Performances
kampana
zip.conversations

Kampana Trajectory Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
“Re-reading Impact” oleh Irfan Setiawan

Yasni
Program Studi Pendidikan Sendratasik
Universitas Negeri Makassar

Kampana Trajectory Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
“Re-reading Impact” oleh Irfan Setiawan

Popy Asmiati
Program Studi Seni Tari
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Kampana Trajectory
Indonesian Dance Festival (IDF) 2020
“Re-reading Impact” oleh Irfan Setiawan

Yasni
Program Studi Pendidikan Sendratasik
Universitas Negeri Makassar

Kampana trajectory merupakan sebuah program pemberdayaan seniman tari muda. Dalam kampana trajectory enam koreografer kampana akan mempresentasikan gagasannya, membentangkan konsep pertunjukannya, dan menceritakan proses kreatifnya. Irfan Setiawan merupakan salah satu dari enam seniman kampana trajectory 2020.

Irfan Setiawan yang biasa dipanggil Irfan, berasal dari Kec. Belinyu, Kab. Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Irfan merupakan alumni Prodi Tari di Institut Kesenian Jakarta. Irfan banyak menciptakan karya tari yang terinspirasi dari kampung halamannya dan selalu berkata pulang atau kembali. Sebuah peradaban yang melahirkan benturan dan pertanyaan. Dua hal tersebut yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan karya tari. Pada 2015-2016 ia menciptakan karya tari yang berjudul “Encang-Encot” dan “Bala”, dan pada 2017 untuk pertama kalinya dia berkarya pada program penciptaan karya tari koreografer muda dari komite tari Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta Dance Meet Up (JDMU) dengan judul “Melo Song”. Pada tahun 2018, Irfan kembali menciptakan Karya yang berjudul “Sun Ali”. Pada tahun 2018 salah satu karyanya mendapatkan kesempatan meraih hibah dari Djarum Foundation dari platform kreatif. Pada tugas akhirnya di Institut Kesenian Jakarta, Irfan membuat karya tari yang berjudul “Impact”.

Karya tari “Re-reading Impact” dipentaskan tahun 2020 untuk Indonesian Dance Festival dengan platform daring. Dalam karya ini Irfan Setiawan membenamkan konsep dan membiarkan terjadinya tarik-menarik antara individu dengan utuhnya, fisik dengan konstruksi sosial, politik, ruang dan eksistensinya dalam sebuah frame dengan meletakkan kamera sebagai kolaborator yang memperkuat artistik karya. Kamera menjadi subjek dan bagian klausal karya serta tubuh dan narator yang setara dengan para penari. Benturan-benturan itu akan menjadi benturan yang lain di mata penonton daring, jika benturan itu terjadi dan melahirkan banyak benturan yang lain. Di masa pandemi Irfan bisa merasakan ruang, energi yang terasa baru saja lahir. Dia membawa energi yang baru lahir tersebut untuk dibesarkan dengan ruang asuhnya benturan dan pertanyaan.

Dalam karya tari “Re-reading Impact” mempersembahkan tiga rangkaian video yaitu:

  1. Re-reading Impact Introduksi
  2. Re-reading Impact Film
  3. Re-reading Impact 360 video Performance

Rangkaian video “Re-reading Impact” yang dipersembahkan oleh Irfan Setiawan ini memberikan konsep beda dengan menuntut penonton agar menonton video tersebut seakan-akan merasa pusing pengaruh permainan kamera yang cembung dan tak beraturan tetapi memberi kesan kepada penonton merasa tertarik dan penasaran terhadap pertunjukannya. Dalam video tersebut memberi penonton membaca gerak tubuh dalam situasi ketidakteraturan. Gerak-gerak yang ditampilkan dengan kolaborasi kamera seakan berbenturan.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Kampana trajectory merupakan sebuah program pemberdayaan seniman tari muda. Dalam kampana trajectory enam koreografer kampana akan mempresentasikan gagasannya, membentangkan konsep pertunjukannya, dan menceritakan proses kreatifnya. Irfan Setiawan merupakan salah satu dari enam seniman kampana trajectory 2020.

Irfan Setiawan yang biasa dipanggil Irfan, berasal dari Kec. Belinyu, Kab. Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Irfan merupakan alumni Prodi Tari di Institut Kesenian Jakarta. Irfan banyak menciptakan karya tari yang terinspirasi dari kampung halamannya dan selalu berkata pulang atau kembali. Sebuah peradaban yang melahirkan benturan dan pertanyaan. Dua hal tersebut yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan karya tari. Pada 2015-2016 ia menciptakan karya tari yang berjudul “Encang-Encot” dan “Bala”, dan pada 2017 untuk pertama kalinya dia berkarya pada program penciptaan karya tari koreografer muda dari komite tari Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta Dance Meet Up (JDMU) dengan judul “Melo Song”. Pada tahun 2018, Irfan kembali menciptakan Karya yang berjudul “Sun Ali”. Pada tahun 2018 salah satu karyanya mendapatkan kesempatan meraih hibah dari Djarum Foundation dari platform kreatif. Pada tugas akhirnya di Institut Kesenian Jakarta, Irfan membuat karya tari yang berjudul “Impact”.

Karya tari “Re-reading Impact” dipentaskan tahun 2020 untuk Indonesian Dance Festival dengan platform daring. Dalam karya ini Irfan Setiawan membenamkan konsep dan membiarkan terjadinya tarik-menarik antara individu dengan utuhnya, fisik dengan konstruksi sosial, politik, ruang dan eksistensinya dalam sebuah frame dengan meletakkan kamera sebagai kolaborator yang memperkuat artistik karya. Kamera menjadi subjek dan bagian klausal karya serta tubuh dan narator yang setara dengan para penari. Benturan-benturan itu akan menjadi benturan yang lain di mata penonton daring, jika benturan itu terjadi dan melahirkan banyak benturan yang lain. Di masa pandemi Irfan bisa merasakan ruang, energi yang terasa baru saja lahir. Dia membawa energi yang baru lahir tersebut untuk dibesarkan dengan ruang asuhnya benturan dan pertanyaan.

Dalam karya tari “Re-reading Impact” mempersembahkan tiga rangkaian video yaitu:

  1. Re-reading Impact Introduksi
  2. Re-reading Impact Film
  3. Re-reading Impact 360 video Performance

Rangkaian video “Re-reading Impact” yang dipersembahkan oleh Irfan Setiawan ini memberikan konsep beda dengan menuntut penonton agar menonton video tersebut seakan-akan merasa pusing pengaruh permainan kamera yang cembung dan tak beraturan tetapi memberi kesan kepada penonton merasa tertarik dan penasaran terhadap pertunjukannya. Dalam video tersebut memberi penonton membaca gerak tubuh dalam situasi ketidakteraturan. Gerak-gerak yang ditampilkan dengan kolaborasi kamera seakan berbenturan.

Terbitan Terkait

Kampana trajectory merupakan sebuah program pemberdayaan seniman tari muda. Dalam kampana trajectory enam koreografer kampana akan mempresentasikan gagasannya, membentangkan konsep pertunjukannya, dan menceritakan proses kreatifnya. Irfan Setiawan merupakan salah satu dari enam seniman kampana trajectory 2020.

Irfan Setiawan yang biasa dipanggil Irfan, berasal dari Kec. Belinyu, Kab. Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Irfan merupakan alumni Prodi Tari di Institut Kesenian Jakarta. Irfan banyak menciptakan karya tari yang terinspirasi dari kampung halamannya dan selalu berkata pulang atau kembali. Sebuah peradaban yang melahirkan benturan dan pertanyaan. Dua hal tersebut yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan karya tari. Pada 2015-2016 ia menciptakan karya tari yang berjudul “Encang-Encot” dan “Bala”, dan pada 2017 untuk pertama kalinya dia berkarya pada program penciptaan karya tari koreografer muda dari komite tari Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta Dance Meet Up (JDMU) dengan judul “Melo Song”. Pada tahun 2018, Irfan kembali menciptakan Karya yang berjudul “Sun Ali”. Pada tahun 2018 salah satu karyanya mendapatkan kesempatan meraih hibah dari Djarum Foundation dari platform kreatif. Pada tugas akhirnya di Institut Kesenian Jakarta, Irfan membuat karya tari yang berjudul “Impact”.

Karya tari “Re-reading Impact” dipentaskan tahun 2020 untuk Indonesian Dance Festival dengan platform daring. Dalam karya ini Irfan Setiawan membenamkan konsep dan membiarkan terjadinya tarik-menarik antara individu dengan utuhnya, fisik dengan konstruksi sosial, politik, ruang dan eksistensinya dalam sebuah frame dengan meletakkan kamera sebagai kolaborator yang memperkuat artistik karya. Kamera menjadi subjek dan bagian klausal karya serta tubuh dan narator yang setara dengan para penari. Benturan-benturan itu akan menjadi benturan yang lain di mata penonton daring, jika benturan itu terjadi dan melahirkan banyak benturan yang lain. Di masa pandemi Irfan bisa merasakan ruang, energi yang terasa baru saja lahir. Dia membawa energi yang baru lahir tersebut untuk dibesarkan dengan ruang asuhnya benturan dan pertanyaan.

Dalam karya tari “Re-reading Impact” mempersembahkan tiga rangkaian video yaitu:

  1. Re-reading Impact Introduksi
  2. Re-reading Impact Film
  3. Re-reading Impact 360 video Performance

Rangkaian video “Re-reading Impact” yang dipersembahkan oleh Irfan Setiawan ini memberikan konsep beda dengan menuntut penonton agar menonton video tersebut seakan-akan merasa pusing pengaruh permainan kamera yang cembung dan tak beraturan tetapi memberi kesan kepada penonton merasa tertarik dan penasaran terhadap pertunjukannya. Dalam video tersebut memberi penonton membaca gerak tubuh dalam situasi ketidakteraturan. Gerak-gerak yang ditampilkan dengan kolaborasi kamera seakan berbenturan.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-15T23:42:10+07:00Juli 16th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top