baru_IMG_6227

Menikam Jejak, Menimbang Kampung dan Rantau

(Catatan Minangabau Culture and Art Festival 2)

 

 

Di atas panggung Graha Bhakti Budaya 10 Oktober 2017 lalu, enam orang penari berpakaian hitam bergerak menyusun sebuah koreografi yang atraktif, akrobatik, dan fragmentaris. Adakalanya mereka melakukan gerakan dengan serempak dan ritmis, namun adakalanya juga mereka bergerak sendiri-sendiri dengan tempo yang sumbang. Dari komponen gerak yang mereka peragakan, kita akan melihat jejak break dance yang tebal, yang kemudian ditata secara stakato (terputus-putus dan patah-patah). Gambaram lelaku penari tersebut merupakan kilasan karya koreografi Hartati berjudul Wajah #2, yang tampil pada hari kedua agenda Minangkabau Culture and Art Festival.

Dalam keterpaduan antara koletivitas dengan individualitas gerak atau antara tempo ritmis dengan sumbang itu, terkilas juga unsur-unsur silat Minangkabau yang samar dan janggal. Samar dalam artian, gerak silat yang dihadirkan tidaklah utuh. Hanya potongan-potongan tertentu dari keseluruhan pakem tradisinya. Bagian yang diambil itu pun kemudian telah didistorsi sedemikian rupa dan dilesapkan ke dalam komposisi yang lebih dominan. Janggal, karena karya tersebut mengeliminasi ritmisitas silat Minangkabau. Elemen yang terlanjur dianggap sebagai roh atau identitas utama dari gerak tradisi itu.

Penghadiran gerak silat yang menyeleweng dari aturan itu pun bersenyawa dengan latar musik yang mengalun dari luar panggung. Pada satu sisi musik yang berkombinasi dengan gerak para penari itu, terdengar akrab sebagai bunyi saluang dan dendang. Namun di sisi lain terdengar asing karena bebunyian dari musik tradisi Minangkabau tersebut digarap secara bergema dan berderau, melalui corong piranti elektrik. Memang ada etnisitas dalam karya Hartati, namun etnisitas dengan wajah yang jauh berbeda. Wajah Minangkabau yang telah dioperasi dengan perangkat-perangkat modern untuk diperlihatkan kepada kondisi-situasi hari ini.

Salah Satu Tampilan Pada Minangabau Culture and Art Festival 2 | Foto: Dokumentasi Panitia Minangabau Culture and Art Festival 2

Salah Satu Tampilan Pada Minangabau Culture and Art Festival 2 | Foto: Dokumentasi Panitia Minangabau Culture and Art Festival 2

Atau bisa jadi wajah yang, menyitir pernyataan Hartati, berusaha merepresentasikan perilaku masyarakat Minang urban. Masyarakat yang tinggal di kota besar dengan watak metropolisnya, namun tertatih-tatih tetap berusaha merawat tradisi leluhur mereka. Sudut pandang ini tentu bisa dimaklumi dengan menimbang posisi Hartati sebagai Minang diaspora. Ia memiliki darah Minang namun lahir dan menetap di Jakarta. Dengan kata lain, tradisi Minang tidak didapatinya melalui pengalaman-pengalaman inheren dengan struktur sosial masyarakat adat, namun dari pembacaan secara berjarak dan objektif. Terutama melalui metode-metode akademik, ruang di mana ia mempelajari ilmu tari.

Tapi tidak hanya Hartati ternyata, tiga belas karya seni pertunjukan lain yang juga tampil dalam agenda Minangkabau Culture and Art Festival memperlihatkan gejala yang sama. Betapa antara modernitas dengan etnisitas masih berusaha dipertautkan dan dipertentangkan oleh para seniman hari ini, setidaknya demi capaian-capaian artistik sebuah karya. Karena ketiga belas karya tersebut dihasilkan oleh seniman-seniman berdarah Minangkabau, maka tentu saja, yang menjadi seteru sekaligus sekutu dari modernitas adalah produk-produk kebudayaan Minangkabau. Baik dalam bentuk seni tradisi, artikulasi dari adat-istiadat, maupun interpretasi terhadap corak hidup masyarakatnya.

Apabila modernitas dalam seni dipahami sebagai sebuah eksperimentasi dan pembaharuan terus menerus yang berpusat pada individualisme, adanya pengklasifikiasian dan pendikotomian setiap genre seni demi perkembangan dalam tubuh seni itu sendiri, serta keotonoman seni secara fungsional dari pelbagai ritual kultural atau religi masyarakat, maka seluruh karya yang ditampilkan dalam event Minangkabau Culture and Art Festival tersebut, baik disadari atau tidak disadari oleh senimannya, baik secara sempurna ataupun rumpang, adalah hasil dari penerapan azas-azas modernitas sebenarnya.

Lantas di manakan posisi etnisitas? Etnisitas hadir dengan formula dan kadar yang beragam pada masing-masing karya yang ditampilkan. Adakalanya seperti yang ditunjukkan Hartati, muncul dengan tidak lengkap dan tidak patuh pada tatanannya. Atau ada juga yang menghadirkan etnisitas dengan lebih kental dan taat pada susunan-susunan yang telah baku. Berhasil atau tidak secara estetis, namun yang jelas, unsur-unsur etnisitas senantiasa berperan sebagai semacam mosi tidak percaya terhadap modernitas. Dan peran yang demikian itu telah lama sebenarnya diwacanakan dan senantiasa didengungkan dalam dinamika kebudayaan kita.

 

Menikam Jejak Huriah Adam

Jika ide untuk mempertautkan antara modernitas dengan etnisitas Minangkabau ini ditelusuri jejaknya, maka kita akan sampai pada nama Huriah Adam. Ialah yang mula-mula meneroka jalan ke sana, khususnya dalam dunia tari. Seniman kelahiran Padang Panjang pada tahun 1936 tersebut menghadirkan karya yang masih bersumber dari etnisitas Minang, namun dengan penekanan prinsip-prinsip dasar modern di dalamnya.

Huriah Adam, bisa kita bayangkan melakukan semacam penelitian terhadap berbagai tari tradisi yang ada di daerah kultural Minangkabau dan menemukan suatu tesis bahwa seluruh gerak yang terdapat pada ragam tari tradisi tersebut merupakan pengembangan dari dasar-dasar silat Minangkabau. Dalam kosa kata minang, tari, randai, dan segala bentuk seni yang mengandalkan eksplorasi tubuh sebagai alat produksi estetika itu disebut sebagai mancak, pancak, atau pencak, dari silat.

Bertolak dari pembacaan itu, Huriah Adam kemudian menciptakan berbagai karya tarinya. Dengan kesadaran bahwa dasar-dasar silat merupakan akar dari segala pola tari tradisional Minangkabau, ia seolah kembali ke pangkal jalan untuk menentukan ke arah mana harus melangkah. Sehingga, dengan jernih ia bisa menakar di bagian mana mesti taat pada konvensi tradisi, dan dengan leluasa ia bisa pula mengembangkan dan menambah kosa gerak yang telah ada sebelumnya ke dalam bentuk-bentuk yang baru. Huriah Adam pun kemudian menciptakan 13 jenis gerak yang menjadi dasar-dasar tarinya. Ini lah yang kemudian hari menjadi panutan dari para seniman tari yang hendak menjadikan etnisistas Minangkabau sebagai basis karyanya.

Minangkabau Culture & Art Festival pada penyelenggaraan yang kedua ini bertajuk “Manikam Jajak”. Dalam konteks seni pertunjukan, idiom menikam jejak bisa kita maknai secara agak longgar sebagai penciptaan karya yang berdasarkan kesadaran akan pencapaian-pencapaian para pendahulunya. Sadar, dan kemudian menjadikan pencapaian tersebut sebagai titik awal untuk berproses, bisa jadi untuk selanjutnya memperdalam atau memperjauh apa yang telah dicapai, bisa jadi pula untuk menyimpang atau menyeleweng darinya.

Maka, dalam karya-karya yang ditampilkan selama lima hari berturut-turut itu, khususnya pada karya tari, kita bisa mengamati lebih jauh bentuk tikaman jejak yang dilakukan oleh seniman berlatar minangkabau hari ini pada apa yang telah diteroka oleh Huriah Adam pada masa lalu. Ternyata tidak hanya dalam bentuk pertautan antara modernitas dengan etnisitas semata, mereka juga tampak menikamkan jejak pada penemuan dan pengembangan dasar-dasar silat dalam karya-karya Huriah Adam.

Karya Hartati, misalnya, meskipun dengan kadar yang tipis namun masih memanfaatkan berbagai silat Minangkabau. Atau dalam bentuk yang lebih kentara, pengembangan gerak dasar silat dan penerapan legaran randai sebagai pola lantai muncul dalam karya Syahril Alex. Dalam karyanya yang berjudul Itiak Patah Kaki itu, kuda-kuda silat yang biasanya hanya menekukkan lutut sejajar dengan pinggang, diturunkan sampai taraf paling ekstrim sehingga ujung kaki kiri dengan ujung kaki kanan membentuk garis lurus, atau dalam istilah senam lantai disebut split.

Tidak hanya kuda-kuda saja, gerak tangan, bahu, dan pinggang yang berasal dari pun juga mengalami perenggangan sampai batas-batas yang mampu dilakukan oleh tubuh. Namun, semua gerak yang memanfaatkan kelenturan tubuh sedemikian rupa tersebut, masih berada dalam struktur silat yang pergerakannya didasarkan pada langkah selang-seling serta ketegasannya yang ritmis.

Suara dendang mengiringi dari awal sampai akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih empat puluh menit. Tempo dendang dibuat seiring sejalan dengan kecepatan gerak lima orang penari di atas panggung. Menghasilkan perpaduan yang harmonis. Perubahan tempo dari lambat ke cepat atau sebaliknya, menjadi bagian penting tidak hanya untuk mempengaruhi emosi penonton tapi juga bagian dari proses pemaknaan. Apa yang ditampilkan Syahril Alex itu adalah usahanya untuk mengejawantahkan hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan kulturnya, hubungan manusia dengan lingkungan alamnya, yang kian hari kian senjang.

 

Menimbang Kampung dan Rantau

Apabila Hartati adalah Minangkabau diaspora, maka Syahril Alex adalah seniman yang lahir, besar, dan berproses kreatif di daerah pusat kebudayaan Minangkabau. Latar sosial dan kultural yang menghidupi keduanya, bisa jadi menjadi sumber atau memberi pengaruh pada perbedaan masing-masing koreografer menghadapi modernitas dan menimbang etnisitas.

Pola kampung dengan rantau ini, kemudian bisa kita tarik juga untuk melihat sepintas lalu pada seniman lain, yang juga tampil di Minangkabau Culture and Art Festival. Bagaimana masing-masing mereka memposisikan diri di hadapan tradisi leluhur atau mencerap khazanah modern. Meskipun terkesan klise dan hitam-putih, akan kita temui sebentuk hipotesa bahwa seniman yang menetap di daerah pusat kultural Minangkabau cendrung memperlakukan etnisitas dengan lebih ketat dan terikat pada konvensi-konvensi baku.

Sebagaimana yang ditunjukkan dalam Rantau Berbisik karya Ery Mefri, koreografer yang telah malang melintang di kancah internasional itu. Hampir keseluruhan lelaku penarinya bisa dirunut sebagai pengembangan dari unsur-unsur tradisi Minangkabau dengan sedikit saja sentuhan modern. Atau, seperti yang tampak pada karya S Metron M dengan judul Mite Kudeta, yang mengembalikan bahasa pada gerak dan bunyi, mirip dengan randai yang tak pernah punya batas antara unsur teater dengan unsur tari.

Sementara, seniman Minangkabau yang memilih untuk berproses di rantau, lebih cendrung untuk memperlakukan unsur-unsur tradisi dengan lebih longgar, dan juga lebih banyak menggabungkannya dengan unsur dari khazanah lain. Tampak pada garapan tari Mohamad Ichlas berjudul Tari Selendang Api II dan garapan Jefriandi Usman berjudul Tanah Merah. Struktur dasar karya mereka dekat dengan apa yang disebut sendratasik. Pemanfaatan unsur-unsur musik dan darama dalam karya tari, namun masing-masing dipisahkan secara jelas dalam pembabakannya. Struktur ini bermula dari pengembangan balet yang dilakukan di Eropa dan Amerika.

Hubungan yang demikian juga tampak pada penampilan musik oleh Taufik Adam dengan judul karya Mundus Imaginalis atau komposisi musik Yaser Arafat berjudul Love of Minangkabau, Miss You Mom, dan Wait of Love. Pada kedua komposer tersebut, kita bisa dengan santai, ringan, dan bahagia menikmati padanan saluang yang telah diremix dengan piranti-piranti elektrik atau paduan skala pentatonic minang dengan ketukan musik jazz. Minangkabau yang ramah di telinga siapa saja.*** (Fariq Alfaruqi menulis karya sastra, juga menulis berbagai macam esai, artikel, atau opini mengenai seni dan budaya. Saat ini menetap di Depok.)

????????????????????????????????????

Mengurai Konflik Matematis Fitri Anggraini

Suasana Sabtu malam di Goethe Haus Jakarta, 14 Oktober kemarin, mengingatkan saya akan sudut-sudut Jakarta yang merayakan akhir pekan dengan keseriusan. Bagaimana tidak, setelah registrasi ulang, saya memegang buklet yang berisi sinopsis karya tari “b” yang akan saya saksikan. Huruf atau sebutan “b” yang dipilih Fitri sebagai judul karyanya ini melambangkan selisih antar bilangan dalam barisan aritmatika. Pencarian selisih bilangan ini, tulis sinopsis tersebut, juga dapat dicari dengan kedudukan garis yang meliputi Garis Vertikal, Garis Horizontal, dan Garis Bersilang. Aritmatika merupakan kumpulan fungsi yang berisi perintah-perintah untuk mengolah data numerik. Konsep pada kedudukan garis inilah yang menjadi titik fokus karya ini. Berbekal sinopsis tersebut, saya masuk dengan ekspektasi dua opsi; jika bukan kompleksitas garis, maka permainan bilangan.

Permainan bilangan bukan hal baru dalam dunia tari. Anne Teresa De Keersmaeker, misalnya, adalah salah seorang koreografer yang terkenal dengan apresiasinya pada struktur matematis dan penggunaan geometri pada ruang. Trisha Brown adalah koreografer lainnya yang mana karya-karyanya terinspirasi oleh geometri dan matematika. Koreografi Brown terkenal dengan kemampuannya melampaui batas fisik dan menggoyahkan batas antara intelek dan insting, visibilitas dan invisibilitas.

***

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Panggung yang gelap langsung menghadirkan lima sosok penari yang berdiri tegap. Dengan komposisi yang tidak mudah diingat dalam imaji, misalnya lingkaran atau persegi, seorang penari berdiri jauh di belakang yang lain. Saya mengingatnya seperti konfigurasi sebuah ketapel seolah seseorang akan meluncur, melesat, atau sekedar menjadi poros. Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam koreografi, Fitri memberi kita suguhan musik live yang merupakan aransemen bunyi-bunyian seperti sebuah soundscape. Bunyi angin yang bergesekan dengan kaleng dan bunyi guratan barang yang ditarik di atas lantai mendominasi musik yang mencekam penonton di awal pertunjukan. Sementara itu, para penari berdiri dan kemudian berjongkok sambil menatap tajam pada penonton. Adegan ini berlangsung cukup lama, sekitar sepuluh menit. Sehingga, selama waktu yang cukup lama itu, saya menikmati musik sambil bersantai di tengah tajamnya tatapan para penari. Mereka berusaha menjaga intensitas sementara saya menikmati aransemen hidup.

Adegan berikutnya menegangkan dan apik, di mana salah seorang penari melompat dan ditangkap penari lainnya dengan cepat dan mengejutkan. Adegan-adegan yang tidak terduga sangat dibutuhkan untuk membangun antusiasme penonton untuk ‘masuk’ dalam karya; atau dengan kata lain, memerangkap penonton. Dari sisi koreografi, gerak adalah substansi dari dramaturgi. Dramaturgi tari tidak bisa dilepaskan dari elemen utama dalam tari, yaitu gerak. Maka, gerakan dengan kecepatan dan intensitas tertentu akan menarik kurva dramaturgi karya. Pembuka karya di mana penari berdiri diam dalam waktu yang lama dapat dianggap sebuah keberanian dari sisi koreografi. Salah satu bagian koreografi yang juga menarik adalah gerakan kaki menjejak yang cepat seperti tari tap. Rangkaian gerak kaki yang dinamis ini selalu diawali oleh seorang penari kemudian seolah menstimulasi yang lain untuk mengikutinya.

Mengagumkan melihat gerakan kaki yang kompleks dan cepat dapat dilakukan dengan rampak. Namun sayangnya pada beberapa momen, sedikit keterlambatan atau ketidaksamaan tempo terjadi sehingga gerakan rampak itu terganggu. Gerakan ini dilakukan berkali-kali dengan komposisi yang variatif. Menarik bahwa Fitri mengeksplorasi gerak langkah atau eksplorasi kaki dan bukan gerak seluruh tubuh. Gerakan yang luas dan mengekspolorasi semua rongga pada tubuh sering kita temukan dalam karya-karya koreografer Indonesia. Mungkin karena itu para penari dalam karya “b” ini memakai sepatu hitam.

Mengingat sinopsis yang mengedepankan kedudukan garis sebagai metode mencari selisih bilangan atau “b”, sepanjang pertunjukan saya tidak menemukan konfigurasi garis yang variatif atau yang menunjukkan adanya suatu konflik. Komposisi atau blocking penari di panggung seperti tarian-tarian daerah pada umumnya. Kemudian ada bagian yang ditarikan solo oleh seorang di antara mereka. Namun pada bagian solo itupun saya gagal dalam menangkap suatu pola atau keterkaitan si penari solo dengan grupnya. Bagian solo tersebut terlihat seperti sebuah cerita sendiri dan kemudian sang solois kembali pada kelompoknya tanpa ada pemicu apa-apa. Sama sekali tidak ada kesemerawutan garis atau apapun yang menunjukkan terjadinya sebuah konflik.

Saya juga mencari atau berusaha meraba adegan-adegan yang membuat saya merasa mereka mencari sesuatu, mencari selisih bilangan tersebut, pula tidak tampak hal itu. Tidak ada kegelisahan yang saya tangkap dari para penari. Mereka semua tampil sebagai sosok yang yakin dan “terpenuhi”. Dengan kata lain, saya gagal meraba konflik maupun klimaks pada karya ini. Para penari kemudian mengulur semacam tali atau benang yang lebar dari tangan mereka. Benang itu sesekali mereka injak dan mereka terlihat seperti penggerak boneka kayu, namun tubuh yang menjadi objek yang digerakkan. Adegan ini bisa digambarkan seperti situasi terjerat oleh diri sendiri.

Namun sayangnya, untuk kesan itu terbangun, adegan tali-temali ini tidak cukup kuat. Para penari terlihat bereksplorasi dengan tenang dan intensitas rendah—dengan tali yang menjulur dari tangan mereka. Saya sendiri sudah memiliki imajinasi apriori akan apa yang akan dilakukan Fitri dengan tali dan penari. Walau begitu, saya juga selalu membiarkan diri saya terkejut dengan apa yang ditawarkan koreografer dalam setiap karya yang saya hadiri. Adegan eksplorasi penari dengan tali ini menjadi adegan akhir. Lampu perlahan meredup dan tepuk tangan penonton meramaikan suasana.

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

Karya “b” oleh Fitri Anggraini | Foto: Dokumentasi Fitri Anggraini

***

Kiranya “b” adalah sebuah eksplorasi yang berusaha keluar dari tradisi atau stereotip panggung tari Indonesia. Namun kata-kata kunci seperti “aritmatika”, “selisih bilangan”, dan “garis” yang tertulis di sinopsis tidak teraba jejaknya dalam pertunjukan ini. Musik hidup yang indah dan mencekam menjadi kekuatan karya, namun musik tersebut sempat terdengar seperti nuansa tradisi—yang mana tidak sejalan dengan karya yang sangat kontemporer. Kostum para penari yang seragam juga mengesankan seperti tari tradisi—di mana kostum memiliki makna mendalam dan lebih dari sekedar “pembuat kesan”.

Jika kita kilas balik pada karya Andara Firman Moeis, “Untitled 2016”, yang juga mengusung tema matematis, para penarinya mengenakan baju sehari-hari yang sangat biasa. Mengapa? Karena tema yang diusung merupakan sesuatu yang impersonal, suatu metode koreografi yang tidak didasarkan pada perasaan-perasaan personal. Namun apakah metode impersonal menutup karya dari makna dan kesan yang dapat dihayati secara personal? Sama sekali tidak. Seorang seniman, dalam hemat saya, dapat mengambil metode apapun dalam membangun karyanya, baik metode yang sangat personal—seperti penggalian pengalaman dan kenangan pribadi—maupun metode impersonal seperti eksplorasi matematis, biologis (seperti pada karya Emmanuelle Vo-Dinh di Salihara) meninggalkan makna-makna personal pada penonton, setidaknya saya, lepas dari apakah makna itu yang hendak disampaikan oleh sang koreografer atau tidak.

Seniman adalah seorang ahli yang sangat jeli. Mereka melihat dunia dengan kacamata yang berbeda dengan orang kebanyakan. Oleh sebab itu seniman dapat menemukan yang magis dari ketatnya kepastian, dan mereka dapat meruncingkan keseharian yang tumpul dan membosankan. Inilah yang selalu kita nantikan dalam setiap karya, termasuk panggung tari Indonesia.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

Penampilan Rianto pada IDF 2017 | Gambar: Dokumentasi IDF

Medium: Menyuarakan Tubuh, Menubuhkan Energi

Datang untuk menonton pertunjukan tari Rianto selalu menanamkan harapan yang tinggi di dalam pikiran. Bagaimana tidak, Rianto mungkin adalah satu-satunya penari Indonesia yang mendirikan rumah produksi tarinya sendiri di Jepang, Dewandaru Dance Company. Kental dengan akar tradisi Jawa, sebagai penari, Rianto telah bekerja dengan sejumlah koreografer internasional namun karya-karya kontemporernya tidak pernah meninggalkan corak tradisi Jawa.

 

Pertunjukkan di Teater Salihara, Sabtu malam, 8 Juli 2017 itu dibuka dengan hadirnya tiga pemusik, dua laki-laki dan seorang perempuan, yang duduk di mulut panggung membelakangi penonton.  Mereka menggelar peralatan yang akan menghasilkan bunyi-bunyian. Semakin menarik, alat-alat itu bukanlah instrumen musik pada umumnya namun berbagai perkakas berbahan metal, kayu, seng, dan sebagainya. Kemudian muncul Rianto di bawah sorotan lampu. Sangat sederhana, malam itu ia mengenakan celana hitam dan bertelanjang dada. Sangat casual, seolah Rianto tidak berusaha menjadi apa-apa selain menjadi manusia. Ia kemudian berlari di tempat cukup lama dengan tempo yang konstan dan nafas yang teratur. Rianto melakukan gerakan lari di tempat yang menghabiskan tenaga dengan sangat tenang, sambil memukul-mukul kepalanya, membuatnya terlihat seperti membuka pintu masuk untuk sesuatu yang lain. Benar saja, setelah itu Rianto seperti menyadari setiap suara dari dalam tubuhnya. Kemudian, setiap kali tubuhnya bergerak, gerak sekecil apapun itu menghasilkan suara. Rianto mengeksplorasi gerak dan menyadari suara dari setiap gerak. Sesekali ia juga menyuarakan gerak tubuhnya.

Penampilan Rianto di Teater Luwes Pada Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

Penampilan Rianto di Teater Luwes Pada Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

 

Yang khas dari penari Jawa adalah geraknya terasa sangat internal. Secara ketubuhan, kita dapat melihat, jika jeli, bagaimana Rianto menggunakan hingga komponen-komponen terhalus dalam tubuhnya untuk mengeksekusi gerakan. Secara konteks yang melampaui ketubuhan, motif gerak, atau lebih tepatnya, cara Rianto bergerak memperlihatkan pada kita bahwa daya-daya di luar dirinyalah yang menggerakkannya. Impresi yang tercipta dari tarian Rianto adalah bahwa ia bergerak sedemikian rupa bukan karena ia ingin bergerak seperti itu, namun daya energi yang tak terbendung mendorong, menarik, mencabik, dan bersatu dengan sang medium, Rianto. Dalam Medium, Rianto menyuarakan tubuh dan menubuhkan energi.

 

Karya ini, seperti tertulis pada sinopsis karyanya, Rianto ingin mengeksplorasi kelenturan gender. Topik ini diangkat Rianto berdasarkan pada akar tradisi Banyumas yang mendarah daging dalam dirinya, yaitu Tari Lengger. Rianto telah menjadi penari Lengger dari usia yang sangat muda (realtimearts.net). Penari Lengger adalah laki-laki, perempuan, dan juga waria. Ritual-ritual Lengger sangat hadir dalam tarian Rianto malam itu. Pada suatu adegan, misalnya, Rianto mengucap mantra. Mantra memang dibacakan dalam ritual tari Lengger untuk mengundang Indhang, sebutan untuk kekuatan yang sangat besar dan bersifat spiritual, yang bisa hadir dan merasuki penari Lengger hingga mampu melakukan hal-hal di luar kemampuannya sebagai manusia biasa. Dalam sebuah adegan, Rianto menari seperti lelaki yang sangat gagah dan berbicara dengan suara menggelegar. Lalu kemudian, ia menari seperti perempuan dan berbicara dengan nada yang menggoda.

 

Adegan yang menunjukkan kelenturan gender ini bisa berlapis arti. Lebih dari sekedar menunjukkan keterbukaan tari Lengger pada lelaki, pria, dan waria, lewat adegan ini, Rianto menunjukkan bahwa maskulinitas dan feminitas bukan ditandai oleh organ seksual. Maskulin dan feminin adalah energi, daya yang bergerak seperti arus gelombang yang bertabrakan. Karya seni yang sangat maskulin atau sangat feminin, dalam hemat saya, sangatlah membosankan. Sisi perkaya, adidaya, sekaligus menggoda dan merawat, semuanya harus ada dalam sebuah karya seni. Karena, bukankah itu yang disebut sebagai kesenian? Sesuatu yang melampaui rasio, sesuatu yang mampu membuat kita sejenak berhenti—mampu menginterupsi realita keseharian yang banal dan tumpul. Untuk mampu melakukan hal itu, feminitas dan maskulinitas harus ada—baik dalam pertunjukkan maupun dalam proses berkarya.

Penampilan Rianto di Teater Luwes, IKJ Dalam Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

Penampilan Rianto di Teater Luwes, IKJ Dalam Perhelatan IDF 2017 | Sumber: Dokumentasi IDF

 

Harus diakui, Rianto menguasai ruang. Bukan hanya ruang internal tubuhnya, namun juga ruang internal kosmiknya. Musikalitas tubuh merupakan penanda monumental pada karya-karya Rianto, termasuk juga pada Medium ini. Namun harus saya katakan, presentasi karya Medium di Teater Luwes tahun lalu, dalam acara Indonesian Dance Festival bertajuk “Tubuh Sonik”, lebih menggenggam saya sebagai penonton daripada Medium di Salihara, 8 Juli lalu. Pada bagian awal, pemusik sempat tidak sinkron dengan gerakan Rianto. Dan pada bagian-bagian selanjutnya, saya merasa Rianto bisa “berbicara” sendiri tanpa musiknya. Sementara pada pertunjukan di Teater Luwes, duet Rianto dan Cahwati merupakan perpaduan yang sangat digdaya. Mereka berdua bagaikan dua energi yang saling membangun, menabrak, chaos, dan saling membutuhkan. Berbeda dengan pertunjukan di Salihara, di Teater Luwes Rianto tidak banyak mengucapkan sesuatu, hanya menyuarakan bunyi-bunyi yang merupakan paduan dengan eksplorasi gerak. Sayangnya, tidak semua orang mengerti bahasa Jawa dan penonton pasti ingin mengetahui setiap ucapan dalam pertunjukan serta artinya.

 

Pada akhirnya, Medium adalah sebuah karya tari yang menawarkan kehadiran. Kehadiran diri, dan lebih penting dari itu, kehadiran subjektivitas tanpa subjek—kehadiran diri sebagai medium untuk daya-daya yang chaos, yang melampaui tubuh dan peran personal seseorang dalam subjektivitasnya. (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

Sumber Gambar: http://www.salihara.org

Menemukan Ruang Eksploratif Dalam Tubuh

I

Maeva Cunci, penari tunggal dalam Sprint, membuka pertunjukan dengan berdiri diagonal membelakangi penonton. Sebelum Cunci hadir, panggung Teater Salihara dipenuhi kabut asap sehingga yang terlihat hanyalah penari dan kabut. Maeva Cunci lalu berlari melingkar dengan kecepatan konstan. Hampir seluruh pertunjukan Sprint di Teater Salihara pada 8 Juni lalu adalah Maeva Cunci yang berlari dengan stamina mengagumkan, intensitas yang tak lepas, dan ritme yang teratur namun eksploratif.  Itulah kira-kira gambaran Sprint karya koreografer Emmanuelle Vo-Dinh yang hadir memeriahkan event Helatari, Komunitas Salihara ini.

Emmanuelle Vo-Dinh adalah seorang penari dan koreografer Prancis yang mendirikan Sui Generis Company di Le Havre pada 1998. Sebelumnya, ia banyak menari untuk koreografer Prancis, Francois Raffinot. Sejak 1998, Vo-Dinh telah menghasilkan banyak karya original di panggung tari. Setelah mengeksplorasi karakteristik para penarinya di karya-karya awal, karya-karya Vo-Dinh terkini lebih abstrak karena ia memadukan karya-karyanya dengan dua cabang ilmu yang juga tengah menarik perhatiannya; neurologi dan psikiatri.

Sumber Gambar: https://sgimage.detik.net.id

Sumber Gambar: https://sgimage.detik.net.id

 

II

Kabut memenuhi panggung hingga sebidang ruang hitam itu tak terlihat. Bagi saya kabut ini merupakan usaha Vo-Dinh untuk meniadakan panggung dan membentuk ruang baru. Vo-Dinh tidak memakai properti apapun dan pencahayaan ia pusatkan hanya pada penari. Sehingga, Cunci terlihat seperti berlari dalam kegelapan total. Kabut menampilkan kesan bahwa kita tidak tahu apa yang ada dalam kegelapan itu selain sang penari.

Ruang yang dihadirkan Vo-Dinh adalah ruang impersonal, ruang di mana kita semua berada sebagai individu. Penampil tunggal semakin mendukung kesan ini. Ruang impersonal itu selalu ada ‘di sana’, tanpa maupun dengan kita sadari. Tubuh ini bergerak dalam ruang. Penanda utama dari seorang penari adalah ia bisa menggerakkan ruang. Penari, melalui proses dan pencarian, pada akhirnya bisa menyadari ruang-ruang subtil yang dihidupinya. Ruang objektif mungkin dihidupi semua orang, namun ruang impersonal hanya bisa disadari melalui pencarian.

Lari, adegan utama dalam karya Sprint ini merupakan gerakan biasa yang pada umumnya bisa dilakukan siapa saja. Walau beberapa orang mungkin merasa bosan menyaksikan adegan lari terus-menerus, namun bagi saya, lewat gerakan ini, Vo-Dinh menghadirkan proses yang jujur sekaligus menantang kita semua untuk menemukan yang impersonal itu. Ruang impersonal adalah ruang yang eksploratif bagi penari. Ruang tanpa tendensi dan definisi-definisi. Kita tidak dapat mengundang siapapun ke dalam ruang itu, karena yang impersonal hadir hanya untuk satu individu. Namun selama anda selalu terarah ke luar, ke luar diri anda, ruang eksploratif itu akan menjadi kabur. Seperti kabut asap yang menutupi panggung malam itu. Lewat gerakan yang sederhana, Vo-Dinh seolah ingin mengatakan bahwa pencarian ini adalah petualangan yang terbuka bagi siapa saja.

Selain berlari membentuk berbagai pola, penari juga terkadang terlihat berlari di tempat dan terantuk sesuatu. Adegan ini, dalam hemat saya, menyimbolkan moment ketika penari mulai meraba ruang impersonal tersebut, dan oleh karena itu, bagi saya adegan ini sangat mengasyikkan. Bisakah anda bayangkan jika anda berjalan di atas dataran yang luas, namun tiba-tiba anda terantuk sesuatu padahal anda tidak melihat apapun yang membuat anda terantuk itu? Itulah yang hadir bagi saya dalam pertunjukan Sprint. Penari seolah menemukan sesuatu yang baru setelah konsisten berlari. Mengutip Martha Graham, “Dance is just discovery, discovery, discovery.”

Penari kemudian terlihat memainkan ritme gerak dan nafas. Atau, lebih tepat bisa dikatakan ritme gerak mengikuti ritme nafas. Nafas penari yang terengah-engah setelah berlari begitu lama dan konstan, kini dieksplorasi; diberi tekanan, diberi interval, diberi kesadaran. Karena begitu akrabnya kita dengan fitur-fitur tubuh dan pergerakannya, pada umumnya semua gerak tubuh kita sehari-hari tidak bermakna apapun bagi kita. Gerakan-gerak itu terjadi begitu saja dan cenderung bersifat fungsional. Kita menggerakkan tangan untuk mengambil sesuatu misalnya, atau kita berlari untuk mengejar sesuatu. Proses menjulurkan tangan atau proses berlari itu tentu tidak kita sadari. Karena kesadaran kita terarah pada tujuan dari gerakan itu. Namun seorang penari adalah orang yang harus menyadari tubuh, menyadari gerak, dan prosesnya.

Sumber Gambar: https://www.geegoe.com

Sumber Gambar: https://www.geegoe.com

 

III

Sprint adalah pencarian yang jujur akan proses ketubuhan. Simbolik dan non-verbal, karya ini mengajak siapapun yang datang menyaksikan untuk ikut berproses dan mencari—di mana ruang yang imanen itu. Ruang imanen, dalam pemahaman saya, adalah sesuatu yang ada pada dirinya sendiri. Sampai di sini, pencahayaan yang menyorot Cunci menjadi semakin menarik. Kita tidak bisa melihat Cunci jika tidak ada cahaya. Namun, ruang imanen itu ada dalam kegelapan. Atau mungkin kegelapan itulah ruang imanen. Dan ruang tersebut akhirnya dapat diraba, berkat pencarian sang penari.

Vo-Dinh sama sekali tidak menampilkan motif gerak yang spektakuler, walau sebenarnya, jika ia mau, hal itu tetap bisa menyampaikan ide dan konsep karya. Motif gerak yang ditampilkan cenderung minimalis dan berangkat dari gerak-gerak sederhana seperti gerakan terantuk, gestur terengah-engah, dan sebagainya. Sprint mengingatkan saya akan karya Andara Moeis, Untitled 2015, yang dipentaskan di Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta dalam rangka Indonesian Dance Festival tahun lalu. Sprint dan Untitled 2015 sama-sama menampilkan lari dan pola lingkaran sebagai elemen penting. Namun, ada hubungan aksi-reaksi antara dua penari dalam Untitled 2015. Sementara karya Vo-Dinh menampilkan hubungan seseorang dengan kedalaman realitas tubuhnya.

Gaung suara nafas yang berat dan detak jantung berhasil menghadirkan pengalaman ketubuhan yang merasuki penonton. Alur dramaturgi disusun linier dan rapih, menggiring proses identifikasi pada penonton dengan sangat lambat. Dramaturgi dengan pace yang lambat ini cukup riskan bagi proses identifikasi penonton. Namun, sang penari membawakan karya ini dengan intensitas yang konsisten dan tidak pernah ‘lepas’. Selain itu, dalam hemat saya, Vo-Dinh sangat subtil dan cerdas dalam menampilkan simbol-simbol pada karya ini. Kabut, motif gerak, pola, dan suara, semuanya dipikirkan dengan baik dan digubah menjadi pengalaman yang transendental. Oleh karenanya, Sprint tetap menjadi karya yang menggenggam panggung malam itu.*** (Keisha Aozora adalah seorang penari dan mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara)

DSC_1748 - ed - ed

Tubuh Menggulung Seng

Gemuruh seng terdengar riuh, saling bersahutan di seluruh ruangan Galeri Salihara yang  disulap menjadi instalasi seng gelombang. Kaki-kaki penonton yang berjalan di atas seng menimbulkan sensasi ngilu dan bising,  memunculkan kejutan bunyi komunal yang cukup langka didengar secara langsung di sebuah pertunjukan tari.  Namun, di antara segala keriuhan seng, Mohammad Hariyanto, koreografer dan penari tunggal di Tari Ghulur ini tidak bergeming sedikitpun.

Di tengah Galeri, di bawah gantungan lukisan seng yang dibelah dua karya Hanafi, ia berdiri setengah menunduk. Tubuh dan pikirannya tampak fokus. Tidak hanya telinga, namun seluruh panca inderanya dengan lepas menerima gangguan bunyi. Serupa manusia kota yang pasrah menerima segala polusi suara. Ia dan penonton menunggu hilangnya suara kemeletek seng. Hening… Lalu tubuh itu mulai bergerak.

Suara musik yang senyap mengantar gerakan awal Hari. Gerak yang kecil-kecil di lantai namun terasa meditatif hingga gerak koreografinya berkembang. Tubuh yang liat dan pejal itu berkali-kali menghentak seng dengan keras. Jatuh bergulung-gulung, merayap hingga melompat.

DSC_1744 - ed - ed

Foto oleh Witjak Widhi Cahya

Ada ledakan dari dalam yang bertubi-tubi namun ledakan itu tersimpan di dalam dan sulit mencari jalan keluar. Tubuh yang sakit. Hari menjelaskan gerakannya sebagai “tangisan tubuh yang tidak menemukan tanah.”

Tari Ghulur karya Mohammad Hariyanto (akrab disapa Hari Ghulur) merupakan pertunjukan ketiga di Hela Tari Salihara 2017 yang tampil pada Minggu, 11 Juni 2017 di Galeri Salihara. Berkolaborasi dengan perupa Hanafi untuk visual artistik, sejak awal, karya ini sudah memberikan teror sekaligus menggiring penonton untuk terlibat lewat bunyi dan gerak. Reaksi penonton atas pertunjukan ini berbagai macam ekspresi. Tubuh mereka menjadi lebih hati-hati untuk bergerak hingga ada pula yang menutup telinganya. Akhirnya, gagasan tari, bunyi dan rupa menjadi sebuah keutuhan pertunjukan holistik untuk “menjawab” kebutuhan estetika hela tari tahun ini.

Tari Ghulur merupakan karya yang mengalami perkembangan dan transformasi sejak 2013. Dari tunggal menjadi kolaboratif, dari tanah menjadi seng, dan dari tradisi mencoba mengolah tema urban. Gagasan awal karya ini terinspirasi dari kesenian topeng Ghulur di desa Larangan Barma, Sumenep, Madura.

Seniman kelahiran Sampang, Madura 16 Oktober 1986 silam ini memulai penciptaan tarian Ghulur untuk karya akhirnya di Pascasarjana ISI Surakarta pada tahun 2013. Ketika itu, Hari menari langsung di sawah. Ia menemukan kesulitan tersendiri untuk membawa medium tanah ke atas panggung. Ia lantas mengikuti program Choreo Lab- DKJ pada 2014. Melalui program yang berlangsung di studiohanafi ini, ia menggantikan medium tanah dengan beralas seng.

“Ghulur” awalnya dimaknai sebagai “bergulung-gulung”, sebuah tradisi masyarakat Madura ketika dialog antara tubuh dan tanah mampu melahirkan kesuburan. Ketika zaman berubah dan tradisi mulai menghilang, Hari memilih untuk bergulung di atas seng sebagai kritik terhadap kondisi sosial dan zaman karena tubuh tidak lagi menemukan tanah.

DSC_3990 - ed - ed

Foto oleh Witjak Widhi Cahya

“Kita tidak lagi hidup di atas tanah, tanah yang bertani digantikan menjadi tanah yang dibisniskan” ungkapnya. Bagaimana seng itu menjadi bagian dari urban globalisasi karena serba singkat, praktis dan murah dibanding tanah.

Untuk pertunjukan menuju hela tari ini, Ghulur kembali berkunjung ke studiohanafi sejak 31 Mei hingga menjelang pementasan. Setiap hari dalam keadaan puasa, ia terus melatih dan mengkesplorasi gerakan tarinya. Disiplin tubuh menjadi yang utama bagi Hari untuk melatih kedalaman tubuhnya.

“Menari di atas lantai jelas berbeda dengan seng. Berbeda motivasinya akan jelas tampak berbeda pula geraknya. Taksu seorang penari akan muncul apabila jelas berangkatnya dari isu apa yang sedang dirasakan,” katanya.

Kolaborasinya bersama Hanafi melalui diskusi, coretan sketsa, memperbincangkan cara untuk membangun keterlibatan penonton, hingga  akhirnya ratusan lembar seng dipasang di Galeri Salihara yang menyerupai instalasi seni rupa.

“Seluruhnya ditutup agar tidak ada celah untuk tidak berbunyi” jelas Hanafi.  Seng menjadi bagian dari pengalaman estetik dan semua penonton dapat merasakannya.

Merasakan panggung di pertunjukan Ghulur memang terasa memasuki sebuah instalasi seni rupa yang kuat disertai bunyi seng juga gerak. Seluruhnya memiliki kekuatan yang menghisap imajinasi dan sensasi tubuh penonton. Apakah seng yang menggulung tubuh penari dan penonton melalui visual dan bunyi atau tubuh yang menggulung seng? Untuk menjawab itu, Hari mengutarakan bahwa baginya, “…tubuh, seng dan ruang, itu seperti ikan di dalam aquarium. Semua tampak harmoni dan memiliki rasa yang tidak bisa dipisahkan”. Seluruh kehadiran elemen dalam pertunjukan ini menjadi penting. Semua menjadi instalasi yang saling menghidupkan antara satu dengan yang lainnya.

DSC_3993 - ed - ed

Foto oleh Witjak Widhi Cahya

Hari menutup pertunjukan dengan berguling-guling di atas seng berkali-kali hingga lampu meredup. Mati. Tanpa diduga sebuah bantal naik ke atas dari sebuah tabung menyerupai sumur. Dari tubuh yang sakit, seluruh mata tertuju pada bantal yang naik begitu perlahan. Melambungkan mimpi.

“Di atas tanah yang menjadi seng itu masih ada harapan,” jelas Ghulur. Bantal itu adalah sebuah impian yang terus hidup. Seperti tanah yang akan terus menumbuhkan.*** (Ratu Selvi Agnesia, Pengamat Teater dan Penulis Seni Budaya)

Foto oleh Amin Mohamad

Menghidupkan Bunyi Ingatan Kekerasan Dalam Narasi Gandrung

“Kakek saya hilang menjadi korban tragedi 65” ungkap Yennu Ariendra membuka pertunjukan. Dari atas panggung, seniman kelahiran Banyuwangi itu tampak memiliki keberanian penuh dalam mengisahkan narasi personal dan domestik. Pada 1968, kakeknya yang diisukan sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dijemput 2 orang tentara dan tidak pernah kembali lagi. Peristiwa sejarah kelam dan penghilangan paksa ini, dahulunya “tabu” untuk dibicarakan apalagi kembali diperistiwakan. “Keluarga tertutup dan sensitif. Tapi itu justru membuat saya penasaran,” tuturnya.

Kisah Yennu di atas menjadi penanda awal peristiwa panggung sekaligus gagasan pijakan pertunjukan. Sejak tahun 2008, ia menggali tema sejarah kelam Indonesia ini sebagai di dalam proyek musik kontemporer. Baru kali ini ia berani menguak dan menghidupkan ingatan-ingatan kelam tersebut.

Dimulai dari penggalian narasi personal, lalu menjadi tema sosial melalui simbol budaya Gandrung-Banyuwangi, dan masyarakat Osing sebagai irisan sejarah kelam Indonesia. Seluruh narasi ini menjadi saling menumpuk serupa menara untuk mewujudkan pertunjukan teater musik (Muziktheater) “Menara Ingatan” produksi Teater Garasi/Garasi Performance Institute, dipentaskan (24-25 Mei 2017) di Teater Kecil-Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Foto oleh Amin Mohamad

Foto oleh Amin Mohamad

 

Gandrung: Musik Yang Hybrid

Usai Yennu mengisahkan secara lisan, giliran bunyi-bunyian yang dinamis  menyusup ke telinga. Sintren gandrung di pertunjukan ini (Silir Pujiwati) muncul dengan tenang di balik pintu, menyenandungkan “Ulan Andung-Andung,” lagu populer dari Banyuwangi. Mengingatkan akan  bulan dan kerinduan dari “kang mas” kekasih yang tak pernah kembali.

Tidak lama kemudian, screen panggung memunculkan teks judul “Podho Nonton”. Atmosfer peristiwa panggung menjadi lebih dramatik dan rasa Gandrung terasa semakin kental. Silir memasangkan topi capingnya, ia duduk dan membenamkan perlahan kakinya di sebuah kotak—gesturenya menyerupai aksi tubuh perlawanan ibu-ibu petani Kendeng dengan mngubur kakiknya di semen.

“Ting…ting…ting…” suara bunyi segitiga besi muncul dari laki-laki bercaping (Gunawan Maryanto). “Kebencian yang tumbuh di lorong-lorong… Semua mengeras hari ini…” teks-teks yang dilontarkan itu mengiringi Silir yang menyenandungkan gending Podho Nonton. Kekerasan, ketidakadilan dan perlawanan yang lalu dan kini serupa saling berkelindan.

Foto oleh Amin Mohamad

Foto oleh Amin Mohamad

Dramaturgi dalam pertunjukan ini meminjam struktur pemanggungan Gandrung Banyuwangi sebagai kesenian yang menjadi pemersatu rakyat Blambangan, terbagi dalam tiga babak: yakni “jejer” (sendiri/berkelompok), “paju” (maju) dan “seblang subuh” sebagai penutup di mana pada pertunjukan asli Gandrung, gerakan penari akan melambat diiringi gending yang bertema kesedihan. Sedangkan Gandrung sebagai irama musik dijelaskan Yennu sebagai sejarah dan identitas yang kompleks, disertai dengan penawaran musik yang lain seperti hip hop, dangdut dan musik-musik perlawanan.

Sebagai komposer yang tumbuh di Banyuwangi sebagai tradisi pesisir timur Jawa, ia menyebut Gandrung sebagai musik yang “hybrid”. Dari semangat tradisi itulah, musiknya menampilkan pertunjukan yang kontemporer dari instrument, lirik, dan tema sosial. Sebanyak 10 komposisi musik dibawakan Yennu berkolaborasi bersama Andi Meinl, Asa Rahmana, Nadya Hatta, dan Silir Pujianti. Komposisi musik digital dan instrumen-instrumen modern seperti keyboard, drum, gitar listrik hingga sebilah lempengan besi yang digesek. Terlihat pula beberapa alat musik tradisi serta alat-alat kerja dan pertukangan seperti palu dan pacul. Beberapa eksperimen bunyi yang dipukul berkali-kali menghasilkan bunyi besi yang mengandung pesan “simbol kekerasan”. Mengimajinasikan korban-korban yang “dihilangkan” oleh besi-besi yang berdentang itu.

 

Pintu Kekerasan yang Gelap dan Samar

Tiga pintu di atas panggung sebagai pilihan artistik utama, menyiratkan pula pesan yang kuat. Para aktor berkaos putih lusuh, bercelana hitam, muncul dan tenggelam di antara pintu. Mereka mengetuk pelan dengan kepala tertunduk, masuk keluar, mengintip, saling menaiki hingga menghadirkan rekonstruksi kekerasan melalui kain putih yang terbentang dan bayang-bayang kekerasan di balik layar pintu “jangan berhenti sebelum aku mati”.

“Keluarga korban 65 mencari anggota keluarganya yang dibawa pergi aparat. Mereka mencari dari penjara ke penjara, dari pintu ke pintu kantor aparat,” ungkap Dendi Madiya, salah satu performer.

Usai Orde Baru runtuh meski tak sepenuhnya dan keran reformasi dibuka, pintu sejarah kelam yang tertutup rapat ini mulai satu persatu menunjukkan kebenaran. Pengolahan isu dalam pertunjukan ini yang diwakili Banyuwangi tak hanya soal 1965. Ada pula peristiwa dari 1980 hingga akhir 1990-an. Dari korban petrus, dukun santet, isu ninja, hingga melompat pada kerajaan Blambangan sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Raja Minak Jingga yang menjadi musuh besar Majapahit, suku Osing yang bermakna “tidak” dan berani melawan, kekuatan dan kekuasaan VOC, hingga Mataram Islam. Mitos dan realitas seperti begitu gelap dan samar-samar.

Selain pintu, topeng kepala-kepala anjing yang digunakan oleh empat aktor mengiringi “Koplo/Dump: Sewulan Maning” dalam goyangan di dalam suasana begitu riuh seperti diskotik. Topeng ini juga digunakan sebagian penonton, menjadi simbol atas mitos dari raja Osing Minak Jingga yang digambarkan dengan kepala anjing, berkaki pincang hingga simbol aparat.

Foto oleh Amin Mohamad

Foto oleh Amin Mohamad

Menyaksikan pertunjukan teater musik Menara Ingatan berdurasi kurang lebih 1 jam ini terasa panggung yang begitu riuh, kaya akan penawaran bunyi dan simbol-simbol yang sebenarnya cukup mudah untuk ditafsirkan. Perlawanan yang disuguhkan terlihat sangat kentara dengan pasar teks seperti dalam musik “NO – TIDAK – OSING” ketika hampir seluruh pemain dan musisi membawa teks perlawanan.

Dengan atmosfer keriuhan yang lebih besar dalam karya kolektif dan kolaboratif lintas disiplin seni ini, pertunjukan terasa kurang memberikan ruang kontemplatif yang lebih mendalam dan imajinatif menyoal sejarah kelam. Padahal, merenungkan ingatan dan luka membutuhkan jeda-jeda ruang keheningan.

Keheningan ini muncul di akhir pertunjukan terutama dalam Seblang Lokento dan Sabuk Mangir (Javanese old spell for love) ketika beberapa gulungan tikar yang di dalamnya serupa berisikan mayat korban jatuh berdebam di atas panggung. Tak lama kemudian, penari Seblang (Sri Qadariatin) bergerak dengan limbung. Dua keris digenggamnya dan saling bergesekan. Seblang sendiri merupakan tradisi ruwatan dan kesenian sakral menolak bala di Banyuwangi. Penari seblang itu mengacungkan kedua keris, serupa Osing yang berkata “tidak”, menolak untuk kalah dan tak berhenti melawan.*** (Ratu Selvi Agnesia, Pengamat Teater dan Penulis Seni Budaya)

workshop-kepenarian-akademi-idf-2016

Indonesian Dance Festival dan Politik Tubuh-Media

Oleh Afrizal Malna

“Indonesian Dance Festival 2016” akan berlangsung di beberapa titik di Jakarta. Ini jadi strategi meluaskan wilayah publik tari, juga bagaimana tari memproduksi ruang sebagai media dan wacana sekaligus, membangun kontak maupun jaringan kerja baru yang tidak melulu bersifat tari. Ini semua dilihat sebagai kerja dramaturgi dalam menjalankan sebuah festival tari. IDF akan berlangsung 1 – 5 November 2016.

IDF, yang sejak digagas dan diproduksi tahun 1992, di tengah iklim kesenian Orde Baru, pada dirinya memiliki beban menghasilkan regenerasi tari di Indonesia, dan tawaran baru dalam kerja koreografi. Mereka membuka showcase sebagai salah satu program kurasi terhadap generasi baru dalam media tari, membuat program workshop maupun diskusi yang konsisten dijalani. Program-program ini intinya membuat jembatan antara bidang akademik, ruang publik, wacana dan data untuk melengkapi medan tari yang layaknya dibuat sebuah festival.

Salah satu problem kuratorial dalam memproduksi festival adalah basis produksi tari di Indonesia. Basis ini, setelah jatuhnya kubu sanggar-sanggar tari tradisi sebagai acuan pencapaian tari, maka basis produksinya kian berpusat pada lembaga-lembaga akademi seni. Lembaga ini pada umumnya masih mengalami kesulitan membuat jembatan dialektik antara bidang akademik dengan disiplin lain maupun dunia di luar tari. Memproduksi pertanyaan baru untuk media tari, bisa berarti menggoyahkan silabus tari. Dan IDF sendiri diproduksi dalam lingkungan akademik: IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

 

Tubuh Tari VS Tubuh-Media

Apakah koreografi selalu berhubungan dengan gerak dan tubuh? Memproduksi pertanyaan seperti ini, di masakini, cukup diragukan untuk bisa menggerakan medan tari sebagai media yang dikonstruksi dalam wilayah modernisme. Selama sekian lama, wilayah ini telah membuat sayatan, cabikan dan black-mail terhadap masalalu maupun praktik-praktik tradisi. Hasilnya: sebuah kegelisahan dalam memandang waktu, memandang habitat tubuh, identitas DNA; suara, pola makan maupun bahasa yang mengkonstruksi tubuh sebagai gestur maupun grafitasi budaya.

Pertanyaan di atas, cukup telak, menghadapi hajaran bertubi-tubi melalui industri media masakini. Medan seni berhadapan dengan munculnya berbagai aplikasi dari praktik-praktik media masakini. Wilayah dramaturgi seni pertunjukan, misalnya, berhadapan dengan munculnya aplikasi pokemon-go yang membuat matarantai baru antara tubuh, realitas, media dan data. Berbagai tindakan performatif langsung bersifat presentatif; tidak lagi bermain dalam wilayah mimesis maupun representasi. Terjadi hubungan baru antara tubuh dan media.

Kegelisahan dalam menghadapi medan di atas, tampak dari dua program workshop yang diproduksi IDF Akademi, sebuah program sebelum festival berlangsung. Workshop melibatkan dimensi tari (Suprapto Suryodarmo, Su Wen-Chi, Benny Krisnawardi dan Ramli Ibrahim) dan dimensi artistik (Daniel Kok, Joned Suryatmoko, Arco Renz dan Nindityo Adipurnomo).

Su Wen-Chi, dalam salah satu workshopnya di Bogor, misalnya, meminta seluruh peserta merekam apapun melalui kamera video HP yang dimiliki peserta. Hasil rekaman video ini diputar kembali secara serentak untuk memproduksi pertanyaan: “Apakah ini tari? Apakah ini koregorafi?”

Praktik seperti itu langsung memperlihatkan matarantai baru antara tubuh, realitas, data dan media sebagai sebuah aksi. Praktik dramaturgi tari yang sebelumnya lebih bersifat konseptual dalam menurunkan penalaran sebuah seni pertunjukan, dalam realitas ini langsung dipraktekkan sebagai kerja antar kategori dalam membatasi gagasan. Muatan masing-masing kategori diisi dengan riset, data, materi dan media yang akan digunakan. Tubuh-tari ditempatkan langsung berhadap-hadapan dengan tubuh-media.

 

Duo Filastine yang Akan Mengisi Juga IDF 2016: TUBUH SONIK

Duo Filastine yang Akan Mengisi Juga IDF 2016: TUBUH SONIK

Memutus Matarantai Produksi Tari

Visi kuratorial Indonesian Dance Festival (IDF) tahun 2016 ini, tampak dari praktik baru melihat tari dari media non-tari. Apakah visi ini berarti bahwa IDF mulai menjalankan politik media dimana tari dilihat sebagai batas wilayah yang tidak lagi didefinisikan semata melalui tari? Atau sebuah cara untuk memutus matarantai antara produksi festival dengan produksi tari (dari lingkungan akademik)?

Apapun strategi maupun implikasi strategi di atas, kurasi ini merupakan praktik berani untuk “memaksa” terjadinya perubahan di tingkat basis produksi tari sebagai sebuah politik media yang perlu dilihat hasil-hasilnya sebagai post-festival.

Salah satu program IDF, misalnya, Filastine. Mereka akan membawa nomor pertunjukan Abandon. Filastine yang dimotori oleh Nova Ruth dan Grey Filastine, tidak berangkat dari tari. Basis mereka adalah musik dan praktik baru yang menggunakan banyak media, terutama elektronik. Mereka mengolah batas-batas budaya dalam dan tema-tema sosial politik dalam ruang budaya urban. Ritme, melodi, remix berjalan seiring dengan resonansi elektronik. Produk-produk budaya maupun sampah, mereka perlakukan sebagai objek yang sama, yaitu sebagai salah satu kategori dalam penciptaan. Kinerja seperti ini akan menghasilkan dampak pembacaan tersendiri terhadap pertunjukan mereka, dan membawa publik tari ke wilayah yang tidak lagi laten bersifat tari.

Melati Suryodarmo, yang berbasis performance art dan seni rupa, akan membawa IDF ke medan yang bisa tidak terduga. Terutama karena Melati mengambil narasi Machbeth, karya Shakespeare (Tomorrow, As Purposed), yang sudah berakar dalam dunia teater. Publik teater maupun publik tari akan menghadapi tantangan baru pada cara-cara Melati melihat Machbeth dalam penciptaannya. Pertunjukan ini memakai unsur-unsur tari Pakarena dari Bugis dan 20 paduan suara dari Universitas Sebelas Maret. Kinerja ini seperti sebuah praktik media dalam media, membuat gesekan baru antar media untuk sebuah gelombang yang menjadi wilayah kerja koreografi yang dilakukan Melati.

Sudut pandang mistis, sebuah pandangan ramalan dari salah seorang tokoh peri yang meramal masadepan dalam Machbeth, menjadi titik-tolak pertunjukan Melati. Dan kekuasaan berubah, karena efek dari ramalan ini. Dimensi mistis dari sebuah kerja peramal dan dimensi magis dari penggunaan media, dalam pertunjukan ini saling bertemu dan bergesekan. Beberapa adegan, dari gesekan ini, berakhir sebagai puisi: seperti adegan rambut yang saling menjalin satu sama lainnya, helai demi helai, antara dua orang penari. Ruang kadang tumbuh hanya sebagai media, tetapi juga kadang tumbuh sebagai peristiwa. Pola yang membuat memori maupun imaji tidak berjalan di tempat.

 

Mistifikasi Tubuh-Ruang

Pre-Opening IDF akan dilakukan di Hutan Kota, Jakarta, di sungai Pesanggarahan. Program ini akan diisi pertunjukan Phase karya Jefriandi Usman dan Suluk Sungai karya Abdullah Wong. Sepanjang IDF, 1-5 November, akan tampil berbagai kinerja tari dari Andara Moeis, Rianto, Darlene Litaay, Tian Roteveel, Aguino B dan kolaborasi antara Fitri Setyaningsih dengan Punkasila.

Penggunaan sungai sebagai tempat dan juga sebagai situs dalam rangkaian program IDF, akan memperlihatkan sejauh mana kerja koreografi mengalami gangguan atau terbuka terhadap resonansi alam di sekitarnya yang berpengaruh terhadap grafitasi pertunjukan. Kerja ontologis yang rasional dan kerja mistis yang melebur batas “teramati” dan “tak-teramati” dari alam, akan menjadi medan baru dalam pertunjukan. Koreografi dituntut melakukan reposisi khusus atas tubuh-sungai dan tubuh-tari dalam pertunjukan mereka.

Reduksionisme terhadap tubuh-tari dalam kerja koreografi (yang kadang menjadi sangat teknis dalam memproduksi gerak), di sini menjadi agenda tersendiri. Beberapa pertunjukan Fitri terakhir, misalnya, banyak melakukan kerja reduksionisme untuk meredam kompleksitas gerak menjadi gagasan tentang ruang-tubuh yang dalam. Kerja reduksi seperti ini tidak harus tertuju memproduksi karya yang lebih bersifat minimalis. Mengejar kedalaman ruang-tubuh, presisi, jauh memiliki resiko untuk bisa memproduksi tubuh-puitis yang gelombangnya bisa melampaui teritori gerak-teknis.

Pengalaman tubuh atas gerak, akhirnya memang tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan tubuh tentang jarak. Dalam sebuah presentasi Nani Sawitri dari Topeng Losari, di Galeri Cipta 3 TIM, 6 Agustus 2016, misalnya, Nani menjelaskan beberapa laku puasa yang harus dijalani seorang penari Topeng Losari. Seluruh rangkaian puasa ini merupakan cara bagaimana penari bisa memperhatikan matarantai hubungan antara tubuh dan pola makan, dimana kebudayaan diproduksi dari pola dan kebutuhan ini. Laku puasa ini, kini memang sulit dipahami, karena istilah “puasa” sendiri menjadi rancu apabila menggunakan referensi agama sebagai penalarannya.

Salah satu laku puasa yang harus dijalani itu, adalah puasa untuk tidak berpijak di bumi. Penari, selama 3 hari harus tinggal di atas atap, dimana tubuhnya bisa langsung menatap ke bawah. Selama 3 hari, penari tidak boleh turun. Momen seperti ini, menjadi praktik untuk penari bisa mengalami ruang tiga dimensi sebagai perspektif untuk kosmologi tubuh yang dibentuknya.

Ketika seorang pewaris tradisi, seperti Nani Sawitri, merinci kembali metoda yang harus dilakukan seorang penari, memperlihatkan sebuah wawasan, betapa tradisi sebenarnya merupakan sebuah medan yang medianya sudah terbentuk dan teruji sekian lama, dibandingkan dengan media modern yang sifatnya status-quo dan terus berubah karena tuntutan pasar.

Tubuh-tari dan tubuh-media, keduanya kini entah berada di mana? Kita menduga bahwa kita masih bisa memprogramnya untuk kerja-kerja kesenian, sama seperti kita menggunakan HP untuk komunikasi. Sementara media ini memiliki kemampuan menyerap semua data pribadi kita, dan mengkonstruksi pola hubungan kita dengan berbagai fasilitas software di dalamnya. Tetapi mungkin kita sedang berada dalam sebuah penindasan baru yang menggunakan banyak topeng dan media. Sebuah medan dimana seniman memang harus menggunakan riset sebagai basis kerjanya. (Afrizal Malna, penyair)

 

*Dipublikasikan pertama kali di Harian Kompas, edisi Sabtu, 15 Oktober 2016

IMG_2761

Catatan Peserta Workshop Kepenarian Akademi IDF

Assabti Nur Hudan M (Yogyakarta)

 

Setelah mengikuti Workshop Kepenarian yang diadakan Akademi IDF, saya semakin mengerti tentang proses pembuatan karya yang berkualitas. Di workshop ini, saya mendapatkan hal-hal baru yang semakin memperkaya dan mempertebal pengetahuan saya sebelumnya.

Hal utama yang saya garis-bawahi dari keseluruhan proses ini adalah menyadari hal-hal lain (yang liyan) yang ada di luar tubuh kita. Seorang penari dan koreografer harus menyadari hal tersebut dan membawa hal itu masuk ke dalam dirinya. Yang liyan ini bisa berupa ruang, alam, benda sekitar, orang lain, dll. Menyadari kehadiran yang liyan ini juga berarti ‘memanusiakan’ apa yang ada di sekitar kita dan membangun interaksi yang sinergis antara kita dengan apa yang ada di luar tubuh kita.

Assabti Nur Hudan M | Dokumentasi IDF

Assabti Nur Hudan M | Dokumentasi IDF

Proses latihan untuk mengolah kepekaan sebenarnya tak hanya diterapkan dalam proses pencarian gerak, namun juga dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tampak sekali di dalam sesi dari Mbah Suprapto Suryodarmo dan Uda Benny Krisnawardi. Dengan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari, maka pengolahan energi dan kepekaan lingkungan bisa meningkat. Menyadari apa yang kita lakukan juga akan membantu kita menghargai apa yang kita lakukan. Selain itu, kita pun bisa menghargai apa yang diberikan alam. Kedua hal ini akan menghasilkan kejujuran ketiga bergerak.

Bagi saya, tari kontemporer bukan sekadar tren, melainkan sebuah perjalanan hidup yang harus terus saya gali dan cari. Ia tak berhenti sebagai pencarian gerak saja, namun juga pengalaman dan perasaan-perasaan lain yang pelan-pelan mentransformasikan hidup saya.

Saya harap, setelah mengikuti Workshop Kepenarian ini, saya bisa membuat karya yang lebih baik. Selain itu, saya pun akan membagikan pengetahuan dan pengalaman selama workshop ini kepada teman-teman. Sehingga, ilmu yang saya dapatkan tidak berhenti pada saya. Semoga pengalaman yang saya dapatkan selama workshop ini menambah bekal saya dalam berkarya dan meningkatkan kualitas berkesenian saya.

 

Ahmad Susantri (Yogyakarta)

 

Dalam artikel kepenarian yang membawa saya hadir dalam lingkaran workshop kepenarian IDF 2016, saya mengungkapkan perihal bagaimana dapat menikmati tarian kita sendiri. Sebuah pertanyaan mendasar saat saya berkarya mau pun menarik karya koreografer lainnya.

Mengikuti Workshop Kepenarian Akademi IDF merupakan hal yang membanggakan bagi saya. Minimal, ada satu langkah ke depan yang saya tempuh dalam pengalaman kepenarian saya. Kesempatan untuk mengenal attitude dan disiplin menari dari Pak Ramli Ibrahim merupakan hal yang sangat menggembirakan. Tidak hanya itu, ‘kosa kata’ tari India dengan gerak odisi sangat menggembirakan saya karena secara pribadi tarian yang ‘memainkan’ lekukan-lekukan tubuh seperti yang dicontohkan Pak Ramli sangat saya nikmati. Teknik ballet menjadi teknik yang butuh penyesuaian diri bagi saya. Terkhusus teknik meringankan tubuh untuk bergerak; ini menjadi ‘PR’ saya. Perihal ‘mempersembahkan tarian dari hati’ merupakan hal yang paling saya tangkap dari deretan materi yang diberikan Pak Ramli.

Saya merasa seperti diajarkan mengaji oleh guru ‘ngaji’ di kampung saya pada sesi dari Uda Benny Krisnawardi. Menari layaknya mengaji; membaca fasih setiap tajwid, mempertegas alunan lagu menjadi khusyuk dan indah didengar. Uda Ben mengajarkan bagaimana mendapatkan detail gerak dengan pengaturan tenaga sehingga dapat dengan fasih menggerakkannya. Beliau juga mengajarkan bagaimana menjadikan mata sebagai titik fokus dalam menyatukan energi seluruh tubuh dalam bergerak; sebuah fokus yang pada akhirnya mempertegas rangkaian gerak itu sendiri. Lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran untuk menari dengan ketulusan ‘hati’ serta ketulusan ragawi.

Su Wen-Chi adalah mentor yang memiliki cara pandang tentang tari yang berbasis pada teknologi. Pada awalnya, pemahaman saya perihal teknologi sebatas alat-alat yang berhubungan dengan ‘kekinian’. Melalui sesi dari Wen-Chi pandangan saya berubah. Teknologi tidak sebatas alat ‘kekinian’, namun teknologi adalah bagian dari hidup. Teknologi sebagai patner, teknologi sebagai inspirasi, berkarya dengan teknologi merupakan karya yang sadar bahwa kita hidup di dalam kehidupan.

Ahmad Susantri | Dokumentasi IDF

Ahmad Susantri | Dokumentasi IDF

Sosok Mbah Prapto (Suprapto Suryodarmo) yang hadir dalam workshop ini benar-benar membawa kebebasan. Mbah Prapto membawa saya menyadari kebebasan yang bermula dari alam. Kebebasan tersebut menyadarkan bahwa tari juga memiliki haknya untuk bebas. Mbah Prapto secara tidak langsung menyadarkan bahwa penari adalah manusia yang menari di ‘alam’. Dan alam pada akhirnya menyadarkan penari akan kejujuran.

Mungkin sama dengan peserta lainnya, esai ini membahas keempat mentor dan apa yang kami dapatkan dari mereka. Namun, bagi saya yang terpenting adalah keempat mentor dan Akademi IDF telah sukses ‘menyadarkan’ saya untuk jujur dan tulus dalam menari. Dan tari adalah bagian dari kehidupan saya setiap hari. Saat menari dengan jujur dan melakukannya dengan tulus maka kita dapat menikmati apa yang kita lakukan dengan tari.

Kembali pada pertanyaan saya di muka, Workshop Kepenarian Akademi IDF 2016 ini telah membantu saya menjawabinya. Cara untuk menikmati tarian kita sendiri adalah menarilah dengan kejujuran dan ketulusan.***

Sesi Bersama Benny Krisnawardi | Foto: Dokumentasi IDF

Catatan dari Lokakarya Kepenarian Akademi IDF

Oleh Benny Krisnawardi

 

Sebagai pelaku seni khususnya tari, saya tidak pernah ketinggalan menyaksikan  program-program seni pertunjukan yang disuguhkan oleh Indonesian Dance Festival (selanjutnya disingkat IDF). Dari sekian banyak pertunjukan yang telah disuguhkan, IDF sudah memberi sumbangan berarti untuk dunia tari Indonesia. Dari sana, semakin banyak seniman Indonesia, khususnya tari, dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Melalui program-program pertunjukannya, IDF pun membuka peluang bagi seniman tari Indonesia untuk bisa tampil di ajang festival tari dunia. Tentu saja hal ini menyumbang pada terangkatnya citra budaya Indonesia di mata dunia.

Sangat jelas terlihat adanya upaya para pendiri dan penyelenggara IDF agar penyelenggaraan event ini dari tahun ke tahun semakin lebih baik. Melalui pelbagai inovasi, mereka mengusahakan itu. Hal ini dibuktikan ketika pada tahun ini, sebelum ajang festival berlangsung, Akademi IDF menggelar Lokakarya Kepenarian di Hutan Kaldera, Bogor, pada 1 – 7 Mei 2016 yang lalu. Pemateri yang diikut-sertakan berasal dari Taiwan, Malaysia, dan Indonesia. Pada hemat saya, lokakarya tersebut memiliki banyak nilai positif. Di dalam lokakarya tersebut peserta diajak untuk menumbuh-kembangkan nilai-nilai kreatif pada dirinya melalui beragam metode yang disuguhkan para pemateri. Pemilihan tempat lokakarya pun pada hemat saya sangatlah tepat.

Hutan Kaldera, Bogor, seakan menyeret semua peserta dan pemateri untuk mengolah rasa, mengolah raga, membongkar semua kemampuan dalam mencapai penguasaan diri. Para pemateri, Suprapto Suryodarmo (Indonesia), saya (Indonesia), Su Wen-Chi (Taiwan), dan Ramli Ibrahim (Malaysia), seakan bersinergi dengan semua fasilitas di tempat berlangsungnya lokakarya. Bangunan rumah, pojok-pojok ruang, hutan, pepohonan rindang serta sungai yang berada di Hutan Kaldera menyatu di dalam imaji-imaji, melahirkan interprestasi berbeda dari pemateri maupun setiap peserta.

***

Pemateri Suprapto Suryodarmo atau yang akrab disapa Mbah Prapto, menyuguhkan metode eksplorasi gerak tubuh dan alam.  Metode itu dipaparkan  melalui pendekatan kejiwaan yang penuh kesabaran. Mbah Prapto memiliki intonasi dan pola bahasa yang halus serta kaya dengan  bahasa kiasan. Dengan itu, Mbah Prapto sangat berhasil mengajak peserta untuk tidak kehilangan fokus; peserta nyaris selalu diajak berimajinasi agar lebih masuk ke dalam pokok bahasan yang beliau bawakan.

Hampir di setiap materi yang dipaparkan, Mbah Prapto langsung melibatkan diri, membaur dengan peserta untuk sama-sama merasakan, menghayati serta merespon media yang digunakan. Eksplorasi air contohnya, dilakukan di tengah arus sungai yang ada di belakang areal Hutan Kaldera. Saya melihat keseriusan dan konsentrasi Mbah Prapto tidak mampu diusik oleh air sungai yang membasahi seluruh tubuhnya. Justru bunyi arus air sungai yang tidak terlalu deras terasa semakin memperkaya bunyi-bunyi suasana alam. Semua perserta berada pada posisi yang berbeda-beda. Tak satu pun di antara mereka diam tanpa aktifitas; semua larut dalam imajinasi di tengah arus air sungai.

Setelah selesai dengan eksplorasi di sungai, Mbah Prapto menguji kemampuan para peserta untuk melakukan eksplorasi ruang; di tengah halaman kosong, berguling, dan merambat di atas tanah dengan pelbagai eksplorasi gerak tubuh. Air sungai yang masih tersisa di tubuh Mbah Prapto dan peserta membuat  tanah mudah melekat di tubuh mereka ketika melakukan gerakan berguling. Ketika Mbah Prapto dan peserta terus melahirkan berbagai disain gerak dengan butiran-butiran tanah yang masih melekat di tubuh mereka, seketika imajinasi kita terperanjat, melayang pada banyak persoalan tentang misteri bahasa gerak tubuh yang  memiliki ruang dimensi tanpa batas, berbicara tanpa suara, akan tetapi menyentuh perasaan kita.

Alam dan tubuh manusia selalu berdialog. “Berbicaralah kepada mereka, sampaikan apa yang anda rasakan kepada mereka,” begitu salah satu kalimat yang dilontarkan Mbah Prapto saat peserta berhadapan dengan alam bebas. “Alam dan tubuh manusia memiliki hubungan yang kuat, berteman, saling membutuhkan, memiliki garis imajiner dalam rasa kasih sayang di antara keduanya,” lanjut Mbah Prapto.

***

Titik fokus dan konsentrasi dalam membagi energi tubuh saat menari menjadi pokok bahasan saya dalam sesi gerak-gerak Gumarang Sakti. Saya pun berbagi perihal proses di balik kerja kreatif Gusmiati Suid (alm), seorang koreografer perempuan asal Batusangkar, Sumatera Barat. Almahrumah Gusmiati Suid berhasil mengangkat  filosofi gerak-gerak silat tradisi Minangkabau ke dalam karya-karya koreografinya.

Sedikit latar belakang, kelompok tari Gumarang Sakti berdiri sejak tahun 1980 di Batusangkar, Sumatera Barat. Sejak berdirinya, hampir seluruh karya yang dihasilkan kelompok tari ini mengambil filosofi dan gerak-gerak silat tradisi Minangkabau. Aliran silat yang sering menjadi pijakan baik secara filosofi mau pun gerak adalah aliran silat Kumango, Silat Lintau, Silat Harimau, Silat Ulu Ambek, dll. Silat sudah menjadi keharusan untuk dipelajari semua penari sebelum menarikan karya-karya tari di Gumarang Sakti. Dengan mempelajari silat, semua penari akan terlihat lebih tangguh, tangkas, dan memiliki karakter yang kuat saat menari.

Gusmiati Suid (alm.) yang memiliki garis keturunan pendekar silat aliran Kumango paham betul seluk beluk gerak yang ada pada aliran silat tersebut. Dengan demikian, sangat mudah bagi Gusmiati Suid mengarahkan anak didiknya dalam melakukan gerak, apalagi gerak yang berlatar belakang silat. Ketajaman mata dan detail gerak ketika seorang penari melakukan gerakan sangat menjadi perhatiannya. Alhasil, setiap proses karya membutuhkan waktu antara tiga sampai enam bulan, bahkan lebih.

Kesiapan penari baik fisik, mental, dan penguasaan teknik secara baik merupakan agenda utama dalam setiap karya Gumarang Sakti. Kelompok ini memiliki konsep sendiri yang unik yaitu mengagendakan pemusatan latihan selama berbulan-bulan di suatu tempat. Semua pendukung, baik penari dan pemusik, berada di areal yang sama untuk melakukan berbagai latihan, baik latihan fisik, mental, dan hal-hal lainnya untuk mencapai hasil yang maksimal. Cara ini terasa sangat memberi pengaruh positif kepada teknik dan rasa kebersamaan dalam menghadirkan karya-karya tari Gumarang Sakti di atas panggung.

Benny Krisnawardi | Dokumentasi IDF

Benny Krisnawardi | Dokumentasi IDF

Hal-hal seperti di ataslah yang saya rasakan ketika menjadi anggota Gumarang Sakti sejak tahun 1986. Pada program Lokakarya Kepenarian Akademi IDF ini, saya membagikan pengalaman-pengalaman tersebut kepada para peserta. Sistem Gumarang Sakti dalam menyiapkan seorang penari, baik secara teknik gerak mau pun filosofi silat, menjadi bahan utama materi yang saya bawakan.

Materi latihan dasar yang harus dilakukan oleh semua penari di Gumarang Sakti yakni titik fokus mata dan konsentrasi dalam membagi energi tubuh sewaktu bergerak, coba saya bagikan kepada para peserta. Bentuk latihannya adalah melatih ketajaman mata, baik dengan fokus pandang lurus maupun fokus pandang menyamping dengan menggunakan sudut mata kiri maupun sudut mata kanan. Bentuk latihan ini dilakukan secara berulang agar bola mata memiliki ketajaman dalam bergerak ke semua arah. Bola mata yang bisa bergerak cepat akan memiliki fokus yang baik saat mengarahkan pandangan ke suatu titik yang diinginkan. Ketika titik fokus pandangan mata sudah dikuasai dengan baik, mata akan terlihat memiliki energi yang kuat (disebut tajam) sewaktu bergerak. Sehingga, mata yang telah memiliki kontrol yang baik itu dapat berbicara sesuai yang diinginkan dalam setiap karya.

Selain itu, saya pun membagikan latihan penguasaan energi tubuh saat bergerak. Hal ini sangat penting diketahui oleh setiap penari. Penguasaan energi tubuh akan melahirkan detil dan bentuk yang berkarakter. Latihan untuk bisa membagi energi tubuh saat bergerak ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, merasakan getaran energi tubuh di telapak tangan masing-masing, merasakan aliran energi di setiap anatomi yang digerakkan, melakukan ragam gerak tari sambil menganalisa pembagian energi saat melakukan ragam gerak, dll. Latihan-latihan ini membutuhkan kesabaran, keseriusan dan kegigihan bagi semua yang berlatih. Karena, latihan ini sangat berhubungan dengan anatomi tubuh serta membutuhkan konsentrasi yang penuh. Penguasaan energi tubuh saat bergerak adalah penguasaan seluruh anatomi tubuh secara sadar. Ketika titik fokus pandang mata dan penguasaan energi tubuh dapat dilakukan secara serentak atau ber-iringan, tubuh si penari akan terlihat tidak memilki beban apapun sewaktu menari.  Ekspresi tubuh penuh kewajaran, jujur, dan memiliki karakter yang kuat.

***

Su Wen-Chi (Taiwan) dan Ramli Ibrahim (Malaysia), dua pemateri yang lain, memiliki pendekatan berbeda dalam mempersiapkan penari dalam melakukan gerak tari. Akan tetapi, tujuannya sama; pencapaian ekspresi yang baik saat menari.

Su Wen-Chi (Taiwan) yang terkenal dengan kepiawaian teknik menari pada karya-karya tari kontermporer membagi pengalamannya kepada semua peserta perihal bentuk teknik mencari dan metode pembebasan diri dalam melakukan eksplorasi. Materi yang dibawakan Wen-Chi memancing beragam pertanyaan dari peserta di dalam dialog bersamanya. Wen-Chi juga menyuguhkan pendekatan teknologi pencahayaan.

Ia juga menekankan pentingnya kesungguhan serta kegigihan seorang penari atau koreografer dalam menelusuri berbagai bentuk media. Bersamaan dengan itu juga tema yang sedang dikerjakan. Tubuh dan teknologi bagi Su Wen-Chi adalah ruang eksplorasi yang sangat luas, tanpa batas, sejauh tubuh dan teknologi itu bisa dikuasai dengan baik.

Ramli Ibrahim, seorang Penari dan Koreografer senior asal Malaysia, menekankan pentingnya kejujuran sikap dalam menyampaikan sebuah ekspresi dalam menari. Kewajaran dan penguasaan olah tubuh yang baik saat memerankan berbagai ekspresi dalam menari menjadi hal pokok bagi seorang penari. Selain itu, hal yang tidak kalah penting yang harus diperhatikan oleh penari adalah posisi dan penguasaan gerak tubuh secara mendetail. Dengan demikian, ekspresi yang dimainkan dapat berbicara dan akibatnya, pesan yang akan disampaikan bisa tersampaikan dengan baik. Bagi Ramli Ibrahim, gerak menari yang dilakukan dengan baik dapat menjadi terapi kesehatan untuk memperlancar sirkulasi darah dalam tubuh.

***

Lokakarya kepenarian Akademi IDF sangat jelas menyatakan bahwa penguasaan tubuh bagi seorang penari sangat penting. Pemahaman akan olah tubuh, rasa, dan adaptasi ruang untuk melahirkan berbagai ekspresi, membutuhkan kesiapan tubuh penari secara baik. Dengan diadakannya lokakarya kepenarian ini, tampaklah bahwa Akademi IDF sangat serius menyiapkan penari-penari berkualitas untuk kemajuan dunia tari Indonesia. Akhir-akhir ini, kita saksikan begitu banyak lahir penari-penari muda berbakat Indonesia. Akan tetapi, tidak banyak yang memiliki karakter yang kuat karena kurangnya pemahaman akan olah tubuh dan olah rasa. Sehingga, tubuh penari tersebut tidak dapat berbicara dengan baik dalam bahasa ungkap tari yang sesungguhnya. Hanya mengandalkan keindahan gerak tubuh semata, akan tetapi melupakan kekuatan bahasa jiwa. Bahasa jiwa yang kuat dan gerak tubuh yang indah merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Program lokakarya kepenarian seperti ini memang tidak mudah untuk dilakukan. Namun begitu, program seperti ini harus selalu diusahakan ada karena dampaknya begitu poisitif bagi masa depan tari Indonesia. Dunia tari Indonesia yang semakin hari semakin mendapat tantangan yang besar..

Sukses buat Akademi IDF 2016.

 

Benny Krisnawardi diundang sebagai salah satu dari empat mentor pada Worshop Kepenarian Akademi IDF selama seminggu yang diadakan oleh Indonesian Dance Festival (IDF), 1-7 Mey 2016 di Kaldera, Bogor, Jawa Barat.