Performances
kampana
zip.conversations

Karya Kezia Alyssa

Muhammad Rahadiyan
Program Studi Seni Tari
Institute Kesenian Jakarta

Karya Kezia Alyssa

Muhammad Rahadiyan
Program Studi Seni Tari
Institute Kesenian Jakarta

Karya Kezia Alyssa

Muhammad Rahadiyan
Program Studi Seni Tari
Institute Kesenian Jakarta

Mengikuti acara Indonesian Dance Festival, IDF, saya sangat tertarik dengan proyek yang digagas Eun-Me Ahn, karena ada 59 tarian di Project tersebut. Saya sangat tertarik dengan tarian hasil karyanya Kezia Alyssa dari Tangerang Banten. Tarian ini dengan Judul “Hari ke 211” (Day 211). yang menceritakan tentang kegiatan di masa Covid-19 ini dengan menceritakan dia sebagai seorang guru tari balet, yang mengajar online dari rumah. Suatu hari ketika mengajar di hari ke 211 dia tidak dalam kondisi mental yang baik untuk menunjukkan wajahnya di depan murid-muridnya. Setelah ia menyelesaikan kelasnya hari itu, salah satu muridnya tiba-tiba bernyanyi Hymne Guru, lalu guru tersebut benar-benar sangat tersentuh hatinya, dan sangat menghargai momen bersama murid-muridnya. Lalu guru tersebut menyampaikan itulah yang membuatnya terus maju, dan jalan pintasnya menuju kebahagiaan.

Gerakan yang dilakukan olehnya, gerakan balet yang diawali dengan gerakan penuh dengan emosi dengan perasaan mental yang tidak baik, tetapi ia mengeluarkan ekspresi senyuman karena ia harus menunjukkan wajahnya di depan muridnya, gerakan ini diakhiri dengan gerakan ia sedang mengajar muridnya.

Disini juga dia memakai musik yang berjudul Soldier dari James dan sangat cocok untuk karyanya. Apa yang dia rasakan saat itu, selalu berjuang untuk melewati hari-hari tergelapnya, sehingga membuatnya menjadi berani. Diakhir tarian ada musik pendukung seorang anak yang menyanyikan lagu Hymne Guru untuknya.

Properti yang dia pakai adalah laptop untuk menceritakan sedang mengajar, lalu dia menggunakan handphone untuk menceritakan dan menyampaikan bahwa dia seorang guru dengan foto murid-muridnya. Tata cahaya saat mengajar dan gelas-gelas bekas minum untuk menceritakan ia telah lama mengajar dan hampir selesai. Dalam tarian dia tidak memakai properti, tetapi properti tersebut untuk menyampaikan apa yang diceritakan dalam tarian tersebut. Tata cahaya dalam video tersebut cukup baik, karena sesuai dengan konsep yang menceritakan dia mengajar online. Jadi seperti seadanya dalam kegiatan sehari-hari ketika dia sedang mengajar dengan bantuan cahaya lighting kecil dan cahaya lampu.

Kenapa saya sangat tertarik dengan karya Kezia Alyssa ini, karena karya dia lebih menceritakan kegiatan sehari-hari di masa Covid-19 ini dan disampaikan dengan sebuah tarian. Tarian ini termasuk tarian balet, dan saya sangat suka dengan kelenturan tubuh. Dalam tarian ini juga menceritakan dalam keadaan kita yang sekarang sedang mengalami pandemi Covid-19. Menurut saya konsep ini sudah sangat bagus karena menceritakan keadaan sekarang, tetapi sayangnya durasi video sangat pendek yang seharusnya dapat lebih panjang lagi durasinya. Pengembangan tarian-tarian di Indonesia juga sangat baik. Saya sangat suka dengan acara IDF ini karena banyak yang saya tidak tahu menjadi tahu. Perkembangan dalam teknologinya juga cukup baik. Dalam segi video juga sangat jelas, tarian yang disampaikan oleh penari cukup jelas sehingga saya dapat memahami apa cerita dari gerakan tersebut.


Puri Senja

Karya Puri Senja memiliki tema “The Other Half” menceritakan pengalaman dia dalam kehidupannya yang dididik oleh bapaknya sangat keras. Ketika itu ia tidak mengikuti perintah bapaknya untuk tidur siang tetapi dia memilih untuk bermain. Saat itu juga dia dihukum oleh bapaknya di dalam kamar mandi yang sempit dengan lampu yang gelap dan kondisi tangan dan kakinya diikat pakai tali pramuka. Setelah kejadian itu dia menjadi seseorang yang takut gelap, ruang sempit dan sosok bapaknya.

Dia menceritakan tentang kehidupannya di masa SMP, disaat itu dia dalam kondisi wajah yang berjerawat dan kulit hitam karena sering terkena sinar matahari saat latihan karate, lalu dia mempercantik dan merawat dirinya. Dia menceritakan tentang SMA nya dimana dia mengenal cinta, dan sangat senang mengikuti komunitas Cheerleaders. Pada saat itu kondisinya tidak baik dan sering ada orang yang melecehkan seperti tangan yang mencolek tubuhnya, lalu dia ada dimasa kondisi tidak baik dengan wajah penuh dengan luka. Dia menjadi tidak percaya diri untuk berada di lingkungan yang ramai.

Ketika masuk kuliah dia memutuskan untuk fokus ke tari tetapi masih ada yang membullynya dengan mengatakan bahwa dia tidak pantas, tetapi dia terus berjuang untuk menjadi seorang penari yang baik. Perlahan menari bisa menjelajahi tubuhnya dan dapat membantu menciptakan sesuatu sehingga menjadi sebuah identitas bagi tubuhnya menyimpan jutaan memori baginya.

Pertama, dia menggerakan tarinya dengan seperti kejadiannya ketika tangan dan kakinya diikat pakai tali pramuka dengan ekspresi seperti ketakutan dan kesakitan. Kedua, dia menggerakkan tarinya seperti cheerleaders dengan ekspresi yang sangat senang dan dia seperti sangat nyaman dengan kegiatannya, lalu dia menggerakkan tariannya seperti orang yang dilecehkan dengan ekspresi yang ketakutan dan mempunyai rasa marah. Ketiga, dia menggerakkan tarinya yang sangat menakutkan seperti menahan rasa sakit dengan gerakan seperti kejang-kejang dan terlihat sangat menakutkan. Keempat, dia menggerakan tarian tradisional dengan sangat lentur, tetapi dengan ekspresi yang sangat kosong.

Karya ini menggunakan musik pendukung yang memiliki genre yang sangat misterius dan menegangkan. Ada juga musik yang tenang ketika dia menceritakan dan menarikan kebahagiaan yang dirasakannya. Selain itu ada musik yang menyeramkan ketika dia menari kesakitan dan ketika dia menari dengan gerak yang menggambarkan sedang dihukum oleh bapaknya.

Disini dia memakai properti seperti meja kertas dan spidol untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Dia membawa properti cheerleaders dengan menggerakkan tarian ketika ia menceritakannya. Tata cahaya yang dipakai fokus ke satu titik yaitu ke Puri Senja yang menceritakan pengalamannya dan menampilkan tariannya, sehingga suasana di sana terlihat sangat menegangkan dengan keadaan sekitarnya yang gelap. Agar terlihat seperti memandang masa lalu atau flashback.

Saya sangat tertarik dengan ceritanya, karena ceritanya itu adalah sebuah rahasia baginya dengan disampaikan melalui tarian. Menurut saya itu sangat sulit untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Apa yang telah dialaminya dan saya sangat salut karena dia selalu terus berusaha dan tidak pantang menyerah untuk menjadi seorang penari walaupun banyak orang yang menyatakan bahwa dia tidak pantas. Pengalamannya tersebut membuatnya berusaha menjadi seorang penari yang baik.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Mengikuti acara Indonesian Dance Festival, IDF, saya sangat tertarik dengan proyek yang digagas Eun-Me Ahn, karena ada 59 tarian di Project tersebut. Saya sangat tertarik dengan tarian hasil karyanya Kezia Alyssa dari Tangerang Banten. Tarian ini dengan Judul “Hari ke 211” (Day 211). yang menceritakan tentang kegiatan di masa Covid-19 ini dengan menceritakan dia sebagai seorang guru tari balet, yang mengajar online dari rumah. Suatu hari ketika mengajar di hari ke 211 dia tidak dalam kondisi mental yang baik untuk menunjukkan wajahnya di depan murid-muridnya. Setelah ia menyelesaikan kelasnya hari itu, salah satu muridnya tiba-tiba bernyanyi Hymne Guru, lalu guru tersebut benar-benar sangat tersentuh hatinya, dan sangat menghargai momen bersama murid-muridnya. Lalu guru tersebut menyampaikan itulah yang membuatnya terus maju, dan jalan pintasnya menuju kebahagiaan.

Gerakan yang dilakukan olehnya, gerakan balet yang diawali dengan gerakan penuh dengan emosi dengan perasaan mental yang tidak baik, tetapi ia mengeluarkan ekspresi senyuman karena ia harus menunjukkan wajahnya di depan muridnya, gerakan ini diakhiri dengan gerakan ia sedang mengajar muridnya.

Disini juga dia memakai musik yang berjudul Soldier dari James dan sangat cocok untuk karyanya. Apa yang dia rasakan saat itu, selalu berjuang untuk melewati hari-hari tergelapnya, sehingga membuatnya menjadi berani. Diakhir tarian ada musik pendukung seorang anak yang menyanyikan lagu Hymne Guru untuknya.

Properti yang dia pakai adalah laptop untuk menceritakan sedang mengajar, lalu dia menggunakan handphone untuk menceritakan dan menyampaikan bahwa dia seorang guru dengan foto murid-muridnya. Tata cahaya saat mengajar dan gelas-gelas bekas minum untuk menceritakan ia telah lama mengajar dan hampir selesai. Dalam tarian dia tidak memakai properti, tetapi properti tersebut untuk menyampaikan apa yang diceritakan dalam tarian tersebut. Tata cahaya dalam video tersebut cukup baik, karena sesuai dengan konsep yang menceritakan dia mengajar online. Jadi seperti seadanya dalam kegiatan sehari-hari ketika dia sedang mengajar dengan bantuan cahaya lighting kecil dan cahaya lampu.

Kenapa saya sangat tertarik dengan karya Kezia Alyssa ini, karena karya dia lebih menceritakan kegiatan sehari-hari di masa Covid-19 ini dan disampaikan dengan sebuah tarian. Tarian ini termasuk tarian balet, dan saya sangat suka dengan kelenturan tubuh. Dalam tarian ini juga menceritakan dalam keadaan kita yang sekarang sedang mengalami pandemi Covid-19. Menurut saya konsep ini sudah sangat bagus karena menceritakan keadaan sekarang, tetapi sayangnya durasi video sangat pendek yang seharusnya dapat lebih panjang lagi durasinya. Pengembangan tarian-tarian di Indonesia juga sangat baik. Saya sangat suka dengan acara IDF ini karena banyak yang saya tidak tahu menjadi tahu. Perkembangan dalam teknologinya juga cukup baik. Dalam segi video juga sangat jelas, tarian yang disampaikan oleh penari cukup jelas sehingga saya dapat memahami apa cerita dari gerakan tersebut.


Puri Senja

Karya Puri Senja memiliki tema “The Other Half” menceritakan pengalaman dia dalam kehidupannya yang dididik oleh bapaknya sangat keras. Ketika itu ia tidak mengikuti perintah bapaknya untuk tidur siang tetapi dia memilih untuk bermain. Saat itu juga dia dihukum oleh bapaknya di dalam kamar mandi yang sempit dengan lampu yang gelap dan kondisi tangan dan kakinya diikat pakai tali pramuka. Setelah kejadian itu dia menjadi seseorang yang takut gelap, ruang sempit dan sosok bapaknya.

Dia menceritakan tentang kehidupannya di masa SMP, disaat itu dia dalam kondisi wajah yang berjerawat dan kulit hitam karena sering terkena sinar matahari saat latihan karate, lalu dia mempercantik dan merawat dirinya. Dia menceritakan tentang SMA nya dimana dia mengenal cinta, dan sangat senang mengikuti komunitas Cheerleaders. Pada saat itu kondisinya tidak baik dan sering ada orang yang melecehkan seperti tangan yang mencolek tubuhnya, lalu dia ada dimasa kondisi tidak baik dengan wajah penuh dengan luka. Dia menjadi tidak percaya diri untuk berada di lingkungan yang ramai.

Ketika masuk kuliah dia memutuskan untuk fokus ke tari tetapi masih ada yang membullynya dengan mengatakan bahwa dia tidak pantas, tetapi dia terus berjuang untuk menjadi seorang penari yang baik. Perlahan menari bisa menjelajahi tubuhnya dan dapat membantu menciptakan sesuatu sehingga menjadi sebuah identitas bagi tubuhnya menyimpan jutaan memori baginya.

Pertama, dia menggerakan tarinya dengan seperti kejadiannya ketika tangan dan kakinya diikat pakai tali pramuka dengan ekspresi seperti ketakutan dan kesakitan. Kedua, dia menggerakkan tarinya seperti cheerleaders dengan ekspresi yang sangat senang dan dia seperti sangat nyaman dengan kegiatannya, lalu dia menggerakkan tariannya seperti orang yang dilecehkan dengan ekspresi yang ketakutan dan mempunyai rasa marah. Ketiga, dia menggerakkan tarinya yang sangat menakutkan seperti menahan rasa sakit dengan gerakan seperti kejang-kejang dan terlihat sangat menakutkan. Keempat, dia menggerakan tarian tradisional dengan sangat lentur, tetapi dengan ekspresi yang sangat kosong.

Karya ini menggunakan musik pendukung yang memiliki genre yang sangat misterius dan menegangkan. Ada juga musik yang tenang ketika dia menceritakan dan menarikan kebahagiaan yang dirasakannya. Selain itu ada musik yang menyeramkan ketika dia menari kesakitan dan ketika dia menari dengan gerak yang menggambarkan sedang dihukum oleh bapaknya.

Disini dia memakai properti seperti meja kertas dan spidol untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Dia membawa properti cheerleaders dengan menggerakkan tarian ketika ia menceritakannya. Tata cahaya yang dipakai fokus ke satu titik yaitu ke Puri Senja yang menceritakan pengalamannya dan menampilkan tariannya, sehingga suasana di sana terlihat sangat menegangkan dengan keadaan sekitarnya yang gelap. Agar terlihat seperti memandang masa lalu atau flashback.

Saya sangat tertarik dengan ceritanya, karena ceritanya itu adalah sebuah rahasia baginya dengan disampaikan melalui tarian. Menurut saya itu sangat sulit untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Apa yang telah dialaminya dan saya sangat salut karena dia selalu terus berusaha dan tidak pantang menyerah untuk menjadi seorang penari walaupun banyak orang yang menyatakan bahwa dia tidak pantas. Pengalamannya tersebut membuatnya berusaha menjadi seorang penari yang baik.

Terbitan Terkait

Mengikuti acara Indonesian Dance Festival, IDF, saya sangat tertarik dengan proyek yang digagas Eun-Me Ahn, karena ada 59 tarian di Project tersebut. Saya sangat tertarik dengan tarian hasil karyanya Kezia Alyssa dari Tangerang Banten. Tarian ini dengan Judul “Hari ke 211” (Day 211). yang menceritakan tentang kegiatan di masa Covid-19 ini dengan menceritakan dia sebagai seorang guru tari balet, yang mengajar online dari rumah. Suatu hari ketika mengajar di hari ke 211 dia tidak dalam kondisi mental yang baik untuk menunjukkan wajahnya di depan murid-muridnya. Setelah ia menyelesaikan kelasnya hari itu, salah satu muridnya tiba-tiba bernyanyi Hymne Guru, lalu guru tersebut benar-benar sangat tersentuh hatinya, dan sangat menghargai momen bersama murid-muridnya. Lalu guru tersebut menyampaikan itulah yang membuatnya terus maju, dan jalan pintasnya menuju kebahagiaan.

Gerakan yang dilakukan olehnya, gerakan balet yang diawali dengan gerakan penuh dengan emosi dengan perasaan mental yang tidak baik, tetapi ia mengeluarkan ekspresi senyuman karena ia harus menunjukkan wajahnya di depan muridnya, gerakan ini diakhiri dengan gerakan ia sedang mengajar muridnya.

Disini juga dia memakai musik yang berjudul Soldier dari James dan sangat cocok untuk karyanya. Apa yang dia rasakan saat itu, selalu berjuang untuk melewati hari-hari tergelapnya, sehingga membuatnya menjadi berani. Diakhir tarian ada musik pendukung seorang anak yang menyanyikan lagu Hymne Guru untuknya.

Properti yang dia pakai adalah laptop untuk menceritakan sedang mengajar, lalu dia menggunakan handphone untuk menceritakan dan menyampaikan bahwa dia seorang guru dengan foto murid-muridnya. Tata cahaya saat mengajar dan gelas-gelas bekas minum untuk menceritakan ia telah lama mengajar dan hampir selesai. Dalam tarian dia tidak memakai properti, tetapi properti tersebut untuk menyampaikan apa yang diceritakan dalam tarian tersebut. Tata cahaya dalam video tersebut cukup baik, karena sesuai dengan konsep yang menceritakan dia mengajar online. Jadi seperti seadanya dalam kegiatan sehari-hari ketika dia sedang mengajar dengan bantuan cahaya lighting kecil dan cahaya lampu.

Kenapa saya sangat tertarik dengan karya Kezia Alyssa ini, karena karya dia lebih menceritakan kegiatan sehari-hari di masa Covid-19 ini dan disampaikan dengan sebuah tarian. Tarian ini termasuk tarian balet, dan saya sangat suka dengan kelenturan tubuh. Dalam tarian ini juga menceritakan dalam keadaan kita yang sekarang sedang mengalami pandemi Covid-19. Menurut saya konsep ini sudah sangat bagus karena menceritakan keadaan sekarang, tetapi sayangnya durasi video sangat pendek yang seharusnya dapat lebih panjang lagi durasinya. Pengembangan tarian-tarian di Indonesia juga sangat baik. Saya sangat suka dengan acara IDF ini karena banyak yang saya tidak tahu menjadi tahu. Perkembangan dalam teknologinya juga cukup baik. Dalam segi video juga sangat jelas, tarian yang disampaikan oleh penari cukup jelas sehingga saya dapat memahami apa cerita dari gerakan tersebut.


Puri Senja

Karya Puri Senja memiliki tema “The Other Half” menceritakan pengalaman dia dalam kehidupannya yang dididik oleh bapaknya sangat keras. Ketika itu ia tidak mengikuti perintah bapaknya untuk tidur siang tetapi dia memilih untuk bermain. Saat itu juga dia dihukum oleh bapaknya di dalam kamar mandi yang sempit dengan lampu yang gelap dan kondisi tangan dan kakinya diikat pakai tali pramuka. Setelah kejadian itu dia menjadi seseorang yang takut gelap, ruang sempit dan sosok bapaknya.

Dia menceritakan tentang kehidupannya di masa SMP, disaat itu dia dalam kondisi wajah yang berjerawat dan kulit hitam karena sering terkena sinar matahari saat latihan karate, lalu dia mempercantik dan merawat dirinya. Dia menceritakan tentang SMA nya dimana dia mengenal cinta, dan sangat senang mengikuti komunitas Cheerleaders. Pada saat itu kondisinya tidak baik dan sering ada orang yang melecehkan seperti tangan yang mencolek tubuhnya, lalu dia ada dimasa kondisi tidak baik dengan wajah penuh dengan luka. Dia menjadi tidak percaya diri untuk berada di lingkungan yang ramai.

Ketika masuk kuliah dia memutuskan untuk fokus ke tari tetapi masih ada yang membullynya dengan mengatakan bahwa dia tidak pantas, tetapi dia terus berjuang untuk menjadi seorang penari yang baik. Perlahan menari bisa menjelajahi tubuhnya dan dapat membantu menciptakan sesuatu sehingga menjadi sebuah identitas bagi tubuhnya menyimpan jutaan memori baginya.

Pertama, dia menggerakan tarinya dengan seperti kejadiannya ketika tangan dan kakinya diikat pakai tali pramuka dengan ekspresi seperti ketakutan dan kesakitan. Kedua, dia menggerakkan tarinya seperti cheerleaders dengan ekspresi yang sangat senang dan dia seperti sangat nyaman dengan kegiatannya, lalu dia menggerakkan tariannya seperti orang yang dilecehkan dengan ekspresi yang ketakutan dan mempunyai rasa marah. Ketiga, dia menggerakkan tarinya yang sangat menakutkan seperti menahan rasa sakit dengan gerakan seperti kejang-kejang dan terlihat sangat menakutkan. Keempat, dia menggerakan tarian tradisional dengan sangat lentur, tetapi dengan ekspresi yang sangat kosong.

Karya ini menggunakan musik pendukung yang memiliki genre yang sangat misterius dan menegangkan. Ada juga musik yang tenang ketika dia menceritakan dan menarikan kebahagiaan yang dirasakannya. Selain itu ada musik yang menyeramkan ketika dia menari kesakitan dan ketika dia menari dengan gerak yang menggambarkan sedang dihukum oleh bapaknya.

Disini dia memakai properti seperti meja kertas dan spidol untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Dia membawa properti cheerleaders dengan menggerakkan tarian ketika ia menceritakannya. Tata cahaya yang dipakai fokus ke satu titik yaitu ke Puri Senja yang menceritakan pengalamannya dan menampilkan tariannya, sehingga suasana di sana terlihat sangat menegangkan dengan keadaan sekitarnya yang gelap. Agar terlihat seperti memandang masa lalu atau flashback.

Saya sangat tertarik dengan ceritanya, karena ceritanya itu adalah sebuah rahasia baginya dengan disampaikan melalui tarian. Menurut saya itu sangat sulit untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Apa yang telah dialaminya dan saya sangat salut karena dia selalu terus berusaha dan tidak pantang menyerah untuk menjadi seorang penari walaupun banyak orang yang menyatakan bahwa dia tidak pantas. Pengalamannya tersebut membuatnya berusaha menjadi seorang penari yang baik.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-16T00:08:05+07:00Juli 16th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top