Performances
kampana
zip.conversations

Beberapa Karya Menarik dalam IDF 2020

Feilicia Andani Putri
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Beberapa Karya Menarik
dalam IDF 2020

Feilicia Andani Putri
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Beberapa Karya Menarik dalam IDF 2020

Feilicia Andani Putri
Program Studi Seni Tari
Institut Kesenian Jakarta

Banyak sekali yang menurut saya menarik dari pertunjukan Indonesian Dance Festival (IDF) 2020, karena semua menggunakan kesempatan dari keadaan atau pandemi ini untuk terus berkreasi.

Setiap harinya IDF selalu menampilkan karya yang unik dan bagus hingga sulit bagi saya untuk memilih mana yang paling bagus. Tapi ada beberapa yang menurut saya unik sekali (sulit menentukan jadi akan saya ambil 4 karya saja). Sebagian karya di bawah dibuat oleh peserta workshop Eun Me Ahn 1’59 Project Indonesia—red.

1. “Raise Me Up” by Ery (Kelapa Gading, Jakarta)

Memang terlihat hanya tarian biasa, namun saya suka dengan tarian dan koreografinya. Ditambah lagi lagunya menyentuh hati. Ketika awal saya menonton mereka menampilkan secara langsung di opening IDF, saya langsung tertarik untuk membahasnya di tugas ini. Lagu You Raise Me Up sudah saya dengarkan terus semenjak awal pandemi, dengan video para tim medis dan pasien Covid-19 yang berjuang melawan virus ini. Lagu itu terus terngiang di telinga saya sehingga saat saya mendengar lagu ini kembali, membuat saya terharu dan merinding. Seperti kita yang saling menguatkan dalam keadaan sulit ini.

Ditambah lagi pembawaan dari penari yang membawa suasana semakin haru. Juga koreografinya yang penuh ekspresi. Para penari menarikannya dengan kompak dan berenergi, saya semakin terbawa suasana.

2. “Save Our Ocean” by Milda (Bandung, Jawa Barat)

Karyanya tentang keadaan laut di bumi yang semakin parah. Memang laut di bumi kita ini kotor dan banyak sekali sampah berserakan sehingga mempengaruhi kesehatan dan keselamatan hewan laut itu sendiri. Lebih parahnya lagi dapat berpengaruh kepada kesehatan kita sebagai manusia.

Di karya itu memang tidak ada orang yang menari, hanya tangan yang bergerak-gerak, namun penuh arti. Ada pula background biru dengan efek-efek lautan yang penuh sampah. Gerakan tangan yang indah yang menggambarkan hewan-hewan laut, dan beberapa gerak-gerak indah yang memiliki arti dari karya video tersebut.

Yang membuat saya tertarik disini adalah, saya membayangkan kalau ini bukanlah karya daring (lewat video). Pastinya akan menjadi karya tari biasa. Tapi dengan keadaan seperti ini, ia menjadikannya karya video tari yang menarik. Terkadang yang sederhana juga bisa keren dengan kreativitas tanpa batas dan makna yang mendalam.

3. “Hari ke-211” by Kezia Alyssa (Tangerang, Banten)

Entah mungkin judul di sini merupakan lamanya kita berdiam di rumah (hingga saat ini). Dampak dari pandemi ini membuat semua menjadi serba daring. Di karya ini, koreografer menceritakan kegiatan dia sebagai guru balet untuk anak-anak yang dilakukan secara online namun tetap mendapat kekuatan dari tingkah atau sikap si anak muridnya tersebut.

Kali ini saya suka gerakannya yang luas dan terlihat ringan. Dia memanfaatkan setiap ruangan di rumahnya dengan baik ditambah kamera yang bergerak dengan dinamis. Kemudian saya takjub saat melihat ia menarikannya secara langsung di pembukaan IDF 2020 karena ditarikan bersamaan dengan proyektor yang diputar dan gerakannya terlihat sama dan kompak dengan yang ada di layar. Ditambah lagi menarikan tariannya di atas rumput pasti beda rasanya dengan di lantai yang rata.

4. “Who Are You” by Eyi Lesar

Sepengetahuan saya, karya ini sudah ada sejak tahun 2018. Ditampilkan oleh Eyi dengan sistem kita. Para penonton didatangi satu persatu oleh penari. Para penari datang menghampiri penonton dan diajak bicara.

Dengan adanya pandemi ini, Eyi Lesar tidak menjadikan keadaan ini menjadi penghalang untuk dia mau menampilkan karya “Who Are You” nya tersebut. Kemajuan teknologi sudah berkembang sekarang. Sudah cukup lama kita mengetahui adanya video dengan sistem kamera VR 360’. Pemikirannya tidak buntu dan malah terpikir untuk memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan ini dengan membuat kita seolah sedang berada di tempat tersebut menonton karya seperti saat karyanya ditampilkan tahun 2018 lalu.

Karya ini juga tentang siapakah kita sehingga kita dapat saling menghakimi satu dengan yang lainnya. Disitu terdapat kalimat-kalimat teguran seperti perkataan dari alkitab tentang tindakan dosa(?). Setiap penari membicarakan hal yang berbeda dan semakin lama semakin keras. Kalimat itu mengingatkan dan menegur kita terhadap dosa yang kita lakukan atau perbuatan kepada sesama manusia.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

Banyak sekali yang menurut saya menarik dari pertunjukan Indonesian Dance Festival (IDF) 2020, karena semua menggunakan kesempatan dari keadaan atau pandemi ini untuk terus berkreasi.

Setiap harinya IDF selalu menampilkan karya yang unik dan bagus hingga sulit bagi saya untuk memilih mana yang paling bagus. Tapi ada beberapa yang menurut saya unik sekali (sulit menentukan jadi akan saya ambil 4 karya saja). Sebagian karya di bawah dibuat oleh peserta workshop Eun Me Ahn 1’59 Project Indonesia—red.


1. “Raise Me Up” by Ery (Kelapa Gading, Jakarta)

Memang terlihat hanya tarian biasa, namun saya suka dengan tarian dan koreografinya. Ditambah lagi lagunya menyentuh hati. Ketika awal saya menonton mereka menampilkan secara langsung di opening IDF, saya langsung tertarik untuk membahasnya di tugas ini. Lagu You Raise Me Up sudah saya dengarkan terus semenjak awal pandemi, dengan video para tim medis dan pasien Covid-19 yang berjuang melawan virus ini. Lagu itu terus terngiang di telinga saya sehingga saat saya mendengar lagu ini kembali, membuat saya terharu dan merinding. Seperti kita yang saling menguatkan dalam keadaan sulit ini.

Ditambah lagi pembawaan dari penari yang membawa suasana semakin haru. Juga koreografinya yang penuh ekspresi. Para penari menarikannya dengan kompak dan berenergi, saya semakin terbawa suasana.


2. “Save Our Ocean” by Milda (Bandung, Jawa Barat)

Karyanya tentang keadaan laut di bumi yang semakin parah. Memang laut di bumi kita ini kotor dan banyak sekali sampah berserakan sehingga mempengaruhi kesehatan dan keselamatan hewan laut itu sendiri. Lebih parahnya lagi dapat berpengaruh kepada kesehatan kita sebagai manusia.

Di karya itu memang tidak ada orang yang menari, hanya tangan yang bergerak-gerak, namun penuh arti. Ada pula background biru dengan efek-efek lautan yang penuh sampah. Gerakan tangan yang indah yang menggambarkan hewan-hewan laut, dan beberapa gerak-gerak indah yang memiliki arti dari karya video tersebut.

Yang membuat saya tertarik disini adalah, saya membayangkan kalau ini bukanlah karya daring (lewat video). Pastinya akan menjadi karya tari biasa. Tapi dengan keadaan seperti ini, ia menjadikannya karya video tari yang menarik. Terkadang yang sederhana juga bisa keren dengan kreativitas tanpa batas dan makna yang mendalam.


3. “Hari ke-211” by Kezia Alyssa (Tangerang, Banten)

Entah mungkin judul di sini merupakan lamanya kita berdiam di rumah (hingga saat ini). Dampak dari pandemi ini membuat semua menjadi serba daring. Di karya ini, koreografer menceritakan kegiatan dia sebagai guru balet untuk anak-anak yang dilakukan secara online namun tetap mendapat kekuatan dari tingkah atau sikap si anak muridnya tersebut.

Kali ini saya suka gerakannya yang luas dan terlihat ringan. Dia memanfaatkan setiap ruangan di rumahnya dengan baik ditambah kamera yang bergerak dengan dinamis. Kemudian saya takjub saat melihat ia menarikannya secara langsung di pembukaan IDF 2020 karena ditarikan bersamaan dengan proyektor yang diputar dan gerakannya terlihat sama dan kompak dengan yang ada di layar. Ditambah lagi menarikan tariannya di atas rumput pasti beda rasanya dengan di lantai yang rata.


4. “Who Are You” by Eyi Lesar

Sepengetahuan saya, karya ini sudah ada sejak tahun 2018. Ditampilkan oleh Eyi dengan sistem kita. Para penonton didatangi satu persatu oleh penari. Para penari datang menghampiri penonton dan diajak bicara.

Dengan adanya pandemi ini, Eyi Lesar tidak menjadikan keadaan ini menjadi penghalang untuk dia mau menampilkan karya “Who Are You” nya tersebut. Kemajuan teknologi sudah berkembang sekarang. Sudah cukup lama kita mengetahui adanya video dengan sistem kamera VR 360’. Pemikirannya tidak buntu dan malah terpikir untuk memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan ini dengan membuat kita seolah sedang berada di tempat tersebut menonton karya seperti saat karyanya ditampilkan tahun 2018 lalu.

Karya ini juga tentang siapakah kita sehingga kita dapat saling menghakimi satu dengan yang lainnya. Disitu terdapat kalimat-kalimat teguran seperti perkataan dari alkitab tentang tindakan dosa(?). Setiap penari membicarakan hal yang berbeda dan semakin lama semakin keras. Kalimat itu mengingatkan dan menegur kita terhadap dosa yang kita lakukan atau perbuatan kepada sesama manusia.

Terbitan Terkait

Banyak sekali yang menurut saya menarik dari pertunjukan Indonesian Dance Festival (IDF) 2020, karena semua menggunakan kesempatan dari keadaan atau pandemi ini untuk terus berkreasi.

Setiap harinya IDF selalu menampilkan karya yang unik dan bagus hingga sulit bagi saya untuk memilih mana yang paling bagus. Tapi ada beberapa yang menurut saya unik sekali (sulit menentukan jadi akan saya ambil 4 karya saja). Sebagian karya di bawah dibuat oleh peserta workshop Eun Me Ahn 1’59 Project Indonesia—red.


1. “Raise Me Up” by Ery (Kelapa Gading, Jakarta)

Memang terlihat hanya tarian biasa, namun saya suka dengan tarian dan koreografinya. Ditambah lagi lagunya menyentuh hati. Ketika awal saya menonton mereka menampilkan secara langsung di opening IDF, saya langsung tertarik untuk membahasnya di tugas ini. Lagu You Raise Me Up sudah saya dengarkan terus semenjak awal pandemi, dengan video para tim medis dan pasien Covid-19 yang berjuang melawan virus ini. Lagu itu terus terngiang di telinga saya sehingga saat saya mendengar lagu ini kembali, membuat saya terharu dan merinding. Seperti kita yang saling menguatkan dalam keadaan sulit ini.

Ditambah lagi pembawaan dari penari yang membawa suasana semakin haru. Juga koreografinya yang penuh ekspresi. Para penari menarikannya dengan kompak dan berenergi, saya semakin terbawa suasana.


2. “Save Our Ocean” by Milda (Bandung, Jawa Barat)

Karyanya tentang keadaan laut di bumi yang semakin parah. Memang laut di bumi kita ini kotor dan banyak sekali sampah berserakan sehingga mempengaruhi kesehatan dan keselamatan hewan laut itu sendiri. Lebih parahnya lagi dapat berpengaruh kepada kesehatan kita sebagai manusia.

Di karya itu memang tidak ada orang yang menari, hanya tangan yang bergerak-gerak, namun penuh arti. Ada pula background biru dengan efek-efek lautan yang penuh sampah. Gerakan tangan yang indah yang menggambarkan hewan-hewan laut, dan beberapa gerak-gerak indah yang memiliki arti dari karya video tersebut.

Yang membuat saya tertarik disini adalah, saya membayangkan kalau ini bukanlah karya daring (lewat video). Pastinya akan menjadi karya tari biasa. Tapi dengan keadaan seperti ini, ia menjadikannya karya video tari yang menarik. Terkadang yang sederhana juga bisa keren dengan kreativitas tanpa batas dan makna yang mendalam.

 

3. “Hari ke-211” by Kezia Alyssa (Tangerang, Banten)

Entah mungkin judul di sini merupakan lamanya kita berdiam di rumah (hingga saat ini). Dampak dari pandemi ini membuat semua menjadi serba daring. Di karya ini, koreografer menceritakan kegiatan dia sebagai guru balet untuk anak-anak yang dilakukan secara online namun tetap mendapat kekuatan dari tingkah atau sikap si anak muridnya tersebut.

Kali ini saya suka gerakannya yang luas dan terlihat ringan. Dia memanfaatkan setiap ruangan di rumahnya dengan baik ditambah kamera yang bergerak dengan dinamis. Kemudian saya takjub saat melihat ia menarikannya secara langsung di pembukaan IDF 2020 karena ditarikan bersamaan dengan proyektor yang diputar dan gerakannya terlihat sama dan kompak dengan yang ada di layar. Ditambah lagi menarikan tariannya di atas rumput pasti beda rasanya dengan di lantai yang rata.


4. “Who Are You” by Eyi Lesar

Sepengetahuan saya, karya ini sudah ada sejak tahun 2018. Ditampilkan oleh Eyi dengan sistem kita. Para penonton didatangi satu persatu oleh penari. Para penari datang menghampiri penonton dan diajak bicara.

Dengan adanya pandemi ini, Eyi Lesar tidak menjadikan keadaan ini menjadi penghalang untuk dia mau menampilkan karya “Who Are You” nya tersebut. Kemajuan teknologi sudah berkembang sekarang. Sudah cukup lama kita mengetahui adanya video dengan sistem kamera VR 360’. Pemikirannya tidak buntu dan malah terpikir untuk memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan ini dengan membuat kita seolah sedang berada di tempat tersebut menonton karya seperti saat karyanya ditampilkan tahun 2018 lalu.

Karya ini juga tentang siapakah kita sehingga kita dapat saling menghakimi satu dengan yang lainnya. Disitu terdapat kalimat-kalimat teguran seperti perkataan dari alkitab tentang tindakan dosa(?). Setiap penari membicarakan hal yang berbeda dan semakin lama semakin keras. Kalimat itu mengingatkan dan menegur kita terhadap dosa yang kita lakukan atau perbuatan kepada sesama manusia.

Terbitan Terkait

Kajian Kritis dari Ayu Permata Sari

Karya Kezia Alyssa

2021-07-07T22:57:28+07:00Juli 9th, 2021|Feature|0 Comments
Go to Top