Dari Lokakarya Riset Artistik: Pencarian Para Peserta

Tiga tahun terakhir ini, IDF meluncurkan sub divisi program Akademi IDF sebagai platform penyelenggaraan kegiatan edukatif bagi praktisi tari muda. Akademi IDF menyelenggarakan rangkaian workshop—kepenarian, koreografi, penelitian artistik—dengan menggandeng fasilitator dan mentor lintas disiplin dan budaya. Hal tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan ruang eksperimentasi alternatif bagi praktik koreografi kritis, pembangunan wacana  perkembangan koreografi dan sejarah tari dalam konteks Indonesia dan medan seni global. Terkait dengan hal tersebut, kami mengembangkan platform Showcase IDF bukan hanya sebagai wahana presentasi dan promosi karya koreografer muda, tetapi sebagai platform pertukaran, belajar bersama, dan eksperimentasi. Maka dari itu format Showcase berkembang menjadi forum berdurasi panjang dan intensif. Tim kuratorial IDF merasa butuh untuk memayungi keseluruhan prosesi dengan nama platform baru untuk menggantikan istilah “showcase”. Nama baru itu adalah KAMPANA.

KAMPANA diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “yang memiliki getaran”. Istilah ini dipilih dengan harapan platform ini akan menjadi titik getar dengan resonansi yang dapat menjangkau praktik dan gagasan koreogafi beserta dengan kekuatan jaringan gagasannya. Partisipan diseleksi secara ketat oleh tim kuratorial IDF berdasarkan potensi getaran praktik dan gagasan pada kekaryaannya. Para partisipan ditantang untuk bersama-sama dengan IDF memperluas jangakauan resonansi pengetahuan koreografi. Untuk itu, mereka mesti berkomitmen mengikuti seluruh proses yang dielaborasi di dalam rangkaian kegiatan Akademi IDF yang salah satunya adalah Lokakarya Riset Artistik.

Salah Dua Dari Peserta Lokakarya Sedang Memperkenalkan Diri | Foto: Dokumentasi IDF

Kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan jika menonton karya para koreografer muda Indonesia dalam 2-5 tahun terakhir adalah adanya sebuah kekosongan. Kekosongan ini harusnya diisi oleh kesadaran riset pada proses artistiknya atau ketika mereka menggarap karya koreografi.  Lokakarya Riset Artistik ini dirancang khusus untuk memperkenalkan berbagai perspektif kritis seniman dari beragam disiplin dalam mencipta karyannya. Selain itu juga untuk mendorong koreografer muda untuk saling menajamkan, memperluas, dan memperkukuh kerja penciptaan dan pengembangan karya yang sedang dikerjakan dengan penekanan pada proses riset artistik. Lokakarya ini diharapkan bisa menghasilkan kemungkinan pengembangan gagasan, agenda, dan proyek penelitian dan kerja dramaturgi lanjutan bagi para koreografer muda yang terpilih. Maka dari itu, lokakarya ini juga mengundang satu orang rekan kerja para koreografer muda yang terlibat dalam proses kreatif dari proyek yang sedang dikerjakan.

Lokakarya tahun ini diselenggarakan selama seminggu dari 27 Agustus – 2 September 2018 di Omah Kebun, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Lokakarya ini menjadi momen pertemuan kedua antar koreografer setelah pertemuan pertama di bulan Juni di mana mereka telah saling membentangkan profil proyek artistik masing-masing. Kali ini, Akademi IDF mengundang 3 seniman dengan latar disiplin yang berbeda yaitu Arco Renz, Gunawan Maryanto dan Mella Jaarsma sebagai fasilitator untuk memperkaya prespektif para koreografer ini.

 

Para Peserta

Pada hari pertama, setiap orang yang terlibat termasuk dalam lokakarya saling memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat apa yang telah dan sedang mereka kerjakan. Helly Minarti (salah satu kurator IDF) kemudian memfasilitasi perkenalan ini dengan mengingatkan bahwa lokakarya akan berlangsung tidak terburu-buru (pelan-pelan) dan mempersilahkan peserta menambahkan penjelasan pertumbuhan karya semenjak pertemuan terakhir.

Riyo Fernando (Riau, Solo) membuka sesi perkenalan ini dengan menjelaskan karyanya, Sosak, yang berangkat dari pengalaman peristiwa kebakaran hutan Riau akibat industri kelapa sawit. Ayu Permata (Lampung, Yogyakarta) menjelaskan pertumbuhan karyanya Tubuh Dang Tubuh Dut, hingga yang terakhir dipentaskan di Festival Jejak Tabi bulan Juli lalu. Karya ini berangkat dari pertanyaan Ayu atas proses ketubuhan penonton konser dangdut yang memberi pantulan atas kondisi ketubuhan dirinya sebagai penari/koreografer. Hal yang sama dialami juga pada proyek kolaborasi bertajuk Le Dance Macabre oleh Gusbang Sada (Bali Yogyakarta) dan Natasya Tontey (Jakarta). Karya yang berangkat dari pertanyaan tentang kematian dilihat dari gestur mayat ini sempat dipresentasikan di Festival Jejak Tabi. Sementara Densiel Lebang dengan karyanya No Limit yang sempat dipresentasikan di program showcase Sipfest 2018, Komunitas Salihara, menjelaskan pertumbuhan karyanya yang mengelaborasi tali yang menurutnya sejauh ini sangat mengundang banyak asosiasi pada penontonnya.

Salah Satu Aksi Perkenalan Diri Dari Peserta Lokakarya | Foto: Dokumentasi IDF

Memang sebagian besar koreografer yang terlibat dalam platform Kampana berkesempatan untuk menemukan ruang dan pengalaman untuk mempresentasikan titik-titik pertumbuhan karyanya. Begitu juga dengan Alisa Soelaeman (Jakarta) yang bekesempatan pentas di panggung Paradance Festival, tepat sehari sebelum hari pertama lokakarya ini dimulai. Alisa tertarik dengan hubungan antara emosi, pikiran dan tubuh dalam kondisi mental manusia di batas kesadaranya atas hidup. Alisa mengolah situasi tersebut pada batas-batas bagaimana dia memposisikan diri sebagai penari tunggal yang melakukan improvisasi dan koreografer yang membuat struktur di dalam karyanya sendiri yang berjudul Transference. Tahun ini juga kami mengundang dan berkerjasama dengan Dance Nucleus Singapore untuk melibatkan salah satu koreografer muda Pat Toh. Pat adalah seorang performer dan seniman pertunjukan berlatar belakang teater yang tertarik pada sensibilitas ketubuhan dalam tubuh kontemporer. Ia tertarik untuk mencari kemungkian praktik koreografi yang membuat seseorang sadar terhadap pengalaman-pengalaman yang dialaminya secara fisik. Seperti pada proyek The Map yang sedang dikerjakannya, Pat melihat tubuh sebagai perjalanan kehidupan. Perjalanan di antara bergerak dan bernafas, antara tubuh yang satu dengan tubuh lainnya, atau tubuh sebagai dirinya sendiri.

 

Perihal Fasilitator

 Para fasilitator kemudian mendapatkan gilirannya untuk mengenalkan diri. Arco memilih memperkenalkan diri dengan menjelaskan hal-hal mendasar dalam penciptaan karyanya. Pertama, hubungan, bagaimana memposisikan tari sebagai ekspresi dari serangkaian hubungan. Kedua, Dramaturgi Abstrak (abstrak di sini bukan hanya kata sifat, tapi juga sebagai kata kerja), bagaimana hubungan ruang, waktu dan tubuh terus bernegosiasi melalui cara bernafas hingga menghasilkan dramatika yang tidak naratif. Ketiga, deviasi, bagaimana bernegosiasi dengan gerakan yang sudah terkodifikasi dari setiap tubuh lain sebagai suatu bahasa yang berbeda dan asing.

Gunawan Maryanto (Cindhil) kemudian menjelaskan posisinya yang tidak ajeg dalam pengkategorian disiplin seni dan itu memperkayanya dalam proses penciptaan karya, baik proyek pribadi ataupun kolektif. Misalnya di dalam ranah sastra, seni pertunjukan, film, hingga ke seni rupa. Cindhil dikenal sebagai seorang sutradara, aktor dan penulis dan bekerja di Teater Garasi/Garasi Performance Institute sebagai Associate Artistic. Tujuh tahun terakhir, ia mengelola IDRF (Indonesia Dramatic Reading Festival) selaku penata program. Selain berkarya bersama Teater Garasi, ia juga kerap bekerja sama dengan (Alm) Ki Slamet Gundono, Kelompok Sahita, Miroto, dan Eko Nugroho dalam berbagai proyek penciptaan. Proyek pertunjukan terakhirnya “Dongeng Prajurit” dikerjakan dari sebuah komik berjudul Prajurit Kalah Tanpa Raja yang dibuat oleh Prihatmoko Moki. Pertunjukan ini terinspirasi oleh wayang beber, sebuah pertunjukan wayang tradisional Jawa dari masa kerajaan Majapahit dengan cara membeberkan kain yang berisi gambar-gambar adegan atau tokoh pewayangan dan dibeberkan/diceritakan oleh seorang dalang. Tapi dari semua batas disiplin seni yang kabur, Cindhil berketetapan untuk mendalami sastra Jawa yang perdah dia tolak/tinggalkan.

Arco, Salah Satu Fasilitator, Berpraktek Bersama Peserta | Foto: Dokumentasi IDF

Mella Jaarsma mengatakan bahwa, dirinya mungkin bertolak belakang dengan Arco. Mella berangkat dari yang visual, yang material, yang bisa membawa makna dari yang tidak terlihat (mental) dan bagaimana yang material itu berhubungan dengan tubuh. Karena material membawa aspek yang tidak terlihat (teks), setiap seniman perlu mempunyai kesadaran atas pilihan-pilihannya ketika menentukan material yang digunakan di dalam proses kreatifnya. Mella kemudian menceritakan salah satu karya tahun 1999-nya yang menggunakan kulit (katak). Tahun 1998-1999 adalah masa-masa kerusuhan dimana terjadi pengkambing-hitaman atas etnis minoritas. Mella pada waktu itu melihat dirinya sebagai bagian dari minoritas juga. Ia memutuskan untuk memilih katak yang diharamkan sebagai pilihan artistik, sekaligus pilihan politik untuk mendikusikan apa yang terjadi dengan menggorengnya di jalanan dan kemudian kulitnya dibuat kostum. Sesi perkenalan yang cukup panjang ini kemudian berhenti tepat menjelang makan siang.

Setelah makan siang dan istirahat, para peserta mengalami dasar-dasar praktik Arco. Selama kurang lebih 3 jam mereka diperkenalkan pada 5 tahapan awal yaitu hubungan yang di dalam dan yang di luar, sensasi/perasaan dan bentuk, bagaimana spiral digunakan untuk mengenal ruang yang ada di anatara sendi-sendi di dalam tubuh, serta pompa untuk mengalirkan nafas.

 

Posisi dan Produksi Teks di Dalam Tari

Sesi Berbagi Bersama Gunawan Maryanto (Chindil) | Foto: Dokumentasi IDF

Lokakarya kali ini sedikit berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini di setiap malam ada ruang pertemuan intim antar peserta yang difasilitasi secara bergantian oleh salah satu fasilitator untuk membicarakan apapun yang berhubungan dengan karya masing-masing. Malam ini adalah waktunya peserta berbincang intim dengan Gunawan Maryanto. Dan ternyata para peserta mendapatkan waktu untuk membicarakan kemungkinan pilihan-pilihan dan strategi produksi teks di dalam karya mereka. Terutama Alisa serta kolaborasi Tontey dan Gusbang. Alisa menggunakan teks yang ditulisnya sendiri yang diambil dari jurnal harian sebagai material bunyi dengan strategi komposisi sedemikian rupa. Alisa memposisikan teks sebagai tubuh tapi diantaranya bisa mengungkapkan di ruangnya sendiri. Sementara Tontey dan Gusbang memposisikan teks sesuai perjalan prosesnya, yang pada awalnya ditulis Tontey untuk memunculkan citra dan Gusbang memposisikan dirinya untuk melakukan penubuhan atas citra teks. Cindhil kemudian membicarakan watak text yang verbal dan mempunyai hirarki tersendiri; Ada teks yang menghasilkan arti/definisi, ada teks yang menciptakan makna. Sebab ada kata batu tapi menghasilkan imaji dari batu.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

[Trailer] Specific Places Need Specific Dances – Darlane Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda-Jerman)

Indonesian Dance Festival 2016: Tubuh Sonik – Main Performance

Kamis, 3 November 2016 pukul 16.00 – 17.30
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Specific Places Need Specific Dances adalah sebuah karya yang berangkat dari praktik menunggu. Dapatkah menunggu menjadi sebuah karya seni? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat karya yang berdurasi 55 menit ini.”

 

Indonesian Dance Festival dan Politik Tubuh-Media

Oleh Afrizal Malna

“Indonesian Dance Festival 2016” akan berlangsung di beberapa titik di Jakarta. Ini jadi strategi meluaskan wilayah publik tari, juga bagaimana tari memproduksi ruang sebagai media dan wacana sekaligus, membangun kontak maupun jaringan kerja baru yang tidak melulu bersifat tari. Ini semua dilihat sebagai kerja dramaturgi dalam menjalankan sebuah festival tari. IDF akan berlangsung 1 – 5 November 2016.

IDF, yang sejak digagas dan diproduksi tahun 1992, di tengah iklim kesenian Orde Baru, pada dirinya memiliki beban menghasilkan regenerasi tari di Indonesia, dan tawaran baru dalam kerja koreografi. Mereka membuka showcase sebagai salah satu program kurasi terhadap generasi baru dalam media tari, membuat program workshop maupun diskusi yang konsisten dijalani. Program-program ini intinya membuat jembatan antara bidang akademik, ruang publik, wacana dan data untuk melengkapi medan tari yang layaknya dibuat sebuah festival.

Salah satu problem kuratorial dalam memproduksi festival adalah basis produksi tari di Indonesia. Basis ini, setelah jatuhnya kubu sanggar-sanggar tari tradisi sebagai acuan pencapaian tari, maka basis produksinya kian berpusat pada lembaga-lembaga akademi seni. Lembaga ini pada umumnya masih mengalami kesulitan membuat jembatan dialektik antara bidang akademik dengan disiplin lain maupun dunia di luar tari. Memproduksi pertanyaan baru untuk media tari, bisa berarti menggoyahkan silabus tari. Dan IDF sendiri diproduksi dalam lingkungan akademik: IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

 

Tubuh Tari VS Tubuh-Media

Apakah koreografi selalu berhubungan dengan gerak dan tubuh? Memproduksi pertanyaan seperti ini, di masakini, cukup diragukan untuk bisa menggerakan medan tari sebagai media yang dikonstruksi dalam wilayah modernisme. Selama sekian lama, wilayah ini telah membuat sayatan, cabikan dan black-mail terhadap masalalu maupun praktik-praktik tradisi. Hasilnya: sebuah kegelisahan dalam memandang waktu, memandang habitat tubuh, identitas DNA; suara, pola makan maupun bahasa yang mengkonstruksi tubuh sebagai gestur maupun grafitasi budaya.

Pertanyaan di atas, cukup telak, menghadapi hajaran bertubi-tubi melalui industri media masakini. Medan seni berhadapan dengan munculnya berbagai aplikasi dari praktik-praktik media masakini. Wilayah dramaturgi seni pertunjukan, misalnya, berhadapan dengan munculnya aplikasi pokemon-go yang membuat matarantai baru antara tubuh, realitas, media dan data. Berbagai tindakan performatif langsung bersifat presentatif; tidak lagi bermain dalam wilayah mimesis maupun representasi. Terjadi hubungan baru antara tubuh dan media.

Kegelisahan dalam menghadapi medan di atas, tampak dari dua program workshop yang diproduksi IDF Akademi, sebuah program sebelum festival berlangsung. Workshop melibatkan dimensi tari (Suprapto Suryodarmo, Su Wen-Chi, Benny Krisnawardi dan Ramli Ibrahim) dan dimensi artistik (Daniel Kok, Joned Suryatmoko, Arco Renz dan Nindityo Adipurnomo).

Su Wen-Chi, dalam salah satu workshopnya di Bogor, misalnya, meminta seluruh peserta merekam apapun melalui kamera video HP yang dimiliki peserta. Hasil rekaman video ini diputar kembali secara serentak untuk memproduksi pertanyaan: “Apakah ini tari? Apakah ini koregorafi?”

Praktik seperti itu langsung memperlihatkan matarantai baru antara tubuh, realitas, data dan media sebagai sebuah aksi. Praktik dramaturgi tari yang sebelumnya lebih bersifat konseptual dalam menurunkan penalaran sebuah seni pertunjukan, dalam realitas ini langsung dipraktekkan sebagai kerja antar kategori dalam membatasi gagasan. Muatan masing-masing kategori diisi dengan riset, data, materi dan media yang akan digunakan. Tubuh-tari ditempatkan langsung berhadap-hadapan dengan tubuh-media.

 

Duo Filastine yang Akan Mengisi Juga IDF 2016: TUBUH SONIK

Duo Filastine yang Akan Mengisi Juga IDF 2016: TUBUH SONIK

Memutus Matarantai Produksi Tari

Visi kuratorial Indonesian Dance Festival (IDF) tahun 2016 ini, tampak dari praktik baru melihat tari dari media non-tari. Apakah visi ini berarti bahwa IDF mulai menjalankan politik media dimana tari dilihat sebagai batas wilayah yang tidak lagi didefinisikan semata melalui tari? Atau sebuah cara untuk memutus matarantai antara produksi festival dengan produksi tari (dari lingkungan akademik)?

Apapun strategi maupun implikasi strategi di atas, kurasi ini merupakan praktik berani untuk “memaksa” terjadinya perubahan di tingkat basis produksi tari sebagai sebuah politik media yang perlu dilihat hasil-hasilnya sebagai post-festival.

Salah satu program IDF, misalnya, Filastine. Mereka akan membawa nomor pertunjukan Abandon. Filastine yang dimotori oleh Nova Ruth dan Grey Filastine, tidak berangkat dari tari. Basis mereka adalah musik dan praktik baru yang menggunakan banyak media, terutama elektronik. Mereka mengolah batas-batas budaya dalam dan tema-tema sosial politik dalam ruang budaya urban. Ritme, melodi, remix berjalan seiring dengan resonansi elektronik. Produk-produk budaya maupun sampah, mereka perlakukan sebagai objek yang sama, yaitu sebagai salah satu kategori dalam penciptaan. Kinerja seperti ini akan menghasilkan dampak pembacaan tersendiri terhadap pertunjukan mereka, dan membawa publik tari ke wilayah yang tidak lagi laten bersifat tari.

Melati Suryodarmo, yang berbasis performance art dan seni rupa, akan membawa IDF ke medan yang bisa tidak terduga. Terutama karena Melati mengambil narasi Machbeth, karya Shakespeare (Tomorrow, As Purposed), yang sudah berakar dalam dunia teater. Publik teater maupun publik tari akan menghadapi tantangan baru pada cara-cara Melati melihat Machbeth dalam penciptaannya. Pertunjukan ini memakai unsur-unsur tari Pakarena dari Bugis dan 20 paduan suara dari Universitas Sebelas Maret. Kinerja ini seperti sebuah praktik media dalam media, membuat gesekan baru antar media untuk sebuah gelombang yang menjadi wilayah kerja koreografi yang dilakukan Melati.

Sudut pandang mistis, sebuah pandangan ramalan dari salah seorang tokoh peri yang meramal masadepan dalam Machbeth, menjadi titik-tolak pertunjukan Melati. Dan kekuasaan berubah, karena efek dari ramalan ini. Dimensi mistis dari sebuah kerja peramal dan dimensi magis dari penggunaan media, dalam pertunjukan ini saling bertemu dan bergesekan. Beberapa adegan, dari gesekan ini, berakhir sebagai puisi: seperti adegan rambut yang saling menjalin satu sama lainnya, helai demi helai, antara dua orang penari. Ruang kadang tumbuh hanya sebagai media, tetapi juga kadang tumbuh sebagai peristiwa. Pola yang membuat memori maupun imaji tidak berjalan di tempat.

 

Mistifikasi Tubuh-Ruang

Pre-Opening IDF akan dilakukan di Hutan Kota, Jakarta, di sungai Pesanggarahan. Program ini akan diisi pertunjukan Phase karya Jefriandi Usman dan Suluk Sungai karya Abdullah Wong. Sepanjang IDF, 1-5 November, akan tampil berbagai kinerja tari dari Andara Moeis, Rianto, Darlene Litaay, Tian Roteveel, Aguino B dan kolaborasi antara Fitri Setyaningsih dengan Punkasila.

Penggunaan sungai sebagai tempat dan juga sebagai situs dalam rangkaian program IDF, akan memperlihatkan sejauh mana kerja koreografi mengalami gangguan atau terbuka terhadap resonansi alam di sekitarnya yang berpengaruh terhadap grafitasi pertunjukan. Kerja ontologis yang rasional dan kerja mistis yang melebur batas “teramati” dan “tak-teramati” dari alam, akan menjadi medan baru dalam pertunjukan. Koreografi dituntut melakukan reposisi khusus atas tubuh-sungai dan tubuh-tari dalam pertunjukan mereka.

Reduksionisme terhadap tubuh-tari dalam kerja koreografi (yang kadang menjadi sangat teknis dalam memproduksi gerak), di sini menjadi agenda tersendiri. Beberapa pertunjukan Fitri terakhir, misalnya, banyak melakukan kerja reduksionisme untuk meredam kompleksitas gerak menjadi gagasan tentang ruang-tubuh yang dalam. Kerja reduksi seperti ini tidak harus tertuju memproduksi karya yang lebih bersifat minimalis. Mengejar kedalaman ruang-tubuh, presisi, jauh memiliki resiko untuk bisa memproduksi tubuh-puitis yang gelombangnya bisa melampaui teritori gerak-teknis.

Pengalaman tubuh atas gerak, akhirnya memang tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan tubuh tentang jarak. Dalam sebuah presentasi Nani Sawitri dari Topeng Losari, di Galeri Cipta 3 TIM, 6 Agustus 2016, misalnya, Nani menjelaskan beberapa laku puasa yang harus dijalani seorang penari Topeng Losari. Seluruh rangkaian puasa ini merupakan cara bagaimana penari bisa memperhatikan matarantai hubungan antara tubuh dan pola makan, dimana kebudayaan diproduksi dari pola dan kebutuhan ini. Laku puasa ini, kini memang sulit dipahami, karena istilah “puasa” sendiri menjadi rancu apabila menggunakan referensi agama sebagai penalarannya.

Salah satu laku puasa yang harus dijalani itu, adalah puasa untuk tidak berpijak di bumi. Penari, selama 3 hari harus tinggal di atas atap, dimana tubuhnya bisa langsung menatap ke bawah. Selama 3 hari, penari tidak boleh turun. Momen seperti ini, menjadi praktik untuk penari bisa mengalami ruang tiga dimensi sebagai perspektif untuk kosmologi tubuh yang dibentuknya.

Ketika seorang pewaris tradisi, seperti Nani Sawitri, merinci kembali metoda yang harus dilakukan seorang penari, memperlihatkan sebuah wawasan, betapa tradisi sebenarnya merupakan sebuah medan yang medianya sudah terbentuk dan teruji sekian lama, dibandingkan dengan media modern yang sifatnya status-quo dan terus berubah karena tuntutan pasar.

Tubuh-tari dan tubuh-media, keduanya kini entah berada di mana? Kita menduga bahwa kita masih bisa memprogramnya untuk kerja-kerja kesenian, sama seperti kita menggunakan HP untuk komunikasi. Sementara media ini memiliki kemampuan menyerap semua data pribadi kita, dan mengkonstruksi pola hubungan kita dengan berbagai fasilitas software di dalamnya. Tetapi mungkin kita sedang berada dalam sebuah penindasan baru yang menggunakan banyak topeng dan media. Sebuah medan dimana seniman memang harus menggunakan riset sebagai basis kerjanya. (Afrizal Malna, penyair)

 

*Dipublikasikan pertama kali di Harian Kompas, edisi Sabtu, 15 Oktober 2016

Indonesian Dance Festival 2016: TUBUH SONIK

Siaran Pers

 

Sebuah festival tari internasional bertajuk Indonesian Dance Festival (IDF) akan digelar kembali pada 1-5 November 2016 di lima venue yakni Teater Jakarta, Graha Bhakti Budaya, dan Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Jakarta. Pada 2016 ini, IDF memasuki tahun ke-24 dan akan diisi dengan berbagai mata acara. Di antaranya, Pre-Opening pada 30 Oktober 2016 di Hutan Kota Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang akan menampilkan pertunjukan tari karya Jefriandi Usman dan teater-tari karya Abdullah Wong. Kemudian pada acara pembukaan festival akan ditampilkan karya Melati Suryodarmo di Teater Jakarta, TIM.

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Para penampil lainnya adalah Park Je Chun (Korea Selatan), Antony Hamilton (Australia), Aguibou Bougobali Sanou (Burkina Faso), Filastine (Spanyol-Indonesia), Punkasila & Fitri Setyaningsih  (Indonesia), Fitri Anggraini (Indonesia), Andara Firman Moeis (Indonesia), Ari Ersandi (Indonesia), Rianto (Indonesia), Nihayah (Indonesia), Darlene Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda),  dan Jecko Siompo & Animal Pop Family (Indonesia). Park Je Chun akan tampil bersama tiga penari asal Korea Selatan dan empat penari dari Indonesia yakni Hari Ghulur (Surabaya), Fadila Oziana (Batusangkar), Try Anggara (Jakarta), dan Josh Marcy (Jakarta).

Secara khusus, pada IDF 2016 juga akan hadir Program Retrospeksi tentang Hoerijah Adam, seorang tokoh pembaharu tari Minangkabau (1936-1971). Retrospeksi ini akan diisi dengan film screening tentang karya dan perjalanan hidup Hoerijah Adam, Playing Barabah, yang direkonstruksi oleh Katia Engel (Jerman) dan akan dipadukan dengan pertunjukan tari oleh Sentot Sudiharto (Indonesia). Selain itu akan dihadirkan pula pameran arsip Hoerijah Adam dan presentasi Barabah oleh SMKN 7 Padang di bawah bimbingan Ery Mefri.

Selain pertunjukan tari juga akan digelar workshop penulisan kritik tari dalam perspektif jurnalistik, master class yang diberikan oleh para koreografer dan seniman berpengalaman, diskusi, dan lokakarya untuk para koreografer muda, serta pemberian penghargaan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan tari di Indonesia.

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Indonesian Dance Festival (IDF) adalah satu-satunya festival tari kontemporer di Indonesia yang diadakan secara kontinyu setiap dua tahun sekali. IDF didirikan pada tahun 1992 oleh beberapa tokoh dan akademisi tari terkemuka Indonesia, sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Setelah itu, IDF—yang kini digawangi oleh Maria Darmaningsih selaku Direktur Program, Nungki Kusumastuti sebagai Direktur Keuangan, dan Melina Surja Dewi selaku Direktur Administrasi—berkembang menjadi festival tari berskala internasional yang tertua di Indonesia.

Seluruh program pada IDF 2016 ini didesain oleh kurator yang terdiri dari Helly Minarti (Indonesia), Tang Fu Kuen (Singapura), dan Seno Joko Suyono (Indonesia). Ketiga kurator dibantu oleh tiga asisten kurator—Taufik Darwis, Nia Agustina, dan Agnesia Linda—lulusan Workshop Kuratorial Tari yang diselenggarakan oleh IDF pada November 2015.

Tema IDF 2016 adalah Tubuh Sonik. Dengan tema ini, IDF 2016 hendak membicarakan segala kemungkinan perwujudan artistik yang merujuk pada tubuh manusia bersama gelombang suara di berbagai ruang dan dimensi-dimensinya yang saling berinterferensi satu sama lain. Dalam setiap ruang dan konteks tempatnya berada, tubuh manusia dapat menjadi pusat interferensi sekaligus memancarkan gelombang sebagaimana suara yang dapat menjelajah ke mana saja, merasuk ke berbagai dimensi untuk kemudian menemukan dirinya yang baru.

IDF adalah sebuah festival tari yang diselenggarakan untuk mendorong kreativitas seniman tari sekaligus sebagai event tetap agar masyarakat umum dapat menikmati karya-karya tari kontemporar koreografer Indonesia dan dunia terkini. Dalam konteks Indonesia dengan kekayaan budaya berikut latar sosial dan tradisi yang sangat beragam, IDF diharapkan menjadi wahana pertemuan kreatif berbasis pengalaman trans-kultural sebagai proses pembelajaran bagi semua orang untuk menjelajahi, menyelami, dan membuka diri terhadap segala perbedaan guna membangun saling pengertian yang lebih mendalam. Melalui tari, IDF hendak mengajak masyarakat agar menyelami dan memahami keragaman sehingga dapat lebih memahami diri sendiri bersama orang lain. Hal ini semakin terasa penting dalam situasi di mana penghargaan terhadap keragaman terasa semakin berkurang.

IDF 2016 TUBUH SONIK terselenggara atas dukungan dari Pemda DKI, Bekraf, Kemenpar, Bank Mandiri, Djarum Bakti Budaya, Institut Français d’Indonésie, Japan Foundation, Kedutaan Besar Australia, dll.***

 

 

Contact Person:

Maria Darmaningsih (Direktur Program): 081311152057.
Nungki Kusumastuti (Direktur Keuangan): 0816859519.
Iqbal (Media Relation): 081285540750.