Konvergen: Sebuah Narasi Suara Dari Rimba Penggalian Abib Igal Habibi

Konvergen merupakan bagian dari proyek Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang merupakan salah satu program dari Djarum Foundation yang melibatkan Garin Nugroho dan Eko Supriyanto sebagai mentor. Dari kurang lebih 400 proposal yang sampai ke tangan dua tokoh kesenian ini, dipilihlah 30 proposal terbaik dan kemudian melewati proses pitching hingga terpilih 14 karya yang berkesempatan tampil di Galeri Indonesia Kaya. Karya besutan koreografer muda bernama Abib Igal Habibi ini mengambil Tari Wadian dari suku Dayak, Kalimantan, sebagai inspirasi. Siang itu, sebelum menonton pertunjukan saya membuka beberapa laman virtual yang menceritakan tentang proses Konvergen, apa yang ingin disampaikan oleh sang koreografer, dan budaya yang melatari karya Abib ini. Apa yang saya baca menimbulkan rasa senang dan penasaran. Bagaimana tidak? Dalam sinopsis tertulis bahwa Konvergen adalah narasi titik pertemuan yang kasat mata dan tak kasat mata. Berkaitan dengan hal ini, saya langsung mencari informasi mengenai Tari Wadian yang ternyata merupakan tarian mistis yang bertujuan untuk mengobati orang sakit. Dapat dikatakan, tarian ini adalah sebuah ritual mistis. Kemudian, tertulis juga dalam sinopsis Konvergen bahwa karya ini merupakan narasi bunyi yang menyadarkan tentang pentingnya sebuah pertemuan dan kebersamaan dalam suatu perbedaan.

Pertunjukan dimulai oleh tiga lelaki yang mengenakan jas hujan berbahan plastik berwarna hijau yang duduk di panggung dan seorang lain yang mengenakan kain bermotif etnik yang dipakai seperti memakai sarung. Orang itu membawa Serunai dengan mulutnya. Ia kemudian membuat irama dengan hentakan kakinya sambil terus melihat ke atas. Tiga penari berjas hujan kemudian bersenandung dalam bahasa daerah sementara sang wadian, pemimpin ritual yang membawa serunai di mulutnya, berjalan mendekati penonton sambil terus menghentak-hentakkan kaki dan perlahan silam dari panggung. Tiga penari kemudian mulai menari sambil terus bersenandung. Walau tidak mengerti makna dari lagu yang dinyanyikan, namun kesan yang muncul adalah senandung ini bukan sebuah mantra – namun lebih seperti serangkaian pantun atau puji-pujian. Motif-motif gerak yang dilakukan bernuansa akrobatik dan juga menggambarkan binatang dengan bentuk tangan yang khas, typical. Tarian ini kemudian dipadukan dengan gesekan suara plastik yang mereka kenakan, hentakan kaki, tepuk tangan, dan lagu yang dinyanyikan bersahutan. Salah satu kekhasan dari karya ini adalah bahwa mereka selalu berusaha bersentuhan – entah dengan saling menopang, atau sekedar memegang bahu teman. Lalu sang pemain seruni masuk dan menjadi fokus pertunjukan. Ketiga penari silam dan muncul lagi dengan mengenakan pakaian tradisional suku Dayak. Rupanya baru pada babak ini mereka bereksplorasi dengan gelang-gelang berat yang terbuat dari kuningan. Untuk memasukkan tangan ke dalam gelang itu dengan cepat butuh keahlian. Salah satu penari terlihat cukup berusaha memasukkan tangannya sementara kedua temannya sudah mulai beradu suara. Gelang pun beradu menghasilkan suara gemerincing yang memekikkan. Kiranya seseorang bisa mengalami trance jika mendengar suara ini dalam waktu lama. Atau setidaknya, sakit kepala. Namun mengingat ritual aslinya dilakukan di kedalaman hutan, tentu efeknya berbeda dengan aduan gelang kuningan di ruangan sebesar Galeri Indonesia Kaya. Saya membuka dan menutup mata. Menutup mata untuk mendengar suara gelang dan membuka mata untuk menonton tariannya. Perlu saya katakan di sini bahwa keduanya sangat kontras. Intensitas suara gelang yang tinggi tidak sinkron dengan irama gerak yang lambat dan santai.

Di panggung bagian belakang terdapat sebuah set semacam perancang panjang dengan gulungan-gulungan hijau di besi-besi bagian atas. Seorang soloist membuka gulungan satu persatu. Gulungan itu berbahan sama dengan jas hujan yang dipakai tiga penari sebelumnya. Pada gulungan itu kita bisa melihat motif-motif tribal Dayak terpatri dengan tinta hitam. Abib, koreografer yang tampil solo siang itu, menaruh gelang setelah membuka motif-motif tribal tersebut. Abib kemudian menari menghadap gambar-gambar tersebut sebelum akhirnya berguling menuju gelang dan memakai gelang-gelang tersebut.

Dari keseluruhan pertunjukan, energi yang bersifat spiritual belum hadir di situ. Semua gerakan dilakukan dengan intensitas rendah dan saya menunggu klimaks dari pertunjukan ini. Ketika ketiga penari berganti kostum mengenakan pakaian tradisi, saya kira itulah dimana intensitas akan memuncak, namun tidak juga. Mungkin Tari Gelang Bawo memang ditarikan dengan lembut, hal itu di luar pengetahuan saya. Namun untuk menghadirkan “pertemuan antara yang tak kasat dan kasat mata” seperti pada sinopsis Konvergen, koreografer harus mencari cara agar katarsis itu bisa terjadi. Peran pemain seruni dalam pertunjukan itu juga kurang signifikan. Dia selalu masuk dan keluar panggung seperti penanda pergantian babak padahal peran yang seperti pemimpin ritual ini bisa sangat kuat dalam narasi Konvergen. Saya juga bertanya-tanya tentang penggunaan jas hujan. Apakah maksud jas hujan hijau itu untuk menggambarkan dedaunan di kedalaman hutan? Atau untuk menambah sumber bunyi dari gesekan plastik? Saya percaya tubuh manusia bisa menjadi sumber bunyi dan Konvergen sudah mengeksplorasi itu – tepukan tangan, hentakan kaki, dan nyanyian. Bagi saya elemen plastik sangat mengganggu latar yang ingin dihadirkan koreografer di panggung. Kata kunci dari karya ini adalah etnis, indigenous, spiritual. Silahkan tonton video pertunjukannya di kanal Youtube Galeri Indonesia Kaya untuk memastikan atau meragukan kata kunci yang saya beri.

Selain dari hal-hal yang saya jabarkan di atas, tentu karya koreografer muda dari Kalimantan ini perlu diapresiasi dan diberi ruang untuk terus berproses. Kekayaan budaya dan misteri dari suku-suku indigenous Indonesia tidak pernah gagal dalam memukau dunia. Konvergen menyadarkan kita semua, sekali lagi, akan betapa kayanya bahan bakar kesenian negeri ini. Abib Igal Dance Company bisa menghidupkan atau menghadirkan kembali akar pedalaman Kalimantan-nya ke dunia seni pertunjukan.

Keisha Aozora
adalah penikmat tari dan mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

LABOR-ART-ORIUM

Kamis malam pukul 19.20, saya tiba untuk melakukan registrasi ulang di depan pintu masuk Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Dibekali selembar kertas yang berisi informasi tentang para pengisi acara, saya masuk dan bebas memilih tempat duduk kecuali dua baris yang khusus disediakan untuk para undangan. Acara yang bertajuk LABOR-ART-ORIUM 2019 ini merupakan perhelatan dari Dance Circle Lab dan Urban Art Forum. Pementasan ini ditujukan sebagai sebuah panggung uji coba publik atas konsep atau bentuk karya yang sedang dikembangkan oleh empat koreografer yang sedang mematangkan karya mereka– demikian yang tertulis di selembar pengantar acara tersebut. Pertunjukan dimulai pukul 19.45 dan dibuka oleh Reba Aryadi yang memaparkan tujuan dan apa yang melatari LABOR-ART-ORIUM ini. Disebutkan pula bahwa tiga dari empat koreografer yang unjuk karya malam itu sedang memulai dan menyelesaikan studi; sedangkan koreografer yang keempat, Yola Yulfianti, adalah pengajar di Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Ketika pembawa acara masih berbicara kepada kami, seorang penari masuk dan sang pembawa acara langsung bergabung sebagai penampil. Sebuah karya pendek dari Gigi Art of Dance yang digarap oleh Reba Aryadi dengan dua penari mengawali LABOR-ART-ORIUM malam itu. Karya pendek ini menggambarkan situasi pembuatan koreografi dan eksplorasi gerak. Adegan tersebut disajikan dengan sangat verbal di mana terlihat salah seorang penari membuat rangkaian gerak dari garis-garis imajiner dan Reba sebagai koreografer medekati penarinya dan mengkomunikasikan apa yang diinginkannya.

 

a work in progress (Gigi Art of Dance) | Foto: Dody Alin

 

a work in progress (Nur Hasanah) | Foto: Dody Alin

 

Kemudian masuk Irfan Setiawan, penari tunggal dalam karya Nur Hasanah. Mengenakan kemeja, celana berbahan kain, dan sepatu, Irfan hadir dalam sorotan lampu yang hanya menerangi figur sang solois. Kontras dengan pakaian yang terkesan formal, Irfan terlihat santai dan sangat menguasai panggung. Ia kemudian terlihat mengeksplorasi ruang-ruang tubuh. Ruang yang dibentuk oleh tubuh dan ruang yang berada di luar tubuh terlihat menjadi locus dari eksplorasi karya ini.  Dengan intensitas dan tempo yang dinamis, karya yang belum diberi judul ini (a work in progress) memikat dan membuat saya kagum akan matangnya penampil solo dalam karya ini, bagaimana ia menguasai ruang internal-eksternal tubuhnya dan mampu menciptakan dinamika suasana sehingga karya tidak terkesan monoton. Seniman perempuan yang akrab dipanggil Hassan inimemang baru memulai studinya di Pascasarjana IKJ. Walau demikian, ia bukanlah pemain baru di dunia tari kontemporer di Indonesia. Sebagai koreografer, beberapa karya Hassan sudah ditampilkan di berbagai kota di Indonesia termasuk di perhelatan Indonesian Dance Festival. Sebagai penari, Hassan memiliki jam terbang yang tidak sebentar.

 

a work in progress (Josh Marcy) | Foto: Dody Alin

 

Berikutnya adalah karya Josh Marcy, sebuah karya yang lebih condong ke sebuah riset dari gerak dalam tari yang dihadirkan dengan sangat komunikatif dan deskriptif, selayaknya memaparkan hasil riset. Didampingi oleh Alisa Soelaeman sebagai penari, Josh menjelaskan pada penonton malam itu bahwa yang ingin ia sampaikan adalah usaha-usaha tubuh yang begitu presisi untuk memusatkan dan mentransfer energi dari berbagai titik tubuh, dari internal ke eksternal. Penjelasan Josh begitu sistematis hingga sesi Josh Marcy ini terasa layaknya TED talks. Setelah menjelaskan riset choreographic tool dan mendemonstrasikan bersama Alisa, Josh menutup karyanya dengan sebuah koreografi pendek di mana ia memasukkan temuan risetnya ke dalam koreografi tersebut, diiringi lagu pop yang ringan.

 

A(ke)Z (Daniel Espe) | Foto: Dody Alin

 

Setelah sesi yang ringan dan membuka wawasan tersebut, hadir Daniel Espe dengan penampilan solo dalam karyanya, “A(ke)Z”. Suasana LABOR-ART-ORIUM menjadi temaram, dan kehadiran Daniel diiringi dengan emosi yang intens dan energi yang mampu mengubah suasana Teater Kecil malam itu. Mengenakan kaos merah yang santai, Daniel memulai koreografinya dari posisi berbaring dan kemudian terlihat seperti berusaha berdiri. Jika dua karya sebelumnya mengekspos choreographic tool, karya Daniel memberatkan diri pada penceritaan. Pada beberapa momen, Daniel bereksplorasi dengan sepatu dan baju. Eksplorasi ini pun adalah bagian dari narasi karya. Daniel Espe adalah penari dan koreografer yang menempuh pendidikan di Univeritas Negeri Jakarta dan kini melanjutkan ke strata Magister di Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Sebagai penutup dan layaknya sebuah puncak acara, karya yang belum diberi judul, oleh Yola Yulfianti, menjadi akhir dari rangkaian pertunjukan. Dalam karya ini Yola menggunakan properti payung, suara hujan, nyanyian, dan pembacaan beberapa dialog dari novel “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Karya ini dipentaskan oleh Densiel Lebang, Mentari Aisha, Josh Marcy, Irfan Setiawan, Alisa Soelaeman, Fitri Anggraini, dan Reba Aryadi sebagai penari; Amir, Agata Megumi, dan Fachrizal Mochseen sebagai aktor. Selain itu karya ini juga melibatkan pemusik Arham Aryadi dan visual artist Kelvin Yohanes. Karya ini menampilkan gejolak politik yang sedang memanas di Indonesia melalui cuplikan-cuplikan berita yang ditayangkan pada layar, namun menjadi kontras dengan suara musik yang melankolis.

a work in progress (Yola Yulfianti) | Foto: Dody Alin

Akhirnya, tibalah pada sesi yang seharusnya tidak kalah penting dari rangkaian karya tari tadi, yaitu diskusi dengan publik. Dari keempat karya utama yang ditampilkan, proses pencarian Josh Marcy lah yang paling terbuka untuk sebuah diskursus. Karena Josh memaparkan metode pencariannya dengan sangat lugas, publik awam pun dapat memahami dan bahkan terstimulasi untuk membangun diskusi lebih lanjut. Pada ketiga koreografer lainnya, walau masih merupakan a work in progress, namun seolah sudah matang dan jadi – di dunianya sendiri, sehingga diskusi yang kira-kira akan terbangun adalah diskusi dengan para praktisi tari. Walau demikian, moderator cukup cermat. Walau tidak ada pertanyaan dari penonton, moderator meminta ketiga koreografer lainnya menceritakan tentang karya mereka sehingga memancing diskusi dengan penonton.

Secara umum acara LABOR-ART-ORIUM ini cukup berkontribusi bagi perkembangan dunia tari di Indonesia, khususnya di Jakarta. Sudah saatnya mengundang khalayak ramai pada dunia seni yang selama ini terlihat eksklusif dan “tidak terjangkau pikiran normal”. Seni memang bukan banalitas sehari-hari, namun mampu dibangun dari hal-hal yang keseharian. Bagaimana Josh menjelaskan tentang perpindahan energi dan titik-titik tubuh misalnya, secara objektif bisa dilakukan oleh siapapun. Walau mungkin kepekaan akan perpindahan energi dan potensi dari titik-titik tubuh itu tidak sepeka seorang penari. Yang sangat disayangkan dari LABOR-ART-ORIUM ini adalah adanya satu penonton yang terus berbicara dengan suara yang sangat keras sepanjang pertunjukan. Saya dan penonton lainnya sangat berharap panitia bisa cepat tanggap mengenai hal semacam itu karena sangat mengganggu. Terlepas dari satu hal tersebut, acara ini mengusung sesuatu yang diperlukan oleh para seniman maupun publik. LABOR-ART-ORIUM yang dimaksudkan untuk publik agar bisa mengapresiasi proses dibalik penciptaan karya tari – pada akhirnya mencapai lebih dari itu, acara ini mencairkan seni sehingga bisa mengalir lebih jauh.

Keisha Aozora

Mahasiswa Pascasarjana STF dan Penikmat Tari

Konstruksi dan Dekonstruksi Tubuh Densiel Lebang dalam “No Limit”

Dalam kegelapan Galeri Salihara di mana para penonton duduk di lantai dan membentuk lingkaran, sebuah perancah (scaffolding)[1] berdiri di tengah lingkaran. Salah satu penampil, seorang lelaki yang mengenakan pakaian santai dan bersepatu berjalan memasuki arena dan mendekati perancah. Lantas, ia menyalakan beberapa lampu yang dipasang di sudut-sudut perancah. Perancah tersebut berbentuk seperti bujur sangkar tiga dimensi, berkaki empat, dan memiliki roda di setiap kakinya. Lampu yang menerangi sudut-sudut perancah membuat objek kotak itu tampak kontras dengan ruangan dan penonton yang membentuk lingkaran.

Penampil tersebut kemudian mendorong perancah memutari arena. Perancah itu memutari arena dengan kecepatan pelan, sedang, dan semakin cepat. Di saat yang bersamaan, dua lelaki lain dengan nuansa pakaian yang casual dan mengenakan sepatu, bergabung dalam arena. Mereka melintasi perancah yang terus berjalan. Terdapat pipa-pipa besi melintang membentuk huruf x di bagian atas dua sisi perancah, sehingga untuk masuk ke dalam, mereka harus lewat di bawah pipa x itu, atau masuk dari celah huruf x yang menghubungkan pilar-pilar perancah. Bukanlah hal mudah untuk masuk, apalagi melintasi perancah dalam keadaan objek tersebut berjalan dengan cepat, apalagi jika dilakukan oleh dua orang sekaligus. Musik yang digunakan Densiel untuk karyanya yang berjudul No Limit ini adalah suara hidup dari perancah itu sendiri. Entah di mana tepatnya mikrofon dipasang, namun setiap gesekan dan benturan pada pilar perancah akan terdengar keras dan bergema.

Tiga penampil bergantian melintasi dan bereksplorasi dengan perancah sementara objek itu terus didorong memutari arena. Salah satu kekuatan dari karya ini adalah karena ketiga penampil, yaitu Eyi (Ferry Alberto Lesar), Yusuf (Yusuf Bakrie), dan Angga (Try Anggara) memiliki kualitas dan menampilkan suasana yang berbeda dalam berinteraksi dengan perancah. Hal ini membuat No Limit terlihat sederhana sekaligus kaya.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

Eyi terlihat intim dengan perancah tersebut; ia bergelantungan dan berpindah dari satu pipa ke pipa lainnya dengan lentur dan menampilkan bentuk-bentuk yang indah tanpa kehilangan kesan natural dari tariannya. Ketenangan yang ditampilkan Eyi dalam situasi yang tidak nyaman adalah suatu imaji yang memberi inspirasi, mencetuskan perasaan yang tidak emosional namun semacam sebuah ajakan untuk tidak menjadi sama dengan situasi yang sedang terjadi, ajakan untuk menjadi kreatif.

Yusuf menampilkan kecepatan gerak dan sikap awas yang juga menjadikan interaksi antar perancah dan penampil mengasyikkan. Yusuf terlihat seperti seorang petualang dalam permainan-permainan virtual, membangunkan rasa kekanak-kanakan yang ringan, seru, dan partisipatif. Bahkan ketika ada momen di mana Yusuf menabrak sesuatu, hal itu tidak terasa seperti kesalahan gerak namun seperti resiko yang biasa terjadi dalam sebuah petualangan.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

Angga bereksplorasi dengan perancah itu seperti seorang pendaki professional. Angga juga menampilkan ketenangan yang sama dengan Eyi, namun dengan gaya yang maskulin, gagah, dan seperti kedua penampil lainnya—menghadirkan suasana kontras dengan situasi yang terjadi.  Jika tidak digarap dengan hati-hati, No Limit bisa terlihat seperti sebuah sirkus. Namun untungnya, gaya urban dan elemen-elemen abstrak digores tebal di kanvas Densiel Lebang.

Jika media sebuah lukisan adalah kanvas, maka kanvas dari sebuah karya tari adalah tubuh. Tubuh para penampil dalam karya ini begitu adaptif dan responsif. Kedua kualitas ini dapat dikaitkan dengan manusia Jakarta yang harus bergerak cepat dalam ruang sempit yang biasa dengan perubahan dan pengambilan keputusan yang cepat. Mereka tidak punya kebutuhan untuk terlihat elegan, sakral, atau menakjubkan. Manusia Jakarta, pada hari yang biasa saja, berpenampilan sewajar mungkin, dan berusaha terlihat sama dengan orang-orang lain—kadang untuk alasan keamanan. Kriminal bertebaran di jalan, di ruang-ruang publik, dan mereka mengincar target yang berpenampilan mewah—setidaknya itu adalah stigma yang kita amini secara massal. Maka dari itu, orang Jakarta berpenampilan “biasa saja” dan berharap untuk sampai pada tujuan mereka tanpa terlalu banyak hambatan selain kemacetan yang sudah dianggap seperti fenomena alam.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

Orang Jakarta juga terlihat begitu santai berdiri berdesakan di dalam bus kota atau kereta, kemudian berjalan menuju pintu keluar melewati sesak manusia sesama pengguna angkutan umum. Yang menjadi highlight dalam analogi ini dalam kaitannya dengan No Limit bukanlah kesesakan, namun kesantaian dalam situasi yang tidak nyaman—adaptivitas dan fleksibilitas. Bukan berarti No Limit harus membicarakan bagaimana hidup di Jakarta, namun apa yang dihadirkan oleh tubuh-tubuh penampil dalam karya ini begitu urbansantai, adaptif dan responsif.

Salah satu elemen koreografi yang juga melekat pada ingatan adalah tidak ada kontak tubuh antar para penampil. Hal ini menebalkan kesan manusia urban yang hanya ingin segera sampai pada tujuannya dan menghindari interaksi antar manusia. Satu perancah, tiga penari; dan semua interaksi berpusat pada perancah itu atau dimulai dari interaksi dengan perancah. Ketegangan meningkat ketika salah satu penampil berada di atap dan perancah itu diguncang begitu keras oleh dua penampil lainnya. Penampil yang berada di atap sama sekali tidak melihat kedua penampil lainnya dan terus berusaha mencari keseimbangan—seolah hal itu terjadi secara alami, seolah guncangan itu bukan dibuat oleh orang lain. Secara pribadi saya sangat terkesan dengan bagian tersebut.

Chaos. Kekacauan dan perasaan ‘obrak-abrik’ dalam No Limit terasa begitu alami, tidak dibuat-buat; dramaturgi dibangun tanpa bumbu drama. Chaos adalah kata kunci dalam rangkaian kesan yang melekat pada saya dari karya ini. Karya ini juga terasa maskulin, menampilkan tiga lelaki dengan kekuatannya. Cengkeraman tangan pada pipa perancah, otot punggung yang menegang ketika bergelantung di atap, dan kemahiran menggunakan alat-alat konstruksi—elemen dalam adegan-adegan ini begitu maskulin. Kekuatan fisik tidak bisa diabaikan dalam visual dan rasa yang hadir dalam No Limit. Begitu menarik ketika anda tahu otak di balik adegan-adegan ini adalah seorang perempuan.

Foto: Dokumentasi Densiel Lebang

No Limit adalah sebuah nomor dalam rangkaian Kampana yang merupakan salah satu kategori penampilan dalam perhelatan tari Indonesian Dance Festival 2018. Jika yang dimaksud oleh IDF dengan kampana adalah ‘getaran’, maka karya No Limit dari Densiel Prismayanti Lebang ini patut berada dalam kategori tersebut. No Limit berhasil menciptakan getaran dan sebuah dobrakan dalam pertunjukan tari kontemporer. Kata ‘penampil’ yang saya pilih dalam tulisan ini, alih-alih menggunakan kata ‘penari’, adalah karena beberapa kali Densiel—melalui komunikasi pribadi dengan saya—mengungkapkan bahwa dia tidak merasa dirinya seorang koreografer dan pula tidak yakin jika yang dihadirkannya adalah sebuah karya tari. Densiel mempertanyakan batas antara pertunjukan tari dan performing art. Lebih jauh lagi mungkin ia akan mempertanyakan apa itu ‘tari’. Densiel adalah seniman muda yang kontemplatif dan memiliki pertanyaan-pertanyaan radikal. Ide penggunaan perancah dalam karya ini juga bukan sekedar usaha untuk menjadi berbeda. Namun, Densiel memiliki ketertarikan bagaimana objek-objek dapat menopang tubuh. Dalam eksplorasi pribadinya, ia banyak berinteraksi dengan objek sehari-hari seperti dinding, kursi, tali, dan sebagainya. Walau penuh keraguan, namun apa yang dihasilkan dari keraguan ini bagi saya adalah sesuatu yang inklusif dan kolaboratif. No Limit memiliki kesempatan untuk menjadi apapun setelah ini. Kolaborasi No Limit dengan berbagai bidang seni sangat jelas terlihat di depan mata—entah itu akan terwujud atau tidak.*** (Keisha Aozora adalah seorang penikmat tari dan mahasiswi Pascasarjana STF Driyarkara)

 

[1] Perancah adalah suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung (oilandgasmanagement.net)

Meraba Terangnya “Light” Karya Leine Roebana

Tidak seperti pertunjukan pada umumnya yang dimulai dengan pemberitahuan tata tertib menonton; begitu duduk di blackbox Teater Salihara pekan lalu—tepatnya Minggu, 23 September pukul 20.00 WIB—kami bisa menyaksikan para penari melakukan pemanasan. Mereka bahkan mencoba beberapa rangkaian gerak sehingga sesi pemanasan ini terasa seperti “pra-pertunjukan”. Kemudian, direktur artistik dari Leine Roebana, Harijono Roebana, hadir menyapa penonton. Harijono menjelaskan beberapa elemen dan metode dalam karya ini—dari segi koreografi maupun musik.  Di tengah penjelasan, ia bisa tiba-tiba memanggil salah seorang pemusik atau penari untuk menunjukkan maksud dari penjelasannya. Hal ini, dalam hemat saya, sangatlah menunjukkan suatu kedermawanan dan keinginan untuk berbagi maupun berdiskusi.

Light adalah karya yang sangat kolaboratif dan melibatkan kontribusi artistik dari hampir setiap orang yang tampil. Karya ini digubah sedemikian rupa oleh sepasang koreografer yakni Harijono Roebana dan Andrea Leine Roebana. Dalam kesempatan kali ini, mereka menggelar pertunjukan dalam rangka Indonesië Tour. Bukankah lazimnya seorang pengkarya ingin memberi sebuah kejutan pada penonton sehingga biasanya pertunjukan dimulai dengan kegelapan, keheningan, dan wanti-wanti agar tidak ada seorang pun yang merusak rangkaian kejutan itu—dengan keluar masuk venue atau menyalakan lampu kilat kamera? Penjelasan yang diinisiasi oleh lelaki asal Belanda yang akrab dipanggil Mas Harijono ini bukan penjelasan singkat selayaknya introductory, namun mendalam, dari sisi tari maupun musik.

Kosakata Gerak Tradisional Jawa Yang Didekonstruksi Dengan Logika Gerak Leine Roebana | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Iwan Gunawan, komposer yang merupakan salah satu kolaborator dari karya ini mengungkapkan ketidaknyamanannya dengan kategorisasi atau pengkotak-kotakkan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu dosen Universitas Pendidikan Indonesia, beliau merasa bingung ketika dipilih sebagai penguji sebuah presentasi karya tertentu karena beliau mengampu ‘Musik Barat’ atau ‘Musik Timur’; Menurutnya, pembedaan seperti itu sudah tidak relevan dalam Musik Kontemporer. Iwan jenuh dengan dualisme pentatonik dan polifonik. Beliau menjelaskan bahwa dalam Gamelan Jawa saja ada dua modalitas, yaitu Laras Pelok dan Laras Slendro. Lazimnya orang memainkan salah satu dengan seluruh instrumen gamelan. Dalam eksplorasinya untuk Light, Iwan menggabungkan Laras Pelok dan Laras Slendro.

Ketika Iwan meminta dua pemain gamelan untuk melakukannya, suara yang dihasilkan dari penggabungan kedua laras itu memang tidak terdengar seperti permainan gamelan pada umumnya. Suaranya sumbang, namun menghadirkan suasana tersendiri. Inilah laras baru, sebuah modalitas baru—jika kita mencari persamaan dan bukan perbedaan. Penonton pun terkagum ketika mendengarkan modalitas hasil kolaborasi Laras Pelok dan Laras Slendro tersebut. Selanjutnya, menurut cerita Iwan, laras baru ini beliau kolaborasikan lagi dengan alat-alat musik di luar gamelan semisal songah, alat musik tradisional Sumedang.

Songah terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara ditiup. Suara yang dihasilkan tidak sama seperti seruling. Jika karakter suara seruling layaknya penyanyi Sopran, maka tiupan songah layaknya vokal Tenor—tinggi namun dalam. Diameter bambu yang lebih lebar membuat suara memiliki kesan hollow, seperti panggilan atau lolongan dari kejauhan. Saya pribadi merinding ketika mendengar suara songah saat Iwan meminta sedikit demonstrasi. Selanjutnya, sambung Iwan, untuk penggarapan music, beliau bekerja dari jauh. Hanya beberapa hari ngopi di Schipol dengan Mas Harijono untuk membahas apa yang diinginkan, kemudian Iwan mengembangkan eksperimennya di Indonesia sementara Mas Harijono bekerja dengan para penari di Belanda.

Kolaborasi dan eksperimen tidak hanya berhenti di bidang musik. Kekhasan tubuh grup Leine Roebana yang anorganik dan logis dimasukkan sebagai sistem pada tubuh Jawa yang pakem dengan terminologi-terminologinya seperti alusan, sabetan, dan lumaksono. Penjelasan yang cukup kaya ini dipresentasikan oleh salah satu penari Light, Bobby. Saat Bobby menarikan salah satu contoh dari ketiga terminologi tersebut, Mas Harijono mengajak penonton memperhatikan bagian tubuh yang tidak bergerak atau kurang mobilitasnya. Kemudian Mas Harijono meminta Heather, penari Belanda, untuk mengeksplorasi bagian tubuh yang immobile tersebut dan lantas kedua tarian ini akan digabungkan. Penjelasan panjang lebar ini benar-benar dihadirkan sebelum karya Light dipertunjukkan. Penonton diajak memahami logika berpikir Leine Roebana hingga sesi tersebut terasa seperti workshop singkat. Tidak hanya Heather dan Bobby, namun semua penari yang sedang melakukan pemanasan hadir di atas panggung dan bisa diminta tiba-tiba oleh Mas Harijono untuk menjelaskan dan mendemonstrasikan elemen-elemen koreografi dalam karya yang akan ditampilkan.

Light dibuka dengan tarian Jawa yang lembut namun kuat, dengan lampu temaram. Kemudian di bagian belakang panggung, lampu justru menyorot lebih terang pada sebuah gong yang ditidurkan dan ditabuh oleh banyak orang. Jika mengingat adegan ini, saya masih merasa tergerak. Penari bergerak dalam kegelapan sementara sekumpulan orang yang berdiri melingkar bersama-sama memukul gong di bawah lampu sorot. Komposisi seperti itu belum pernah saya saksikan sepanjang perjalanan kecintaan saya menonton pertunjukan tari. Penari yang baru saja menari dalam kegelapan itu kemudian berlari ke gong dan ikut menabuh dengan penuh semangat.

Heather Menari Sambil Membunyikan Kata-kata Yang Acak Dalam Berbagai Bahasa | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Kegaduhan itu kemudian dihentikan oleh masuknya Heather, penari perempuan, yang bergerak dengan melawan aliran tubuh—inilah tubuh anorganik khas eksplorasi penari Eropa. Sambil bergerak, Heather mengucapkan kalimat-kalimat dalam banyak bahasa. Kalimat tersebuat tentu saja tidak bermakna. Bahasa Jawa dan Bahasa Jakarta seperti “Emang gue pikirin” juga “dibunyikan” oleh Heather bersama tubuhnya. Adegan ini menjadi menarik karena, walaupun tidak bermakna, Heather mengucapkan kekacauan kata-kata ini dengan sangat “bersih” dan tenang, dengan artikulasi yang tepat dan ia terlihat menikmati. Intensitas dan dinamika Light naik dengan cepat seolah tanpa usaha, karena semua penari dan pemusik melakukan bagiannya dengan tenang dan tanpa ada intensi untuk menaikkan dramaturgi karya. Mereka semua menampilkan tingkat playfulness yang sama, bahkan ketika sedang melakukan gerakan yang membutuhkan teknik kepenarian yang tidak mudah.

Light oleh Leine Roebana adalah pertunjukkan paling dermawan yang pernah saya saksikan. Seluruh tim produksi termasuk di dalamnya penari, direktur artistik, dan pemusik membuka jendela dan pintunya lebar-lebar. Mereka memberi bukan hanya apa yang mereka punya, namun mereka memberi lebih dari kapasitas sebagai penampil dan berhasil. Para pemusik ikut menari, para penari ikut bermain musik dan melantunkan mantra-mantra. Sebelum Light, saya belum pernah melihat semua elemen pertunjukkan tumpah ruah di atas panggung. Mereka semua turun seperti hujan yang tiba-tiba deras tanpa aba-aba. Jika diibaratkan sebuah rumah, mereka bukan hanya membuka pintu dan jendela, namun mungkin membobol dinding, demi ke luar dari teritori mereka sebagai seorang pribadi.

Pertunjukan ini mendekonstruksi bingkai dalam sebuah karya. Jika ada seorang penari yang memberikan seluruh kepenariannya di tengah panggung, maka di pojok-pojok di luar dari area panggung, penonton bisa melihat penari-penari lain menari dengan energi dan intensitas yang sama—seolah ingin memberitahu bahwa yang indah tidak selalu di tengah, tidak harus disodorkan pada mata penonton layaknya film Hollywood dengan permainan komposisi frame dan depth of field yang sudah pakem dan bisa ditebak. Dunia Light tidak berbingkai. Pertunjukan seperti ini baiknya bertemu dengan mata penonton yang liar pula, yang haus dengan segala kemungkinan. Anda sungguh bisa menemukan dua atau tiga penari di pojok belakang—masih pada area jalan masuk menuju panggung—menari seindah-indahnya tanpa diterangi pencahayaan.

Konsep ini mengingatkan saya akan pemikiran non-dualitas (oneness) dalam Advaita, salah satu ajaran dari filosofi yang sangat purba, Advaita Vedanta. Filosofi ini mengajarkan bahwa dalam dunia rupa (perceived world) ini tidak ada realitas absolut. Hal ini bisa dilihat dalam Light. Bagaimana para penari, pemusik, dan penyanyi semua melakukan ketiga bagian tersebut tanpa kecuali. Penari Leine Roebana sendiri berasal dari Indonesia, Afrika, Belanda, dan Karibia. Mereka semua diminta untuk menyumbangkan kekayaan khazanah lokalnya pada karya ini. Jika kekayaan elemen ini dimasukkan dalam satu mangkuk dan diaduk begitu saja, mungkin mudah. Namun yang perlu kita hargai adalah bagaimana keragaman ini disusun, dikoreografi, dan menghasilkan dramaturgi yang berhasil. Kekhasan itu tidak harus berupa gerak. Salah satu penari, Sandhi yang berasal dari Jawa Timur, di dalam karya itu menjadi orang Jawa Timur se-jawatimur-jawatimurnya. Caranya berbicara khas Wayang Orang, melucu di tengah keseriusan—dan keseriusan itu tetap berjalan. Eropa-Jawa Timur, logika dan ketoprak humor.

Pemusik, Penyanyi, dan Penari Bersatu Dalam Tarian | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Sejak pertunjukan dimulai, musik yang dihasilkan dari gamelan dan songah, juga visual banyak orang memukul satu gong di bawah lampu sorot membangkitkan kepurbaan saya. Sejatinya saya adalah purba, manusia yang tidak sepenuhnya memiliki sesosok pribadi. Oleh karena itu, kata saya dalam artian personal tidak lagi relevan. Saya yakin para penampil malam itu juga melepaskan kompleksitas pribadinya dan terbuka pada daya-daya yang organik, animalistic, dan asing. Karena jika kita membatasi diri dengan dunia personal kita, maka kita tidak akan bisa bersatu dengan karya seni yang hadir pada kita. Sebaliknya, penampilan yang membatasi dirinya dalam bingkai penokohan, yang sangat tipikal dengan karakter orang dalam sebuah cerita, sudah pasti menarik jarak dari penontonnya. Paling dekat, penonton tersebut bisa beridentifikasi karena manusia memang memiliki kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain; seperti menonton tayangan serial TV, misalnya.

Dalam konteks ini, Mas Harijono juga mengungkapkan bahwa karya ini tidak selazimnya pertunjukan-pertunjukan tari di Indonesia di mana penarinya menampilkan sebuah karakter dengan jalan cerita yang jelas. Karakterisasi dan penokohan seperti itu, ungkap Harijono, berakar dari seni wayang. Namun dalam hemat saya, pertunjukan Ballet pun memiliki jalan cerita yang jelas. Maka bisa saya simpulkan bahwa tarian-tarian tradisi pada umumnya menganut cara bernarasi yang tadisional pula. Dalam gaya narasi tersebut, yang juga diadaptasi oleh film pada umumnya, seorang tokoh dibentuk dan dibangun kedalamannya dengan teknik character breakdown sehingga tokoh fiksi itu bisa terasa nyata, seperti orang sungguhan.

Dalam Light, koreografer hanya meminta para penari untuk menjadi dirinya sendiri. Walau demikian, yang saya saksikan malam itu, para penampil merobohkan kediriannya dan mereka terbuka pada daya-daya animalistic, kebersamaan yang instingtif, menjadi, namun tidak pernah menetap, sebuah transversal becoming. Jika kita melepaskan perasaan-perasaan personal kita, kita bisa masuk dalam sensasi-sensasi impersonal. Para penari Light dalam hemat saya cakap dalam hal ini. Dengan kepenarian mereka yang sudah matang, switch off switch on dari yang personal menjadi impersonal bisa mereka lakukan secepat mereka melompat lalu berguling. Kata pun dibebaskan dari makna, persis credo penyair kawakan Sutardji Calzoum Bachri. Kata, bunyi, dan tubuh kembali pada purbanya: mantra.

Heather membocorkan bahwa ide teks nir makna itu diadaptasi dari James Joyce, yang mengatakan bahwa sejatinya kata dipahami bukan sebagai makna sesungguhnya, namun sebagaimana bunyi dari kata itu membuat anda merasa. Bagaimana kata door terdengar untuk anda, misalnya. Bagi orang Inggris, door berarti pintu, namun bagi orang Indonesia, kata itu adalah bunyi tembakan, atau ketika kita mau mengagetkan orang. James Joyce adalah seorang penulis novel, namun uniknya dia ingin mengeksplorasi kata dari segi bunyinya bukan maknanya; dan persis inilah yang menginspirasi karya Light.

Pemusik Diangkat Tiba-tiba dan Dibawa Menyeberangi Panggung | Foto: Laman Flickr Komunitas Salihara

Minggu malam itu, Light membuat saya merasa dikembalikan pada keadaan impersonal, pada kepurabaan saya yang terbuka pada daya-daya selain perasaan manusia pada umumnya.*** (Keisha Aozora adalah seorang penikmat tari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

Ruang Investasi Gagasan Bersama: Lokakarya Riset Artistik, Kampana Akademi IDF

Tiga tahun terakhir ini, IDF meluncurkan sub divisi program Akademi IDF sebagai platform penyelenggaraan kegiatan edukatif bagi praktisi tari muda. Upaya ini dilakukan Akademi IDF dengan mengadakan rangkaian lokakarya (kepenarian, koreografi, penelitian artistik) dengan menggandeng fasilitator dan mentor lintas disiplin dan budaya. Hal tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan ruang eksperimentasi alternatif bagi praktik koreografi kritis, membangun wacana perkembangan koreografi dan sejarah tari dalam konteks Indonesia dan medan seni global. Terkait dengan hal itu, IDF mengembangkan platform Showcase IDF bukan hanya sebagai wahana presentasi dan promosi karya koreografer muda, tetapi juga sebagai platform pertukaran, belajar bersama, eksperimentasi melalui rangkaian kegiatan Akademi IDF, dan presentasi akhir di Festival IDF.

Para Peserta Pada Salah Satu Sesi Lokakarya Riset Artistik Akademi IDF 2018 | Foto: Dokumentasi IDF

Maka, format Showcase berkembang menjadi forum berdurasi panjang dan intensif. Tim kuratorial IDF merasa perlu untuk memayungi keseluruhan prosesi dengan nama platform baru untuk menggantikan istilah “showcase”. Maka, muncullah istilah KAMPANA. KAMPANA diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna filosofis “yang memiliki getaran”. Kata ini dipilih dengan harapan agar platform ini akan menjadi titik getar dengan resonansi yang dapat menjangkau praktik dan gagasan koreogafi beserta dengan kekuatan jaringan gagasannya. Koreografer muda pun diseleksi secara ketat dan akan didampingi hingga November nanti oleh tim kuratorial IDF yang terdiri dari Helly Minarti, Arco Renz, Nia Agustina, Linda Agnesia, dan saya sendiri (Taufik Darwis-red). Setiap seniman partisipan/koreografer muda ditantang untuk bersama-sama dengan IDF memperluas jangkauan resonansi pengetahuan koreografi dan berkomitmen mengikuti seluruh proses yang dielaborasi di dalam rangkaian kegiatan Akademi IDF yang salah satunya adalah Lokakarya Riset Artistik.

Lokakarya ini menjadi momen pertemuan kedua antar koreografer setelah pertemuan pertama di bulan Juni. Pada pertemuan pertama itu, mereka telah saling membentangkan profil proyek artistik masing-masing. Untuk tahun ini, lokakarya diselenggarakan selama satu minggu dari 27 Agustus hingga 2 September 2018 di Omah Kebun, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Selain didampingi tim kuratorial, Akademi IDF mengundang 3 seniman dengan latar disiplin yang berbeda yaitu Arco Renz (koreografer), Gunawan Maryanto (sutradara teater, aktor, penyair)  dan Mella Jaarsma (perupa/visual artis) sebagai fasilitator  untuk memperkaya perspektif atas kebutuhan koregrafer muda yang berbeda. Sedang untuk seniman partisipan lokakarya, kami memilih 5 koreografer muda, 4 dari Indonesia dan 1 dari Singapura yang sedang dalam proses pengerjaan karya masing-masing.

Salah Satu Sesi di Dalam Lokakarya Tari Akademi IDF | Foto: Dokumentasi IDF

***

Pertama, Riyo Fernando (Riau, Solo) membawa pertanyaan atas kemungkinan pertumbuhan karya Sosak yang berangkat atas pengalaman ketersesakan dan keterhimpitan sendiri di tengah-tengah dampak dari kebakaran hutan di Riau yang diakibatkan industri kelapa sawit. Kedua, Ayu Permata (Lampung, Yogyakarta) dengan karyanya Tubuh Dang Tubuh yang terakhir dipentaskan di Festival Jejak Tabi pada Juli lalu. Ayu mempunyai pertanyaan atas bagaimana proses ketubuhan penonton konser dangdut yang memberi pantulan atas kondisi ketubuhan dirinya sebagai penari/koreografer. Titik pertumbuhan yang sama dengan Ayu juga dialami pada proyek kolaborasi antara koreografer dan performance artis Gusbang Sada (Bali Yogyakarta) dan Natasya Tontey (Jakarta) yang juga sempat dipresentikan di Festival Jejak Tabi. Mereka bergegas dari pertanyaan atas kematian yang normal dan tidak normal, dari gestur mayat yang mereka riset dengan mendatangi/mewawancarai ahli forensik. Sementara Densiel Lebang dengan karyanya No Limit yang sempat dipresentasikan di program showcase Sipfest 2018, Komunitas Salihara, menjelaskan pertumbuhan karyanya yang tertarik dengan tali, yang menurutnya sejauh ini mengundang banyak asosiasi dari penontonnya.

Sebagian besar koreografer yang terlibat dalam platform Kampana berkesempatan untuk menemukan ruang dan pengalaman untuk mempresentasikan titik-titik pertumbuhan karyanya. Begitu juga dengan Alisa Soelaeman (Jakarta) yang bekesempatan pentas di panggung Paradance Festival, tepat sehari sebelum hari pertama lokakarya ini dimulai. Alisa tertarik dengan hubungan antara emosi, pikiran dan tubuh dalam kondisi mental manusia di batas kesadaranya atas hidup, yang juga pernah terjadi padanya. Alisa mengolah situasi tersebut pada batas-batas bagaimana dia memposisikan diri sebagai penari tunggal yang melakukan improvisasi dan koreografer yang membuat/menentukan struktur di dalam karyanya, Transference.

Tahun ini juga kami mengundang dan berkerjasama dengan Dance Nucleus Singapore untuk melibatkan salah satu koreografer muda/anggotanya bernama Pat Toh dalam Kampana. Pat adalah seorang performer dan seniman pertunjukan berlatar belakang teater yang tertarik pada sensibilitas ketubuhan dalam tubuh kontemporer. Seperti pada proyek The Map yang sedang dikerjakannya sekarang, Pat mempunyai pernyataan atas tubuh sebagai perjalanan kehidupan. Perjalanan di antara bergerak dan bernafas, antara tubuh yang satu dengan tubuh lain, atau tubuh sebagai dirinya sendiri.

Para Peserta Lokakarya Riset Artistik Pada Sesi Dari Arco Renz | Foto: Dokumentasi IDF

***

Salah satu kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan jika menonton karya para koreografer muda Indonesia adalah kekosongan yang perlu diisi oleh kesadaran (riset) atas jaringan gagasan dan konteks dalam dan pada proses artistik. Hal ini tercermin dari karya para koreografer Indonesia selama paling tidak 2-5 tahun terakhir.  Lokakarya ini diharapkan bisa menghasilkan kemungkinan pengembangan gagasan, agenda, dan proyek penelitian dan kerja dramaturgi lanjutan bagi para koreografer muda yang terpilih. Maka dari itu, lokakarya ini juga mengundang satu orang rekan kerja para koroegrafer muda yang terlibat dalam proses kreatif untuk membantu mengurai dan memutuskan setiap kemungkinan pilihan artistik yang lahir selama lokakarya.

Maka seperti yang direncanakan, lokakarya ini berjalan tidak terburu-buru agar secara organik bisa melihat dan membuka kemungkinan perubahan seturut dinamika yang terjadi. Selama 7 hari, selain diperkenalkan berbagai perspektif kritis seniman dari beragam disiplin dalam praktik mencipta karya, para koreografer muda terlibat dalam umpan-balik yang saling menajamkan, memetakan dan memperluas, serta memperkukuh kerja penciptaan dan pengembangan karya yang sedang dikerjakan. Selain itu, lokakarya ini juga mengundang dan mengunjungi lembaga, kolektif atau seniman individu di Jogjakarta yang mempunyai pendekatan yang berbeda-beda dalam praktik artistik mereka. Misalnya Teater Garasi, Yayasan Cemeti, Ace House, Kelompok Bakudapan, periset tari (Muhammad Abe) dan IVAA. Para peserta juga difasilitasi bila mempunyai keinginan untuk bertemu-bincang dengan seniman yang mereka anggap bisa memberi pantulan lain untuk karyanya.

Penampilan Ari Ersandi, Peserta Program Showcase, IDF 2016 | Foto: Dokumentasi IDF

Jauh dari sekedar meributkan oposisi biner antara bagus dan jelek, tari dan bukan tari, lokakarya ini malah mencoba untuk membuat ruang investasi gagasan bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Tidak hanya bagi para koreografer muda saja, tapi juga tim kuratorial dan tentu saja para fasilitator.*** (Taufik Darwis adalah aktivis seni pertunjukan asal Bandung yang dalam beberapa tahun terakhir terlibat sebagai kurator muda di Indonesian Dance Festival)

Catuah Langkah, Rekam Jejak dan Bangkitnya Gumarang Sakti

Menonton presentasi karya “Catuah Langkah” oleh Gumarang Sakti Dance Company di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta terasa menegangkan dan memicu adrenalin. Bagaimana tidak, Gumarang Sakti adalah salah satu inventaris seni dan budaya Indonesia. Nama grup tari ini bagaikan sebuah monumen kejayaan Indonesia di dunia tari internasional. Walau berdiri tegak, monumen tersebut berada di dalam museum. Ia tidak lagi berbicara, bergerak, dan tidak melahirkan apapun yang membuat dirinya kembali hidup. Gumarang Sakti bagaikan monumen kebanggaan yang berdiri tegak bersebelahan dengan apapun yang usang. Sesekali dikunjungi orang, sesekali dihidupkan walau hanya dalam ingatan. Sabtu, 7 Juli 2018 lalu monumen antik itu hidup dan kembali bernafas. Bukan dalam ingatan; ia kembali bertubuh. Mungkin banyak penikmat seni yang datang dengan tangan hampa, tidak punya ekspektasi dan pengetahuan apa-apa tentang apa yang akan disaksikan. Namun mereka yang datang dengan perbendaharaan sejarah tentang Gumarang Sakti kiranya juga merasakan semacam kecemasan yang juga menyergap saya.

Ruang bernuansa coklat muda yang saya masuki itu tidak begitu besar. Penonton yang masuk tampak antusias berebut posisi duduk. Kami—ya, termasuk saya—beberapa kali berpindah tempat duduk, memanfaatkan kesempatan sebelum tak punya pilihan. Kami duduk di anak-anak tangga di atas bantal warna warni yang tersebar. Nuansa ruangan itu begitu hangat dan lebih mirip ruang diskusi atau film screening daripada sebuah panggung tari. Hal ini perlu saya sebutkan karena terasa sangat kontras dengan berbagai pertunjukan yang saya hadiri sebelumnya. Di black box Salihara, misalnya, rasa dingin yang tajam adalah hal yang melekat di memori saya sebagai penonton. Di ruang pertunjukan pada umumnya, selalu ada elemen yang menghadirkan ketegangan secara subtil; namun venue yang saya hadiri kali ini begitu hangat dan nyaman. Apalagi, kami semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dipandu oleh dirigen virtual di layar.

Salah Satu Adegan Dalam Pertunjukan "Catuah Langkah" | Foto: www.indonesiakaya.com

Salah Satu Adegan Dalam Pertunjukan “Catuah Langkah” | Foto: www.indonesiakaya.com

Setelah kami kembali duduk, dua orang pemusik sudah duduk di mulut panggung. Mereka melantunkan nyanyian bersahutan yang merupakan tradisi lisan dalam budaya Minang. Lantunan ini membawa kita pada suatu imaji indigenous, imaji akan sesuatu yang asli, yang jauh di pedalaman. Gesekan rebab perlahan masuk dan mengiringi dialog dua lelaki yang duduk santai di bibir panggung. Segalanya terasa begitu subtil dan alami. Keaslian dan kealamian ini membuat persoalan paham atau tidaknya kita atas makna nyanyian itu jadi tak penting. Makna kata-kata menjadi tidak relevan lagi. Mereka sedang menghadirkan mantra!

Lantas, Benny Krisnawardi hadir, berdiri menatap kami, kemudian tanpa sempat saya berpikir, Benny menghadirkan gerakan-gerakan silat dengan transisi yang mengejutkan; Tajam dan seolah tidak meninggalkan jejak gerakan sebelumnya. Kesan-kesan yang demikian saya kira adalah kekhasan dari grup tari ini. Sekelompok penari berikutnya masuk dengan berbaris sambil menjampi bersahutan. Semua penampil mengenakan pakaian serba hitam dengan satu sabuk merah di pinggang. Suasana santai dan hangatnya venue redup dan jadi mistis tanpa aba-aba, persis seperti kekhasan gerak tari mereka: Mengejutkan, tajam, dan tidak meninggalkan jejak.

Dua penari berikutnya, Davit Fitrik dan Maria Bernadeta menghadirkan diri dengan langkah terseret. Davit dan Maria menarikan gerakan yang lebih kontemporer tanpa meninggalkan ketajaman dan kecepatan gerak dengan transisi yang tak teraba dan presisi. Semua penari Catuah Langkah sore itu menghadirkan elemen yang persis sama. Di tengah tarian, video dokumentasi yang menampilkan wawancara pendiri grup tari ini diputar. Para penari duduk diam di bawah layar.

Adalah Gusmiati Suid pendiri Gumarang Sakti Dance Company. Beliau lahir di Batusangkar pada 1942 dan wafat di Jakarta pada 2001, tepat pada puncak masa kejayaan Gumarang Sakti. Sejak kepergiannya, Gumarang Sakti seperti menghilang dari gaung seni pertunjukan. Walau penari-penarinya tetap berkarya atas nama pribadi dan menorehkan warna-warna Gumarang Sakti dalam karya mereka.[1] Bagi generasi muda seperti saya yang tidak pernah bertemu langsung atau melihat Ibu Gusmiati Suid dan hanya bisa mengeja langkah-langkah kesenimanan beliau lewat video Gumarang Sakti yang terunggah di Youtube, sosok Gusmiati Suid dalam video wawancara itu sangat memukau.

Ketika Video Dokumentasi Gusmiati Suid Ditampilkan | Foto: www.indonesiakaya.com

Ketika Video Dokumentasi Gusmiati Suid Ditampilkan | Foto: www.indonesiakaya.com

Selama ini, saya membayangkan sosok beliau sebagai perempuan Minang yang sangat tradisional. Bukan hanya itu, saya bahkan menempelkan stereotip seniman tari yang cerdas dalam berbahasa gerak namun selalu terbata dan kehabisan kosa kata jika harus menjelaskan karyanya secara lisan. Maka, begitu terkesanlah saya ketika yang ada di dalam video dokumentasi itu adalah sosok perempuan cantik, modern, dan tangguh. Beliau tampak cerdas dan menguasai pembicaraan. Bukan sesuatu yang perlu digarisbawahi lagi bahwa Gusmiati berpegang teguh pada akar tradisi. Namun, apa yang dikatakannya perlu diberi perhatian. Ia berkata bahwa bahwa, “Kalau lepas dari akarnya, saya nggak tahu orang itu mau jadi apa”.

Gusmiati Suid adalah potret Modernisme yang monumental. Berpegang dan berangkat dari suatu akar yang universal, yaitu Minang. Minang dalam artian ini mencangkup bahasa, budaya, nilai-nilai intrinsik, dan Grand Narrative yang dianut dan dihidupi masyarakat Minangkabau. Dalam video itu beliau terlihat muda; Wawancara itu kurang lebih terjadi pada akhir 1990an, era di mana terjadi pergantian arus kehidupan. Generasi baby boomers tergeser oleh Generasi X yang terkenal sinis, penyuka pesta, dan anti kemapanan[2]. Dan tepat pada masa yang terasa seperti dunia runtuh tersebut, Gusmiati Suid membangun fondasi, mengikatkan diri pada akar Minang dan mengibarkan bendera Gumarang Sakti setinggi-tingginya.

Mungkin hal ini aneh dan remeh bagi banyak orang, namun hal ini berkecamuk dalam pikiran saya—pada masa di mana anak-anak muda Jakarta diganyang pesta dan narkotika, penari-penari muda yang saat itu berusia remaja sedang dikarantina, berlatih keras dan membangun dunia mereka sendiri di bawah atap Ibu Gusmiati Suid. Untuk setiap pertunjukan yang sedang dipersiapkan, mereka berlatih dalam sistem karantina—dengan jadwal latihan tiga kali sehari dan tidak terkontaminasi oleh dunia di luar padepokan tari tersebut. Hal ini diceritakan oleh para penari sore itu di GIK dalam sesi tanya jawab. Salah satu penari dan koreografer, Hartati, menceritakan salah satu metode Ibu, demikian mereka menyebut sang maestro, di mana ia diminta duduk diam selama satu jam dan menyerap apapun yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Terdengar sederhana, namun metode ini bisa dipastikan adalah neraka bagi generasi milenial yang terkenal dengan short attention span. Bahkan gangguan konsentrasi adalah mental disorder yang sangat lumrah bagi kids jaman now, meminjam istilah yang disebutkan Benny Krisnawardi sore itu. “Bagaimana jadinya jika kids jaman now mengalami metode kesenian yang kami alami?” ungkap Benny.

Hartati Pada Sesi Diskusi Pertunjukan "Catuah Langkah" | Foto: www.indonesiakaya.com

Hartati Pada Sesi Diskusi Pertunjukan “Catuah Langkah” | Foto: www.indonesiakaya.com

Cerita perjalanan para penari Gumarang Sakti di bawah tangan besi maestro tari Gusmiati Suid bagaikan sebilah pisau tajam dengan dua sisi. Di satu sisi merupakan tamparan bagi generasi tari kini—yang serba instan, hanya mementingkan yang ekstrinsik seperti bentuk gerak, teknik tubuh dan tentu saja sorotan (dari penikmat seni, pelaku seni lainnya maupun fans). Namun di sisi lain, saya bertanya-tanya, jika mengingat dan menghidupkan kembali bagaimana mereka hidup di masa lalu yang begitu jaya, tidakkah ini juga sebuah tamparan atau lebih halusnya, teguran bagi mereka sendiri? Selepas dari pantauan sosok Ibu, apakah hidup tetap memiliki titik tuju sejelas dulu? Apakah akar saja cukup untuk melanjutkan perjalanan, tanpa proses dan perenungan yang dulu dibiasakan, dan diharuskan oleh Ibu? Tidakkah dahulu hidup terasa punya jalur yang lurus—di mana jalan itu dipugar oleh Ibu untuk mereka? Selamat datang di Posmodernisme, di mana tanah pijakan goyah, goncang dan “diri” tidak lagi menjadi pernyataan namun pertanyaan.

Pementasan “Catuah Langkah” berikut dengan sesi berbagi pengalaman pekan lalu justru mengantarkan pekerjaan rumah pada Gumarang Sakti—sebagai panutan penari masa kini dan sebagai individu yang pernah begitu disiplin dilatih Gusmiati Suid. Perjalanan kesenian yang sudah panjang ini, hendak bagaimana nantinya? Mereka tidak berjalan sejauh ini hanya untuk berhenti. Gusmiati Suid maupun para penari hebat ini adalah pahlawan. Kami berdebar begitu kencang menyaksikan superhero kami di museum kembali hidup. Namun dengan hal itu, kembali pula pertanyaan dan harapan; Hidup dan harapan adalah dua sisi dari satu mata koin.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

 

[1] Keseluruhan pertunjukan Catuah Langkah berikut dengan video wawancara sang maestro dapat ditonton di akun Youtube Galeri Indonesia Kaya.

[2] BBC Culture https://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-40060340

Sosak dan Bagaimana Menceritakan Bencana Asap

Sosak bisa dikatakan terbagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama menampilkan lima lelaki berpakaian tradisional Melayu berkisah tentang keindahan tanah Riau jauh di hari lalu. Kisah mereka disertai saling berpantun berzapin. Keceriaan dan keelokan ini perlahan-lahan lenyap, berganti gerakan-gerakan yang menggambarkan kesakitan, terror, dan kepanikan, masih oleh lima lelaki yang sama. Ini adalah bagian kedua Sosak. Eksplorasi terhadap suara tarikan nafas menghiasi hampir seluruh gerakan di bagian kedua ini. Bukan hanya itu, bagian kedua ini pun dibantu juga oleh dokumentasi pemberitaan perihal bencana asap di Provinsi Riau yang ditembakkan oleh proyektor ke layar di atas panggung. Demikianlah jika hendak menggambarkan secara singkat pertunjukan Sosak yang dihelat di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta pada 4 Maret 2018 kemarin. Sosak karya koreografer muda Rio Tulus Pernando merupakan produksi dari Malaydansstudio. Rio Tulus Pernando merupakan salah satu peserta Ruang Kreatif, sebuah program yang diinisiasi oleh Galeri Indonesia Kaya.

Dari pembagian dua bagian ini, kita tahu bahwa karya ini hendak menggambarkan bagaimana kegembiraan yang dahulu pernah ada kini sudah tiada. Apa yang mengubah keadaan bahagia menjadi tiada itu tak lain dan tak bukan adalah bencana asap yang kerap melanda Riau. Menurut Rio di dalam sesi tanya jawab pada akhir pementasan, ia memang hendak menggambarkan keadaan Riau, tempat asalnya, yang lebih sering dikenal dengan bencana asapnya itu. Ia ingin menunjukkan bahwa sebelum pembangunan dan bisnis sawit meraja-lela di sana, masih bisa ditemukan kebahagiaan dan keceriaan. Di sini, kita temukan sebuah misi dibawa oleh Sosak; upaya untuk menggambarkan realitas yang berubah akibat desakan industrialisasi perkebunan.

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Eko Crozher/Eko Wahyudi

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Eko Crozher/Eko Wahyudi

***

Tentu saja karya-karya yang entah menangisi entah mengkritisi keadaan masyarakat dan lingkungan yang berubah kerap kita temukan. Banyak di antaranya yang berhasil dengan baik, berhasil saja, dan tidak berhasil sama sekali. Di dalam katagori tersebut, bolehlah Sosak kita masukan ke dalam karya yang ‘berhasil saja’. Keberhasilan Sosak adalah karya ini mampu secara telanjang menggambarkan perubahan yang terjadi itu. Alasan perubahan pun secara harafiah digambarkan oleh Sosak; bencana asap. Dengan kata lain, Sosak adalah karya yang menggambarkan perubahan Riau dengan terlalu harafiah. Di sinilah letak perkara Sosak.

Karya seni sebagai sebuah cara menceritakan realitas tentu punya cara main sendiri yang berbeda dengan produk-produk pemberitaan realitas lainnya. Karya seni perlu merangsang pemirsanya untuk berefleksi lebih jauh perihal sesuatu yang diusung karya tersebut. Tentu saja karya seni tidaklah terbebani mengabarkan realitas segamblang-gamblangnya sebagaimana beban yang dipikul karya jurnalistik misalnya. Beda cerita jika karya jurnalistik oleh satu dan lain hal tak bisa memberitakan realitas secara gamblang. Hal yang terakhir ini pernah kita temukan di dalam sastra Indonesia pada era ketika media massa di Indonesia sangat disensor. Kala itu, sastrawan Seno Gumira Ajidarma mengumandangkan kredo, ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara. Kebetulan, Seno Gumira Ajidarma adalah sastrawan cum jurnalis kala itu. Di era sekarang, ketika jurnalisme sudah punya kebebasan, bahkan media sosial memberi kebebasan berbicara hampir kepada semua orang, tentu saja karya seni lebih tidak perlu lagi terbebani keinginan menceritakan realitas. Karya seni perlu melampaui perihal mengabarkan realitas itu.

***

Alih-alih menggambarkan realitas saja, sebuah beban yang di saat-saat tertentu dialih-tugaskan dari karya jurnalistik ke karya seni, Sosak rupanya tidak percaya diri dengan kemampuannya untuk menggambarkan realitas. Tidak cukup dengan membagi karya tersebut ke dalam dua bagian di atas, sebuah cara yang jika dieksplorasi lebih lanjut barangkali sangat baik untuk menggambarkan keadaan Riau, Sosak malah merasa perlu meminjam klipingan media massa perihal bencana asap Riau. Ketika Sosak memasuki bagian kedua, di layar di atas para penari, terpampanglah klipingan berita bencana asap, silih berganti, dari media massa mainstream sampai kicauan di facebook. Yang saya maksudkan dengan klipingan adalah semacam image hasil screenshot dari pelbagai media tersebut yang bisa dipresentasikan dengan menggunakan fitur slideshow yang bisa ditemukan di laptop jenis apa pun. Ukuran layar yang sangat besar otomatis menyedot perhatian penonton.

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Dokumentasi Malaydansstudio

Pertunjukan Sosak di Galeri Indonesia Kaya | Foto: Eko Crozher/Eko Wahyudi

Ketika klipingan itu berhenti dan penonton kembali memperhatikan lima penari di panggung, tentu saja jukstaposisinya mempengaruhi benak penonton. Untuk lebih jelasnya begini: pertama, Anda memperhatikan lima lelaki berpakaian tradisional Melayu menari dan berzapin berpantun dengan ceria. Lalu, kedua, kelima orang itu perlahan-lahan mengganti pakaian tradisional mereka dan tariannya berubah dari repertoar tradisi ke repertoar kontemporer. Pada moment peralihan itu, ketiga, Anda disuguhi klipingan media massa dengan teknik tersebut di atas perihal bencana asap di Riau. Lantas, keempat, Anda kembali menyaksikan eksplorasi tubuh dan suara tarikan nafas dari kelima penari di panggung. Nah, jukstaposisi dari pertamakedua, ketiga, dan keempat ini kuncinya ada di yang ketiga. Pertanyaannya adalah, jika yang ketiga itu tidak ada, apakah kita bisa memahami bagian keempat sebagai gambaran orang sesak nafas lantaran bencana asap? Saya tidak bisa menjawab “ya” atau “tidak”, lantaran Sosak yang saya saksikan terlanjur punya yang ketiga.

Artinya, Sosak perlu tangan pemberitaan media massa perihal bencana asap untuk menyatakan bahwa ia berbicara tentang perubahan akibat bencana asap. Jika seni tari sejatinya adalah seni olah tubuh, maka Sosak seperti kurang yakin pada olah tubuh itu sendiri. Ia perlu meminjam sesuatu dari yang lain, dalam hal ini jurnalistik, untuk menegaskan tema yang mau diusungnya. Memang, seni tari kontemporer kini tidak terbatas pada perihal tubuh semata, tetapi ia bisa berkolaborasi dengan hal-hal lain di luarnya. Dalam hal Sosak, ia berkolaborasi dengan, katakanlah, video. Namun, di sinilah letak permasalahan berikutnya. Jika sekadar screenshoot dan dipresentasikan dengan slideshow demikian sungguh sangatlah mubazir. Apalagi layar yang tersedia sebenarnya sangat memungkinkan untuk dieksplorasi dalam konteks video lebih jauh. Terus terang, saya menarik nafas lelah ketika klipingan berita bencana asap Riau itu muncul di layar di atas panggung Galeri Indonesia Kaya. Jauh lebih menarik, pikir saya spontan kala itu, jika yang ditampilkan di layar adalah satu bagian dari Manusia Asap karya Heri Budiman, fotografer Riau, berupa video seorang laki-laki di tengah hutan Riau dengan asap mengepul dari kepalanya.

Ilustrasi Video karya Heri Budiman, Bagian dari Karya "Manusia Asap" | Sumber: Katalog "Pekan Seni Media 2017"

Ilustrasi Video karya Heri Budiman, Bagian dari Karya “Manusia Asap” | Sumber: Katalog “Pekan Seni Media 2017”

***

Sebagaimana diutarakan Rio di diskusi penghujung pentas, Sosak ini masilah terus berproses. Jika Sosak memang ingin berkolaborasi dengan, katakanlah video, sebagaimana bibit-bibitnya yang muncul pada Sosak di Galeri Indonesia Kaya kemarin, kemungkinan ini hendaklah dielaborasi dengan lebih baik di kemudian hari. Kemungkinan eksplorasi video dan tari yang sangat baik sudah dimungkinkan dengan teknologi yang tersedia sekarang ini. Jangan sampai kita, katakanlah, hanya menyimpan sebiji padi di dalam belanga. Kecuali memang kita semiskin itu.*** (Berto Tukan adalah editor jurnalkarbon.net dan pengelolah website indonesiandancefestival.id)

Tubuh Laut dan Darat Yang Berkeringat

Tubuhnya yang ramping dan kuat menyerupai barakuda itu muncul perlahan dari sudut panggung yang gelap, bergerak mundur membelakangi penonton. Eko Supriyanto mulai menari dengan gerakan kaki dan tangannya yang kecil-kecil. Memunculkan kekuatan detail-detail otot dan tubuh bagian tengah dan belakang dalam samar. Penataan cahaya dari reflektor yang begitu dekat, buah keahlian Jan Maertens, menambah intensi itu. Ruang Teater Salihara terasa memuai, seakan melangkah perlahan ke ruang lain. Membawa penonton hanyut dalam sentuhan imajiner pada ilusi kedalaman laut.

Eko Supriyanto, sebagai koreografer dan penari tunggal, menyebut bagian kemunculan pertama di atas panggung dengan durasi yang begitu padat namun intens ini sebagai “Barakuda”. Sebuah metafora dari nama jenis ikan predator yang hidup di perairan tropis.

“Saya merasakan arus bawah, gravitasi, hingga saat saya kembali ke permukaan, itu semua sangat mempengaruhi tubuh,” ungkap Eko yang terakhir melakukan eksperimen diving sekitar Februari-Maret 2017 di Jailolo, Maluku.

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan "SALT" di Teater Salihara

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan “SALT” di Teater Salihara

Koreografi pertunjukan “SALT” yang dipentaskan pada 12 November malam di Teater Salihara merupakan hasil riset. Terutama ketika ia menjadikan pengalaman menyelam sebagai studi pelacakan dan eksperimen tubuh.

Akan tetapi, pengalaman pergumulan tubuhnya dengan laut hanya salah satu sisi pijakan kreatifitas. Dalam pertunjukan SALT, Eko menampilkan hasil penjelajahan tubuh yang bertranformasi antara ruang darat dan laut. Budaya agraris dan maritim ini sekaligus mencoba merangkum perjalanan karyanya secara komunal dalam “Cry Jailolo” dan pertunjukan tari “Cakalele” tarian perang dari Maluku Utara menjadi lebih personal.

Oleh sebab itu, pertunjukan “SALT” begitu kaya akan tawaran bentuk dan gerak yang ditampilkan. Seolah menjadi intisari perjalanan 5 tahun risetnya di Jailolo dengan tubuh maritim. Dan sekaligus secara transformasi ulang-alik, ia melemparkan dirinya kembali ke akar dengan identitas ke-Jawa-annya.

Eko yang dilahirkan dari keluarga Jawa, pada 26 November 1970 silam, merefleksikan tubuh Jawa melalui bentuk gerakan Jathilan. Sebuah tarian tradisional yang berasal dari Magelang-Jawa Tengah. Di mana, pada akhir pertunjukan Jathilan, sang penari akan mengalami trans (kesurupan). Sambil terus hanyut menari, si penari terus mengunyah kembang atau sesajian yang disediakan oleh pawang.

Jathilan diakui Eko sebagai impuls, yakni dengan meminjam dramaturgi pertunjukan yang tidak jauh berbeda dengan bentuk asli. Namun, Eko menampilkan estetika artistik yang lebih modern. Dengan memakai rok gaun putih, tubuhnya bergerak luwes di atas bubuk frozen magnesium yang menyerupai garam.

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan "SALT" di Teater Salihara

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan “SALT” di Teater Salihara

Bersama alunan musik kendang dan cahaya merah, tariannya memancarkan daya hisap energi panggung.  Kedua matanya melotot, mendelik, sembari mengunyah mawar putih yang lantas ia ludahkan dan tak segan ia sesekali meludah dan menjulurkan lidah. Ketika seringnya kita melihat pertunjukan tari dengan wajah-wajah penari yang datar, Eko mengolah bentuk jathilan dengan tuntas serupa trans hingga ekspresi wajah yang ekspresif dan terasa energi dalam yang magis.

Pada tubuh yang maritim, Eko mengolah tari Cakalele dan beberapa repertoar yang tampak dalam karya “Cry Jailolo” dan mungkin “Bala-Bala”. Hentakan kaki dan ayunan tangan yang mengepal begitu intens dan repetitif. Ia berlari mengelililngi panggung, ke kiri dan kanan, juga sesekali melakukan jumping. Membuat jejak-jejak putih di lantai menjadi bentuk kotak. Serupa jejak tradisi dan bentuk tari modern yang ia lewati selama perjalanan kepenariannya.

“Aku tidak hanya menginterpretasikan tradisi tapi tradisi ada di tubuhku,” tegas Eko. Lantas ia pun menambahkan bahwa, “aku tidak mau bilang tubuh Jawa dan Cakalele tapi selalu mendekonstruksi saat (tradisi) menjadi kenyamanan.”

***

Kata Salt tampaknya dianggap sebagai judul inti yang perlu ditonjolkan dalam tarian ini. Salt kerap dipahami sebagai garam yang mewakili kultur, pangan dan salah satu penopang hidup masyarakat maritim. Salt pada Eko dimaknai sebagai “keringat”.

Jailolo baginya seperti ruang dengan sistem yang kompleks. Ia mengisahkan, selama ia berada di Jailolo, Eko tidak hanya merasakan asin namun juga manis. Eko menghayati perjuangan anak-anak muda yang penuh dengan potensi dan mimpi. Akhirnya, keringat mereka dan dirinya mewakili Jailolo dipentaskan di berbagai panggung dunia. Keringat adalah perjuangan yang ia hayati dengan menjelajahi berbagai ruang-ruang pertubuhan, budaya dan alam.

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan "SALT" di Teater Salihara

Eko Supriyanto Ketika Mementaskan “SALT” di Teater Salihara

Persentuhannya dengan Jailolo menghasilkan berbagai karya yang sungguh tak mudah ia lupakan. Kemudian ia coba rangkum dengan penjelajahan tubuhnya sendiri di Jawa dan mungkin juga banyak dipengaruhi Amerika dan Eropa. Kehadiran bentuk tari kontemporer memang mewarisi semangat untuk mengolah tradisi dengan kritis dan membebaskan segala kemungkinan-kemungkinanya.

Bila Eko hanya mengandalkan semangat tradisi yang terlalu berkobar, tanpa refleksi yang memadai, ia akan sekedar mewakili atau menyalin hal-hal yang sudah sejak lama telah menjadi bagian dari kultur masyarakat—seperti yang dilakukan banyak seniman di Indonesia untuk hadir di perhelatan panggung internasional.

Akan tetapi yang berbeda di sini, bahwa karya Eko menjadi sejenis transformasi, melakukan penggalian dan penggalihan diri sedemikian rupa. Menjadikan tubuh sebagai pusat investigasi dan refleksi sembari menghadirkan gerak dari sejumlah tubuh-tubuh lain yang komunal dan ruang-ruang tradisi yang memengaruhinya. Mencoba meleburkan batas epistemik antara tubuh personal dan komunal dan yang tradisi dan modern. Eko menggali untuk lebih memencar.

Selama durasi 60 menit, yang menarik adalah sebagai penari tunggal, stamina dan energi Eko tetap terjaga di usianya menjelang 47 tahun, di tambah di akhir wawancara ia bergegas keluar “Gak kuat pengen merokok” ucapnya.

Memang di beberapa panggung ia mengakui bila ketika pentas, ia selalu menyadari kehadiran penonton. Ditambah, tanggapan beberapan penonton yang mengungkapkan bila di karya ini, Eko benar-benar ingin unjuk kebolehan dan menawarkan terlalu banyak garam. Padahal, lain dengan Salt, di mana ia justru merasakan keintiman tari secara internal.

Salt ini berbeda. Saya sadar menikmati sekali tubuh saya sendiri. Merasakan otot, gerakan, pahitnya mawar putih, merasakan babel, meludah dan tubuh saya yang benar-benar menari” jelasnya.

Intensitas, gerakan, memori dan penggalian boleh dikatakan sebagai rangkuman pertunjukan “Salt” ketika menyaksikan tubuh Eko hanyut menari. Keringat darat dan laut. Jawa dan Cakalele. Keringat dari gerak tubuh-tubuh penarinya yang komunal dan keringat dirinya yang personal. Keringat produktivitasnya yang menghasilkan berbagai karya tiap tahun tanpa jeda untuk selalu “Keep going and keep moving,” ungkapnya.

Akhirnya, keringat barangkali bisa dimaknai sebagai energi dan perjuangan yang telah menempanya dan terus ia tempuh. Dan tanpa keringat, Eko tak mungkin menyakini tari sebagai jalan hidup.*** (Ratu Selvi Agnesia, Penulis Seni Budaya)

Menikam Jejak, Menimbang Kampung dan Rantau

(Catatan Minangabau Culture and Art Festival 2)

 

 

Di atas panggung Graha Bhakti Budaya 10 Oktober 2017 lalu, enam orang penari berpakaian hitam bergerak menyusun sebuah koreografi yang atraktif, akrobatik, dan fragmentaris. Adakalanya mereka melakukan gerakan dengan serempak dan ritmis, namun adakalanya juga mereka bergerak sendiri-sendiri dengan tempo yang sumbang. Dari komponen gerak yang mereka peragakan, kita akan melihat jejak break dance yang tebal, yang kemudian ditata secara stakato (terputus-putus dan patah-patah). Gambaram lelaku penari tersebut merupakan kilasan karya koreografi Hartati berjudul Wajah #2, yang tampil pada hari kedua agenda Minangkabau Culture and Art Festival.

Dalam keterpaduan antara koletivitas dengan individualitas gerak atau antara tempo ritmis dengan sumbang itu, terkilas juga unsur-unsur silat Minangkabau yang samar dan janggal. Samar dalam artian, gerak silat yang dihadirkan tidaklah utuh. Hanya potongan-potongan tertentu dari keseluruhan pakem tradisinya. Bagian yang diambil itu pun kemudian telah didistorsi sedemikian rupa dan dilesapkan ke dalam komposisi yang lebih dominan. Janggal, karena karya tersebut mengeliminasi ritmisitas silat Minangkabau. Elemen yang terlanjur dianggap sebagai roh atau identitas utama dari gerak tradisi itu.

Penghadiran gerak silat yang menyeleweng dari aturan itu pun bersenyawa dengan latar musik yang mengalun dari luar panggung. Pada satu sisi musik yang berkombinasi dengan gerak para penari itu, terdengar akrab sebagai bunyi saluang dan dendang. Namun di sisi lain terdengar asing karena bebunyian dari musik tradisi Minangkabau tersebut digarap secara bergema dan berderau, melalui corong piranti elektrik. Memang ada etnisitas dalam karya Hartati, namun etnisitas dengan wajah yang jauh berbeda. Wajah Minangkabau yang telah dioperasi dengan perangkat-perangkat modern untuk diperlihatkan kepada kondisi-situasi hari ini.

Salah Satu Tampilan Pada Minangabau Culture and Art Festival 2 | Foto: Dokumentasi Panitia Minangabau Culture and Art Festival 2

Salah Satu Tampilan Pada Minangabau Culture and Art Festival 2 | Foto: Dokumentasi Panitia Minangabau Culture and Art Festival 2

Atau bisa jadi wajah yang, menyitir pernyataan Hartati, berusaha merepresentasikan perilaku masyarakat Minang urban. Masyarakat yang tinggal di kota besar dengan watak metropolisnya, namun tertatih-tatih tetap berusaha merawat tradisi leluhur mereka. Sudut pandang ini tentu bisa dimaklumi dengan menimbang posisi Hartati sebagai Minang diaspora. Ia memiliki darah Minang namun lahir dan menetap di Jakarta. Dengan kata lain, tradisi Minang tidak didapatinya melalui pengalaman-pengalaman inheren dengan struktur sosial masyarakat adat, namun dari pembacaan secara berjarak dan objektif. Terutama melalui metode-metode akademik, ruang di mana ia mempelajari ilmu tari.

Tapi tidak hanya Hartati ternyata, tiga belas karya seni pertunjukan lain yang juga tampil dalam agenda Minangkabau Culture and Art Festival memperlihatkan gejala yang sama. Betapa antara modernitas dengan etnisitas masih berusaha dipertautkan dan dipertentangkan oleh para seniman hari ini, setidaknya demi capaian-capaian artistik sebuah karya. Karena ketiga belas karya tersebut dihasilkan oleh seniman-seniman berdarah Minangkabau, maka tentu saja, yang menjadi seteru sekaligus sekutu dari modernitas adalah produk-produk kebudayaan Minangkabau. Baik dalam bentuk seni tradisi, artikulasi dari adat-istiadat, maupun interpretasi terhadap corak hidup masyarakatnya.

Apabila modernitas dalam seni dipahami sebagai sebuah eksperimentasi dan pembaharuan terus menerus yang berpusat pada individualisme, adanya pengklasifikiasian dan pendikotomian setiap genre seni demi perkembangan dalam tubuh seni itu sendiri, serta keotonoman seni secara fungsional dari pelbagai ritual kultural atau religi masyarakat, maka seluruh karya yang ditampilkan dalam event Minangkabau Culture and Art Festival tersebut, baik disadari atau tidak disadari oleh senimannya, baik secara sempurna ataupun rumpang, adalah hasil dari penerapan azas-azas modernitas sebenarnya.

Lantas di manakan posisi etnisitas? Etnisitas hadir dengan formula dan kadar yang beragam pada masing-masing karya yang ditampilkan. Adakalanya seperti yang ditunjukkan Hartati, muncul dengan tidak lengkap dan tidak patuh pada tatanannya. Atau ada juga yang menghadirkan etnisitas dengan lebih kental dan taat pada susunan-susunan yang telah baku. Berhasil atau tidak secara estetis, namun yang jelas, unsur-unsur etnisitas senantiasa berperan sebagai semacam mosi tidak percaya terhadap modernitas. Dan peran yang demikian itu telah lama sebenarnya diwacanakan dan senantiasa didengungkan dalam dinamika kebudayaan kita.

 

Menikam Jejak Huriah Adam

Jika ide untuk mempertautkan antara modernitas dengan etnisitas Minangkabau ini ditelusuri jejaknya, maka kita akan sampai pada nama Huriah Adam. Ialah yang mula-mula meneroka jalan ke sana, khususnya dalam dunia tari. Seniman kelahiran Padang Panjang pada tahun 1936 tersebut menghadirkan karya yang masih bersumber dari etnisitas Minang, namun dengan penekanan prinsip-prinsip dasar modern di dalamnya.

Huriah Adam, bisa kita bayangkan melakukan semacam penelitian terhadap berbagai tari tradisi yang ada di daerah kultural Minangkabau dan menemukan suatu tesis bahwa seluruh gerak yang terdapat pada ragam tari tradisi tersebut merupakan pengembangan dari dasar-dasar silat Minangkabau. Dalam kosa kata minang, tari, randai, dan segala bentuk seni yang mengandalkan eksplorasi tubuh sebagai alat produksi estetika itu disebut sebagai mancak, pancak, atau pencak, dari silat.

Bertolak dari pembacaan itu, Huriah Adam kemudian menciptakan berbagai karya tarinya. Dengan kesadaran bahwa dasar-dasar silat merupakan akar dari segala pola tari tradisional Minangkabau, ia seolah kembali ke pangkal jalan untuk menentukan ke arah mana harus melangkah. Sehingga, dengan jernih ia bisa menakar di bagian mana mesti taat pada konvensi tradisi, dan dengan leluasa ia bisa pula mengembangkan dan menambah kosa gerak yang telah ada sebelumnya ke dalam bentuk-bentuk yang baru. Huriah Adam pun kemudian menciptakan 13 jenis gerak yang menjadi dasar-dasar tarinya. Ini lah yang kemudian hari menjadi panutan dari para seniman tari yang hendak menjadikan etnisistas Minangkabau sebagai basis karyanya.

Minangkabau Culture & Art Festival pada penyelenggaraan yang kedua ini bertajuk “Manikam Jajak”. Dalam konteks seni pertunjukan, idiom menikam jejak bisa kita maknai secara agak longgar sebagai penciptaan karya yang berdasarkan kesadaran akan pencapaian-pencapaian para pendahulunya. Sadar, dan kemudian menjadikan pencapaian tersebut sebagai titik awal untuk berproses, bisa jadi untuk selanjutnya memperdalam atau memperjauh apa yang telah dicapai, bisa jadi pula untuk menyimpang atau menyeleweng darinya.

Maka, dalam karya-karya yang ditampilkan selama lima hari berturut-turut itu, khususnya pada karya tari, kita bisa mengamati lebih jauh bentuk tikaman jejak yang dilakukan oleh seniman berlatar minangkabau hari ini pada apa yang telah diteroka oleh Huriah Adam pada masa lalu. Ternyata tidak hanya dalam bentuk pertautan antara modernitas dengan etnisitas semata, mereka juga tampak menikamkan jejak pada penemuan dan pengembangan dasar-dasar silat dalam karya-karya Huriah Adam.

Karya Hartati, misalnya, meskipun dengan kadar yang tipis namun masih memanfaatkan berbagai silat Minangkabau. Atau dalam bentuk yang lebih kentara, pengembangan gerak dasar silat dan penerapan legaran randai sebagai pola lantai muncul dalam karya Syahril Alex. Dalam karyanya yang berjudul Itiak Patah Kaki itu, kuda-kuda silat yang biasanya hanya menekukkan lutut sejajar dengan pinggang, diturunkan sampai taraf paling ekstrim sehingga ujung kaki kiri dengan ujung kaki kanan membentuk garis lurus, atau dalam istilah senam lantai disebut split.

Tidak hanya kuda-kuda saja, gerak tangan, bahu, dan pinggang yang berasal dari pun juga mengalami perenggangan sampai batas-batas yang mampu dilakukan oleh tubuh. Namun, semua gerak yang memanfaatkan kelenturan tubuh sedemikian rupa tersebut, masih berada dalam struktur silat yang pergerakannya didasarkan pada langkah selang-seling serta ketegasannya yang ritmis.

Suara dendang mengiringi dari awal sampai akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih empat puluh menit. Tempo dendang dibuat seiring sejalan dengan kecepatan gerak lima orang penari di atas panggung. Menghasilkan perpaduan yang harmonis. Perubahan tempo dari lambat ke cepat atau sebaliknya, menjadi bagian penting tidak hanya untuk mempengaruhi emosi penonton tapi juga bagian dari proses pemaknaan. Apa yang ditampilkan Syahril Alex itu adalah usahanya untuk mengejawantahkan hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan kulturnya, hubungan manusia dengan lingkungan alamnya, yang kian hari kian senjang.

 

Menimbang Kampung dan Rantau

Apabila Hartati adalah Minangkabau diaspora, maka Syahril Alex adalah seniman yang lahir, besar, dan berproses kreatif di daerah pusat kebudayaan Minangkabau. Latar sosial dan kultural yang menghidupi keduanya, bisa jadi menjadi sumber atau memberi pengaruh pada perbedaan masing-masing koreografer menghadapi modernitas dan menimbang etnisitas.

Pola kampung dengan rantau ini, kemudian bisa kita tarik juga untuk melihat sepintas lalu pada seniman lain, yang juga tampil di Minangkabau Culture and Art Festival. Bagaimana masing-masing mereka memposisikan diri di hadapan tradisi leluhur atau mencerap khazanah modern. Meskipun terkesan klise dan hitam-putih, akan kita temui sebentuk hipotesa bahwa seniman yang menetap di daerah pusat kultural Minangkabau cendrung memperlakukan etnisitas dengan lebih ketat dan terikat pada konvensi-konvensi baku.

Sebagaimana yang ditunjukkan dalam Rantau Berbisik karya Ery Mefri, koreografer yang telah malang melintang di kancah internasional itu. Hampir keseluruhan lelaku penarinya bisa dirunut sebagai pengembangan dari unsur-unsur tradisi Minangkabau dengan sedikit saja sentuhan modern. Atau, seperti yang tampak pada karya S Metron M dengan judul Mite Kudeta, yang mengembalikan bahasa pada gerak dan bunyi, mirip dengan randai yang tak pernah punya batas antara unsur teater dengan unsur tari.

Sementara, seniman Minangkabau yang memilih untuk berproses di rantau, lebih cendrung untuk memperlakukan unsur-unsur tradisi dengan lebih longgar, dan juga lebih banyak menggabungkannya dengan unsur dari khazanah lain. Tampak pada garapan tari Mohamad Ichlas berjudul Tari Selendang Api II dan garapan Jefriandi Usman berjudul Tanah Merah. Struktur dasar karya mereka dekat dengan apa yang disebut sendratasik. Pemanfaatan unsur-unsur musik dan darama dalam karya tari, namun masing-masing dipisahkan secara jelas dalam pembabakannya. Struktur ini bermula dari pengembangan balet yang dilakukan di Eropa dan Amerika.

Hubungan yang demikian juga tampak pada penampilan musik oleh Taufik Adam dengan judul karya Mundus Imaginalis atau komposisi musik Yaser Arafat berjudul Love of Minangkabau, Miss You Mom, dan Wait of Love. Pada kedua komposer tersebut, kita bisa dengan santai, ringan, dan bahagia menikmati padanan saluang yang telah diremix dengan piranti-piranti elektrik atau paduan skala pentatonic minang dengan ketukan musik jazz. Minangkabau yang ramah di telinga siapa saja.*** (Fariq Alfaruqi menulis karya sastra, juga menulis berbagai macam esai, artikel, atau opini mengenai seni dan budaya. Saat ini menetap di Depok.)

Mengurai Konflik Matematis Fitri Anggraini

Suasana Sabtu malam di Goethe Haus Jakarta, 14 Oktober kemarin, mengingatkan saya akan sudut-sudut Jakarta yang merayakan akhir pekan dengan keseriusan. Bagaimana tidak, setelah registrasi ulang, saya memegang buklet yang berisi sinopsis karya tari “b” yang akan saya saksikan. Huruf atau sebutan “b” yang dipilih Fitri sebagai judul karyanya ini melambangkan selisih antar bilangan dalam barisan aritmatika. Pencarian selisih bilangan ini, tulis sinopsis tersebut, juga dapat dicari dengan kedudukan garis yang meliputi Garis Vertikal, Garis Horizontal, dan Garis Bersilang. Aritmatika merupakan kumpulan fungsi yang berisi perintah-perintah untuk mengolah data numerik. Konsep pada kedudukan garis inilah yang menjadi titik fokus karya ini. Berbekal sinopsis tersebut, saya masuk dengan ekspektasi dua opsi; jika bukan kompleksitas garis, maka permainan bilangan.

Permainan bilangan bukan hal baru dalam dunia tari. Anne Teresa De Keersmaeker, misalnya, adalah salah seorang koreografer yang terkenal dengan apresiasinya pada struktur matematis dan penggunaan geometri pada ruang. Trisha Brown adalah koreografer lainnya yang mana karya-karyanya terinspirasi oleh geometri dan matematika. Koreografi Brown terkenal dengan kemampuannya melampaui batas fisik dan menggoyahkan batas antara intelek dan insting, visibilitas dan invisibilitas.

***

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Panggung yang gelap langsung menghadirkan lima sosok penari yang berdiri tegap. Dengan komposisi yang tidak mudah diingat dalam imaji, misalnya lingkaran atau persegi, seorang penari berdiri jauh di belakang yang lain. Saya mengingatnya seperti konfigurasi sebuah ketapel seolah seseorang akan meluncur, melesat, atau sekedar menjadi poros. Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam koreografi, Fitri memberi kita suguhan musik live yang merupakan aransemen bunyi-bunyian seperti sebuah soundscape. Bunyi angin yang bergesekan dengan kaleng dan bunyi guratan barang yang ditarik di atas lantai mendominasi musik yang mencekam penonton di awal pertunjukan. Sementara itu, para penari berdiri dan kemudian berjongkok sambil menatap tajam pada penonton. Adegan ini berlangsung cukup lama, sekitar sepuluh menit. Sehingga, selama waktu yang cukup lama itu, saya menikmati musik sambil bersantai di tengah tajamnya tatapan para penari. Mereka berusaha menjaga intensitas sementara saya menikmati aransemen hidup.

Adegan berikutnya menegangkan dan apik, di mana salah seorang penari melompat dan ditangkap penari lainnya dengan cepat dan mengejutkan. Adegan-adegan yang tidak terduga sangat dibutuhkan untuk membangun antusiasme penonton untuk ‘masuk’ dalam karya; atau dengan kata lain, memerangkap penonton. Dari sisi koreografi, gerak adalah substansi dari dramaturgi. Dramaturgi tari tidak bisa dilepaskan dari elemen utama dalam tari, yaitu gerak. Maka, gerakan dengan kecepatan dan intensitas tertentu akan menarik kurva dramaturgi karya. Pembuka karya di mana penari berdiri diam dalam waktu yang lama dapat dianggap sebuah keberanian dari sisi koreografi. Salah satu bagian koreografi yang juga menarik adalah gerakan kaki menjejak yang cepat seperti tari tap. Rangkaian gerak kaki yang dinamis ini selalu diawali oleh seorang penari kemudian seolah menstimulasi yang lain untuk mengikutinya.

Mengagumkan melihat gerakan kaki yang kompleks dan cepat dapat dilakukan dengan rampak. Namun sayangnya pada beberapa momen, sedikit keterlambatan atau ketidaksamaan tempo terjadi sehingga gerakan rampak itu terganggu. Gerakan ini dilakukan berkali-kali dengan komposisi yang variatif. Menarik bahwa Fitri mengeksplorasi gerak langkah atau eksplorasi kaki dan bukan gerak seluruh tubuh. Gerakan yang luas dan mengekspolorasi semua rongga pada tubuh sering kita temukan dalam karya-karya koreografer Indonesia. Mungkin karena itu para penari dalam karya “b” ini memakai sepatu hitam.

Mengingat sinopsis yang mengedepankan kedudukan garis sebagai metode mencari selisih bilangan atau “b”, sepanjang pertunjukan saya tidak menemukan konfigurasi garis yang variatif atau yang menunjukkan adanya suatu konflik. Komposisi atau blocking penari di panggung seperti tarian-tarian daerah pada umumnya. Kemudian ada bagian yang ditarikan solo oleh seorang di antara mereka. Namun pada bagian solo itupun saya gagal dalam menangkap suatu pola atau keterkaitan si penari solo dengan grupnya. Bagian solo tersebut terlihat seperti sebuah cerita sendiri dan kemudian sang solois kembali pada kelompoknya tanpa ada pemicu apa-apa. Sama sekali tidak ada kesemerawutan garis atau apapun yang menunjukkan terjadinya sebuah konflik.

Saya juga mencari atau berusaha meraba adegan-adegan yang membuat saya merasa mereka mencari sesuatu, mencari selisih bilangan tersebut, pula tidak tampak hal itu. Tidak ada kegelisahan yang saya tangkap dari para penari. Mereka semua tampil sebagai sosok yang yakin dan “terpenuhi”. Dengan kata lain, saya gagal meraba konflik maupun klimaks pada karya ini. Para penari kemudian mengulur semacam tali atau benang yang lebar dari tangan mereka. Benang itu sesekali mereka injak dan mereka terlihat seperti penggerak boneka kayu, namun tubuh yang menjadi objek yang digerakkan. Adegan ini bisa digambarkan seperti situasi terjerat oleh diri sendiri.

Namun sayangnya, untuk kesan itu terbangun, adegan tali-temali ini tidak cukup kuat. Para penari terlihat bereksplorasi dengan tenang dan intensitas rendah—dengan tali yang menjulur dari tangan mereka. Saya sendiri sudah memiliki imajinasi apriori akan apa yang akan dilakukan Fitri dengan tali dan penari. Walau begitu, saya juga selalu membiarkan diri saya terkejut dengan apa yang ditawarkan koreografer dalam setiap karya yang saya hadiri. Adegan eksplorasi penari dengan tali ini menjadi adegan akhir. Lampu perlahan meredup dan tepuk tangan penonton meramaikan suasana.

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

***

Kiranya “b” adalah sebuah eksplorasi yang berusaha keluar dari tradisi atau stereotip panggung tari Indonesia. Namun kata-kata kunci seperti “aritmatika”, “selisih bilangan”, dan “garis” yang tertulis di sinopsis tidak teraba jejaknya dalam pertunjukan ini. Musik hidup yang indah dan mencekam menjadi kekuatan karya, namun musik tersebut sempat terdengar seperti nuansa tradisi—yang mana tidak sejalan dengan karya yang sangat kontemporer. Kostum para penari yang seragam juga mengesankan seperti tari tradisi—di mana kostum memiliki makna mendalam dan lebih dari sekedar “pembuat kesan”.

Jika kita kilas balik pada karya Andara Firman Moeis, “Untitled 2016”, yang juga mengusung tema matematis, para penarinya mengenakan baju sehari-hari yang sangat biasa. Mengapa? Karena tema yang diusung merupakan sesuatu yang impersonal, suatu metode koreografi yang tidak didasarkan pada perasaan-perasaan personal. Namun apakah metode impersonal menutup karya dari makna dan kesan yang dapat dihayati secara personal? Sama sekali tidak. Seorang seniman, dalam hemat saya, dapat mengambil metode apapun dalam membangun karyanya, baik metode yang sangat personal—seperti penggalian pengalaman dan kenangan pribadi—maupun metode impersonal seperti eksplorasi matematis, biologis (seperti pada karya Emmanuelle Vo-Dinh di Salihara) meninggalkan makna-makna personal pada penonton, setidaknya saya, lepas dari apakah makna itu yang hendak disampaikan oleh sang koreografer atau tidak.

Seniman adalah seorang ahli yang sangat jeli. Mereka melihat dunia dengan kacamata yang berbeda dengan orang kebanyakan. Oleh sebab itu seniman dapat menemukan yang magis dari ketatnya kepastian, dan mereka dapat meruncingkan keseharian yang tumpul dan membosankan. Inilah yang selalu kita nantikan dalam setiap karya, termasuk panggung tari Indonesia.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)