arti ia memelihara ruang untuk terbebas dari konvensi-konvensi tersebut yang bisa diolah menjadi kebebasan.

Di sini Ayu Utami menggarisbawahi gerak pembebasan yang menurut beliau seni adalah ruang yang memungkinkan gerak pembebasan itu. Ada dua frase kunci yang ingin beliau tekankan, pertama, adalah seni sebagai ruang yang memungkinkan suatu kebebasan. Kedua; festival sebagai ruang konkrit yang memelihara kemungkinan itu. Menurut pendapat Ayu Utami, segala persoalan atau solusi atau eksperimen harus bisa diukurkan ke arah pembebasan dan emansipasi. Sayangnya situasi pandemi ini memaksa festival tari ini harus berjalan virtual. Konsekuensinya, kita harus lebih bergantung lagi pada teknologi digital.

Tentunya ada masalah yang timbul dari hal ini yaitu yang pertama dalam festival virtual terjadi penyusutan tubuh nyata menjadi tubuh virtual atau tubuh citra. Dengan demikian ada risiko bahwa tubuh subjek menjadi tubuh objek dan presentasi berubah menjadi representasi. Lalu kedua; ketergantungan teknologi tentunya berbahaya, karena kita tahu distribusi teknologi tidak pernah sama rata bagi semua orang, ada kesenjangan elit yang terakses oleh teknologi dan yang tidak terakses oleh teknologi. Keadaan ini bisa menyebabkan eksklusi dan alienasi baru bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi.

Selain itu Ayu Utami juga mengajak kita semua untuk tidak terlalu antusias secara berlebihan tentang perpindahan festival dari nyata ke virtual atau daring tetapi kita juga tidak perlu terlalu pesimistis. Sisi baik dari festival virtual ini adalah mengatasi masalah geografis dan batasan waktu yang tentunya festival online memiliki potensi energi demokratisasi terutama dalam menyebarkan wacana. Tetapi secara paradox ketergantungan terhadap teknologi juga membawa risiko anti demokratisasi dan yang pasti kita harus mengambil sisi positif dari situasi ini.

Eko Supriyanto menyatakan bahwa festival virtual ini adalah ruang pengganti untuk melihat sesuatu proses kesenian yang tentunya sangat susah ditemukan dalam kondisi pandemi ini. Dalam hal ini pun beliau juga merasa sedang berproses yaitu dengan teknologi karena beliau mengatakan kalau beliau sangat gagap dengan teknologi dan tidak mengerti banyak tentang online, virtual, typing dan lain sebagainya yang harus dimasukkan ke dalam virtual dan ini menurutnya menjadi suatu proses yang berbeda. Hal yang sangat menarik bagi beliau yaitu pemerintah banyak memberikan kesempatan khususnya pada para seniman untuk berproses dan mengekspresikan diri lagi, namun dalam ranah virtual dan ini tentunya memberi dampak yang baik bagi para seniman.

Ketika melihat IDF, ini juga merupakan suatu tantangan tersendiri, membuat festival virtual yang tentunya memberikan kesempatan bagi banyak seniman untuk berkarya. Menurut Eko Supriyanto, masa ini adalah masa pengganti yang memungkinkan kita harus beradaptasi, dan bagi Eko memungkinkan ada banyak ruang baru untuk berdiskusi lagi dengan teman-teman, ngobrol di instagram dengan beberapa tokoh seniman yang dilakukan secara rutin, dan ini menjadi suatu tantangan dan pemikiran baru untuk selalu diupayakan keberlanjutannya.

Eko merasa sangat beruntung banyak diberikan ruang-ruang berekspresi dan terus mencari-cari, dan beliau juga menyadari ada banyak seniman yang tidak bisa mendapatkan kesempatan seperti dirinya. Dengan adanya IDF, ini kita semua semakin disadarkan bahwa ada cara-cara baru dan ruang-ruang baru yang dapat dikerjakan dengan cara yang berbeda, dan tentunya tidak akan sama lagi dengan tahun sebelumnya.

Melanie Lane adalah seorang koreografer dari Australia dan penari yang mementaskan kebudayaan Eropa dan Jawa. Beliau juga sudah banyak berkolaborasi dengan seniman film, seni rupa, dan musik dalam menciptakan suatu karya. Melanie mengatakan sangat tertarik dengan pengalaman Eko Supriyanto, karena sebagai seniman ia juga mengalami hal serupa, dan Melanie juga tertarik pada paparan Eko tentang keberadaan tubuh. Dalam situasi saat ini tidak hanya terkait dengan perpindahan ke dunia virtual dan mempertahankan proses kreatif, ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kerjasama kolektif yang dijalani oleh kita semua. Penggunaan masker, jarak sosial, semuanya berkaitan dengan tubuh.

Melanie menyatakan penting untuk menyadari keadaan kolektif saat ini karena Ia mengalami amplifikasi tentang gagasan keberadaan tubuh. Kehadiran dan tubuh tidak hanya berkaitan dengan dunia tari tetapi juga kehidupan sehari-hari. Sekarang mungkin menjadi semakin sensitif dengan isu tubuh, kontak antar tubuh yang terbatasi, keberadaan tubuh di dalam dan di luar ruangan benar benar teramplifikasi saat ini. Melanie Lane juga mengatakan bahwa media sosial juga merupakan hal yang menarik untuk mengkaji keberadaan tubuh. Sebuah ironi bagi beliau bahwa teknologi juga sangat mendukung kehidupan kita khususnya seniman. Sebagai contoh adalah IDF ini, yang memberikan seniman khususnya dirinya untuk bisa kreatif dan lebih berinovasi dengan kesenian di masa pandemi ini. Dunia virtual banyak memberikan kesempatan untuk berbagi dan bertukar pikiran tentang kesenian khususnya seni tari saat ini.

Indonesian Dance Festival pada tahun ini menurut saya sangat banyak memberi pembelajaran bagi saya dan seniman khususnya di bidang seni tari, yaitu bagaimana kita tetap berproses dan berkegiatan di masa pandemi ini. Bagaimana kita harus tetap berpikir positif dan selalu mencari cara menyesuaikan diri dengan teknologi yang tentunya tidak harus tergantung juga pada teknologi itu sendiri. Bagaimana kita bisa lebih teliti memilah dampak pandemi saat ini yang baik untuk kita dan seniman lainnya untuk terus berproses dan tidak pernah berhenti.

Terakhir bagaimana kita belajar dari pengalaman para tokoh yang sudah berbicara pada acara IDF ini yang tentunya juga memiliki pengalaman dan ‘jam terbang’ yang sangat luas. Selain itu diperlukan juga dari dukungan masyarakat dan pemerintah untuk selalu memberi ruang untuk berkarya seperti, mengadakan lomba atau festival virtual yang memotivasi banyak orang agar tidak berhenti untuk selalu berkesenian walaupun dalam kendala pandemi saat ini.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-15T23:55:48+07:00Juli 16th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top