Daftar Nama Peserta Lolos Seleksi IDF Akademi; Workshop Riset Artistik

Menyambut perhelatannya di tahun ini, IDF Akademi menyelenggarakan rangkaian workshop. Workshop yang pertama, Workshop Kepenarian, sudah sukses diadakan pada 1-7 Mei 2016 yang lalu. Pada 21-27 Juli nanti, IDF Akademi akan kembali mengadakan salah satu dari rangkaian workshopnya yakni Workshop Riset Artistik di Malang, Jawa Timur. IDF Akademi telah melakukan seleksi untuk memilih para peserta workshop tersebut.

Berikut nama-nama mereka yang lolos seleksi tersebut:

  1. Fitri Anggraini (P) Jakarta
  2. Ari Ersandi (L) Yogyakarta
  3. Nihayah (P) Surabaya
  4. Fadilia Oziana (P) Batusangkar
  5. Otniel Tasman (L) Solo
  6. Hari Ghulur (L) Surabaya
  7. Ayu Permatasari (P) Yogyakarta
  8. Galih Mahara (L) Bandung
  9. Galih Puspita Karti (P) Yogyakarta
  10. David Putra Yuda (L) Padangpanjang
  11. Rio Pernando (L) Solo
  12. Mega Fajar Liem (L) Bandung

Workshop Riset Artistik Akademi IDF

Dalam rangka Indonesian Dance Festival 2016, Akademi IDF, salah satu divisi Indonesian Dance Festival, memutuskan untuk mengadakan tiga workshop. Workshop pertama yang berkonsentrasi pada kepenarian sudah terlaksana dengan baik pada 1-7 Mei 2016 di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat. Kini, Akademi IDF tengah mempersiapkan workshop kedua yang berkonsentrasi pada pengayaan perspektif kritis untuk koreografer muda. Rencananya, workshop Riset Artistik Akademi IDF ini akan diadakan pada 21-27 Juli 2016 di Ubud Hotel and Cottages, Malang, Jawa Timur.

Workshop Riset Artistik ini sengaja dibuat untuk memberikan bekal perspektif kritis pada para koreografer muda Indonesia. Perspektif kritis ini diandaikan berguna untuk penemuan tema karya yang akan digarap, serta proses riset yang investigatif untuk pendasaran temuan-temuan yang muncul di dalam karya. Diharapkan dengan workshop ini, para koreografer muda Indonesia bisa memiliki kekayaan perspektif dalam melakukan riset-riset mereka.

Menurut pengamatan Akademi IDF, 2-5 tahun belakangan ini, tampak lemahnya penggalian tema serta riset artistik di dalam karya-karya koreografer muda Indonesia. Permasalahannya bukan pada kurangnya bahan, melainkan terletak pada kurangnya kemauan dan kurang kayanya pemahaman koreografer muda Indonesia akan cara memperdalam tema yang hendak digarap. Padahal, jika ditengok ke sekeliling, di dalam konteks sosial politik Indonesia, begitu banyak bahan dan tema yang membutuhkan respons artistik dari para seniman.

Suasana Diskusi "Membicarakan Tari" Pada IDF 2014  | Dokumentasi IDF

Suasana Diskusi “Membicarakan Tari” Pada IDF 2014 | Dokumentasi IDF

Tantangan tari kontemporer adalah ide yang kuat serta pemahaman yang maksimal atas ide itu. Tentu saja juga bagaimana strategi artistik yang tepat agar tema tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Bersamaan dengan itu, tercapai dengan maksimal pula tujuan dari senimannya. Dengan demikian, Akademi IDF menganggap penting untuk mengintervensi kemampuan kritis para koreografer muda Indonesia.

Untuk tujuan tersebut, Workshop Akademi IDF ini akan menghadirkan empat seniman senior dari pelbagai disiplin seni yang sudah terbiasa bekerja dengan riset artistik yang mendalam. Empat pemateri ini berasal dari Indonesia mau pun dari luar negeri. Mereka adalah Daniel Kok, seorang koreografer dari Singapura, Joned Suryatmoko, sutradara teater dari Yogyakarta, Arco Renz, koreografer asal Jerman yang menetap di Belgia, dan Nindityo Adipurnomo, seorang perupa dari Yogyakarta.

Keempat pemateri ini dikenal luas karena karya-karya mereka yang mengutamakan riset, baik tema mau pun artistik, di dalam prosesnya. Karya Daniel Kok baru-baru ini, Bunny, merupakan hasil risetnya terhadap permasalahan relationality dan audienceship. Pada 2016 ini, ia memulai penelitian baru perihal trans-individualitas. Sedangkan Joned Suryatmoko, selain sebagai seorang sutradara, kerap terlibat di dalam penelitian bersama di bidang kesenian. Karya terakhirnya, Margi Wuta, bisa dilihat sebagai pencarian kemungkinan artistik dengan mendekati tema teater empati. Di dalam karya itu, ia berkolaborasi dengan para seniman tuna netra.

Perupa Nindityo Adipurnomo, selain dikenal sebagai salah satu pendiri Yayasan Seni Cemeti, dikenal juga dengan karya-karyanya yang melalui riset mendalam, mencoba memadukan dunia tradisional Jawa dengan kosa kata-kosa kata artistik (rupa) kontemporer. Ia akhir-akhir ini semakin kerap berkolaborasi dengan penari. Arco Renz adalah koreografer asal Jerman, menetap di Belgia, yang punya perhatian yang mendalam atas Asia. Ia kerap berkolaborasi dengan penari dan koreografer dari Asia Tenggara. Baru-baru ini, ia terpilih sebagai kurator untuk seni pertunjukan dari sisi Eropa untuk festival Europhalia (Indonesia) di Eropa tahun 2017.

Sebagaimana Workshop Kepenarian, pada Workshop Riset Artistik ini pun Akademi IDF sengaja memilih tempat yang cukup terpencil. Diharapkan dengan begitu para peserta workshop dan pemateri bisa lebih berkonsentrasi dan punya banyak ruang dan waktu untuk saling berbagi. Workshop ini pun dirancang untuk peserta maksimal 12 orang. Profil peserta workshop diharapkan datang dari kalangan koreografer muda (25-30 tahun) yang minimal sudah menciptakan tiga karya. Dengan demikian, evaluasi dan peningkatan di bidang pandangan kritis mengandaikan sudah adanya pengalaman pencarian akan hal itu.

Dengan workshop ini, yang tentu saja membutuhkan hal-hal serupa di kesempatan lain, Akademi IDF mengharapkan ke depannya muncul karya-karya tari kontemporer Indonesia yang kuat pada tema serta eksekusi artistiknya. Dengan kata lain, munculnya koreografer tari kontemporer Indonesia yang mumpuni, baik pada tema yang digarap mau pun intervensi-intervensi artistik yang dimunculkan dalam merespon tema tersebut.***

Hari ke-6 (Hari Terakhir) Lokakarya Kepenarian Akademi IDF

Jumat, 6 Mei 2016 merupakan hari terakhir Workshop Kepenarian Akademi IDF.  Suprapto Suryodarmo memimpin sesi pemanasan peserta. Berbeda dengan pemanasan sebelumnya yang membuat tubuh para peserta berkeringat, Suprapto justru mengisi pemanasan dengan pertanyaan yang mengerutkan dahi, “apa perbedaan antara komposisi dan koreografi?”

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Belum sempat peserta menjawab, Mbah Prapto (begitu Suprapto Suryodarmo kerap disapa) sudah memberi pertanyaan baru, “Yang Ilahi itu untuk apa di dalam konteks tari? Apakah kita harus banyak mencari yang baru sementara yang kita punyai malah ditinggalkan?”

Pertanyaan ini sesungguhnya membawa peserta kembali pada sesi pemanasan bersama Ramli Ibrahim di hari-hari sebelumnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, Mbah Prapto berharap para peserta bisa meraih lagi ‘rasa ruang’ di dalam sejarah perjalanan kepenarian masing-masing.

Mbah Prapto lantas memperkenalkan konsepnya yang lain yaitu “in-out-in” . Peserta diminta memilih 5 objek yang mereka temukan di sekitar Kaldera. Kelima objek itu harus mereka posisikan sebagai kontestasi ruang dengan cara mengambil, membawa dan meletakan.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Benny Krisnawardi pada sesinya mencoba mengevaluasi keseluruhan workshop. Ia ingin tahu, sejauh mana momen workshop ini dimaknai para peserta. Workshop ini, simpul Benny pada akhirnya, merupakan stimulus bagi para peserta untuk mengolah, mengasah diri hingga terus tumbuh ke tingkat tertentu di dalam kepenarian masing-masing. Sebagai sesi terakhirnya, Benny memberi oleh-oleh kecil namun berat kepada peserta yaitu menggali energi pernafasan sekaligus menyalurkannya untuk kebutuhan tari.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Pada sesi berikutnya, Su Wen-Chi mengajak peserta untuk bercermin pada kualitas gerak masing-masing. Sesi ini dikembangkannya dari pengalaman menari bersama peserta dan pemateri lain yang terjadi pada hari sebelumnya. Menurutnya, ketika itu, setiap tubuh yang bergerak mempunyai momen “terhubung” dan “tidak terhubung” (connect-disconnect). Peserta dibagi ke dalam dua kelompok secara acak untuk memasuki ruang “connect-disconnect”. Ruang “connect-disconnect” ini dibagi menjadi tiga bagian: connet, disconnect, dan connect-disconnect. Proses ini didokumentasikan dalam bentuk video yang akan menjadi materi sesi malam hari.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sehabis makan malam, peserta diajak Wen-Chi untuk melihat diri masing-masing, baik secara individu atau pun di dalam kelompok, melalui dokumentasi video sesi sore hari. Diharapkan, dengan cara itu peserta bisa berlatih menangkap bentuk-bentuk, pola ruang, dan terutama improvisasi. Menurut Wen-Chi, melihat video latihan semacam ini sangat penting untuk penari mau pun koreografer. Karena menurutnya, penari tidak bisa mengikuti 100 persen gerak yang sudah dicari. Improvisasi berarti mencari sesuatu, sebuah tugas yang harus dilalui, dicoba dan dijalankan.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Selain menjelaskan pentingnya dokumentasi video, Wen–Chi juga membahas apa yang terjadi ketika peserta melakukan improvisasi. Menurutnya, di bagian “connect”, setiap peserta punya kecenderungan bergerak secara mengalir dan abstrak. Berbeda dengan bagian “disconnect” di mana gerakan peserta cenderung berkarakter, mudah terpotong menjadi fragmen, dan sangat intuitif. Ia mengumpamakannya dengan mesin yang bekerja berulang-ulang dan mudah berubah. Ruang dan waktu pun semakin terfragmentasi dan terkotak-kotak. Meskipun menari secara berkelompok, peserta bergerak sangat individual. Setiap orang ingin membangun dan melahirkan karakter; seperti gerak berlari, berjalan yang ada di kehidupan sehari-hari. Sementara itu di bagian terakhir yakni “connect-disconect”, tampak adanya rasa frustrasi pada setiap peserta. Namun, di sisi lain setiap penari menemukan hal-hal yang mengejutkan bersama kelompoknya.

Su Wen-Chi dalam sesi terakhirnya ini membawa setiap peserta untuk  menyadari  efek dari perkembangan pengalaman kepenariannya. Entah dengan metode yang mirip dengan yang kerap dilakukannya atau dengan metode-metode yang dialami di dalam setiap proses penciptaan karya.*** (Taufik Darwis | IDF)

Hari Ke-4 dan Ke-5 Workshop Kepenarian Akademi IDF

Rupanya, sesi pemanasan semakin menjadi milik Ramli Ibrahim di dalam Workshop Kepenarian Akademi IDF ini. Koreografer asal Malaysia ini kembali membagikan lagi teknik-teknik dasar Balet dan Odissi pada Rabu pagi (4/5/2016), hari keempat Workshop Kepenarian Akademi IDF. Ramli memang mempelajari pelbagai bahasa tari (dance form) yang berbeda-beda karena latar belakang diaspora di tanah airnya, Malaysia. Dari setiap bahasa tari yang ia pelajari, ia mengambil inti bentuk serta bahasa tari tersebut dan dijadikan bahasa dan bentuk tari miliknya.

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Selanjutnya, pada sesi pagi hari ke-4 itu, Benny Krisnawadi  memberikan salah satu metode yang dipelajarinya di Gumarang Sakti yakni metode penguasaan diri untuk melatih insting, reflek dan konektivitas ketika penari sudah tidak lagi berpatokan pada aba-aba untuk bergerak. Benny dan semua peserta workshop berjalan di sepanjang jalan Hutan Kaldera tanpa saling berinteraksi. Sambil berjalan dan meresapi setiap alur jalan dan hal-hal yang dilaluinya, setiap peserta berkontemplasi. Dengan itu diharapkan setiap peserta bisa berinteraksi dengan dirinya sendiri untuk memperkaya dan menguatkan aspek-aspek dasar kepenarian.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

“Tubuh menari itu untuk apa sih?”, demikian Suprapto Sudarmoyo mencoba membawa peserta pada ‘ruang tradisi’ yang terbatas tapi bebas, alamiah tetapi terstruktur. Menurut Suprapto, setiap organisme terorganisir dan setiap organisasi punya organisme. Semua hal di dalam alam punya cara pendekatan ruang dan waktu yang spesifik. Begitu pun halnya di dalam kepenarian.

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Suprapto memilih sungai sebagai tempat untuk membawa para peserta ke dalam pemikiran dan gagasan tersebut. Setiap peserta memilih batu atau spot masing-masing. Selanjutnya, peserta diminta untuk meresapi dan merasakan apa yang terjadi di dalam dan di luar tubuhnya. Melatih kepekaan pada situasi sadar dan tidak sadar, tumbuh dan tidak tumbuh.  Setelah selesai sesi di sungai tersebut, Suprapto dan para peserta saling berbagi perihal apa yang dialami mereka ketika berada di sungai.

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Kamis, 5 Mei 2016—hari ke-5 Workshop Kepenarian Akademi IDF—merupakan hari terakhir untuk sesi Ramli Ibrahim. Selain pemanasan yang kerap diisi oleh Ramli, ia pun membawa peserta lebih dalam mempelajari Odissi, Bharatanatyam, dan Balet. Kini mereka bukan sekadar mempelajari dasar filosofi dari masing-masingnya, tapi juga bagaimana cara  memposisikan diri di antara ranah tari Barat dan Timur. Menurut Ramli, di tengah perbedaan kebudayaan dan keragaman masing-masingnya, setiap penari harus menemukan sesuatu ‘yang ilahiah’. Sesuatu ‘yang ilahiah’ ini hanya bisa ditemukan melalui kejujuran. Kalau pun ada definisi-definisi yang dikenal dan dipakai, penari jangan sampai membiarkan dirinya dibunuh oleh kata-kata. Ia harus menemukannya dengan caranya sendiri.

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Ranah tari Asia, terutama yang lekat dengan adat atau ritual, selalu berhubungan dengan pemujaan akan sesuatu yang ilahi. Banyak guru tari menganggap bahwa penari harus terfokus kepada penonton. Tetapi bagi tari Asia, fokusnya ada pada ‘yang ilahiah’. Yang ilahiah ini menurut Ramli ada di dalam diri penarinya sendiri. Ambillah contoh tari-tari India di mana tubuh para penarinya ‘dihias’ seindah mungkin, seumpama sebuah pura. Inti tari Asia adalah bagaimana seorang penari mengembangkan sesuatu yang spiritual ketika menarikan tari apa pun.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Su Wen-Ci yang mengamati juga sesi worshop dari Suprapto di sungai sehari sebelumnya, pada sesinya pada hari ke-5, ingin berbagi tentang unsur yang dekat dengan air sungai yakni gelombang. Setiap peserta diminta untuk merasakan dan mengetahui gelombang yang diciptakan peserta yang lain. Menurut Wen-Ci, tubuh manusia memiliki gelombang dan cairan yang ada di setiap sendi tulangnya. Peserta menggerakan setiap sendi dalam tubuhnya, mulai dari atas sampai bawah secara parsial, dari gerakan-gerakan kecil ke gerakan-gerakan lebar dan sebaliknya. Peserta pun mencoba merasakan gelombang yang ada di dalam dirinya.

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi sore terasa begitu istimewa. Sebab, di sesi pamungkas hari ke-5 Workshop Kepenarian Akademi IDF itu semua pemateri dan peserta menari bersama.*** (Taufik Darwis | IDF)

Hari Ke-3 Workshop Kepenarian Akademi IDF

Selasa, 3 Mei 2016 adalah hari ketiga Workshop Kepenarian yang diselenggarakan oleh Akademi IDF di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat. Sesi pemanasan di pagi hari ‘diambil alih’ oleh Ramli Ibrahim. Selama dua setengah jam, peserta diajak mengenali teknik-teknik dasar Baratanatyam, Odissi dan Balet. Sekaligus juga, Ramli Ibrahim memaparkan perihal filosofi di balik masing-masing teknik tersebut.

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Setelah sesi pemanasan yang membuat tubuh berkeringat, panas dan lentur, peserta diajak Benny Krisnawardi untuk meneruskan materi malam sebelumnya yaitu pendekatan  filsafati dan kaidah dalam silek/silat. Silek/silat merupakan kebutuhan tari yang paling utama di dalam gaya tari yang dikembangkan di Gumarang Sakti. Kita tahu, gaya tari Gumarang Sakti menjadi dasar dari banyak koreografi tari kontemporer di Indonesia.

Benny pertama-tama mengajak peserta untuk memfokuskan titik pandang mereka. Fokus titik pandang ini bisa ditampilkan oleh penari dengan cara semua energi yang ada di seluruh tubuh dikumpulkan di mata. Selanjutnya, penari bergerak dengan gonyek, dorongan yang menghentak, untuk menumbuhkan kecepatan, menghidupkan tubuh, dan juga menimbulkan rasa untuk menghindar. Tujuan gonyek adalah untuk merangsang energi di dalam tubuh dan mengembalikan setiap fokus kesadaran yang terlupakan karena rutinitas keseharian.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Ketika tiba pada sesi yang dibawakan oleh Su Wen-Chi—pendiri YiLab, Taiwan—hal yang berbeda pun ditawarkan kepada peserta. Jika Suprapto Suryodarmo lebih menekankan ‘dunia dalam’, Wen-Chi mengajak peserta mendekati benda-benda keseharian. Ia mendorong peserta workshop untuk menjalin dialog antara tubuh dan teknologi. Setiap peserta diminta oleh koreografer sekaligus juga seniman media baru itu untuk mengutarakan apa yang ada di kepalanya tentang teknologi; baik-buruk dan untung-ruginya. Setelah peserta mengutarakannya, Su Wen-Chi meminta setiap peserta untuk menyimpan opini-opininya itu. Ia lantas mengajak peserta untuk meletakan dan menata Gadget mereka sebagai  time-line.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Gadget-gadget itu diurutkan berdasarkan teknologi yang terkandung di dalamnya; dari yang paling kuno sampai ke yang paling canggih. Pertanyaan yang perlu dipecahkan adalah di mana posisi tubuh para peserta di antara rangkaian time line itu. Lantas, Wen Ci bersama peserta berusaha menjawab pertanyaan itu secara partisipatif dan menyenangkan; membuat camera obscura dari kertas, menutup telinga untuk mendengarkan nafas sendiri, dan membuat kolase video menggunakan gadget masing-masing. Kesimpulan dari sesi Wen-Ci adalah teknologi merupakan mitra manusia. Selain itu, perspektif atas realitas tidak-lah tunggal. Demikian juga cara orang memandang tari; tidak ada sebuah cara pandang yang tunggal tentang tari.*** (Taufiq Darwis | IDF)

Hari Ke-2 Workshop Kepenarian Akademi IDF

Senin, 2 Mei 2016 adalah hari kedua Workshop Kepenarian yang diselenggarakan oleh Akademi IDF di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat. Setelah pemanasan dan makan pagi, ke-16 peserta Workshop Kepenarian Akademi IDF diajak Suprato Suryodarmo mengenal konsep zooming dan measuring. Konsep ini bertujuan untuk merasakan kehadiran sebuah objek yang berubah menjadi subjek. Masing-masing peserta dipersilahkan untuk memilih sebatang pohon yang berada di sekeliling Kaldera. Lebih lanjut Suprapto menjelaskan bahwa konsep zooming dan measuring membantu kita untuk bisa membaca sebuah objek tanpa berjarak dan sekaligus juga berjarak. Membaca sebuah objek berarti kita melihat sebuah objek bukan sebagai sesuatu yang flat dan dipahami sebagai yang hidup saja, tapi merasakannya sebagai objek tiga dimensi. Mengajak objek berdialog berarti menempatkan objek sebagai sesuatu yang tidak berbeda dengan kita.

bersama mbah prapto

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

bersama mbah prapto 2

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi sore hari diisi Ramli Ibrahim. Pendiri Sutra Dance Theatre ini menuturkan pengalamannya sebagai penari dan koreografer yang mempelajari bahasa-bahasa tari yang berbeda dan menjadikan semua itu miliknya. Ramli meyakini bahwa setiap jenis tari itu hibrid. Otentisitas di dalam setiap jenis tari menurutnya bersifat relatif. Ramli juga memperkenalkan bagaimana konteks dan pengembangan tari Bharataatyam dan Odissi yang didalaminya. Perkenalannya atas dua hal itu dimaksudkan untuk membawa pemahaman peserta kembali pada pengertian bahwa tari tidak bisa dipisahkan dengan musik, drama dan seni rupa. Yang menurutnya paling penting dalam dunia tari adalah juga bagaimana mempercayai tari sebagai metafora. Untuk mencapai itu penari/performer harus mempunyai kedalaman ‘rasa’ yang  baik dan selanjutnya kemampuan mengolah kompleksitas ‘rasa’ itu.

bersama ramli 2

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

bersama ramli

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Menyambung materi yang dibawakan Ramli, pada sesi malamnya Benny Krisnawardi memperkenalkan gerak atau sikap dasar silek untuk menjelaskan tari tidak sebatas gerak. Menurut kolaborator koreografer Gusmiati Suid (alm.) ini, ‘rasa’ atau—dalam bahasa Minangkabau—‘raso’ seperti yang didapatkannya selama ini dari Gusmiati Suid di Gumarang Sakti memiliki peran penting di dalam kepenarian. Tapi sedikit berbeda dengan pengertian ‘rasa’ yang dijelaskan dan dicontohkan Ramli, di Gumarang Sakti emosi tidak dibawakan secara harfiah. Tapi betul-betul diungkapkan dengan gerakan, divisualisasikan dalam bentuk simbol-simbol dan disampaikan lewat lagu atau musik.

bersama benny

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

bersama benny 2

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Tampaklah bahwa para peserta dan para pemateri begitu menikmati proses workshop pada hari pertama itu.*** (Taufiq Darwis | IDF)

Daftar Nama Peserta Lolos Seleksi IDF Akademi: Lokakarya Kepenarian

Salah satu hasil dari rapat yang diadakan Indonesian Dance Festival pada 31 Maret – 1 April 2016 yang lalu adalah menyeleksi peserta IDF Akademi: Lokakarya Kepenarian yang akan diadakan pada 1 – 7 Mei 2016 di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat.

Berikut nama-nama mereka yang lolos seleksi tersebut:

  1. Ahmad Susantri (L), Yogyakarta
  2. Anis Harliani Kencana Ekaputri (P), Bandung
  3. Aprilia (P), Yogyakarta
  4. Assabti Nur Hudan Ma’rufi (P), Yogyakarta
  5. David Putra Yudha (L), Batusangkar
  6. Emmy Sundari (P), Bandung
  7. Erwin Mardiansyah (L), Padangpanjang
  8. I Putu Bagus Bang Sada Graha (L), Yogya/Bali
  9. Safri Tri Jaya (L), Jakarta
  10. Silvia Dewi Marthaningrum (P), Yogyakarta
  11. Tazkia Hariny Nurfadillah (P), Bandung
  12. Yuni Ratnasari (P), Yogyakarta
  13. Yusuf Purnama (L), Jakarta
  14. Ari R Sandi (L), Yogyakarta
  15. Fitri Anggraini (P), Jakarta
  16. Nihayah (P), Surabaya

Rapat Program dan Persiapan Lokakarya IDF 2016

Pada 31 Maret – 1 April 2016 lalu, Indonesian Dance Festival (IDF) mengadakan rapat persiapan untuk IDF 2016. Bertempat di Sekretariat IDF, Gedung Fakultas Seni dan Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta, pertemuan itu dihadiri tidak kurang dari 10 orang yang terdiri dari Tim Artistik IDF 2016 dan Pengurus Kesekretariatan IDF. Dua hal utama yang menjadi sorotan di dalam rapat tersebut adalah program-program IDF 2016 serta persiapan Akademi IDF: Rangkaian Lokakarya.

Program-program yang diproyeksikan untuk IDF 2016 yang direncanakan pada awal November 2016 ini secara garis besar tidak banyak berubah. Kebanyakan program yang akan diadakan sama dengan program-program yang ada pada penyelenggaraan IDF 2014. Program-program yang berusaha menunjukkan keinginan IDF untuk lebih tajam berwacana serta mencoba menghubungkan praktik tari di Indonesia dengan dunia tari global. Tetapi tentu saja Tim Penata Artistik IDF 2016 mengusulkan dan melihat beberapa kemungkinan program baru untuk IDF 2016 ini. Kepastian program-program yang akan dimunculkan sendiri sejauh ini sedang digarap secara intensif oleh Tim Artistik IDF 2016.

“IDF itu punya program-program yang sudah menjadi kekhasannya. Salah satunya, Program Showcase. Di situ kita memberi kesempatan kepada koreografet muda Indonesia untuk tampil. Nah, program yang sudah menjadi kekhasan IDF ini perlu dipertahankan”, ujar Maria Darmaningsih, Direktur Program IDF 2016 dan juga salah satu anggota Tim Artistik IDF 2016.

Ada beberapa program dari IDF-IDF sebelumnya yang kemungkinan besar akan dihilangkan atau diubah formatnya. Hal ini mengikuti perkembangan IDF terkini. Misalnya, untuk IDF 2016, Akademi IDF mendahuluinya dengan serangkaian lokakarya yakni Lokakarya Kepenarian, Lokakarya Penelitian Artistik, dan Lokakarya Kepenulisan Tari.

“Tentu saja IDF ini kan berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, bisa jadi program-program yang lama harus juga ikut berubah atau kita tiadakan. Tentu saja dengan memperhatikan juga kekhasan IDF. Dan kedepannya kita di IDF memang harus terus terbuka pada perubahan-perubahan ini,” ujar Nungki Kusumastuti, Direktur Keuangan dan anggota Tim Artistik IDF 2016 pada kesempatan itu.

Suasana Rapat Program dan Persiapan Lokakarya IDF 2016

Yang paling dekat dengan kamera berturut-turut searah jarum: Nia Agustina Pandhuniawati, Linda Mayasari, Maria Darmaningsih, Seno Joko Suyono, Nungki Kusumastuti, Taufik Darwis, dan Helly Minarti.

Hal lain yang dibahas dalam pertemuan itu adalah seleksi peserta Akademi IDF: Lokakarya Kepenarian. Per 30 Maret yang lalu, Sekretariat IDF menerima tidak kurang dari 50 calon peserta lokakarya yang akan diadakan di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat itu. Dari sana, 35 peserta lolos seleksi administratif. Ke-35 nama inilah yang diserahkan kepada Anggota Tim Artistik untuk diseleksi. Maka, terpilihlah 16 peserta yang kini sedang dihubungi satu per satu oleh pihak Akademi IDF. Demi evektifitas, Akademi IDF memutuskan untuk tidak mengumumkan dahulu nama para peserta lokakarya sampai mendapatkan kepastian keterlibatan mereka.

“Sayang jika ada yang pada hari H tidak hadir. Jadi sebaiknya kita pastikan dahulu. Jika memang ada yang ternyata membatalkan, kita bisa memberi tempatnya kepada yang sudah mendaftar tetapi tidak terseleksi. Dengan cara ini kita bisa lebih evektif dan tidak merasa rugi,” demikian imbuh Yessy Apriati dari Akademi IDF.

Seno Joko Suyono, anggota Tim Artistik IDF 2016, melihat betapa pentingnya diadakan rangkaian lokakarya ini untuk menjaga denyut kehidupan tari di Indonesia.

“Lokakarya ini sangat penting menurut saya. Salah satu perhatian saya sebenarnya pada Lokakarya Kepenulisan, salah satu dari rangkaian Lokakarya IDF 2016. Di Indonesia, tradisi menulis tari belum cukup berkembang. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Semoga dengan lokakarya-lokakarya, hal ini akan berubah ke arah yang lebih baik,” ujar Seno Joko Suyono yang selain dikenal sebagai jurnalis dan novelis, dikenal juga sebagai pengamat seni pertunjukan.

Selain dua hal utama di atas, pada kesempatan tersebut pun dibicarakan beberapa kemungkinan kerja sama untuk IDF 2016 ini. Helly Minarti, salah satu anggota Tim Artistik, juga mengisi kesempatan tersebut dengan menceritakan perkembangan seni tari di Jerman berdasarkan pengalamannya menghadiri Dance Platform di Frankfurt pada pertengahan Maret 2016 yang lalu. Selain itu, diskusi mengenai perkembangan terkini para koreografer Indonesia dan mancanegara serta karya-karya terbaru pun menjadi topik-topik pembicaraan di dalam kesempatan tersebut. Tak lupa pula, Tim Artistik membicarakan calon-calon koreografer muda yang akan tampil di Program Showcase, IDF 2016.***

Workshop (Lokakarya) Kepenarian Akademi IDF

Dalam rangka Indonesian Dance Festival 2016, Akademi IDF, salah satu divisi Indonesian Dance Festival, memutuskan untuk mengadakan serangkaian workshop. Rangkaian workshop ini terselenggara atas dukungan dari Kementrian Pariwisata, Republik Indonesia. Salah satu darinya ditujukan bagi para penari muda yang punya aspirasi untuk menjadi penari profesional, terutama di konteks tari kontemporer. Workshop Kepenarian ini akan diadakan di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat, pada 1 – 7 Mei 2016 mendatang. IDF merasa perlu mengadakan workshop kepenarian sebagai jawaban atas tuntutan perkembangan dunia tari kontemporer dewasa ini.

Workshop ini diadakan untuk menekankan dua unsur penting bagi penari di dalam kepenarian yakni teknik tari dan teknik menari. Teknik tari lebih berhubungan dengan kemampuan menguasai teknik dan kosa gerak tertentu. Misalnya balet, tari Jawa, tari Minang, tari modern dan lain sebagainya. Sementara teknik menari mencakup bagaimana seorang penari bisa memiliki kecerdasan tubuh dan kematangan pribadi. Kemampuan ini menjadi modal penari untuk memunculkan kehadirannya di atas panggung (stage presence). Selain itu agar ia bisa menonjolkan diri ketika ia menari di konteks apa pun. Dalam ranah dan konteks lokal, kualitas inilah yang seringkali digambarkan dalam istilah yang lebih abstrak seperti ‘rasa’, ‘taksu’ atau ‘greget’.

Akademi IDF menyadari bahwa tuntutan untuk penari di dalam praktik seni kontemporer kini semakin kompleks. Hal ini lantaran keragaman pendekatan dan eksperimentasi koreografik para penata tari. Seringkali, penari dituntut untuk aktif menafsir konsep abstrak dari sang koreografer ataupun giat menyumbang gagasan sebagai bagian dari proses kreatif yang lebih bersifat kolaboratif ketimbang didaktif. Kepenarian dengan demikian menjadi elemen penting di dalam karya koreografi kontemporer.

Menjawab tantangan tersebut, Workshop Kepenarian IDF dirancang untuk memberi kesempatan bagi para penari muda agar membekali diri dengan wawasan yang dapat memperkaya teknik tari mereka. Dari sini diharapkan para penari muda bisa menguasai teknik menari yang relevan dengan ragam tuntutan artistik di praktik seni tari kontemporer yang lebih bersifat eksperimental.

master class rianto

Master Class oleh Rianto pada IDF 2014 | Foto: Dokumentasi IDF

Empat pelatih—dua dari mancanegara dan dua dari negeri sendiri—sudah dipilih secara saksama oleh Akademi IDF. Keempat pakar ini akan memberi pengayaan kepada 15 penari muda terpilih selama enam hari secara intensif. Workshop akan diselenggarakan di Hutan Kaldera, Bogor yang asri dan inspiratif selama sepekan secara intensif. Metode ini dipilih dengan harapan agar para para pelatih dan penari peserta dapat tinggal bersama dan memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih organik.

Untuk Workshop Kepenarian, Akademi IDF mengundang Suprapto Suryodarmo (Indonesia), Benny Krisnawardi (Indonesia), Ramli Ibrahim (Malaysia), dan Su Wen-Chi (Taiwan) sebagai pelatih. Keempat nama ini sudah tidak asing lagi bagi dunia tari Indonesia mau pun internasional. Suprapto Suryodarmo dikenal sebagai pencetus pendekatan Joged Amerta. Teknik ini sudah mempengaruhi ranah seni tari Eropa sejak 1980-an dan Suprapto sendiri sering memberi workshop di mancanegara selama tiga dekade terakhir. Sedangkan Benny Krisnawardi adalah salah satu kolaborator koreografer Gusmiati Suid (alm.) dalam merumuskan gaya tari kontemporer Indonesia yang kelak dikenal sebagai gaya Gumarang Sakti. Gaya ini menjadi dasar banyak karya koreografi kontemporer Indonesia. Benny sebelum bergabung dengan Gumarang Sakti di 1980-an, belajar Pencak-Silat Minangkabau.

Dua pelatih yang lain diundang dari mancanegara yakni Ramli Ibrahim (Malaysia) dan Su Wen-Chi (Taiwan). Ramli merupakan penari Malaysia yang terkenal saat ini. Ia mempelajari tari ballet dan tari tradisional Malaysia di usia belia sebelum mempelajari secara intensif Bharatanatyam di bawah Deba Prasad Das. Ramli pada 1983 mendirikan Sutra Dance Theatre. Sedangkan Su Wen-Chi selain dikenal sebagai koreografer, juga dikenal sebagai seniman media baru (new media). Pada 2005, ia mendirikan YiLab di Taiwan, sebuah kelompok eksperimental yang terdiri dari seniman media baru dan pertunjukan (performance) yang bekerja mengintegrasikan teknologi baru dan mencari format-format pertunjukan baru.

Untuk Workshop Kepenarian ini, Akademi IDF menyeleksi 15 penari muda potensial dengan usia berkisar antara 20-30 tahun. Penari yang terlibat adalah mereka yang menguasai satu atau lebih teknik tari apa saja, memiliki pengalaman pentas di konteks tari kontemporer atau memiliki pengalaman pentas di konteks non tari kontemporer, namun berhasrat untuk kelak bekerja sama dengan koroegrafer kontemporer. Diharapkan, melalui workshop ini, kedepannya tersedia para penari yang cakap dan mampu menjawabi tantangan perkembangan seni tari kontemporer.***

“Roro Mendut” Buka Indonesian Dance Festival 2014 di Jakarta

Pembukaan - IDF 2014 - 19

“Saya ingin ke depannya koreografer Indonesia juga memberi warna baik di Indonesia atau di dunia internasional karena sebenarnya potensi kita banyak sekali, tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak.”

Jakarta (ANTARA News) – Festival tari internasional bertajuk Indonesian Dance Festival (IDF) kembali digelar untuk ke-12 kalinya pada 4-9 November 2014 di Jakarta.”IDF tahun ini mengambil tema Expand yang berarti meluas, mengjangkau, melakukan kemungkinan baru,” ujar Direktur IDF Maria Darmaningsih di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa malam (4/11).

Berkaitan dengan tema tersebut, IDF 2014 mencoba memproduksi sendiri karya kolaborasi sesama seniman Indonesia maupun dengan seniman mancanegara.

Salah satu karya kolaborasi bertajuk “Roro Mendut” karya koreografer beraliran neo-klasik Jawa Retno Maruti dan penata visual Nindityo Adipurnomo dipilih sebagai karya pembuka IDF 2014.

“Proses produksinya memakan waktu enam bulan, tentang visual, dramaturnya, musiknya itu dilakukan pembahasan dan latihan terus-menerus,” kata Maria.

Maria menjelaskan akan ada satu karya kolaborasi seniman Belgia, Arco Renz, dengan koreografer muda asal Padangpanjang, Ali Sukri, yang akan ditampilkan pada malam penutupan 9 November mendatang.

Festival tari dua tahunan yang berlangsung selama lima hari ini didukung oleh peserta dari tujuh negara yaitu Jepang, Tiongkok, Korea, Singapura, Jerman, Prancis, dan Belgia.

Program Baru

Selain program yang sudah biasa disajikan dalam tiap penyelenggaraan IDF, tahun ini salah satu festival tari tertua di Asia ini juga melaksanakan dua program baru yaitu Young Potential Coreographer (YPC) dan LAB.

“16 koreografer muda berbakat kami fasilitasi untuk menonton, mempelajari, meningkatkan apresiasi, dan mengetahui perkembangan tari di dunia,” tutur Maria.

Para koreografer muda itu, lanjutnya, berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Palembang, Riau, Lampung, Jogja, Surabaya, Solo, Semarang, Makasar, Bandung, Jakarta, dan Bali yang terpilih melalui rekomendasi dari para koreografer senior dan kurator.

“Untuk penyelenggaraan IDF berikutnya, mereka diharapkan dapat menampilkan karya dalam program Showcase yang khusus diperuntukkan bagi koreografer muda,” ujar maestro tari Jawa ini.

Sedangkan LAB merupakan program yang dibuat untuk menyajikan karya yang masih dalam proses penggarapan dengan tujuan untuk melihat bagaimana pengembangan konsep sebuah karya hingga perwujudannya melalui kerja studio.

Maria menjelaskan bahwa keseluruhan agenda IDF 2014 yaitu pertunjukan, seminar, diskusi, master class, YPC, LAB, dan pameran sejarah IDF berlangsung di beberapa tempat di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, Goethe Haus, dan Teater Salihara.

“Saya ingin ke depannya koreografer Indonesia juga memberi warna baik di Indonesia atau di dunia internasional karena sebenarnya potensi kita banyak sekali, tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak,” katanya.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2014