2

DARI LOKAKARYA TARI/KOREOGRAFER AKADEMI IDF: KESEIMBANGAN DAN PROBLEM MODERNITAS

Hari ini (7/11) merupakan sesi terakhir Prapto membagikan Joged Amerta-nya, yaitu latihan memilih komposisi di dalam ukuran-ukuran kehidupan dengan mengambil, membawa dan meletakan objek. Prapto membedakan dua kategori ruang untuk latihan ini yaitu dengan batasan ruang dan tidak dibatasi ruang; atau kita menentukan batas ruang kita sendiri. ‘Memilih’ dalam pengertian Prapto adalah momen ketika punya pilihan dan sudah menentukan keputusan. Sebab biasanya orang yang punya pilihan banyak sulit untuk menentukan keputusan. Dalam praktik tari, Improvisasi kadang disebut sebagai kerja dari institusi dan insting. Padahal, sebutan itu sedang meniadakan ruang dan waktu di dalam semesta pilihan.

Prapto menjelaskan objek sebagai hal yang tidak berbeda dengan tubuh. Jadi, sebenarnya sesuatu yang sederhana. Akan tetapi menjadi tidak sederhana ketika melatih kesadaran itu; kesadaran sebagai penari yang memiliki tubuh panggung. Tubuh yang memiliki ruang samping, kiri, kanan, atas, bawah, depan dan belakang. Untuk memulai latihan, masing-masing peserta memilih lima objek dan lantas merasakan titik keberadaan di dalam ruangan. Setiap gerak yang dilakukan adalah panggung yang juga sebagai bagian dari ruang. Menurut Prapto, jika latihan ini dilakukan terus menerus akan menghasilkan beyond implus, instingtif dan instuitif. Jadi pada prinsipnya, latihan ini untuk melihat sesuatu sebelum terjadi dan membaca dan memperlakukan setiap objek sebagai subjek, termasuk tubuh.

Sesi Bersama Prapto | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Prapto | Foto: Dokumentasi IDF

Wen-Chi mendapat sesi terakhirnya setelah makan siang. Sebelum dimulai, sebagai prolog, dia menjelaskan prinsip relasinya dengan peserta adalah relasi sesama seniman, bukan guru-murid. Sesi ini adalah sesi di mana Wen-Chi bersama peserta berbagi dan merespon ide, bukan karya jadi. Wen-Chi merasa sangat sulit harus mengajar seniman, karena seniman itu unik dan kompleks personalitasnya dan setiap seniman perlu menghargai itu. Jadi sesi ini adalah sesi bagi peserta mempresentaikan ide; boleh ide yang sudah ada sebelumnya (dari dalam) atau ide yang datang dari luar.

Wen-Chi juga mendapat masukan baginya dari tur kemarin bersama Bengkel Mime Theatre, Papper Moon dan Mella Jarsma, bahwa mereka punya medium dan cara berbeda dalam berkarya tapi semua berangkat dari modernitas. Seperti kolonialisme, perubahan desa-kota, rasisme, trauma politik, dan kehilangan. Sementara Suprapto pada sesi sebelumnya memberikan latihan bagaimana menciptakan keseimbangan diri dengan objek, alam dan ruang. Dan nyatanya, menurut Wen-Chi, kita berada dalam situasi yang tidak seimbang. Jadi, ada problem. Dan pertanyaan terhadap segala sesuatu yang tidak seimbang itu adalah gagasan kontemporer; kita berada di dalamnya tapi tidak tahu.

Hal ini yang membuatnya menilai penting untuk bertanya, seperti yang dijelaskan di sesi sebelumnya. Di titik ini, Wen-Chi berbagi dua cara berkaya melalui pertanyaan besar atas perubahan yang terjadi. Pertama, Fisika; studi tetang material yang nyata, termasuk tubuh (yang meski kita tak melakukan apa-apa, tubuh kita tetap berubah). Studi tentang perubahan fisik yang juga terjadi di dalam diri kita. Kedua, perubahan dari luar; seperti kita melempar atau memukul. Yang mempengaruhi perubahan dari dalam. Seperti seseorang memukul orang lain selama 100 tahun terus menerus, itu akan mengubah orang yang dipukul.

Sesi Bersama Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Wen-Chi menjelaskan bahwa dalam ranah new media art, seniman bekerja dengan tubuh dari benda-benda yang punya wadag. Dan ruangnya adalah sebagai property (Prapto) yang punya volume isi. Benda dilihat mempunyai ruang waktu, energi dan lingkungannya, yang bisa diubah-ubah posisinya, posturnya dan tempatnya. Wen-Chi kerap bekerja dengan perubahan yang datang dari luar dengan dua tahap mendasar. Pertama, ia deskripsikan dulu benda/materialnya. Lalu bermain dengan imajinasi, mengubah materi misalnya dengan membalikan posisi. Dia menyebutnya, membangun irisan-iran untuk keterhubungan. Saya adalah objek, gelas adalah objek, sendok adalah objek, yang saling berhubungan, demikian paparnya.

Untuk menuju presentasi ide peserta, Wen-Chi memberi dua pilihan ide.  Pertama, ide dari dalam, yang sudah dituliskan sebelumnya dan dikumpulkan. Kedua, benda dari perubahan dari luar (artifisial, berbeda dengan Prapto yang cenderung natural) yang diproduksi dari era dan periode yang spesifik. Benda yang ditawarkan adalah benda yang diproduksi dengan sangat murah yaitu Rainbow Film. Benda yang bagus untuk belajar tentang cahaya. Awalnya, benda ini diciptakan oleh NASA dengan struktur mikro yang rumit untuk eksperimen menangkap cahaya, yang sebenarnya transparan tapi dapat memantulkan sudut-sudut cahaya. Teknologi selalu muncul dari laboratorium yang canggih, sementara konsumen selalu berfikir bagaimana cara memanfaatkannya. Bagi Wen-Chi setiap benda/material diposisikan sebagai penari yang yang harus dipelajari karakternya seperti apa, karena benda bukan dekorasi buat penari. Setiap benda punya bahasa dan geraknya sendiri.

Peserta kemudian menentukan pilihan, yang memilih pilihan pertama mengurai kembali apa yang menjadi idenya. Dan yang memilih pilihan kedua mengamati benda yang diberikan Wen-Chi. Peserta tidak diharuskan melakukan presentasi ide dalam bentuk performatif. Sebab yang dituturkan Wen-Chi dan juga sudah dijelaskan tim Akademi IDF sebelumnya, bahwa yang terpenting adalah kita melakukan ekperimen kecil-kecilan, dimulai dari bertanya, mengamati dan berbagi (artikulasi). Sebagai penari yang bekerja dengan tubuh, penari/koreografer cenderung susah untuk mengartikulasikan lewat kata-kata. Tapi menurutnya mungkin juga harus berpikir, bahwa pembicaraan itu sesuatu yang melengkapi kerja tubuh dari tari yang dilakukan. Kata-kata bukan untuk secara persis menjelaskan pertunjukan. Tapi untuk kebutuhan berbicara, karena layer-layer seni pertunjukan sangat banyak. Kata-kata digunakan sebagai petunjuk atau tanda yang bisa ikuti.

Setelah menentukan pilhan masing-masing, satu-persatu peserta kemudian mempresentasikan idenya. Sesi ini tidak selesai menjelang saat makan malam. Kami memutuskan untuk melanjutkannya setelah makan malam. Kami menyelesaikan presentasi dan setiap peserta mendapatkan feedback. Kegiatan ini berakhir sekitar pukul 9 malam lebih sekaligus menjadi penutup keseluruhan workshop.  Sama seperti di pembukaan, penutupan pun dilakukan secara sederhana. Beberapa peserta bertanya apakah ada seremoni atau tidak, saya jawab tidak, selain ada buah-buahan, minuman dingin dan hangat, coklat dan obrolan serius tapi santai yang tidak lagi terpusat sebagai bagian dari materi. Beberapa orang ada yang melanjutkan diskusi sampai larut malam.

Esok paginya sebelum pulang dan berpencar lagi pada proses masing-masing, pagi-pagi sebagai pemanasan, Da Ben mengulang lagi materi apa yang diberikan dengan tambahan elemen suara dari laptopnya. Satu kali mencoba, banyak yang keliru. Dua kalimen coba, lumayan. Tiga kali mencoba, makin lebih baik.

Sampai jumpa lagi di program Akademi IDF selanjutnya.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

baru_DSCF8366

Dari Lokakarya Tari/Koreografer Akademi IDF: Mencicipi Praktik-praktik Seni di Luar Tari

Pada workshop hari keemat (6/11), kami menempuh kurang lebih satu jam perjalanan menunju Jogja dari Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul. Baik peserta, pemateri dan tim Akademi IDF bersama-sama di dalam satu mini bus untuk mengungjungi peristwa dan kolektif seniman dari ranah artistik lain di luar tari. Melalui kunjungan ini, peserta diharapkan mendapatkan pengetahuan atas konteks dan situasi produksi dari praktik seni di ranah seni lain.

Kami tiba di Angkringan Wongso. Andy Sri Wahyudi tengah menunggu bersama Linda Agnesia (tim Akademi IDF). Sebelum sesi ngobrol dimulai, Linda memberi pengantar singkat tentang apa itu Bengkel Mime Theatre (BMT) dan memperkenalkan  Andi Sri Wahyudi, Ficky Tri Sanjaya, dan Asita Kaladewa sebagai seniman kolektif yang berproses di dalamnya. Sebelum panjang lebar, Andy meminta maaf karena tidak bisa membawa semua orang ke basecamp BMT karena tidak muat. Andy menuturkan bahwa BMT didirikan pada 2004, nama baru dari Bengkel Pantomim Yogyakarta yang juga dia dirikan pada 2001. Perubahan nama tersebut juga dilatarbelakangi kegelisahan untuk mencari ruang pantomime yang lain. Bahwa pantomime tidak hanya sekedar yang serba slapstick (komedi fisik) seperti yang bisa kita lihat di film Charlie Chaplin.

Salah Satu Moment Kunjungan Para Peserta Workshop | Foto: Dokumentasi IDF

Salah Satu Moment Kunjungan Para Peserta Workshop | Foto: Dokumentasi IDF

Asita kemudian menambahkan bagaimana prosesnya sebagai performer di BMT ketika berproses untuk karya Waiting for Godot yang ditulis Samuel Becket pada 1948-1949, setelah Perang Dunia II. Pada waktu itu yang menjadi sutradara adalah Ari Dwianto (salah satu pendiri yang sekarang lebih terlibat aktif di Teater Garasi). Menurutnya, dalam naskah Waiting For Godot yang disebut Martin Esslin sebagai “Theatre of The Absurd”, di mana situasi koherensi atas sebab akibat, aksi-reaksi, kebulatan karakter manusia, narasi linear (awal-akhir) dan makna bahasa hilang. Banyak adegan diam, intruksi bergerak ke kanan-ke samping, mundur 3 langkah, bahasa yang tidak bermakna, yang membuatnya berfikir kembali dan bertanya, apa sebenarnya tubuh pantomime itu?

Selain berkarya melalui naskah dan tulisan orang, BMT lebih banyak berkarya dengan ide, naskah atau puisi sendiri yang ditulis oleh anggota kolektif. Hal ini misalnya pada karya Langkah-langkah (2004), Romantika Daun Pisang (2005), Aku Malas Pulang ke Rumah (2008-2009), Putri Embun dan Pangeran Bintang, Epos Mini Perkakas Rumah Tangga (2010). Sebelum pindah ke kunjungan lain, Asita menyuguhkan kami sebuah pertunjukan kecil.

Bus kemudian membawa kami ke Yogya Museum untuk mengunjungi Biennale Equator #4, yaitu proyek Biennale Jogja (Yayasan Biennale Yogyakarta) seri Ekuator (Biennale Ekuator-BE) yang berfokus pada kawasan ekuator atau khatulistiwa untuk merumuskan kembali medan seni rupa global. Setelah India (2011), negara di kawasan Arab (2013), Nigeria/Afrika (2017), kini Brazil. Di dalam Yogya Museum kami berpencar hingga jam makan siang, menuruti minat masing-masing. Ada yang sambil mencatat dan mendokumentasikan atau sekedar berfoto selfie di depan karya. Setelah makan, kami kembali ke bus untuk menuju ke studio Pappermoon Puppet Theater (PPT) yang terletak di desa Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Di sana telah menunggu Iwan Effendi (perupa), salah satu pendirinya. Ketika sampai, selain Iwan kami juga disambut dengan berbagai koleksi boneka, alat-alat kerja yang digunakan ketika proses produksi sampai pertunjukan.

Iwan mendirikan Pappermoon Puppet Theater pada 2006 bersama istrinya, Maria Tri Sulistyani atau lebih dikenal dengan nama Ria Pappermoon (illustrator, penulis, dan mantan aktor teater realis di Gardanala). Iwan kemudian menuturkan bagaimana sejarah besar (seperti tragedi 65) di PPT sangat personal dan punya dimensi yang menyenangkan. PPT menggunakan logika kerja animasi sebagai logika penciptaannya. Jadi, PPT selalu menggunakan story board supaya pertunjukannya seperti membuat gambar.

Kunjungan Ke Pappermoon Puppet Theater | Foto: Dokumentasi IDF

Kunjungan Ke Pappermoon Puppet Theater | Foto: Dokumentasi IDF

Boneka di PPT juga mempunyai kekhasan di dalam ekspresi wajahnya yakni seperti sedang melamun. Iwan menyebutnya dengan tatapan periferal untuk membuka ruang ekspresi yang lebih luas dan dinamis dalam setiap kebutuhan gesturnya. Boneka-bonekanya kerap dibuat dan dikerjakan di dalam pencahayaan seperti di dalam pertunjukan. Selain aspek visual, yang perlu dikenali sebagai prinsip adalah, meskipun mempunyai tubuh dan digerakan pemain, boneka yang dibuat selalu ada missing point, jadi tidak bisa realis. Gesturnya tidak akan detail, karena ditentukan oleh setiap perubahan gestur dari engselnya. Tapi secara yakin Iwan mengatakan, bahwa di dalam pertunjukan teater boneka, ketika sekali penonton sudah percaya boneka yang dilihatnya hidup, walaupun kita meletakannya sebagai benda mati begitu saja, penonton akan terus percaya dia hidup sampai pertunjukan berakhir. Itu adalah kerja dari konsep segi tiga antara aktor/pemain, boneka dan penonton. Pemain adalah teman baik si boneka. Beberapa menit menjelang pamitan, Iwan mempersilahkan kami untuk mencoba memainkan beberapa koleksi bonekanya.

Terakhir, kami mengunjungi Rumah Seni Cemeti. Linda Agnesia yang juga adalah tuan rumah menjelaskan apa itu Rumah Seni Cemeti dan sekaligus memperkenalkan Mella Jaarsma yang juga salah satu pendiri Cemeti. Mella menerangkan ketertarikannya bekerja dengan kostum, yang dimulai sejak 1998. Menurutnya, lapis-lapis pakaian yang kita pakai berhubungan dengan identitas kita. Mella selalu menggunakan modus presentasi yang berbeda-beda untuk isu di dalam karyanya. Misalnya ada yang dipresentasikan secara interaktif atau spesifik baik dari segi tempat atau pun komunitas. Pilihan-pilihan ini juga berhubungan dengan pilihan material yang digunakan, seperti katak pada karya Pribumi-Pribumi dan Hi Inlander (1998-1999) dimana pada waktu itu terjadi kekerasan yang disebabkan oleh isu etnis/ras. Awalnya Mella tidak berani untuk melakukan sesuatu karena sadar dirinya yang bukan orang Indonesia. Tapi karena ini sudah menyangkut isu perihal identitas, dia memutusakan untuk ikut turun ke jalan.  Sebagai orang Belanda yang tinggal lama dan berkesenian di Indonesia, Mella menyadari bahwa cara pandannya atas Indonesia berbeda. Jadi, ada kerja ulang-alik antara menjadi insider dan outsider.

Berdiskusi Bersama Mella Jaarsma di Rumah Seni Cemeti | Foto: Dokumentasi IDF

Berdiskusi Bersama Mella Jaarsma di Rumah Seni Cemeti | Foto: Dokumentasi IDF

Menjelang pukul 9 malam, kami kembali ke Gunung Kidul. Beberapa peserta memang masih ada yang terus berdiskusi dengan Mella meskipun sebenarnya forum sudah ditutup sebelumnya. Tapi kami tetap harus pulang karena perlu istirahat dan persiapan untuk workshop esok hari. Sebagai oleh-oleh dan mencoba menebus ketidakcukupan waktu, Linda membagikan buku-buku terbitan Rumah Seni Cemeti kepada peserta. Setelah itu kamu pun melangkah ke bus, kembali ke Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul, makan malam kemudian tidur, mengumpulkan energi untuk hari terakhir workshop esok hari.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

1

DARI LOKAKARYA TARI/KOREOGRAFER AKADEMI IDF: JAWABAN, TARI RANTAK DAN JOGED AMERTA

Seperti biasa, pada hari ketiga workshop (5/11), peserta pemanasan sebelum masuk sesi pemateri. Ayu yang kebagian jadi instruktur kali ini memilih huruf D dari alphabet, dengan turunannya (D)angdut. Musik dinyalakan, peserta kemudian bergoyang dan bergerak pada beberapa variasi pemanasan gaya Ayu di dalam musik dangdut kekinian. Peserta mengaku selain berkeringat dan lentur kembali, mereka juga menjadi rileks dan senang.

Sesi 20 pertanyaan Wen-Chi di dalam tari dilanjutkan selesai sarapan pagi. Pertanyaan yang dibahas kali ini adalah, “seberapa Pentingkah bagimu pentas di atas panggung? Sebagai manusia dan penari/koreografer kamu punya pertanyaan tidak, apa pertanyaan besarmu? Bagaimana kualitas penari yang baik itu? Bagaimana koreoragfer yang berkualitas baik itu?” Melalui pertanyaan tersebut, perserta dibawa dalam ruang diskursif yang di setiap jawabannya mempunyai pantulan satu sama lain. Sedangkan Wen-Chi, sesuai dengan penjelasanya, memposisikan diri bukan untuk menjawab. Ia hanya memberi pemahaman bahwa selama peserta ada di dalam ranah tari, pertanyaan besar setiap peserta itu penting. Dan alangkah lebih baik bila pertanyaan dan jawaban seperti itu dibagi bersama.

Para Peserta Workshop Membaca Tulisan Perihal Joged Amerta | Foto: Dokumentasi IDF

Para Peserta Workshop Membaca Tulisan Perihal Joged Amerta | Foto: Dokumentasi IDF

Menjelang makan siang, setelah sesi Wen-Chi, peserta diberikan tulisan dari Matthew Isaac Cohen, “Suprapto Suryodarmo: Ritual Seni Dalam Luar Dalam, terbitan Royal Holloway, University of London, terjemahan Helly Minarti. Cohen melakukan riset sambil belajar praktik gerak dengan Suprapto Suryodarmo. Tulisan Cohen ini dianggap sebagai salah satu tulisan yang efektif dalam membawa pemahaman peserta pada Joged Amerta yang diberikan Prapto dalam setiap sesi workshopnya ini. Tulisan-tulisan baik dalam bentuk artikel atau pun buku mengenai Joged Amerta dan Suprapto Suryodarmo beredar di Jerman, Inggris, dan negara-negara lain di seluruh dunia. Tulisan yang beredar tersebut bukan ditulis oleh Suprapto sendiri, tapi oleh para peserta workshop yang mengundangnya. Tidak hanya dari disiplin tari, peserta workshopnya yang berasal dari latar belakang yang berbeda; arsitektur, musik, teater, terapis, guru, orang awam, dll.  Salah satu buku tentangnya, Embodied Lives, ditulis 30 murid atau praktisi dari Indonesia, Amerika Utara dan Selatan, serta Australia.

Salah Satu Moment Pada Sesi Da Ben | Foto: Dokumentasi IDF

Salah Satu Moment Pada Sesi Da Ben | Foto: Dokumentasi IDF

Karena di hari kedua, pada sesi Da Ben, muncul nama Tari Rantak dalam presentasi riset Helly Minarti tentang Gumarang Sakti, siang itu Da Ben menawarkan Tari Rantak sebagai salah satu pilihan materi kepada peserta. Da Ben menjelaskan bahwa Tari Rantak yang beberapa peserta mungkin pernah pelajari di kampus masing-masing sudah banyak dimodifikasi. Tari Rantak dibuat Gusmiati Suid bersama penari-penarinya di Gumarang Sakti yang juga mengalami beberapa perubahan sampai menjelang Gusmiati Suid wafat. Perubahan sebelum Gusmiati Suid wafat, Tari Rantak dibuat dengan lebih banyak unsur silek.  Da Ben memberi salah satu bagian di dalam Tari Rantak dan juga menjelaskan prinsip gerak Gelek di dalamnya. Jadi, selain gerak gonyek yang sudah dijelaskan di sesi sebelumnya, Da Ben menjelaskan gerak Gelek, yakni gerak menghindar. Gonyek dan Gelek merupakan dua gerakan yang menjadi prinsip utama di dalam silek.

Sore hari, peserta berkumpul untuk tanya jawab dengan Suprapto tentang Joged Amerta berbekalkan bacaan siang tadi. Prapto bertutur bahwa Joged Amerta dilahirkan dengan penuh liku. Tapi latar belakangnya adalah ketika dirinya punya cita-cita jadi penari, tapi juga ingin masuk di panembahan. Tertarik pada dunia spritualitas Jawa, tapi pada sisi lain tidak cocok dalam tari tradisi. Tapi pada waktu itu juga belum ada tari modern, selain Sardono. Sardono sendiri berkembang dari tari tradisi. Prapto kemudian memutuskan untuk mencari jalan latihan sendiri, dengan ide-ide bentuk gerak dalam kehidupan sehari-hari; duduk, terlentang, ngolet, loncat, melayang dan dengan perubahan-perubahannya. Gerak-gerak ini diletakkan dalam ruang dan watu yang berbeda-beda, melihat perubahan tubuh yang berbeda.

Para Peserta Berdiskusi Bersama Suprapto | Foto: Dokumentasi IDF

Para Peserta Berdiskusi Bersama Suprapto | Foto: Dokumentasi IDF

Dari momen tersebut Prapto agak ‘miring’ sedikit, kemudian latihan meditasi yang menghasilkan pertanyaan: apa saya ingin menjadi seniman panggung, atau ke dunia yang sifatnya panembahan (religiostias)? Prapto tidak mau ke ranah spiritualitas karena cenderung ke perdukunan (spirit: roh). Menurutnya, yang penting adalah rasa ketuhanan. Di titik inilah, Joged Amerta menemukan jalannya dan diminati di tingkat global sampai saat ini. Prapto mengatakan proses ini dimulai tahun 1970.

Malam harinya, peserta berkumpul di tengah hujan dan ketiadaan listrik sambil berbincang mengenai perbedaan akademi IDF dan akademi di kampus seni seperti yang diusulkan Suprapto.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

1b

Dari Lokakarya Tari/Koreografer Akademi IDF: Tetumbuhan, Raso, dan 20 Pertanyaan di dalam Tari/Koreografi

Menjelang pagi hari kedua lokakarya, tepatnya jam 5, lebih dalam lagi dengan Joged Amerta—yang menurut Matthew Isaac Cohen—memfasilitasi ekspresi diri tak sadar yang masih sadar akan yang lain yang ada secara bersama-sama (co-present), juga lingkungan terdekat dan dunia di mana seseorang hidup. Peserta oleh Suprapto diajak untuk berada di antara tetumbuhan yang ada di kebun Desa Wisata Jelek. Merasakan kehadiran dan perubahan waktu yang terjadi di dalam struktur tubuh peserta dan tetumbuhan, berawal dari nafas, mendengarkan, sampai bergerak dengannya. Percobaan ini dilakukan beberapa kali dan diselingi diskusi.

Suasana Sesi Pagi | Foto: Dokumentasi IDF

Suasana Sesi Pagi | Foto: Dokumentasi IDF

Pagi menjelang siang, setelah pemanasan dan sarapan, Da Ben membagikan pengertian perihal aspek emosi dari pengalaman yang disebutnya sebagai “Raso” (istilah/bahasa Minang yang dipakai Gumarang Sakti) di dalam kepenarian diungkapkan dengan gerakan. Gerakan adalah bahasa, sekumpulan kosa-kata yang dicari kualitas artikulatifnya di dalam dan untuk koreografi.  Da Ben juga memberikan faslafah dasar koreografi Gumarang Sakti yang berasal dari Silek (silat), dengan mengambil aliran Kumango dan Lintau. Pertama, fokus sudut titik pandang dan melahirkannya melalui energi yang tersimpan di setiap bagian tubuh dan mengumpulkannya di mata. Kedua, bergerak dengan gonyek, untuk menumbuhkan kecepatan, menghidupkan tubuh, dan juga rasa menghindar. Gonyek adalah dorongan yang menghentak untuk merangsang energi di dalam tubuh dan mengembalikan setiap fokus kesadaran yang terlupakan karena rutinitas aktifitas sehari-hari.

Suasana Sesi Pagi Menjelang Siang | Foto: Dokumentasi IDF

Suasana Sesi Pagi Menjelang Siang | Foto: Dokumentasi IDF

Siang ke sore, setelah makan siang, Su Wen-Chi memberikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh peserta.  Apa itu penari?  Apa itu koreografer? Pentingkah bagimu pentas di atas panggung?  Siapa penari favoritmu?  Siapa koreografer favoritmu?  Siapa seniman favoritmu?  Sebagai penari dan koreografer kamu pertanyaan tidak, apa itu? Apa itu tari? Kalau kamu merasa sedang gelisah, hilang kamu akan kemana? Bagaimana kualitas penari yang baik itu? Bagaimana koreohragfer yang berkualitas baik itu? Bagaimana pertunjukan yang baik itu? Pertunjukan apa sih yang membuatmu bertanya, apa ini pertinjukan atau bukan? Teknik tari apa yang paling kamu suka? Teknik tari apa yang paling kamu tidak suka? Kualitas teknik gerak apa yangg kamu suka dan terlihat bagus buatmu? Apakah kamu berfikir kamu sudah menemukan gerak khas milikmu?

Tidak sampai di tingkatan jawaban yang tertulis, Wen-Chi meminta peserta untuk mempresentasikan jawabannya. Pertanyaan yang perlu dipresentasikan kali ini, diantaranya: teknik tari apa yang paling kamu suka? teknik tari apa yang paling kamu tidak suka? kualitas teknik gerak apa yang kamu suka dan terlihat bagus buatmu? Peserta bergantian mempresentasikan jawaban satu persatu. Pada akhir setiap presentasi, diadakan tanya jawab. Hampir setiap orang, termasuk Wen-Chi, berkesimpulan bahwa lebih mengenal setiap peserta melalui apa yang mereka presentasikan. Sesi sore ditutup dengan curhat peserta yang difasilitasi tim Akademi IDF atas ekspektasi dan refleksi, apa yang didapat dua hari kurang di dalam workshop ini.

Sesi Siang Ke Sore | Foto: Dokumentasi IDF

Sesi Siang Ke Sore | Foto: Dokumentasi IDF

Pada malam harinya, peserta menyaksikan arsip video karya koreografi pertama Da Ben (1994), “Bakutiko”, dan karya Gusmiati Suid, “Api Dalam Sekam (1998)”, di mana Da Ben menjadi salah satu penarinya. Kemudian listrik mati ketika setengah jalan video “Api Dalam Sekam”.  Tapi sesi malam tetap dilanjutkan dengan mendiskusikan sejarah kepenarian Da Ben di Gumarang Sakti, serta sejarah pendekatan dan habitus proses di Gumarang Sakti sebagai salah satu titik sejarah tari modern di Indonesia. Diskusi ini demi membawa peserta ke dalam pembacaan konteks-konteks yang melatar-belakangi setiap karya tari.*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

baru-2

Dari Lokakarya Tari/ Koreografi Akademi IDF: Pembukaan dan Hari Pertama

Orang berdatangan ke Desa Wisata Jelok, Gunung Kidul. Mereka adalah peserta, pemateri dan tim Akademi IDF. Mereka akan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan selama 7 hari (2-8 November 2017) ke depan dalam Lokakarya Tari/ Koreografi Akademi IDF. Setelah semua mendapati waktu dan tempat beristirahat, malamnya berkumpullah semuanya di Omag Glugu, pusat pertemuan selama workshop. Sebelum sesi perkenalan, Helly Minarti menjelaskan prinsip workshop kali ini yang berbeda dengan workshop kepenarian sebelumnya. Kali ini, workshop dirancang khusus untuk penari yang juga aktif mengkoreografi dan memberi tantangan petualangan tari di luar pendidikan tari. Selain mencicipi praktik setiap pemateri, peserta juga dilengkapi oleh pembacaan mendalam tentang teks-teks kunci yang dapat memancing diskusi tentang sejarah dan praktik tari serta koreografi dari berbagai konteks. Serangkaian teknik gerak atau teknik tari disusun secara alfabetis dan diberikan kepada peserta untuk dipilih setiap paginya sebagai pintu masuk pemanasan tubuh.

Tapi meskipun berbeda, pemateri workshop tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Workshop ini melibatkan kembali Benny Krisnawardi (Padang-Jakarta), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Su Wen-Chi (Taiwan). Tujuannya agar bisa melihat kontinuitas. Sedangkan Tim Akademi IDF (kuratorial) terdiri dari Helly Minarti (Jakarta), Linda Agnesia (Yogya), Nia Agustina (Yogya) dan saya sendiri (Taufik Darwis – Bandung. Tim Akademi IDF akan memfasilitasi dan berbagi topik yang akan didiskusikan baik yang berasal dari praktik selama workshop atau pun bahan bacaan dari hasil riset yang mereka kerjakan. Peserta worshop kali ini terdiri dari 9 orang penari – koreografer, yaitu Ayu (Lampung-Yogya), Tyoba (Solo-Bandung), Dhila (Batusangkar), Echa (Berau-Yogya), Raka (Cirebon-Bandung), Aero (Ponorogo-Yogya), Silvi (Yogya), Gusbang (Bali-Yogya), dan Enchi (Toraja-Jakarta).

 

Hari pertama: Tuning

Hari pertama, 3 November, sudah padat saja. Setelah pemanasan dan sarapan, peserta masuk dalam sesi pertama oleh Suprapto. Olehnya, peserta diajak mengenal dan memahami konsep “tuning” sebagai salah satu cara untuk menyesuaikan tubuh dengan jiwa dan dengan kondisi lingkungan. Prapto mengumpakan seperti kita mengucapkan salam: asallamulaikum, omswastiastu dan lain-lain.

Suprapto dan Helly Minarti | Foto: Dokumentasi IDF

Suprapto dan Helly Minarti | Foto: Dokumentasi IDF

Menurutnya, setiap ruang ada penghuninya, bukan setan atau jin tentu saja, melainkan sebagai ruang komunikasi dengan setiap entitas yang hadir di waktu dan ruang/tempat tertentu. Maka dari itu, setiap orang, dalam konteks sebagai penari-koreografer, membutuhkan latihan untuk “re-member”, menjadi anggota kembali dari pernafasan langit, bumi, dsb. Bukan juga latihan pernafasan, tapi menghayati pernafasan dengan tubuh, mengingat kembali bahwa kita bernafas. Tujuannya agar bisa lebih terang merasakan energi, cahaya, struktur, kontur di setiap ruang/tempat. Peserta diajak untuk berjalan, melihat ke luar dan ke dalam.

Menurut Prapto, hal ini dilakukan agar ketika mau memulai sesuatu proses, kita berangkat dari keberadaan kita, bukan dari pikiran kita. “Kamu merasa kamu di dalam kaos kamu enggak?” begitu tanyanya pada para peserta. Selain itu, latihan ini juga bertujuan untuk membalikan kecenderungan cepat-cepat melakukan kerja aksi-reaksi di dalam praktik tari. Menurutnya sebelum melakukan aksi reaksi, kita perlu menerima ruang/tempat dan waktu terlebih dahulu.

 

Wacana Modernisme di Tari

Sebelum istirahat makan siang dan Jum’at an, workshop dilanjutkan dengan presentasi riset saya terhadap Meta-Ekologinya Sardono W. Kusumo. Riset ini dilakukan melalui penggalian arsip media massa dan wawancara terhadap salah satu pelaku dan saksi di dalam proses Meta-Ekologi. Meta-ekologi dipentaskan di areal tanah seluas 40 x 35 meter di Teater Halaman, TIM, pada 12-15 Oktober 1979. Dipresentasikan di dalam kolam lumpur atau sawah (artifisial) setiap harinya pada pagi hari (10.00 WIB), sore (16.30 WIB) dan malam (20.00 WIB). Riset ini bertumpu pada perbedaan perspektif tanggapan Ikra Nagara dan Edy Sedyawati terhadap Meta-Ekologi. Keduanya sama-sama membadingkannya dengan pertunjukan Alwin Nicolais, seniman (Tari-Teater) dari AS. Karya Alwin Nicolais menekankan aspek visual dari tubuh sebagai objek dan tubuh objek di dalam karyanya.

Presentasi ini bertujuan memancing pemahaman dan diskusi tentang konteks historis—baik pada issue politik maupun artistic. Selain itu juga perihal biografi Sardono yang membentuk wacana modernisme tari di Indonesia. Konteks ini dibaca sebagai yang turut membentuk medan tari saat ini, bahwa medan ketubuhan pada tari mempunyai sejarahnya.

 

Bertanya dan Camera Obscura (Teknologi)

Sebelum diajak mencicipi praktik Su Wen-Chi, dia memperkenalkan kesejarahan praktik artistiknya. Wen-Chi mendapatkan training tari di Taiwan, lalu bekerja sebagai penari (Kobalt Works) bertahun-tahun di Belgia, dan kembali ke Taiwan. Membentuk kolektif Y-Lab yang menghubungkan praktik koreografi dengan new media art. Peserta lantas diajak untuk berbagi pengalaman menari dan mengkoreografi. Dua praktik ini menurut Wen-Chi berbeda. Pengalaman mengkoreografi selangkah lebih maju. Mengkoreografi menurutnya bekerja dengan pertanyaan. Di mana, pertanyaan-pertanyaan itu tidak terbatas pada hal-hal tentang tari.  Buat Wen-Chi, penari memang punya insting dan kecerdasan fisik. Tetapi, sambungnya, lebih baik lagi jika penari juga punya kemampuan mempertanyakan sesuatu; sebuah kecerdasan mental. Lebih bagus lagi jika bisa mengkombinasikan keduanya. Karena tubuh yang cerdas secara fisik pasti menggiring pertanyaan-pertanyaan yang dikirimkan ke dalam aspek mental/pikiran masing-masing.

Salah satu moment pada sesi Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Salah satu moment pada sesi Su Wen-Chi | Foto: Dokumentasi IDF

Selesai sesi sharing, peserta diajak untuk membuat camera obscura dari kertas. Nantinya, kamera ini menjadi semacam alat yang logikanya dipakai untuk mengantarkan peserta memahami bagaimana logika teknologi bekerja di dalam dan untuk koreografi. Wen-Chi pun mengajak peserta untuk mensimulasikan logika tersebut. Setelah satu setengah jam berlalu, peserta diajak berdiskusi dan sharing pengalaman dengan camera obscura tadi. Wen-Chi kemudian menjelaskan alasan kenapa dia bekerja dengan teknologi. Baginya, teknologi adalah semua hal tentang bagaimana koneksi dan komunikasi. Di sekeliling kita tidak hanya ada manusia. Ada juga tanda-tanda dari teknologi dan teknologi tidak berada di luar hubungan koneksi dan komunikasi antar manusia. Teknologi juga mengubah cara bekerja ketubuhan kita. Logika media bekerja dalam lingkungan sehari-hari.

Malam harinya, peserta diajak menonton dan mendiskusikan praktik kepenarian dan koreografi Su Wen-Chi melalui dokumentasi video. Dokumentasi yang ditonton adalah dokumentasi ketika Wen-Chi menjadi penari di Belgia dalam karya Kobalt Works, “Heroin” dan dua karya koreografinya, yaitu “Remove Me” dan “Loop Me”.  Sesi ini berusaha menjawabi pentanyaan spesifik peserta pada praktik Su Wen-Chi seperti: apa sih new media art itu? Bagaimana identitas dikonstruksi lewat teknologi? Apakah teknologi di dunia ini adalah sesuatu yang baru? Bagaimana pendapat teman-teman tentang penggabungan seni atau dengan media lain? Wen-Chi bekerja mulai dari mana, apa dari ide, eksplorasi dulu?*** (Laporan oleh Taufik Darwis)

Untitled

Eko Supriyanto Tampil di SPRING Festival, Belanda

Koreografer Indonesia yang berdomisili di Solo, Eko Supriyanto, tampil pada 23 Mei dan 24 Mei di Spring Festival, Utrecht, Belanda. Eko menampilkan karya bertajuk Balabala. Karya ini sesungguhnya masih merupakan rangkaian dari karya Eko Supriyanto yang terinspirasi dari daerah Jailolo, Maluku Utara. Pada Balabala, lima penari perempuan muda daerah Jailolo akan menyuarakan perihal kerentanan perempuan di dalam komunitas masyarakat mereka.

Sebelum Balabala, Eko Supriyanto telah menciptakan Cry Jailolo yang ditampilkan pada Indonesian Dance Festival 2014. Jika pada Balabala yang tampil adalah penari perempuan, pada Cry Jailolo koreografer yang juga mengajar di ISI Surakarta ini menampilkan enam penari muda lelaki dari Jailolo. Selain Eko, tampil juga pada SPRING Festival duo Tian Rotteveel (Belanda) dan Darlane Litaay (Indonesia – Papua) yang tampil juga pada Indonesian Dance Festival 2016 yang lalu.

Poster SPRING Festival 2017

SPRING Festival sendiri memang sebuah festival yang masih berusia muda. Namun demikian, festival ini sebenarnya punya sejarah yang panjang. Ia merupakan hasil dari penyatuan dua festival penting di Belanda sebelumnya yakni Springdance dan Festival a/d Werf. Pada 18 – 27 Mei ini SPRING Festival yang kelima diadakan.

Festival ini berkonsentrasi pada tari dan teater, terkhusus pada seniman yang berani mengambil resiko dan bekerja secara lintas genre. Selain mengambil tempat di ruang-ruang pertunjukan teater konvensional, SPRING Festival pun hadir di ruang-ruang publik yang tak diduga-duga.

 

Silahkan klik SPRING Festival untuk informasi lebih lanjut!***

specific-places-need-specific-dances-darlane-litaay-indonesia-tian-rotteveel-belanda-inggris

[Trailer] Specific Places Need Specific Dances – Darlane Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda-Jerman)

Indonesian Dance Festival 2016: Tubuh Sonik – Main Performance

Kamis, 3 November 2016 pukul 16.00 – 17.30
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Specific Places Need Specific Dances adalah sebuah karya yang berangkat dari praktik menunggu. Dapatkah menunggu menjadi sebuah karya seni? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat karya yang berdurasi 55 menit ini.”

 

idf-2016-web-pic

Indonesian Dance Festival 2016: TUBUH SONIK

Siaran Pers

 

Sebuah festival tari internasional bertajuk Indonesian Dance Festival (IDF) akan digelar kembali pada 1-5 November 2016 di lima venue yakni Teater Jakarta, Graha Bhakti Budaya, dan Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Jakarta. Pada 2016 ini, IDF memasuki tahun ke-24 dan akan diisi dengan berbagai mata acara. Di antaranya, Pre-Opening pada 30 Oktober 2016 di Hutan Kota Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang akan menampilkan pertunjukan tari karya Jefriandi Usman dan teater-tari karya Abdullah Wong. Kemudian pada acara pembukaan festival akan ditampilkan karya Melati Suryodarmo di Teater Jakarta, TIM.

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Foto Dokumentasi Suluk Sungai Karya Abdullah Wong

Para penampil lainnya adalah Park Je Chun (Korea Selatan), Antony Hamilton (Australia), Aguibou Bougobali Sanou (Burkina Faso), Filastine (Spanyol-Indonesia), Punkasila & Fitri Setyaningsih  (Indonesia), Fitri Anggraini (Indonesia), Andara Firman Moeis (Indonesia), Ari Ersandi (Indonesia), Rianto (Indonesia), Nihayah (Indonesia), Darlene Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda),  dan Jecko Siompo & Animal Pop Family (Indonesia). Park Je Chun akan tampil bersama tiga penari asal Korea Selatan dan empat penari dari Indonesia yakni Hari Ghulur (Surabaya), Fadila Oziana (Batusangkar), Try Anggara (Jakarta), dan Josh Marcy (Jakarta).

Secara khusus, pada IDF 2016 juga akan hadir Program Retrospeksi tentang Hoerijah Adam, seorang tokoh pembaharu tari Minangkabau (1936-1971). Retrospeksi ini akan diisi dengan film screening tentang karya dan perjalanan hidup Hoerijah Adam, Playing Barabah, yang direkonstruksi oleh Katia Engel (Jerman) dan akan dipadukan dengan pertunjukan tari oleh Sentot Sudiharto (Indonesia). Selain itu akan dihadirkan pula pameran arsip Hoerijah Adam dan presentasi Barabah oleh SMKN 7 Padang di bawah bimbingan Ery Mefri.

Selain pertunjukan tari juga akan digelar workshop penulisan kritik tari dalam perspektif jurnalistik, master class yang diberikan oleh para koreografer dan seniman berpengalaman, diskusi, dan lokakarya untuk para koreografer muda, serta pemberian penghargaan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan tari di Indonesia.

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Suasana Diskusi Bersama Koreografer Muda Potensial pada IDF 2014

Indonesian Dance Festival (IDF) adalah satu-satunya festival tari kontemporer di Indonesia yang diadakan secara kontinyu setiap dua tahun sekali. IDF didirikan pada tahun 1992 oleh beberapa tokoh dan akademisi tari terkemuka Indonesia, sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Setelah itu, IDF—yang kini digawangi oleh Maria Darmaningsih selaku Direktur Program, Nungki Kusumastuti sebagai Direktur Keuangan, dan Melina Surja Dewi selaku Direktur Administrasi—berkembang menjadi festival tari berskala internasional yang tertua di Indonesia.

Seluruh program pada IDF 2016 ini didesain oleh kurator yang terdiri dari Helly Minarti (Indonesia), Tang Fu Kuen (Singapura), dan Seno Joko Suyono (Indonesia). Ketiga kurator dibantu oleh tiga asisten kurator—Taufik Darwis, Nia Agustina, dan Agnesia Linda—lulusan Workshop Kuratorial Tari yang diselenggarakan oleh IDF pada November 2015.

Tema IDF 2016 adalah Tubuh Sonik. Dengan tema ini, IDF 2016 hendak membicarakan segala kemungkinan perwujudan artistik yang merujuk pada tubuh manusia bersama gelombang suara di berbagai ruang dan dimensi-dimensinya yang saling berinterferensi satu sama lain. Dalam setiap ruang dan konteks tempatnya berada, tubuh manusia dapat menjadi pusat interferensi sekaligus memancarkan gelombang sebagaimana suara yang dapat menjelajah ke mana saja, merasuk ke berbagai dimensi untuk kemudian menemukan dirinya yang baru.

IDF adalah sebuah festival tari yang diselenggarakan untuk mendorong kreativitas seniman tari sekaligus sebagai event tetap agar masyarakat umum dapat menikmati karya-karya tari kontemporar koreografer Indonesia dan dunia terkini. Dalam konteks Indonesia dengan kekayaan budaya berikut latar sosial dan tradisi yang sangat beragam, IDF diharapkan menjadi wahana pertemuan kreatif berbasis pengalaman trans-kultural sebagai proses pembelajaran bagi semua orang untuk menjelajahi, menyelami, dan membuka diri terhadap segala perbedaan guna membangun saling pengertian yang lebih mendalam. Melalui tari, IDF hendak mengajak masyarakat agar menyelami dan memahami keragaman sehingga dapat lebih memahami diri sendiri bersama orang lain. Hal ini semakin terasa penting dalam situasi di mana penghargaan terhadap keragaman terasa semakin berkurang.

IDF 2016 TUBUH SONIK terselenggara atas dukungan dari Pemda DKI, Bekraf, Kemenpar, Bank Mandiri, Djarum Bakti Budaya, Institut Français d’Indonésie, Japan Foundation, Kedutaan Besar Australia, dll.***

 

 

Contact Person:

Maria Darmaningsih (Direktur Program): 081311152057.
Nungki Kusumastuti (Direktur Keuangan): 0816859519.
Iqbal (Media Relation): 081285540750.

cover

Hari Kelima (Penutup) Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Hasil dari sesi sharing hari keempat Workshop Riset Artistik IDF Akademi memutuskan untuk memberi kesempatan kepada para peserta memilih kegiatan apa yang perlu dilakukan di hari kelima. Muncullah empat hal yang ingin dilakukan yakni pertama mencoba ke luar dari zona nyaman dan membuat sebuah karya baru di hari itu juga, kedua memperdalam salah satu materi workshop, ketiga mempresentasikan karya-karya yang telah dibuat untuk mendapatkan masukan dan tanggapan, serta yang keempat memperdalam cara menyiapkan konsep karya yang sistematis.

Sesi Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Namun, sebelum masuk ke sesi itu, Nindityo Adipurnomo melanjutkan penjelasan perihal zona nyaman vs zona tak nyaman yang belum selesai di hari sebelumnya. Menurut Nindityo, idealnya sesi itu dilakukan di luar ruangan, peserta benar-benar berada di tengah aktivitas masyarakat. Tetapi hal itu tak bisa dilakukan karena satu dan lain hal sehingga dipaparkan saja seperti pemaparan di kelas. Dalam pemaparannya, Nindityo menegaskan bahwa riset artistik yang dikerjakan seorang seniman berlangsung dan senantiasa beririsan dengan permasalahan sosial. Berbeda dengan riset-riset di disiplin ilmu yang lain, di dalam riset artistik, seorang seniman juga bekerja dalam naungan ketidaksadaran. Ketidaksadaran ini bisa nampak di permukaan melalui  pengalaman, gairah, dan hasrat-hasrat individu masing-masing seniman.

Nindityo Adipurnomo Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Nindityo Adipurnomo Sedang Membawakan Materi | Dokumentasi IDF

Di dalam diskusi setelah penjelasan dari Nindityo, Arco Renz menekankan pentingnya para peserta untuk bisa membedakan antara inspirasi dan riset. Inspirasi adalah sesuatu yang mengilhami sedangkan riset adalah sesuatu yang harus dikerjakan. Sama halnya dengan menari, di mana perlu dibedakan antara menari untuk diri sendiri dan menari untuk publik. Bisa saja seorang penari/koreografer bahagia ketika menarikan karyanya tetapi apakah hal yang sama terjadi pada publik yang menyaksikan?

Setelah sesi tersebut, para peserta membagi diri dalam empat kelompok sesuai dengan empat hal yang ingin dilakukan mereka di hari tersebut. Jumlah anggota di setiap kelompok berbeda-beda karena peserta memang memilih berdasarkan kebutuhan mereka sendiri. Kelompok tiga adalah kelompok dengan anggota terbanyak. Rupanya mayoritas peserta memang ingin mendapatkan masukan dan tanggapan untuk karya-karya mereka. Masukan itu nantinya diasumsikan bisa menjadi bekal bagi mereka untuk mengembangkan karyanya masing-masing.

Diskusi Kelompok Empat Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Diskusi Kelompok Empat Bersama Joned Suryatmoko | Dokumentasi IDF

Keempat mentor pun dipersilahkan untuk memilih hendak bekerja di kelompok yang mana. Arco Renz memilih kelompok ketiga; menonton karya-karya peserta dan memfasilitasi diskusi di dalam kelompok tersebut. Nindityo Adipurnomo memilih untuk bekerja dengan kelompok pertama yang hendak ke luar dari zona nyaman mereka dan mencoba membuat sebuah karya. Sedangkan Joned Suryatmoko memilih menemani kelompok keempat yang ingin memperdalam cara menyiapkan sebuah konsep karya. Daniel Kok menghabiskan hari itu bersama kelompok kedua yang hendak memperdalam salah satu materi selama workshop.

Proses di setiap kelompok sungguh berbeda-beda. Kelompok pertama menghabiskan separuh waktu mereka untuk berdiskusi lantas mencoba mengeksplorasi perihal mengubah fungsi sebuah benda. Diskusi yang seru terjadi di kelompok ketiga di mana setiap karya ditonton dan didisuksikan dengan mendalam sampai-sampai waktu yang tersedia tidaklah cukup. Sedangkan Joned Suryatmoko berhasil memaksa peserta di kelompok empat untuk berpikir secara sistematis, memformulasikan apa yang dianggap mereka sebagai inspirasi menjadi sebuah konsep karya dan rencana kerja yang lebih jelas dan sistematis. Kelompok kedua bersama Daniel Kok tampak kembali bermain-main dengan gerakan menggambar di atas kertas putih, sebagaimana kita temukan di dalam materi yang dibawakan Daniel sebelumnya.

Proses Kelompok Dua Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Proses Kelompok Dua Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sore harinya, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan apa yang mereka dapatkan di dalam kelompok masing-masing. Kelompok pertama lantas mengajak peserta untuk menyaksikan eksplorasi mereka atas kursi dan meja di dalam kolam renang. Galih Mahara dan David Putra Yuda, anggota kelompok ini, berusaha menguasai kursi dan meja yang jika berada di dalam air sesungguhnya kehilangan fungsi mereka yang sebenarnya. Selanjutnya, Ayu Permatasari dari kelompok ketiga lantas dipilih untuk menunjukkan dokumentasi karyanya sebagai perwakilan dari kelompok kepada semua yang hadir. Semua yang hadir dipersilahkan untuk menanggapi karya Ayu tersebut. Diskusi yang menarik pun terjadi. Ari Ersandi dan Fitri Anggraini dari kelompok dua menyuguhkan eksplorasi mereka atas kertas, benang, video, serta seekor kucing. Hadirin disuguhkan beberapa tawaran tontonan; Fitri dan Ari yang bergerak-gerak, kucing yang terlilit benang sembari mencoba memakan remah-remah kue, dan juga ‘video realtime’ yang ditembakkan ke layar putih. Aktivitas malam itu ditutup dengan pemaparan konsep karya dari tiga anggota kelompok empat; Galih Puspita Karti, Otniel Tasman, dan Ferry.

Kegiatan hari kelima itu ditutup dengan evaluasi bersama antara peserta, pemateri, dan panitia. Kekurangan pada penyelenggaraan tentu saja ada. Hal ini sangat tampak misalnya pada waktu yang begitu singkat untuk pemaparan materi yang tergolong berat. Namun, tentu saja sebuah workshop tidak secara otomatis membuat seseorang bisa melakukan riset artistik dengan baik. Masih banyak kerja yang perlu dilakukan; berkesenian yang serius dan terus menerus tanpa takut melakukan kesalahan. Setelah sesi evaluasi, peserta dan mentor secara spontan mengisi waktu yang tersisa; seakan tak mau menyia-nyiakan waktu begitu saja. Karaoke bersama sederhana pun terjadi dilanjutkan dengan wisata malam dadakan ke jantung Kota Malang. Betapa tidak. Esok hari, 27 Juli, mereka akan berpisah dan meninggalkan tempat workshop dengan jadwal berbeda-beda.

“Selamat berpisah, sampai berjumpa di waktu dan kesempatan yang lebih baik.”***

cover

Hari Keempat Workshop Riset Artistik IDF Akademi

Hari keempat Workshop Riset Artistik diisi oleh pemateri Daniel Kok dan Nindityo Adipurnomo. Sesi pagi diisi oleh Daniel sedangkan Nindityo mengisi sesi setelah makan siang. Seperti biasa, workshop diakhiri dengan sesi sharing antar peserta yang dipandu oleh Nia Agustina.

Daniel pada hari keempat workshop ini membagikan beberapa teknik yang selama ini menjadi bagian dari kerja-kerjanya kepada para peserta dan mengajak mereka untuk mencicipinya. Selain itu, Daniel pun mengajak peserta untuk menyerapi dan memperdalam perihal intensitas gerak. Ia memperagakan dan mengajak peserta untuk melakukan gerakan tari sesuai dengan basik gerak mereka masing-masing namun dengan lima intensitas yang berbeda yakni dengan intensitas rendah, lemah lembut, sehari-hari, kuat dan ekstrim.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Setelah beberapa saat peserta mempraktekannya, Daniel mengajak mereka untuk berbagi apa yang dirasakan ketika melakukan hal tersebut. Banyak dari antara para peserta yang merasa bahwa mereka ‘dipaksa’ untuk ke luar dari kebiasaan gerak mereka selama ini. Ada yang selama ini terbiasa dengan gerak-gerak yang tegas dengan intensitas yang ekstrim, ternyata justru menemukan kenyamanan ketika bergerak di dalam intensitas yang lembut dan lemah lembut.

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Daniel Kok | Dokumentasi IDF

Setelah itu, Daniel mengajak peserta mengalami sesuatu yang berbeda lagi. Ketika tadi hanya tubuh mereka yang bergerak dengan intensitas tertentu, kini mereka harus bergerak dengan intensitas terhadap ‘alat bantu’ tertentu. Daniel menggunakan kertas dan krayon serta benang. Peserta dibagi di dalam dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan alat bantu kertas dan krayon sedangkan kelompok kedua menggunakan benang. Peserta pada kelompok pertama bergerak menggambar di atas kertas mengikuti irama musik sedangkan kelompok kedua bergerak dengan intensitas yang tertuju pada benang yang ada di tangan masing-masing.

Memasuki sesi siang, Nindityo Adipurnomo menegaskan bahwa sesi ini adalah sesi yang sengaja dirancang untuk mengajak peserta untuk berpikir. Nindityo berusaha untuk masuk kepada salah satu perihal penting dalam cara kerja seorang seniman dan riset artistik yakni perihal zona nyaman dan zona tidak nyaman. Sesi siang itu membuat dahi para peserta berkerut. Pasalnya, Nindityo memaksa mereka untuk menuliskan lima bahan yang sering mereka gunakan di dalam kerja-kerja seni mereka sebagai koreografer. Sesungguhnya hal ini merupakan pekerjaan rumah para peserta karena Nindityo sudah meminta itu sejak sesinya pada hari hari kedua.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Ketika menuliskan dan menjelaskan perihal lima bahan utama itu tampaklah bahwa belum semua peserta bisa membedakan antara ‘bahan’ dan ‘alat’ dalam bekerja. Sehingga waktu cukup banyak dipakai oleh Nindityo untuk mengelaborasi lebih lanjut bersama peserta perihal bahan itu. Setelah setidaknya sudah cukup aman di ranah pembedaan antara ‘bahan’ dan ‘alat’, peserta diajaknya lagi untuk mencari asosiasi dari ‘bahan’ yang menurut mereka paling kuat. Di tingkat ini, belum banyak juga peserta yang bisa menemukan asosiasi dari bahan itu yang cukup tepat. Elaborasi lebih lanjut dari Nindityo akhirnya bisa membuka mata para peserta perihal itu. Menutupi sesi tersebut, Nindityo Adipurnomo mengatakan bahwa pada sesi tersebut ternyata cukup sulit juga merumuskan perihal zona nyaman dari masing-masing peserta. Padahal, harapannya adalah sesi ini bisa menyelesaikan perihal zona nyaman dan akan sedikit masuk pada gangguan perihal keberanian untuk menyeberang dari zona nyaman tersebut.

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi Bersama Nindityo Adipurnomo | Dokumentasi IDF

Sesi sharing di hari ini diisi lebih banyak oleh apa yang sebaiknya diisi dengan sesi keesokan harinya, workshop hari kelima. Para mentor meminta peserta untuk coba merumuskan apa yang mereka paling butuhkan untuk diperdalam. Sisa hari dari workshop akan digunakan untuk itu.***