[Trailer] Specific Places Need Specific Dances – Darlane Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda-Jerman)

Indonesian Dance Festival 2016: Tubuh Sonik – Main Performance

Kamis, 3 November 2016 pukul 16.00 – 17.30
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Specific Places Need Specific Dances adalah sebuah karya yang berangkat dari praktik menunggu. Dapatkah menunggu menjadi sebuah karya seni? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat karya yang berdurasi 55 menit ini.”

 

Indonesian Dance Festival dan Politik Tubuh-Media

Oleh Afrizal Malna

“Indonesian Dance Festival 2016” akan berlangsung di beberapa titik di Jakarta. Ini jadi strategi meluaskan wilayah publik tari, juga bagaimana tari memproduksi ruang sebagai media dan wacana sekaligus, membangun kontak maupun jaringan kerja baru yang tidak melulu bersifat tari. Ini semua dilihat sebagai kerja dramaturgi dalam menjalankan sebuah festival tari. IDF akan berlangsung 1 – 5 November 2016.

IDF, yang sejak digagas dan diproduksi tahun 1992, di tengah iklim kesenian Orde Baru, pada dirinya memiliki beban menghasilkan regenerasi tari di Indonesia, dan tawaran baru dalam kerja koreografi. Mereka membuka showcase sebagai salah satu program kurasi terhadap generasi baru dalam media tari, membuat program workshop maupun diskusi yang konsisten dijalani. Program-program ini intinya membuat jembatan antara bidang akademik, ruang publik, wacana dan data untuk melengkapi medan tari yang layaknya dibuat sebuah festival.

Salah satu problem kuratorial dalam memproduksi festival adalah basis produksi tari di Indonesia. Basis ini, setelah jatuhnya kubu sanggar-sanggar tari tradisi sebagai acuan pencapaian tari, maka basis produksinya kian berpusat pada lembaga-lembaga akademi seni. Lembaga ini pada umumnya masih mengalami kesulitan membuat jembatan dialektik antara bidang akademik dengan disiplin lain maupun dunia di luar tari. Memproduksi pertanyaan baru untuk media tari, bisa berarti menggoyahkan silabus tari. Dan IDF sendiri diproduksi dalam lingkungan akademik: IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

 

Tubuh Tari VS Tubuh-Media

Apakah koreografi selalu berhubungan dengan gerak dan tubuh? Memproduksi pertanyaan seperti ini, di masakini, cukup diragukan untuk bisa menggerakan medan tari sebagai media yang dikonstruksi dalam wilayah modernisme. Selama sekian lama, wilayah ini telah membuat sayatan, cabikan dan black-mail terhadap masalalu maupun praktik-praktik tradisi. Hasilnya: sebuah kegelisahan dalam memandang waktu, memandang habitat tubuh, identitas DNA; suara, pola makan maupun bahasa yang mengkonstruksi tubuh sebagai gestur maupun grafitasi budaya.

Pertanyaan di atas, cukup telak, menghadapi hajaran bertubi-tubi melalui industri media masakini. Medan seni berhadapan dengan munculnya berbagai aplikasi dari praktik-praktik media masakini. Wilayah dramaturgi seni pertunjukan, misalnya, berhadapan dengan munculnya aplikasi pokemon-go yang membuat matarantai baru antara tubuh, realitas, media dan data. Berbagai tindakan performatif langsung bersifat presentatif; tidak lagi bermain dalam wilayah mimesis maupun representasi. Terjadi hubungan baru antara tubuh dan media.

Kegelisahan dalam menghadapi medan di atas, tampak dari dua program workshop yang diproduksi IDF Akademi, sebuah program sebelum festival berlangsung. Workshop melibatkan dimensi tari (Suprapto Suryodarmo, Su Wen-Chi, Benny Krisnawardi dan Ramli Ibrahim) dan dimensi artistik (Daniel Kok, Joned Suryatmoko, Arco Renz dan Nindityo Adipurnomo).

Su Wen-Chi, dalam salah satu workshopnya di Bogor, misalnya, meminta seluruh peserta merekam apapun melalui kamera video HP yang dimiliki peserta. Hasil rekaman video ini diputar kembali secara serentak untuk memproduksi pertanyaan: “Apakah ini tari? Apakah ini koregorafi?”

Praktik seperti itu langsung memperlihatkan matarantai baru antara tubuh, realitas, data dan media sebagai sebuah aksi. Praktik dramaturgi tari yang sebelumnya lebih bersifat konseptual dalam menurunkan penalaran sebuah seni pertunjukan, dalam realitas ini langsung dipraktekkan sebagai kerja antar kategori dalam membatasi gagasan. Muatan masing-masing kategori diisi dengan riset, data, materi dan media yang akan digunakan. Tubuh-tari ditempatkan langsung berhadap-hadapan dengan tubuh-media.

 

Duo Filastine yang Akan Mengisi Juga IDF 2016: TUBUH SONIK

Duo Filastine yang Akan Mengisi Juga IDF 2016: TUBUH SONIK

Memutus Matarantai Produksi Tari

Visi kuratorial Indonesian Dance Festival (IDF) tahun 2016 ini, tampak dari praktik baru melihat tari dari media non-tari. Apakah visi ini berarti bahwa IDF mulai menjalankan politik media dimana tari dilihat sebagai batas wilayah yang tidak lagi didefinisikan semata melalui tari? Atau sebuah cara untuk memutus matarantai antara produksi festival dengan produksi tari (dari lingkungan akademik)?

Apapun strategi maupun implikasi strategi di atas, kurasi ini merupakan praktik berani untuk “memaksa” terjadinya perubahan di tingkat basis produksi tari sebagai sebuah politik media yang perlu dilihat hasil-hasilnya sebagai post-festival.

Salah satu program IDF, misalnya, Filastine. Mereka akan membawa nomor pertunjukan Abandon. Filastine yang dimotori oleh Nova Ruth dan Grey Filastine, tidak berangkat dari tari. Basis mereka adalah musik dan praktik baru yang menggunakan banyak media, terutama elektronik. Mereka mengolah batas-batas budaya dalam dan tema-tema sosial politik dalam ruang budaya urban. Ritme, melodi, remix berjalan seiring dengan resonansi elektronik. Produk-produk budaya maupun sampah, mereka perlakukan sebagai objek yang sama, yaitu sebagai salah satu kategori dalam penciptaan. Kinerja seperti ini akan menghasilkan dampak pembacaan tersendiri terhadap pertunjukan mereka, dan membawa publik tari ke wilayah yang tidak lagi laten bersifat tari.

Melati Suryodarmo, yang berbasis performance art dan seni rupa, akan membawa IDF ke medan yang bisa tidak terduga. Terutama karena Melati mengambil narasi Machbeth, karya Shakespeare (Tomorrow, As Purposed), yang sudah berakar dalam dunia teater. Publik teater maupun publik tari akan menghadapi tantangan baru pada cara-cara Melati melihat Machbeth dalam penciptaannya. Pertunjukan ini memakai unsur-unsur tari Pakarena dari Bugis dan 20 paduan suara dari Universitas Sebelas Maret. Kinerja ini seperti sebuah praktik media dalam media, membuat gesekan baru antar media untuk sebuah gelombang yang menjadi wilayah kerja koreografi yang dilakukan Melati.

Sudut pandang mistis, sebuah pandangan ramalan dari salah seorang tokoh peri yang meramal masadepan dalam Machbeth, menjadi titik-tolak pertunjukan Melati. Dan kekuasaan berubah, karena efek dari ramalan ini. Dimensi mistis dari sebuah kerja peramal dan dimensi magis dari penggunaan media, dalam pertunjukan ini saling bertemu dan bergesekan. Beberapa adegan, dari gesekan ini, berakhir sebagai puisi: seperti adegan rambut yang saling menjalin satu sama lainnya, helai demi helai, antara dua orang penari. Ruang kadang tumbuh hanya sebagai media, tetapi juga kadang tumbuh sebagai peristiwa. Pola yang membuat memori maupun imaji tidak berjalan di tempat.

 

Mistifikasi Tubuh-Ruang

Pre-Opening IDF akan dilakukan di Hutan Kota, Jakarta, di sungai Pesanggarahan. Program ini akan diisi pertunjukan Phase karya Jefriandi Usman dan Suluk Sungai karya Abdullah Wong. Sepanjang IDF, 1-5 November, akan tampil berbagai kinerja tari dari Andara Moeis, Rianto, Darlene Litaay, Tian Roteveel, Aguino B dan kolaborasi antara Fitri Setyaningsih dengan Punkasila.

Penggunaan sungai sebagai tempat dan juga sebagai situs dalam rangkaian program IDF, akan memperlihatkan sejauh mana kerja koreografi mengalami gangguan atau terbuka terhadap resonansi alam di sekitarnya yang berpengaruh terhadap grafitasi pertunjukan. Kerja ontologis yang rasional dan kerja mistis yang melebur batas “teramati” dan “tak-teramati” dari alam, akan menjadi medan baru dalam pertunjukan. Koreografi dituntut melakukan reposisi khusus atas tubuh-sungai dan tubuh-tari dalam pertunjukan mereka.

Reduksionisme terhadap tubuh-tari dalam kerja koreografi (yang kadang menjadi sangat teknis dalam memproduksi gerak), di sini menjadi agenda tersendiri. Beberapa pertunjukan Fitri terakhir, misalnya, banyak melakukan kerja reduksionisme untuk meredam kompleksitas gerak menjadi gagasan tentang ruang-tubuh yang dalam. Kerja reduksi seperti ini tidak harus tertuju memproduksi karya yang lebih bersifat minimalis. Mengejar kedalaman ruang-tubuh, presisi, jauh memiliki resiko untuk bisa memproduksi tubuh-puitis yang gelombangnya bisa melampaui teritori gerak-teknis.

Pengalaman tubuh atas gerak, akhirnya memang tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan tubuh tentang jarak. Dalam sebuah presentasi Nani Sawitri dari Topeng Losari, di Galeri Cipta 3 TIM, 6 Agustus 2016, misalnya, Nani menjelaskan beberapa laku puasa yang harus dijalani seorang penari Topeng Losari. Seluruh rangkaian puasa ini merupakan cara bagaimana penari bisa memperhatikan matarantai hubungan antara tubuh dan pola makan, dimana kebudayaan diproduksi dari pola dan kebutuhan ini. Laku puasa ini, kini memang sulit dipahami, karena istilah “puasa” sendiri menjadi rancu apabila menggunakan referensi agama sebagai penalarannya.

Salah satu laku puasa yang harus dijalani itu, adalah puasa untuk tidak berpijak di bumi. Penari, selama 3 hari harus tinggal di atas atap, dimana tubuhnya bisa langsung menatap ke bawah. Selama 3 hari, penari tidak boleh turun. Momen seperti ini, menjadi praktik untuk penari bisa mengalami ruang tiga dimensi sebagai perspektif untuk kosmologi tubuh yang dibentuknya.

Ketika seorang pewaris tradisi, seperti Nani Sawitri, merinci kembali metoda yang harus dilakukan seorang penari, memperlihatkan sebuah wawasan, betapa tradisi sebenarnya merupakan sebuah medan yang medianya sudah terbentuk dan teruji sekian lama, dibandingkan dengan media modern yang sifatnya status-quo dan terus berubah karena tuntutan pasar.

Tubuh-tari dan tubuh-media, keduanya kini entah berada di mana? Kita menduga bahwa kita masih bisa memprogramnya untuk kerja-kerja kesenian, sama seperti kita menggunakan HP untuk komunikasi. Sementara media ini memiliki kemampuan menyerap semua data pribadi kita, dan mengkonstruksi pola hubungan kita dengan berbagai fasilitas software di dalamnya. Tetapi mungkin kita sedang berada dalam sebuah penindasan baru yang menggunakan banyak topeng dan media. Sebuah medan dimana seniman memang harus menggunakan riset sebagai basis kerjanya. (Afrizal Malna, penyair)

 

*Dipublikasikan pertama kali di Harian Kompas, edisi Sabtu, 15 Oktober 2016

Indonesian Dance Festival 2016: TUBUH SONIK

Siaran Pers

 

Sebuah festival tari internasional bertajuk Indonesian Dance Festival (IDF) akan digelar kembali pada 1-5 November 2016 di lima venue yakni Teater Jakarta, Graha Bhakti Budaya, dan Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Jakarta. Pada 2016 ini, IDF memasuki tahun ke-24 dan akan diisi dengan berbagai mata acara. Di antaranya, Pre-Opening pada 30 Oktober 2016 di Hutan Kota Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang akan menampilkan pertunjukan tari karya Jefriandi Usman dan teater-tari karya Abdullah Wong. Kemudian pada acara pembukaan festival akan ditampilkan karya Melati Suryodarmo di Teater Jakarta, TIM.

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Para penampil lainnya adalah Park Je Chun (Korea Selatan), Antony Hamilton (Australia), Aguibou Bougobali Sanou (Burkina Faso), Filastine (Spanyol-Indonesia), Punkasila & Fitri Setyaningsih  (Indonesia), Fitri Anggraini (Indonesia), Andara Firman Moeis (Indonesia), Ari Ersandi (Indonesia), Rianto (Indonesia), Nihayah (Indonesia), Darlene Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda),  dan Jecko Siompo & Animal Pop Family (Indonesia). Park Je Chun akan tampil bersama tiga penari asal Korea Selatan dan empat penari dari Indonesia yakni Hari Ghulur (Surabaya), Fadila Oziana (Batusangkar), Try Anggara (Jakarta), dan Josh Marcy (Jakarta).

Secara khusus, pada IDF 2016 juga akan hadir Program Retrospeksi tentang Hoerijah Adam, seorang tokoh pembaharu tari Minangkabau (1936-1971). Retrospeksi ini akan diisi dengan film screening tentang karya dan perjalanan hidup Hoerijah Adam, Playing Barabah, yang direkonstruksi oleh Katia Engel (Jerman) dan akan dipadukan dengan pertunjukan tari oleh Sentot Sudiharto (Indonesia). Selain itu akan dihadirkan pula pameran arsip Hoerijah Adam dan presentasi Barabah oleh SMKN 7 Padang di bawah bimbingan Ery Mefri.

Selain pertunjukan tari juga akan digelar workshop penulisan kritik tari dalam perspektif jurnalistik, master class yang diberikan oleh para koreografer dan seniman berpengalaman, diskusi, dan lokakarya untuk para koreografer muda, serta pemberian penghargaan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan tari di Indonesia.

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Indonesian Dance Festival (IDF) adalah satu-satunya festival tari kontemporer di Indonesia yang diadakan secara kontinyu setiap dua tahun sekali. IDF didirikan pada tahun 1992 oleh beberapa tokoh dan akademisi tari terkemuka Indonesia, sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Setelah itu, IDF—yang kini digawangi oleh Maria Darmaningsih selaku Direktur Program, Nungki Kusumastuti sebagai Direktur Keuangan, dan Melina Surja Dewi selaku Direktur Administrasi—berkembang menjadi festival tari berskala internasional yang tertua di Indonesia.

Seluruh program pada IDF 2016 ini didesain oleh kurator yang terdiri dari Helly Minarti (Indonesia), Tang Fu Kuen (Singapura), dan Seno Joko Suyono (Indonesia). Ketiga kurator dibantu oleh tiga asisten kurator—Taufik Darwis, Nia Agustina, dan Agnesia Linda—lulusan Workshop Kuratorial Tari yang diselenggarakan oleh IDF pada November 2015.

Tema IDF 2016 adalah Tubuh Sonik. Dengan tema ini, IDF 2016 hendak membicarakan segala kemungkinan perwujudan artistik yang merujuk pada tubuh manusia bersama gelombang suara di berbagai ruang dan dimensi-dimensinya yang saling berinterferensi satu sama lain. Dalam setiap ruang dan konteks tempatnya berada, tubuh manusia dapat menjadi pusat interferensi sekaligus memancarkan gelombang sebagaimana suara yang dapat menjelajah ke mana saja, merasuk ke berbagai dimensi untuk kemudian menemukan dirinya yang baru.

IDF adalah sebuah festival tari yang diselenggarakan untuk mendorong kreativitas seniman tari sekaligus sebagai event tetap agar masyarakat umum dapat menikmati karya-karya tari kontemporar koreografer Indonesia dan dunia terkini. Dalam konteks Indonesia dengan kekayaan budaya berikut latar sosial dan tradisi yang sangat beragam, IDF diharapkan menjadi wahana pertemuan kreatif berbasis pengalaman trans-kultural sebagai proses pembelajaran bagi semua orang untuk menjelajahi, menyelami, dan membuka diri terhadap segala perbedaan guna membangun saling pengertian yang lebih mendalam. Melalui tari, IDF hendak mengajak masyarakat agar menyelami dan memahami keragaman sehingga dapat lebih memahami diri sendiri bersama orang lain. Hal ini semakin terasa penting dalam situasi di mana penghargaan terhadap keragaman terasa semakin berkurang.

IDF 2016 TUBUH SONIK terselenggara atas dukungan dari Pemda DKI, Bekraf, Kemenpar, Bank Mandiri, Djarum Bakti Budaya, Institut Français d’Indonésie, Japan Foundation, Kedutaan Besar Australia, dll.***

 

 

Contact Person:

Maria Darmaningsih (Direktur Program): 081311152057.
Nungki Kusumastuti (Direktur Keuangan): 0816859519.
Iqbal (Media Relation): 081285540750.