Performances
kampana
zip.conversations

Ketika Semedi Menjadi Tari

Ajeng Islaminingsih
Program Studi S1 Branding
Universitas Prasetiya Mulya

Ketika Semedi Menjadi Tari

Ajeng Islaminingsih
Program Studi S1 Branding
Universitas Prasetiya Mulya

Ketika Semedi Menjadi Tari

Ajeng Islaminingsih
Program Studi S1 Branding
Universitas Prasetiya Mulya

Indonesian Dance Festival (IDF) merupakan salah satu acara kesenian yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali untuk menyuguhkan berbagai bentuk seni tari kontemporer yang diadakan oleh komunitas penari yang ada di Indonesia. Pada tahun ini, IDF digelar pada tanggal 7-14 November 2020 secara daring dikarenakan pandemi. Salah satu karya seni yang ikut memeriahkan IDF 2020 adalah “Sila” yang dibawakan oleh Hari Ghulur, seorang pelaku seni tari yang berasal dari Madura dengan karyanya yang berjudul “Sila”.


Ritual Sila dalam Bermunajat

Budaya duduk sila ketika beribadah banyak dilakukan oleh umat muslim Nusantara. Adanya asimilasi antara kebiasaan duduk sila masyarakat Nusantara dan ritual umat muslim yang banyak dilakukan dengan merendahkan posisi tubuh, seperti duduk, ruku’, sujud, dan lain sebagainya, membuat keduanya bagaikan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ritual keagamaan yang dilakukan dengan cara bersila tidak hanya dilaksanakan ketika shalat, namun juga mengaji, bersedekah, bertahlilan, dan lain sebagainya.


Sila Karya Hari Ghulur

Melihat kebiasaan masyarakat Nusantara yang bersila ketika melaksanakan ritual keagamaan mereka, Hari Ghulur mendapat satu inspirasi untuk menciptakan karya seni tari yang diangkat dari ritual tahlilan yang banyak dilakukan oleh masyarakat di daerahnya dengan cara duduk sila. Hari Ghulur meyakini bahwa dalam posisi sila, seseorang yang melakukan tahlilan sedang berdialog dengan Tuhannya. Ia pun menyadari akan suatu limitasi yang terjadi saat seseorang duduk bersila. Dirinya melihat budaya duduk sila sambil melafalkan banyak doa dan mantra untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang ia percaya. Melihat ritual tersebut, Hari akhirnya membuat suatu tarian kontemporer berjudul “Sila” yang di dalamnya banyak mengeksplorasi bagian tubuh dari lutut ke atas, sedangkan bagian kaki yang menjadi kunci ketika duduk bersila dijadikannya tidak banyak bergerak.

Dari tarian yang ditunjukkannya, dapat diketahui bahwa dibanding tarian lain yang ada di setiap rangkaian acara Indonesian Dance Festival atau IDF, “Sila” merupakan tarian yang sangat dekat kaitannya dengan masyarakat. Setiap umat Muslim melakukan ibadah wajib selama lima kali sehari dan seluruhnya memiliki posisi duduk sila ketika berdoa kepada Tuhan. Dari tarian yang dilaksanakan pun, hampir setiap gerakan dapat difahami, bahkan oleh penonton awam yang tidak memiliki pengetahuan yang banyak mengenai seni tari kontemporer. Teriakan Hari dan penari lainnya yang dilakukan beberapa kali juga menambah nuansa yang magis tanpa meninggalkan relevansi yang terjadi di masyarakat. Teriakan yang dilakukan juga disesuaikan hanya di beberapa gerakan tertentu saja, misalnya ketika menengadahkan tangan, sehingga teriakan yang dilakukan penari dirasa cukup dan tidak memperburuk suasana yang ada, dan bahkan justru memperbaikinya.

Setelah ditelusuri, “Sila” karya Hari Ghulur telah ditampilkan pada festival seni tari lain sebelum IDF, yaitu pada American Dance Festival, festival serupa seperti IDF yang dilangsungkan di Durham North Carolina. Amerika Serikat sekitar tahun 2018. Namun walaupun membawakan tari yang sama, hal yang patut diapresiasi dari Hari Ghulur adalah caranya mengemas tarian yang sama di dua kesempatan yang berbeda. Walaupun esensi tari yang hendak disampaikan masih sama, serta properti inti yang digunakan masih sama, yaitu kopiah hitam yang dipakai di kepalanya, Hari Ghulur mengemas tariannya dengan cara yang berbeda, di mana “Sila” yang dibawanya pada American Dance Festival hanya dilakukannya seorang diri, sedangkan “Sila” pada Indonesian Dance Festival dibawakan oleh empat orang, termasuk Hari Ghulur sendiri, yang memiliki porsi tariannya masing-masing tanpa terjadinya tumpang tindih dalam koreografinya. Perbedaan pembawaan yang dibuatnya menjadikan “Sila” yang diciptakannya dikenali lebih banyak orang akibat kegiatan showcasing yang dilakukan beberapa kali, tanpa mengurangi nilai-nilai yang hendak disampaikan karena pembawaannya yang bervariasi. Pembawaan yang bervariasi juga menimbulkan interpretasi yang muncul dari para penonton secara lebih banyak dan beragam.


“Sila” pada American Dance Festival

“Sila” pada Indonesian Dance Festival


Selain itu, hal yang patut diapresiasi dari Hari Ghulur serta IDF pada festival seni tari kali ini adalah caranya membawakan tarian yang lebih “dekat” dengan pesan yang hendak disampaikan itu sendiri. Festival yang dilaksanakan secara daring membuka kemungkinan yang sangat besar akan adanya persona audiens yang lebih beragam dibanding audiens di acara luring. Tidak hanya “Sila”, namun hampir seluruh karya seni tari direkam dalam tempat yang memiliki keterkaitan suasana dan nuansa dengan tema yang hendak dibawa. Pada “Sila”, latar yang digunakan tampak seperti dalam sebuah masjid, yaitu tempat biasanya umat muslim melakukan tahlilan atau ibadah lainnya dengan duduk sila, juga disertai dengan properti pendukung yang menambah suasana semakin nyata secara detail, seperti penggunaan baju muslim, koko, serta tudung sebagai kostum utama para penari. Dua hal sederhana tersebut, yaitu latar dan kostum, dapat memberikan penjelasan kepada audiens secara tersirat mengenai maksud dari tari itu sendiri, sehingga audiens awam yang baru mengikuti festival seni tari dapat memahami dan memiliki ketertarikan untuk menonton lagi di kesempatan lainnya.


“Sila” dari Kacamata Pemasaran

Dari sisi pemasaran atau marketing, Indonesian Dance Festival memiliki kegiatan pemasaran yang cukup baik, namun tidak masif. Ia bekerja sama dengan banyak lembaga kenegaraan, yaitu kementerian, yang memiliki nilai yang sama dengannya, seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didukung oleh Wonderful Indonesia. Adanya kerja sama dengan institusi pemerintah memudahkan panitia dalam mendapatkan audiens untuk datang dan menonton acara yang disuguhkan, khususnya pada saat pandemi seperti sekarang ini. Selain itu, IDF dapat dibilang memiliki persiapan yang cukup matang dalam mempersiapkan platform komunikasi dan jalannya acara yang secara terpaksa harus dilaksanakan secara daring. IDF memiliki website khusus yang menyampaikan informasi terkait acara yang ada dengan baik dan menarik. UI/UX yang ditawarkan cukup memudahkan audiens untuk menikmati acara dengan nyaman. Kanal Youtube yang disediakan juga mempermudah audiens untuk kembali melihat dan menikmati acara yang dibawakan di waktu yang lain.

Website IDF

Youtube IDF


Namun, IDF masih harus memberikan usaha yang lebih besar lagi dalam mengatur media sosial, yang disini adalah Instagram, dan kanal Youtube yang dimilikinya karena keduanya merupakan dua sarana komunikasi utama IDF terhadap audiensnya, namun dapat dilihat bahwa
follower, subscriber, like, comments, dan subscribes masih rendah untuk sebuah event seni internasional yang telah berdiri cukup lama seperti IDF.

Sedangkan dari video “Sila”, tidak banyak hal yang harus diperbaiki dari sisi pemasarannya karena segala bentuk pemasaran termasuk ke dalam rangkaian acara dari IDF itu sendiri. Namun, adanya penjelasan yang lebih jelas disertai dengan data dan sejarah yang berkaitan di kolom penjelasan Youtube ketika pertunjukkan diadakan dan di feeds Instagram sebelum event diselenggarakan dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada penonton, sehingga calon penonton memiliki ekspektasi yang kemudian menonton video tersebut.

Perbandingan jumlah followers dan like instagram IDF


Perbandingan jumlah
followers dan like instagram IDF

Kesimpulan

Dari seluruh penjelasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa IDF dapat dibilang sukses dalam mengadakan festival seni tari secara daring untuk pertama kalinya. Selain itu, “Sila” karya Hari Ghulur juga dapat memberikan pengalaman menonton seni tari yang menyenangkan dan sarat makna secara virtual, tanpa meninggalkan atmosfer dan pesan yang hendak disampaikan dari tari “Sila” itu sendiri.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Indonesian Dance Festival (IDF) merupakan salah satu acara kesenian yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali untuk menyuguhkan berbagai bentuk seni tari kontemporer yang diadakan oleh komunitas penari yang ada di Indonesia. Pada tahun ini, IDF digelar pada tanggal 7-14 November 2020 secara daring dikarenakan pandemi. Salah satu karya seni yang ikut memeriahkan IDF 2020 adalah “Sila” yang dibawakan oleh Hari Ghulur, seorang pelaku seni tari yang berasal dari Madura dengan karyanya yang berjudul “Sila”.


Ritual Sila dalam Bermunajat

Budaya duduk sila ketika beribadah banyak dilakukan oleh umat muslim Nusantara. Adanya asimilasi antara kebiasaan duduk sila masyarakat Nusantara dan ritual umat muslim yang banyak dilakukan dengan merendahkan posisi tubuh, seperti duduk, ruku’, sujud, dan lain sebagainya, membuat keduanya bagaikan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ritual keagamaan yang dilakukan dengan cara bersila tidak hanya dilaksanakan ketika shalat, namun juga mengaji, bersedekah, bertahlilan, dan lain sebagainya.


Sila Karya Hari Ghulur

Melihat kebiasaan masyarakat Nusantara yang bersila ketika melaksanakan ritual keagamaan mereka, Hari Ghulur mendapat satu inspirasi untuk menciptakan karya seni tari yang diangkat dari ritual tahlilan yang banyak dilakukan oleh masyarakat di daerahnya dengan cara duduk sila. Hari Ghulur meyakini bahwa dalam posisi sila, seseorang yang melakukan tahlilan sedang berdialog dengan Tuhannya. Ia pun menyadari akan suatu limitasi yang terjadi saat seseorang duduk bersila. Dirinya melihat budaya duduk sila sambil melafalkan banyak doa dan mantra untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang ia percaya. Melihat ritual tersebut, Hari akhirnya membuat suatu tarian kontemporer berjudul “Sila” yang di dalamnya banyak mengeksplorasi bagian tubuh dari lutut ke atas, sedangkan bagian kaki yang menjadi kunci ketika duduk bersila dijadikannya tidak banyak bergerak.

Dari tarian yang ditunjukkannya, dapat diketahui bahwa dibanding tarian lain yang ada di setiap rangkaian acara Indonesian Dance Festival atau IDF, “Sila” merupakan tarian yang sangat dekat kaitannya dengan masyarakat. Setiap umat Muslim melakukan ibadah wajib selama lima kali sehari dan seluruhnya memiliki posisi duduk sila ketika berdoa kepada Tuhan. Dari tarian yang dilaksanakan pun, hampir setiap gerakan dapat difahami, bahkan oleh penonton awam yang tidak memiliki pengetahuan yang banyak mengenai seni tari kontemporer. Teriakan Hari dan penari lainnya yang dilakukan beberapa kali juga menambah nuansa yang magis tanpa meninggalkan relevansi yang terjadi di masyarakat. Teriakan yang dilakukan juga disesuaikan hanya di beberapa gerakan tertentu saja, misalnya ketika menengadahkan tangan, sehingga teriakan yang dilakukan penari dirasa cukup dan tidak memperburuk suasana yang ada, dan bahkan justru memperbaikinya.

Setelah ditelusuri, “Sila” karya Hari Ghulur telah ditampilkan pada festival seni tari lain sebelum IDF, yaitu pada American Dance Festival, festival serupa seperti IDF yang dilangsungkan di Durham North Carolina. Amerika Serikat sekitar tahun 2018. Namun walaupun membawakan tari yang sama, hal yang patut diapresiasi dari Hari Ghulur adalah caranya mengemas tarian yang sama di dua kesempatan yang berbeda. Walaupun esensi tari yang hendak disampaikan masih sama, serta properti inti yang digunakan masih sama, yaitu kopiah hitam yang dipakai di kepalanya, Hari Ghulur mengemas tariannya dengan cara yang berbeda, di mana “Sila” yang dibawanya pada American Dance Festival hanya dilakukannya seorang diri, sedangkan “Sila” pada Indonesian Dance Festival dibawakan oleh empat orang, termasuk Hari Ghulur sendiri, yang memiliki porsi tariannya masing-masing tanpa terjadinya tumpang tindih dalam koreografinya. Perbedaan pembawaan yang dibuatnya menjadikan “Sila” yang diciptakannya dikenali lebih banyak orang akibat kegiatan showcasing yang dilakukan beberapa kali, tanpa mengurangi nilai-nilai yang hendak disampaikan karena pembawaannya yang bervariasi. Pembawaan yang bervariasi juga menimbulkan interpretasi yang muncul dari para penonton secara lebih banyak dan beragam.

“Sila” pada American Dance Festival

“Sila” pada Indonesian Dance Festival


Selain itu, hal yang patut diapresiasi dari Hari Ghulur serta IDF pada festival seni tari kali ini adalah caranya membawakan tarian yang lebih “dekat” dengan pesan yang hendak disampaikan itu sendiri. Festival yang dilaksanakan secara daring membuka kemungkinan yang sangat besar akan adanya persona audiens yang lebih beragam dibanding audiens di acara luring. Tidak hanya “Sila”, namun hampir seluruh karya seni tari direkam dalam tempat yang memiliki keterkaitan suasana dan nuansa dengan tema yang hendak dibawa. Pada “Sila”, latar yang digunakan tampak seperti dalam sebuah masjid, yaitu tempat biasanya umat muslim melakukan tahlilan atau ibadah lainnya dengan duduk sila, juga disertai dengan properti pendukung yang menambah suasana semakin nyata secara detail, seperti penggunaan baju muslim, koko, serta tudung sebagai kostum utama para penari. Dua hal sederhana tersebut, yaitu latar dan kostum, dapat memberikan penjelasan kepada audiens secara tersirat mengenai maksud dari tari itu sendiri, sehingga audiens awam yang baru mengikuti festival seni tari dapat memahami dan memiliki ketertarikan untuk menonton lagi di kesempatan lainnya.


“Sila” dari Kacamata Pemasaran

Dari sisi pemasaran atau marketing, Indonesian Dance Festival memiliki kegiatan pemasaran yang cukup baik, namun tidak masif. Ia bekerja sama dengan banyak lembaga kenegaraan, yaitu kementerian, yang memiliki nilai yang sama dengannya, seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didukung oleh Wonderful Indonesia. Adanya kerja sama dengan institusi pemerintah memudahkan panitia

dalam mendapatkan audiens untuk datang dan menonton acara yang disuguhkan, khususnya pada saat pandemi seperti sekarang ini. Selain itu, IDF dapat dibilang memiliki persiapan yang cukup matang dalam mempersiapkan platform komunikasi dan jalannya acara yang secara terpaksa harus dilaksanakan secara daring. IDF memiliki website khusus yang menyampaikan informasi terkait acara yang ada dengan baik dan menarik. UI/UX yang ditawarkan cukup memudahkan audiens untuk menikmati acara dengan nyaman. Kanal Youtube yang disediakan juga mempermudah audiens untuk kembali melihat dan menikmati acara yang dibawakan di waktu yang lain.


Website IDF


Youtube IDF


Namun, IDF masih harus memberikan usaha yang lebih besar lagi dalam mengatur media sosial, yang disini adalah Instagram, dan kanal Youtube yang dimilikinya karena keduanya merupakan dua sarana komunikasi utama IDF terhadap audiensnya, namun dapat dilihat bahwa
follower, subscriber, like, comments, dan subscribes masih rendah untuk sebuah event seni internasional yang telah berdiri cukup lama seperti IDF.

Sedangkan dari video “Sila”, tidak banyak hal yang harus diperbaiki dari sisi pemasarannya karena segala bentuk pemasaran termasuk ke dalam rangkaian acara dari IDF itu sendiri. Namun, adanya penjelasan yang lebih jelas disertai dengan data dan sejarah yang berkaitan di kolom penjelasan Youtube ketika pertunjukkan diadakan dan di feeds Instagram sebelum event diselenggarakan dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada penonton, sehingga calon penonton memiliki ekspektasi yang kemudian menonton video tersebut.


Perbandingan jumlah
followers dan like instagram IDF

 

Perbandingan jumlah subscribers, like, dan comments Youtube IDF


Kesimpulan

Dari seluruh penjelasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa IDF dapat dibilang sukses dalam mengadakan festival seni tari secara daring untuk pertama kalinya. Selain itu, “Sila” karya Hari Ghulur juga dapat memberikan pengalaman menonton seni tari yang menyenangkan dan sarat makna secara virtual, tanpa meninggalkan atmosfer dan pesan yang hendak disampaikan dari tari “Sila” itu sendiri.

Terbitan Terkait

Indonesian Dance Festival (IDF) merupakan salah satu acara kesenian yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali untuk menyuguhkan berbagai bentuk seni tari kontemporer yang diadakan oleh komunitas penari yang ada di Indonesia. Pada tahun ini, IDF digelar pada tanggal 7-14 November 2020 secara daring dikarenakan pandemi. Salah satu karya seni yang ikut memeriahkan IDF 2020 adalah “Sila” yang dibawakan oleh Hari Ghulur, seorang pelaku seni tari yang berasal dari Madura dengan karyanya yang berjudul “Sila”.


Ritual Sila dalam Bermunajat

Budaya duduk sila ketika beribadah banyak dilakukan oleh umat muslim Nusantara. Adanya asimilasi antara kebiasaan duduk sila masyarakat Nusantara dan ritual umat muslim yang banyak dilakukan dengan merendahkan posisi tubuh, seperti duduk, ruku’, sujud, dan lain sebagainya, membuat keduanya bagaikan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ritual keagamaan yang dilakukan dengan cara bersila tidak hanya dilaksanakan ketika shalat, namun juga mengaji, bersedekah, bertahlilan, dan lain sebagainya.


Sila Karya Hari Ghulur

Melihat kebiasaan masyarakat Nusantara yang bersila ketika melaksanakan ritual keagamaan mereka, Hari Ghulur mendapat satu inspirasi untuk menciptakan karya seni tari yang diangkat dari ritual tahlilan yang banyak dilakukan oleh masyarakat di daerahnya dengan cara duduk sila. Hari Ghulur meyakini bahwa dalam posisi sila, seseorang yang melakukan tahlilan sedang berdialog dengan Tuhannya. Ia pun menyadari akan suatu limitasi yang terjadi saat seseorang duduk bersila. Dirinya melihat budaya duduk sila sambil melafalkan banyak doa dan mantra untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang ia percaya. Melihat ritual tersebut, Hari akhirnya membuat suatu tarian kontemporer berjudul “Sila” yang di dalamnya banyak mengeksplorasi bagian tubuh dari lutut ke atas, sedangkan bagian kaki yang menjadi kunci ketika duduk bersila dijadikannya tidak banyak bergerak.

Dari tarian yang ditunjukkannya, dapat diketahui bahwa dibanding tarian lain yang ada di setiap rangkaian acara Indonesian Dance Festival atau IDF, “Sila” merupakan tarian yang sangat dekat kaitannya dengan masyarakat. Setiap umat Muslim melakukan ibadah wajib selama lima kali sehari dan seluruhnya memiliki posisi duduk sila ketika berdoa kepada Tuhan. Dari tarian yang dilaksanakan pun, hampir setiap gerakan dapat difahami, bahkan oleh penonton awam yang tidak memiliki pengetahuan yang banyak mengenai seni tari kontemporer. Teriakan Hari dan penari lainnya yang dilakukan beberapa kali juga menambah nuansa yang magis tanpa meninggalkan relevansi yang terjadi di masyarakat. Teriakan yang dilakukan juga disesuaikan hanya di beberapa gerakan tertentu saja, misalnya ketika menengadahkan tangan, sehingga teriakan yang dilakukan penari dirasa cukup dan tidak memperburuk suasana yang ada, dan bahkan justru memperbaikinya.

Setelah ditelusuri, “Sila” karya Hari Ghulur telah ditampilkan pada festival seni tari lain sebelum IDF, yaitu pada American Dance Festival, festival serupa seperti IDF yang dilangsungkan di Durham North Carolina. Amerika Serikat sekitar tahun 2018. Namun walaupun membawakan tari yang sama, hal yang patut diapresiasi dari Hari Ghulur adalah caranya mengemas tarian yang sama di dua kesempatan yang berbeda. Walaupun esensi tari yang hendak disampaikan masih sama, serta properti inti yang digunakan masih sama, yaitu kopiah hitam yang dipakai di kepalanya, Hari Ghulur mengemas tariannya dengan cara yang berbeda, di mana “Sila” yang dibawanya pada American Dance Festival hanya dilakukannya seorang diri, sedangkan “Sila” pada Indonesian Dance Festival dibawakan oleh empat orang, termasuk Hari Ghulur sendiri, yang memiliki porsi tariannya masing-masing tanpa terjadinya tumpang tindih dalam koreografinya. Perbedaan pembawaan yang dibuatnya menjadikan “Sila” yang diciptakannya dikenali lebih banyak orang akibat kegiatan showcasing yang dilakukan beberapa kali, tanpa mengurangi nilai-nilai yang hendak disampaikan karena pembawaannya yang bervariasi. Pembawaan yang bervariasi juga menimbulkan interpretasi yang muncul dari para penonton secara lebih banyak dan beragam.

“Sila” pada American Dance Festival

“Sila” pada Indonesian Dance Festival


Selain itu, hal yang patut diapresiasi dari Hari Ghulur serta IDF pada festival seni tari kali ini adalah caranya membawakan tarian yang lebih “dekat” dengan pesan yang hendak disampaikan itu sendiri. Festival yang dilaksanakan secara daring membuka kemungkinan yang sangat besar akan adanya persona audiens yang lebih beragam dibanding audiens di acara luring. Tidak hanya “Sila”, namun hampir seluruh karya seni tari direkam dalam tempat yang memiliki keterkaitan suasana dan nuansa dengan tema yang hendak dibawa. Pada “Sila”, latar yang digunakan tampak seperti dalam sebuah masjid, yaitu tempat biasanya umat muslim melakukan tahlilan atau ibadah lainnya dengan duduk sila, juga disertai dengan properti pendukung yang menambah suasana semakin nyata secara detail, seperti penggunaan baju muslim, koko, serta tudung sebagai kostum utama para penari. Dua hal sederhana tersebut, yaitu latar dan kostum, dapat memberikan penjelasan kepada audiens secara tersirat mengenai maksud dari tari itu sendiri, sehingga audiens awam yang baru mengikuti festival seni tari dapat memahami dan memiliki ketertarikan untuk menonton lagi di kesempatan lainnya.


“Sila” dari Kacamata Pemasaran

Dari sisi pemasaran atau marketing, Indonesian Dance Festival memiliki kegiatan pemasaran yang cukup baik, namun tidak masif. Ia bekerja sama dengan banyak lembaga kenegaraan, yaitu kementerian, yang memiliki nilai yang sama dengannya, seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didukung oleh Wonderful Indonesia. Adanya kerja sama dengan institusi pemerintah memudahkan panitia

dalam mendapatkan audiens untuk datang dan menonton acara yang disuguhkan, khususnya pada saat pandemi seperti sekarang ini. Selain itu, IDF dapat dibilang memiliki persiapan yang cukup matang dalam mempersiapkan platform komunikasi dan jalannya acara yang secara terpaksa harus dilaksanakan secara daring. IDF memiliki website khusus yang menyampaikan informasi terkait acara yang ada dengan baik dan menarik. UI/UX yang ditawarkan cukup memudahkan audiens untuk menikmati acara dengan nyaman. Kanal Youtube yang disediakan juga mempermudah audiens untuk kembali melihat dan menikmati acara yang dibawakan di waktu yang lain.

Website IDF

Youtube IDF


Namun, IDF masih harus memberikan usaha yang lebih besar lagi dalam mengatur media sosial, yang disini adalah Instagram, dan kanal Youtube yang dimilikinya karena keduanya merupakan dua sarana komunikasi utama IDF terhadap audiensnya, namun dapat dilihat bahwa
follower, subscriber, like, comments, dan subscribes masih rendah untuk sebuah event seni internasional yang telah berdiri cukup lama seperti IDF.

Sedangkan dari video “Sila”, tidak banyak hal yang harus diperbaiki dari sisi pemasarannya karena segala bentuk pemasaran termasuk ke dalam rangkaian acara dari IDF itu sendiri. Namun, adanya penjelasan yang lebih jelas disertai dengan data dan sejarah yang berkaitan di kolom penjelasan Youtube ketika pertunjukkan diadakan dan di feeds Instagram sebelum event diselenggarakan dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada penonton, sehingga calon penonton memiliki ekspektasi yang kemudian menonton video tersebut.


Perbandingan jumlah
followers dan like instagram IDF


Perbandingan jumlah
subscribers, like,
dan comments Youtube IDF


Kesimpulan

Dari seluruh penjelasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa IDF dapat dibilang sukses dalam mengadakan festival seni tari secara daring untuk pertama kalinya. Selain itu, “Sila” karya Hari Ghulur juga dapat memberikan pengalaman menonton seni tari yang menyenangkan dan sarat makna secara virtual, tanpa meninggalkan atmosfer dan pesan yang hendak disampaikan dari tari “Sila” itu sendiri.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-02T00:42:34+07:00Juli 2nd, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top