Performances
kampana
zip.conversations

Kampana Trajectory
Irfan Setiawan

Deka A. Saputra
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Kampana Trajectory
Irfan Setiawan

Deka A. Saputra
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Kampana Trajectory
Irfan Setiawan

Deka A. Saputra
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

“Pulang”, adalah kebutuhan yang dilakukan setiap ingin membuat sebuah karya tari bagi Irfan Setiawan. Baginya, kembali ke akar budaya dan lingkungan alam, dengan mengenali mitos-mitos yang tumbuh di halaman kampung, menjadi pemantik dalam penciptaan karyanya, terutama sejarah tambang timah yang ada di Kota Bangka. Sebuah peradaban yang melahirkan benturan dan pertanyaan, dua hal tersebut menjadi latar belakang untuk karya yang terakhir dibuat. Beberapa karya tari Irfan Setiawan: “Encang-Encot” (2015-2016), “Bala” “Restoration of Behavior” (2016), “Melo Sang” (2017), “Sun Ali” (2018), dan “Re-reading Impact” (2020). Semua karya tersebut dibuat atas adanya benturan-benturan dan pertanyaan-pertanyaan di dalam dirinya, sehingga membuat dirinya harus kembali “pulang” untuk melihat kembali akar budaya yang ada pada kota kelahirannya.

Menurut saya, kecintaan Irfan Setiawan terhadap kota kelahirannya yaitu Bangka, menjadikan identitas dirinya lebih kuat dibanding kebanyakan yang lain. Walaupun di era milenial seperti ini, Irfan tetap mengambil tradisi budaya Bangka, secara tidak langsung membuat semua yang melihat karyanya bisa mengenal tradisi Bangka seperti apa. Dan jika dikaitkan dengan saya sebagai orang yang dilahirkan di Jakarta, ketika saya membuat sebuah koreografi atau karya, saya hanya melihat apa yang sedang terjadi dan apa yang ada di sekeliling kehidupan saya.

Sebagai contoh untuk pembuatan koreografi atau karya di semester tiga ini, di mata kuliah Koreografi yang dibimbing oleh Uda Benny Krisnawardi, saya mengambil tema “Tumbuh”, karena saya melihat untuk saat ini kebanyakan orang sedang ramai membicarakan mengenai tanaman-tanaman hias yang tak masuk akal harganya, dan mungkin sebagian orang yang mulai gemar berkebun saat adanya pandemi seperti ini, membuat saya berfikir untuk membuat karya tersebut di dalam tugas koreografi saya. Selain itu, pengalaman hidup dan apa yang sedang rasakan juga kemungkinan bisa saya masukan ke dalam karya saya. Menurut saya, identitas kita adalah diri kita sendiri, bukan dari mana kita berasal, bukan dari mana kita dilahirkan, dan bukan dari mana kita tinggal. Karena hal terpenting dari sebuah karya terutama karya tari adalah “rasa”, bukan hanya sebuah keindahan, bukan hanya sebuah kekompakan, tetapi tanpa rasa itu semua tidak akan bisa sampai kepada yang melihat karya kita. Sampai saat ini, saya sendiri masih melihat, mencoba, dan mencari identitas saya, sudah berada dan sudah sejauh mana orang bisa menilai saya. Terima kasih 😊

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

“Pulang”, adalah kebutuhan yang dilakukan setiap ingin membuat sebuah karya tari bagi Irfan Setiawan. Baginya, kembali ke akar budaya dan lingkungan alam, dengan mengenali mitos-mitos yang tumbuh di halaman kampung, menjadi pemantik dalam penciptaan karyanya, terutama sejarah tambang timah yang ada di Kota Bangka. Sebuah peradaban yang melahirkan benturan dan pertanyaan, dua hal tersebut menjadi latar belakang untuk karya yang terakhir dibuat. Beberapa karya tari Irfan Setiawan: “Encang-Encot” (2015-2016), “Bala” “Restoration of Behavior” (2016), “Melo Sang” (2017), “Sun Ali” (2018), dan “Re-reading Impact” (2020). Semua karya tersebut dibuat atas adanya benturan-benturan dan pertanyaan-pertanyaan di dalam dirinya, sehingga membuat dirinya harus kembali “pulang” untuk melihat kembali akar budaya yang ada pada kota kelahirannya.

Menurut saya, kecintaan Irfan Setiawan terhadap kota kelahirannya yaitu Bangka, menjadikan identitas dirinya lebih kuat dibanding kebanyakan yang lain. Walaupun di era milenial seperti ini, Irfan tetap mengambil tradisi budaya Bangka, secara tidak langsung membuat semua yang melihat karyanya bisa mengenal tradisi Bangka seperti apa. Dan jika dikaitkan dengan saya sebagai orang yang dilahirkan di Jakarta, ketika saya membuat sebuah koreografi atau karya, saya hanya melihat apa yang sedang terjadi dan apa yang ada di sekeliling kehidupan saya.

Sebagai contoh untuk pembuatan koreografi atau karya di semester tiga ini, di mata kuliah Koreografi yang dibimbing oleh Uda Benny Krisnawardi, saya mengambil tema “Tumbuh”, karena saya melihat untuk saat ini kebanyakan orang sedang ramai membicarakan mengenai tanaman-tanaman hias yang tak masuk akal harganya, dan mungkin sebagian orang yang mulai gemar berkebun saat adanya pandemi seperti ini, membuat saya berfikir untuk membuat karya tersebut di dalam tugas koreografi saya. Selain itu, pengalaman hidup dan apa yang sedang rasakan juga kemungkinan bisa saya masukan ke dalam karya saya. Menurut saya, identitas kita adalah diri kita sendiri, bukan dari mana kita berasal, bukan dari mana kita dilahirkan, dan bukan dari mana kita tinggal. Karena hal terpenting dari sebuah karya terutama karya tari adalah “rasa”, bukan hanya sebuah keindahan, bukan hanya sebuah kekompakan, tetapi tanpa rasa itu semua tidak akan bisa sampai kepada yang melihat karya kita. Sampai saat ini, saya sendiri masih melihat, mencoba, dan mencari identitas saya, sudah berada dan sudah sejauh mana orang bisa menilai saya. Terima kasih 😊

Terbitan Terkait

“Pulang”, adalah kebutuhan yang dilakukan setiap ingin membuat sebuah karya tari bagi Irfan Setiawan. Baginya, kembali ke akar budaya dan lingkungan alam, dengan mengenali mitos-mitos yang tumbuh di halaman kampung, menjadi pemantik dalam penciptaan karyanya, terutama sejarah tambang timah yang ada di Kota Bangka. Sebuah peradaban yang melahirkan benturan dan pertanyaan, dua hal tersebut menjadi latar belakang untuk karya yang terakhir dibuat. Beberapa karya tari Irfan Setiawan: “Encang-Encot” (2015-2016), “Bala” “Restoration of Behavior” (2016), “Melo Sang” (2017), “Sun Ali” (2018), dan “Re-reading Impact” (2020). Semua karya tersebut dibuat atas adanya benturan-benturan dan pertanyaan-pertanyaan di dalam dirinya, sehingga membuat dirinya harus kembali “pulang” untuk melihat kembali akar budaya yang ada pada kota kelahirannya.

Menurut saya, kecintaan Irfan Setiawan terhadap kota kelahirannya yaitu Bangka, menjadikan identitas dirinya lebih kuat dibanding kebanyakan yang lain. Walaupun di era milenial seperti ini, Irfan tetap mengambil tradisi budaya Bangka, secara tidak langsung membuat semua yang melihat karyanya bisa mengenal tradisi Bangka seperti apa. Dan jika dikaitkan dengan saya sebagai orang yang dilahirkan di Jakarta, ketika saya membuat sebuah koreografi atau karya, saya hanya melihat apa yang sedang terjadi dan apa yang ada di sekeliling kehidupan saya.

Sebagai contoh untuk pembuatan koreografi atau karya di semester tiga ini, di mata kuliah Koreografi yang dibimbing oleh Uda Benny Krisnawardi, saya mengambil tema “Tumbuh”, karena saya melihat untuk saat ini kebanyakan orang sedang ramai membicarakan mengenai tanaman-tanaman hias yang tak masuk akal harganya, dan mungkin sebagian orang yang mulai gemar berkebun saat adanya pandemi seperti ini, membuat saya berfikir untuk membuat karya tersebut di dalam tugas koreografi saya. Selain itu, pengalaman hidup dan apa yang sedang rasakan juga kemungkinan bisa saya masukan ke dalam karya saya. Menurut saya, identitas kita adalah diri kita sendiri, bukan dari mana kita berasal, bukan dari mana kita dilahirkan, dan bukan dari mana kita tinggal. Karena hal terpenting dari sebuah karya terutama karya tari adalah “rasa”, bukan hanya sebuah keindahan, bukan hanya sebuah kekompakan, tetapi tanpa rasa itu semua tidak akan bisa sampai kepada yang melihat karya kita. Sampai saat ini, saya sendiri masih melihat, mencoba, dan mencari identitas saya, sudah berada dan sudah sejauh mana orang bisa menilai saya. Terima kasih 😊

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-16T00:01:28+07:00Juli 16th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top