IMG_6208

Daftar Nama Peserta Lolos Seleksi IDF Akademi: Lokakarya Kepenarian

Salah satu hasil dari rapat yang diadakan Indonesian Dance Festival pada 31 Maret – 1 April 2016 yang lalu adalah menyeleksi peserta IDF Akademi: Lokakarya Kepenarian yang akan diadakan pada 1 – 7 Mei 2016 di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat.

Berikut nama-nama mereka yang lolos seleksi tersebut:

  1. Ahmad Susantri (L), Yogyakarta
  2. Anis Harliani Kencana Ekaputri (P), Bandung
  3. Aprilia (P), Yogyakarta
  4. Assabti Nur Hudan Ma’rufi (P), Yogyakarta
  5. David Putra Yudha (L), Batusangkar
  6. Emmy Sundari (P), Bandung
  7. Erwin Mardiansyah (L), Padangpanjang
  8. I Putu Bagus Bang Sada Graha (L), Yogya/Bali
  9. Safri Tri Jaya (L), Jakarta
  10. Silvia Dewi Marthaningrum (P), Yogyakarta
  11. Tazkia Hariny Nurfadillah (P), Bandung
  12. Yuni Ratnasari (P), Yogyakarta
  13. Yusuf Purnama (L), Jakarta
  14. Ari R Sandi (L), Yogyakarta
  15. Fitri Anggraini (P), Jakarta
  16. Nihayah (P), Surabaya
foto rapat idf

Rapat Program dan Persiapan Lokakarya IDF 2016

Pada 31 Maret – 1 April 2016 lalu, Indonesian Dance Festival (IDF) mengadakan rapat persiapan untuk IDF 2016. Bertempat di Sekretariat IDF, Gedung Fakultas Seni dan Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta, pertemuan itu dihadiri tidak kurang dari 10 orang yang terdiri dari Tim Artistik IDF 2016 dan Pengurus Kesekretariatan IDF. Dua hal utama yang menjadi sorotan di dalam rapat tersebut adalah program-program IDF 2016 serta persiapan Akademi IDF: Rangkaian Lokakarya.

Program-program yang diproyeksikan untuk IDF 2016 yang direncanakan pada awal November 2016 ini secara garis besar tidak banyak berubah. Kebanyakan program yang akan diadakan sama dengan program-program yang ada pada penyelenggaraan IDF 2014. Program-program yang berusaha menunjukkan keinginan IDF untuk lebih tajam berwacana serta mencoba menghubungkan praktik tari di Indonesia dengan dunia tari global. Tetapi tentu saja Tim Penata Artistik IDF 2016 mengusulkan dan melihat beberapa kemungkinan program baru untuk IDF 2016 ini. Kepastian program-program yang akan dimunculkan sendiri sejauh ini sedang digarap secara intensif oleh Tim Artistik IDF 2016.

“IDF itu punya program-program yang sudah menjadi kekhasannya. Salah satunya, Program Showcase. Di situ kita memberi kesempatan kepada koreografet muda Indonesia untuk tampil. Nah, program yang sudah menjadi kekhasan IDF ini perlu dipertahankan”, ujar Maria Darmaningsih, Direktur Program IDF 2016 dan juga salah satu anggota Tim Artistik IDF 2016.

Ada beberapa program dari IDF-IDF sebelumnya yang kemungkinan besar akan dihilangkan atau diubah formatnya. Hal ini mengikuti perkembangan IDF terkini. Misalnya, untuk IDF 2016, Akademi IDF mendahuluinya dengan serangkaian lokakarya yakni Lokakarya Kepenarian, Lokakarya Penelitian Artistik, dan Lokakarya Kepenulisan Tari.

“Tentu saja IDF ini kan berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, bisa jadi program-program yang lama harus juga ikut berubah atau kita tiadakan. Tentu saja dengan memperhatikan juga kekhasan IDF. Dan kedepannya kita di IDF memang harus terus terbuka pada perubahan-perubahan ini,” ujar Nungki Kusumastuti, Direktur Keuangan dan anggota Tim Artistik IDF 2016 pada kesempatan itu.

Suasana Rapat Program dan Persiapan Lokakarya IDF 2016

Yang paling dekat dengan kamera berturut-turut searah jarum: Nia Agustina Pandhuniawati, Linda Mayasari, Maria Darmaningsih, Seno Joko Suyono, Nungki Kusumastuti, Taufik Darwis, dan Helly Minarti.

Hal lain yang dibahas dalam pertemuan itu adalah seleksi peserta Akademi IDF: Lokakarya Kepenarian. Per 30 Maret yang lalu, Sekretariat IDF menerima tidak kurang dari 50 calon peserta lokakarya yang akan diadakan di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat itu. Dari sana, 35 peserta lolos seleksi administratif. Ke-35 nama inilah yang diserahkan kepada Anggota Tim Artistik untuk diseleksi. Maka, terpilihlah 16 peserta yang kini sedang dihubungi satu per satu oleh pihak Akademi IDF. Demi evektifitas, Akademi IDF memutuskan untuk tidak mengumumkan dahulu nama para peserta lokakarya sampai mendapatkan kepastian keterlibatan mereka.

“Sayang jika ada yang pada hari H tidak hadir. Jadi sebaiknya kita pastikan dahulu. Jika memang ada yang ternyata membatalkan, kita bisa memberi tempatnya kepada yang sudah mendaftar tetapi tidak terseleksi. Dengan cara ini kita bisa lebih evektif dan tidak merasa rugi,” demikian imbuh Yessy Apriati dari Akademi IDF.

Seno Joko Suyono, anggota Tim Artistik IDF 2016, melihat betapa pentingnya diadakan rangkaian lokakarya ini untuk menjaga denyut kehidupan tari di Indonesia.

“Lokakarya ini sangat penting menurut saya. Salah satu perhatian saya sebenarnya pada Lokakarya Kepenulisan, salah satu dari rangkaian Lokakarya IDF 2016. Di Indonesia, tradisi menulis tari belum cukup berkembang. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Semoga dengan lokakarya-lokakarya, hal ini akan berubah ke arah yang lebih baik,” ujar Seno Joko Suyono yang selain dikenal sebagai jurnalis dan novelis, dikenal juga sebagai pengamat seni pertunjukan.

Selain dua hal utama di atas, pada kesempatan tersebut pun dibicarakan beberapa kemungkinan kerja sama untuk IDF 2016 ini. Helly Minarti, salah satu anggota Tim Artistik, juga mengisi kesempatan tersebut dengan menceritakan perkembangan seni tari di Jerman berdasarkan pengalamannya menghadiri Dance Platform di Frankfurt pada pertengahan Maret 2016 yang lalu. Selain itu, diskusi mengenai perkembangan terkini para koreografer Indonesia dan mancanegara serta karya-karya terbaru pun menjadi topik-topik pembicaraan di dalam kesempatan tersebut. Tak lupa pula, Tim Artistik membicarakan calon-calon koreografer muda yang akan tampil di Program Showcase, IDF 2016.***

IMG_4787

Workshop (Lokakarya) Kepenarian Akademi IDF

Dalam rangka Indonesian Dance Festival 2016, Akademi IDF, salah satu divisi Indonesian Dance Festival, memutuskan untuk mengadakan serangkaian workshop. Rangkaian workshop ini terselenggara atas dukungan dari Kementrian Pariwisata, Republik Indonesia. Salah satu darinya ditujukan bagi para penari muda yang punya aspirasi untuk menjadi penari profesional, terutama di konteks tari kontemporer. Workshop Kepenarian ini akan diadakan di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat, pada 1 – 7 Mei 2016 mendatang. IDF merasa perlu mengadakan workshop kepenarian sebagai jawaban atas tuntutan perkembangan dunia tari kontemporer dewasa ini.

Workshop ini diadakan untuk menekankan dua unsur penting bagi penari di dalam kepenarian yakni teknik tari dan teknik menari. Teknik tari lebih berhubungan dengan kemampuan menguasai teknik dan kosa gerak tertentu. Misalnya balet, tari Jawa, tari Minang, tari modern dan lain sebagainya. Sementara teknik menari mencakup bagaimana seorang penari bisa memiliki kecerdasan tubuh dan kematangan pribadi. Kemampuan ini menjadi modal penari untuk memunculkan kehadirannya di atas panggung (stage presence). Selain itu agar ia bisa menonjolkan diri ketika ia menari di konteks apa pun. Dalam ranah dan konteks lokal, kualitas inilah yang seringkali digambarkan dalam istilah yang lebih abstrak seperti ‘rasa’, ‘taksu’ atau ‘greget’.

Akademi IDF menyadari bahwa tuntutan untuk penari di dalam praktik seni kontemporer kini semakin kompleks. Hal ini lantaran keragaman pendekatan dan eksperimentasi koreografik para penata tari. Seringkali, penari dituntut untuk aktif menafsir konsep abstrak dari sang koreografer ataupun giat menyumbang gagasan sebagai bagian dari proses kreatif yang lebih bersifat kolaboratif ketimbang didaktif. Kepenarian dengan demikian menjadi elemen penting di dalam karya koreografi kontemporer.

Menjawab tantangan tersebut, Workshop Kepenarian IDF dirancang untuk memberi kesempatan bagi para penari muda agar membekali diri dengan wawasan yang dapat memperkaya teknik tari mereka. Dari sini diharapkan para penari muda bisa menguasai teknik menari yang relevan dengan ragam tuntutan artistik di praktik seni tari kontemporer yang lebih bersifat eksperimental.

master class rianto

Master Class oleh Rianto pada IDF 2014 | Foto: Dokumentasi IDF

Empat pelatih—dua dari mancanegara dan dua dari negeri sendiri—sudah dipilih secara saksama oleh Akademi IDF. Keempat pakar ini akan memberi pengayaan kepada 15 penari muda terpilih selama enam hari secara intensif. Workshop akan diselenggarakan di Hutan Kaldera, Bogor yang asri dan inspiratif selama sepekan secara intensif. Metode ini dipilih dengan harapan agar para para pelatih dan penari peserta dapat tinggal bersama dan memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih organik.

Untuk Workshop Kepenarian, Akademi IDF mengundang Suprapto Suryodarmo (Indonesia), Benny Krisnawardi (Indonesia), Ramli Ibrahim (Malaysia), dan Su Wen-Chi (Taiwan) sebagai pelatih. Keempat nama ini sudah tidak asing lagi bagi dunia tari Indonesia mau pun internasional. Suprapto Suryodarmo dikenal sebagai pencetus pendekatan Joged Amerta. Teknik ini sudah mempengaruhi ranah seni tari Eropa sejak 1980-an dan Suprapto sendiri sering memberi workshop di mancanegara selama tiga dekade terakhir. Sedangkan Benny Krisnawardi adalah salah satu kolaborator koreografer Gusmiati Suid (alm.) dalam merumuskan gaya tari kontemporer Indonesia yang kelak dikenal sebagai gaya Gumarang Sakti. Gaya ini menjadi dasar banyak karya koreografi kontemporer Indonesia. Benny sebelum bergabung dengan Gumarang Sakti di 1980-an, belajar Pencak-Silat Minangkabau.

Dua pelatih yang lain diundang dari mancanegara yakni Ramli Ibrahim (Malaysia) dan Su Wen-Chi (Taiwan). Ramli merupakan penari Malaysia yang terkenal saat ini. Ia mempelajari tari ballet dan tari tradisional Malaysia di usia belia sebelum mempelajari secara intensif Bharatanatyam di bawah Deba Prasad Das. Ramli pada 1983 mendirikan Sutra Dance Theatre. Sedangkan Su Wen-Chi selain dikenal sebagai koreografer, juga dikenal sebagai seniman media baru (new media). Pada 2005, ia mendirikan YiLab di Taiwan, sebuah kelompok eksperimental yang terdiri dari seniman media baru dan pertunjukan (performance) yang bekerja mengintegrasikan teknologi baru dan mencari format-format pertunjukan baru.

Untuk Workshop Kepenarian ini, Akademi IDF menyeleksi 15 penari muda potensial dengan usia berkisar antara 20-30 tahun. Penari yang terlibat adalah mereka yang menguasai satu atau lebih teknik tari apa saja, memiliki pengalaman pentas di konteks tari kontemporer atau memiliki pengalaman pentas di konteks non tari kontemporer, namun berhasrat untuk kelak bekerja sama dengan koroegrafer kontemporer. Diharapkan, melalui workshop ini, kedepannya tersedia para penari yang cakap dan mampu menjawabi tantangan perkembangan seni tari kontemporer.***

Pembukaan - IDF 2014 - 19

“Roro Mendut” Buka Indonesian Dance Festival 2014 di Jakarta

Pembukaan - IDF 2014 - 19

“Saya ingin ke depannya koreografer Indonesia juga memberi warna baik di Indonesia atau di dunia internasional karena sebenarnya potensi kita banyak sekali, tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak.”

Jakarta (ANTARA News) – Festival tari internasional bertajuk Indonesian Dance Festival (IDF) kembali digelar untuk ke-12 kalinya pada 4-9 November 2014 di Jakarta.”IDF tahun ini mengambil tema Expand yang berarti meluas, mengjangkau, melakukan kemungkinan baru,” ujar Direktur IDF Maria Darmaningsih di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa malam (4/11).

Berkaitan dengan tema tersebut, IDF 2014 mencoba memproduksi sendiri karya kolaborasi sesama seniman Indonesia maupun dengan seniman mancanegara.

Salah satu karya kolaborasi bertajuk “Roro Mendut” karya koreografer beraliran neo-klasik Jawa Retno Maruti dan penata visual Nindityo Adipurnomo dipilih sebagai karya pembuka IDF 2014.

“Proses produksinya memakan waktu enam bulan, tentang visual, dramaturnya, musiknya itu dilakukan pembahasan dan latihan terus-menerus,” kata Maria.

Maria menjelaskan akan ada satu karya kolaborasi seniman Belgia, Arco Renz, dengan koreografer muda asal Padangpanjang, Ali Sukri, yang akan ditampilkan pada malam penutupan 9 November mendatang.

Festival tari dua tahunan yang berlangsung selama lima hari ini didukung oleh peserta dari tujuh negara yaitu Jepang, Tiongkok, Korea, Singapura, Jerman, Prancis, dan Belgia.

Program Baru

Selain program yang sudah biasa disajikan dalam tiap penyelenggaraan IDF, tahun ini salah satu festival tari tertua di Asia ini juga melaksanakan dua program baru yaitu Young Potential Coreographer (YPC) dan LAB.

“16 koreografer muda berbakat kami fasilitasi untuk menonton, mempelajari, meningkatkan apresiasi, dan mengetahui perkembangan tari di dunia,” tutur Maria.

Para koreografer muda itu, lanjutnya, berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Palembang, Riau, Lampung, Jogja, Surabaya, Solo, Semarang, Makasar, Bandung, Jakarta, dan Bali yang terpilih melalui rekomendasi dari para koreografer senior dan kurator.

“Untuk penyelenggaraan IDF berikutnya, mereka diharapkan dapat menampilkan karya dalam program Showcase yang khusus diperuntukkan bagi koreografer muda,” ujar maestro tari Jawa ini.

Sedangkan LAB merupakan program yang dibuat untuk menyajikan karya yang masih dalam proses penggarapan dengan tujuan untuk melihat bagaimana pengembangan konsep sebuah karya hingga perwujudannya melalui kerja studio.

Maria menjelaskan bahwa keseluruhan agenda IDF 2014 yaitu pertunjukan, seminar, diskusi, master class, YPC, LAB, dan pameran sejarah IDF berlangsung di beberapa tempat di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, Goethe Haus, dan Teater Salihara.

“Saya ingin ke depannya koreografer Indonesia juga memberi warna baik di Indonesia atau di dunia internasional karena sebenarnya potensi kita banyak sekali, tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak,” katanya.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2014

news-3

Seniman Sal Murgiyanto terima penghargaan dari IDF

news-3

Jakarta (ANTARA News) – Seniman dan kritikus tari Sal Murgiyanto menerima penghargaan seumur hidup atau lifetime achievement dari Indonesian Dance Festival (IDF) ke-12 yang diadakan di Jakarta pada 4-8 November 2014.

Sal menerima penghargaan tersebut pada malam pembukaan IDF 2014, Selasa, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, karena dianggap sebagai kritikus tari yang paling konsisten menulis dan melakukan penelitian sekaligus menjadi pendidik dengan pengalaman yang sangat luas.

“Penghargaan ini menarik buat saya karena seniman kan sering tidak dihargai, apalagi tari masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting oleh masyarakat Indonesia,” ujar Sal di Jakarta, Selasa (4/11) malam.

Bagi pria kelahiran Surakarta, 27 Desember 1945 ini seni adalah tanggapan seseorang terhadap apa yang ada di sekelilingnya, baik itu pada sesama manusia, alam, hewan, tumbuhan, ataupun pada Sang Pencipta.

“Esensi dari berkesenian adalah belajar menjadi orang baik,” kata pria yang meraih gelar doktor bidang kajian seni pertunjukan dari New York University ini.

Inisiator IDF sekaligus salah seorang perintis berdirinya Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta ini banyak menyoroti tari tak hanya dari sisi keterampilan, namum selalu mengaitkannya dengan pengetahuan dan wacana.

Beberapa buku yang pernah ditulisnya antara lain Ketika Cahaya Merah Memudar (1993), Teater Daerah Indonesia (1996), Kritik Tari (2002), serta Tradisi dan Inovasi (2004). Selain itu dia juga telah memberikan banyak pelatihan kritik tari dan mempresentasikan makalah di berbagai seminar di Indonesia maupun mancanegara.

Kini Sal tetap tekun mengamati dan mengikuti perkembangan seni tari di Indonesia maupun dunia dengan aktif terlibat dalam berbagai diskusi seni.

“Apa yang saya harapkan dalam dunia tari di masa depan Indonesia adalah semua orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bisa menari untuk menuangkan pikiran, perasaan, dan imajinasi dalam bentuk yang tidak naratif melainkan dengan medium gerak,” tuturnya.

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2014

idf-grayscale

Koreografer Jerman Ikuti Indonesian Dance Festival (IDF) 2014

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesian Dance Festival (IDF) 2014 yang diselenggarakan di Jakarta bakal menampilkan  100 penari  dari 15 koreografer  Indonesia dan mancanegara.

Mengusung tema EXPAND, perhelatan ini digelar di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), GoetheHaus dan Komunitas Salihara mulai 4 November sampai 8 November 2014. “Koreografer dari luar negeri yang akan tampil berasal  dari Singapura, Jerman dan Jepang,” kata Executive Director IDF 2014, Maria Darmaningsih di Jakarta, Rabu (22/10/2014).

Maria mengatakan IDF akan dibuka pagelaran tari yang dibuat atas  tafsir ulang Roro Mendut. Ini kolaborasi koreografer Retno Maruti dan perupa Nindityo Adipurnomo.

“Penutup dilakukan oleh Kris Is, kolaborasi koreografer Arco Renz dari kelompok tari Kobalt Works (Brussel), Melanie Lane, Ali Sukri (koreografer/dosen tari) dengan enam penari muda mahasiswa/lulusan ISI Padangpanjang,” katanya.

Disebutkan IDF juga memiliki ruang pementasan bagi koreografer muda menunjukkan karya tarinya yang memiliki karakteristik yang spesifik.

“Ajang menghadirkan “Master Classess” yang memberi kesempatan kepada para koreografer, pencinta tari, dan mahasiswa serta masyarakat,” katanya.

IDF menjadi  satu-satunya festival tari kontemporer yang diadakan sejak tahun 1992.  Festival tari diadakan setiap dua tahun sekali.

news-2

“Indonesian Dance Festival” 2014 Hadir 5 Hari di Jakarta

Tarian karya koreografer Achi asal Jakarta akan ditampilkan dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2014 di Jakarta, 4-8 November 2014. (BeritaSatu.com/Herman)

Jakarta – Memasuki usia ke-22 tahun serta penyelenggaraan yang ke-12 kali, Indonesian Dance Festival (IDF) kembali hadir di Jakarta pada 4-8 November 2014.

Event yang mengusung tema EXPAND yaitu memperluas bidang penjelajahan baik secara estetika maupun wacana ini akan digelar di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), GoetheHaus dan Komunitas Salihara.

Executive Director IDF 2014, Maria Darmaningsih menjelaskan, tahun ini IDF akan dibuka oleh sebuah produksi baru atas tafsir ulang Roro Mendut, hasil kolaborasi koreografer Retno Maruti dan perupa Nindityo Adipurnomo. kemudian ditutup Kris Is, kolaborasi koreografer Arco Renz dari kelompok tari Kobalt Works (Brussel), Melanie Lane, Ali Sukri (koreografer/dosen tari) dengan enam penari muda mahasiswa/lulusan ISI Padangpanjang. Dari sisi produksi Kris Is, IDF bekerja sama dengan Kobalt Works dan Komunitas Salihara dalam konteks ko-produksi.

“IDF 2014 menghadirkan sekitar 100 penari yang akan menampilkan tarian dari 15 koreografer Indonesia dan mancanegara. IDF juga memiliki ruang showcase untuk memberi kesempatan pada koreografer muda menunjukkan karya tarinya yang memiliki karakteristik yang spesifik,” ungkap Maria Darmaningsih di kampus IKJ, Jakarta, Selasa (21/10).

Ia melanjutkan, event ini juga menghadirkan “Master Classess” yang memberi kesempatan kepada para koreografer, pencinta tari, dan mahasiswa serta masyarakat umum untuk belajar teknik tari tertentu dari para penari dan koreografer tingkat dunia, baik lokal maupun mancanegara.

Kemudian ada forum diskusi “Bicara Tari” yang dibuat sebagai wahana bagi para praktisi tari – koreografer, penari, produser maupun presenter untuk saling berbagi pengalaman, mempertajam ide dan melakukan refleksi serta mengajukan tinjauan kritikal atas perjalanan kreatif dan karya-karya mereka. “Program diskusi juga sebagai wahana dialog antara para pelaku tari dengan penonton atau pengapresiasi karyanya,” lanjut dia.

Sementara bintang pertunjukan IDF 2014 antara lain Retno Maruti (Indonesia), Eko Suprianto (Indonesia), Arco Rentz (Belgia), Jeromel Bel (Perancis), Tao Dance Theater (Tiongkok), serta koreografer mancanegara lainnya dari Singapuran, Jerman dan Jepang.

Herman/WBP

Sumber: http://www.beritasatu.com/hiburan/219179-indonesian-dance-festival-2014-hadir-5-hari-di-jakarta.html