Pengumuman Hasil Seleksi Peserta Lokakarya Penulisan Tari – Akademi IDF 2018

Akademi IDF – Indonesian Dance Festival 2018 mengucapkan terima kasih kepada para calon peserta Lokakarya Penulisan Tari yang sudah mendaftar. Berikut ini adalah 15 nama peserta terpilih yang dapat mengikuti Lokakarya Penulisan Tari, Akademi IDF, Indonesian Dance Festival 2018:

  1. Shohifur Ridhoi
  2. John Heryanto
  3. Agung Purwandono
  4. Hadi Gustian
  5. Marwah Tiffani
  6. Kiki Rahmatika
  7. Ida El Bahra
  8. Maharani Hares Kaeksi
  9. Muhammad Dinu Imansyah
  10. Oana Kirana Bintang
  11. Ressa Rizky Mutiara Hadi
  12. Sulistiani
  13. Galih Prakasiwi
  14. Dina Triastusi
  15. Pepep

Peserta Lokakarya Penulisan Tari yang terpilih akan segera dihubungi oleh panitia. Setelah program ini, para peserta diharapkan semakin berkontribusi dalam ranah tari, khususnya melalui penulisan tari, dengan wawasan yang semakin luas.

Selamat kepada para peserta terpilih!

 

Pengumuman Seleksi Peserta Program Koreografer Muda Potensial, IDF 2018

Akademi IDF – Indonesian Dance Festival 2018 mengucapkan terima kasih kepada para calon peserta Program Koreografer Muda Potensial yang sudah mendaftar. Berikut ini adalah 12 nama peserta terpilih yang dapat mengikuti Program Koreografer Muda Potensial, Akademi IDF, Indonesian Dance Festival 2018:

  1. ANIS HARLIANI KENCANA EKAPUTRI (Bandung)
  2. BATHARA SAVERIGADI DEWANDORO (Bekasi)
  3. DAVID PUTRA YUDHA (Batusangkar)
  4. DECKY SETIAWAN RAMADHAN (Bandung/Jakarta)
  5. EKA WAHYUNI (Kalimantan Timur/ Yogyakarta)
  6. FERRY CAHYO NUGROHO (Malang/Surakarta)
  7. I NYOMAN KRISNA SATYA UTAMA (Bali)
  8. IRFAN SETIAWAN (Bangka Belitung/Jakarta)
  9. MIFTAHUL JANNAH (Surabaya)
  10. PURI SENJANI APRILIANI (Surabaya)
  11. SAFRIZAL (Aceh)
  12. SILVIA DEWI MARTHANINGRUM (Klaten/Yogyakarta)

Ada beberapa indikator pemilihan Koreografer Muda Potensial IDF 2018 yakni:

  1. Keberagaman asal koreografer;
  2. Jejak pengalaman koreografer, serta;
  3. Jawaban dari pertanyaan atas posisi, visi, dan ambisi mereka di ranah tari kontemporer.

Peserta Koreografer Muda Potensial yang terpilih akan segera dihubungi oleh panitia.Setelah program ini, para peserta diharapkan semakin berkontribusi dalam ranah tari dengan wawasan yang semakin luas. Selain itu, program ini juga ingin memberikan peluang untuk berjejaring baik di antara peserta maupun peserta dengan para penampil IDF, apresiator, produser, kurator, dramaturg, dll.

Selamat kepada para peserta terpilih!

Pendaftaran Peserta Lokakarya Penulisan Tari, Akademi IDF 2018

Lokakarya Penulisan Tari adalah bagian dari Akademi Indonesian Dance Festival (IDF) sebagai upaya memperkuat ekosistem tari di Indonesia. Peserta Lokakarya ini diutamakan para penulis muda yang aktif menulis kritik seni, khususnya seni tari, di media cetak maupun digital. Melalui Lokakarya ini diharapkan terjadi peningkatan kualitas tulisan yang dipublikasikan di media massa sekaligus proses regenerasi penulis, pemerhati dan kritikus tari di Indonesia.

Lokakarya akan dilakukan bersamaan dengan perhelatan Indonesian Dance Festival 2018 pada tanggal 6 – 10 November 2018 di Jakarta, pada pukul 10.00 – 17.00 setiap harinya.

Pendaftaran:

  1. Terbuka untuk umum, tidak dipungut biaya.
  2. Mengisi formulir secara online di sini: Formulir Pendaftaran Peserta Lokakarya Penulisan Tari.
  3. Pendaftaran dibuka sejak pengumuman ini disiarkan dan akan ditutup pada 22 Oktober 2018;
  4. Pengumuman peserta di website www.indonesiandancefestival.id pada tanggal 29 Oktober 2018.
  5. Peserta akan difasilitasi untuk menyaksikan semua pertunjukan IDF IDF 2018.
  6. Panitia tidak menanggung transportasi dari luar kota ke Jakarta.
  7. Peserta membawa laptop sendiri.
  8. Panitia menanggung akomodasi peserta dari luar Jabodetabek selama berlangsungnya lokakarya.
  9. Peserta mendapatkan sertifikat.

Mentor:
FX. Widaryanto (Akademisi Tari), Bambang Bujono (Kritikus Seni), AS Laksana (Penulis Seni), Yusuf Arifin (Jurnalis),  Michael HB Raditya (Penulis Tari).

Ruang Investasi Gagasan Bersama: Lokakarya Riset Artistik, Kampana Akademi IDF

Tiga tahun terakhir ini, IDF meluncurkan sub divisi program Akademi IDF sebagai platform penyelenggaraan kegiatan edukatif bagi praktisi tari muda. Upaya ini dilakukan Akademi IDF dengan mengadakan rangkaian lokakarya (kepenarian, koreografi, penelitian artistik) dengan menggandeng fasilitator dan mentor lintas disiplin dan budaya. Hal tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan ruang eksperimentasi alternatif bagi praktik koreografi kritis, membangun wacana perkembangan koreografi dan sejarah tari dalam konteks Indonesia dan medan seni global. Terkait dengan hal itu, IDF mengembangkan platform Showcase IDF bukan hanya sebagai wahana presentasi dan promosi karya koreografer muda, tetapi juga sebagai platform pertukaran, belajar bersama, eksperimentasi melalui rangkaian kegiatan Akademi IDF, dan presentasi akhir di Festival IDF.

Para Peserta Pada Salah Satu Sesi Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 | Foto: Dokumentasi IDF

Maka, format Showcase berkembang menjadi forum berdurasi panjang dan intensif. Tim kuratorial IDF merasa perlu untuk memayungi keseluruhan prosesi dengan nama platform baru untuk menggantikan istilah “showcase”. Maka, muncullah istilah KAMPANA. KAMPANA diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna filosofis “yang memiliki getaran”. Kata ini dipilih dengan harapan agar platform ini akan menjadi titik getar dengan resonansi yang dapat menjangkau praktik dan gagasan koreogafi beserta dengan kekuatan jaringan gagasannya. Koreografer muda pun diseleksi secara ketat dan akan didampingi hingga November nanti oleh tim kuratorial IDF yang terdiri dari Helly Minarti, Arco Renz, Nia Agustina, Linda Agnesia, dan saya sendiri (Taufik Darwis-red). Setiap seniman partisipan/koreografer muda ditantang untuk bersama-sama dengan IDF memperluas jangkauan resonansi pengetahuan koreografi dan berkomitmen mengikuti seluruh proses yang dielaborasi di dalam rangkaian kegiatan Akademi IDF yang salah satunya adalah Lokakarya Riset Artistik.

Lokakarya ini menjadi momen pertemuan kedua antar koreografer setelah pertemuan pertama di bulan Juni. Pada pertemuan pertama itu, mereka telah saling membentangkan profil proyek artistik masing-masing. Untuk tahun ini, lokakarya diselenggarakan selama satu minggu dari 27 Agustus hingga 2 September 2018 di Omah Kebun, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Selain didampingi tim kuratorial, Akademi IDF mengundang 3 seniman dengan latar disiplin yang berbeda yaitu Arco Renz (koreografer), Gunawan Maryanto (sutradara teater, aktor, penyair)  dan Mella Jaarsma (perupa/visual artis) sebagai fasilitator  untuk memperkaya perspektif atas kebutuhan koregrafer muda yang berbeda. Sedang untuk seniman partisipan lokakarya, kami memilih 5 koreografer muda, 4 dari Indonesia dan 1 dari Singapura yang sedang dalam proses pengerjaan karya masing-masing.

Salah Satu Sesi di Dalam Lokakarya Tari Akademi IDF | Foto: Dokumentasi IDF

***

Pertama, Riyo Fernando (Riau, Solo) membawa pertanyaan atas kemungkinan pertumbuhan karya Sosak yang berangkat atas pengalaman ketersesakan dan keterhimpitan sendiri di tengah-tengah dampak dari kebakaran hutan di Riau yang diakibatkan industri kelapa sawit. Kedua, Ayu Permata (Lampung, Yogyakarta) dengan karyanya Tubuh Dang Tubuh yang terakhir dipentaskan di Festival Jejak Tabi pada Juli lalu. Ayu mempunyai pertanyaan atas bagaimana proses ketubuhan penonton konser dangdut yang memberi pantulan atas kondisi ketubuhan dirinya sebagai penari/koreografer. Titik pertumbuhan yang sama dengan Ayu juga dialami pada proyek kolaborasi antara koreografer dan performance artis Gusbang Sada (Bali Yogyakarta) dan Natasya Tontey (Jakarta) yang juga sempat dipresentikan di Festival Jejak Tabi. Mereka bergegas dari pertanyaan atas kematian yang normal dan tidak normal, dari gestur mayat yang mereka riset dengan mendatangi/mewawancarai ahli forensik. Sementara Densiel Lebang dengan karyanya No Limit yang sempat dipresentasikan di program showcase Sipfest 2018, Komunitas Salihara, menjelaskan pertumbuhan karyanya yang tertarik dengan tali, yang menurutnya sejauh ini mengundang banyak asosiasi dari penontonnya.

Sebagian besar koreografer yang terlibat dalam platform Kampana berkesempatan untuk menemukan ruang dan pengalaman untuk mempresentasikan titik-titik pertumbuhan karyanya. Begitu juga dengan Alisa Soelaeman (Jakarta) yang bekesempatan pentas di panggung Paradance Festival, tepat sehari sebelum hari pertama lokakarya ini dimulai. Alisa tertarik dengan hubungan antara emosi, pikiran dan tubuh dalam kondisi mental manusia di batas kesadaranya atas hidup, yang juga pernah terjadi padanya. Alisa mengolah situasi tersebut pada batas-batas bagaimana dia memposisikan diri sebagai penari tunggal yang melakukan improvisasi dan koreografer yang membuat/menentukan struktur di dalam karyanya, Transference.

Tahun ini juga kami mengundang dan berkerjasama dengan Dance Nucleus Singapore untuk melibatkan salah satu koreografer muda/anggotanya bernama Pat Toh dalam Kampana. Pat adalah seorang performer dan seniman pertunjukan berlatar belakang teater yang tertarik pada sensibilitas ketubuhan dalam tubuh kontemporer. Seperti pada proyek The Map yang sedang dikerjakannya sekarang, Pat mempunyai pernyataan atas tubuh sebagai perjalanan kehidupan. Perjalanan di antara bergerak dan bernafas, antara tubuh yang satu dengan tubuh lain, atau tubuh sebagai dirinya sendiri.

Para Peserta Lokakarya Riset Artistik Pada Sesi Dari Arco Renz | Foto: Dokumentasi IDF

***

Salah satu kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan jika menonton karya para koreografer muda Indonesia adalah kekosongan yang perlu diisi oleh kesadaran (riset) atas jaringan gagasan dan konteks dalam dan pada proses artistik. Hal ini tercermin dari karya para koreografer Indonesia selama paling tidak 2-5 tahun terakhir.  Lokakarya ini diharapkan bisa menghasilkan kemungkinan pengembangan gagasan, agenda, dan proyek penelitian dan kerja dramaturgi lanjutan bagi para koreografer muda yang terpilih. Maka dari itu, lokakarya ini juga mengundang satu orang rekan kerja para koroegrafer muda yang terlibat dalam proses kreatif untuk membantu mengurai dan memutuskan setiap kemungkinan pilihan artistik yang lahir selama lokakarya.

Maka seperti yang direncanakan, lokakarya ini berjalan tidak terburu-buru agar secara organik bisa melihat dan membuka kemungkinan perubahan seturut dinamika yang terjadi. Selama 7 hari, selain diperkenalkan berbagai perspektif kritis seniman dari beragam disiplin dalam praktik mencipta karya, para koreografer muda terlibat dalam umpan-balik yang saling menajamkan, memetakan dan memperluas, serta memperkukuh kerja penciptaan dan pengembangan karya yang sedang dikerjakan. Selain itu, lokakarya ini juga mengundang dan mengunjungi lembaga, kolektif atau seniman individu di Jogjakarta yang mempunyai pendekatan yang berbeda-beda dalam praktik artistik mereka. Misalnya Teater Garasi, Yayasan Cemeti, Ace House, Kelompok Bakudapan, periset tari (Muhammad Abe) dan IVAA. Para peserta juga difasilitasi bila mempunyai keinginan untuk bertemu-bincang dengan seniman yang mereka anggap bisa memberi pantulan lain untuk karyanya.

Penampilan Ari Ersandi, Peserta Program Showcase, IDF 2016 | Foto: Dokumentasi IDF

Jauh dari sekedar meributkan oposisi biner antara bagus dan jelek, tari dan bukan tari, lokakarya ini malah mencoba untuk membuat ruang investasi gagasan bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Tidak hanya bagi para koreografer muda saja, tapi juga tim kuratorial dan tentu saja para fasilitator.*** (Taufik Darwis adalah aktivis seni pertunjukan asal Bandung yang dalam beberapa tahun terakhir terlibat sebagai kurator muda di Indonesian Dance Festival)

Dari Lokakarya Riset Artistik: Wrap Up

Para peserta memulai hari keenam Lokakarya Riset Artistik dengan sarapan sembari mempersiapkan presentasi masing-masing. Hari terakhir lokakarya ini diagendakan untuk presentasi dan diskusi roadmap proses berkarya masing-masing koreografer Kampana seusai workshop ini hingga IDF 2018 November mendatang.

Alisa Soelaeman Menjelaskan Perkembangan Konsep Karyanya | Foto: Dokumentasi IDF

Alisa memulai presentasinya dengan menampilkan video presentasi karyanya di Paradance, untuk mengingatkan kembali bagian-bagian pertunjukannya. Dia juga menyampaikan tentang temuan-temuannya dari awal lokakarya hingga pertemuan dengan Gunawan Maryanto dan Restu Ratnaningtyas dalam field trip individu di hari sebelumnya. Pertemuannya dengan Gunawan Maryanto lebih membicarakan teks yang nantinya akan digunakan sebagai landasan pembuatan musik oleh Chuck. Kemudian dengan Restu, Alisa justru banyak membicarakan hal personal sebagai modus berkarya. Hal ini menarik karena dalam karya di program Kampana, Alisa juga berkarya dari kondisi psikologi yang sangat personal.

Dari presentasi di Paradance, ketika Alisa melihat Eyi yang pada saat itu dicoba menggantikannya menari, ada perasaan kosong yang justru menyergap. Ini menjadi pertanyaan juga untuk Alisa, mengapa bisa begitu? Mella Jaarsma memberikan tanggapan tentang penggunaan kaos yang dipakai untuk menutupi muka penari dalam bagian tertentu presentasi pertunjukan Alisa. Bagi Mella, hal ini masih dapat dikembangkan lagi dengan kemungkinan kostum yang dapat dieksplorasi lebih lanjut.

Presentasi kedua oleh Riyo Fernando. Baginya, setelah proses lokakarya ini dan pertemuan-pertemun dengan beberapa seniman pertunjukan maupun rupa, ada sudut pandang yang berbeda yang dia lihat ketika berkarya dengan media tari dan visual/rupa. Untuk program Kampana, Rio sudah memiliki gambaran yang jelas tentang karya dan pengembangannya, sehingga proses lokakarya ini baginya lebih kepada sharing atau saling bertukar cerita tentang karya masing-masing. Maka, setelah ini, yang akan dilakukannya adalah mencoba mendatangkan perato’ dan pedandong (pedendang) dalam proses latihannya. Tujuannya untuk menjawab apakah alunan dendang dari perato’ dan pedandong akan memperkuat karyanya. Mella memberikan masukan tentang kostum yang oleh Rio telah dibaca menjadi salah satu simbol penting untuk menyampaikan pesan dalam karyanya; Apakah bisa memiliki kemungkinan menjadi properti?

Sedangkan Ayu Permatasari lebih menyorot tentang hubungan musik dan koreografi yang dalam presentasi Rio sebelumnya terlihat terlalu paralel; Apakah bisa dibuat berkebalikan? Namun bagi Rio, mengalunkan rato’ dan dandong ini memerlukan teknis khusus. Selain soal suara, juga harus mampu memunculkan makna dan rasa. Sehingga koreografinya pun harus disesuaikan dengan itu.

Presentasi dilanjutkan oleh Patricia Toh, partisipan Kampana dari Singapura. Pat memulai presentasinya dengan performance selama sekitar 3 menit. Performative presentation tersebut menggambarkan gagasan tentang body proportion dan measurement yang pada akhirnya bermuara kepada pertanyaan tentang living monument. Konstruksi gagasan ini dimulai dari nafas, yang merupakan sistem di dalam tubuh, bagaimana berhubungan lebih luas dengan sesuatu yang di luar tubuh. Misalnya seperti pada logika ruang yang dalam tradisi China yang berhubungan dengan energi atau feng-shui. Mella menanyakan dari presentasi performatif yang dihadirkan, Pat menggunakan teks sebagai backsound, seberapa jauh teks sebagai penanda dan apa pentingnya teks dalam karya ini? Bagi Pat, teks di sini masih ditimbang akankah sebagai bagian, irisan, atau latar belakang. Akan dieksplorasi kembali antara teks, konsep, dan sensibilitasnya. Bisa jadi, setelah proses tersebut, teks justru berada di tempat yang salah dalam karyanya, sehingga perlu trial and error setelah proses workshop ini. Arco memberi interpretasi bahwa dari teks kemudian terbaca soal bagaimana tubuh lelaki digunakan untuk mengukur tubuh perempuan. Memang secara detail, teksnya sulit diikuti, tapi secara keseluruhan demikian. Nah setelah memetakan tubuh perempuan ini, kemudian bagaimana menutup pembacaan atas karyanya?

Presentasi Performatif Patricia Toh, Pengembangan Gagasan Karya “The Map” | Foto: Dokumentasi IDF

Densiel mengawali presentasi dengan menanyakan asosiasi peserta maupun fasilitator ketika melihat apa yang disuguhkan. Yang pertama, tali derek berwarna kuning dicencang ke pilar dan dibiarkan sisanya menggelayut hingga ke lantai. Asosiasi dari peserta dan fasilitator antara lain: tidak ada lawan, batas, gantung, industrial, mati. Kemudian yang kedua, Eyi Lessar (penari Densiel) diminta berdiri di sebelah tali yang dicencang ke pilar. Asosiasinya: menunggu, berfikir, proteksi, tegangan. Adegan yang terakhir Eyi diminta untuk bermain dengan tali. Asosiasinya: ngeri, tidak setara, gravitasi, pembangunan, maintenance, bumi, tempat pelatihan kuda. Kemudian Densiel menanyakan kepada Eyi apa yang dirasakan. Eyi menjawab mencoba menikmati, menyenangkan, kadang-kadang sakit, kadang-kadang menyenangkan. Bagi Densiel, sekarang ia mempertanyakan persinggungannya dengan tali seperti apa. Selama dalam proses lokakarya ini, dia merasa berjarak dengan tali. Ia melihat dari luar sehingga dia tidak bisa membahasakan apa yang diinginkan dari tali itu. Presentasi performatif tadi, membantu Densiel untuk menemukan apa persinggugannya dengan tali atau apa persinggungan tali dengan orang lain, bukan mau membicarakan asosiasi yang spesifik.

Densiel Lebang Menjelaskan Perkembangan Gagasan Karyanya | Foto: Dokumentasi IDF

Intinya, di dalam karya ini, Densiel ingin mengalami hubungan dengan tali tersebut, main-main dengan tali. Masukan dari Gunawan Maryanto, Densiel di sini sudah tahu mau apa, yakni ingin main-main dengan tali. Yang perlu dicari dan diperjelas adalah kerangka bermainnya bagaimana. Bagi Pat dan Mella, mereka lebih memilih untuk melihat tali sebagai alat, lalu bagaimana alat ini akan digunakan oleh Densiel?

Gusbang dan Tontey mempertanyakan bagaimana memulai proses kembali atas karya yang “kelihatannya” sudah sangat jelas. Ada kebingungan untuk mencari apa lagi setelah ini. Kemungkinan hal yang ingin dicoba adalah soal bunyi; Apakah bunyi, suhu dan bau penting dalam karya ini? Point penting dalam pertunjukan ini adalah soal kepekaan terhadap pengalaman. Bukan sekedar menunjukkan ide, tetapi bagaimana membawa penonton mengalami ruang dan waktu. Oleh karenanya bentuk pertunjukan yang kedua di Jejak Tabi lebih performatif. Untuk presentasi selanjutnya Gusbang dan Tontey ingin mencobakan naskah pertunjukan ini ditubuhkan oleh orang lain.

Rio menyatakan, yang dia lihat dalam presentasi karya di IFI Yogyakarta, tubuh Tontey masih dalam taraf “aman” sedangkan Gusbang seperti menurunkan kualitas teknik tubuhnya. Gusbang dan Tontey sendiri merefleksikan mereka telah mencoba dalam part tertentu bertukar tubuh; Gusbang menjadi tubuh Tontey dan sebaliknya. Namun juga di titik tertentu mereka harus memikirkan keamanan dari proses itu. terutama bagi Tontey yang memang sebelumnya tidak terlatih teknik tubuh tari.

Ayu dan Enk (dramaturg Tubuh Dang Tubuh Dut) memikirkan soal tubuh antara maskulin dan feminin yang disampaikan oleh Arco setelah melihat video karya Tubuh Dang Tubuh Dut. Ayu ingin membaca kembali fenomena dangdut dalam ruang feminin dan maskulin. Dari segi pemanggungan, Ayu dan Enk sudah membayangkan panggung akan dibagi 3 ruang. Panggung yang satu yang akan dibiarkan kosong dengan lampu konser warna-warni, kemudian panggung kedua akan menjadi ruang untuk Ayu sebagai penari, dan panggung ketiga menjadi tempat dimana penonton pertunjukan berada. Pat menyatakan bahwa soal feminin-maskulin dari penjelasan Ayu dan Enk masih bias dan menjadi tidak nyaman. Saran dari Pat adalah melihat lagi data yang sebenarnya sudah sangat banyak dan mungkin justru diabaikan oleh Ayu dan Enk. Mungkin dari data-data tersebut ada hal yang lebih penting untuk menjadi fokus pertunjukan.

Ayu Permata Sari Menjelaskan Perihal Perkembangan Karyanya, ” Tubuh Dang Tubuh Dut” | Foto: Dokumentasi IDF

Beberapa peserta memberikan masukan yang hampir sama. Intinya adalah jika hanya gesture gerak penonton dangdut, yang kasarnya adalah mengcopy-paste gerak penonton dangdut, Ayu masih bisa lebih all out lagi dan harusnya bisa lebih kreatif lagi mengeksplorasi geraknya. Karena sebagai penari dan koreografer memang salah satu tuntutannya adalah pengembangan gerak tubuh. Karena jika kita melihat penonton dangdut bergerak, gerakannya sangat all out dan lebih dari apa yang ditampilkan Ayu dalam presentasi. Namun Pat kurang setuju dengan hal itu, karena kita membicarakan politik tari. Di mana, ada anasir ruang yang berbeda, ruang artistik dan non-artistik.

Terakhir, dari David sebagai salah satu peserta lokakarya ini di luar program Kampana. Dalam hal ini, David hanya memberikan gambaran bahwa setelah ini dia perlu kembali ke Padang dan melihat ulang kostum Bujang Gadih yang akan dijadikan inspirasi karyanya. Dia akan meriset secara lebih mendalam tentang kostum yang multi-gender ini dan lebih jauhnya bisa jadi akan ke arah tegangan antara modernisasi dan tradisional. Tapi Mella mencoba menahan David untuk lebih fokus mencari tahu tentang Bujang Gadih terlebih dahulu, baru kemudian arahnya kemana ditentukan dari temuan itu.

Para Peserta, Para Mentor, Para Kurator, dan Para Direktur IDF Berfoto Bersama di Akhir Lokakarya | Foto: Dokumentasi IDF

Lokakarya hari terakhir ini ditutup oleh Helly Minarti dan kemudian peserta memberikan beberapa feedback serta usulan soal proses pendampingan selanjutnya.*** (Laporan oleh Nia Agustina)

Pendaftaran Peserta Program Koreografer Muda Potensial, IDF 2018

Koreografer Muda Potensial adalah program yang dibuka bagi koreografer muda terpilih dari seluruh Indonesia untuk mengunjungi dan ‘mengalami’ IDF 2018 secara lengkap; Mulai dari menonton pertunjukan hingga mengikuti masterclass dan diskusi (formal maupun informal). Tujuan program ini adalah untuk memperkaya dan memperluas pandangan koreografer muda terkait gagasan dan cara kerja dalam berkarya. Selain itu, Koreografer Muda Potensial juga menawarkan ruang berjejaring bagi koreografer muda, baik dengan sesama partisipan, maupun dengan seniman, tamu undangan, dan apresiator IDF 2018.

Syarat pendaftaran:

  • Terbuka untuk umum, tidak dipungut biaya
  • Mengisi formulir: https://goo.gl/FM3pje
  • Maksimal umur pendaftar: 27 tahun

Tenggang waktu pendaftaran:
18 – 24 September 2018

Partisipan yang diterima akan dihubungi via e-mail pada tanggal 1 Oktober 2018

Tanggal Residensi:
6 s/d 10 November 2018

Fasilitas:

  • Peserta diberi tiket menonton seluruh pertunjukan IDF 2018
  • Panitia menanggung akomodasi peserta selama berlangsungnya residensi.
  • Peserta mendapatkan sertifikat.
  • Panitia tidak menanggung transportasi peserta dari tempat asal ke Jakarta.

Dari Lokakarya Riset Artistik: Kunjungan-kunjungan dan Pembacaan-pembacaan

Hari keempat lokakarya (29/08/2018) seperti biasa peserta melakukan pemanasan bersama. Pukul 09.30-16.00 peserta dijadwalkan untuk fieldtrip ke ruang dan kelompok kesenian di sekitar tempat lokakarya berlangsung. Ruang-ruang tersebut adalah Teater Garasi, Cemeti institut untuk seni dan masyarakat, Ace House Collective, dan IVAA (Indonesian Visual Art Archive).

Kunjungan pertama ke Teater Garasi peserta disambut oleh M.N Qomarruddin atau akrab disapa Qomar dan Sita, anggota Teater Garasi. Mula-mula, peserta diajak berkeliling untuk melihat ruang-ruang di sana; Kantor, dapur dan ruang berkumpul, ruang tamu, juga black box. Peserta juga dikenalkan secara sekilas profil Teater Garasi, mulai dari berdirinya pada 1993 yang awalnya adalah teater di dalam kampus FISIPOL UGM, kemudian hingga pada akhirnya bergerak di luar kampus. Dari ketika berdiri lebih kepada teater untuk akitivisme kemudian ketika masa reformasi Indonesia, teater Garasi juga melakukan reformasi di dalam tubuh kelompoknya. Diskusi berlanjut dengan pertanyaan dari peserta terkait program Teater Garasi. Qomar menjelaskan bahwa ada beberapa program yang sampai hari ini masih berjalan antara lain forum yang mempertemukan performer dengan publik, forum pedagogi atau pendidikan. Salah satunya seperti yang sedang aktif dijalankan saat ini yaitu Majelis Dramaturgi. Program yang lain adalah penulisan atau pengarsipan. Selain itu, Teater Garasi juga memiliki perpustakaan yang sifatnya terbuka. Pendekatan organisasi Teater Garasi adalah kolektif yang diharapkan dapat meumbuhkan setiap orang di dalamnya.

Kunjungan Individu Hari Ke Lima: Densiel Bertemu Tony Broer | Foto: Dokumentasi IDF

Sekitar satu setengah jam ngobrol santai di Teater Garasi, pukul 11.30 peserta melanjutkan perjalanan ke ruang kedua, Cemeti institut untuk seni dan masyarakat. Setelah berkeliling dan dipandu menonton pameran Bodies of Power/ Power for Bodies di Galeri Cemeti, peserta ngobrol secara informal bersama mbak Mella Jaarsma, salah satu pendiri Cemeti institut untuk seni dan masyarakat. Cemeti mengalami 10 tahun masa kepemimpinan Soeharto (Orde Baru) yang represif. Hal ini sangat mempengaruhi bagaimana seniman berkarya, lebih ke arah aktivisme dan kritik terhadap pemerintahan. Setelah masa kepemimpinan Soeharto berakhir, seniman seperti kehilangan inspirasi berkaryanya. Lalu Cemeti sendiri juga mempertanyakan, akan melakukan apa lagi? Ke arah mana? Boom pasar seni rupa pada 2007-2008 membuat seniman kembali lagi ke karya yang bisa dijual. Ini mempengaruhi mindset seniman muda pada saat itu. Pada saat itulah tepat waktunya Cemeti untuk membuka program residensi. Harapannya, dengan program ini seniman lebih kritis menilik wacana dalam berkarya, bukan sekedar berkarya untuk kepentingan pasar. Cukup menarik mendengarkan dan berdiskusi soal dinamika Cemeti; bagaimana menyesuaikan diri, mengevalusi, dan bertranformasi di dalam perjalanan sejarah seni rupa yang panjang.

Setelah makan siang di Galeri Cemeti, pukul 13.30 peserta meneruskan field trip ke Ace House Collective. Di sana kami disambut oleh Gintani, salah satu kurator Ace House. Ngobrol santai kami lakukan di halaman belakang galeri/kantor Ace House. Mulai dari bagaimana Ace House terbentuk pada 2011, kemudian praktik kerja kreatifnya yang menggunakan pendekatan budaya populer dan anak muda, hingga bentuk organisasinya yang kolektif. Salah satu proyek Ace House yang menarik adalah Ace Mart. Proyek ini mencoba membuka ruang galeri ke publik yang lebih awam kesenian dengan cara membuat minimarket di dalam ruang galeri. Ini dilakukan karena muncul pertanyaan dari anggota Ace House sendiri, mengapa ruang galeri yang sejatinya ruang publik namun kesannya terbatas dan dingin. Terbukti, dengan dibukanya Ace Mart memang berhasil membuat publik mau masuk ke galeri dan tentu kemudian memperluas jangkauan audiens Ace House Collective.

Kunjungan Individu Hari Ke Lima: Alisa dan pemusiknya, Chuck, Bertemu Dengan Gunawan Maryanto di Teater Garasi | Foto: Dokumentasi IDF

Hari sudah mulai sore dan perjalanan peserta hari itu berakhir di IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Di sana ada beberapa staf, staf magang, dan relawan yang diperkenalkan secara langsung oleh direktur IVAA, Lisis. Lisis menceritakan bahwa IVAA adalah organisasi non-profit yang didirikan pada April 2007 dan merupakan pengembangan dari Yayasan Seni Cemeti. Lembaga yang bekerja dengan fokus pada pengumpulan arsip ini memperoleh arsip dengan berbagai cara dan dari berbagai tempat. Mulai dari donasi arsip, liputan, hingga media sosial. IVAA mencoba mengisi kekosongan lembaga arsip pemerintah yang birokrasinya luar biasa rumit dan juga museum ternyata tidak secanggih yang dibayangkan. Dijelaskan pula oleh Lisis bahwa mengelola arsip bukanlah hal yang mudah, bukan sekadar pada proses pengumpulannya, tetapi juga dalam proses kontekstualisasi (membaca kembali) arsip-arsip tersebut.

Muncul pertanyaan dari Ayu, “Selain arsip sebagai data, apa lagi fungsi arsip?” Lisis menjawab, bahwa arsip adalah alat untuk membaca sejarah, sehingga kita bisa mengkritisi sejarah yang mula-mula ditulis dan disebarkan oleh kolonial. Pertanyaan lain, dari Riyo, “Bagaimana IVAA mendapatkan dana untuk membangun infrastruktur seperti sekarang? Selain itu, karena konteksnya peserta adalah penari bukankah kita juga melakukan pengarsipan lewat tubuh?” Untuk pertanyaan pertama, Lisis memberi gambaran bahwa sebagian besar infrastruktur yang sudah berdiri sekarang dibangun dari dana dari Ford Foundation dan yang sedang dibangun adalah hibah dari Bekraf. Buku-buku dalam perpustakaan kebanyakan dari donasi. Soal pengarsipan lewat tubuh, Lisis juga menyetujui hal itu, tapi kemudian perlu didiskusikan lebih lanjut lagi tentang hal yang satu ini.

Hari keempat berakhir di sini. Setelah field trip sehari penuh, nampaknya peserta mulai kelelahan dan alih-alih melakukan night club di Omah Kebon, akhirnya kami menyepakati untuk sekedar ngobrol santai dan orientasi untuk hari kelima sambil ngopi dan makan di luar. Nampaknya ngobrol santai malam itu berhasil membuat peserta lebih rileks, hingga pada pagi harinya mereka tampak semangat kembali untuk memulai field trip individual.

Field trip individual di hari kelima ini adalah pilihan peserta sendiri dengan rekomendasi kurator. Mereka bebas menemui siapapun dan apapun yang mereka pikir perlu untuk ditemui di Yogyakarta, baik individu, organisasi, tempat, dll. Perjalanan ini mencoba memfokuskan masing-masing koreografer untuk melihat praktik di luar sana yang sesuai dengan praktik koreografi yang sedang dijalaninya sekarang secara lebih spesifik. Riyo yang mengambil tema besar kebakaran hutan di Riau sebagai dasar koreografinya menemui Maryanto, salah satu perupa yang juga banyak mengambil hutan dan lahan sebagai tema-tema karyanya. Ayu menemui Irfan R. Darajat, salah satu peneliti dangdut dan anggota Laras, studies of music and society. Selain itu Ayu juga menemui Gunawan Maryanto dan M.N Qomaruddin untuk memperoleh gambaran tentang pertunjukan Teater Garasi yang mengambil inspirasi dari dangdut, yaitu “Je.ja.l.an”, “Tubuh Ketiga”, “Goyang Penasaran”, dan “yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi”. Alisa menemui Gunawan Maryanto terkait dengan diskusi mengenai teks yang akan menjadi salah satu dasar eksplorasi koreografi dan musik dalam pertunjukannya. Perjalanan Alisa dilanjutkan dengan mendatangi rumah Restu Ratnaningtyas. Restu bisa dibilang termasuk salah satu seniman intuitif, memulai berkarya dengan intuisi, namun dalam prosesnya, dia selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan atas karya yang sedang dibuatnya. Tentu pertanyaan tersebut sekaligus coba dijawabnya dari hasil melihat, membaca, mengamati, menonton, ngobrol, dll, sehingga pada akhirnya karya-karya Restu selalu memiliki isi yang padat dengan emosi yang kuat, karena merupakan gabungan dari intuisi dan pengetahuan.

Gusbang dan Tontey hari itu juga ikut mengantre bertemu dengan Gunawan Maryanto untuk membicarakan soal teks. Sedangkan Densiel mencoba menemui Tony Broer yang harapannya dari situ Densiel dapat menemukan jawaban atas relasinya dengan tali yang menjadi unsur utama dalam pertunjukannya. David dan Patricia hari itu berurutan menemui Mella Jaarsma. David ingin mengulik tentang karya-karya Mella yang menggunakan pendekatan fashion, sedangkan Patricia lebih banyak mencari tahu lebih dalam tentang materi yang diberikan Mella di sesi workshop, terkait material dan keterbatasan. Selain dengan Mella, David juga menemui Triastuti Dina, dari Kalanari Theatre Movement. Kebetulan Kalanari pada saat itu tengah menyiapkan pertunjukan berjudul “Un(Fitting)” yaitu kostum dalam lemari Kalanari sebagai pembacaan sejarah atas perjalanan Kalanari itu sendiri. Selain itu setahun lalu Kalanari mementaskan “Moro a Fashion Story” yang menggunakan kostum sebagai pendekatan membaca dan menceritakan Morotai. Dengan alasan tersebut, memang penting David yang sedang bereksplorasi dengan kostum Bujang Gadih menemui dan ngobrol dengan Dina.

Hari Keempat: Para Peserta Makan dan Ngobrol Santai di Luar Setelah Kunjungan | Foto: Dokumentasi IDF

Malam harinya, peserta kembali ke Omah Kebon dan makan malam sambil ngobrol santai dengan Agni, Manajer Residensi di Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat. Ngobrol-ngobrol tersebut berkisar soal perkenalan soal residensi, dan bentuk residensi di berbagai tempat dan juga di Cemeti. Forum berakhir pukul 21.00 dan peserta diminta untuk mempersiapkan presentasi untuk hari keenam workshop yang berisi perkiraan road map prosesnya setelah workshop ini berakhir hingga IDF di bulan November 2018 nanti.*** (Laporan oleh Nia Agustina)

Dari Lokakarya Riset Artistik: Memilih dan Melakukan Pendekatan dalam Riset Artistik

“Kalian membawa sesuatu?” Mella Jaarsma memegang pelantangnya dan bertanya kepada setiap peserta yang telah berkumpul setelah sarapan di hari ketiga Lokakarya Riset Artistik, Akademi IDF 2018. Sesi pertama hari ini adalah sesi lanjutan Mella. Ia membagikan salah satu cara/jalan dalam riset artistik yang dilakukannya, yaitu bekerja melalui satu material. Sebelum menunjukan material  apa yang dibawa, Mella meminta peserta menuliskan 3 kata sifat dari material yang dibawa, lalu meminta mereka untuk memilih 1 di antaranya, disertai alasan dari setiap pilihan itu. Kemudian, peserta membuat 3 kata asosiasi dari kata sifat yang dipilih, lalu diperas hingga tinggal satu. Jadi, sekarang peserta memilki tiga kata; Penanda dari material, kata sifat (konsep mental), dan asosiasi. Beberapa peserta ada yang berstrategi dengan membawa material yang baru dan ada juga yang membawa material yang digunakan dalam proyek artisitik masing-masing.

Dari tiga kata (kunci) tersebut Mella meminta perserta membuat konsep atau deskripsi rencana pertunjukan, termasuk menjelaskan kemungkinan durasi, ruang, gerakan, dan pemosisian penonton. Peserta diberikan waktu 20 menit untuk mengerjakannya. Masing-masing perserta mendapatkan giliran untuk memaparkan ide dan mendapat masukan dari peserta lain. Situasi lokakarya yang meminta setiap peserta aktif dan mengambil peran dalam penguatan ide yang muncul memang menjadi watak lokakarya kali ini. Watak lokakarya seperti ini memberikan banyak input, tidak hanya bagi setiap peserta tapi bagi setiap orang yang ada di lingkarannya. Termasuk fasilitator.

Sesi siang setelah makan dan mengendapkan sejenak alur pikiran yang lahir dari sesi Mella, peserta melanjutkan lagi salah satu aspek praktik artistik Arco. Praktik Arco sendiri secara langsung dan tidak langsung mempunyai irisan tersendiri bagi beberapa proyek peserta. Terutama proyek-proyek yang berkaitan dengan emosi, kesadaran, nafas, dan tentu saja tubuh. Misalnya dalam proyek Alisa, Riyo, dan Pat yang telah dijelaskan sebelumnya. Kali ini Arco mengajak peserta untuk memperdalam apa yang disebutnya sebagai teknik ‘spiral’ dan kesadaran. Arco memberi bingkai pengertian atas ‘kesadaran’ sebagai cara untuk memulai dan mengakhiri gerak di dalam praktiknya. Kesadaran yang dia maksud bukan sekadar kesadaran bentuk yang biasanya terjadi dalam praktik artistik yang melihat koreografi sebagai praktik menulis gerakan. Kesadaran ini diproduksi oleh bagaimana kita bernafas, kesadaran atas nafas sebagai energi. Tapi Arco juga memberi penekanan bahwa ini adalah salah satu cara dari sekian banyak cara. Sedangkan teknik ‘spiral’ digunakan untuk mengubungkan setiap titik di mana perjalanan gerak yang dibiarkan mengalir sendiri dengan memelintir tiap sendi di tubuh.

Para Peserta Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 Pada Sesi Arco Renz | Foto: Dokumentasi IDF

Arco mengawali dengan mengajak peserta untuk membuat uji coba pertama dengan membuat spiral di salah satu tangan masing-masing. Setelah itu, peserta diminta untuk memperluas perjalanan spiralnya ke bagian tubuh lain, dari yang sederhana hingga yang rumit. Selanjutnya, dia meminta setiap peserta untuk melakukannya secara berpasangan dan bergantian. Satu orang menentukan peta atau titik-titik perjalanan, sementara satu orang lain bertugas melakukan perjalanan, atau menggerakannya. Tahap berikutnya adalah peserta kembali diminta untuk melakukanya sendiri dengan meningkatkan intensitas, kualitas gerak, serta kualitas spiralnya. Untuk itu peserta perlu menciptakan titik-titik aliran sendiri atau peta perjalanan spiralnya sendiri, menentukan titik awal dan titik akhir masing-masing.

Diskusi Bersama Bakudapan, Yogyakarta | Foto: Dokumentasi IDF

Dari dua sesi praktikal sebelumnya, sore hari setelah istirahat dari sesi Arco yang menguras energi dan kesadaran, peserta diajak ke ruang diskursif melalui presentasi dari Bakudapan. Bakudapan, berbasis di Yogyakarta, adalah kelompok belajar dari latar belakang studi yang berbeda yang membahas gagasan tentang makanan. Mereka percaya bahwa makanan bukan hanya soal perut. Selain itu makanan tidak dibatasi sekadar memasak, sejarah, konservasi, dan ambisi untuk memperkenalkannya kepada dunia. Bagi mereka makanan bisa menjadi alat untuk berbicara tentang isu-isu yang lebih luas seperti politik, sosial, gender, ekonomi, filsafat, seni, dan budaya. Bakudapan juga menjelaskan skema kerja mereka dalam setiap proyek mereka yaitu melakukan pertukaran referensi dan penelitian tentang makanan di antara seni, etnografi dan praktik atas makanan itu sendiri.

Mereka memiliki bentuk dan metode proyek penelitian yang beragam seperti mengapropiasi bentuk-bentuk presentasi performatif (seni pertunjukan, pameran, lelang karya, dan lain lain) hingga dalam bentuk kehidupan sehari-hari (memasak, berkebun, membaca, dll).  Dan sebagai komitmen terhadap distribusi pengetahuan, mereka menulis jurnal di setiap proyeknya. Mereka juga secara aktif melatih diri untuk menulis di situs/web mereka, http://bakudapan.com. Presentasi Bakudapan menarik forum pada diskusi perihal isu-isu seperti apa dan bagaimana tegangan antara data dan fiksi; lalu bagaimana memverifikasi data; Serta bagaimana mereka memperluas jejaring penelitian dan praktis artistik.

Sesi Malam, Diskusi Antara Peserta dan Fasilitator | Foto: Dokumentasi IDF

Akhir hari, peserta dan fasilitator berkumpul untuk membicarakan apa yang sudah ditemukan selama hampir tiga hari lokakarya dan memberi semacam pengantar atau orientasi pada peserta untuk jadwal esok hari. Rencananya memang akan diadakan kunjungan ke 4 lembaga seni di Yogyakarta: Cemeti Art and Society, Teater Garasi/ Garasi Performance Institute, Ace House, dan IVAA.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

Dari Lokakarya Riset Artistik: Menyadari Batas dan Memetakan Gagasan

Keterbatasan dan Kesadaran Akan Batas

Hari kedua Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 pada 28 Agustus dimulai dengan pemanasan yang dipimpin oleh Riyo Fernando pada pagi pukul 07.00. Setelah sarapan, sesi pertama dimulai pukul 09.30 bersama Mella Jaarsma. Pagi itu, Mella memilih kata kunci “keterbatasan” untuk didiskusikan bersama. Bagi Mella seniman memang memiliki kebebasan yang luas, namun terkadang itu menjadi terlalu luas, sehingga sangat penting untuk berangkat dari keterbatasan yang jelas. Melalui cerita tentang pertunjukan Melati Suryodarmo, Butter Dance, Mella memberikan gambaran perihal “keterbatasan”. Di dalam Butter Dance, Melati membatasi hanya ada 4 blok mentega yang digunakan serta ia hanya mengenakan gaun dan juga membatasi gerakannya hanya pada gerak jatuh dan bangun. Semua batasan-batasan itu ada di sana dengan kesadaran kreator, dalam hal ini Melati sendiri.

Mella kemudian meminta peserta membentuk kelompok beranggotakan dua orang. Setiap kelompok mendiskusikan apa saja secara umum yang berpotensi menjadi batas dalam pertunjukan. Beberapa identifikasi “batas” yang muncul adalah waktu, ketrampilan, material (termasuk di dalamnya kostum dan properti), apresiator/publik (dalam hal ini Mella meng-highlight  lebih kepada jumlah penonton ), ruang (baik ruang dalam artian tempat maupun ruang dalam artian bentuk event), tubuh (proporsi/postur, stamnina, dan pencapaian bentuk), Indra, self censorship, emosi, dan indra.

Sesi Pagi Bersama Mella Jaarsma | Foto: Dokumentasi IDF

Tahap selanjutnya, Mella mengajak peserta lebih mendalami perihal “batas” dengan tugas yang lebih mengerucut. Para peserta diminta menceritakan pertunjukan yang pernah ditonton dan batas-batas apa yang terlihat di dalam pertunjukan tersebut. BM Anggana, dramaturg dari Ayu Permatasari, menyebutkan pementasan Margi Wuta karya Joned Suryatmoko. Di sana terdapat batas yang terlihat jelas yakni penonton yang hanya dibatasi 25 orang dan indra penglihatan penonton ditutup kain selama pertunjukan berlangsung. Batas ini secara sadar dimunculkan untuk memperkuat konteks dan konsep pertunjukan.

Berbeda dengan yang diceritakan Patricia Toh, peserta workshop asal Singapura, yang pernah melihat pertunjukan teater di Singapura. Ketika masuk ke ruang pertunjukan, penonton mendapati 10 kasur yang masing-masing ditiduri oleh pemain. Kemudian, para penonton dipersilahkan tidur di sebelahnya dan diminta bercerita apapun kepada para aktor. Namun, ada batasan-batasan yang justru merusak intimasi pertunjukan, misalnya tidak boleh menyentuh aktor, ada jarak tertentu yang diperbolehkan, dan lain-lain. Maka, batas di sini memiliki dua mata pisau; Dapat memperkuat konsep dan konteks pertunjukan atau justru tidak sejalan dengan tujuan pertunjukan. Sebelum lebih mengerucut, Mella meminta peserta menciptakan satu batas dalam dirinya. Aktivitas ini diharapkan dapat lebih memperjelas apa itu “batas”, terutama dalam kesadaran pilihan pada saat berkarya.

Dari situ, diskusi berlanjut dengan menceritakan pengalaman masing-masing ketika secara sengaja memberi batas pada diri. Di akhir sesinya, Mella meminta peserta membuat list batas apa yang sudah ataupun akan diciptakan dalam pertunjukan masing-masing peserta. Mella juga mengingatkan bahwa harus benar-benar ada kesadaran dalam menciptakan batas sehingga batas tersebut dapat mendukung konsep bahkan menjadi  karya itu sendiri.

Metode Klasifikasi Untuk Menilik Ulang Gagasan

Nampaknya sesi kedua yang difasilitasi oleh Gunawan Maryanto (Cindhil) dapat melengkapi materi sesi pertama dari Mella Jaarsma. Setelah “batas” apa yang dipilih oleh peserta dalam karyanya, selanjutnya Cindhil mencoba membantu mereka memetakan ulang ide karya. Chindil memulai dengan memberikan statement bahwa, penciptaan tidak hanya berkutat pada soal rasa/perasaan saja tetapi juga the way of thinking.  Chindil juga membagikan soal tahapan kerja mulai dari menggali pertanyaan, gali sumber, improvisasi, kodifikasi, komposisi, dan presentasi. Tahapan ini memang tidak selalu harus berurutan. Misalnya. ada beberapa koreografer yang cara kerjanya mulai dari improvisasi terlebih dahulu, seperti yang dilakukan Densiel, namun pada akhirnya ketika mulai pada tahap kodifikasi, tema besar dan penggalian sumber tentu dibutuhkan.

Sesi Mengklasifikasi Pemikiran Bersama Gunawan Maryanto | Foto: Dokumentasi IDF

Dari penjelasan tersebut kemudian Cindhil mencoba menggiring peserta berpraktik menggali kembali gagasannya. Peserta diminta menuliskan kata kunci dari karya mereka. Kata kunci tersebut dituliskan dalam kertas post-it, satu kata di setiap lembar.  Semua kata kunci tersebut ditempelkan ke whiteboard. Awalnya secara acak, kemudian Cindhil meminta peserta mengurutkan sesuai dengan kata kunci yang menjadi prioritas. Dan tahap selanjutnya adalah mengklasifikasikan sesuai dengan kelompok kata yang saling berdekatan. Dari sini, mulai terlihat bahwa cara kerja ini memang penting untuk memetakan keruwetan-keruwetan yang ada di dalam kepala. Pada akhirnya diharapkan akan ada pijakan yang jelas dalam proses berkarya. Selain dalam tataran ide atau gagasan, pemetaan ini juga dapat diaplikasikan dalam tahap tata artistik.

Beberapa peserta memberikan pantulan soal proses ini. Rio misalnya sudah merasa berjarak dengan ide pada karyanya. Lantaran, karyanya itu sudah dimulai 2 tahun yang lalu. Dengan sesi ini, Rio merasa terbantu karena pada akhirnya dapat mengingat kembali gagasan-gagasan tersebut.

Membaca Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana

“Medan seni pertunjukan yang tengah kita jalani tidak terberi begitu saja, tetapi mengalami konteks yang panjang,” demikian Agnesia Linda Mayasari (Linda) memulai sesi ketiga, sesi kelompok belajar bersama Muhammad AB. Muhammad AB memaparkan hasil penelitiannya tentang Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana pada masa 1950-1960 yang dia garap bersama Linda. Muhammad AB memulainya dengan memperkenalkan siapa itu Bagong Kussuadiardja. Bagong Kussuadiardja memang asing bagi para peserta; Ada yang hanya mengenal sekali dua nama itu tanpa tahu siapa sosoknya dan ada yang bahkan tidak pernah mendengarnya sama sekali. Pada awalnya Bagong lebih intens menjadi pelukis, meskipun memang memiliki basic tari klasik gaya Yogyakarta yang dipelajari di Krida Beksa Wirama. Pada masa kepemimpinan Soekarno, salah satu usaha Soekarno mempromosikan kebudayaan adalah dengan menciptakan identitas Indonesia. Dari ide tersebut, maka seakan wajib bagi para penari dan koreografer untuk mempelajari tarian dari daerah lain, supaya mereka lebih kaya sehingga dapat menciptakan karya tari yang dapat merepresentasikan Indonesia.

Ide tentang mabuk Amerika juga menjadi salah satu bagian penjelasan Muhammad AB. Bagaimana kemudian Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana pada tahun 1958 sudah melakukan semacam residensi selama 8 bulan di Amerika. Salah satu kelas yang mereka ikuti adalah kelas Martha Graham. Sepulang dari sana, Bagong mendirikan Pusat Latihan tari (PLT) Bagong Kussuadiardja yang masih dapat dilihat aktivitasnya hingga kini. Sedangkan Wisnu Wardhana mendirikan Contemporary Dance School of Wisnu Wardhana, namun sudah tidak beroperasi lagi.

Muhammad AB Sedang Membincangkan Bagong Kussuadiardja dan Wisnu Wardhana | Foto: Dokumentasi IDF

Selain membawa dampak soal menciptakan ruang, Amerika juga berdampak pada karya-karya Bagong Kussuadiardja. Pada tari Layang-layang versi pertama, bentuk kaki masih seperti ragam tari klasik gaya Yogyakarta. Namun, setelah kembali dari Amerika, kaki dalam bentuk poin menjadi lebih dominan. Ini dapat dilihat lewat satu-satunya foto yang ditemukan dalam proses pengarsipan. Tari Wira Pertiwi pun demikian. Bentuk kaki dalam sebagian ragam berganti-ganti antara kaki dalam gaya tari klasik Yogyakarta dan kaki poin.

Sesi ketiga ini memang fokus untuk melihat praktik-praktik pada tahun 60-an dan trajektorinya. Pertanyaan menarik dilontarkan Ayu Permatasari bahwa, bagaimana Bagong Kussuadiardja ditandai lantaran ada semacam momentum tertentu yang membuat apa yang dilakukannya menjadi penting. Pada masa ketika Bagong Kussuadiardja aktif, tari yang menggunakan ekspresi atau tari dengan tema-tema ringan seperti orang bermain layang-layang atau orang bermain kuda-kudaan dianggap tidak bagus. Sehingga perlawanan Bagong justru menjadi pas dan kemudian mengubah sejarah.

Linda mengakui bahwa, momentum itu memang ada. Namun, tetap saja ada spektrum hidup yang kompleks yang kemudian mengharuskan Bagong Kussuadiardja menentukan pilihan-pilihan. Salah satunya pada saat dia harus melawan keluarga untuk berkarya, sehingga harus bekerja sebagai tukang semir sepatu, dan yang lainnya untuk menghidupi keseniannya. Itu tentu pilihan hidup yang sulit. Ada usaha-usaha yang secara konsisten membuat dia, Bagong Kussuadiardja, berada pada titik sejarah yang sedang kita bicarakan ini. Sehingga, perlu disadari juga tentang titik mana yang kita tempati dalam sejarah panjang seni pertunjukan yang akan terus berjalan ini.

Night Club: Dramaturgi Abstrak di Dalam Proses Kolaborasi

Sesi malam dimulai dengan pertanyaan Pat pada Arco perihal dramaturgi abstrak yang dijelaskan Arco sebelumnya. Ada dua hal yang penting dalam dramaturgi abstrak. Pertama adalah titik mulai dan yang kedua adalah tahu dengan siapa kita berkolaborasi. Pada titik mulai ini, Arco tidak menentukan ide tertentu dan juga tidak merencanakan apa yang harus dilakukan ketika memulai kolaborasi. Rencana pertemuan dan kolaborasi memang selalu ada, namun rencana besar dramaturginya tidak. Tentu tetap perlu diingat soal kerangka kolaborasi tersebut seperti waktu, kapan premier, dan situasi kondisi selama proses kolaborasi berlangsung. Sehingga, ketika situasi dan hasrat sudah tidak cocok lagi, maka kita harus berimprovisasi lagi. Atau ketika sesuatu yang berharga muncul selama latihan, maka itu harus diambil. Hanya saja yang perlu diingat adalah jangan sampai meninggalkan akarnya.

Arco juga memberi gambaran nyata yang pernah dia lakukan yakni berkolaborasi dengan pemusik menggunakan notasi yang terkadang justru bagi koreografer membingungkan. Namun proses ini tetap penting sebagai bagian dari kolaborasi.

Diskusi malam itu cukup hangat bergulir. Pada akhirnya secara mengalir Arco mulai memberi pertanyaan secara spesifik kepada setiap peserta dari catatan presentasi hari sebelumnya. Seperti bagaimana proses kolaborasi antara musik dan koreografi yang terjadi antara Chuck dan Alisa. Chuck mulai membuat musik dari mendengarkan cerita Alisa, karena pengalaman personal Alisalah yang memang menjadi titik berangkat juga bagi koreografi, sehingga musik juga demikian. Bagi Arco penting juga memikirkan musik dan relasinya dengan kita, harapannya pentonton juga dapat melihat relasi itu, di luar impuls yang muncul secara fisik, seperti dalam karya Ayu, impuls yang muncul jelas, namun apa relasi musik dengan Ayu tidak terlihat.

Sesi Diskusi Malam Bersama Arco | Foto: Dokumentasi IDF

Selain tentang dramaturgi abstrak strategi kolaborasi musik dan koreografi muncul pertanyaan dari Densiel dalam sesi itu; bagaimana jika dalam berkarya kita sebenarnya ingin menitik-beratkan pada fokus tertentu untuk dibicarakan, namun penonton justru menangkap hal lain yang tidak inginkan? Bagi Arco, dalam berkarya ada hubungan vertikal dan horisontal. Dalam hubungan karya secara vertikal, dalam artian penonton, koreografer harus yakin atas apa yang dilakukannya dan hal selanjutnya adalah memikirkan bagaimana strategi komunikasinya sehingga mengurangi residu dalam tangkapan penonton.*** (Laporan oleh Nia Agustina)

Dari Lokakarya Tari/Koreografer Akademi IDF: Keseimbangan dan Problem Modernitas

Hari ini (7/11) merupakan sesi terakhir Prapto membagikan Joged Amerta-nya, yaitu latihan memilih komposisi di dalam ukuran-ukuran kehidupan dengan mengambil, membawa dan meletakan objek. Prapto membedakan dua kategori ruang untuk latihan ini yaitu dengan batasan ruang dan tidak dibatasi ruang; atau kita menentukan batas ruang kita sendiri. ‘Memilih’ dalam pengertian Prapto adalah momen ketika punya pilihan dan sudah menentukan keputusan. Sebab biasanya orang yang punya pilihan banyak sulit untuk menentukan keputusan. Dalam praktik tari, Improvisasi kadang disebut sebagai kerja dari institusi dan insting. Padahal, sebutan itu sedang meniadakan ruang dan waktu di dalam semesta pilihan.

Prapto menjelaskan objek sebagai hal yang tidak berbeda dengan tubuh. Jadi, sebenarnya sesuatu yang sederhana. Akan tetapi menjadi tidak sederhana ketika melatih kesadaran itu; kesadaran sebagai penari yang memiliki tubuh panggung. Tubuh yang memiliki ruang samping, kiri, kanan, atas, bawah, depan dan belakang. Untuk memulai latihan, masing-masing peserta memilih lima objek dan lantas merasakan titik keberadaan di dalam ruangan. Setiap gerak yang dilakukan adalah panggung yang juga sebagai bagian dari ruang. Menurut Prapto, jika latihan ini dilakukan terus menerus akan menghasilkan beyond implus, instingtif dan instuitif. Jadi pada prinsipnya, latihan ini untuk melihat sesuatu sebelum terjadi dan membaca dan memperlakukan setiap objek sebagai subjek, termasuk tubuh.

Sesi Bersama Prapto | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Prapto | Foto: Dokumentasi IDF

Wen-Chi mendapat sesi terakhirnya setelah makan siang. Sebelum dimulai, sebagai prolog, dia menjelaskan prinsip relasinya dengan peserta adalah relasi sesama seniman, bukan guru-murid. Sesi ini adalah sesi di mana Wen-Chi bersama peserta berbagi dan merespon ide, bukan karya jadi. Wen-Chi merasa sangat sulit harus mengajar seniman, karena seniman itu unik dan kompleks personalitasnya dan setiap seniman perlu menghargai itu. Jadi sesi ini adalah sesi bagi peserta mempresentaikan ide; boleh ide yang sudah ada sebelumnya (dari dalam) atau ide yang datang dari luar.

Wen-Chi juga mendapat masukan baginya dari tur kemarin bersama Bengkel Mime Theatre, Papper Moon dan Mella Jarsma, bahwa mereka punya medium dan cara berbeda dalam berkarya tapi semua berangkat dari modernitas. Seperti kolonialisme, perubahan desa-kota, rasisme, trauma politik, dan kehilangan. Sementara Suprapto pada sesi sebelumnya memberikan latihan bagaimana menciptakan keseimbangan diri dengan objek, alam dan ruang. Dan nyatanya, menurut Wen-Chi, kita berada dalam situasi yang tidak seimbang. Jadi, ada problem. Dan pertanyaan terhadap segala sesuatu yang tidak seimbang itu adalah gagasan kontemporer; kita berada di dalamnya tapi tidak tahu.

Hal ini yang membuatnya menilai penting untuk bertanya, seperti yang dijelaskan di sesi sebelumnya. Di titik ini, Wen-Chi berbagi dua cara berkaya melalui pertanyaan besar atas perubahan yang terjadi. Pertama, Fisika; studi tetang material yang nyata, termasuk tubuh (yang meski kita tak melakukan apa-apa, tubuh kita tetap berubah). Studi tentang perubahan fisik yang juga terjadi di dalam diri kita. Kedua, perubahan dari luar; seperti kita melempar atau memukul. Yang mempengaruhi perubahan dari dalam. Seperti seseorang memukul orang lain selama 100 tahun terus menerus, itu akan mengubah orang yang dipukul.

Sesi Bersama Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Wen-Chi menjelaskan bahwa dalam ranah new media art, seniman bekerja dengan tubuh dari benda-benda yang punya wadag. Dan ruangnya adalah sebagai property (Prapto) yang punya volume isi. Benda dilihat mempunyai ruang waktu, energi dan lingkungannya, yang bisa diubah-ubah posisinya, posturnya dan tempatnya. Wen-Chi kerap bekerja dengan perubahan yang datang dari luar dengan dua tahap mendasar. Pertama, ia deskripsikan dulu benda/materialnya. Lalu bermain dengan imajinasi, mengubah materi misalnya dengan membalikan posisi. Dia menyebutnya, membangun irisan-iran untuk keterhubungan. Saya adalah objek, gelas adalah objek, sendok adalah objek, yang saling berhubungan, demikian paparnya.

Untuk menuju presentasi ide peserta, Wen-Chi memberi dua pilihan ide.  Pertama, ide dari dalam, yang sudah dituliskan sebelumnya dan dikumpulkan. Kedua, benda dari perubahan dari luar (artifisial, berbeda dengan Prapto yang cenderung natural) yang diproduksi dari era dan periode yang spesifik. Benda yang ditawarkan adalah benda yang diproduksi dengan sangat murah yaitu Rainbow Film. Benda yang bagus untuk belajar tentang cahaya. Awalnya, benda ini diciptakan oleh NASA dengan struktur mikro yang rumit untuk eksperimen menangkap cahaya, yang sebenarnya transparan tapi dapat memantulkan sudut-sudut cahaya. Teknologi selalu muncul dari laboratorium yang canggih, sementara konsumen selalu berfikir bagaimana cara memanfaatkannya. Bagi Wen-Chi setiap benda/material diposisikan sebagai penari yang yang harus dipelajari karakternya seperti apa, karena benda bukan dekorasi buat penari. Setiap benda punya bahasa dan geraknya sendiri.

Peserta kemudian menentukan pilihan, yang memilih pilihan pertama mengurai kembali apa yang menjadi idenya. Dan yang memilih pilihan kedua mengamati benda yang diberikan Wen-Chi. Peserta tidak diharuskan melakukan presentasi ide dalam bentuk performatif. Sebab yang dituturkan Wen-Chi dan juga sudah dijelaskan tim Akademi IDF sebelumnya, bahwa yang terpenting adalah kita melakukan ekperimen kecil-kecilan, dimulai dari bertanya, mengamati dan berbagi (artikulasi). Sebagai penari yang bekerja dengan tubuh, penari/koreografer cenderung susah untuk mengartikulasikan lewat kata-kata. Tapi menurutnya mungkin juga harus berpikir, bahwa pembicaraan itu sesuatu yang melengkapi kerja tubuh dari tari yang dilakukan. Kata-kata bukan untuk secara persis menjelaskan pertunjukan. Tapi untuk kebutuhan berbicara, karena layer-layer seni pertunjukan sangat banyak. Kata-kata digunakan sebagai petunjuk atau tanda yang bisa ikuti.

Setelah menentukan pilhan masing-masing, satu-persatu peserta kemudian mempresentasikan idenya. Sesi ini tidak selesai menjelang saat makan malam. Kami memutuskan untuk melanjutkannya setelah makan malam. Kami menyelesaikan presentasi dan setiap peserta mendapatkan feedback. Kegiatan ini berakhir sekitar pukul 9 malam lebih sekaligus menjadi penutup keseluruhan workshop.  Sama seperti di pembukaan, penutupan pun dilakukan secara sederhana. Beberapa peserta bertanya apakah ada seremoni atau tidak, saya jawab tidak, selain ada buah-buahan, minuman dingin dan hangat, coklat dan obrolan serius tapi santai yang tidak lagi terpusat sebagai bagian dari materi. Beberapa orang ada yang melanjutkan diskusi sampai larut malam.

Esok paginya sebelum pulang dan berpencar lagi pada proses masing-masing, pagi-pagi sebagai pemanasan, Da Ben mengulang lagi materi apa yang diberikan dengan tambahan elemen suara dari laptopnya. Satu kali mencoba, banyak yang keliru. Dua kalimen coba, lumayan. Tiga kali mencoba, makin lebih baik.

Sampai jumpa lagi di program Akademi IDF selanjutnya.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)