IMG_4787

Workshop (Lokakarya) Kepenarian Akademi IDF

Dalam rangka Indonesian Dance Festival 2016, Akademi IDF, salah satu divisi Indonesian Dance Festival, memutuskan untuk mengadakan serangkaian workshop. Rangkaian workshop ini terselenggara atas dukungan dari Kementrian Pariwisata, Republik Indonesia. Salah satu darinya ditujukan bagi para penari muda yang punya aspirasi untuk menjadi penari profesional, terutama di konteks tari kontemporer. Workshop Kepenarian ini akan diadakan di Hutan Kaldera, Bogor, Jawa Barat, pada 1 – 7 Mei 2016 mendatang. IDF merasa perlu mengadakan workshop kepenarian sebagai jawaban atas tuntutan perkembangan dunia tari kontemporer dewasa ini.

Workshop ini diadakan untuk menekankan dua unsur penting bagi penari di dalam kepenarian yakni teknik tari dan teknik menari. Teknik tari lebih berhubungan dengan kemampuan menguasai teknik dan kosa gerak tertentu. Misalnya balet, tari Jawa, tari Minang, tari modern dan lain sebagainya. Sementara teknik menari mencakup bagaimana seorang penari bisa memiliki kecerdasan tubuh dan kematangan pribadi. Kemampuan ini menjadi modal penari untuk memunculkan kehadirannya di atas panggung (stage presence). Selain itu agar ia bisa menonjolkan diri ketika ia menari di konteks apa pun. Dalam ranah dan konteks lokal, kualitas inilah yang seringkali digambarkan dalam istilah yang lebih abstrak seperti ‘rasa’, ‘taksu’ atau ‘greget’.

Akademi IDF menyadari bahwa tuntutan untuk penari di dalam praktik seni kontemporer kini semakin kompleks. Hal ini lantaran keragaman pendekatan dan eksperimentasi koreografik para penata tari. Seringkali, penari dituntut untuk aktif menafsir konsep abstrak dari sang koreografer ataupun giat menyumbang gagasan sebagai bagian dari proses kreatif yang lebih bersifat kolaboratif ketimbang didaktif. Kepenarian dengan demikian menjadi elemen penting di dalam karya koreografi kontemporer.

Menjawab tantangan tersebut, Workshop Kepenarian IDF dirancang untuk memberi kesempatan bagi para penari muda agar membekali diri dengan wawasan yang dapat memperkaya teknik tari mereka. Dari sini diharapkan para penari muda bisa menguasai teknik menari yang relevan dengan ragam tuntutan artistik di praktik seni tari kontemporer yang lebih bersifat eksperimental.

master class rianto

Master Class oleh Rianto pada IDF 2014 | Foto: Dokumentasi IDF

Empat pelatih—dua dari mancanegara dan dua dari negeri sendiri—sudah dipilih secara saksama oleh Akademi IDF. Keempat pakar ini akan memberi pengayaan kepada 15 penari muda terpilih selama enam hari secara intensif. Workshop akan diselenggarakan di Hutan Kaldera, Bogor yang asri dan inspiratif selama sepekan secara intensif. Metode ini dipilih dengan harapan agar para para pelatih dan penari peserta dapat tinggal bersama dan memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih organik.

Untuk Workshop Kepenarian, Akademi IDF mengundang Suprapto Suryodarmo (Indonesia), Benny Krisnawardi (Indonesia), Ramli Ibrahim (Malaysia), dan Su Wen-Chi (Taiwan) sebagai pelatih. Keempat nama ini sudah tidak asing lagi bagi dunia tari Indonesia mau pun internasional. Suprapto Suryodarmo dikenal sebagai pencetus pendekatan Joged Amerta. Teknik ini sudah mempengaruhi ranah seni tari Eropa sejak 1980-an dan Suprapto sendiri sering memberi workshop di mancanegara selama tiga dekade terakhir. Sedangkan Benny Krisnawardi adalah salah satu kolaborator koreografer Gusmiati Suid (alm.) dalam merumuskan gaya tari kontemporer Indonesia yang kelak dikenal sebagai gaya Gumarang Sakti. Gaya ini menjadi dasar banyak karya koreografi kontemporer Indonesia. Benny sebelum bergabung dengan Gumarang Sakti di 1980-an, belajar Pencak-Silat Minangkabau.

Dua pelatih yang lain diundang dari mancanegara yakni Ramli Ibrahim (Malaysia) dan Su Wen-Chi (Taiwan). Ramli merupakan penari Malaysia yang terkenal saat ini. Ia mempelajari tari ballet dan tari tradisional Malaysia di usia belia sebelum mempelajari secara intensif Bharatanatyam di bawah Deba Prasad Das. Ramli pada 1983 mendirikan Sutra Dance Theatre. Sedangkan Su Wen-Chi selain dikenal sebagai koreografer, juga dikenal sebagai seniman media baru (new media). Pada 2005, ia mendirikan YiLab di Taiwan, sebuah kelompok eksperimental yang terdiri dari seniman media baru dan pertunjukan (performance) yang bekerja mengintegrasikan teknologi baru dan mencari format-format pertunjukan baru.

Untuk Workshop Kepenarian ini, Akademi IDF menyeleksi 15 penari muda potensial dengan usia berkisar antara 20-30 tahun. Penari yang terlibat adalah mereka yang menguasai satu atau lebih teknik tari apa saja, memiliki pengalaman pentas di konteks tari kontemporer atau memiliki pengalaman pentas di konteks non tari kontemporer, namun berhasrat untuk kelak bekerja sama dengan koroegrafer kontemporer. Diharapkan, melalui workshop ini, kedepannya tersedia para penari yang cakap dan mampu menjawabi tantangan perkembangan seni tari kontemporer.***

2 komentar
  1. Hadi Sadikin Rachmat says:

    Dear Komite IDF 2016,
    Untuk formulir apakah sudah bisa diunduh? Jika Ya, bisa tolong diinformasikan kaitan web nya?

    Atur Nuhun.

    Regards,
    Hadi

    Balas

Sila Berkomentar

Ingin bergabung dalam diskusi?
Jangan ragu untuk berkontribusi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *