Indonesian Dance Festival 2016

Pra Pembukaan

Pra-Pembukaan mengadopsi konsep ritual “selamatan” yang kerap dilakukan dalam praktik sosial sehari-hari. Dalam konteks banyak tradisi lokal di Indonesia, seni berakar pada hubungan antara manusia dengan alam. Jakarta yang lebih sering dilukiskan sebagai belantara beton, ternyata masih menyisakan ruang hijau di pinggirannya. Di hutan kota inilah, dua pertunjukan oleh Jefriandi Usman dan Abdullah Wong akan digelar sebagai semacam “selamatan” agar festival berjalan lancar.

Pembukaan

Setelah merintisnya di IDF 2014: EXPAND, tahun ini IDF: Tubuh Sonik kembali menampilkan karya baru seniman Indonesia yang kali ini merupakan hasil kerjasama internasional antara Melati Suryodarmoyang selama ini lebih dikenal sebagai seniman performans—dengan pengarah musik Naoki Iwata aka SKANK. Menampilkan karya baru, Tomorrow as Purposed, selalu menyandang resiko. Tetapi IDF kali ini berusaha keras meluangkan waktu menemani proses sang seniman melalui diskusi-diskusi intensif serta kunjungan-kunjungan latihan. Salah satu kurator IDF 2016, Seno Joko Suyono, bahkan dilibatkan sebagai dramaturg untuk naskah karena karya ini yang memang bertolak dari karya klasik Shakespeare, Macbeth.

Main Performances

Pertunjukan utama menampilkan karya penuh (full-length) dari koreografer/seniman dengan kombinasi dari berbagai spektrum usia dan pengalaman berkarya. Spektrum ini juga diwakili dengan keragaman pendekatan dan moda produksi (kolaborasi antar individu dan robot pada karya Antony Hamilton dan Alisdair Macindoe; kolaborasi individu-kolektif antara Punkasila dan Fitri Setyaningsih; follow-up ko-produksi internasional pada Darlane Litaay-Tian Rotteveel; atau karya kolaborasi adaptasi Park Je Chun dengan 4 penari Indonesia dan 3 penari Korea. Aguibo Bougobali Sanou adalah koreografer asal Afrika yang tampil di IDF—konteks yang tidak cukup terwakili dalam IDF—sementara Filastine adalah duet seniman Amerika Serikat-Indonesia yang berdomisili di Barcelona.

Highlight

Kedua koreografer dalam Highlight menandai fase baru dalam perjalanan karya masing-masing. Andara Moeis mementaskan karyanya ketika ia mengikuti workshop P.A.R.T.S—sekolah tari ternama di Brussels—yang memberinya perspektif baru dalam mencipta. Sementara Rianto—setelah berkolaborasi dengan beberapa koreografer internasional sebagai penari—akhirnya mencipta koreografi yang merupakan ko-produksi internasional pertamanya.

Showcase

Tahun ini panggung showcase berfokus pada tiga koreografer muda; Ari Ersandi (Lampung-Yogykarta), Fitri Anggraini (Jakarta), dan Nihayah (Surabaya) yang dipilih berdasarkan karya mereka oleh tiga asisten kurator hasil dari lokakarya kuratorial IDF 2015 di Yogyakarta. Linda Agnesia, Taufik Darwis, dan Nia Agustina datang dari generasi, latar belakang, dan jejak rekam yang beragam. Mereka membawa kombinasi ini ke dalam pemilihan tiga koreografer muda dalam Showcase tahun ini. Ketiga koreografer muda wajib mengikuti dua workshop Akademi IDF tentang kepenarian dan riset artistik. Mereka juga ditemani dengan konsultan artistik dalam menyempurnakan karya terpilihnya.

Program Retrospektif

IDF 2016 meluncurkan program baru bertajuk Retrospektif yaitu sebuah program yang menampilkan irisan sejarah koreografer Indonesia yang karya dan jejaknya berpengaruh terhadap perkembangan tari Indonesia saat ini. Edisi pertama menelisik Hoerijah Adam (1936-1971), koreografer perempuan dari Padangpanjang, Sumatra Barat. IDF mengirim salah satu kolaborator Hoerijah semasa di Jakarta, Sentot Sudiharto, untuk napak tilas ditemani pembuat film Faozan Rizal, seniman lintas disiplin Katia Engel, dan aktor M. Qomaruddin ke Padangpanjang, daerah asal Hoerijah. Hasilnya adalah film dokumenter yang menjadi bagian dari pertunjukan, pameran berbasis arsip yang berbasis koleksi foto Rasmida (koreografer dan dosen ISI Padangpanjang), serta diskusi yang akan menelisik warisan serta pengaruh tak ternilai Hoerijah pada perkembangan tari kontemporer Indonesia.

Master Class

Beberapa koreografer penampil juga memberikan master class sebagai ajang pembelajaran bagi komunitas tari Indonesia. Berbeda dengan format workshop yang kini menjadi bagian dari Akademi IDF (berdurasi panjang dan intensif), maka master class lebih merupakan ajang pembuka mata dan ‘cicip’ tentang praktik-praktik tertentu dari seorang seniman.

Bicara Tari

Diskusi IDF berfokus pada satu tema pilihan dan kali ini akan membicarakan ragam pendapat tentang ‘sonic’ dalam karya koreografik serta berbagai isu tubuh dan sonik.

IDF Award

Program ini merupakan nama baru dari program IDF sebelumnya, Lifetime Achievement Award. Perubahan nama ini dilandasi keinginan IDF untuk memperluas kemungkinan penghormatan serta penghargaannya terhadap insan tari Indonesia. Jika pada Lifetime Achievement Award, penghormatan dan penghargaan hanya bagi insan tari yang masih hidup, dengan IDF Award ini, dimungkinkanlah untuk memberikan penghormatan dan penghargaan bagi mereka yang sudah tiada tetapi jejaknya begitu penting di dalam dunia tari Indonesia.

Special Feature

Jecko Siompo, koreografer asal Papua, dan kelompok Animal Pop Dance turut mewarnai perhelatan IDF 2016. Jecko akhir-akhir ini asik mengeksplorasi film tari. IDF 2016 lantas mengundangnya untuk membuat video teaser IDF 2016. Animal Pop Dance akan mewarnai dan memeriahkan IDF 2016; mereka akan mengisi sudut-sudut kosong perhelatan IDF 2016.

Visiting Residency for Young Choreographers

Program ini adalah lanjutan dari program IDF 2014 yang waktu itu diberi nama Program Koreografer Muda Potensial. Tahun ini IDF mengundang sekitar selusin koreografer muda Indonesia dari beberapa kota dan memfasilitasi mereka untuk bisa menonton seluruh pertunjukan serta mengikuti acara-acara di dalamnya (master class, workshop dan diskusi). Harapannya, pengalaman ‘mengalami’ IDF akan memperkaya karya mereka di masa datang.

Akademi IDF

Akademi IDF adalah salah satu divisi di Indonesian Dance Festival yang khusus menangani program pendidikan. Serangkaian workshop telah dilaksanakan pada 2016 sebagai ‘pemanasan’ sebelum perhelatan IDF 2016 dijalankan. Workshop yang telah diadakan itu adalah Workshop Kepenarian dan Workshop Riset Artistik. Selama perhelatan IDF 2016, Akademi IDF pun mengadakan Workshop Kepenulisan Kritik Tari.