Dari Lokakarya Tari/Koreografer Akademi IDF: Tetumbuhan, Raso, dan 20 Pertanyaan di dalam Tari/Koreografi

Menjelang pagi hari kedua lokakarya, tepatnya jam 5, lebih dalam lagi dengan Joged Amerta—yang menurut Matthew Isaac Cohen—memfasilitasi ekspresi diri tak sadar yang masih sadar akan yang lain yang ada secara bersama-sama (co-present), juga lingkungan terdekat dan dunia di mana seseorang hidup. Peserta oleh Suprapto diajak untuk berada di antara tetumbuhan yang ada di kebun Desa Wisata Jelek. Merasakan kehadiran dan perubahan waktu yang terjadi di dalam struktur tubuh peserta dan tetumbuhan, berawal dari nafas, mendengarkan, sampai bergerak dengannya. Percobaan ini dilakukan beberapa kali dan diselingi diskusi.

Suasana Sesi Pagi | Foto: Dokumentasi IDF

Suasana Sesi Pagi | Foto: Dokumentasi IDF

Pagi menjelang siang, setelah pemanasan dan sarapan, Da Ben membagikan pengertian perihal aspek emosi dari pengalaman yang disebutnya sebagai “Raso” (istilah/bahasa Minang yang dipakai Gumarang Sakti) di dalam kepenarian diungkapkan dengan gerakan. Gerakan adalah bahasa, sekumpulan kosa-kata yang dicari kualitas artikulatifnya di dalam dan untuk koreografi.  Da Ben juga memberikan faslafah dasar koreografi Gumarang Sakti yang berasal dari Silek (silat), dengan mengambil aliran Kumango dan Lintau. Pertama, fokus sudut titik pandang dan melahirkannya melalui energi yang tersimpan di setiap bagian tubuh dan mengumpulkannya di mata. Kedua, bergerak dengan gonyek, untuk menumbuhkan kecepatan, menghidupkan tubuh, dan juga rasa menghindar. Gonyek adalah dorongan yang menghentak untuk merangsang energi di dalam tubuh dan mengembalikan setiap fokus kesadaran yang terlupakan karena rutinitas aktifitas sehari-hari.

Suasana Sesi Pagi Menjelang Siang | Foto: Dokumentasi IDF

Suasana Sesi Pagi Menjelang Siang | Foto: Dokumentasi IDF

Siang ke sore, setelah makan siang, Su Wen-Chi memberikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh peserta.  Apa itu penari?  Apa itu koreografer? Pentingkah bagimu pentas di atas panggung?  Siapa penari favoritmu?  Siapa koreografer favoritmu?  Siapa seniman favoritmu?  Sebagai penari dan koreografer kamu pertanyaan tidak, apa itu? Apa itu tari? Kalau kamu merasa sedang gelisah, hilang kamu akan kemana? Bagaimana kualitas penari yang baik itu? Bagaimana koreohragfer yang berkualitas baik itu? Bagaimana pertunjukan yang baik itu? Pertunjukan apa sih yang membuatmu bertanya, apa ini pertinjukan atau bukan? Teknik tari apa yang paling kamu suka? Teknik tari apa yang paling kamu tidak suka? Kualitas teknik gerak apa yangg kamu suka dan terlihat bagus buatmu? Apakah kamu berfikir kamu sudah menemukan gerak khas milikmu?

Tidak sampai di tingkatan jawaban yang tertulis, Wen-Chi meminta peserta untuk mempresentasikan jawabannya. Pertanyaan yang perlu dipresentasikan kali ini, diantaranya: teknik tari apa yang paling kamu suka? teknik tari apa yang paling kamu tidak suka? kualitas teknik gerak apa yang kamu suka dan terlihat bagus buatmu? Peserta bergantian mempresentasikan jawaban satu persatu. Pada akhir setiap presentasi, diadakan tanya jawab. Hampir setiap orang, termasuk Wen-Chi, berkesimpulan bahwa lebih mengenal setiap peserta melalui apa yang mereka presentasikan. Sesi sore ditutup dengan curhat peserta yang difasilitasi tim Akademi IDF atas ekspektasi dan refleksi, apa yang didapat dua hari kurang di dalam workshop ini.

Sesi Siang Ke Sore | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Siang Ke Sore | Foto: Dokumentasi IDF

Pada malam harinya, peserta menyaksikan arsip video karya koreografi pertama Da Ben (1994), “Bakutiko”, dan karya Gusmiati Suid, “Api Dalam Sekam (1998)”, di mana Da Ben menjadi salah satu penarinya. Kemudian listrik mati ketika setengah jalan video “Api Dalam Sekam”.  Tapi sesi malam tetap dilanjutkan dengan mendiskusikan sejarah kepenarian Da Ben di Gumarang Sakti, serta sejarah pendekatan dan habitus proses di Gumarang Sakti sebagai salah satu titik sejarah tari modern di Indonesia. Diskusi ini demi membawa peserta ke dalam pembacaan konteks-konteks yang melatar-belakangi setiap karya tari.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

Dari Lokakarya Tari/ Koreografi Akademi IDF: Pembukaan dan Hari Pertama

Orang berdatangan ke Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul. Mereka adalah peserta, pemateri dan tim Akademi IDF. Mereka akan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan selama 7 hari (2-8 November 2017) ke depan dalam Lokakarya Tari/ Koreografi Akademi IDF. Setelah semua mendapati waktu dan tempat beristirahat, malamnya berkumpullah semuanya di Omag Glugu, pusat pertemuan selama workshop. Sebelum sesi perkenalan, Helly Minarti menjelaskan prinsip workshop kali ini yang berbeda dengan workshop kepenarian sebelumnya. Kali ini, workshop dirancang khusus untuk penari yang juga aktif mengkoreografi dan memberi tantangan petualangan tari di luar pendidikan tari. Selain mencicipi praktik setiap pemateri, peserta juga dilengkapi oleh pembacaan mendalam tentang teks-teks kunci yang dapat memancing diskusi tentang sejarah dan praktik tari serta koreografi dari berbagai konteks. Serangkaian teknik gerak atau teknik tari disusun secara alfabetis dan diberikan kepada peserta untuk dipilih setiap paginya sebagai pintu masuk pemanasan tubuh.

Tapi meskipun berbeda, pemateri workshop tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Workshop ini melibatkan kembali Benny Krisnawardi (Padang-Jakarta), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Su Wen-Chi (Taiwan). Tujuannya agar bisa melihat kontinuitas. Sedangkan Tim Akademi IDF (kuratorial) terdiri dari Helly Minarti (Jakarta), Linda Agnesia (Yogya), Nia Agustina (Yogya) dan saya sendiri (Taufik Darwis – Bandung. Tim Akademi IDF akan memfasilitasi dan berbagi topik yang akan didiskusikan baik yang berasal dari praktik selama workshop atau pun bahan bacaan dari hasil riset yang mereka kerjakan. Peserta worshop kali ini terdiri dari 9 orang penari – koreografer, yaitu Ayu (Lampung-Yogya), Tyoba (Solo-Bandung), Dhila (Batusangkar), Echa (Berau-Yogya), Raka (Cirebon-Bandung), Aero (Ponorogo-Yogya), Silvi (Yogya), Gusbang (Bali-Yogya), dan Enchi (Toraja-Jakarta).

 

Hari pertama: Tuning

Hari pertama, 3 November, sudah padat saja. Setelah pemanasan dan sarapan, peserta masuk dalam sesi pertama oleh Suprapto. Olehnya, peserta diajak mengenal dan memahami konsep “tuning” sebagai salah satu cara untuk menyesuaikan tubuh dengan jiwa dan dengan kondisi lingkungan. Prapto mengumpakan seperti kita mengucapkan salam: asallamulaikum, omswastiastu dan lain-lain.

Suprapto dan Helly Minarti | Foto: Dokumentasi IDF

Suprapto dan Helly Minarti | Foto: Dokumentasi IDF

Menurutnya, setiap ruang ada penghuninya, bukan setan atau jin tentu saja, melainkan sebagai ruang komunikasi dengan setiap entitas yang hadir di waktu dan ruang/tempat tertentu. Maka dari itu, setiap orang, dalam konteks sebagai penari-koreografer, membutuhkan latihan untuk “re-member”, menjadi anggota kembali dari pernafasan langit, bumi, dsb. Bukan juga latihan pernafasan, tapi menghayati pernafasan dengan tubuh, mengingat kembali bahwa kita bernafas. Tujuannya agar bisa lebih terang merasakan energi, cahaya, struktur, kontur di setiap ruang/tempat. Peserta diajak untuk berjalan, melihat ke luar dan ke dalam.

Menurut Prapto, hal ini dilakukan agar ketika mau memulai sesuatu proses, kita berangkat dari keberadaan kita, bukan dari pikiran kita. “Kamu merasa kamu di dalam kaos kamu enggak?” begitu tanyanya pada para peserta. Selain itu, latihan ini juga bertujuan untuk membalikan kecenderungan cepat-cepat melakukan kerja aksi-reaksi di dalam praktik tari. Menurutnya sebelum melakukan aksi reaksi, kita perlu menerima ruang/tempat dan waktu terlebih dahulu.

 

Wacana Modernisme di Tari

Sebelum istirahat makan siang dan Jum’at an, workshop dilanjutkan dengan presentasi riset saya terhadap Meta-Ekologinya Sardono W. Kusumo. Riset ini dilakukan melalui penggalian arsip media massa dan wawancara terhadap salah satu pelaku dan saksi di dalam proses Meta-Ekologi. Meta-ekologi dipentaskan di areal tanah seluas 40 x 35 meter di Teater Halaman, TIM, pada 12-15 Oktober 1979. Dipresentasikan di dalam kolam lumpur atau sawah (artifisial) setiap harinya pada pagi hari (10.00 WIB), sore (16.30 WIB) dan malam (20.00 WIB). Riset ini bertumpu pada perbedaan perspektif tanggapan Ikra Nagara dan Edy Sedyawati terhadap Meta-Ekologi. Keduanya sama-sama membadingkannya dengan pertunjukan Alwin Nicolais, seniman (Tari-Teater) dari AS. Karya Alwin Nicolais menekankan aspek visual dari tubuh sebagai objek dan tubuh objek di dalam karyanya.

Presentasi ini bertujuan memancing pemahaman dan diskusi tentang konteks historis—baik pada issue politik maupun artistic. Selain itu juga perihal biografi Sardono yang membentuk wacana modernisme tari di Indonesia. Konteks ini dibaca sebagai yang turut membentuk medan tari saat ini, bahwa medan ketubuhan pada tari mempunyai sejarahnya.

 

Bertanya dan Camera Obscura (Teknologi)

Sebelum diajak mencicipi praktik Su Wen-Chi, dia memperkenalkan kesejarahan praktik artistiknya. Wen-Chi mendapatkan training tari di Taiwan, lalu bekerja sebagai penari (Kobalt Works) bertahun-tahun di Belgia, dan kembali ke Taiwan. Membentuk kolektif Y-Lab yang menghubungkan praktik koreografi dengan new media art. Peserta lantas diajak untuk berbagi pengalaman menari dan mengkoreografi. Dua praktik ini menurut Wen-Chi berbeda. Pengalaman mengkoreografi selangkah lebih maju. Mengkoreografi menurutnya bekerja dengan pertanyaan. Di mana, pertanyaan-pertanyaan itu tidak terbatas pada hal-hal tentang tari.  Buat Wen-Chi, penari memang punya insting dan kecerdasan fisik. Tetapi, sambungnya, lebih baik lagi jika penari juga punya kemampuan mempertanyakan sesuatu; sebuah kecerdasan mental. Lebih bagus lagi jika bisa mengkombinasikan keduanya. Karena tubuh yang cerdas secara fisik pasti menggiring pertanyaan-pertanyaan yang dikirimkan ke dalam aspek mental/pikiran masing-masing.

Salah satu moment pada sesi Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Salah satu moment pada sesi Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Selesai sesi sharing, peserta diajak untuk membuat camera obscura dari kertas. Nantinya, kamera ini menjadi semacam alat yang logikanya dipakai untuk mengantarkan peserta memahami bagaimana logika teknologi bekerja di dalam dan untuk koreografi. Wen-Chi pun mengajak peserta untuk mensimulasikan logika tersebut. Setelah satu setengah jam berlalu, peserta diajak berdiskusi dan sharing pengalaman dengan camera obscura tadi. Wen-Chi kemudian menjelaskan alasan kenapa dia bekerja dengan teknologi. Baginya, teknologi adalah semua hal tentang bagaimana koneksi dan komunikasi. Di sekeliling kita tidak hanya ada manusia. Ada juga tanda-tanda dari teknologi dan teknologi tidak berada di luar hubungan koneksi dan komunikasi antar manusia. Teknologi juga mengubah cara bekerja ketubuhan kita. Logika media bekerja dalam lingkungan sehari-hari.

Malam harinya, peserta diajak menonton dan mendiskusikan praktik kepenarian dan koreografi Su Wen-Chi melalui dokumentasi video. Dokumentasi yang ditonton adalah dokumentasi ketika Wen-Chi menjadi penari di Belgia dalam karya Kobalt Works, “Heroin” dan dua karya koreografinya, yaitu “Remove Me” dan “Loop Me”.  Sesi ini berusaha menjawabi pentanyaan spesifik peserta pada praktik Su Wen-Chi seperti: apa sih new media art itu? Bagaimana identitas dikonstruksi lewat teknologi? Apakah teknologi di dunia ini adalah sesuatu yang baru? Bagaimana pendapat teman-teman tentang penggabungan seni atau dengan media lain? Wen-Chi bekerja mulai dari mana, apa dari ide, eksplorasi dulu?*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

Eko Supriyanto Tampil di SPRING Festival, Belanda

Koreografer Indonesia yang berdomisili di Solo, Eko Supriyanto, tampil pada 23 Mei dan 24 Mei di Spring Festival, Utrecht, Belanda. Eko menampilkan karya bertajuk Balabala. Karya ini sesungguhnya masih merupakan rangkaian dari karya Eko Supriyanto yang terinspirasi dari daerah Jailolo, Maluku Utara. Pada Balabala, lima penari perempuan muda daerah Jailolo akan menyuarakan perihal kerentanan perempuan di dalam komunitas masyarakat mereka.

Sebelum Balabala, Eko Supriyanto telah menciptakan Cry Jailolo yang ditampilkan pada Indonesian Dance Festival 2014. Jika pada Balabala yang tampil adalah penari perempuan, pada Cry Jailolo koreografer yang juga mengajar di ISI Surakarta ini menampilkan enam penari muda lelaki dari Jailolo. Selain Eko, tampil juga pada SPRING Festival duo Tian Rotteveel (Belanda) dan Darlane Litaay (Indonesia – Papua) yang tampil juga pada Indonesian Dance Festival 2016 yang lalu.

Poster SPRING Festival 2017

SPRING Festival sendiri memang sebuah festival yang masih berusia muda. Namun demikian, festival ini sebenarnya punya sejarah yang panjang. Ia merupakan hasil dari penyatuan dua festival penting di Belanda sebelumnya yakni Springdance dan Festival a/d Werf. Pada 18 – 27 Mei ini SPRING Festival yang kelima diadakan.

Festival ini berkonsentrasi pada tari dan teater, terkhusus pada seniman yang berani mengambil resiko dan bekerja secara lintas genre. Selain mengambil tempat di ruang-ruang pertunjukan teater konvensional, SPRING Festival pun hadir di ruang-ruang publik yang tak diduga-duga.

 

Silahkan klik SPRING Festival untuk informasi lebih lanjut!***

[Trailer] Specific Places Need Specific Dances – Darlane Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda-Jerman)

Indonesian Dance Festival 2016: Tubuh Sonik – Main Performance

Kamis, 3 November 2016 pukul 16.00 – 17.30
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Specific Places Need Specific Dances adalah sebuah karya yang berangkat dari praktik menunggu. Dapatkah menunggu menjadi sebuah karya seni? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat karya yang berdurasi 55 menit ini.”

 

Indonesian Dance Festival 2016: TUBUH SONIK

Siaran Pers

 

Sebuah festival tari internasional bertajuk Indonesian Dance Festival (IDF) akan digelar kembali pada 1-5 November 2016 di lima venue yakni Teater Jakarta, Graha Bhakti Budaya, dan Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Jakarta. Pada 2016 ini, IDF memasuki tahun ke-24 dan akan diisi dengan berbagai mata acara. Di antaranya, Pre-Opening pada 30 Oktober 2016 di Hutan Kota Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang akan menampilkan pertunjukan tari karya Jefriandi Usman dan teater-tari karya Abdullah Wong. Kemudian pada acara pembukaan festival akan ditampilkan karya Melati Suryodarmo di Teater Jakarta, TIM.

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Para penampil lainnya adalah Park Je Chun (Korea Selatan), Antony Hamilton (Australia), Aguibou Bougobali Sanou (Burkina Faso), Filastine (Spanyol-Indonesia), Punkasila & Fitri Setyaningsih  (Indonesia), Fitri Anggraini (Indonesia), Andara Firman Moeis (Indonesia), Ari Ersandi (Indonesia), Rianto (Indonesia), Nihayah (Indonesia), Darlene Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda),  dan Jecko Siompo & Animal Pop Family (Indonesia). Park Je Chun akan tampil bersama tiga penari asal Korea Selatan dan empat penari dari Indonesia yakni Hari Ghulur (Surabaya), Fadila Oziana (Batusangkar), Try Anggara (Jakarta), dan Josh Marcy (Jakarta).

Secara khusus, pada IDF 2016 juga akan hadir Program Retrospeksi tentang Hoerijah Adam, seorang tokoh pembaharu tari Minangkabau (1936-1971). Retrospeksi ini akan diisi dengan film screening tentang karya dan perjalanan hidup Hoerijah Adam, Playing Barabah, yang direkonstruksi oleh Katia Engel (Jerman) dan akan dipadukan dengan pertunjukan tari oleh Sentot Sudiharto (Indonesia). Selain itu akan dihadirkan pula pameran arsip Hoerijah Adam dan presentasi Barabah oleh SMKN 7 Padang di bawah bimbingan Ery Mefri.

Selain pertunjukan tari juga akan digelar workshop penulisan kritik tari dalam perspektif jurnalistik, master class yang diberikan oleh para koreografer dan seniman berpengalaman, diskusi, dan lokakarya untuk para koreografer muda, serta pemberian penghargaan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan tari di Indonesia.

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Indonesian Dance Festival (IDF) adalah satu-satunya festival tari kontemporer di Indonesia yang diadakan secara kontinyu setiap dua tahun sekali. IDF didirikan pada tahun 1992 oleh beberapa tokoh dan akademisi tari terkemuka Indonesia, sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Setelah itu, IDF—yang kini digawangi oleh Maria Darmaningsih selaku Direktur Program, Nungki Kusumastuti sebagai Direktur Keuangan, dan Melina Surja Dewi selaku Direktur Administrasi—berkembang menjadi festival tari berskala internasional yang tertua di Indonesia.

Seluruh program pada IDF 2016 ini didesain oleh kurator yang terdiri dari Helly Minarti (Indonesia), Tang Fu Kuen (Singapura), dan Seno Joko Suyono (Indonesia). Ketiga kurator dibantu oleh tiga asisten kurator—Taufik Darwis, Nia Agustina, dan Agnesia Linda—lulusan Workshop Kuratorial Tari yang diselenggarakan oleh IDF pada November 2015.

Tema IDF 2016 adalah Tubuh Sonik. Dengan tema ini, IDF 2016 hendak membicarakan segala kemungkinan perwujudan artistik yang merujuk pada tubuh manusia bersama gelombang suara di berbagai ruang dan dimensi-dimensinya yang saling berinterferensi satu sama lain. Dalam setiap ruang dan konteks tempatnya berada, tubuh manusia dapat menjadi pusat interferensi sekaligus memancarkan gelombang sebagaimana suara yang dapat menjelajah ke mana saja, merasuk ke berbagai dimensi untuk kemudian menemukan dirinya yang baru.

IDF adalah sebuah festival tari yang diselenggarakan untuk mendorong kreativitas seniman tari sekaligus sebagai event tetap agar masyarakat umum dapat menikmati karya-karya tari kontemporar koreografer Indonesia dan dunia terkini. Dalam konteks Indonesia dengan kekayaan budaya berikut latar sosial dan tradisi yang sangat beragam, IDF diharapkan menjadi wahana pertemuan kreatif berbasis pengalaman trans-kultural sebagai proses pembelajaran bagi semua orang untuk menjelajahi, menyelami, dan membuka diri terhadap segala perbedaan guna membangun saling pengertian yang lebih mendalam. Melalui tari, IDF hendak mengajak masyarakat agar menyelami dan memahami keragaman sehingga dapat lebih memahami diri sendiri bersama orang lain. Hal ini semakin terasa penting dalam situasi di mana penghargaan terhadap keragaman terasa semakin berkurang.

IDF 2016 TUBUH SONIK terselenggara atas dukungan dari Pemda DKI, Bekraf, Kemenpar, Bank Mandiri, Djarum Bakti Budaya, Institut Français d’Indonésie, Japan Foundation, Kedutaan Besar Australia, dll.***

 

 

Contact Person:

Maria Darmaningsih (Direktur Program): 081311152057.
Nungki Kusumastuti (Direktur Keuangan): 0816859519.
Iqbal (Media Relation): 081285540750.

Hari Kelima (Penutup) Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Hasil dari sesi sharing hari keempat Workshop Riset Artistik IDF Akademi memutuskan untuk memberi kesempatan kepada para peserta memilih kegiatan apa yang perlu dilakukan di hari kelima. Muncullah empat hal yang ingin dilakukan yakni pertama mencoba ke luar dari zona nyaman dan membuat sebuah karya baru di hari itu juga, kedua memperdalam salah satu materi workshop, ketiga mempresentasikan karya-karya yang telah dibuat untuk mendapatkan masukan dan tanggapan, serta yang keempat memperdalam cara menyiapkan konsep karya yang sistematis.

Sesi Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Namun, sebelum masuk ke sesi itu, Nindityo Adipurnomo melanjutkan penjelasan perihal zona nyaman vs zona tak nyaman yang belum selesai di hari sebelumnya. Menurut Nindityo, idealnya sesi itu dilakukan di luar ruangan, peserta benar-benar berada di tengah aktivitas masyarakat. Tetapi hal itu tak bisa dilakukan karena satu dan lain hal sehingga dipaparkan saja seperti pemaparan di kelas. Dalam pemaparannya, Nindityo menegaskan bahwa riset artistik yang dikerjakan seorang seniman berlangsung dan senantiasa beririsan dengan permasalahan sosial. Berbeda dengan riset-riset di disiplin ilmu yang lain, di dalam riset artistik, seorang seniman juga bekerja dalam naungan ketidaksadaran. Ketidaksadaran ini bisa nampak di permukaan melalui  pengalaman, gairah, dan hasrat-hasrat individu masing-masing seniman.

Nindityo Adipurnomo Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Di dalam diskusi setelah penjelasan dari Nindityo, Arco Renz menekankan pentingnya para peserta untuk bisa membedakan antara inspirasi dan riset. Inspirasi adalah sesuatu yang mengilhami sedangkan riset adalah sesuatu yang harus dikerjakan. Sama halnya dengan menari, di mana perlu dibedakan antara menari untuk diri sendiri dan menari untuk publik. Bisa saja seorang penari/koreografer bahagia ketika menarikan karyanya tetapi apakah hal yang sama terjadi pada publik yang menyaksikan?

Setelah sesi tersebut, para peserta membagi diri dalam empat kelompok sesuai dengan empat hal yang ingin dilakukan mereka di hari tersebut. Jumlah anggota di setiap kelompok berbeda-beda karena peserta memang memilih berdasarkan kebutuhan mereka sendiri. Kelompok tiga adalah kelompok dengan anggota terbanyak. Rupanya mayoritas peserta memang ingin mendapatkan masukan dan tanggapan untuk karya-karya mereka. Masukan itu nantinya diasumsikan bisa menjadi bekal bagi mereka untuk mengembangkan karyanya masing-masing.

Diskusi Kelompok Empat Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Diskusi Kelompok Empat Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Keempat mentor pun dipersilahkan untuk memilih hendak bekerja di kelompok yang mana. Arco Renz memilih kelompok ketiga; menonton karya-karya peserta dan memfasilitasi diskusi di dalam kelompok tersebut. Nindityo Adipurnomo memilih untuk bekerja dengan kelompok pertama yang hendak ke luar dari zona nyaman mereka dan mencoba membuat sebuah karya. Sedangkan Joned Suryatmoko memilih menemani kelompok keempat yang ingin memperdalam cara menyiapkan sebuah konsep karya. Daniel Kok menghabiskan hari itu bersama kelompok kedua yang hendak memperdalam salah satu materi selama workshop.

Proses di setiap kelompok sungguh berbeda-beda. Kelompok pertama menghabiskan separuh waktu mereka untuk berdiskusi lantas mencoba mengeksplorasi perihal mengubah fungsi sebuah benda. Diskusi yang seru terjadi di kelompok ketiga di mana setiap karya ditonton dan didisuksikan dengan mendalam sampai-sampai waktu yang tersedia tidaklah cukup. Sedangkan Joned Suryatmoko berhasil memaksa peserta di kelompok empat untuk berpikir secara sistematis, memformulasikan apa yang dianggap mereka sebagai inspirasi menjadi sebuah konsep karya dan rencana kerja yang lebih jelas dan sistematis. Kelompok kedua bersama Daniel Kok tampak kembali bermain-main dengan gerakan menggambar di atas kertas putih, sebagaimana kita temukan di dalam materi yang dibawakan Daniel sebelumnya.

Proses Kelompok Dua Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Proses Kelompok Dua Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sore harinya, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan apa yang mereka dapatkan di dalam kelompok masing-masing. Kelompok pertama lantas mengajak peserta untuk menyaksikan eksplorasi mereka atas kursi dan meja di dalam kolam renang. Galih Mahara dan David Putra Yuda, anggota kelompok ini, berusaha menguasai kursi dan meja yang jika berada di dalam air sesungguhnya kehilangan fungsi mereka yang sebenarnya. Selanjutnya, Ayu Permatasari dari kelompok ketiga lantas dipilih untuk menunjukkan dokumentasi karyanya sebagai perwakilan dari kelompok kepada semua yang hadir. Semua yang hadir dipersilahkan untuk menanggapi karya Ayu tersebut. Diskusi yang menarik pun terjadi. Ari Ersandi dan Fitri Anggraini dari kelompok dua menyuguhkan eksplorasi mereka atas kertas, benang, video, serta seekor kucing. Hadirin disuguhkan beberapa tawaran tontonan; Fitri dan Ari yang bergerak-gerak, kucing yang terlilit benang sembari mencoba memakan remah-remah kue, dan juga ‘video realtime’ yang ditembakkan ke layar putih. Aktivitas malam itu ditutup dengan pemaparan konsep karya dari tiga anggota kelompok empat; Galih Puspita Karti, Otniel Tasman, dan Ferry.

Kegiatan hari kelima itu ditutup dengan evaluasi bersama antara peserta, pemateri, dan panitia. Kekurangan pada penyelenggaraan tentu saja ada. Hal ini sangat tampak misalnya pada waktu yang begitu singkat untuk pemaparan materi yang tergolong berat. Namun, tentu saja sebuah workshop tidak secara otomatis membuat seseorang bisa melakukan riset artistik dengan baik. Masih banyak kerja yang perlu dilakukan; berkesenian yang serius dan terus menerus tanpa takut melakukan kesalahan. Setelah sesi evaluasi, peserta dan mentor secara spontan mengisi waktu yang tersisa; seakan tak mau menyia-nyiakan waktu begitu saja. Karaoke bersama sederhana pun terjadi dilanjutkan dengan wisata malam dadakan ke jantung Kota Malang. Betapa tidak. Esok hari, 27 Juli, mereka akan berpisah dan meninggalkan tempat workshop dengan jadwal berbeda-beda.

“Selamat berpisah, sampai berjumpa di waktu dan kesempatan yang lebih baik.”***

Hari Keempat Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Hari keempat Workshop Riset Artistik diisi oleh pemateri Daniel Kok dan Nindityo Adipurnomo. Sesi pagi diisi oleh Daniel sedangkan Nindityo mengisi sesi setelah makan siang. Seperti biasa, workshop diakhiri dengan sesi sharing antar peserta yang dipandu oleh Nia Agustina.

Daniel pada hari keempat workshop ini membagikan beberapa teknik yang selama ini menjadi bagian dari kerja-kerjanya kepada para peserta dan mengajak mereka untuk mencicipinya. Selain itu, Daniel pun mengajak peserta untuk menyerapi dan memperdalam perihal intensitas gerak. Ia memperagakan dan mengajak peserta untuk melakukan gerakan tari sesuai dengan basik gerak mereka masing-masing namun dengan lima intensitas yang berbeda yakni dengan intensitas rendah, lemah lembut, sehari-hari, kuat dan ekstrim.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Setelah beberapa saat peserta mempraktekannya, Daniel mengajak mereka untuk berbagi apa yang dirasakan ketika melakukan hal tersebut. Banyak dari antara para peserta yang merasa bahwa mereka ‘dipaksa’ untuk ke luar dari kebiasaan gerak mereka selama ini. Ada yang selama ini terbiasa dengan gerak-gerak yang tegas dengan intensitas yang ekstrim, ternyata justru menemukan kenyamanan ketika bergerak di dalam intensitas yang lembut dan lemah lembut.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Setelah itu, Daniel mengajak peserta mengalami sesuatu yang berbeda lagi. Ketika tadi hanya tubuh mereka yang bergerak dengan intensitas tertentu, kini mereka harus bergerak dengan intensitas terhadap ‘alat bantu’ tertentu. Daniel menggunakan kertas dan krayon serta benang. Peserta dibagi di dalam dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan alat bantu kertas dan krayon sedangkan kelompok kedua menggunakan benang. Peserta pada kelompok pertama bergerak menggambar di atas kertas mengikuti irama musik sedangkan kelompok kedua bergerak dengan intensitas yang tertuju pada benang yang ada di tangan masing-masing.

Memasuki sesi siang, Nindityo Adipurnomo menegaskan bahwa sesi ini adalah sesi yang sengaja dirancang untuk mengajak peserta untuk berpikir. Nindityo berusaha untuk masuk kepada salah satu perihal penting dalam cara kerja seorang seniman dan riset artistik yakni perihal zona nyaman dan zona tidak nyaman. Sesi siang itu membuat dahi para peserta berkerut. Pasalnya, Nindityo memaksa mereka untuk menuliskan lima bahan yang sering mereka gunakan di dalam kerja-kerja seni mereka sebagai koreografer. Sesungguhnya hal ini merupakan pekerjaan rumah para peserta karena Nindityo sudah meminta itu sejak sesinya pada hari hari kedua.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Ketika menuliskan dan menjelaskan perihal lima bahan utama itu tampaklah bahwa belum semua peserta bisa membedakan antara ‘bahan’ dan ‘alat’ dalam bekerja. Sehingga waktu cukup banyak dipakai oleh Nindityo untuk mengelaborasi lebih lanjut bersama peserta perihal bahan itu. Setelah setidaknya sudah cukup aman di ranah pembedaan antara ‘bahan’ dan ‘alat’, peserta diajaknya lagi untuk mencari asosiasi dari ‘bahan’ yang menurut mereka paling kuat. Di tingkat ini, belum banyak juga peserta yang bisa menemukan asosiasi dari bahan itu yang cukup tepat. Elaborasi lebih lanjut dari Nindityo akhirnya bisa membuka mata para peserta perihal itu. Menutupi sesi tersebut, Nindityo Adipurnomo mengatakan bahwa pada sesi tersebut ternyata cukup sulit juga merumuskan perihal zona nyaman dari masing-masing peserta. Padahal, harapannya adalah sesi ini bisa menyelesaikan perihal zona nyaman dan akan sedikit masuk pada gangguan perihal keberanian untuk menyeberang dari zona nyaman tersebut.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi sharing di hari ini diisi lebih banyak oleh apa yang sebaiknya diisi dengan sesi keesokan harinya, workshop hari kelima. Para mentor meminta peserta untuk coba merumuskan apa yang mereka paling butuhkan untuk diperdalam. Sisa hari dari workshop akan digunakan untuk itu.***

Hari Ketiga Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Setelah dua hari hanya berada di Ubud Hotel dan Cottages, pada hari ketiga, para peserta, panitia dan pemateri Workshop Kepenarian IDF Akademi ini mengadakan City Tour. Dua tempat yang dipilih untuk dikunjungi adalah Candi Badut dan Kampung Celaket yang tengah mengadakan Festival Kampung Celaket. Para peserta di Candi Badut diajak untuk mengenal sejarah tempat serta sedikit keunikan sejarah Kota Malang oleh Dwi Cahyono, sejarahwan dari Universitas Negeri Malang. Di Festival Kampung Celaket para peserta berkesempatan untuk mengenal dan merasakan secara langsung bentuk kesenian Jawa Timur.

Para Peserta dan Mentor Bersiap-siap di Kendaraan Menuju Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Para Peserta dan Mentor Bersiap-siap di Kendaraan Menuju Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Suasana di Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Suasana di Candi Badut, Malang | Dokumentasi IDF

Setelah dari Kampung Celaket para peserta kembali ke Ubud Hotel. Sesi siang hari diisi oleh Arco Renz. Berbeda dengan sesi Arco sebelumnya—di hari pertama—yang diisi lebih banyak oleh diskusi dan presentasi, kali ini lebih banyak diisi gerakan. Arco mengajak peserta workshop untuk mencicipi praktik dari konsep kepenarian yang sudah dijelaskannya. Para peserta membuat lingkaran dan diajak Arco untuk mempelajari teknik nafas untuk memahami dan merasakan gerak yang berasal dari dalam. Setelah itu, para penari diminta untuk bergerak, melakukan gerak tari dari khazanah masing-masing, dengan hitungan dan berdasarkan teknik nafas yang baru diberikan.

Sesi Bersama Arco Renz | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Arco Renz | Dokumentasi IDF

Setelah coffeebreak, Joned Suryatmoko mengambil alih workshop. Pada sesi ini Joned mengajak peserta untuk mencoba memilih sebuah benda yang menurut mereka paling mampu mewakili sebuah cerita yang hendak mereka sampaikan kepada penonton. Benda-benda yang dipilih itu di-display secara sederhana. Selanjutnya, para hadirin selain peserta, akan berkeliling bak pengunjung pameran atau pembeli di sebuah pasar. Peserta harus menjelaskan makna dari barang-barang yang mereka tampilkan. Bukan itu saja, peserta pun harus mengkreasi gerak yang mewakili cerita tersebut.

Untuk kebutuhan itu, peserta dibagi ke dalam empat kelompok. Setelah 30 menit peserta diberi kesempatan untuk mempersiapkannya, hadirin yang lain pun dipersilahklan untuk berkeliling dan berinteraksi dengan para peserta. Joned menekankan bahwa kegiatan ini sebenarnya menekankan apa yang dibicarakan sebelumnya, perihal bagaimana interaksi antara karya dan penonton. Bagaimana interaksi antara penonton dan pencipta karya tercipta.

Sesi Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Menutup workshop hari ketiga ini, Nindityo Adipurnomo mengingatkan peserta pada tugas yang diberikannya sebelumnya perihal mempersiapkan lima material yang menjadi bahan utama penciptaan karya mereka. Hal ini lantaran Nindityo akan mengisi sesi pada hari keempat workshop ini.***

Hari Kedua Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Sabtu, 23 Juli 2016 adalah hari kedua Workshop Riset Artistik IDF Akademi yang bertempat di Ubud Hotel and Cottages, Malang, Jawa Timur. Hari kedua ini menjadi milik dua pemateri yakni Daniel Kok dan Nindityo Adipurnomo. Nindityo Adipurnomo sendiri baru bergabung bersama peserta dan pemateri lainnya pada pagi hari itu. Hari kedua workshop ini dibuka dengan pemanasan yang dipimpin oleh salah satu peserta workshop, Hari Ghulur.

Sesi pagi, hari kedua Workshop Riset Artistik ini diisi oleh Daniel Kok, seorang koreografer asal Singapura yang lama menetap di Brussel. Daniel memulai workshopnya dengan gaya interaktif. Ia menunjukkan beberapa slide dan meminta peserta untuk memilih salah satu slide. Pada setiap slide, Daniel menuliskan dua kata yang saling beroposisi. Setelah peserta memilih, ia meminta para peserta untuk memikirkan makna-makna kata yang beroposisi itu dan menjelaskannya. Presentasi Daniel kemudian berangkat dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh para peserta.

Daniel Kok Ketika Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Daniel Kok Ketika Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Dari sana, Daniel beranjak menjelaskan konsep di balik karya-karyanya. Ia terinspirasi dari konsep “the dead of the author” dari pemikir Prancis, Roland Barthes. Konsep ini kira-kira mengatakan bahwa ketika seorang penulis menulis, yang ‘menyelesaikan’ tulisannya itu bukanlah ia tetapi pembaca. Pembacalah yang mengkonstruksikan makna dari tulisan itu. Berangkat dari situ, di dalam konteks tari, Daniel melihat penonton sebagai hal yang penting. Eksplorasi atas penonton dan kepenontonan ini merupakan bentuk keresahannya melihat kecenderungan di dunia seni yang mengeluhkan perihal ketidakpahaman penonton atas karya yang dipentaskan.

Perhatian pada penonton dan kepenontonan ini mewarnai karya-karya Daniel selanjutnya. Pada karya seperti The Stripper’s Practice, The Gay Romeo dan serial karya cheerleadernya tampak bahwa Daniel mengeksplorasi dan berdialog dengan penonton dan kepenontonan. Misalnya pada The Stripper’s Practice, ia mengeksplorasi bagaimana orang menonton pertunjukan tari eksotis dengan asumsi seksual. Asumsi seksual ini terjadi di club-club ketika pertunjukkan-pertunjukkan tersebut diadakan tetapi seks yang sesungguhnya tidak terjadi di sana.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo mengisi sesi siang setelah rehat makan siang. Mengawali sesi ini, perupa yang bersama Mella Jaarsma mendirikan Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta itu menunjukkan kepada para peserta dokumentasi karya-karyanya. Para peserta lantas dimintanya untuk mengutarakan kesan visual apa yang muncul pada mereka. Salah satu peserta, Hari Ghulur, menangkap kesan bahwa karya-karya yang ditunjukkan tadi didominasi oleh bentuk konde atau sanggul. Ia pun bertanya, ada hubungan apa antara bentuk itu dengan kehidupan Nindityo.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Dari kesan itu, Nindityo menjelaskan soal zona nyaman dan pentingnya untuk ke luar dari zona nyaman tersebut di dalam kerja seorang seniman. Menurutnya, kebanyakan seniman tidak berani untuk ke luar dari zona nyaman mereka. Banyak alasan tentu yang melatarinya. Salah satunya adalah seniman tidak mau meresikokan diri dan reputasinya dengan merambah pada cara kerja atau pilihan artistik yang tidak biasa ditempuhnya.

Perupa yang cukup berpengaruh dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia ini lantas menunjukkan lagi dokumentasi karya yang menunjukkan keberanian untuk ke luar dari zona nyaman tersebut. Salah satunya adalah karyanya bersama Mella Jaarsma yang diikutsertakan pada Sonsbeek International Sculpture Exhibition, 2008 di Kota Arnhem, Belanda. Kesan yang timbul dari peserta pun beragam. Salah satunya dari Galih Puspita Karti yang menanyakan bagaimana perubahaan atas karya yang mengambil inspirasi dari sebuah tempat tertentu dipindahkan ke tempat lain yang memiliki keadaan sosial dan budaya yang berbeda.

Nindityo Adipurnomo Ketika Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo Ketika Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Bagi Nindityo, sebuah karya pasti akan dipahami secara berbeda pada tempat yang berbeda-beda. Oleh karena itu perlu ada pendekatan tertentu agar karya tersebut bisa dimaknai oleh masyarakat di tempat yang berbeda. Pada contoh di atas, yang terjadi adalah upaya Nindityo berkolaborasi dengan komunitas imigran di Belanda dan mengajak mereka memaknai karyanya dengan sejarah kehidupan mereka di Belanda.

Sebagaimana Workshop Riset Artistik hari pertama, hari kedua ini pun workshop ditutup dengan berbagi pemahaman antara para peserta atas apa yang didapatkan mereka dari materi workshop hari itu.***

Hari Pertama Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Workshop Riset Artistik IDF Akademi sudah dimulai sejak Jumat, 22 Juli 2016. Pada hari pertama itu, sudah hadir di Ubud Hotel and Cottages, Malang, Jawa Timur kedua belas peserta bersama tiga pemateri yakni Joned Suryatmoko, Daniel Kok, dan Arco Renz. Sedangkan Nindityo Adipurnomo baru akan bergabung pada 23 Juli. Tampak bahwa para peserta dan pemateri yang sudah hadir berinteraksi satu sama lain melalui diskusi-diskusi ringan. Beberapa di antaranya sudah saling mengenal satu sama lain, beberapa tidak. Para peserta dan pemateri yang sudah hadir ditemani pula oleh Yono Ndyoid, aktivis kesenian Kota Malang, yang ‘memperkenalkan’ dan menceritakan perihal geliat kesenian Malang.

Joned Suryatmoko Sedang Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Joned Suryatmoko Sedang Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Sesi pagi, hari pertama Workshop Riset Artistik menjadi milik Joned Suryatmoko. Joned membuka sesi ini dengan permainan membentuk lingkaran. Peserta diminta untuk membuat sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban berupa angka. Angka-angka itu akan menjadi dasar urutan setiap orangnya dalam membentuk lingkaran. Permainan ini, selain sebagai alat relaksasi sebelum memasuki diskusi yang lebih serius, juga sebagai cara untuk saling mengenal di antara peserta. Maka pertanyaan-pertanyaan seperti, “jam berapakah Anda bangun tidur hari ini”, “berapa kali di dalam seminggu Anda menghubungi orang tua,” hingga “berapa persenkah posisi tari di dalam hidup Anda”-pun dilontarkan.

Selanjutnya, Joned berbagi pengalaman pencarian artistiknya kepada peserta. Di sesi ini, sutradara yang banyak pula terlibat di dalam riset-riset kesenian dan budaya itu berkali-kali menekankan bahwa apa yang dibagikannya ini adalah salah satu contoh dari pencarian artistik. Setiap orang, setiap seniman, tentu punya metode dan cara-cara pencarian yang berbeda-beda. Pendiri dan Sutradara Teater Gardanalla itu pun bercerita seputar pencariannya di dunia teater; sejak keterlibatannya di teater masa SMA hingga pendirian dan karya terakhirnya bersama Teater Gardanalla. Mulai dari keterpesonaannya pada akting-akting para aktor teater senior sampai penemuannya akan metode sendiri bisa dikatakan sangat menarik perhatian para peserta.

Suasana Pada Sesi Yang Dibawakan Oleh Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Suasana Pada Sesi Yang Dibawakan Oleh Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Bukan hanya kisah seputar estetika semata yang mengisi sesi pertama hari pertama itu. Joned pun memperingatkan perihal pentingnya seorang seniman mengetahui seluk beluk produksi serta bagaimana berstrategi sebagai seniman di tengah dunia kesenian di Indonesia yang belum bisa dibilang ideal. Bagaimana kompromi-kompromi perlu dilakukan dan bagaimana membangun tim kerja yang solid adalah juga hal-hal yang dibagikan di sesi tersebut. Di akhir sesinya, Joned melontarkan pertanyaan kepada peserta; mengapa memilih tari sebagai bidang berkecimpungnya mereka. Pertanyaan ini, lanjut Joned, bukan untuk dijawab saat ini, tetapi ada baiknya menjadi refleksi dalam perjalanan berkesenian selanjutnya.

Setelah rehat, masuklah pada sesi kedua yang dibawakan oleh Arco Renz. Arco ditemani oleh Helly Minarti dari IDF yang bertindak sebagai penerjemah. Koreografer asal Jerman yang menetap di Belgia ini kebetulan sekali berhadapan dengan pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan Joned pada sesi sebelumnya ketika ia mengikuti workshop yang dibawakan oleh Pina Bausch. Menurut Arco, ia menari karena ingin menyampaikan sesuatu yang tak bisa disampaikannya secara verbal. Jawaban sederhana ini rupanya membawanya pada pencarian lebih lanjut. Koreografer yang kerap berkolaborasi dengan penari dan koreografer dari Asia Tenggara ini, dalam kerangka menjawabi pertanyaan tersebut, sampai pada pandangan bahwa tari merupakan sebuah bahasa yang bisa mencapai hal-hal yang tak bisa dicapai oleh bahasa verbal biasa.

Arco Renz Ketika Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Arco Renz Ketika Memaparkan Materi | Dokumentasi IDF

Arco pun mengungkapkan tiga layer penting pada tari menurutnya yakni tari sebagai praktik, tari sebagai bahasa, dan tari sebagai kontemplasi. Menari bukanlah sebuah idea. Menari adalah sebuah aksi. Dengan demikian, yang terpenting di dalam tari adalah aksi menari itu dan bukan konsepnya. Tari sebagai bahasa membawa Arco pada pencarian perihal kekosongan dan oposisinya, kepenuhan. Arco berpegang pada konsep oposisi ini; suatu hal tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya lawan darinya. Misalnya, “yang indah” selalu beroposisi—dan mendapatkan kepenuhan maknanya—dari keberadaan “yang jelek”. Atau “yang bergerak” pun bisa dipahami karena adanya pemahaman akan “yang diam”. Dengan konsep oposisi inilah banyak karya-karya Arco berangkat. Ia pun memberikan beberapa contoh karyanya yang berangkat dari konsep tersebut.

Sesi dari Arco Renz ini tampak merangsang dahi para peserta tak henti berkerut. Hal ini, menurut beberapa peserta, diakibatkan oleh keterbatasan bahasa yang membuat komunikasi kurang baik. Proses penerjemahan mengakibatkan selalu ada jeda dari satu pernyataan dan penjelasan Arco ke pernyataan dan penjelasan Arco yang berikutnya.

Sesi Berbagi Pengalaman | Dokumentasi IDF

Sesi Berbagi Pengalaman | Dokumentasi IDF

Hari pertama Workshop Riset Artistik IDF Akademi ditutup dengan berbagi pengalaman perihal persentuhan dengan dunia tari dari para peserta. Sesi yang difasilitasi oleh Nia Agustina dan Taufik Darwis—dua dari tiga asisten kurator IDF 2016. Sesi ini menjadi sesi yang manis untuk menutup hari pertama workshop ini. Pasalnya, para peserta begitu antusias untuk mengetahui kisah bagaimana kawannya ‘terjerumus’ di dalam dunia tari.***