cover

Hari Keempat Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Hari keempat Workshop Riset Artistik diisi oleh pemateri Daniel Kok dan Nindityo Adipurnomo. Sesi pagi diisi oleh Daniel sedangkan Nindityo mengisi sesi setelah makan siang. Seperti biasa, workshop diakhiri dengan sesi sharing antar peserta yang dipandu oleh Nia Agustina.

Daniel pada hari keempat workshop ini membagikan beberapa teknik yang selama ini menjadi bagian dari kerja-kerjanya kepada para peserta dan mengajak mereka untuk mencicipinya. Selain itu, Daniel pun mengajak peserta untuk menyerapi dan memperdalam perihal intensitas gerak. Ia memperagakan dan mengajak peserta untuk melakukan gerakan tari sesuai dengan basik gerak mereka masing-masing namun dengan lima intensitas yang berbeda yakni dengan intensitas rendah, lemah lembut, sehari-hari, kuat dan ekstrim.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Setelah beberapa saat peserta mempraktekannya, Daniel mengajak mereka untuk berbagi apa yang dirasakan ketika melakukan hal tersebut. Banyak dari antara para peserta yang merasa bahwa mereka ‘dipaksa’ untuk ke luar dari kebiasaan gerak mereka selama ini. Ada yang selama ini terbiasa dengan gerak-gerak yang tegas dengan intensitas yang ekstrim, ternyata justru menemukan kenyamanan ketika bergerak di dalam intensitas yang lembut dan lemah lembut.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Setelah itu, Daniel mengajak peserta mengalami sesuatu yang berbeda lagi. Ketika tadi hanya tubuh mereka yang bergerak dengan intensitas tertentu, kini mereka harus bergerak dengan intensitas terhadap ‘alat bantu’ tertentu. Daniel menggunakan kertas dan krayon serta benang. Peserta dibagi di dalam dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan alat bantu kertas dan krayon sedangkan kelompok kedua menggunakan benang. Peserta pada kelompok pertama bergerak menggambar di atas kertas mengikuti irama musik sedangkan kelompok kedua bergerak dengan intensitas yang tertuju pada benang yang ada di tangan masing-masing.

Memasuki sesi siang, Nindityo Adipurnomo menegaskan bahwa sesi ini adalah sesi yang sengaja dirancang untuk mengajak peserta untuk berpikir. Nindityo berusaha untuk masuk kepada salah satu perihal penting dalam cara kerja seorang seniman dan riset artistik yakni perihal zona nyaman dan zona tidak nyaman. Sesi siang itu membuat dahi para peserta berkerut. Pasalnya, Nindityo memaksa mereka untuk menuliskan lima bahan yang sering mereka gunakan di dalam kerja-kerja seni mereka sebagai koreografer. Sesungguhnya hal ini merupakan pekerjaan rumah para peserta karena Nindityo sudah meminta itu sejak sesinya pada hari hari kedua.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Ketika menuliskan dan menjelaskan perihal lima bahan utama itu tampaklah bahwa belum semua peserta bisa membedakan antara ‘bahan’ dan ‘alat’ dalam bekerja. Sehingga waktu cukup banyak dipakai oleh Nindityo untuk mengelaborasi lebih lanjut bersama peserta perihal bahan itu. Setelah setidaknya sudah cukup aman di ranah pembedaan antara ‘bahan’ dan ‘alat’, peserta diajaknya lagi untuk mencari asosiasi dari ‘bahan’ yang menurut mereka paling kuat. Di tingkat ini, belum banyak juga peserta yang bisa menemukan asosiasi dari bahan itu yang cukup tepat. Elaborasi lebih lanjut dari Nindityo akhirnya bisa membuka mata para peserta perihal itu. Menutupi sesi tersebut, Nindityo Adipurnomo mengatakan bahwa pada sesi tersebut ternyata cukup sulit juga merumuskan perihal zona nyaman dari masing-masing peserta. Padahal, harapannya adalah sesi ini bisa menyelesaikan perihal zona nyaman dan akan sedikit masuk pada gangguan perihal keberanian untuk menyeberang dari zona nyaman tersebut.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi sharing di hari ini diisi lebih banyak oleh apa yang sebaiknya diisi dengan sesi keesokan harinya, workshop hari kelima. Para mentor meminta peserta untuk coba merumuskan apa yang mereka paling butuhkan untuk diperdalam. Sisa hari dari workshop akan digunakan untuk itu.***

_MG_8665

Hari Ketiga Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Setelah dua hari hanya berada di Ubud Hotel dan Cottages, pada hari ketiga, para peserta, panitia dan pemateri Workshop Kepenarian IDF Akademi ini mengadakan City Tour. Dua tempat yang dipilih untuk dikunjungi adalah Candi Badut dan Kampung Celaket yang tengah mengadakan Festival Kampung Celaket. Para peserta di Candi Badut diajak untuk mengenal sejarah tempat serta sedikit keunikan sejarah Kota Malang oleh Dwi Cahyono, sejarahwan dari Universitas Negeri Malang. Di Festival Kampung Celaket para peserta berkesempatan untuk mengenal dan merasakan secara langsung bentuk kesenian Jawa Timur.

Para Peserta dan Mentor Bersiap-siap di Kendaraan Menuju Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Para Peserta dan Mentor Bersiap-siap di Kendaraan Menuju Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Suasana di Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Suasana di Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Setelah dari Kampung Celaket para peserta kembali ke Ubud Hotel. Sesi siang hari diisi oleh Arco Renz. Berbeda dengan sesi Arco sebelumnya—di hari pertama—yang diisi lebih banyak oleh diskusi dan presentasi, kali ini lebih banyak diisi gerakan. Arco mengajak peserta workshop untuk mencicipi praktik dari konsep kepenarian yang sudah dijelaskannya. Para peserta membuat lingkaran dan diajak Arco untuk mempelajari teknik nafas untuk memahami dan merasakan gerak yang berasal dari dalam. Setelah itu, para penari diminta untuk bergerak, melakukan gerak tari dari khazanah masing-masing, dengan hitungan dan berdasarkan teknik nafas yang baru diberikan.

Sesi Bersama Arco Renz | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Arco Renz | Dokumentasi IDF

Setelah coffeebreak, Joned Suryatmoko mengambil alih workshop. Pada sesi ini Joned mengajak peserta untuk mencoba memilih sebuah benda yang menurut mereka paling mampu mewakili sebuah cerita yang hendak mereka sampaikan kepada penonton. Benda-benda yang dipilih itu di-display secara sederhana. Selanjutnya, para hadirin selain peserta, akan berkeliling bak pengunjung pameran atau pembeli di sebuah pasar. Peserta harus menjelaskan makna dari barang-barang yang mereka tampilkan. Bukan itu saja, peserta pun harus mengkreasi gerak yang mewakili cerita tersebut.

Untuk kebutuhan itu, peserta dibagi ke dalam empat kelompok. Setelah 30 menit peserta diberi kesempatan untuk mempersiapkannya, hadirin yang lain pun dipersilahklan untuk berkeliling dan berinteraksi dengan para peserta. Joned menekankan bahwa kegiatan ini sebenarnya menekankan apa yang dibicarakan sebelumnya, perihal bagaimana interaksi antara karya dan penonton. Bagaimana interaksi antara penonton dan pencipta karya tercipta.

Sesi Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Menutup workshop hari ketiga ini, Nindityo Adipurnomo mengingatkan peserta pada tugas yang diberikannya sebelumnya perihal mempersiapkan lima material yang menjadi bahan utama penciptaan karya mereka. Hal ini lantaran Nindityo akan mengisi sesi pada hari keempat workshop ini.***

_MG_8544

Hari Kedua Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Sabtu, 23 Juli 2016 adalah hari kedua Workshop Riset Artistik IDF Akademi yang bertempat di Ubud Hotel and Cottages, Malang, Jawa Timur. Hari kedua ini menjadi milik dua pemateri yakni Daniel Kok dan Nindityo Adipurnomo. Nindityo Adipurnomo sendiri baru bergabung bersama peserta dan pemateri lainnya pada pagi hari itu. Hari kedua workshop ini dibuka dengan pemanasan yang dipimpin oleh salah satu peserta workshop, Hari Ghulur.

Sesi pagi, hari kedua Workshop Riset Artistik ini diisi oleh Daniel Kok, seorang koreografer asal Singapura yang lama menetap di Brussel. Daniel memulai workshopnya dengan gaya interaktif. Ia menunjukkan beberapa slide dan meminta peserta untuk memilih salah satu slide. Pada setiap slide, Daniel menuliskan dua kata yang saling beroposisi. Setelah peserta memilih, ia meminta para peserta untuk memikirkan makna-makna kata yang beroposisi itu dan menjelaskannya. Presentasi Daniel kemudian berangkat dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh para peserta.

Daniel Kok Ketika Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Daniel Kok Ketika Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Dari sana, Daniel beranjak menjelaskan konsep di balik karya-karyanya. Ia terinspirasi dari konsep “the dead of the author” dari pemikir Prancis, Roland Barthes. Konsep ini kira-kira mengatakan bahwa ketika seorang penulis menulis, yang ‘menyelesaikan’ tulisannya itu bukanlah ia tetapi pembaca. Pembacalah yang mengkonstruksikan makna dari tulisan itu. Berangkat dari situ, di dalam konteks tari, Daniel melihat penonton sebagai hal yang penting. Eksplorasi atas penonton dan kepenontonan ini merupakan bentuk keresahannya melihat kecenderungan di dunia seni yang mengeluhkan perihal ketidakpahaman penonton atas karya yang dipentaskan.

Perhatian pada penonton dan kepenontonan ini mewarnai karya-karya Daniel selanjutnya. Pada karya seperti The Stripper’s Practice, The Gay Romeo dan serial karya cheerleadernya tampak bahwa Daniel mengeksplorasi dan berdialog dengan penonton dan kepenontonan. Misalnya pada The Stripper’s Practice, ia mengeksplorasi bagaimana orang menonton pertunjukan tari eksotis dengan asumsi seksual. Asumsi seksual ini terjadi di club-club ketika pertunjukkan-pertunjukkan tersebut diadakan tetapi seks yang sesungguhnya tidak terjadi di sana.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo mengisi sesi siang setelah rehat makan siang. Mengawali sesi ini, perupa yang bersama Mella Jaarsma mendirikan Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta itu menunjukkan kepada para peserta dokumentasi karya-karyanya. Para peserta lantas dimintanya untuk mengutarakan kesan visual apa yang muncul pada mereka. Salah satu peserta, Hari Ghulur, menangkap kesan bahwa karya-karya yang ditunjukkan tadi didominasi oleh bentuk konde atau sanggul. Ia pun bertanya, ada hubungan apa antara bentuk itu dengan kehidupan Nindityo.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Dari kesan itu, Nindityo menjelaskan soal zona nyaman dan pentingnya untuk ke luar dari zona nyaman tersebut di dalam kerja seorang seniman. Menurutnya, kebanyakan seniman tidak berani untuk ke luar dari zona nyaman mereka. Banyak alasan tentu yang melatarinya. Salah satunya adalah seniman tidak mau meresikokan diri dan reputasinya dengan merambah pada cara kerja atau pilihan artistik yang tidak biasa ditempuhnya.

Perupa yang cukup berpengaruh dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia ini lantas menunjukkan lagi dokumentasi karya yang menunjukkan keberanian untuk ke luar dari zona nyaman tersebut. Salah satunya adalah karyanya bersama Mella Jaarsma yang diikutsertakan pada Sonsbeek International Sculpture Exhibition, 2008 di Kota Arnhem, Belanda. Kesan yang timbul dari peserta pun beragam. Salah satunya dari Galih Puspita Karti yang menanyakan bagaimana perubahaan atas karya yang mengambil inspirasi dari sebuah tempat tertentu dipindahkan ke tempat lain yang memiliki keadaan sosial dan budaya yang berbeda.

Nindityo Adipurnomo Ketika Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo Ketika Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Bagi Nindityo, sebuah karya pasti akan dipahami secara berbeda pada tempat yang berbeda-beda. Oleh karena itu perlu ada pendekatan tertentu agar karya tersebut bisa dimaknai oleh masyarakat di tempat yang berbeda. Pada contoh di atas, yang terjadi adalah upaya Nindityo berkolaborasi dengan komunitas imigran di Belanda dan mengajak mereka memaknai karyanya dengan sejarah kehidupan mereka di Belanda.

Sebagaimana Workshop Riset Artistik hari pertama, hari kedua ini pun workshop ditutup dengan berbagi pemahaman antara para peserta atas apa yang didapatkan mereka dari materi workshop hari itu.***

websiet 2

Hari Pertama Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Workshop Riset Artistik IDF Akademi sudah dimulai sejak Jumat, 22 Juli 2016. Pada hari pertama itu, sudah hadir di Ubud Hotel and Cottages, Malang, Jawa Timur kedua belas peserta bersama tiga pemateri yakni Joned Suryatmoko, Daniel Kok, dan Arco Renz. Sedangkan Nindityo Adipurnomo baru akan bergabung pada 23 Juli. Tampak bahwa para peserta dan pemateri yang sudah hadir berinteraksi satu sama lain melalui diskusi-diskusi ringan. Beberapa di antaranya sudah saling mengenal satu sama lain, beberapa tidak. Para peserta dan pemateri yang sudah hadir ditemani pula oleh Yono Ndyoid, aktivis kesenian Kota Malang, yang ‘memperkenalkan’ dan menceritakan perihal geliat kesenian Malang.

Joned Suryatmoko Sedang Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Joned Suryatmoko Sedang Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Sesi pagi, hari pertama Workshop Riset Artistik menjadi milik Joned Suryatmoko. Joned membuka sesi ini dengan permainan membentuk lingkaran. Peserta diminta untuk membuat sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban berupa angka. Angka-angka itu akan menjadi dasar urutan setiap orangnya dalam membentuk lingkaran. Permainan ini, selain sebagai alat relaksasi sebelum memasuki diskusi yang lebih serius, juga sebagai cara untuk saling mengenal di antara peserta. Maka pertanyaan-pertanyaan seperti, “jam berapakah Anda bangun tidur hari ini”, “berapa kali di dalam seminggu Anda menghubungi orang tua,” hingga “berapa persenkah posisi tari di dalam hidup Anda”-pun dilontarkan.

Selanjutnya, Joned berbagi pengalaman pencarian artistiknya kepada peserta. Di sesi ini, sutradara yang banyak pula terlibat di dalam riset-riset kesenian dan budaya itu berkali-kali menekankan bahwa apa yang dibagikannya ini adalah salah satu contoh dari pencarian artistik. Setiap orang, setiap seniman, tentu punya metode dan cara-cara pencarian yang berbeda-beda. Pendiri dan Sutradara Teater Gardanalla itu pun bercerita seputar pencariannya di dunia teater; sejak keterlibatannya di teater masa SMA hingga pendirian dan karya terakhirnya bersama Teater Gardanalla. Mulai dari keterpesonaannya pada akting-akting para aktor teater senior sampai penemuannya akan metode sendiri bisa dikatakan sangat menarik perhatian para peserta.

Suasana Pada Sesi Yang Dibawakan Oleh Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Suasana Pada Sesi Yang Dibawakan Oleh Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Bukan hanya kisah seputar estetika semata yang mengisi sesi pertama hari pertama itu. Joned pun memperingatkan perihal pentingnya seorang seniman mengetahui seluk beluk produksi serta bagaimana berstrategi sebagai seniman di tengah dunia kesenian di Indonesia yang belum bisa dibilang ideal. Bagaimana kompromi-kompromi perlu dilakukan dan bagaimana membangun tim kerja yang solid adalah juga hal-hal yang dibagikan di sesi tersebut. Di akhir sesinya, Joned melontarkan pertanyaan kepada peserta; mengapa memilih tari sebagai bidang berkecimpungnya mereka. Pertanyaan ini, lanjut Joned, bukan untuk dijawab saat ini, tetapi ada baiknya menjadi refleksi dalam perjalanan berkesenian selanjutnya.

Setelah rehat, masuklah pada sesi kedua yang dibawakan oleh Arco Renz. Arco ditemani oleh Helly Minarti dari IDF yang bertindak sebagai penerjemah. Koreografer asal Jerman yang menetap di Belgia ini kebetulan sekali berhadapan dengan pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan Joned pada sesi sebelumnya ketika ia mengikuti workshop yang dibawakan oleh Pina Bausch. Menurut Arco, ia menari karena ingin menyampaikan sesuatu yang tak bisa disampaikannya secara verbal. Jawaban sederhana ini rupanya membawanya pada pencarian lebih lanjut. Koreografer yang kerap berkolaborasi dengan penari dan koreografer dari Asia Tenggara ini, dalam kerangka menjawabi pertanyaan tersebut, sampai pada pandangan bahwa tari merupakan sebuah bahasa yang bisa mencapai hal-hal yang tak bisa dicapai oleh bahasa verbal biasa.

Arco Renz Ketika Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Arco Renz Ketika Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Arco pun mengungkapkan tiga layer penting pada tari menurutnya yakni tari sebagai praktik, tari sebagai bahasa, dan tari sebagai kontemplasi. Menari bukanlah sebuah idea. Menari adalah sebuah aksi. Dengan demikian, yang terpenting di dalam tari adalah aksi menari itu dan bukan konsepnya. Tari sebagai bahasa membawa Arco pada pencarian perihal kekosongan dan oposisinya, kepenuhan. Arco berpegang pada konsep oposisi ini; suatu hal tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya lawan darinya. Misalnya, “yang indah” selalu beroposisi—dan mendapatkan kepenuhan maknanya—dari keberadaan “yang jelek”. Atau “yang bergerak” pun bisa dipahami karena adanya pemahaman akan “yang diam”. Dengan konsep oposisi inilah banyak karya-karya Arco berangkat. Ia pun memberikan beberapa contoh karyanya yang berangkat dari konsep tersebut.

Sesi dari Arco Renz ini tampak merangsang dahi para peserta tak henti berkerut. Hal ini, menurut beberapa peserta, diakibatkan oleh keterbatasan bahasa yang membuat komunikasi kurang baik. Proses penerjemahan mengakibatkan selalu ada jeda dari satu pernyataan dan penjelasan Arco ke pernyataan dan penjelasan Arco yang berikutnya.

Sesi Berbagi Pengalaman | Dokumentasi IDF

Sesi Berbagi Pengalaman | Dokumentasi IDF

Hari pertama Workshop Riset Artistik IDF Akademi ditutup dengan berbagi pengalaman perihal persentuhan dengan dunia tari dari para peserta. Sesi yang difasilitasi oleh Nia Agustina dan Taufik Darwis—dua dari tiga asisten kurator IDF 2016. Sesi ini menjadi sesi yang manis untuk menutup hari pertama workshop ini. Pasalnya, para peserta begitu antusias untuk mengetahui kisah bagaimana kawannya ‘terjerumus’ di dalam dunia tari.***

Edited DSC02024

Daftar Nama Peserta Lolos Seleksi IDF Akademi; Workshop Riset Artistik

Menyambut perhelatannya di tahun ini, IDF Akademi menyelenggarakan rangkaian workshop. Workshop yang pertama, Workshop Kepenarian, sudah sukses diadakan pada 1-7 Mei 2016 yang lalu. Pada 21-27 Juli nanti, IDF Akademi akan kembali mengadakan salah satu dari rangkaian workshopnya yakni Workshop Riset Artistik di Malang, Jawa Timur. IDF Akademi telah melakukan seleksi untuk memilih para peserta workshop tersebut.

Berikut nama-nama mereka yang lolos seleksi tersebut:

  1. Fitri Anggraini (P) Jakarta
  2. Ari Ersandi (L) Yogyakarta
  3. Nihayah (P) Surabaya
  4. Fadilia Oziana (P) Batusangkar
  5. Otniel Tasman (L) Solo
  6. Hari Ghulur (L) Surabaya
  7. Ayu Permatasari (P) Yogyakarta
  8. Galih Mahara (L) Bandung
  9. Galih Puspita Karti (P) Yogyakarta
  10. David Putra Yuda (L) Padangpanjang
  11. Rio Pernando (L) Solo
  12. Mega Fajar Liem (L) Bandung
Workshop Riset Artistik Akademi IDF versi WEB edited

Workshop Riset Artistik Akademi IDF

Dalam rangka Indonesian Dance Festival 2016, Akademi IDF, salah satu divisi Indonesian Dance Festival, memutuskan untuk mengadakan tiga workshop. Workshop pertama yang berkonsentrasi pada kepenarian sudah terlaksana dengan baik pada 1-7 Mei 2016 di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat. Kini, Akademi IDF tengah mempersiapkan workshop kedua yang berkonsentrasi pada pengayaan perspektif kritis untuk koreografer muda. Rencananya, workshop Riset Artistik Akademi IDF ini akan diadakan pada 21-27 Juli 2016 di Ubud Hotel and Cottages, Malang, Jawa Timur.

Workshop Riset Artistik ini sengaja dibuat untuk memberikan bekal perspektif kritis pada para koreografer muda Indonesia. Perspektif kritis ini diandaikan berguna untuk penemuan tema karya yang akan digarap, serta proses riset yang investigatif untuk pendasaran temuan-temuan yang muncul di dalam karya. Diharapkan dengan workshop ini, para koreografer muda Indonesia bisa memiliki kekayaan perspektif dalam melakukan riset-riset mereka.

Menurut pengamatan Akademi IDF, 2-5 tahun belakangan ini, tampak lemahnya penggalian tema serta riset artistik di dalam karya-karya koreografer muda Indonesia. Permasalahannya bukan pada kurangnya bahan, melainkan terletak pada kurangnya kemauan dan kurang kayanya pemahaman koreografer muda Indonesia akan cara memperdalam tema yang hendak digarap. Padahal, jika ditengok ke sekeliling, di dalam konteks sosial politik Indonesia, begitu banyak bahan dan tema yang membutuhkan respons artistik dari para seniman.

Suasana Diskusi "Membicarakan Tari" Pada IDF 2014  | Dokumentasi IDF

Suasana Diskusi “Membicarakan Tari” Pada IDF 2014 | Dokumentasi IDF

Tantangan tari kontemporer adalah ide yang kuat serta pemahaman yang maksimal atas ide itu. Tentu saja juga bagaimana strategi artistik yang tepat agar tema tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Bersamaan dengan itu, tercapai dengan maksimal pula tujuan dari senimannya. Dengan demikian, Akademi IDF menganggap penting untuk mengintervensi kemampuan kritis para koreografer muda Indonesia.

Untuk tujuan tersebut, Workshop Akademi IDF ini akan menghadirkan empat seniman senior dari pelbagai disiplin seni yang sudah terbiasa bekerja dengan riset artistik yang mendalam. Empat pemateri ini berasal dari Indonesia mau pun dari luar negeri. Mereka adalah Daniel Kok, seorang koreografer dari Singapura, Joned Suryatmoko, sutradara teater dari Yogyakarta, Arco Renz, koreografer asal Jerman yang menetap di Belgia, dan Nindityo Adipurnomo, seorang perupa dari Yogyakarta.

Keempat pemateri ini dikenal luas karena karya-karya mereka yang mengutamakan riset, baik tema mau pun artistik, di dalam prosesnya. Karya Daniel Kok baru-baru ini, Bunny, merupakan hasil risetnya terhadap permasalahan relationality dan audienceship. Pada 2016 ini, ia memulai penelitian baru perihal trans-individualitas. Sedangkan Joned Suryatmoko, selain sebagai seorang sutradara, kerap terlibat di dalam penelitian bersama di bidang kesenian. Karya terakhirnya, Margi Wuta, bisa dilihat sebagai pencarian kemungkinan artistik dengan mendekati tema teater empati. Di dalam karya itu, ia berkolaborasi dengan para seniman tuna netra.

Perupa Nindityo Adipurnomo, selain dikenal sebagai salah satu pendiri Yayasan Seni Cemeti, dikenal juga dengan karya-karyanya yang melalui riset mendalam, mencoba memadukan dunia tradisional Jawa dengan kosa kata-kosa kata artistik (rupa) kontemporer. Ia akhir-akhir ini semakin kerap berkolaborasi dengan penari. Arco Renz adalah koreografer asal Jerman, menetap di Belgia, yang punya perhatian yang mendalam atas Asia. Ia kerap berkolaborasi dengan penari dan koreografer dari Asia Tenggara. Baru-baru ini, ia terpilih sebagai kurator untuk seni pertunjukan dari sisi Eropa untuk festival Europhalia (Indonesia) di Eropa tahun 2017.

Sebagaimana Workshop Kepenarian, pada Workshop Riset Artistik ini pun Akademi IDF sengaja memilih tempat yang cukup terpencil. Diharapkan dengan begitu para peserta workshop dan pemateri bisa lebih berkonsentrasi dan punya banyak ruang dan waktu untuk saling berbagi. Workshop ini pun dirancang untuk peserta maksimal 12 orang. Profil peserta workshop diharapkan datang dari kalangan koreografer muda (25-30 tahun) yang minimal sudah menciptakan tiga karya. Dengan demikian, evaluasi dan peningkatan di bidang pandangan kritis mengandaikan sudah adanya pengalaman pencarian akan hal itu.

Dengan workshop ini, yang tentu saja membutuhkan hal-hal serupa di kesempatan lain, Akademi IDF mengharapkan ke depannya muncul karya-karya tari kontemporer Indonesia yang kuat pada tema serta eksekusi artistiknya. Dengan kata lain, munculnya koreografer tari kontemporer Indonesia yang mumpuni, baik pada tema yang digarap mau pun intervensi-intervensi artistik yang dimunculkan dalam merespon tema tersebut.***

bersama si mbah 3

Hari ke-6 (Hari Terakhir) Lokakarya Kepenarian Akademi IDF

Jumat, 6 Mei 2016 merupakan hari terakhir Workshop Kepenarian Akademi IDF.  Suprapto Suryodarmo memimpin sesi pemanasan peserta. Berbeda dengan pemanasan sebelumnya yang membuat tubuh para peserta berkeringat, Suprapto justru mengisi pemanasan dengan pertanyaan yang mengerutkan dahi, “apa perbedaan antara komposisi dan koreografi?”

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Belum sempat peserta menjawab, Mbah Prapto (begitu Suprapto Suryodarmo kerap disapa) sudah memberi pertanyaan baru, “Yang Ilahi itu untuk apa di dalam konteks tari? Apakah kita harus banyak mencari yang baru sementara yang kita punyai malah ditinggalkan?”

Pertanyaan ini sesungguhnya membawa peserta kembali pada sesi pemanasan bersama Ramli Ibrahim di hari-hari sebelumnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, Mbah Prapto berharap para peserta bisa meraih lagi ‘rasa ruang’ di dalam sejarah perjalanan kepenarian masing-masing.

Mbah Prapto lantas memperkenalkan konsepnya yang lain yaitu “in-out-in” . Peserta diminta memilih 5 objek yang mereka temukan di sekitar Kaldera. Kelima objek itu harus mereka posisikan sebagai kontestasi ruang dengan cara mengambil, membawa dan meletakan.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Benny Krisnawardi pada sesinya mencoba mengevaluasi keseluruhan workshop. Ia ingin tahu, sejauh mana momen workshop ini dimaknai para peserta. Workshop ini, simpul Benny pada akhirnya, merupakan stimulus bagi para peserta untuk mengolah, mengasah diri hingga terus tumbuh ke tingkat tertentu di dalam kepenarian masing-masing. Sebagai sesi terakhirnya, Benny memberi oleh-oleh kecil namun berat kepada peserta yaitu menggali energi pernafasan sekaligus menyalurkannya untuk kebutuhan tari.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Pada sesi berikutnya, Su Wen-Chi mengajak peserta untuk bercermin pada kualitas gerak masing-masing. Sesi ini dikembangkannya dari pengalaman menari bersama peserta dan pemateri lain yang terjadi pada hari sebelumnya. Menurutnya, ketika itu, setiap tubuh yang bergerak mempunyai momen “terhubung” dan “tidak terhubung” (connect-disconnect). Peserta dibagi ke dalam dua kelompok secara acak untuk memasuki ruang “connect-disconnect”. Ruang “connect-disconnect” ini dibagi menjadi tiga bagian: connet, disconnect, dan connect-disconnect. Proses ini didokumentasikan dalam bentuk video yang akan menjadi materi sesi malam hari.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sehabis makan malam, peserta diajak Wen-Chi untuk melihat diri masing-masing, baik secara individu atau pun di dalam kelompok, melalui dokumentasi video sesi sore hari. Diharapkan, dengan cara itu peserta bisa berlatih menangkap bentuk-bentuk, pola ruang, dan terutama improvisasi. Menurut Wen-Chi, melihat video latihan semacam ini sangat penting untuk penari mau pun koreografer. Karena menurutnya, penari tidak bisa mengikuti 100 persen gerak yang sudah dicari. Improvisasi berarti mencari sesuatu, sebuah tugas yang harus dilalui, dicoba dan dijalankan.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Selain menjelaskan pentingnya dokumentasi video, Wen–Chi juga membahas apa yang terjadi ketika peserta melakukan improvisasi. Menurutnya, di bagian “connect”, setiap peserta punya kecenderungan bergerak secara mengalir dan abstrak. Berbeda dengan bagian “disconnect” di mana gerakan peserta cenderung berkarakter, mudah terpotong menjadi fragmen, dan sangat intuitif. Ia mengumpamakannya dengan mesin yang bekerja berulang-ulang dan mudah berubah. Ruang dan waktu pun semakin terfragmentasi dan terkotak-kotak. Meskipun menari secara berkelompok, peserta bergerak sangat individual. Setiap orang ingin membangun dan melahirkan karakter; seperti gerak berlari, berjalan yang ada di kehidupan sehari-hari. Sementara itu di bagian terakhir yakni “connect-disconect”, tampak adanya rasa frustrasi pada setiap peserta. Namun, di sisi lain setiap penari menemukan hal-hal yang mengejutkan bersama kelompoknya.

Su Wen-Chi dalam sesi terakhirnya ini membawa setiap peserta untuk  menyadari  efek dari perkembangan pengalaman kepenariannya. Entah dengan metode yang mirip dengan yang kerap dilakukannya atau dengan metode-metode yang dialami di dalam setiap proses penciptaan karya.*** (Taufik Darwis | IDF)

sesi benny 3

Hari Ke-4 dan Ke-5 Workshop Kepenarian Akademi IDF

Rupanya, sesi pemanasan semakin menjadi milik Ramli Ibrahim di dalam Workshop Kepenarian Akademi IDF ini. Koreografer asal Malaysia ini kembali membagikan lagi teknik-teknik dasar Balet dan Odissi pada Rabu pagi (4/5/2016), hari keempat Workshop Kepenarian Akademi IDF. Ramli memang mempelajari pelbagai bahasa tari (dance form) yang berbeda-beda karena latar belakang diaspora di tanah airnya, Malaysia. Dari setiap bahasa tari yang ia pelajari, ia mengambil inti bentuk serta bahasa tari tersebut dan dijadikan bahasa dan bentuk tari miliknya.

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Selanjutnya, pada sesi pagi hari ke-4 itu, Benny Krisnawadi  memberikan salah satu metode yang dipelajarinya di Gumarang Sakti yakni metode penguasaan diri untuk melatih insting, reflek dan konektivitas ketika penari sudah tidak lagi berpatokan pada aba-aba untuk bergerak. Benny dan semua peserta workshop berjalan di sepanjang jalan Hutan Kaldera tanpa saling berinteraksi. Sambil berjalan dan meresapi setiap alur jalan dan hal-hal yang dilaluinya, setiap peserta berkontemplasi. Dengan itu diharapkan setiap peserta bisa berinteraksi dengan dirinya sendiri untuk memperkaya dan menguatkan aspek-aspek dasar kepenarian.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

“Tubuh menari itu untuk apa sih?”, demikian Suprapto Sudarmoyo mencoba membawa peserta pada ‘ruang tradisi’ yang terbatas tapi bebas, alamiah tetapi terstruktur. Menurut Suprapto, setiap organisme terorganisir dan setiap organisasi punya organisme. Semua hal di dalam alam punya cara pendekatan ruang dan waktu yang spesifik. Begitu pun halnya di dalam kepenarian.

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Suprapto memilih sungai sebagai tempat untuk membawa para peserta ke dalam pemikiran dan gagasan tersebut. Setiap peserta memilih batu atau spot masing-masing. Selanjutnya, peserta diminta untuk meresapi dan merasakan apa yang terjadi di dalam dan di luar tubuhnya. Melatih kepekaan pada situasi sadar dan tidak sadar, tumbuh dan tidak tumbuh.  Setelah selesai sesi di sungai tersebut, Suprapto dan para peserta saling berbagi perihal apa yang dialami mereka ketika berada di sungai.

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Kamis, 5 Mei 2016—hari ke-5 Workshop Kepenarian Akademi IDF—merupakan hari terakhir untuk sesi Ramli Ibrahim. Selain pemanasan yang kerap diisi oleh Ramli, ia pun membawa peserta lebih dalam mempelajari Odissi, Bharatanatyam, dan Balet. Kini mereka bukan sekadar mempelajari dasar filosofi dari masing-masingnya, tapi juga bagaimana cara  memposisikan diri di antara ranah tari Barat dan Timur. Menurut Ramli, di tengah perbedaan kebudayaan dan keragaman masing-masingnya, setiap penari harus menemukan sesuatu ‘yang ilahiah’. Sesuatu ‘yang ilahiah’ ini hanya bisa ditemukan melalui kejujuran. Kalau pun ada definisi-definisi yang dikenal dan dipakai, penari jangan sampai membiarkan dirinya dibunuh oleh kata-kata. Ia harus menemukannya dengan caranya sendiri.

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Ranah tari Asia, terutama yang lekat dengan adat atau ritual, selalu berhubungan dengan pemujaan akan sesuatu yang ilahi. Banyak guru tari menganggap bahwa penari harus terfokus kepada penonton. Tetapi bagi tari Asia, fokusnya ada pada ‘yang ilahiah’. Yang ilahiah ini menurut Ramli ada di dalam diri penarinya sendiri. Ambillah contoh tari-tari India di mana tubuh para penarinya ‘dihias’ seindah mungkin, seumpama sebuah pura. Inti tari Asia adalah bagaimana seorang penari mengembangkan sesuatu yang spiritual ketika menarikan tari apa pun.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Su Wen-Ci yang mengamati juga sesi worshop dari Suprapto di sungai sehari sebelumnya, pada sesinya pada hari ke-5, ingin berbagi tentang unsur yang dekat dengan air sungai yakni gelombang. Setiap peserta diminta untuk merasakan dan mengetahui gelombang yang diciptakan peserta yang lain. Menurut Wen-Ci, tubuh manusia memiliki gelombang dan cairan yang ada di setiap sendi tulangnya. Peserta menggerakan setiap sendi dalam tubuhnya, mulai dari atas sampai bawah secara parsial, dari gerakan-gerakan kecil ke gerakan-gerakan lebar dan sebaliknya. Peserta pun mencoba merasakan gelombang yang ada di dalam dirinya.

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Peserta dan Pemateri Menari Bersama | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi sore terasa begitu istimewa. Sebab, di sesi pamungkas hari ke-5 Workshop Kepenarian Akademi IDF itu semua pemateri dan peserta menari bersama.*** (Taufik Darwis | IDF)

bersama wen chi 1

Hari Ke-3 Workshop Kepenarian Akademi IDF

Selasa, 3 Mei 2016 adalah hari ketiga Workshop Kepenarian yang diselenggarakan oleh Akademi IDF di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat. Sesi pemanasan di pagi hari ‘diambil alih’ oleh Ramli Ibrahim. Selama dua setengah jam, peserta diajak mengenali teknik-teknik dasar Baratanatyam, Odissi dan Balet. Sekaligus juga, Ramli Ibrahim memaparkan perihal filosofi di balik masing-masing teknik tersebut.

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Pemanasan Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Setelah sesi pemanasan yang membuat tubuh berkeringat, panas dan lentur, peserta diajak Benny Krisnawardi untuk meneruskan materi malam sebelumnya yaitu pendekatan  filsafati dan kaidah dalam silek/silat. Silek/silat merupakan kebutuhan tari yang paling utama di dalam gaya tari yang dikembangkan di Gumarang Sakti. Kita tahu, gaya tari Gumarang Sakti menjadi dasar dari banyak koreografi tari kontemporer di Indonesia.

Benny pertama-tama mengajak peserta untuk memfokuskan titik pandang mereka. Fokus titik pandang ini bisa ditampilkan oleh penari dengan cara semua energi yang ada di seluruh tubuh dikumpulkan di mata. Selanjutnya, penari bergerak dengan gonyek, dorongan yang menghentak, untuk menumbuhkan kecepatan, menghidupkan tubuh, dan juga menimbulkan rasa untuk menghindar. Tujuan gonyek adalah untuk merangsang energi di dalam tubuh dan mengembalikan setiap fokus kesadaran yang terlupakan karena rutinitas keseharian.

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Ketika tiba pada sesi yang dibawakan oleh Su Wen-Chi—pendiri YiLab, Taiwan—hal yang berbeda pun ditawarkan kepada peserta. Jika Suprapto Suryodarmo lebih menekankan ‘dunia dalam’, Wen-Chi mengajak peserta mendekati benda-benda keseharian. Ia mendorong peserta workshop untuk menjalin dialog antara tubuh dan teknologi. Setiap peserta diminta oleh koreografer sekaligus juga seniman media baru itu untuk mengutarakan apa yang ada di kepalanya tentang teknologi; baik-buruk dan untung-ruginya. Setelah peserta mengutarakannya, Su Wen-Chi meminta setiap peserta untuk menyimpan opini-opininya itu. Ia lantas mengajak peserta untuk meletakan dan menata Gadget mereka sebagai  time-line.

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Gadget-gadget itu diurutkan berdasarkan teknologi yang terkandung di dalamnya; dari yang paling kuno sampai ke yang paling canggih. Pertanyaan yang perlu dipecahkan adalah di mana posisi tubuh para peserta di antara rangkaian time line itu. Lantas, Wen Ci bersama peserta berusaha menjawab pertanyaan itu secara partisipatif dan menyenangkan; membuat camera obscura dari kertas, menutup telinga untuk mendengarkan nafas sendiri, dan membuat kolase video menggunakan gadget masing-masing. Kesimpulan dari sesi Wen-Ci adalah teknologi merupakan mitra manusia. Selain itu, perspektif atas realitas tidak-lah tunggal. Demikian juga cara orang memandang tari; tidak ada sebuah cara pandang yang tunggal tentang tari.*** (Taufiq Darwis | IDF)

pemanasan pagi

Hari Ke-2 Workshop Kepenarian Akademi IDF

Senin, 2 Mei 2016 adalah hari kedua Workshop Kepenarian yang diselenggarakan oleh Akademi IDF di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat. Setelah pemanasan dan makan pagi, ke-16 peserta Workshop Kepenarian Akademi IDF diajak Suprato Suryodarmo mengenal konsep zooming dan measuring. Konsep ini bertujuan untuk merasakan kehadiran sebuah objek yang berubah menjadi subjek. Masing-masing peserta dipersilahkan untuk memilih sebatang pohon yang berada di sekeliling Kaldera. Lebih lanjut Suprapto menjelaskan bahwa konsep zooming dan measuring membantu kita untuk bisa membaca sebuah objek tanpa berjarak dan sekaligus juga berjarak. Membaca sebuah objek berarti kita melihat sebuah objek bukan sebagai sesuatu yang flat dan dipahami sebagai yang hidup saja, tapi merasakannya sebagai objek tiga dimensi. Mengajak objek berdialog berarti menempatkan objek sebagai sesuatu yang tidak berbeda dengan kita.

bersama mbah prapto

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

bersama mbah prapto 2

Sesi Bersama Suprato Suryodarmo | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi sore hari diisi Ramli Ibrahim. Pendiri Sutra Dance Theatre ini menuturkan pengalamannya sebagai penari dan koreografer yang mempelajari bahasa-bahasa tari yang berbeda dan menjadikan semua itu miliknya. Ramli meyakini bahwa setiap jenis tari itu hibrid. Otentisitas di dalam setiap jenis tari menurutnya bersifat relatif. Ramli juga memperkenalkan bagaimana konteks dan pengembangan tari Bharataatyam dan Odissi yang didalaminya. Perkenalannya atas dua hal itu dimaksudkan untuk membawa pemahaman peserta kembali pada pengertian bahwa tari tidak bisa dipisahkan dengan musik, drama dan seni rupa. Yang menurutnya paling penting dalam dunia tari adalah juga bagaimana mempercayai tari sebagai metafora. Untuk mencapai itu penari/performer harus mempunyai kedalaman ‘rasa’ yang  baik dan selanjutnya kemampuan mengolah kompleksitas ‘rasa’ itu.

bersama ramli 2

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

bersama ramli

Sesi Bersama Ramli Ibrahim | Foto: Dokumentasi IDF

Menyambung materi yang dibawakan Ramli, pada sesi malamnya Benny Krisnawardi memperkenalkan gerak atau sikap dasar silek untuk menjelaskan tari tidak sebatas gerak. Menurut kolaborator koreografer Gusmiati Suid (alm.) ini, ‘rasa’ atau—dalam bahasa Minangkabau—‘raso’ seperti yang didapatkannya selama ini dari Gusmiati Suid di Gumarang Sakti memiliki peran penting di dalam kepenarian. Tapi sedikit berbeda dengan pengertian ‘rasa’ yang dijelaskan dan dicontohkan Ramli, di Gumarang Sakti emosi tidak dibawakan secara harfiah. Tapi betul-betul diungkapkan dengan gerakan, divisualisasikan dalam bentuk simbol-simbol dan disampaikan lewat lagu atau musik.

bersama benny

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

bersama benny 2

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Tampaklah bahwa para peserta dan para pemateri begitu menikmati proses workshop pada hari pertama itu.*** (Taufiq Darwis | IDF)